Story
Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
Informasi! Ngobrol Sesama Komunitas Makin Gampang Lewat Live Chat di Kaskus Apps Cek di Sini Caranya
2550
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e4fcf409a972e05b10e0324/tulah-jasadnya-mati-dendamnya-beranak-pinak--based-on-true-story
Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi y
Lapor Hansip
21-02-2020 19:38

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...

Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.

Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.

Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.

Selamat menikmati... 


Quote:
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.



KARAKTER
Karakter

REVIEW
Review


INDEX

CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4
BAGIAN 10

CHAPTER DUA: PEMBEBASAN

CHAPTER TIGA: PERBURUAN

Side-Story

CHAPTER 4: AWAL MULA
[UNPUBLISHED]

CHAPTER 5: TULAH
Polling

Poll ini sudah ditutup - 115 Suara

Menurut agan-agan, perlu enggak dibuatkan kisah tentang "Jurnal"? 
68.7%
Bikinin gan ane penasaran!
31.3%
Kagak usah, langsung mulai aja Chapter 4
Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dan 252 lainnya memberi reputasi
231
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
27.6K Anggota • 30K Threads
Halaman 41 dari 68
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
30-08-2021 21:14
Penuh konspirasi pak gunardi hmm, kasian anaknya sampe dinikahin demit
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
30-08-2021 21:35
Bro chapter 20 jd update malam ini? Lg panas2nya ni..
profile-picture
69banditos memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
30-08-2021 22:07
Masih setia nunggu chap 20 dan 21
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
30-08-2021 22:24
kayaknya updet tengah malam ni.. biar makin mencekam suasananya
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 00:12
beneran update? waaah, gelar tiker ah
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 00:51
Mksh apdetnya gan
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 18:09
Sebelumnya ane mohon maaf sebesarnya kepada agan-agan semua karena janji ane semalem terpaksa tidak bisa ane tepatin karena satu dan dua hal.

Jadi, bagian 20 ane baru bisa upload malam ini. Selain itu juga akan ada pengumuman menarik setelahnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zudinnn dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 21:05
Akhirnya marathon setelah mentok di chapter 11 😭 makasih TS udah di-update. Makin seru aja nih
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 22:24

BAGIAN 20

Quote:
Ketika Sarmin keluar dari hutan, Pak Gunardi dan beberapa orang dusun tampak berkerumun membentuk beberapa titik di sekitaran kandang kambing yang kosong melompong. Wajah mereka tampak cemas bercampur bingung dan takut. Terlebih lagi Sang Kepala Dusun, yang badannya basah kuyup oleh peluh keringat padahal udara dini hari ini begitu dingin membekukan tulang.

"Lha kui Sarmin!!" (Lha itu Sarmin!!)

Entah siapa yang pertama berteriak, namun kemudian semua perhatian dan tatapan mengarah kepada sosok lelaki yang berjalan terpincang-pincang itu. Wajahnya dingin, rambutnya tampak acak-acakan...

...dan tentu saja, yang menarik perhatian semua orang adalah jaket hitam yang Sarmin pakai. Jaket hitam yang tak lagi sepenuhnya hitam. Ada noda merah di sana. Darah.

Pak Gunardi, seperti seseorang yang baru menemukan harta karun, segera berlari dengan tak sabar ke arah Sarmin. Dia pegang erat pundak remaja kepercayaannya itu erat-erat.

"Bagaimana, Min?" Sebuah pertanyaan singkat tapi menuntut jawaban tak sederhana. Sarmin mengangkat kepalanya, menatap erat mata Pak Gunardi dan mengambil satu helaan nafas panjang sebelum memberikan jawaban.

"Jenengan kok mboten ngabari yen Waskito kalih koncone tumut mlebet wonten alas, Pak?" (Anda kok tidak memberi kabar kalau Waskito dan temannya ikut masuk ke dalam hutan, Pak?)

Pak Gunardi membisu, tak mengira Sarmin akan bertanya demikian. Matanya menatap dengan penuh penasaran, begitupun yang lainnya. Tapi tampaknya Sarmin belum selesai.

"Kulo papasan kalih wong loro niku, tapi kulo mboten ngertosi amargi situasine peteng bergairaht. Saking kadohan, gerak-gerikipun nggih mencurigakan lan mboten kados tiyange dewe. Dados, kulo langsung sergap tapi tiyange ngelawani. Weteng kulo ameh kepapras..." (Saya papasan dengan mereka, tapi saya tidak mengenalinya karena situasi yang gelap gulita. Terlebih dari jauh, gerak-gerik mereka mencurigakan dan tidak seperti orang sini. Jadi, saya langsung sergap tapi mereka melawan. Perut saya hampir kena sabet golok...)

Sarmin membuka jaket dan menunjukkan perutnya yang tergores cukup parah. Semua orang jadi ikut mendekat karena penasaran.

"...Mboten wonten pilihan lain, kulo namung mempertahankan nyawa. Yen badhe diserahne dateng polisi, kulo pasrah." (...Tidak ada pilihan lain, saya cuma mempertahankan nyawa. Kalau mau diserahkan ke polisi, saya pasrah.)

Sarmin menyerahkan kedua tangannya kepada Pak Gunardi, diiringi bisik-bisik warga yang makin jelas terdengar. Ternyata Sarminlah orang yang membunuh Waskito.

Sekilas ada keraguan di mata Pak Gunardi. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai tidak sadar Mbah Gondo sudah berdiri di sampingnya dan ikut menatap Sarmin dalam-dalam.

"Tenane, Min? Terus Yuli piye? Ketemu?" (Yang benar, Min? Terus Yuli gimana? Ketemu?)

Sarmin balik memandang Mbah Gondo. Kali ini tak ada lagi ketakutan di matanya.

"Mboten, kulo sampun repot banget ngurusi nyowo kulo dewe..." (Tidak, saya sudah cukup repot mengurusi nyawa saya sendiri...)

Kesunyian kemudian memenuhi udara. Semua orang terdiam. Dan Pak Gunardi adalah orang pertama yang merasa bahwa mereka semua sedang menunggu sebuah keputusan darinya. Keputusan tentang banyak hal yang terjadi malam ini, namun sebelum itu sepertinya dia harus memutuskan terlebih dulu nasib orang yang ada di hadapannya ini.

"Akan makin kacau kalau polisi datang, toh kamu cuma membela diri." Desah nafasnya terdengar berat. Tapi inilah keputusan paling bijaksana yang bisa diambil saat ini. "Sekarang lima orang masuk dan kuburkan mayat Waskito dan temannya!! Yang lain kembali ke rumah masing-masing!!"

Pak Gunardi berlalu dari hadapan Sarmin tanpa sepatah katapun. Dia hanya ingin pulang sekarang ini. Menenangkan diri dan memikirkan jalan keluar. Astria sudah dia suruh pergi, Mardi sudah dia beri perintah untuk menjemput putri tunggalnya itu menuju terminal. Sekarang tinggal mengurusi yang lain,
Namun baru beberapa langkah Pak Gunardi berjalan, lengannya dipegang erat oleh Mbah Gondo.

"Yen Yuli ora enek, anakmu kan yo iso..." (Kalau Yuli tidak ada, anakmu kan juga bisa...)

Untuk pertama kalinya sejak bertemu dan berurusan dengan Mbah Gondo (bahkan membangunkan rumah baginya di tengah hutan secara sembunyi-sembunyi), Pak Gunardi melepaskan cengekeraman itu dan menatap si dukun tua dengan mata terbakar api amarah.

"Ojo nyenggol Astria! Anakku kui Garwa Prameswari, tugase bedo karo Yuli! Isih enek waktu, aku bakal nggoleki nganti ketemu!!" (Jangan sentuh Astria! Anakku itu Garwa Prameswari, tugasnya beda dengan Yuli! Masih ada waktu, aku bakal cari dia sampai ketemu!!)

Seperti tak terpengaruh dengan reaksi Pak Gunardi, Mbah Gondo malah terkekeh sambil berjalan pergi seakan tak peduli.

"Terserah kowe Gun. Toh yen sampai telat kowe ngerti dewe opo sing bakal kedadian..." (Terserah kamu Gun. Toh kalau sampai telat, kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi...)


Quote:
Astria dapat hidup dimanapun dia mau. Jumlah nominal di rekeningnya saat ini terbilang lebih dari cukup bahkan jika dia berniat pergi ke luar negeri sekalipun.

Tapi bukan itu masalahnya sekarang...

Setelah usai berkemas dan memasukkan pakaiannya ke dalam tas, Astria bergegas keluar kamar dan bersiap untuk pergi dari dusun tanah kelahirannya ini. Menuruti kemauan Bapak, untuk keamanan dirinya sendiri.

Tapi baru juga sampai di ruang tengah, langkahnya yang penuh ketergesaan itu terhenti oleh sesuatu yang tertangkap di sudut matanya.

Sebuah bingkai kayu yang tergantung di tembok, tepat di bawah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Dimana di balik kacanya, terpajang rapi sebuah potret hitam putih yang gambarnya kian memudar seiring tahun demi tahun yang terus berlalu.

Astria terpaku. Dia termangu. Matanya menatap lekat potret itu dengan kesedihan yang tiba-tiba saja membuat dadanya terasa hangat.

Bapak, ibu dan aku yang baru genap berusia satu tahun berada dalam timangan mereka. Astria berbisik lirih. Perasaannya terlara-lara. Terlalu banyak yang Bapaknya telah korbankan demi dirinya dan demi dusun ini. Dua hal yang dia tahu, adalah dua hal yang paling dicintai oleh sang Bapak.

Dia bukan orang jahat. Dia bahkan tak pernah ingin semuanya menjadi seperti ini. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Dia hanya mengambil keputusan ketika yang lain tak punya cukup daya dan kekuatan.

Dan setelah sekian waktu berlalu, inikah balasan yang bisa diberikan Astria kepada Bapak? Kabur dan meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini? Pantaskah? Adilkah?

"Kulonuwun..."

Pintu rumah diketuk tiga kali dari luar. Lamunan Astria buyar seketika. Butuh beberapa saat baginya untuk benar-benar mengembalikan seluruh fokus ke kenyataan saat ini.

"Mbak...Astria..."

Suara itu terdengar lagi, tampak ragu untuk memanggil namanya. Suara yang terdengar familiar di telinga Astria, sekaligus sedikit meredakan kegelisahannya. Tanpa membuang waktu, dia segera melangkah dan membukakan pintu.

Di sana, Mardi berdiri dan menundukkan kepala. Seperti seorang prajurit yang segan menatap seorang anak raja. Sejujurnya, Astria tak begitu nyaman diperlakukan berlebihan seperti ini, walau dia tahu Mardi melakukannya hanya untuk menunjukkan rasa hormat kepada Bapaknya.

"Enggak usah manggil pakai Mbak segala. Kamu kan lebih tua setahun daripada aku, Mas..." Usaha Astria untuk mencairkan suasana nampaknya cukup berhasil. Walau masih dengan malu-malu, Mardi mengangkat kepalanya dan balik memandang Astria.

"Anu Mbak, eh Astria...saya didawuhi Pak Gunardi buat nganter sampai terminal."

Astria menjadi sedikit cemas. Dia alihkan pandangan ke luar rumah. Sepi sekali. Pasti Bapak, Mbah Gondo dan yang lain masih berada di kandangnya Yuli. "Bapakku dimana?"

"Masih di kandangnya Yuli, Mbak..."

Kepala Astria kembali menoleh ke belakang. Menatap lekat potret keluarganya sekali lagi, sekaligus untuk memantapkan hati. Dia sudah mengambil keputusan.

"Kamu balik ke kandang dan bilang ke Bapak kalau aku belum mau berangkat kalau dia belum pulang."

Mardi mengangguk walau tampaknya agak ragu, dan berbalik badan kemudian berjalan cepat menuju motornya yang diparkir di balik pagar. Dari tempatnya berdiri, Astria menatap kepergian Mardi sambil berpikir keras. Dahinya berkerut.

Masih ada waktu. Yuli masih bisa dicari.

Dia harus dicari sampai ketemu, bahkan walau sampai ke kerak neraka sekalipun.



Quote:
Seperti menatap terbitnya sang fajar yang sinar terangnya mengusir kegelapan serta membawakan harapan bagi jiwa-jiwa yang sudah terlampau lama berjalan dalam malam, Melia yang duduk termangu dengan punggung tersender di ban mobil itu langsung bangkit dengan wajah berbinar dan senyum terkembang.

"Adil!!" Dia Cumiikkan nama itu dengan teramat bahagia. Bahkan dia sendiri lupa kapan terakhir kali dia merasa sebahagia ini, ketika melihat figur lelaki itu menyeruak keluar dari balik lebatnya hutan dengan tubuh terbungkuk bermandikan keringat dan wajah lusuh memucat akibat kelelahan yang sedemikian hebat. Tampak menyusul Adil di belakang, ada Eko yang juga tak kalah berantakan bersama seorang perempuan yang tampak tertidur dengan pulas di balik punggungnya. Seorang perempuan yang menjadi alasan utama kenapa Melia berada di sini saat ini, terlibat dalam sebuah misi yang sempat berjalan kacau sampai tersesat di tengah hutan antah berantah dan berhadapan demit untuk pertama kali sepanjang hidupnya.

Tapi di akhir cerita, semuanya selamat. Semuanya baik-baik saja. Dan terlebih, misi evakuasi ini telah berakhir. Semuanya terasa lebih dari cukup untuk Melia. Tanpa membuang waktu, dia berlari dan menghamburkan tubuhnya. Memeluk Adil dengan begitu erat.

Rasanya hangat, nyaman dan menenangkan. Seperti pulang kembali ke rumah yang sudah terlalu lama dia tinggalkan.

"Lo kemana aja sih? Gue khawatir banget sama lo, Dil..." Bisik Melia dalam pelukannya, diiringi isak tangis penuh haru yang membuncah menjadi linangan air mata. Dan sama absurdnya seperti makhluk yang ia temui di dalam hutan tadi, Melia kini juga tak punya kuasa untuk menjelaskan kenapa perasaan yang ia kira sudah mati itu kembali mekar di hatinya. Dia merindukan Adil, dia menginginkan Adil ada di dekatnya. Seperti dulu lagi.

Hingga rasa perih akibat luka itu kembali terasa menggigit kakinya. Melia tersadar, sedikit mengaduh dan secara refleks melepaskan pelukannya. Kini, dalam jarak yang tercipta di antara mereka berdua, Melia bisa menatap Adil lekat-lekat. Keringat, debu dan beberapa luka kecil menghiasi wajah yang pernah begitu familiar di mata dan hatinya itu. Si brengsek keras kepala ini benar-benar tampak berantakan, batin Melia. Tapi semuanya sirna ketika perlahan-lahan bibir kering Adil tertarik membentuk sebuah senyuman. Senyuman dengan lengkung paling sempurna di mata Melia.

"Maaf ya, bikin kamu khawatir..."

Tapi Melia tak mau mendengar apapun lagi. Dengan kedua tangannya, dia pegang wajah Adil erat-erat dan menariknya kedalam sebuah kecupan lembut yang membangkitkan lagi selaksa kenangan dari sepenggal episode yang pernah mereka lalui berdua di masa lalu.


Quote:
Sedangkan Imas, tak kalah lega dan bahagia ketika melihat Eko kembali dengan utuh dan tak kurang suatu apapun. Mengingat di sepanjang malam sejak mereka terpisah di dalam hutan, setumpuk prasangka jelek sudah memenuhi kepalanya sampai membuat pening tak karuan. Bahkan di satu titik, Imas sudah bersiap andai dia harus menjadi janda di usia pernikahan yang masih seumur jagung. Dia sudah bersiap menghabiskan umurnya dalam kesendirian dan rasa bersalah karena dirinyalah yang menjadi aktor kunci dalam perjalanan ini.

Tangisnya langsung pecah. Jantungnya berdegup kencang karena rasa lega yang meledak-ledak. Terinspirasi oleh Melia dan Adil yang tenggelam dalam pelukan di samping situ (padahal kata Melia mereka sudah putus beberapa bulan), Imas langsung melompat dan siap menyambut sang suami tersayang.

Tapi sepertinya, Eko terlalu sibuk dan kelelahan untuk sebuah adegan romantis.

"Im, tulung iki disik..." (Im, tolong ini dulu...)

Imas menurut. Dia mengambil mundur dua langkah ke belakang, memberi Eko sebuah ruang sebelum ia menjatuhkan lututnya di atas tanah dan menarik perempuan yang digendongnya itu dengan lembut.

Seketika itulah kelegaan dan suka cita yang tadinya menguasai hati, tergantikan dengan perasaan nelangsa yang begitu pedih mengiris-iris. Mata Imas nanar menatap sosok itu, sosok yang kini tertidur di pangkuan suaminya.

"Ini....ini...Yuli?" Tanyanya terbata-bata entah kepada siapa.

Imas seperti menolak untuk percaya, bahwa sosok lusuh dengan rambut panjang acak-acakan dan dari badannya mengeluarkan aroma tak sedap itu adalah Yuli yang dia kenal. Imas seperti menolak bahwa semua ini nyata, bahwa yang kini ada di hadapannya ini adalah Yuli yang telah ia tinggalkan sendirian dalam fitnah dan kemalangan.

Dengan tangan gemetar, Imas menyentuh lembut wajah dan rambut Yuli. Dengan perlahan, dengan penuh kasih sayang. Hingga kemudian sentuhan Imas beranjak dari ke satu titik lain di bagian tubuh Yuli yang menarik perhatiannya.

“Jangan!” Eko berusaha mencegah Imas menyentuh bagian itu. Tapi Imas tak peduli. Dia jatuhkan telapak tangannya ke atas perut Yuli dan merabanya. Dan kenyataan yang Imas rasakan di sana, langsung menghancurkan batinnya tanpa ampun. Imas rubuh ke tanah, dan tenggelam dalam tangis yang meremukkan hati.

"Wis rapopo, rapopo! Saiki alon-alon ayo diangkat mlebu mobil. Masalah durung rampung, awakedewe kudu cepet metu soko kene! Yo, sayang? Sing kuat" (Sudah enggak apa-apa, enggak apa-apa! Sekarang pelan-pelan ayo diangkat masuk mobil. Masalah belum selesai, kita harus cepat keluar dari sini. Ya, Sayang? Yang kuat!)

Imas sudah tak punya daya. Beruntung Adil segera sadar akan situasi dan mendekat ke arah mereka. Meraih Yuli dan membopongnya menuju mobil. Sedangkan Imas sendiri, harus dibantu berdiri dan dituntun oleh Melia.

Mesin mobil menyala, bersamaan dengan suara adzan subuh yang pecah di udara. Roda-roda bergerak, membawa mereka menjauh dari tempat itu. Tepat ketika beberapa orang Giriwatu keluar dari peraduan, dan menatap laju mobil mereka dengan tatapan menyelidik.


Quote:
Tanpa halangan berarti, mobil yang dikemudikan Eko berhasil menembus Giriwatu dan akhirnya bertemu dengan jalan aspal yang lebar dan halus di kecamatan Semani. Meninggalkan Srigati dan hutan terlaknatnya jauh di belakang sana. Sedangkan di ufuk timur, matahari perlahan tampak bangun dari tidurnya dengan malu-malu.

Eko, dengan wajah sedikit cemas, berkali-kali melirik melalu kaca spion tengah. Menatap Imas yang sedari tadi hanya membisu seribu kata dengan wajah sedih sambil menatap kosong ke luar jendela. Dia mungkin sangat terpukul, tapi Eko berharap semuanya segera membaik seiring berjalannya waktu. Sedangkan duduk di samping istrinya, ada Melia yang tampak sibuk. Beberapa kali dia menoleh di jok paling belakang. Memastikan Yuli masih tertidur dan baik-baik saja di sana.

“Iki durung rampung kabeh lho, Ko...” (Ini belum selesai semua lho, Ko...)

Adil, yang duduk tepat di samping kemudi, tiba-tiba berucap sambil terus menggigiti jari-jarinya sendiri. Eko langsung menoleh. Matanya menyernyit memandang si keras kepala ini.

“Yuli saiki arep dideleh neng ngendi?” (Yuli sekarang mau dititipkan dimana?)

Sebuah pertanyaan bagus! Pekik Eko dalam hati. Kepalanya yang sudah pusing, kini jadi makin pusing karena tiba-tiba dia merasa juga harus ikut memikirkan hal itu.

Tapi, ada satu hal yang pasti. “Kita ndak mungkin nitipin dia di sekitaran sini, Dil. Masih rawan kalau-kalau orang Srigati nekat keluar dan nyari Yuli.”

Adil cuma mengangguk dan kembali menggigiti jari-jarinya.

Hingga tanpa diduga, sebuah solusi malah keluar dari mulut seseorang yang duduk di jok belakang.

“Kalau mau, gue ada kenalan pemilik yayasan panti sosial. Namanya Bu Sari. Gue bisa kontak dia sekarang dan gue yakin dia akan dengan senang hati menerima Yuli.” Tukas Melia sambil menyebut nama sebuah kota.

Sebuah kota yang memaksa mereka pergi jauh ke arah utara.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
destinationbali dan 49 lainnya memberi reputasi
50 0
50
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 22:35
Epic banget ceritanya gannemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
wahyujayasagita dan aan1984 memberi reputasi
1 1
0
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 22:41
ditunggu pengumuman menariknya bre emoticon-excited
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 22:46

SEDIKIT DARI THE DARK TALES

Halo agan-agan semuanyaaaa...

Rasanya sumpek bener ya setelah kita nyaris enggak keluar dari Srigati selama 21 bagian. Udah pada bosen belom? Pengen suasana dan karakter baru?

Nah, bagian 20 yang barusan agan-agan baca ini menandakan juga bahwa Chapter Dua: Pembebasan sudah berakhir. Dan mungkin ada pertanyaan dari agan-agan; Kenapa akhirnya pada Index di page one ane rubah sedikit menjadi per Chapter? Karena setelah ane pikir ulang, pembagian per Chapter ini akan membuat cerita ini lebih mudah mengalir dan lebih mudah pula dipahami.

Dan untuk Chapter ketiga nanti, sedikit bocoran bahwa cerita akan terpusat di karakter dan suasana yang baru. Walau akan tetap ada karakter-karakter lama yang hadir ke dalam cerita.

Tapi agan-agan jangan khawatir, setiap pertanyaan di benak agan semua tentang misteri yang belum terjawab pasti akan terjawab seiring berjalannya cerita. Jadi ane harap sekali agan-agan bisa menikmati setiap Bagiannya sampai nanti thread ini berakhir.

Dan enggak lupa, ane mohon review, komentar, kritik dan saran dari para reader tentang cerita yang sudah berjalan lebih dari separuh ini. Jangan rau juga untuk share thread ini ke teman-teman jika dirasa thread ini menarik dan seru. Biar makin banyak yang baca dan thread kita makin rame lagi.

Akhir kata, ane mewakili The Dark Tales mengucapkan terimakasih atas kesetiaannya selama ini, dan sampai berjumpa di...

CHAPTER TIGA, BAGIAN 21
profile-picture
profile-picture
profile-picture
symoel08 dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 22:54
Komennya : Mantap gan.....
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan aan1984 memberi reputasi
2 0
2
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
31-08-2021 23:06
Part 21 gan ayo sok kabeh
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan aan1984 memberi reputasi
2 0
2
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 00:35
Kesimpulannya chapter 20 berakhir dengan happy ending
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 00:47
Menurut saya ceritanya sudah sangat bagus gan, gaya penulisannya bagus ane suka meskioun kdg ada typo dikit... Tetep semangat ya gan lanjutin cerita ini, ane bakal kecewa klo cerita ini ga brs emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ableh80 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 04:19
Well this is the one of the best story i've ever read. Terima kasih untuk narasumber yang bersedia untuk menceritakan cerita ini.
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan kimmyoreo memberi reputasi
2 0
2
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 07:32
Gak sabar nunggu capter berikutnya
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 10:31

SEBUAH KARYA DARI SEORANG PEMBACA

Hari ini ane baru sempet buka email tim The Dark Tales dan menemukan sesuatu yang luar biasa.

Salah satu reader yang sudah ngikutin thread ini sejak awal, memberikan sebuah wujud apresiasi dalam bentuk gambar yang mengilustrasikan beberapa adegan di dalam cerita Tulah.

Dan gambar-gambarnya keren bangeeeet bikin ane gak sabar pengen upload dimari.

Thanks a lot to the talented; agan @bintang.kebalik atas gambar-gambarnya yang atmospheric dan gore abiiissss. Keren sekali beneran!

Bahkan kalau boleh jujur, gambar ilustrasi gerbang masuk Dusun Srigati 80% tepat mendekati aslinya. Tapi favorit ane tetep ilustrasi adegan malam kematian Orang Tua Yuli.

Dan semoga ilustrasi-ilustrasi ini bisa merangsang imajinasi dan menambah kenikmatan agan-agan semua dalam mengikuti cerita ini.

Oh iya, semua kredit dan copyright gambar adalah milik agan @bintang.kebalik seutuhnya.


Gambar berikut menampilkan kekerasan dan organ vital


Favorit ente yang mana gan?? Yuk komen di bawah!!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
symoel08 dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 15 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-09-2021 16:12
Terimakasih buat ceritanya gan, masih menunggu part galang dan dea

Kalau boleh nebak, dea yg bakal gantikan yuli 🙄🙄🙄
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 41 dari 68
icon-hot-thread
Hot Threads
B-Log Personal
naths-e-diary
Copyright © 2023, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia