- Beranda
- Stories from the Heart
Living in Batu City (life stories)
...
TS
vigojinggo
Living in Batu City (life stories)
Trit ini berisi kisah sepasang pengantin baru yang memutuskan untuk memulai kehidupan baru di kota Batu
Quote:

Sejak jaman kuliah aku sudah jatuh cinta dengan kota Batu hingga aku berangan angan ingin tinggal di sana suatu saat nanti , kini setelah tahun demi tahun berlalu akhirnya aku berhasil juga mewujudkan anganku yang dulu kuanggap terlalu muluk itu , selepas menikah pada bulan Mei tahun 2018 kumulai kehidupan baru di kota Batu bersama istriku yang baru saja lulus kuliah , kami berdua sudah muak bertahun tahun tinggal di Jakarta yang selalu saja semrawut tak karuan , kami ingin hidup yang singkat ini dipenuhi rasa damai , tentram dan bahagia seperti selayaknya berada di surga , dan kami selalu meyakini dengan hati bahwa surga itu berada di kota Batu , suatu kota yang indah dan ideal untuk membangun kehidupan secara manusiawi.
Aku Vigo dan istriku Aline dengan ini akan menuliskan sekelumit kehidupan sederhana kami di kota Batu , kisah demi kisah akan kami tuangkan secara berkala dan apa adanya.

vigo , aline
a New Beginning
Fish Business
Wisata Alam
How to be a Good Housewife
All Things I Do in One Day
Day by Day
Ramadhan Pertama
Not Now
Fish Business 2
Kesenian Bantengan
Snack Keripik Buah
Omah Kayu
Xploring Bumiaji
Mbok Tun
Astral Projection
Mbok Tun 2
Indigo
Tirta Nirwana + Candi Songgoriti
Ngastral Around Batu City
One Night in Niagara Hotel part I
One Night in Niagara Hotel part II
Gempa Lombok
Tsunami Palu & Donggala
Gempa Situbondo
Mampir Warungnya Mbak Vesty
Sunda Strait chapter 1
Sunda Strait chapter 2
Ring of Fire
Siaga Bencana
Earth Now
Ring of Fire 2
Hujan Angin
Ngastral ke Pabrik Tekstil Mangkrak
Ngastral ke Blumbang Macari
Goa Jepang di Junrejo
Air Terjun Coban Putri
Kampung Papua
Gempa Malang
Fitrah Nur Ilahiah
Magnitude 9
Madioen Tempoe Doeloe
Kulineran Madiun
Ring of Fire 3
Gempa Banten
Makna Kehidupan
Wild Wind
Gempa Maluku Utara
Ayo Astral !
Keangkeran Rumah Mbak Vesty
Tuyul ATM
Anggaran Belanja Rumah Tangga
Gold Investment
Q n A Indigo
Q n A Astral
2020
Jakarta Kebanjiran
Angkernya Rumah Mbak Vesty
Victim of the Gay
Wisata Baru Kota Batu
Petirtaan Watu Gedi
Jalan Turunan Curam di Jalur Klemuk
Virus Corona
Delusi Akut
Villa Sebelah Rumah Mbak Vesty
Arwah Orang Orang Belanda di jl Trunojoyo
Uninvited Guest
Pabrik Jamur Angker
Rumah Kontrakan Dr Azhari
Now Im Pregnant
Jalan Hidup
Puisi Pagi Bumiaji
Menjelang Lockdown
Power to the People
Starseed Global Meditation
Pagebluk
Dentuman Misterius
Jowo Tugel
Pregnancy of My Wife
Bisnis Mobil Mobilan
Beli Bagi Ikan
Dentuman Lagi
Lagi Lagi Dentuman
Asupan Ibu Hamil
Anakku Lanang
Back to Fish Business
Dentuman Terdengar Lagi
Raise Hell Lower Heaven part 1
Raise Hell Lower Heaven part 2
Live and Let Die !
Ambyare Segoro Kidul
Raise Hell Lower Heaven part 3
Mau Jadi Papah Muda
Wirausaha
The Rise of Himself
Banyuwangi Mau Kena Tsunami
Mertua Mau Pindah ke Mbatu
Hujan Berlebihan
Ayat Kauniyah
Just a Metaphor
Resesi Ekonomi
Daddy's Little Monster
Bayi Super
Dibalik Awan Lenticular
Jangan Nakal
Move to Jatim Park III Apartment
Batal Pindah ke Apartemen
El Secreto De Universo Part I
El Secreto De Universo Part II
Spaceship
Rumah Baru
The Lecture
Jualan Koleksi Film
Saving Gold
Motor Eropa
Fight 2021
Kilas Kaskus part I
Kilas Kaskus part II
Dentumannya Terdengar Lagi Lur
Dentumannya Terdengar Lagi Lur 2
Malang Terguncang
HELLo tHERE
My Life Now
Wake up People Time to Fuckin Die 1
Wake up People Time to Fuckin Die 2
Orang Miskin Mati Duluan
Fish is Cuan
Mumi Biksu part 1
Mumi Biksu part 2
Datang tak Diundang
Back to 2008
Precognition Dream
Wayahe !.. Wayahe !..
The Fall of Jawadwipa
The Rise of Himself 2
Mayora Untuk Keluarga
Earth Now & Future
Ambyare Segoro Kidul 2
Masa Bersiap
Pemuda Bercahaya
ABC Selalu di Hati
Pendakian Panderman
Piring Terbang Ngapung di Laut
Minyak Misik Hitam
Ikan Bandeng
Keranda Terbang
Sayonara !
Bumiaji Kebanjiran
I Need to Meet Her
Q n A Last 2021
Move to Kyoto
Aku Vigo dan istriku Aline dengan ini akan menuliskan sekelumit kehidupan sederhana kami di kota Batu , kisah demi kisah akan kami tuangkan secara berkala dan apa adanya.
Quote:

vigo , aline
Quote:
a New Beginning
Fish Business
Wisata Alam
How to be a Good Housewife
All Things I Do in One Day
Day by Day
Ramadhan Pertama
Not Now
Fish Business 2
Kesenian Bantengan
Snack Keripik Buah
Omah Kayu
Xploring Bumiaji
Mbok Tun
Astral Projection
Mbok Tun 2
Indigo
Tirta Nirwana + Candi Songgoriti
Ngastral Around Batu City
One Night in Niagara Hotel part I
One Night in Niagara Hotel part II
Gempa Lombok
Tsunami Palu & Donggala
Gempa Situbondo
Mampir Warungnya Mbak Vesty
Sunda Strait chapter 1
Sunda Strait chapter 2
Ring of Fire
Siaga Bencana
Earth Now
Ring of Fire 2
Hujan Angin
Ngastral ke Pabrik Tekstil Mangkrak
Ngastral ke Blumbang Macari
Goa Jepang di Junrejo
Air Terjun Coban Putri
Kampung Papua
Gempa Malang
Fitrah Nur Ilahiah
Magnitude 9
Madioen Tempoe Doeloe
Kulineran Madiun
Ring of Fire 3
Gempa Banten
Makna Kehidupan
Wild Wind
Gempa Maluku Utara
Ayo Astral !
Keangkeran Rumah Mbak Vesty
Tuyul ATM
Anggaran Belanja Rumah Tangga
Gold Investment
Q n A Indigo
Q n A Astral
2020
Jakarta Kebanjiran
Angkernya Rumah Mbak Vesty
Victim of the Gay
Wisata Baru Kota Batu
Petirtaan Watu Gedi
Jalan Turunan Curam di Jalur Klemuk
Virus Corona
Delusi Akut
Villa Sebelah Rumah Mbak Vesty
Arwah Orang Orang Belanda di jl Trunojoyo
Uninvited Guest
Pabrik Jamur Angker
Rumah Kontrakan Dr Azhari
Now Im Pregnant
Jalan Hidup
Puisi Pagi Bumiaji
Menjelang Lockdown
Power to the People
Starseed Global Meditation
Pagebluk
Dentuman Misterius
Jowo Tugel
Pregnancy of My Wife
Bisnis Mobil Mobilan
Beli Bagi Ikan
Dentuman Lagi
Lagi Lagi Dentuman
Asupan Ibu Hamil
Anakku Lanang
Back to Fish Business
Dentuman Terdengar Lagi
Raise Hell Lower Heaven part 1
Raise Hell Lower Heaven part 2
Live and Let Die !
Ambyare Segoro Kidul
Raise Hell Lower Heaven part 3
Mau Jadi Papah Muda
Wirausaha
The Rise of Himself
Banyuwangi Mau Kena Tsunami
Mertua Mau Pindah ke Mbatu
Hujan Berlebihan
Ayat Kauniyah
Just a Metaphor
Resesi Ekonomi
Daddy's Little Monster
Bayi Super
Dibalik Awan Lenticular
Jangan Nakal
Move to Jatim Park III Apartment
Batal Pindah ke Apartemen
El Secreto De Universo Part I
El Secreto De Universo Part II
Spaceship
Rumah Baru
The Lecture
Jualan Koleksi Film
Saving Gold
Motor Eropa
Fight 2021
Kilas Kaskus part I
Kilas Kaskus part II
Dentumannya Terdengar Lagi Lur
Dentumannya Terdengar Lagi Lur 2
Malang Terguncang
HELLo tHERE
My Life Now
Wake up People Time to Fuckin Die 1
Wake up People Time to Fuckin Die 2
Orang Miskin Mati Duluan
Fish is Cuan
Mumi Biksu part 1
Mumi Biksu part 2
Datang tak Diundang
Back to 2008
Precognition Dream
Wayahe !.. Wayahe !..
The Fall of Jawadwipa
The Rise of Himself 2
Mayora Untuk Keluarga
Earth Now & Future
Ambyare Segoro Kidul 2
Masa Bersiap
Pemuda Bercahaya
ABC Selalu di Hati
Pendakian Panderman
Piring Terbang Ngapung di Laut
Minyak Misik Hitam
Ikan Bandeng
Keranda Terbang
Sayonara !
Bumiaji Kebanjiran
I Need to Meet Her
Q n A Last 2021
Move to Kyoto
Quote:
Quote:
Diubah oleh vigojinggo 06-06-2024 21:51
jundi666 dan 92 lainnya memberi reputasi
87
300.1K
Kutip
3.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
vigojinggo
#291
Ngastral ke Blumbang Macari (vigo)
Quote:

Quote:
Belakangan aku baru mengetahui kalau di sekitar pabrik tekstil PT Wastra terdapat suatu blumbang atau sendang yang katanya sangat angker , konon sejak jaman dulu blumbang yang disebut Macari itu dihuni oleh sesosok siluman buaya putih dan juga arwah korban pembantaian PKI pada tahun 1965 , bahkan temanku Odji yang merupakan warga kota Batu asli juga sudah sering mendengar cerita cerita miring mengenai keangkeran blumbang itu.
Odji : " mbiyen pas sek sekolah nek awan awan kerep adus mrono sam "
Me : " trus enek opone neng kono ? "
Odji : " nek aku dhewe rung nate pethuk seng aneh aneh , tapi arek arek liyane seng wes nate ngerti dhewe penampakane "
Me : " penampakan opo ??... boyo putih ?? "
Odji : " iyo sam , boyo putih nglangi ketok soko kadohan , trus onok tugelan tangan , sikil , utowo sirah podo kampul kampul nang mbanyu "
Me : " angker temenan berarti yo ? "
Odji : " nek perkoro angker wes kaet mbiyen wong wong mbatu podo ngerti sam "
Rasa penasaran membuatku tertantang untuk ngastral ke blumbang itu , namun kali ini aku tidak sendirian ngastral ke sana karena Odji sudah bisa melakukan astral projection walaupun aku harus menunggunya selama berjam jam , ia baru berhasil melepas sukmanya menjelang tengah malam dan langsung kuajak terbang menuju blumbang Macari.
Jika dilihat saat sedang terbang lokasi blumbang itu memang sulit ditemukan karena tertutupi oleh pepohonan besar yang daunnya lebat , akhirnya kami memutuskan untuk menelusuri jalan sebelah pom bensin Lahor hingga berujung tepat di belakang komplek pabrik tekstil yang sudah kudatangi beberapa hari lalu , rupanya di sekitar sinilah blumbang Macari berada.
Blumbang ini luasnya hampir seratusan meter sementara di sekelilingnya hanya ada pepohonan lebat yang dahannya menjuntai di atas air blumbang , selain itu di dekat blumbang juga terdapat lahan kosong yang dipenuhi pepohonan pisang , kata Odji di sanalah tempat terjadinya pembantaian PKI pada tahun 1965 dimana orang orang yang menentang ideologi Nasakom dijagal dan dimutilasi satu persatu.
Odji : " seng cerito ki mbahku sam , pokoke seng ora melok nasakom podo diculik trus dibeleh ndek kono iku , seng dadi korbane ngasi atusan uwong "
Me : " trus endi tugelan awake ? "
Odji : " mbiyen arek arek nate ngerti tugelan awake kampul kampul nang blumbang , mangkane ayo saiki jajal didelok ae "
Aku dan Odji dari tadi hanya berdiri di jalan setapak pinggir blumbang sambil mengamati keadaan sekitar , karena penasaran ingin menemukan potongan tubuh korban pembantaian PKI akhirnya kami memutuskan untuk melayang rendah mengitari sekeliling blumbang yang gelap gulita , hingga tak lama kemudian Odji berteriak padaku sembari menunjukkan sesuatu yang tampak mengapung apung di permukaan air , saat dilihat dari dekat ternyata sesuatu itu adalah sepotong kepala orang.
Odji : " sirahe uwong sam , yo iku salah siji korbane pki "
Me : " iku arwahe sek urip masio mek endas thok "
Potongan kepala yang mengapung apung itu tampak melotot menatap sukma kami yang melayang di tengah blumbang , sementara mulutnya yang kemasukan air terus menggumam kata kata yang tidak jelas dan sulit untuk didengarkan.
Odji : " omong opo iku sam ? "
Me : " mboh gak krungu "
Sekejap kemudian potongan kepala itu tenggelam dan tak muncul lagi ke permukaan , namun di dekat perahu karet yang teronggok di tepi blumbang tiba tiba muncul sesosok arwah yang tidak mempunyai kepala , sosoknya hanya berwujud badan yang lehernya telah terpotong dan berlumuran darah.
Me : " delengen iku ji !!... "
Odji : " masya allah sam , opo iku awake sirah tugel ndek mau yo ? "
Sosok arwah tanpa kepala itu terduduk di perahu karet tanpa melakukan apa apa , hingga tak lama kemudian tiba tiba ia memasukkan kedua tangannya ke air lalu mulai mendayung perahu karetnya ke arah kami yang masih melayang rendah di tengah blumbang , lama kelamaan perahu karet itu semakin mendekat sebelum akhirnya terjadi sesuatu yang mengagetkan " byuuuaaarr !!!.... " air blumbang bermuncratan saat moncong buaya putih besar tiba tiba muncul dan menyambar arwah tanpa kepala yang sedang duduk di perahu karet " byuuaaar !!.. " dalam waktu singkat moncong buaya putih besar itu langsung masuk ke dalam air sambil menggigit arwah tanpa kepala.
Odji : " masya allah sam !!... kaget temenan aku mau !!... onok temenan boyo putihe sam "
Me : " ganas iku ji !!... "
Odji yang baru pertama kali melihat siluman buaya putih benar benar merasa kaget setengah mati , ia masih tak percaya kalau sosok yang sering dianggap sebatas mitos itu ternyata memang benar benar ada , bahkan saking takutnya ia langsung mengajakku melayang ke tepi blumbang.
Odji : " gak metu maneh a boyo putihe sam ? "
Me : " nglangi njero banyu ji "
Odji : " aku wedi e nek boyone metu maneh trus nyakot aku "
Kini kami hanya berdiri di tepi blumbang sambil mengamati keadaan sekitar , hingga tak lama kemudian tiba tiba muncul seekor kucing berbulu putih yang sedang berjalan di jalan setapak pinggir blumbang " meoong !... meoong !.. " sambil berjalan kucing itu mengeong ngeong dan terus memandang ke arah kami , sementara Odji merasa keheranan saat tau kalau sukma yang tak kasat mata juga bisa terlihat oleh hewan seperti kucing.
Me : " kucing ambek asu ancen iso ndelok sukmone awake dhewe "
Odji : " olalah jek tas ngerti aku sam "
Me : " ndeleng arwah , lelembut karo siluman yo iso ji "
Odji : " aneh yo mripate kucing iki sam "
" Meoong !... meoong !... " kucing putih itu terus mengeong sambil berjalan melewati jalan setapak , lama kelamaan kucing itu mulai mendekati sukma kami sebelum akhirnya mencoba untuk menyentuhkan kepalanya di kaki kami.
Odji : " ndusel ndusel sam kucinge !.. dikiro awake dhewe iki uwong seng iso didemok "
Me : " ha.. ha.. jarno ae "
Kucing ini sama sekali tak bisa menyentuh kami sementara sukma kami juga tak bisa untuk menyentuhnya , kami biarkan saja ia berputar putar di antara kaki kami sembari terus mengeong ngeong berkali kali " meoong !!... meoong !!... " hingga tak lama kemudian kucing ini tiba tiba berlari menuju pepohonan bambu lebat yang ada di dekat jalan setapak , sepertinya ada sesuatu yang muncul di sana.
Odji : " onok opo iki sam ? "
Me : " ayo diparani mrono ! "
Segera saja kami mengikuti kucing yang berlari ke pepohonan bambu itu , begitu tiba kami langsung terbelalak mendapati beberapa potong kepala orang yang teronggok di antara batang pepohonan bambu , sementara kucing putih yang bersama kami semakin nyaring mengeong sambil berusaha mencakari beberapa potongan kepala yang berlumuran darah itu " meooong !!... meooong !!... " tentu saja cakaran kucing tidak bisa menimbulkan kontak fisik karena potongan kepala itu hanyalah berwujud astral seperti sukma kami.
Odji : " iki mesti podo korban pki sam "
Me : " yo mesti iki , paling sek akeh seng liyane "
Beberapa potongan kepala itu menatap kami dengan mata mendelik , sementara mulutnya terus menggumam dan berkata kata seperti tidak terima dengan nasib yang harus berakhir tragis " lapoo ??... lapoo aku dipateni ??... opo dosoku ?!... opo doso nek ora melok nasakom ?!... " saat mendengarnya kami merasa kasihan namun tak ada yang bisa kami lakukan untuk meringankan penderitan mereka.
Beberapa potongan kepala yang berada di antara batang bambu itu tiba tiba bergerak dan menggelinding hingga tercebur ke blumbang " byuur !... byuur !... byuur !.... " kami hanya terdiam melihatnya sementara kucing putih tadi langsung pergi begitu saja.
Saat kami hendak pulang tiba tiba siluman buaya putih tadi muncul lagi " byuuaarr !!... " kali ini buaya putih besar itu keluar dari air dan mulai berjalan menuju lahan kosong di dekat blumbang , Odji sendiri merasa nggumun melihat siluman buaya putih yang tubuhnya seukuran truk itu.
Odji : " tibakno gedi yo sam boyone , ngasi koyok truk "
Me : " boyo putih roto roto sakmene gedine ji "
kami hanya melihat dari jauh tanpa berani mendekat karena makhluk itu termasuk berbahaya dan bisa mengancam keselamatan kami , kulihat siluman buaya putih seukuran truk itu terus berjalan di antara pepohonan pisang yang ada di lahan kosong dekat blumbang , tak lama kemudian buaya putih itu berjalan kembali ke blumbang dengan mulut yang menggigit potongan kaki orang , sepertinya arwah korban pembantaian PKI yang tubuhnya terpotong potong adalah makanan siluman buaya putih besar itu.
Odji : " boyone nggowo tugelan sikel sam "
Me : " yo ancen panganane iku ji "
Dengan mulut yang masih menggigit potongan kaki siluman buaya putih itu masuk kembali ke dalam air dan tak muncul muncul lagi , akhirnya kami langsung melayang meninggalkan blumbang yang ternyata memang benar benar angker itu.
Odji : " mbiyen pas sek sekolah nek awan awan kerep adus mrono sam "
Me : " trus enek opone neng kono ? "
Odji : " nek aku dhewe rung nate pethuk seng aneh aneh , tapi arek arek liyane seng wes nate ngerti dhewe penampakane "
Me : " penampakan opo ??... boyo putih ?? "
Odji : " iyo sam , boyo putih nglangi ketok soko kadohan , trus onok tugelan tangan , sikil , utowo sirah podo kampul kampul nang mbanyu "
Me : " angker temenan berarti yo ? "
Odji : " nek perkoro angker wes kaet mbiyen wong wong mbatu podo ngerti sam "
Rasa penasaran membuatku tertantang untuk ngastral ke blumbang itu , namun kali ini aku tidak sendirian ngastral ke sana karena Odji sudah bisa melakukan astral projection walaupun aku harus menunggunya selama berjam jam , ia baru berhasil melepas sukmanya menjelang tengah malam dan langsung kuajak terbang menuju blumbang Macari.
Jika dilihat saat sedang terbang lokasi blumbang itu memang sulit ditemukan karena tertutupi oleh pepohonan besar yang daunnya lebat , akhirnya kami memutuskan untuk menelusuri jalan sebelah pom bensin Lahor hingga berujung tepat di belakang komplek pabrik tekstil yang sudah kudatangi beberapa hari lalu , rupanya di sekitar sinilah blumbang Macari berada.
Blumbang ini luasnya hampir seratusan meter sementara di sekelilingnya hanya ada pepohonan lebat yang dahannya menjuntai di atas air blumbang , selain itu di dekat blumbang juga terdapat lahan kosong yang dipenuhi pepohonan pisang , kata Odji di sanalah tempat terjadinya pembantaian PKI pada tahun 1965 dimana orang orang yang menentang ideologi Nasakom dijagal dan dimutilasi satu persatu.
Odji : " seng cerito ki mbahku sam , pokoke seng ora melok nasakom podo diculik trus dibeleh ndek kono iku , seng dadi korbane ngasi atusan uwong "
Me : " trus endi tugelan awake ? "
Odji : " mbiyen arek arek nate ngerti tugelan awake kampul kampul nang blumbang , mangkane ayo saiki jajal didelok ae "
Aku dan Odji dari tadi hanya berdiri di jalan setapak pinggir blumbang sambil mengamati keadaan sekitar , karena penasaran ingin menemukan potongan tubuh korban pembantaian PKI akhirnya kami memutuskan untuk melayang rendah mengitari sekeliling blumbang yang gelap gulita , hingga tak lama kemudian Odji berteriak padaku sembari menunjukkan sesuatu yang tampak mengapung apung di permukaan air , saat dilihat dari dekat ternyata sesuatu itu adalah sepotong kepala orang.
Odji : " sirahe uwong sam , yo iku salah siji korbane pki "
Me : " iku arwahe sek urip masio mek endas thok "
Potongan kepala yang mengapung apung itu tampak melotot menatap sukma kami yang melayang di tengah blumbang , sementara mulutnya yang kemasukan air terus menggumam kata kata yang tidak jelas dan sulit untuk didengarkan.
Odji : " omong opo iku sam ? "
Me : " mboh gak krungu "
Sekejap kemudian potongan kepala itu tenggelam dan tak muncul lagi ke permukaan , namun di dekat perahu karet yang teronggok di tepi blumbang tiba tiba muncul sesosok arwah yang tidak mempunyai kepala , sosoknya hanya berwujud badan yang lehernya telah terpotong dan berlumuran darah.
Me : " delengen iku ji !!... "
Odji : " masya allah sam , opo iku awake sirah tugel ndek mau yo ? "
Sosok arwah tanpa kepala itu terduduk di perahu karet tanpa melakukan apa apa , hingga tak lama kemudian tiba tiba ia memasukkan kedua tangannya ke air lalu mulai mendayung perahu karetnya ke arah kami yang masih melayang rendah di tengah blumbang , lama kelamaan perahu karet itu semakin mendekat sebelum akhirnya terjadi sesuatu yang mengagetkan " byuuuaaarr !!!.... " air blumbang bermuncratan saat moncong buaya putih besar tiba tiba muncul dan menyambar arwah tanpa kepala yang sedang duduk di perahu karet " byuuaaar !!.. " dalam waktu singkat moncong buaya putih besar itu langsung masuk ke dalam air sambil menggigit arwah tanpa kepala.
Odji : " masya allah sam !!... kaget temenan aku mau !!... onok temenan boyo putihe sam "
Me : " ganas iku ji !!... "
Odji yang baru pertama kali melihat siluman buaya putih benar benar merasa kaget setengah mati , ia masih tak percaya kalau sosok yang sering dianggap sebatas mitos itu ternyata memang benar benar ada , bahkan saking takutnya ia langsung mengajakku melayang ke tepi blumbang.
Odji : " gak metu maneh a boyo putihe sam ? "
Me : " nglangi njero banyu ji "
Odji : " aku wedi e nek boyone metu maneh trus nyakot aku "
Kini kami hanya berdiri di tepi blumbang sambil mengamati keadaan sekitar , hingga tak lama kemudian tiba tiba muncul seekor kucing berbulu putih yang sedang berjalan di jalan setapak pinggir blumbang " meoong !... meoong !.. " sambil berjalan kucing itu mengeong ngeong dan terus memandang ke arah kami , sementara Odji merasa keheranan saat tau kalau sukma yang tak kasat mata juga bisa terlihat oleh hewan seperti kucing.
Me : " kucing ambek asu ancen iso ndelok sukmone awake dhewe "
Odji : " olalah jek tas ngerti aku sam "
Me : " ndeleng arwah , lelembut karo siluman yo iso ji "
Odji : " aneh yo mripate kucing iki sam "
" Meoong !... meoong !... " kucing putih itu terus mengeong sambil berjalan melewati jalan setapak , lama kelamaan kucing itu mulai mendekati sukma kami sebelum akhirnya mencoba untuk menyentuhkan kepalanya di kaki kami.
Odji : " ndusel ndusel sam kucinge !.. dikiro awake dhewe iki uwong seng iso didemok "
Me : " ha.. ha.. jarno ae "
Kucing ini sama sekali tak bisa menyentuh kami sementara sukma kami juga tak bisa untuk menyentuhnya , kami biarkan saja ia berputar putar di antara kaki kami sembari terus mengeong ngeong berkali kali " meoong !!... meoong !!... " hingga tak lama kemudian kucing ini tiba tiba berlari menuju pepohonan bambu lebat yang ada di dekat jalan setapak , sepertinya ada sesuatu yang muncul di sana.
Odji : " onok opo iki sam ? "
Me : " ayo diparani mrono ! "
Segera saja kami mengikuti kucing yang berlari ke pepohonan bambu itu , begitu tiba kami langsung terbelalak mendapati beberapa potong kepala orang yang teronggok di antara batang pepohonan bambu , sementara kucing putih yang bersama kami semakin nyaring mengeong sambil berusaha mencakari beberapa potongan kepala yang berlumuran darah itu " meooong !!... meooong !!... " tentu saja cakaran kucing tidak bisa menimbulkan kontak fisik karena potongan kepala itu hanyalah berwujud astral seperti sukma kami.
Odji : " iki mesti podo korban pki sam "
Me : " yo mesti iki , paling sek akeh seng liyane "
Beberapa potongan kepala itu menatap kami dengan mata mendelik , sementara mulutnya terus menggumam dan berkata kata seperti tidak terima dengan nasib yang harus berakhir tragis " lapoo ??... lapoo aku dipateni ??... opo dosoku ?!... opo doso nek ora melok nasakom ?!... " saat mendengarnya kami merasa kasihan namun tak ada yang bisa kami lakukan untuk meringankan penderitan mereka.
Beberapa potongan kepala yang berada di antara batang bambu itu tiba tiba bergerak dan menggelinding hingga tercebur ke blumbang " byuur !... byuur !... byuur !.... " kami hanya terdiam melihatnya sementara kucing putih tadi langsung pergi begitu saja.
Saat kami hendak pulang tiba tiba siluman buaya putih tadi muncul lagi " byuuaarr !!... " kali ini buaya putih besar itu keluar dari air dan mulai berjalan menuju lahan kosong di dekat blumbang , Odji sendiri merasa nggumun melihat siluman buaya putih yang tubuhnya seukuran truk itu.
Odji : " tibakno gedi yo sam boyone , ngasi koyok truk "
Me : " boyo putih roto roto sakmene gedine ji "
kami hanya melihat dari jauh tanpa berani mendekat karena makhluk itu termasuk berbahaya dan bisa mengancam keselamatan kami , kulihat siluman buaya putih seukuran truk itu terus berjalan di antara pepohonan pisang yang ada di lahan kosong dekat blumbang , tak lama kemudian buaya putih itu berjalan kembali ke blumbang dengan mulut yang menggigit potongan kaki orang , sepertinya arwah korban pembantaian PKI yang tubuhnya terpotong potong adalah makanan siluman buaya putih besar itu.
Odji : " boyone nggowo tugelan sikel sam "
Me : " yo ancen panganane iku ji "
Dengan mulut yang masih menggigit potongan kaki siluman buaya putih itu masuk kembali ke dalam air dan tak muncul muncul lagi , akhirnya kami langsung melayang meninggalkan blumbang yang ternyata memang benar benar angker itu.
Diubah oleh vigojinggo 23-01-2020 05:00
m2tech14 memberi reputasi
2
Kutip
Balas