- Beranda
- Stories from the Heart
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
...
TS
the.darktales
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...
Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.
Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.
Selamat menikmati...
Quote:

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.
KARAKTER





INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4BAGIAN 10
Spoiler for Karakter:





REVIEW
Spoiler for Review:
Quote:
Original Posted By gumzcadas►Udah lama sekali ga ngerasain sensasi mencekam di cerita horror, terakhir ngerasa gak nyamana baca kisah dikaskus itu, yg cerita sekian tahun tinggal dirumah hantu. Dan skrg gw ngerasain sensasinya lagi. Sehat2 terus ts. Setelah sekian tahun jd silent reader, akhirnya komen lagi dforum ini.
Quote:
Original Posted By ibunovi►Cara penulisan menggambarkan seolah2 qt ada d tempat itu....degdegan ane ga...mantapssss😌😌😌
Quote:
Original Posted By sempakloreng►Epic banget ceritanya gann

Quote:
Original Posted By aan1984►Menurut saya ceritanya sudah sangat bagus gan, gaya penulisannya bagus ane suka meskioun kdg ada typo dikit... Tetep semangat ya gan lanjutin cerita ini, ane bakal kecewa klo cerita ini ga brs 

Quote:
Original Posted By erickarif93x►Well this is the one of the best story i've ever read. Terima kasih untuk narasumber yang bersedia untuk menceritakan cerita ini.
INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4
CHAPTER DUA: PEMBEBASAN
CHAPTER TIGA: PERBURUAN
Spoiler for Side-Story:
CHAPTER 4: AWAL MULA
[UNPUBLISHED]
CHAPTER 5: TULAH
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 115 suara
Menurut agan-agan, perlu enggak dibuatkan kisah tentang "Jurnal"?
Bikinin gan ane penasaran!
69%
Kagak usah, langsung mulai aja Chapter 4
31%
Diubah oleh the.darktales 28-06-2022 15:07
bambu.rindang dan 268 lainnya memberi reputasi
247
322.5K
Kutip
2.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.darktales
#989
BAGIAN 28
Quote:
Setengah jam setelah Ibu Sari pergi bersama Samsul ke Gereja Kota...
Suara adzan Maghrib telah usai dikumandangkan. Warna merah senja perlahan-lahan menghilang, berganti dengan gelap malam yang merangkak menguasai langit. Nyaris tujuh tahun sudah Joyo bekerja di Panti ini. Menjadi tukang kebun, tukang listrik dan kadang nyambi juga menjadi tukang beli kebutuhan Panti ke pasar kalau kebetulan Rissa sedang ada acara di luar. Semua dijalani Joyo dengan tulus ikhlas, walau dia tahu terkadang yayasan ini kesulitan dana dan gajinya jadi agak tertunda. Tapi dia tidak pernah mengeluh.
Selama ini, Ibu Sari sudah sangat baik kepada Joyo dan keluarganya. Tak peduli walau keyakinan mereka berbeda. Begitu juga Rissa dan anak-anak panti yang lain. Mereka selalu bisa memberikan kehangatan dan keramahan setiap pagi Joyo menginjakkan kaki di Panti ini dan mulai bekerja hingga sore tiba.
Benar, Joyo berani bersumpah! Selama tujuh tahun, dia tak pernah mengeluh barang sekalipun. Tapi hari ini, malam ini, semuanya berubah...
Tawa riang Amsal, Nuel, Maria dan anak-anak yang lain; teriakan Rissa yang meminta mereka untuk tidak berlari kesana kemari sambil sesekali mengganggu pekerjaan Joyo; atau senyum Ibu Sari yang menyambutnya di depan pagar sambil mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar anak istrinya di rumah dan memintanya untuk meminum kopi dan menikmati gorengan yang sudah ia siapkan sebelum mulai bekerja.
Semua itu kemudian hilang begitu saja. Tempat ini berubah menjadi begitu sepi, dingin dan gelap. Tak ada lagi suara bising anak-anak, tak ada lagi Rissa yang mondar-mandir menjaga mereka semua.
Hanya ada dia bersama Dedi yang juga duduk tepat di sampingnya, di depan sebuah kamar yang terkunci rapat. Mereka tak saling bicara satu sama lain; terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum kebiusan itu dipecahkan oleh Dedi yang tiba-tiba saja menggeser kursinya mendekat sambil membisikkan sesuatu.
“Kowe kroso ora Jo, yen Bu Sari saiki rodo aneh?” (Kamu kerasa gak Jo, kalau Bu Sari sekarang agak aneh?)
Joyo menoleh ke arah Dedi, memandang kawannya itu lekat-lekat sambil menunjukkan roman bahwa dia tidak suka dengan pertanyaannya barusan. “Aneh piye (gimana)?! Kowe itu yang aneh, dari tadi dieeeem wae!”
Dedi makin mendekat. Kali ini dia naikkan sarungnya agar lebih rapat menutupi tubuh. “Ah kowe itu emang ndak tahu apa pura-pura ndak tahu?”
Joyo tahu kemana arah pembicaraan ini, tapi Dedi terlebih dulu menyerocos sebelum Joyo memintanya untuk tutup mulut atau membahas hal yang lain.
“Iki nuwun sewu yo, tapi Bu Sari kok koyo wong kurang waras. Delengen to, kat mau esuk ameh ra tau metu soko kamar iki. Sampai direwangi gelut karo si Rissa barang, to? Nganti saiki Rissa-ne ora balik mrene...” (Maaf-maaf ya, tapi Bu Sari kok kayak orang kurang waras. Lihat aja, dari tadi pagi nyaris gak pernah keluar dari kamar ini. Sempat juga berantem sama si Rissa, kan? Sampai sekarang, Rissa-nya enggak balik kesini...)
Brengsek! Orang ini sudah mulai kurang ajar bicaranya! Joyo nyaris meminta Dedi untuk menjaga sikap dan tutur bahasanya, tapi lagi-lagi Dedi lebih dulu melontarkan kalimat berikutnya.
“Kabeh iki (semua ini) dimulai sejak kedatang perempuan ini...” Dedi menolehkan pandangan ke belakang, ke arah pintu kamar yang hanya berjarak lima langkah dari tempat mereka duduk sekarang. “Perempuan yang juga nyokot (menggigit) jari Amsal sampai pedhot (putus)!”
Entah kenapa, Joyo jadi ikut-ikutan menoleh ke arah yang sama dengan Dedi. Pintu itu...pintu yang terkunci dan kuncinya sekarang ada di saku jaketnya itu...ada seseorang di balik pintu itu. Seorang perempuan dengan perut hamil tua, namun dia gila dan berbahaya.
Joyo masih ingat ketika perempuan ini datang pertama kali. Dengan dibawa oleh sekelompok anak muda, dia keluar dari mobil berplat nomor luar kota. Joyo melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana dia dituntun oleh Ibu Sari dan salah seorang dari remaja luar kota itu –perempuan, berkacamata- untuk memasuki kamar yang sekarang sedang dia jaga ini.
Perut perempuan itu membuncit, dan dia berjalan dengan cara yang aneh. Tampak kepayahan seperti orang yang sudah sekian lama tak pernah menggunakan kakinya. Joyo, yang kala itu berdiri mematung di samping Rissa, hanya bisa menatap heran tanpa bicara sepatah katapun.
Lalu...yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya adalah...
Perempuan itu tiba-tiba saja memutar kepala dan menoleh ke arahnya. Tak hanya itu, dia juga sempat melemparkan seulas senyuman. Seulas senyuman yang tak hanya mengerikan, tapi juga sempat menjadi mimpi buruk bagi Joyo selama dua malam.
Asu!Tiba-tiba, bulu kuduk Joyo berdiri tegak. Rasa takut yang entah darimana datangnya, tetiba saja menyeruak dan menerkam perasaannya. Dia menelan ludah dan mengalihkan pandangan dari arah pintu itu kembali ke depan.
“Hawane kok dadi ra penak ya, Jo? Kowe kroso ora?” (Hawanya kok jadi enggak enak ya, Jo? Kamu kerasa enggak?)
Dedi bangsaaaatt! Joyo sudah tak tahan lagi. Perasaan takut bercampur capek, ditambah harus mendengar manusia satu ini terus-terusan mengoceh, membuat Joyo habis kesabaran. Dia nyaris bangkit dan memberi Dedi satu tamparan, tapi...
SRETT!!
“Bajilak Jo, suoro opo kae?!” (Jo, suara apa itu?!)
Secepat kilat tangan Dedi mencengkeram lengan Joyo dengan erat, membuatnya tak bisa bergerak dari kursinya sendiri.
Ya, aku juga mendengarnya! Joyo membatin sambil menarik nafas panjang. Dia kemudian berinisiatif mencairkan suasana dengan mengucapkan sebuah kalimat untuk menenangkan Dedi...dan tentu saja dirinya sendiri.
“Tenang, Ded! Paling mung suworo angin sing...” (Tenang, Ded! Paling cuman suara angin yang...)
SREEEETT!!
Suara itu kembali terdengar. Kali ini mulut Joyo terbungkam. Keringat dingin seketika mengalir dengan deras dari pori-pori walaupun udara malam terasa begitu dingin.
Itu jelas suara langkah kaki yang diseret di tanah. Tapi pertanyaannya, suara langkak kaki siapa? Tak ada siapapun yang tersisa di Panti ini kecuali dia, Dedi, dan...
Mati aku!! Joyo tak berani menoleh ke belakang lagi. Dia hanya ingin lari, pergi dari tempat ini dan pulang ke rumahnya yang nyaman dan aman. Peduli setan dengan amanah yang diberikan Ibu Sari kepadanya, nyatanya sampai sekarang dia dan Samsul juga belum tampak kembali.
“Piye iki, Jo?! Iki mesti wedokan edan kui tangi terus arep ngamuk!!” (Gimana ini, Jo?! Ini pasti perempuan gila itu bangun dan mau ngamuk!!)
Bisik Dedi yang kondisi nyalinya tak lebih baik dari Joyo sendiri. Mereka berdua saling tatap, sama-sama tercekat dalam kengerian. Joyo sendiri sebenarnya ingin bicara. Mengutarakan sebuah ide untuk mengajak Dedi untuk sama-sama lari ke pagar depan di hitungan ketiga. Tapi rasa takut yang sedemikian besar membuat kalimat itu tertahan di kerongkongan.
SREEEEEETTTT!!
Suara itu terdengar untuk ketiga kalinya. Kali ini jauh lebih jelas dan terasa semakin dekat. Dan di detik itu pula terjadi sebuah pengkhianatan terbesar yang pernah Joyo terima seumur hidupnya; Dedi melepaskan cengkeramannya di lengan Joyo, dan dengan sarung yang ditarik ke atas si brengsek itu lari sekuat dan secepat yang ia bisa. Pijakan demi pijakan yang dia ambil begitu panjang, dan dalam waktu tak lebih dari tiga detik tubuhnya sudah hilang di balik pagar Panti.
Sedangkan Joyo...
Dia tak bergeser dari kursinya barang satu sentipun. Kakinya gemetar hebat sampai tak punya tenaga bahkan untuk berdiri. Lidahnya kelu, tak mampu berteriak minta tolong sekuat apapun dia berusaha. Keringat dingin terus mengucur, membuat tubuhnya sekuyup orang kehujanan.
Joyo terjebak dalam kondisi yang sering disebut orang Jawa sebagai ‘sewelen’. Dan dalam keadaan seperti ini, satu-satunya yang dia inginkan hanyalah pingsan saja. Tapi tidak semudah itu...
SREETT...SREETT...SREEEETTTT...
Suara kaki diseret itu kini berada di belakang punggung Joyo. Benar-benar tepat di belakangnya. Tubuhnya makin lemas, dan puncaknya adalah...
Bahunya disentuh oleh telapak tangan yang terasa begitu dingin dan lembut. Joyo sesak nafas, dia tak kuasa untuk mencegah makhluk apapun yang ada di belakang situ mendekat kepadanya. Sangat dekat...makin dekat...sampai nafas hangat yang begitu asing itu menerpa bagian belakang lehernya.
Kemudian terdengar sebuah bisikan. “Mas Joyo...”
Sebelum semua menjadi gelap.
Suara adzan Maghrib telah usai dikumandangkan. Warna merah senja perlahan-lahan menghilang, berganti dengan gelap malam yang merangkak menguasai langit. Nyaris tujuh tahun sudah Joyo bekerja di Panti ini. Menjadi tukang kebun, tukang listrik dan kadang nyambi juga menjadi tukang beli kebutuhan Panti ke pasar kalau kebetulan Rissa sedang ada acara di luar. Semua dijalani Joyo dengan tulus ikhlas, walau dia tahu terkadang yayasan ini kesulitan dana dan gajinya jadi agak tertunda. Tapi dia tidak pernah mengeluh.
Selama ini, Ibu Sari sudah sangat baik kepada Joyo dan keluarganya. Tak peduli walau keyakinan mereka berbeda. Begitu juga Rissa dan anak-anak panti yang lain. Mereka selalu bisa memberikan kehangatan dan keramahan setiap pagi Joyo menginjakkan kaki di Panti ini dan mulai bekerja hingga sore tiba.
Benar, Joyo berani bersumpah! Selama tujuh tahun, dia tak pernah mengeluh barang sekalipun. Tapi hari ini, malam ini, semuanya berubah...
Tawa riang Amsal, Nuel, Maria dan anak-anak yang lain; teriakan Rissa yang meminta mereka untuk tidak berlari kesana kemari sambil sesekali mengganggu pekerjaan Joyo; atau senyum Ibu Sari yang menyambutnya di depan pagar sambil mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar anak istrinya di rumah dan memintanya untuk meminum kopi dan menikmati gorengan yang sudah ia siapkan sebelum mulai bekerja.
Semua itu kemudian hilang begitu saja. Tempat ini berubah menjadi begitu sepi, dingin dan gelap. Tak ada lagi suara bising anak-anak, tak ada lagi Rissa yang mondar-mandir menjaga mereka semua.
Hanya ada dia bersama Dedi yang juga duduk tepat di sampingnya, di depan sebuah kamar yang terkunci rapat. Mereka tak saling bicara satu sama lain; terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum kebiusan itu dipecahkan oleh Dedi yang tiba-tiba saja menggeser kursinya mendekat sambil membisikkan sesuatu.
“Kowe kroso ora Jo, yen Bu Sari saiki rodo aneh?” (Kamu kerasa gak Jo, kalau Bu Sari sekarang agak aneh?)
Joyo menoleh ke arah Dedi, memandang kawannya itu lekat-lekat sambil menunjukkan roman bahwa dia tidak suka dengan pertanyaannya barusan. “Aneh piye (gimana)?! Kowe itu yang aneh, dari tadi dieeeem wae!”
Dedi makin mendekat. Kali ini dia naikkan sarungnya agar lebih rapat menutupi tubuh. “Ah kowe itu emang ndak tahu apa pura-pura ndak tahu?”
Joyo tahu kemana arah pembicaraan ini, tapi Dedi terlebih dulu menyerocos sebelum Joyo memintanya untuk tutup mulut atau membahas hal yang lain.
“Iki nuwun sewu yo, tapi Bu Sari kok koyo wong kurang waras. Delengen to, kat mau esuk ameh ra tau metu soko kamar iki. Sampai direwangi gelut karo si Rissa barang, to? Nganti saiki Rissa-ne ora balik mrene...” (Maaf-maaf ya, tapi Bu Sari kok kayak orang kurang waras. Lihat aja, dari tadi pagi nyaris gak pernah keluar dari kamar ini. Sempat juga berantem sama si Rissa, kan? Sampai sekarang, Rissa-nya enggak balik kesini...)
Brengsek! Orang ini sudah mulai kurang ajar bicaranya! Joyo nyaris meminta Dedi untuk menjaga sikap dan tutur bahasanya, tapi lagi-lagi Dedi lebih dulu melontarkan kalimat berikutnya.
“Kabeh iki (semua ini) dimulai sejak kedatang perempuan ini...” Dedi menolehkan pandangan ke belakang, ke arah pintu kamar yang hanya berjarak lima langkah dari tempat mereka duduk sekarang. “Perempuan yang juga nyokot (menggigit) jari Amsal sampai pedhot (putus)!”
Entah kenapa, Joyo jadi ikut-ikutan menoleh ke arah yang sama dengan Dedi. Pintu itu...pintu yang terkunci dan kuncinya sekarang ada di saku jaketnya itu...ada seseorang di balik pintu itu. Seorang perempuan dengan perut hamil tua, namun dia gila dan berbahaya.
Joyo masih ingat ketika perempuan ini datang pertama kali. Dengan dibawa oleh sekelompok anak muda, dia keluar dari mobil berplat nomor luar kota. Joyo melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana dia dituntun oleh Ibu Sari dan salah seorang dari remaja luar kota itu –perempuan, berkacamata- untuk memasuki kamar yang sekarang sedang dia jaga ini.
Perut perempuan itu membuncit, dan dia berjalan dengan cara yang aneh. Tampak kepayahan seperti orang yang sudah sekian lama tak pernah menggunakan kakinya. Joyo, yang kala itu berdiri mematung di samping Rissa, hanya bisa menatap heran tanpa bicara sepatah katapun.
Lalu...yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya adalah...
Perempuan itu tiba-tiba saja memutar kepala dan menoleh ke arahnya. Tak hanya itu, dia juga sempat melemparkan seulas senyuman. Seulas senyuman yang tak hanya mengerikan, tapi juga sempat menjadi mimpi buruk bagi Joyo selama dua malam.
Asu!Tiba-tiba, bulu kuduk Joyo berdiri tegak. Rasa takut yang entah darimana datangnya, tetiba saja menyeruak dan menerkam perasaannya. Dia menelan ludah dan mengalihkan pandangan dari arah pintu itu kembali ke depan.
“Hawane kok dadi ra penak ya, Jo? Kowe kroso ora?” (Hawanya kok jadi enggak enak ya, Jo? Kamu kerasa enggak?)
Dedi bangsaaaatt! Joyo sudah tak tahan lagi. Perasaan takut bercampur capek, ditambah harus mendengar manusia satu ini terus-terusan mengoceh, membuat Joyo habis kesabaran. Dia nyaris bangkit dan memberi Dedi satu tamparan, tapi...
SRETT!!
“Bajilak Jo, suoro opo kae?!” (Jo, suara apa itu?!)
Secepat kilat tangan Dedi mencengkeram lengan Joyo dengan erat, membuatnya tak bisa bergerak dari kursinya sendiri.
Ya, aku juga mendengarnya! Joyo membatin sambil menarik nafas panjang. Dia kemudian berinisiatif mencairkan suasana dengan mengucapkan sebuah kalimat untuk menenangkan Dedi...dan tentu saja dirinya sendiri.
“Tenang, Ded! Paling mung suworo angin sing...” (Tenang, Ded! Paling cuman suara angin yang...)
SREEEETT!!
Suara itu kembali terdengar. Kali ini mulut Joyo terbungkam. Keringat dingin seketika mengalir dengan deras dari pori-pori walaupun udara malam terasa begitu dingin.
Itu jelas suara langkah kaki yang diseret di tanah. Tapi pertanyaannya, suara langkak kaki siapa? Tak ada siapapun yang tersisa di Panti ini kecuali dia, Dedi, dan...
Mati aku!! Joyo tak berani menoleh ke belakang lagi. Dia hanya ingin lari, pergi dari tempat ini dan pulang ke rumahnya yang nyaman dan aman. Peduli setan dengan amanah yang diberikan Ibu Sari kepadanya, nyatanya sampai sekarang dia dan Samsul juga belum tampak kembali.
“Piye iki, Jo?! Iki mesti wedokan edan kui tangi terus arep ngamuk!!” (Gimana ini, Jo?! Ini pasti perempuan gila itu bangun dan mau ngamuk!!)
Bisik Dedi yang kondisi nyalinya tak lebih baik dari Joyo sendiri. Mereka berdua saling tatap, sama-sama tercekat dalam kengerian. Joyo sendiri sebenarnya ingin bicara. Mengutarakan sebuah ide untuk mengajak Dedi untuk sama-sama lari ke pagar depan di hitungan ketiga. Tapi rasa takut yang sedemikian besar membuat kalimat itu tertahan di kerongkongan.
SREEEEEETTTT!!
Suara itu terdengar untuk ketiga kalinya. Kali ini jauh lebih jelas dan terasa semakin dekat. Dan di detik itu pula terjadi sebuah pengkhianatan terbesar yang pernah Joyo terima seumur hidupnya; Dedi melepaskan cengkeramannya di lengan Joyo, dan dengan sarung yang ditarik ke atas si brengsek itu lari sekuat dan secepat yang ia bisa. Pijakan demi pijakan yang dia ambil begitu panjang, dan dalam waktu tak lebih dari tiga detik tubuhnya sudah hilang di balik pagar Panti.
Sedangkan Joyo...
Dia tak bergeser dari kursinya barang satu sentipun. Kakinya gemetar hebat sampai tak punya tenaga bahkan untuk berdiri. Lidahnya kelu, tak mampu berteriak minta tolong sekuat apapun dia berusaha. Keringat dingin terus mengucur, membuat tubuhnya sekuyup orang kehujanan.
Joyo terjebak dalam kondisi yang sering disebut orang Jawa sebagai ‘sewelen’. Dan dalam keadaan seperti ini, satu-satunya yang dia inginkan hanyalah pingsan saja. Tapi tidak semudah itu...
SREETT...SREETT...SREEEETTTT...
Suara kaki diseret itu kini berada di belakang punggung Joyo. Benar-benar tepat di belakangnya. Tubuhnya makin lemas, dan puncaknya adalah...
Bahunya disentuh oleh telapak tangan yang terasa begitu dingin dan lembut. Joyo sesak nafas, dia tak kuasa untuk mencegah makhluk apapun yang ada di belakang situ mendekat kepadanya. Sangat dekat...makin dekat...sampai nafas hangat yang begitu asing itu menerpa bagian belakang lehernya.
Kemudian terdengar sebuah bisikan. “Mas Joyo...”
Sebelum semua menjadi gelap.
Quote:
Ketika mobil yang dikemudikannya bersama Theo masuk ke area Panti, Dokter Herlambang menemukan satu mobil lain sudah terparkir di dalam sana. Mobil berwarna putih yang sebenarnya tampak familiar, tapi Dokter Herlambang benar-benar tak ingat siapa pemiliknya.
Tak mau berlama-lama, dia segera memarkirkan mobilnya sendiri tepat di samping mobil putih tersebut dan langsung membuka pintu. Waktunya sudah banyak terbuang akibat macet panjang di daerah T****ng, akibat sebuah truk besar yang terguling di tengah jalan. Perjalanan yang harusnya cukup ditempuh dalam waktu satu jam, harus molor nyaris tiga puluh menit.
Dan sepertinya, bukan cuma Dokter Herlambang sendiri yang dilanda kecemasan di sepanjang perjalanan. Tapi orang lain di mobil itu, Theo, juga tampak merasakan hal yang sama. Dengan sembunyi-sembunyi, Dokter Herlambang melirik sedikit ke jok samping kemudi dan menemukan pria misterius ini berkali-kali melihat jam tangannya sambil menghela nafas berat.
Theo. Atau Theodorus Salamena sesuai yang tertera di kartu nama yang diberikan kepadanya tadi pagi. Bekerja di Yayasan Krida Primaguna yang beralamat di Jakarta Selatan, dan bergerak aktif di rehabilitasi dan perawatan penderita gangguan jiwa. Yayasan itu sendiri berdiri sejak tahun 1995 dan di company profile-nya terlampir nama seorang aktivis kemanusiaan sekaligus dokter jiwa senior yang reputasinya melegenda di dunia kedokteran; Dr. Irawan Sanusi.
Sebenarnya, sampai detik inipun, Dokter Herlambang masih belum yakin dengan lelaki bernama Theo ini. Tapi, curiculum vitaedan proposal yang disodorkan di meja ruang kerjanya itu benar-benar tanpa cela. Yayasan itu benar-benar ada, terdaftar dan nomor teleponnya aktif.
Dokter Herlambang bukan orang bodoh. Dia benar-benar memeriksa semuanya. Pihak Yayasan di Jakarta yang dia hubungi via telepon, membenarkan bahwa Theodorus Salamena bekerja untuk mereka. Jadi, sebagai seorang Dokter yang mengedepankan logika dan akal sehat, dia tidak punya alasan untuk menolak tawaran dari Theo. Maka sore itu, Dokter Herlambang memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomornya dan mengajaknya untuk ikut serta ke Panti milik Ibu Sari.
Tapi sialnya, mereka berdua harus terjebak macet dan malam sudah terlanjur larut ketika sampai di tujuan. Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Dengan diikuti Theo di belakang, Dokter Herlambang berjalan tergesa ke satu titik tempat yang ingin dia tuju pertama kali; kamar panti paling pojok, tempat Yuli dirawat.
“Kayaknya ada yang enggak beres.” Dokter Herlambang mendengarnya dengan jelas, itu adalah suara Theo yang menggumamkan sesuatu sambil mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Dokter Herlambang.
Awalnya, Dokter Herlambang tidak mengerti apa maksud dari ucapan Theo baru saja. Tapi, setelah posisinya semakin dekat dengan kamar Yuli, dia jadi paham bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi di tempat itu.
Pintu kamar Yuli dalam posisi terbuka seluruhnya. Ada beberapa orang berkumpul di sana. Si tukang kebun Joyo tampak duduk di kursi yang ditaruh tepat di luar kamar. Wajahnya pucat pasi dan dua orang pria tampak berkeliling mengerubunginya. Yang seorang dikenal Dokter Herlambang sebagai teman Joyo yang biasa ikut bantu-bantu di Panti ini; Samsul namanya. Sedang yang seorang lagi, pria muda berpakaian rapi yang baru sekali dilihatnya.
Dokter Herlambang makin penasaran. Dia percepat langkahnya makin mendekat ke arah kamar yang terbuka. Jantungnya berdegup kencang, berharap dia tidak benar-benar terlambat dan hal yang buruk telah terjadi di Panti ini. Dan di waktu Dokter Herlambang menghentikan langkah-langkah kakinya, tampak jelaslah di dalam kamar itu Ibu Sari ditemani oleh seorang pria lain. Pria paruh baya berwajah teduh yang membuatnya kini bisa mengingat siapa pemilik mobil putih di depan tadi. Dia adalah Romo Frans.
“Romo...” Refleks, Dokter Herlambang menyebut nama itu sambil berdiri terpaku tepat di depan pintu. Nada suaranya mengambang, namun cukup untuk membuat dua orang yang ada di dalam sana menoleh ke arahnya; Romo Frans dan Ibu Sari yang nampaknya baru menyadari keberadaan Dokter Herlambang.
“Herlambang...” Tapi bukan Romo Frans yang menjawab, tapi Ibu Sari yang langsung berdiri dari tepi ranjang dengan wajah merah padam. Kedua mata yang awalnya sayu itu berubah menajam penuh amarah dalam hitungan detik saja.
“YULI MBOK GOWO MLAYU NENGDI, HERLAMBAAAAANGG!!” (YULI KAMU BAWA LARI KEMANA, HERLAMBANGG!!!)
Seperti orang kemasukan setan, Ibu Sari langsung melompat dan mendorong tubuh Dokter Herlambang ke belakang. Walau memiliki tubuh lebih tinggi daripada Ibu Sari, dia sama sekali tidak siap dengan serangan yang mendadak dan tidak terduga itu. Tubuhnya rubuh ke tanah, tak bisa bergerak karena ditindih dengan kedua lutut Ibu Sari.
“WAAR HEB JE YULI VERSPOPT????” (DIMANA KAMU SEMBUNYIKAN YULI???)
Kembali, Ibu Sari mencecar Dokter Herlambang dengan bahasa Belanda. Kali ini lebih keras, lebih tak terkendali dan kedua tangannya yang terbiasa digunakan untuk memberi kasih sayang kepada anak-anak yatim piatu itu menjambak rambut Dokter Herlambang dengan brutal.
Tak pelak, perhatian semua orang yang ada di situ tersedot ke arah mereka berdua. Samsul yang sedang sibuk mengolesi kening Joyo dengan minyak angin, langsung melemparkan botol dan berlari ke arah pergumulan yang sedang terjadi. Begitupun si lelaki muda asing dan Romo Frans sendiri. Sekuat tenaga ketiganya berusaha menarik tubuh Ibu Sari ke belakang.
“Sari, sabar Sari! Berhenti!” Dokter Herlambang masih sempat mendengar suara Romo Frans, sebelum dia melihat celah untuk melepaskan diri. Dia membantu ketiga orang tersebut dengan mendorong tubuh Ibu Sari dari arah depan. Bukan sesuatu yang sulit, Ibu Sari jelas kalah kekuatan menghadapi empat pria dewasa sekaligus. Dokter Herlambang terbebas, kemudian dia bangkit dan berlari sedikit menjauh dari depan pintu kamar.
Tapi bagaimanapun, serangan itu sama sekali tak pernah dia duga dan membuat Dokter Herlambang cukup terguncang. Nafasnya ngos-ngosan dan jantungnya berdegup tidak karuan. Bagaimana Ibu Sari yang dia kenal sebagai sosok yang lembut dan penuh welas asih, bisa berubah seliar ini? Apa memang benar bahwa obsesi terhadap Yuli, sudah terlalu jauh hingga merusak pikiran dan akal sehatnya? Dokter Herlambang tak tahu. Dia tak mampu berpikir jernih saat ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdiri mematung, sambil menatap Ibu Sari dipapah oleh Samsul dan pria muda yang tadi sempat dipanggil Romo Frans dengan nama Daniel, masuk ke dalam kamar.
“Dokter...” Terlihat Romo Frans mendekat, menggandeng lengan tangannya untuk berjalan agak menjauh ke tengah taman. “Saya tidak pernah menyangka semuanya akan jadi sekacau ini. Tapi ada baiknya, Dokter Herlambang tidak menemui Sari terlebih dulu.”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Romo?” Dokter Herlambang, dengan deru nafas yang masih berantakan, benar-benar dibuat penasaran.
Tapi Romo Frans tidak langsung menjawab. Dia hela nafas panjang terlebih dahulu, sambil menoleh sekilas ke arah belakang. Mungkin memastikan bahwa Ibu Sari sudah diamankan di dalam kamar. “Yuli hilang. Kamarnya kosong dan Joyo dalam keadaan pingsan ketika kami datang.”
Spontan, mata Dokter Herlambang beralih ke arah Si Tukang Kebun yang masih tampak kepayahan dan tak berdaya di sudut sana. “Joyo?”
Romo Frans menggelengkan kepalanya. “Dia belum bisa ditanyai. Jawabannya masih ngalor ngidul tidak jelas. Yang pasti, dia sangat shock dan ketakutan. Dia meracau kalau ada setan di Panti ini. Kunci kamar yang ada di kantongnya juga hilang.”
Sekarang Dokter Herlambang benar-benar merasa bersalah, ketika dia menyadari bahwa keterlambatannya datang kemari berakibat sampai sefatal ini.
“Tapi ngomong-ngomong...” Romo Frans melanjutkan. “Dokter sendirian saja kesini?”
Oh, enggak Romo!” Pertanyaan itu membuatnya teringat akan seseorang. “Saya kebetulan ditemani sama...”
Dokter Herlambang kemudian mengedarkan pandangannya ke kanan..kemudian ke kiri...dan ke seluruh penjuru Panti. Tapi, seseorang yang dia cari dan berniat dia kenalkan kepada Romo Frans itu tidak ada dimanapun.
Dia lenyap. Menghilang entah sejak kapan.
“...Bapak Theo.”
Tak mau berlama-lama, dia segera memarkirkan mobilnya sendiri tepat di samping mobil putih tersebut dan langsung membuka pintu. Waktunya sudah banyak terbuang akibat macet panjang di daerah T****ng, akibat sebuah truk besar yang terguling di tengah jalan. Perjalanan yang harusnya cukup ditempuh dalam waktu satu jam, harus molor nyaris tiga puluh menit.
Dan sepertinya, bukan cuma Dokter Herlambang sendiri yang dilanda kecemasan di sepanjang perjalanan. Tapi orang lain di mobil itu, Theo, juga tampak merasakan hal yang sama. Dengan sembunyi-sembunyi, Dokter Herlambang melirik sedikit ke jok samping kemudi dan menemukan pria misterius ini berkali-kali melihat jam tangannya sambil menghela nafas berat.
Theo. Atau Theodorus Salamena sesuai yang tertera di kartu nama yang diberikan kepadanya tadi pagi. Bekerja di Yayasan Krida Primaguna yang beralamat di Jakarta Selatan, dan bergerak aktif di rehabilitasi dan perawatan penderita gangguan jiwa. Yayasan itu sendiri berdiri sejak tahun 1995 dan di company profile-nya terlampir nama seorang aktivis kemanusiaan sekaligus dokter jiwa senior yang reputasinya melegenda di dunia kedokteran; Dr. Irawan Sanusi.
Sebenarnya, sampai detik inipun, Dokter Herlambang masih belum yakin dengan lelaki bernama Theo ini. Tapi, curiculum vitaedan proposal yang disodorkan di meja ruang kerjanya itu benar-benar tanpa cela. Yayasan itu benar-benar ada, terdaftar dan nomor teleponnya aktif.
Dokter Herlambang bukan orang bodoh. Dia benar-benar memeriksa semuanya. Pihak Yayasan di Jakarta yang dia hubungi via telepon, membenarkan bahwa Theodorus Salamena bekerja untuk mereka. Jadi, sebagai seorang Dokter yang mengedepankan logika dan akal sehat, dia tidak punya alasan untuk menolak tawaran dari Theo. Maka sore itu, Dokter Herlambang memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomornya dan mengajaknya untuk ikut serta ke Panti milik Ibu Sari.
Tapi sialnya, mereka berdua harus terjebak macet dan malam sudah terlanjur larut ketika sampai di tujuan. Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Dengan diikuti Theo di belakang, Dokter Herlambang berjalan tergesa ke satu titik tempat yang ingin dia tuju pertama kali; kamar panti paling pojok, tempat Yuli dirawat.
“Kayaknya ada yang enggak beres.” Dokter Herlambang mendengarnya dengan jelas, itu adalah suara Theo yang menggumamkan sesuatu sambil mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Dokter Herlambang.
Awalnya, Dokter Herlambang tidak mengerti apa maksud dari ucapan Theo baru saja. Tapi, setelah posisinya semakin dekat dengan kamar Yuli, dia jadi paham bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi di tempat itu.
Pintu kamar Yuli dalam posisi terbuka seluruhnya. Ada beberapa orang berkumpul di sana. Si tukang kebun Joyo tampak duduk di kursi yang ditaruh tepat di luar kamar. Wajahnya pucat pasi dan dua orang pria tampak berkeliling mengerubunginya. Yang seorang dikenal Dokter Herlambang sebagai teman Joyo yang biasa ikut bantu-bantu di Panti ini; Samsul namanya. Sedang yang seorang lagi, pria muda berpakaian rapi yang baru sekali dilihatnya.
Dokter Herlambang makin penasaran. Dia percepat langkahnya makin mendekat ke arah kamar yang terbuka. Jantungnya berdegup kencang, berharap dia tidak benar-benar terlambat dan hal yang buruk telah terjadi di Panti ini. Dan di waktu Dokter Herlambang menghentikan langkah-langkah kakinya, tampak jelaslah di dalam kamar itu Ibu Sari ditemani oleh seorang pria lain. Pria paruh baya berwajah teduh yang membuatnya kini bisa mengingat siapa pemilik mobil putih di depan tadi. Dia adalah Romo Frans.
“Romo...” Refleks, Dokter Herlambang menyebut nama itu sambil berdiri terpaku tepat di depan pintu. Nada suaranya mengambang, namun cukup untuk membuat dua orang yang ada di dalam sana menoleh ke arahnya; Romo Frans dan Ibu Sari yang nampaknya baru menyadari keberadaan Dokter Herlambang.
“Herlambang...” Tapi bukan Romo Frans yang menjawab, tapi Ibu Sari yang langsung berdiri dari tepi ranjang dengan wajah merah padam. Kedua mata yang awalnya sayu itu berubah menajam penuh amarah dalam hitungan detik saja.
“YULI MBOK GOWO MLAYU NENGDI, HERLAMBAAAAANGG!!” (YULI KAMU BAWA LARI KEMANA, HERLAMBANGG!!!)
Seperti orang kemasukan setan, Ibu Sari langsung melompat dan mendorong tubuh Dokter Herlambang ke belakang. Walau memiliki tubuh lebih tinggi daripada Ibu Sari, dia sama sekali tidak siap dengan serangan yang mendadak dan tidak terduga itu. Tubuhnya rubuh ke tanah, tak bisa bergerak karena ditindih dengan kedua lutut Ibu Sari.
“WAAR HEB JE YULI VERSPOPT????” (DIMANA KAMU SEMBUNYIKAN YULI???)
Kembali, Ibu Sari mencecar Dokter Herlambang dengan bahasa Belanda. Kali ini lebih keras, lebih tak terkendali dan kedua tangannya yang terbiasa digunakan untuk memberi kasih sayang kepada anak-anak yatim piatu itu menjambak rambut Dokter Herlambang dengan brutal.
Tak pelak, perhatian semua orang yang ada di situ tersedot ke arah mereka berdua. Samsul yang sedang sibuk mengolesi kening Joyo dengan minyak angin, langsung melemparkan botol dan berlari ke arah pergumulan yang sedang terjadi. Begitupun si lelaki muda asing dan Romo Frans sendiri. Sekuat tenaga ketiganya berusaha menarik tubuh Ibu Sari ke belakang.
“Sari, sabar Sari! Berhenti!” Dokter Herlambang masih sempat mendengar suara Romo Frans, sebelum dia melihat celah untuk melepaskan diri. Dia membantu ketiga orang tersebut dengan mendorong tubuh Ibu Sari dari arah depan. Bukan sesuatu yang sulit, Ibu Sari jelas kalah kekuatan menghadapi empat pria dewasa sekaligus. Dokter Herlambang terbebas, kemudian dia bangkit dan berlari sedikit menjauh dari depan pintu kamar.
Tapi bagaimanapun, serangan itu sama sekali tak pernah dia duga dan membuat Dokter Herlambang cukup terguncang. Nafasnya ngos-ngosan dan jantungnya berdegup tidak karuan. Bagaimana Ibu Sari yang dia kenal sebagai sosok yang lembut dan penuh welas asih, bisa berubah seliar ini? Apa memang benar bahwa obsesi terhadap Yuli, sudah terlalu jauh hingga merusak pikiran dan akal sehatnya? Dokter Herlambang tak tahu. Dia tak mampu berpikir jernih saat ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdiri mematung, sambil menatap Ibu Sari dipapah oleh Samsul dan pria muda yang tadi sempat dipanggil Romo Frans dengan nama Daniel, masuk ke dalam kamar.
“Dokter...” Terlihat Romo Frans mendekat, menggandeng lengan tangannya untuk berjalan agak menjauh ke tengah taman. “Saya tidak pernah menyangka semuanya akan jadi sekacau ini. Tapi ada baiknya, Dokter Herlambang tidak menemui Sari terlebih dulu.”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Romo?” Dokter Herlambang, dengan deru nafas yang masih berantakan, benar-benar dibuat penasaran.
Tapi Romo Frans tidak langsung menjawab. Dia hela nafas panjang terlebih dahulu, sambil menoleh sekilas ke arah belakang. Mungkin memastikan bahwa Ibu Sari sudah diamankan di dalam kamar. “Yuli hilang. Kamarnya kosong dan Joyo dalam keadaan pingsan ketika kami datang.”
Spontan, mata Dokter Herlambang beralih ke arah Si Tukang Kebun yang masih tampak kepayahan dan tak berdaya di sudut sana. “Joyo?”
Romo Frans menggelengkan kepalanya. “Dia belum bisa ditanyai. Jawabannya masih ngalor ngidul tidak jelas. Yang pasti, dia sangat shock dan ketakutan. Dia meracau kalau ada setan di Panti ini. Kunci kamar yang ada di kantongnya juga hilang.”
Sekarang Dokter Herlambang benar-benar merasa bersalah, ketika dia menyadari bahwa keterlambatannya datang kemari berakibat sampai sefatal ini.
“Tapi ngomong-ngomong...” Romo Frans melanjutkan. “Dokter sendirian saja kesini?”
Oh, enggak Romo!” Pertanyaan itu membuatnya teringat akan seseorang. “Saya kebetulan ditemani sama...”
Dokter Herlambang kemudian mengedarkan pandangannya ke kanan..kemudian ke kiri...dan ke seluruh penjuru Panti. Tapi, seseorang yang dia cari dan berniat dia kenalkan kepada Romo Frans itu tidak ada dimanapun.
Dia lenyap. Menghilang entah sejak kapan.
“...Bapak Theo.”
babet2 dan 50 lainnya memberi reputasi
51
Kutip
Balas
Tutup