- Beranda
- Stories from the Heart
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
...
TS
the.darktales
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...
Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.
Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.
Selamat menikmati...
Quote:

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.
KARAKTER





INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4BAGIAN 10
Spoiler for Karakter:





REVIEW
Spoiler for Review:
Quote:
Original Posted By gumzcadas►Udah lama sekali ga ngerasain sensasi mencekam di cerita horror, terakhir ngerasa gak nyamana baca kisah dikaskus itu, yg cerita sekian tahun tinggal dirumah hantu. Dan skrg gw ngerasain sensasinya lagi. Sehat2 terus ts. Setelah sekian tahun jd silent reader, akhirnya komen lagi dforum ini.
Quote:
Original Posted By ibunovi►Cara penulisan menggambarkan seolah2 qt ada d tempat itu....degdegan ane ga...mantapssss😌😌😌
Quote:
Original Posted By sempakloreng►Epic banget ceritanya gann

Quote:
Original Posted By aan1984►Menurut saya ceritanya sudah sangat bagus gan, gaya penulisannya bagus ane suka meskioun kdg ada typo dikit... Tetep semangat ya gan lanjutin cerita ini, ane bakal kecewa klo cerita ini ga brs 

Quote:
Original Posted By erickarif93x►Well this is the one of the best story i've ever read. Terima kasih untuk narasumber yang bersedia untuk menceritakan cerita ini.
INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4
CHAPTER DUA: PEMBEBASAN
CHAPTER TIGA: PERBURUAN
Spoiler for Side-Story:
CHAPTER 4: AWAL MULA
[UNPUBLISHED]
CHAPTER 5: TULAH
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 115 suara
Menurut agan-agan, perlu enggak dibuatkan kisah tentang "Jurnal"?
Bikinin gan ane penasaran!
69%
Kagak usah, langsung mulai aja Chapter 4
31%
Diubah oleh the.darktales 28-06-2022 15:07
bambu.rindang dan 268 lainnya memberi reputasi
247
324.6K
Kutip
2.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
the.darktales
#784
BAGIAN 18
Quote:
Satu jam lebih. Seingatnya, satu jam lebih.
Adil dan Eko mengekor lelaki misterius yang tiba-tiba muncul sebagai pahlawan dan membawa Yuli keluar dari area persawahan yang sama sekali tidak wajar itu. Kabur dari sesosok makhluk mengerikan yang telah berhasil mengelabuhi mereka dengan menyaru sebagai Imas sepanjang perjalanan.
Tapi, cobaan nampaknya belum usai sampai di situ. Setelah berbagai macam parade kengerian dan kejadian-kejadian tak masuk nalar yang silih berganti tersaji di hadapan mata mereka, kini keduanya harus berlari mengikuti langkah si lelaki misterius; tentu saja dengan setumpuk pertanyaan yang memenuhi isi kepala.
Siapakah dia? Darimana dia tahu dimana Yuli berada? Sesakti apa ilmu yang dia miliki sampai dengan berani membawa lari Yuli dari hadapan demit semengerikan tadi? Dan andaikan benar dia orang sakti, maka semuanya akan jadi tambah rumit karena Adil maupun Eko sama-sama tidak tahu. Ada dipihak siapa lelaki ini? Apakah dia datang untuk menolong, atau malah sebaliknya?
Tapi tak ada satupun dari pertanyaan itu yang terjawab. Selain karena langkah lelaki ini begitu cepat dan lincah (walau dalam kondisi menggendong Yuli), tampaknya dia tak berminat untuk menjelaskan apapun kepada Adil atau Eko. Bahkan keduanya tidak tahu apakah sebenarnya sang lelaki mempersilakan mereka untuk mengikuti jejaknya di belakang. Satu-satunya hal yang bisa mereka pegang adalah teriakan lelaki ini yang menyuruh mereka untuk cepat-cepat lari dan pergi dari tempat terlaknat tadi.
Yang terjadi berikutnya, ketiganya berlari secepat babi hutan. Keluar dari area persawahan dan kembali masuk area hutan. Beberapa kali Adil dan Eko menemui jalur naik dan turun, melewati pohon demi pohon yang kadang menghalangi, bahkan terhitung beberapa kali Adil harus terguling ke tanah karena kakinya menabrak akar pohon yang mencuat keluar dan lolos dari pengawasan mata.
Benar-benar seperti sedang diburu waktu, tiga lelaki ini terus masuk jauh lebih dalam. Adil sampai heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia masih punya energi yang begitu besar setelah apa yang dia lalui sepanjang malam ini. Proses evakuasi yang awalnya dia pikir akan berjalan lancar setelah berhasil merangsek masuk ke kandang kambing itu dan membebaskan Yuli dari pasungan, ternyata menjadi sedemikian kacau dan berantakan. Mereka terpisah dari Melia dan Imas yang sekarang entah berada di mana dan terjebak di suatu tempat yang tak akan pernah mau mereka kunjungi lagi seumur hidup. Berhadapan dengan entitas dari alam lain yang nyaris membuat Adil menyerah dan meninggalkan Yuli di sana.
Seketika, Adil merasa terhina. Walau hanya sedetik saja niat itu sempat muncul di sanubarinya, tapi itu membuat perut Adil mual karena rasa bersalah. Aku tadi sempat menyerah, aku tadi sempat berniat mengabaikan Yuli. Rintihnya dalam hati.
Hingga seberkas harapan yang tak diduga-duga kembali muncul. Seberkas harapan yang dibawa lelaki tak dikenal yang ada di depan mereka sekarang. Lelaki berjaket hitam yang berlari dengan begitu kencang dan penuh keyakinan. Tampak sekali bahwa dia benar-benar menguasai medan. Dia tahu hutan ini, dan yang jelas dia tahu persawahan misterius itu. Sampai tiba-tiba, si lelaki menghentikan langkahnya secara mendadak. Eko yang tepat ada di belakang, bahkan nyaris sampai menabraknya. Begitupun dengan Adil yang sama sekali tidak mengira dia akan berhenti semendadak ini.
Ini kesempatan! Batin Adil melihat situasi. Apalagi lelaki itu kini tampak berlutut, meletakkan satu lututnya di atas tanah. Tanpa buang waktu dia langsung maju mendekat ke arah lelaki itu untuk memuntahkan segala pertanyaan dan menuntut sebuah penjelasan.
Tapi belum juga mulutnya terbuka, lelaki itu terlebih dulu mengarahkan telapak tangan kepada Adil dengan wajah memerah dan deru nafas yang berantakan.
"Mas, bisa gantian gendong Yuli. Saya capek..." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut si lelaki. Sebuah kalimat yang sekaligus membuat posisi lelaki ini menjadi terang benderang. Senyum Adil membuncah, dia merasa lega si lelaki ada di pihak mereka.
Eko, yang tentu juga tak kalah penasaran, ikut mendekat dan nyalang menatap si lelaki. "Seg mas, jelasin dulu sampeyan itu siapa? Dan tempat tadi itu tempat apa?? Mosok di daerah ini bisa ada sawah tumbuh sesubur itu??"
Adil tak mau kalah. "Iya mas, dari mana sampeyan tahu kita ada di sana? Dan itu tadi, makhluk opo?? Kok tangane ada enam dan kakinya ada empat!!"
Tapi sepertinya si lelaki butuh waktu untuk menjawab gempuran pertanyaan itu. Dia mengatur nafasnya terlebih dulu sebelum balik menatap Adil dan Eko bergantian. "Namaku Sarmin. Yang kalian lihat tadi namanya sawah pendem. Memang di sana tempatnya sangat wingit dan disakralkan oleh orang Srigati. Ndak sembarang orang boleh masuk ke dalam sana kecuali yang diberi perintah oleh Pak Gunardi. Tapi jujur, aku ndak lihat demit tangan enem yang kalian bilang. Aku cuma lihat kalian berdua ngegendong Yuli masuk ke sawah pendem kayak orang kena gendam. Udah ya, jangan banyak nanya dulu! Tolong ini gantian Yuli digendong terus ayo jalan lagi. Imas dan Melia udah nungguin kalian di depan sana..."
Rasa lelah dan frustasi yang awalnya tergambar jelas di wajah Adil dan Eko, seketika hilang dan tergantikan dengan semangat baru yang tiba-tiba saja membuncah dan seakan terpompa penuh oleh rasa gembira yang meledak-ledak di hati mereka berdua.
"Melia...Mas sama Melia?? Dimana dia sekarang?? Aman to Mas??" Tanya Adil dengan mata berkaca-kaca, bebarengan dengan Eko yang mendekat dan langsung merengkuh tubuh Yuli berpindah kegendongannya. Perempuan itu kini tampak tak sadarkan diri.
Tapi tiba-tiba, lelaki yang mengenalkan diri sebagai Sarmin ini dengan cepat menarik tubuhnya dan Eko ke balik pohon yang ada di dekat mereka. Matanya tajam menatap ke bentangan hutan di depan mereka, wajahnya seketika berubah tegang.
"Diam dulu! Ada yang datang kemari!!"
Dari kejauhan Adil juga merasakan hal yang sama. Langkah kaki yang menginjak ranting dan dedaunan serta suara dua orang pria yang saling berbincang, terdengar mendekat ke arah mereka.
Adil dan Eko mengekor lelaki misterius yang tiba-tiba muncul sebagai pahlawan dan membawa Yuli keluar dari area persawahan yang sama sekali tidak wajar itu. Kabur dari sesosok makhluk mengerikan yang telah berhasil mengelabuhi mereka dengan menyaru sebagai Imas sepanjang perjalanan.
Tapi, cobaan nampaknya belum usai sampai di situ. Setelah berbagai macam parade kengerian dan kejadian-kejadian tak masuk nalar yang silih berganti tersaji di hadapan mata mereka, kini keduanya harus berlari mengikuti langkah si lelaki misterius; tentu saja dengan setumpuk pertanyaan yang memenuhi isi kepala.
Siapakah dia? Darimana dia tahu dimana Yuli berada? Sesakti apa ilmu yang dia miliki sampai dengan berani membawa lari Yuli dari hadapan demit semengerikan tadi? Dan andaikan benar dia orang sakti, maka semuanya akan jadi tambah rumit karena Adil maupun Eko sama-sama tidak tahu. Ada dipihak siapa lelaki ini? Apakah dia datang untuk menolong, atau malah sebaliknya?
Tapi tak ada satupun dari pertanyaan itu yang terjawab. Selain karena langkah lelaki ini begitu cepat dan lincah (walau dalam kondisi menggendong Yuli), tampaknya dia tak berminat untuk menjelaskan apapun kepada Adil atau Eko. Bahkan keduanya tidak tahu apakah sebenarnya sang lelaki mempersilakan mereka untuk mengikuti jejaknya di belakang. Satu-satunya hal yang bisa mereka pegang adalah teriakan lelaki ini yang menyuruh mereka untuk cepat-cepat lari dan pergi dari tempat terlaknat tadi.
Yang terjadi berikutnya, ketiganya berlari secepat babi hutan. Keluar dari area persawahan dan kembali masuk area hutan. Beberapa kali Adil dan Eko menemui jalur naik dan turun, melewati pohon demi pohon yang kadang menghalangi, bahkan terhitung beberapa kali Adil harus terguling ke tanah karena kakinya menabrak akar pohon yang mencuat keluar dan lolos dari pengawasan mata.
Benar-benar seperti sedang diburu waktu, tiga lelaki ini terus masuk jauh lebih dalam. Adil sampai heran dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia masih punya energi yang begitu besar setelah apa yang dia lalui sepanjang malam ini. Proses evakuasi yang awalnya dia pikir akan berjalan lancar setelah berhasil merangsek masuk ke kandang kambing itu dan membebaskan Yuli dari pasungan, ternyata menjadi sedemikian kacau dan berantakan. Mereka terpisah dari Melia dan Imas yang sekarang entah berada di mana dan terjebak di suatu tempat yang tak akan pernah mau mereka kunjungi lagi seumur hidup. Berhadapan dengan entitas dari alam lain yang nyaris membuat Adil menyerah dan meninggalkan Yuli di sana.
Seketika, Adil merasa terhina. Walau hanya sedetik saja niat itu sempat muncul di sanubarinya, tapi itu membuat perut Adil mual karena rasa bersalah. Aku tadi sempat menyerah, aku tadi sempat berniat mengabaikan Yuli. Rintihnya dalam hati.
Hingga seberkas harapan yang tak diduga-duga kembali muncul. Seberkas harapan yang dibawa lelaki tak dikenal yang ada di depan mereka sekarang. Lelaki berjaket hitam yang berlari dengan begitu kencang dan penuh keyakinan. Tampak sekali bahwa dia benar-benar menguasai medan. Dia tahu hutan ini, dan yang jelas dia tahu persawahan misterius itu. Sampai tiba-tiba, si lelaki menghentikan langkahnya secara mendadak. Eko yang tepat ada di belakang, bahkan nyaris sampai menabraknya. Begitupun dengan Adil yang sama sekali tidak mengira dia akan berhenti semendadak ini.
Ini kesempatan! Batin Adil melihat situasi. Apalagi lelaki itu kini tampak berlutut, meletakkan satu lututnya di atas tanah. Tanpa buang waktu dia langsung maju mendekat ke arah lelaki itu untuk memuntahkan segala pertanyaan dan menuntut sebuah penjelasan.
Tapi belum juga mulutnya terbuka, lelaki itu terlebih dulu mengarahkan telapak tangan kepada Adil dengan wajah memerah dan deru nafas yang berantakan.
"Mas, bisa gantian gendong Yuli. Saya capek..." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut si lelaki. Sebuah kalimat yang sekaligus membuat posisi lelaki ini menjadi terang benderang. Senyum Adil membuncah, dia merasa lega si lelaki ada di pihak mereka.
Eko, yang tentu juga tak kalah penasaran, ikut mendekat dan nyalang menatap si lelaki. "Seg mas, jelasin dulu sampeyan itu siapa? Dan tempat tadi itu tempat apa?? Mosok di daerah ini bisa ada sawah tumbuh sesubur itu??"
Adil tak mau kalah. "Iya mas, dari mana sampeyan tahu kita ada di sana? Dan itu tadi, makhluk opo?? Kok tangane ada enam dan kakinya ada empat!!"
Tapi sepertinya si lelaki butuh waktu untuk menjawab gempuran pertanyaan itu. Dia mengatur nafasnya terlebih dulu sebelum balik menatap Adil dan Eko bergantian. "Namaku Sarmin. Yang kalian lihat tadi namanya sawah pendem. Memang di sana tempatnya sangat wingit dan disakralkan oleh orang Srigati. Ndak sembarang orang boleh masuk ke dalam sana kecuali yang diberi perintah oleh Pak Gunardi. Tapi jujur, aku ndak lihat demit tangan enem yang kalian bilang. Aku cuma lihat kalian berdua ngegendong Yuli masuk ke sawah pendem kayak orang kena gendam. Udah ya, jangan banyak nanya dulu! Tolong ini gantian Yuli digendong terus ayo jalan lagi. Imas dan Melia udah nungguin kalian di depan sana..."
Rasa lelah dan frustasi yang awalnya tergambar jelas di wajah Adil dan Eko, seketika hilang dan tergantikan dengan semangat baru yang tiba-tiba saja membuncah dan seakan terpompa penuh oleh rasa gembira yang meledak-ledak di hati mereka berdua.
"Melia...Mas sama Melia?? Dimana dia sekarang?? Aman to Mas??" Tanya Adil dengan mata berkaca-kaca, bebarengan dengan Eko yang mendekat dan langsung merengkuh tubuh Yuli berpindah kegendongannya. Perempuan itu kini tampak tak sadarkan diri.
Tapi tiba-tiba, lelaki yang mengenalkan diri sebagai Sarmin ini dengan cepat menarik tubuhnya dan Eko ke balik pohon yang ada di dekat mereka. Matanya tajam menatap ke bentangan hutan di depan mereka, wajahnya seketika berubah tegang.
"Diam dulu! Ada yang datang kemari!!"
Dari kejauhan Adil juga merasakan hal yang sama. Langkah kaki yang menginjak ranting dan dedaunan serta suara dua orang pria yang saling berbincang, terdengar mendekat ke arah mereka.
Quote:
Setelah puas mencacah-cacah tubuh adik iparnya, Supri, Waskito dan teman-teman premannya yang malam ini cukup mabuk akibat pengaruh minum arak, tak lupa dengan janjinya untuk membalas budi kepada Gunardi yang telah mengijinkan menyelesaikan urusan mereka di dusun ini. Dengan parang yang masih merah oleh darah, kelimanya langsung bersiap-siap masuk ke dalam hutan dan mencari siapapun yang diburu oleh orang Srigati.
"Mas, iki yakin ameh melu mlebu alas? Iki Srigati lho, mas! Kowe dewe yo ngerti panggonan model opo kene iki!" (Mas, yakin mau ikut masuk hutan? Ini Srigati lho, mas! Kamu sendiri tahu tempat macam apa dusun ini!)
Salah satu temannya mulai ragu ketika mereka sudah berdiri tepat di depan mulut hutan. Waskito menoleh ke belakang. Dia pandang mata temannya itu dalam-dalam.
"Kowe wedi?" (Kamu takut?)
Waskito sendiri bukannya tidak tahu reputasi Srigati dan hutan jati yang mengelilinginya. Tapi dia sudah terlanjur mabuk berat, dan sensasi dari mabuk itu otomatis menaikkan nyali dan adrenalinnya.
"Ora ngono mas, aku mau ngombe ra pati okeh dadi ora pati munggah..." (Bukan begitu mas, aku tadi minum enggak begitu banyak jadi enggak begitu mabuk...)
Mendengar alasan konyol itu, Waskito tertawa terbahak-bahak. Dia dorong kening si pengecut ini dengan gagang goloknya.
"Cemen!! Karo demit kok wedi! Lha mbok neg ketemu tag sigar dadi loro. Yo wis, sopo meneh sing ameh ning kene??" (Penakut! Sama setan koki takut! Sini, kalau ketemu bakal aku potong jadi dua. Ya sudah, siapa lagi yang mau di sini saja??)
Dua orang lagi mengacungkan tangan. Ternyata ada tiga temannya yang (kalau di pasar dan menarik iuran keamanan ke pedagang sangarnya minta ampun) kehilangan nyali dan keberanian. Dan itu membuat Waskito agak sebal.
"Kirik! Podo ora perkewuh karo Pak Gunardi!! Yo wis, ayo Jun...mangkat!" (@njing! Bikin enggak enak hati sama Pak Gunardi!! Ya sudah, Ayo Jun...berangkat!)
Dan berangkatlah Waskito bersama Junarto masuk ke dalam hutan melewati jalur dekat bekas mushola yang nyaris habis terbakar beberapa puluh tahun lalu itu. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua tentu saja melantur kesana kemari; pertama, karena efek arak yang masih terasa. Kedua; untuk memecah suasana yang makin sunyi seiring mereka yang makin dalam memasuki hutan.
"Mas Was, jare wong-wong kae alas kene iki okeh demite. Iso malih-malih wujude. Jare wis pernah enek sing ketemu karo wujud wong lanang tangane enem, enek sing cerito jare wujude wedhus ning mlakune koyo manungso, trus enek sing...." (Mas Was, kata orang-orang hutan sini banyak setannya. Bisa berubah-berubah wujudnya. Ada yang bilang berwujud lelaki tangannya enam, ada yang cerita kalau wujudnya kambing tapi berdiri kayak manusia. Terus ada yang...)
Waskito mulai muak dengan omongan Junarto. Dia menghentikan langkah, dan mengangkat goloknya. Seakan mau membacok temannya itu.
"Cangkeman ae!! Iso meneng ora?! Wis ayo ndang digoleki malinge, terus mulih! Aku yo wegah suwe-suwe ning kene! Kono, kowe mlaku ngarep..." (Banyak bacot!! Bisa diem enggak?! Mending cepet kita cari malingnya, terus pulang! Ayo juga enggak mau lama-lama di sini! Sana, kamu jalan di depan...)
Tubuh Junarto didorong oleh Waskito. Dan pria itu mau tak mau terpaksa jalan di depan. Memecah kegelapan yang terhampar di depan mata. Tapi sepertinya, Junarto belum mau berhenti bicara.
"Tapi tenan lho, Mas! Jaman cilikanku dewe mbiyen dusun kene selalu enek acara. Jarene sih mung upacara biasa, ruwat deso. Tapi ruwat deso kok telung tahun pisan. Tambah meneh, wong njobo Srigati kok ora oleh melu nonton. Olehe teko mung pas rituale bubar. Mangan-mangan karo nonton gelaran tok! Jenenge gelar pendem yen ra kleru ki..." (Tapi bener lho, Mas! Kaman aku kecil dulu, dusun sini selalu ada acara. Katanya sih cuma upacara bersih desa biasa. Tapi bersih desa kok tiga tahun sekali. Tambah lagi, orang luar Srigati enggak boleh nonton. Bolehnya datang cuma setelah ritualnya selesai. Makan-makan sambil nonton festival doang! Namanya gelar pendem kalau tidak salah...)
Kalimat Junarto terpotong untuk kedua kalinya. Tapi kali ini bukan karena Waskito, tapi karena sebuah suara mencurigakan di depan mereka. Seperti suara manusia yang samar tersapu angin. Tapi Waskito dan Junarto sama-sama ragu...apa itu suara manusia?
"Kuwi suworo opo, Mas? Menungso udu??" (Itu suara apa, Mas? Manusia bukan?)
Junarto mundur beberapa langkah. Tangannya yang menggenggam erat golok itu mulai gemetaran. Tapi Waskito tidak merasa takut. Dia malah maju, dan berteriak sambil mengacungkan goloknya ke arah sumber suara di depan sana.
"Ora urus kowe setan opo manungso...metu saiki opo tak bacok sirahmu!!" (Tidak peduli kamu setan apa manusia...keluar sekarang atau aku bacok kepalamu!!)
Waskito sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk, andai yang keluar dari balik pohon itu adalah demit bertangan enam atau kambing yang bisa berdiri seperti manusia seperti tadi yang diceritakan Junarto. Tapi di luar dugaan, adalah seorang lelaki yang memakai jaket hitam menyeruak dari dalam kegelapan. Waskito butuh beberapa saat untuk mengenali sosok itu dalam kegelapan hutan.
"Aku Sarmin. Kowe sopo?" (Aku Sarmin. Kamu siapa?)
Waskito kenal siapa Sarmin. Mereka sempat punya masalah beberapa tahun ke belakang. Walau masalah tersebut sudah dianggap selesai, tapi Waskito masih menyimpan rasa benci kepada Sarmin. Hanya karena mengingat bajingan ini adalah orang dekat Pak Gunardi, membuat Waskito tak bisa menyentuhnya.
"Aku Waskito. Ngopo kowe neng kono?" (Aku Waskito. Ngapain kamu di situ?)
Sarmin mendekat ke arahnya. Kini makin jelas di mata Waskito, orang itu benar-benar Sarmin. Tapi yang tidak diduga si preman pasar ini, Sarmin langsung merangkul pundaknya dan mengajaknya berjalan kembali ke arah berlawanan.
"Yo nggoleki maling. Kowe dewe ngopo? Wis ayo bali wae yo, kowe ki mendem..." (Ya mencari maling. Kamu sendiri ngapain? Ayo balik aja, kamu itu mabuk...)
Waskito tersinggung. Dia tampar tangan Sarmin agar lepas dari pundaknya.
"Asu, ki! Ora peh kowe bocahe Pak Gunardi terus iso sak penake karo aku!!" (4njing! Bukan karena kamu anak buahnya Pak Gunardi terus kamu bisa seenaknya sama aku!!)
Dia berharap Sarmin akan takut dan sedikit menghormatinya. Tapi alih-alih menundukkan pandangan, Sarmin malah makin mendekat ke arah Waskito hingga dada mereka nyaris bersentuhan. Jelas ini adalah sebuah bentuk tantangan. Seakan tak menyerah untuk memanaskan suasana, Waskito menggunakan cara yang pasti akan berhasil membuat Sarmin sedikit memberinya rasa hormat; mengungkit-ungkit masalah mereka di masa lalu.
Waskito kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Sarmin, membisikkan sesuatu.
"Kowe mbok ngelingi dua tahun wingi. Yen ora mergo Pak Gunardi, bapakmu wis tak seret metu soko pasar mergo ora iso mbayar utang. Kelingan ra, kowe?" (Kamu ingar dua tahun kemarin. Kalau bukan karena Pak Gunardi, bapakmu sudah aku seret keluar dari pasar karena tidak bisa bayar utang. Ingat enggak, kamu?)
Waskito senang usahanya berhasil. Wajah Sarmin memerah seketika. Bibirnya bergetar menahan amarah. Hatinya pasti terbakar habis oleh ucapannya barusan. Bahkan dia mengira, Sarmin akan mendorongnya dan menantangnya berkelahi, menyelesaikan masalah antara keduanya yang belum selesai.
Tapi, teriakan Junarto membuyarkan semuanya.
"Mas!! Kae enek sing mlayu, wong loro!!" (Mas!! Itu ada yang lari, dua orang!!)
Fokus Waskito teralih. Dia memandang ke titik yang sama dengan titik dimana tadi dia melihat Sarmin keluar dari kegelapan malam. Bayangan dua orang (salah satu tampak menggendong sesuatu) tampak samar di matanya. Di detik itulah, ketika perhatiannya terpecah, Waskito sejenak melupakan bahwa ada seseorang yang terbakar amarah berdiri dekat sekali dengan tubuhnya. Waskito lengah. Dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sarmin.
Golok di tangannya direbut, dan diayunkan tepat ke batok kepalanya. Semua terjadi sedemikian cepat, bahkan Waskito baru sadar ketika darah mengucur membuat matanya pedas. Tak sampai di situ, dengan tangan satunya, Sarmin menekan ujung golok agar benda tersebut semakin dalam masuk membelah kepalanya.
"Modar kowe!!" (Mati kamu)
Waskito bisa mendengar suara Sarmin sebelum tubuhnya roboh ke atas tanah. Bahkan dia masih bisa melihat Sarmin juga membantai Junarto, dan kemudian berlari ke arah yang sama dengan dua bayangan yang Waskito lihat tadi.
Sebelum semuanya menjadi gelap seutuhnya. Sebelum nafas Waskito habis seluruhnya.
"Mas, iki yakin ameh melu mlebu alas? Iki Srigati lho, mas! Kowe dewe yo ngerti panggonan model opo kene iki!" (Mas, yakin mau ikut masuk hutan? Ini Srigati lho, mas! Kamu sendiri tahu tempat macam apa dusun ini!)
Salah satu temannya mulai ragu ketika mereka sudah berdiri tepat di depan mulut hutan. Waskito menoleh ke belakang. Dia pandang mata temannya itu dalam-dalam.
"Kowe wedi?" (Kamu takut?)
Waskito sendiri bukannya tidak tahu reputasi Srigati dan hutan jati yang mengelilinginya. Tapi dia sudah terlanjur mabuk berat, dan sensasi dari mabuk itu otomatis menaikkan nyali dan adrenalinnya.
"Ora ngono mas, aku mau ngombe ra pati okeh dadi ora pati munggah..." (Bukan begitu mas, aku tadi minum enggak begitu banyak jadi enggak begitu mabuk...)
Mendengar alasan konyol itu, Waskito tertawa terbahak-bahak. Dia dorong kening si pengecut ini dengan gagang goloknya.
"Cemen!! Karo demit kok wedi! Lha mbok neg ketemu tag sigar dadi loro. Yo wis, sopo meneh sing ameh ning kene??" (Penakut! Sama setan koki takut! Sini, kalau ketemu bakal aku potong jadi dua. Ya sudah, siapa lagi yang mau di sini saja??)
Dua orang lagi mengacungkan tangan. Ternyata ada tiga temannya yang (kalau di pasar dan menarik iuran keamanan ke pedagang sangarnya minta ampun) kehilangan nyali dan keberanian. Dan itu membuat Waskito agak sebal.
"Kirik! Podo ora perkewuh karo Pak Gunardi!! Yo wis, ayo Jun...mangkat!" (@njing! Bikin enggak enak hati sama Pak Gunardi!! Ya sudah, Ayo Jun...berangkat!)
Dan berangkatlah Waskito bersama Junarto masuk ke dalam hutan melewati jalur dekat bekas mushola yang nyaris habis terbakar beberapa puluh tahun lalu itu. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua tentu saja melantur kesana kemari; pertama, karena efek arak yang masih terasa. Kedua; untuk memecah suasana yang makin sunyi seiring mereka yang makin dalam memasuki hutan.
"Mas Was, jare wong-wong kae alas kene iki okeh demite. Iso malih-malih wujude. Jare wis pernah enek sing ketemu karo wujud wong lanang tangane enem, enek sing cerito jare wujude wedhus ning mlakune koyo manungso, trus enek sing...." (Mas Was, kata orang-orang hutan sini banyak setannya. Bisa berubah-berubah wujudnya. Ada yang bilang berwujud lelaki tangannya enam, ada yang cerita kalau wujudnya kambing tapi berdiri kayak manusia. Terus ada yang...)
Waskito mulai muak dengan omongan Junarto. Dia menghentikan langkah, dan mengangkat goloknya. Seakan mau membacok temannya itu.
"Cangkeman ae!! Iso meneng ora?! Wis ayo ndang digoleki malinge, terus mulih! Aku yo wegah suwe-suwe ning kene! Kono, kowe mlaku ngarep..." (Banyak bacot!! Bisa diem enggak?! Mending cepet kita cari malingnya, terus pulang! Ayo juga enggak mau lama-lama di sini! Sana, kamu jalan di depan...)
Tubuh Junarto didorong oleh Waskito. Dan pria itu mau tak mau terpaksa jalan di depan. Memecah kegelapan yang terhampar di depan mata. Tapi sepertinya, Junarto belum mau berhenti bicara.
"Tapi tenan lho, Mas! Jaman cilikanku dewe mbiyen dusun kene selalu enek acara. Jarene sih mung upacara biasa, ruwat deso. Tapi ruwat deso kok telung tahun pisan. Tambah meneh, wong njobo Srigati kok ora oleh melu nonton. Olehe teko mung pas rituale bubar. Mangan-mangan karo nonton gelaran tok! Jenenge gelar pendem yen ra kleru ki..." (Tapi bener lho, Mas! Kaman aku kecil dulu, dusun sini selalu ada acara. Katanya sih cuma upacara bersih desa biasa. Tapi bersih desa kok tiga tahun sekali. Tambah lagi, orang luar Srigati enggak boleh nonton. Bolehnya datang cuma setelah ritualnya selesai. Makan-makan sambil nonton festival doang! Namanya gelar pendem kalau tidak salah...)
Kalimat Junarto terpotong untuk kedua kalinya. Tapi kali ini bukan karena Waskito, tapi karena sebuah suara mencurigakan di depan mereka. Seperti suara manusia yang samar tersapu angin. Tapi Waskito dan Junarto sama-sama ragu...apa itu suara manusia?
"Kuwi suworo opo, Mas? Menungso udu??" (Itu suara apa, Mas? Manusia bukan?)
Junarto mundur beberapa langkah. Tangannya yang menggenggam erat golok itu mulai gemetaran. Tapi Waskito tidak merasa takut. Dia malah maju, dan berteriak sambil mengacungkan goloknya ke arah sumber suara di depan sana.
"Ora urus kowe setan opo manungso...metu saiki opo tak bacok sirahmu!!" (Tidak peduli kamu setan apa manusia...keluar sekarang atau aku bacok kepalamu!!)
Waskito sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk, andai yang keluar dari balik pohon itu adalah demit bertangan enam atau kambing yang bisa berdiri seperti manusia seperti tadi yang diceritakan Junarto. Tapi di luar dugaan, adalah seorang lelaki yang memakai jaket hitam menyeruak dari dalam kegelapan. Waskito butuh beberapa saat untuk mengenali sosok itu dalam kegelapan hutan.
"Aku Sarmin. Kowe sopo?" (Aku Sarmin. Kamu siapa?)
Waskito kenal siapa Sarmin. Mereka sempat punya masalah beberapa tahun ke belakang. Walau masalah tersebut sudah dianggap selesai, tapi Waskito masih menyimpan rasa benci kepada Sarmin. Hanya karena mengingat bajingan ini adalah orang dekat Pak Gunardi, membuat Waskito tak bisa menyentuhnya.
"Aku Waskito. Ngopo kowe neng kono?" (Aku Waskito. Ngapain kamu di situ?)
Sarmin mendekat ke arahnya. Kini makin jelas di mata Waskito, orang itu benar-benar Sarmin. Tapi yang tidak diduga si preman pasar ini, Sarmin langsung merangkul pundaknya dan mengajaknya berjalan kembali ke arah berlawanan.
"Yo nggoleki maling. Kowe dewe ngopo? Wis ayo bali wae yo, kowe ki mendem..." (Ya mencari maling. Kamu sendiri ngapain? Ayo balik aja, kamu itu mabuk...)
Waskito tersinggung. Dia tampar tangan Sarmin agar lepas dari pundaknya.
"Asu, ki! Ora peh kowe bocahe Pak Gunardi terus iso sak penake karo aku!!" (4njing! Bukan karena kamu anak buahnya Pak Gunardi terus kamu bisa seenaknya sama aku!!)
Dia berharap Sarmin akan takut dan sedikit menghormatinya. Tapi alih-alih menundukkan pandangan, Sarmin malah makin mendekat ke arah Waskito hingga dada mereka nyaris bersentuhan. Jelas ini adalah sebuah bentuk tantangan. Seakan tak menyerah untuk memanaskan suasana, Waskito menggunakan cara yang pasti akan berhasil membuat Sarmin sedikit memberinya rasa hormat; mengungkit-ungkit masalah mereka di masa lalu.
Waskito kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Sarmin, membisikkan sesuatu.
"Kowe mbok ngelingi dua tahun wingi. Yen ora mergo Pak Gunardi, bapakmu wis tak seret metu soko pasar mergo ora iso mbayar utang. Kelingan ra, kowe?" (Kamu ingar dua tahun kemarin. Kalau bukan karena Pak Gunardi, bapakmu sudah aku seret keluar dari pasar karena tidak bisa bayar utang. Ingat enggak, kamu?)
Waskito senang usahanya berhasil. Wajah Sarmin memerah seketika. Bibirnya bergetar menahan amarah. Hatinya pasti terbakar habis oleh ucapannya barusan. Bahkan dia mengira, Sarmin akan mendorongnya dan menantangnya berkelahi, menyelesaikan masalah antara keduanya yang belum selesai.
Tapi, teriakan Junarto membuyarkan semuanya.
"Mas!! Kae enek sing mlayu, wong loro!!" (Mas!! Itu ada yang lari, dua orang!!)
Fokus Waskito teralih. Dia memandang ke titik yang sama dengan titik dimana tadi dia melihat Sarmin keluar dari kegelapan malam. Bayangan dua orang (salah satu tampak menggendong sesuatu) tampak samar di matanya. Di detik itulah, ketika perhatiannya terpecah, Waskito sejenak melupakan bahwa ada seseorang yang terbakar amarah berdiri dekat sekali dengan tubuhnya. Waskito lengah. Dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sarmin.
Golok di tangannya direbut, dan diayunkan tepat ke batok kepalanya. Semua terjadi sedemikian cepat, bahkan Waskito baru sadar ketika darah mengucur membuat matanya pedas. Tak sampai di situ, dengan tangan satunya, Sarmin menekan ujung golok agar benda tersebut semakin dalam masuk membelah kepalanya.
"Modar kowe!!" (Mati kamu)
Waskito bisa mendengar suara Sarmin sebelum tubuhnya roboh ke atas tanah. Bahkan dia masih bisa melihat Sarmin juga membantai Junarto, dan kemudian berlari ke arah yang sama dengan dua bayangan yang Waskito lihat tadi.
Sebelum semuanya menjadi gelap seutuhnya. Sebelum nafas Waskito habis seluruhnya.
babet2 dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Kutip
Balas
Tutup