"Neng ngendi kowe pas bapak ibune Yuli sedo, Mas?" (Dimana kamu waktu bapak ibunya Yuli meninggal, Mas?)
Di bawah temaram cahaya rembulan, di tengah belantara hutan diiringi suara alam yang menghanyutkan sekaligus menegakkan bulu roma, mereka bertiga duduk di tepian jalur sungai yang kini sepenuhnya mengering. Imas menatap kosong kedepan, sama seperti yang dilakukan Sarmin. Seakan keduanya sedang menenggelamkan diri masing-masing ke masa lalu mereka. Ke sebuah malam yang akan selalu diingat sebagai malam paling kelam di Srigati. Malam dimana kepala Lek Kasnyoto dan istrinya ditemukan direbus di dalam dandang mendidih di dapur mereka sendiri, sedang Yuli diam dalam kondisi telanjang di pojokan. Mengerikan. Tak beradab.
"Aku ning ngomah, turu. Terus Mardi gedor-gedor omahku, ngabari yen enek rajapati." (Aku di rumah, tidur. Terus Mardi gedor-gedor pintu rumahku, mengabari kalau ada orang meninggal.)
Jawaban itu membuat Imas menoleh ke Sarmin sambil melemparkan senyum sinis.
"Turu? Iso-isone kowe turu? Bukane sorene kowe wis janji bakal ngancani aku ngeterne panganan dinggo Yuli, yo?" (Tidur? Bisa-bisanya kamu tidur? Bukannya sorenya kamu sudah janji nemenin aku buat nganter makanan buat Yuli, ya?)
Diseret ke satu titik di masa lalu, Sarmin terkejut bukan main. Kesadarannya seperti dipukul palu godam. Dia nyaris membuka mulut, tapi Imas memotongnya terlebih dulu.
"Cah-cah urunan nggo nukokne Yuli kue wijenkaro dawet jabung. Aku motoran mbi Astria menyang pasar Kecamatan, sorene dewe kumpul ning omahku. Mas Sarmin dewe sing ngomong yen bengine bakal ngancani aku ngeterne menyang omahe Yuli. Piye, kelingan saiki?" (Anak-anak patungan buat beliin Yuli kue wijen sama dawer jabung. Aku naik motor sama Astria ke pasar Kecamatan, sorenya kita semua kumpul di rumahku. Mas Sarmin sendiri yang bilang kalau malamnya bakal nemenin aku nganter ke rumahnya Yuli. Gimana, ingat sekarang?)
Seperti ditelanjangi, Sarmin kehabisan kata-katanya sendiri. "Imas..."
"Seg Mas, aku durung rampung..." (Sebentar Mas, aku belum selesai...)
Bibir Imas bergetar. Dadanya terasa sesak oleh ingatan-ingatan di malam itu. Ingatan-ingatan yang sembilan tahun belakangan coba dia bunuh, tapi malam ini terpaksa ia tumpahkan semuanya.
"Aku ngenteni kowe nganti jam 9. Nganti aku kesel terus nekad mangkat dewe. Aku sengojo ndelik-ndelik. Lewat mburi omah, nerabas kebonan dinggo ngelimpe ibuku. Tapi sakwise aku tekan mburi omahe Yuli, aku nyawang sesuatu..." (Aku nunggu kamu sampai jam sembilan. Sampai aku capek lalu nekat berangkat sendiri. Sengaja aku sembunyi-sembunyi, lewat belakang rumah dan menerobos kebun agar ibuku tidak tahu. Tapi setelah aku sampai di belakang rumahnya Yuli, aku melihat sesuatu...)
Imas berhenti sejenak, menguatkan dirinya sendiri. Karena setiap kali dia mengingat apa yang dia lihat kala itu, batinnya selalu terguncang. Oleh ketakutan dan rasa bersalah yang sedemikian besar.
"Aku ndelik ning mburi deretan wit pisang suwe banget. Awakku nganti ndrodok ora karuan, ndeleng Pak Gunardi karo wong lanang siji sing aku ra kenal, nyeret bapak karo ibune Yuli metu soko pawon. Jelas wong loro kui kondisine pingsan lan ora sadar. Ning latar mburi omah kui mereka..." (Aku sembunyi di belakang deretan pohon pisang lama sekali. Badanku sampai gemetar ketakutan, melihat Pak Gunardi dan satu orang lelaki yang tidak kukenal menyeret bapak dan ibunya Yuli keluar dari dapur. Jelas mereka berdua pingsan dan tidak sadar. Di sanalah, di halaman belakang rumah Yuli, mereka...)
Tenggorokan Imas tercekat. Ia menggigit tangannya sendiri agar tangisannya tak menimbulkan suara yang mengundang. Nyaris dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, tapi Imas harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai ceritakan.
"Perempuan yang dipasung, dianggap gila dan diperlakukan seperti hewan selama 9 tahun itu...tidak bersalah! Gunardi dan orang asing itulah yang menyembelih Lek Kasnyoto dan istrinya, dan menaruh kepala mereka di dalam dandang. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dan aku berani bersumpah!!"
Rentetan kalimat itu bagai petir yang menyambar kepala Sarmin. Mulutnya menganga, sepasang matanya berkaca-kaca. Perutnya mual ketika dia menyadari apa yang telah ia lakukan selama sembilan tahun terakhir.
“Sekarang kamu udah ngerti alasanku pergi dari Srigati. Aku tahu apa yang akan dilakukan Gunardi, jadi aku kabur sebelum dia sadar kalau ada saksi mata.”
Bahkan kini, Melia ikut terperangah. Tak sanggup mendengar kebiadaban terjadi di dusun kecil seperti ini.
Tapi ternyata, Imas belum selesai. Dia mendekatkan dirinya kepada Sarmin, dan meraih tangan lelaki yang kepalanya kini tertunduk itu. Menyembunyikan tangis yang ia tahan sekuat yang ia bisa.
“Dan kalau kamu juga pengin tahu alasanku balik kesini; aku harus menebus dosaku, Mas. Aku udah jadi pengecut, kabur nyelametin diriku sendiri ketika Yuli diperlakukan seperti ini. Aku siap sama resikonya, karena bagaimanapun keadaanya, Yuli itu sahabat masa kecilku...”
Sarmin kian terisak. Nafasnya sampai tersengal.
“ ...dan teman masa kecilmu juga, kan? Ingat ndak dulu, jaman kita masih anak-anak. Aku, kamu, Mardi, Astria dan lainnya sering main bareng di lapangan. Kamu lho Mas, orang pertama yang inisiatif ngajakin Yuli ikut main sama kita semua. Kamu orang baik, Mas. Dan kamu itu sudah jadi kakak buat kita semua.”