- Beranda
- Stories from the Heart
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"
...
TS
tyrodinthor
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"

Quote:
Spoiler for Peta:
Diubah oleh tyrodinthor 20-05-2020 03:12
pakisal212 memberi reputasi
1
734
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#2
THE POETS
Spoiler for Tokoh:
Malam pun tiba.
Kemah ayah angkatku, tuan Mahzor, tidak seperti biasanya. Hidangan daging domba menghiasi tikar panjang di kemah besarnya. Sop domba, sate domba, domba panggang, dan beberapa kue dan buah. Ayah angkatku adalah saudagar Ahavah yang sederhana dan saleh. Pemandangan ini biasanya tampak di perayaan-perayaan kudus orang-orang Ahavah. Tentunya, seperti kata Hasa tadi siang, malam ini memang tamu-tamu spesial bagi tuan Mahzor. Aku tidak terlalu penasaran sebenarnya. Tapi ayah angkatku menyuruhku dan semua karyawan lainnya berkumpul. Kami disuruh ikut menjamu tamu-tamu spesial dari Mizar itu.
Kami semua duduk memanjang berderet dengan hidangan berjejer di hadapan kami.
Hasa berbisik kepadaku, "Modim. Kenapa kita disuruh berkumpul juga?".
"Aku tidak tahu", jawabku.
Di sebelah Hasa adalah Mirdin. Dia ikut nimbrung, "Kurasa karena kita dan tamu-tamu dari Mizar itu adalah sama-sama orang Almak, Hasa".
Aku menjawab, "Tidak mungkin begitu, Mirdin. Kita semua tahu kalau ayah juga sudah lama bergaul dengan orang-orang Almak".
Di sebelahku adalah Ain. Dia berkata, "Tidak usah menduga-duga. Kita cukup diam saja menuruti ayah". Ain adalah putra kandung ayah angkatku yang keempat. Meskipun usianya lebih muda 2 tahun dariku, tapi kurasa dia cukup bijak. Kakak-kakaknya adalah pemburu dan hidup berpindah-pindah ke berbagai tempat. Itu sebabnya, dia anak kesayangan ayah angkatku.
Tidak lama kemudian rombongan unta dan satu pengawal prajurit Terra Alba datang ke kemah kami. Rombongan itu terdiri dari 12 orang Almak. Salah seorang dari mereka mengucap salam kepada kami.
"Oh, tuan Khabar! Selamat datang, lekas duduk di kemah kami", sambut ayah angkatku dengan hangat. Beliau berdiri dan merogoh beberapa keping koin chrysos dan memberikannya kepada prajurit pengawal tsb.
Setelah prajurit itu pergi, pria yang bernama tuan Khabar beserta 11 orang rombongannya itu masuk ke dalam kemah kami. Tuan Khabar berkata kepada ayah angkatku, "Tuan Mahzor, ini rekan-rekanku sesama penyair".
"Salam kenal, tuan-tuan", sambut ayah angkatku. "Salam kenal juga, tuan", sambut mereka.
Oh, rupanya mereka penyair. Pantas saja ayah angkatku senang menyambut mereka. Ayah angkatku memang suka dengan syair-syair hikmah. "Kupikir tadinya mereka akan membahas tentang hikmah dalam kitab suci Hora'ah seperti yang dikatakan Hasa tadi siang", kataku dalam hati.
"Silahkan disantap, tuan-tuan. Ala kadarnya saja", kata ayah angkatku. Mereka duduk di seberang kami. Hidangan di tengah-tengah antara kami dan mereka sudah cukup memancing air liur kita bersama.
Tuan Khabar meletakkan pedang dan tasnya. Dia mengambil setusuk sate domba dan memperlihatkannya kepada kami semua. Dia berkata, "Tuan Mahzor, adakah yang aneh dari sate ini?".
Ayah angkatku terkejut resah dan menjawab, "Apakah tidak matang, tuan Khabar?".
Tuan Khabar berkata, "Tidakkah kamu perhatikan betapa Tuhan telah memberimu kemudahan dalam segala urusanmu?".
Aku tidak mengerti maksud yang dibicarakan tuan Khabar. Namun, ayah angkatku berkata dengan mata berbinar, "Teruskan, tuan!".
"Demi senja apabila telah menyembunyikan ronanya,
demi pasir apabila telah dilalui unta-unta para musafir,
dan para penyamun menyicip domba ini,
dan domba ini akan bersaksi akan kemurahan hatimu di sisi Tuhannya".
Syair yang sederhana terucap lancar dari lisannya. Namun memiliki makna pujian yang mendalam kepada ayah angkatku. Aku pun terkesan. Memang, penyair adalah profesi yang sangat bergengsi di tahun ini. Namun aku nyeletuk, "Apakah Tuhan menjadikan seekor domba untuk menjadi saksi?".
Tuan Khabar menjawab, "Tidaklah Tuhan menciptakan ini semua dengan sia-sia. Segala yang ada di kolong langit menguduskan dan memuji nama-Nya".
"Walaupun setusuk sate?", tanyaku.
Tuan Khabar pun tersenyum sambil menggigit satenya, "Wahai anak muda, siapa namamu?".
Ayah angkatku berkata, "Maafkan dia jika dia lancang, tuan Khabar. Dia putraku, usianya baru 18 tahun".
"Tidak, aku anak asuh beliau", jawabku.
Tuan Khabar dengan senyuman hangat berkata, "Tidak apa-apa, tuan Mahzor. Dia anak yang cerdas".
Lalu Tuan Khabar mengambil pena dan papirus dari balik jubahnya dan berkata, "Nak. Tolong tuliskan namamu" sambil meyodorkan papirus dan pena tersebut. Aku mengambilnya dan menuliskan namaku, kemudian kuperlihatkan kepadanya.
"Modim.....", gumam tuan Khabar. Dia bertanya kepadaku, "Kamu orang Almak juga?". Aku menjawab, "Ya, tuan".
Dia bertanya lagi, "Bukankah kamu orang Ahavah seperti ayahmu?". Aku menjawab, "Aku hanyalah anak asuh beliau".
Dia pun menuturkan syair jawaban kepadaku, "Tidaklah mereka yang berjalan di muka bumi melainkan diasuh oleh Tuhannya".
Aku pun turut menimpalinya dengan sedikit mengimprovisasi syairnya, "Demi tusuk sate ini, tidaklah segala yang ada di kolong langit ini melainkan menguduskan dan memuji nama-Nya".
Tuan Khabar mengernyitkan dahinya. Dia berkata, "Nak, syair yang baru saja kamu senandungkan adalah syair dari penyair yang hina".
"Berarti kehinaan kita sama, bukan?", jawabku.
Tuan Khabar lalu tertawa. "Hahahaa... Tuan Mahzor, putramu sungguh cerdas!", katanya. Aku kembali nyeletuk, "Aku hanya anak asuh beliau!".
Ayah angkatku mengambil secangkir anggurnya dan berkata, "Dia masih merah seperti anggur ini".
Tuan Khabar tersenyum sampai giginya tampak. Dia menggigit satenya dan berkata kepada ayah angkatku,
"Tentu ketika engkau meminumnya, maka merahnya anggur itu bercampur ke dalam merahnya darah seorang yang dimuliakan".
Tuan Khabar menelan satenya dan berkata kepadaku,
"Namamu akan tercatat abadi sebagai penyair termahsyur seabadi secarik papirus ini, Nak".
Aku bertanya, "Apakah aku hanya akan berakhir dalam sebuah papirus?".
Tuan Khabar mengernyitkan dahinya. Seorang temannya berkata kepadaku, "Nak, sesungguhnya papirus namamu akan sampai ke dalam lubuk hati setiap orang-orang yang tertindas".
Tuan Khabar menepuk dada temannya dan berkata, "Tidak selalu begitu, wahai Ashmar". Dia melanjutkan, "Tapi kudoakan namamu dikenang seluruh umat manusia, Nak".
"Silahkan dilanjutkan santapan satenya, tuan-tuan sekalian", ucap ayah angkatku.
Sambil mengusap bekas daging sate di mulutnya, ayah angkatku melanjutkan, "Belakangan ini, usahaku sedang kurang baik. Aku membutuhkan beberapa petuah bijak dari tuan-tuan. Syair-syair yang hidup akan menggairahkan semangat hidupku". Beliau meletakkan kedua tangannya ke dadanya.
Tuan Khabar pun berkata, "Tidak ada artinya lisan kami, wahai tuan Mahzor".
Ayah angkatku terdiam. Tuan Khabar melanjutkannya,
"Tidaklah kami diutus sebagai bintang-bintang di langit kecuali untuk menenteramkan hati seorang yang dimuliakan". Sambil menunjuk langit malam dengan kemegahan bintang-bintang yang cerah, dia melanjutkan syairnya,
"Apakah kamu berpikir Mereka meninggalkanmu?".
Ayah angkatku menganggukkan kepalanya. Tuan Khabar melanjutkan syairnya,
"Sekali-kali tidak. Katakanlah: "Bukankah hati ini telah tenteram karena-Nya?". Dan jika bukan karena hati, niscaya kami telah meninggalkanmu.
Maka katakanlah: "Bintang-bintang telah bersaksi bahwa dunia akan menjadi batu sandungan. Tetapi hatiku tidak akan menapakkannya untuk dunia".
Dan itulah sebaik-baik petuah".
Seketika ruangan jamuan ini terdiam. Ketika aku menoleh kepada ayah angkatku, kulihat setetes air mata tercucur ke pipinya. Kulihat Dhahab tiba-tiba berdiri dan berkata, "Syair tuan bisa disalah-pahami! Siapa mereka yang mengutus tuan-tuan sebagai bintang-bintang di langit?".
Namun, kulihat ayah angkatku meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya sebagai isyarat agar Dhahab diam. Sementara itu, tuan Khabar hanya tersenyum. Dia kemudian berkata,
"Tuan Mahzor. Tentu tuan tahu, di Mizar kota kami, ada banyak sekali orang-orang Ahavah. Demikian juga kami, orang-orang Almak, telah menganggap orang-orang Ahavah sebagai saudara kami. Begitu pula dengan tuan sendiri telah menganggap kami saudara tuan".
Ayahku menyeka tetesan air matanya dengan jari kelingkingnya. Lalu, Tuan Khabar melanjutkannya,
"Kita sama-sama keturunan dari satu bapak moyang, tuan Mahzor. Bapak moyang kita, baginda Isahab, adalah seorang yang diberkati Tuhan. Anak-anaknya melimpah ruah meliputi seluruh bumi".
Tuan Khabar melanjutkan kembali setelah menyeruput susunya,
"Yang membedakan antara kami dengan tuan adalah, tuan memiliki seorang nabi yang agung, nabi Neshama. Sementara kami hanya memiliki para penyair. Dan kami tidak bermaksud menjual syair-syair kami seharga 15 chrysos untuk membuat hati tuan tenteram. Dan tentu saja tidak ada harga yang pantas untuk syair-syair kami".
Ayah angkatku berkata, "Lantas, apa yang harus kulakukan untuk tuan-tuan?".
Tuan Khabar menjawab, "Besok pagi, tuan ikutlah bersama kami ke Bukit Mara".
Ayah angkatku diam saja.
"Tuan-tuan, silahkan diminum anggurnya", sambut ayah angkatku.
Tuan Khabar menyahut, "Ah, terima kasih, Tuan Mahzor! Kami di Mizar tidak meminum anggur".
"Begitukah?", tanya ayah angkatku.
"Jika ada, saya secangkir susu saja", ucap Tuan Khabar.
Ayah angkatku menyuruh Samir mengambil susu perahan unta milik beliau. Ayah angkatku kemudian berbisik kepadaku,
"Modim. Ayah titipkan lapak-lapak ayah besok kepadamu dan Ain".
Aku berpikir mengapa ayah angkatku tidak khawatir jika para penyair ini akan merampas harta-bendanya di Bukit Mara yang sepi penuh semak belukar itu. Ah, bukankah para penyair ini adalah sahabat beliau. Aku pun menjawab, "Baik, ayah. Serahkan padaku dan Ain".
Kami pun melanjutkan santapan dan obrolan ringan.
Diubah oleh tyrodinthor 21-05-2020 02:04
0