- Beranda
- Stories from the Heart
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
...
TS
the.darktales
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...
Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.
Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.
Selamat menikmati...
Quote:

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.
KARAKTER





INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4BAGIAN 10
Spoiler for Karakter:





REVIEW
Spoiler for Review:
Quote:
Original Posted By gumzcadas►Udah lama sekali ga ngerasain sensasi mencekam di cerita horror, terakhir ngerasa gak nyamana baca kisah dikaskus itu, yg cerita sekian tahun tinggal dirumah hantu. Dan skrg gw ngerasain sensasinya lagi. Sehat2 terus ts. Setelah sekian tahun jd silent reader, akhirnya komen lagi dforum ini.
Quote:
Original Posted By ibunovi►Cara penulisan menggambarkan seolah2 qt ada d tempat itu....degdegan ane ga...mantapssss😌😌😌
Quote:
Original Posted By sempakloreng►Epic banget ceritanya gann

Quote:
Original Posted By aan1984►Menurut saya ceritanya sudah sangat bagus gan, gaya penulisannya bagus ane suka meskioun kdg ada typo dikit... Tetep semangat ya gan lanjutin cerita ini, ane bakal kecewa klo cerita ini ga brs 

Quote:
Original Posted By erickarif93x►Well this is the one of the best story i've ever read. Terima kasih untuk narasumber yang bersedia untuk menceritakan cerita ini.
INDEX
CHAPTER SATU: MELANGGAR BATAS
PROLOG
BAGIAN 1
BAGIAN 2
BAGIAN 3
BAGIAN 4
CHAPTER DUA: PEMBEBASAN
CHAPTER TIGA: PERBURUAN
Spoiler for Side-Story:
CHAPTER 4: AWAL MULA
[UNPUBLISHED]
CHAPTER 5: TULAH
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 115 suara
Menurut agan-agan, perlu enggak dibuatkan kisah tentang "Jurnal"?
Bikinin gan ane penasaran!
69%
Kagak usah, langsung mulai aja Chapter 4
31%
Diubah oleh the.darktales 28-06-2022 15:07
bambu.rindang dan 268 lainnya memberi reputasi
247
323.7K
Kutip
2.6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.darktales
#718
BAGIAN 13.2
Quote:
Butuh waktu bagi indera penglihatan Adil agar bisa beradaptasi dengan gelapnya malam. Lampu senter yang menjadi satu-satunya alat penerangan selama mereka menyusur jalur rahasia itu, telah dimatikan atas komando Imas yang berdiri paling depan memimpin barisan mereka. "Sudah deket. Mulai sekarang semua penerangan dimatikan dan kita bicara seperlunya saja."
Tepat setelah Imas berucap demikian, mereka keluar dari jalur setapak. Berbelok ke kiri dan kembali menerobos hutan. Benar-benar perjalanan yang menguras tenaga, dan bagi Adil yang sudah terbiasa naik gunung, perjalanan ini bukan suatu masalah besar baginya.
Tapi Melia, anak Jakarta yang seumur hidup belum pernah bersentuhan dengan dunia penjelajahan alam, berkali-kali harus menerima bantuan ketika dia kewalahan dengan deru nafasnya sendiri. Perjalanan yang awalnya diperkirakan akan menghabiskan waktu lima belas menit, jadi molor nyaris setengah jam.
Sampai di satu titik setelah mereka keluar dari jalur setapak dan kembali menerobos hutan untuk kedua kalinya, Melia benar-benar sudah kehabisan energi. Kakinya kesemutan luar biasa, dan setelah diperiksa, ada luka yang cukup lebar di bagian betis. Bodohnya, mereka lupa membawa perlengkapan P3K. Atau setidaknya perban dan obat merah.
"Iki yakin wis ra iso lanjut, Mas..." (Ini yakin sudah tidak bisa lanjut, Mas...)
Imas berbisik pada Adil setelah dia membantu Melia menyenderkan punggungnya di salah satu pohon jati.
"Terus kepiye, Mbak?" (Lalu gimana, Mbak?)
Imas tak langsung menjawab. Dia malah tampak melemparkan pandangannya lurus ke depan. Mau tak mau, Adil jadi ikut-ikutan memandang ke arah yang sama. Dan di sana, di satu titik yang nampak tak begitu jauh, seberkas sinar berwarna kekuningan tertangkap oleh mata mereka. Sinar kekuningan yang jika diperhatikan dengan lebih tajam, berasal dari sebuah lampu petromak yang digantung di sebuah bangunan mirip kandang kambing.
"Awakedewe wis cedhak. Saiki ngene wae mas, sampeyan karo mas Eko mrono disik. Nonton keadaan. Aku ben ngancani Mbak Melia ning kene. Sikile sementara diblebet nganggo jaketku seg wae rapopo." (Kita sudah dekat. Sekarang gini mas, kamu sama mas Eko kesana duluan. Lihat keadaan. Aku biar di sini nemenin Melia. Sementara kakinya biar aku ikat pakai jaket dulu gak papa.)
Adil belum sempat menjawab, ketika Eko langsung menarik tangannya untuk maju ke depan. Kemudian, dua lelaki itu terus berjalan sepelan yang mereka bisa. Meminimalisir suara ranting atau daun yang terinjak, agar suaranya tidak terlalu mengundang perhatian.
Dalam perjalanannya, Adil sempat sekali menoleh ke belakang. Menyaksikan dirinya yang makin menjauh dari Melia yang kepayahan, dan makin dekat dengan gubug dusun Srigati yang penuh misteri.
"Eko, stop!" Adil memberi tanda kepada Eko, agar mereka berhenti. Dari tempat mereka berdiri sekarang, tampak gubug itu berdiri dengan penerangan lampu petromak yang nyalanya tepat berada di depan kaki mereka. "Di sini wae. Jangan sampai sinar lampunya nyorotin kita."
Eko mengangguk. Dia ikut mengamati situasi di depan sana dengan seksama.
"Enek wong telu sing jogo, Dil. Waduh gawat! Nggowo gaman je!" (Ada tiga orang yang jaga, Dil. Waduh gawat! Bawa senjata mereka!!)
Adil juga tahu. Di antara ketiga orang yang kini sedang mengobrol kesana kemari itu, terlihat dua buah celurit dan sebatang golok yang tergeletak di sana. Sepertinya Kepala Dusun itu tidak main-main setelah penyusupan serampangan yang dilakukan Dea dan Gilang kemarin. Adil langsung putar otak, dan hal yang ada dipikirannya adalah tas hitam yang kini ditenteng olehnya.
"Awakedewe kan duwe gergaji mesin, Ko!" (Kita kan punya gergaji mesin, Ko!)
Eko tampak kaget mendengar usul itu dan langsung memandangi Adil dengan tatapan tak percaya.
"Ora edan kowe! Ditunggu seg sedilut, to! Sabaaar..." (Gila kamu! Ditunggu dulu bentar. Sabaaar...)
Adil mendecakkan lidah. Mau tak mau dia memang harus menunggu, karena pada akhirnya harus dia akui bahwa ide gergaji mesin tadi adalah ide yang sepenuhnya bodoh. Mereka kemudian kembali tenggelam dalam kesunyian masing-masing. Membiarkan suara para penjaga itu, sambil sebisa mungkin mencuri dengar tentang apa yang mereka bicarakan.
Tapi sia-sia. Obrolan para penjaga hanya seputar kehidupan pribadi mereka sendiri dan guyonan-guyonan yang sepertinya dilontarkan hanya untuk membunuh rasa takut di dalam diri.
"Kowe wedi ra, Dil?" (Kamu takut enggak, Dil?)
Tiba-tiba Eko melontarkan sebuah pertanyaan, tapi Adil tak menjawabnya. Dia memilih diam, walau bulu kuduknya terus menerus merinding setiap kali dia menatap gubuk reot yang mirip kandang kambing itu.
Tapi sepertinya Eko tak peduli dengan diamnya Adil itu. Alih-alih berhenti, dia malah melontarkan pertanyaan kedua; dan kali ini berhasil membuat Adil menoleh.
"Kowe ngerti ora, ngopo Imas gelem ngewangi kowe karo Melia? Kowe ra pernah mempertanyakan kui kan kate kowe menyang omahku mau esuk?" (Kamu tahu enggak, kenapa Imas mau bantu kamu sama Melia? Kamu enggak pernah mempertanyakan itu kan sejak kamu ke rumahku tadi pagi-pagi?)
"Ngopo, Ko?"
Eko tersenyum, pahit sekali.
"Bertahun-tahun, bojoku jebul dihantui rasa bersalah, Dil. Ngerti ora, wong wedok sing ning njero gubug kui ora bersalah. Bengi pas bapak ibune Yuli kui mati, bojoku enek di saat dan waktu yang salah. Deknen ngerti sesuatu..." (Ternyata, istriku dihantui rasa bersalah selama bertahun-tahun, Dil. Tahu enggak, wanita yang sekarang ada di dalam gubug itu tidak bersalah. Malam pas bapak dan ibunya Yuli itu mati, Imas berada di tempat dan waktu yang salah. Dia melihat sesuatu...)
Tapi kalimat berikutnya, tidak pernah keluar dari mulut Eko. Suara raungan sepeda motor dan teriakan orang-orang yang penuh amarah dari kejauhan sana tertangkap telinga, dan langsung menarik perhatian mereka.
Bajingan, ndi jenenge Supri!
Tepat setelah Imas berucap demikian, mereka keluar dari jalur setapak. Berbelok ke kiri dan kembali menerobos hutan. Benar-benar perjalanan yang menguras tenaga, dan bagi Adil yang sudah terbiasa naik gunung, perjalanan ini bukan suatu masalah besar baginya.
Tapi Melia, anak Jakarta yang seumur hidup belum pernah bersentuhan dengan dunia penjelajahan alam, berkali-kali harus menerima bantuan ketika dia kewalahan dengan deru nafasnya sendiri. Perjalanan yang awalnya diperkirakan akan menghabiskan waktu lima belas menit, jadi molor nyaris setengah jam.
Sampai di satu titik setelah mereka keluar dari jalur setapak dan kembali menerobos hutan untuk kedua kalinya, Melia benar-benar sudah kehabisan energi. Kakinya kesemutan luar biasa, dan setelah diperiksa, ada luka yang cukup lebar di bagian betis. Bodohnya, mereka lupa membawa perlengkapan P3K. Atau setidaknya perban dan obat merah.
"Iki yakin wis ra iso lanjut, Mas..." (Ini yakin sudah tidak bisa lanjut, Mas...)
Imas berbisik pada Adil setelah dia membantu Melia menyenderkan punggungnya di salah satu pohon jati.
"Terus kepiye, Mbak?" (Lalu gimana, Mbak?)
Imas tak langsung menjawab. Dia malah tampak melemparkan pandangannya lurus ke depan. Mau tak mau, Adil jadi ikut-ikutan memandang ke arah yang sama. Dan di sana, di satu titik yang nampak tak begitu jauh, seberkas sinar berwarna kekuningan tertangkap oleh mata mereka. Sinar kekuningan yang jika diperhatikan dengan lebih tajam, berasal dari sebuah lampu petromak yang digantung di sebuah bangunan mirip kandang kambing.
"Awakedewe wis cedhak. Saiki ngene wae mas, sampeyan karo mas Eko mrono disik. Nonton keadaan. Aku ben ngancani Mbak Melia ning kene. Sikile sementara diblebet nganggo jaketku seg wae rapopo." (Kita sudah dekat. Sekarang gini mas, kamu sama mas Eko kesana duluan. Lihat keadaan. Aku biar di sini nemenin Melia. Sementara kakinya biar aku ikat pakai jaket dulu gak papa.)
Adil belum sempat menjawab, ketika Eko langsung menarik tangannya untuk maju ke depan. Kemudian, dua lelaki itu terus berjalan sepelan yang mereka bisa. Meminimalisir suara ranting atau daun yang terinjak, agar suaranya tidak terlalu mengundang perhatian.
Dalam perjalanannya, Adil sempat sekali menoleh ke belakang. Menyaksikan dirinya yang makin menjauh dari Melia yang kepayahan, dan makin dekat dengan gubug dusun Srigati yang penuh misteri.
"Eko, stop!" Adil memberi tanda kepada Eko, agar mereka berhenti. Dari tempat mereka berdiri sekarang, tampak gubug itu berdiri dengan penerangan lampu petromak yang nyalanya tepat berada di depan kaki mereka. "Di sini wae. Jangan sampai sinar lampunya nyorotin kita."
Eko mengangguk. Dia ikut mengamati situasi di depan sana dengan seksama.
"Enek wong telu sing jogo, Dil. Waduh gawat! Nggowo gaman je!" (Ada tiga orang yang jaga, Dil. Waduh gawat! Bawa senjata mereka!!)
Adil juga tahu. Di antara ketiga orang yang kini sedang mengobrol kesana kemari itu, terlihat dua buah celurit dan sebatang golok yang tergeletak di sana. Sepertinya Kepala Dusun itu tidak main-main setelah penyusupan serampangan yang dilakukan Dea dan Gilang kemarin. Adil langsung putar otak, dan hal yang ada dipikirannya adalah tas hitam yang kini ditenteng olehnya.
"Awakedewe kan duwe gergaji mesin, Ko!" (Kita kan punya gergaji mesin, Ko!)
Eko tampak kaget mendengar usul itu dan langsung memandangi Adil dengan tatapan tak percaya.
"Ora edan kowe! Ditunggu seg sedilut, to! Sabaaar..." (Gila kamu! Ditunggu dulu bentar. Sabaaar...)
Adil mendecakkan lidah. Mau tak mau dia memang harus menunggu, karena pada akhirnya harus dia akui bahwa ide gergaji mesin tadi adalah ide yang sepenuhnya bodoh. Mereka kemudian kembali tenggelam dalam kesunyian masing-masing. Membiarkan suara para penjaga itu, sambil sebisa mungkin mencuri dengar tentang apa yang mereka bicarakan.
Tapi sia-sia. Obrolan para penjaga hanya seputar kehidupan pribadi mereka sendiri dan guyonan-guyonan yang sepertinya dilontarkan hanya untuk membunuh rasa takut di dalam diri.
"Kowe wedi ra, Dil?" (Kamu takut enggak, Dil?)
Tiba-tiba Eko melontarkan sebuah pertanyaan, tapi Adil tak menjawabnya. Dia memilih diam, walau bulu kuduknya terus menerus merinding setiap kali dia menatap gubuk reot yang mirip kandang kambing itu.
Tapi sepertinya Eko tak peduli dengan diamnya Adil itu. Alih-alih berhenti, dia malah melontarkan pertanyaan kedua; dan kali ini berhasil membuat Adil menoleh.
"Kowe ngerti ora, ngopo Imas gelem ngewangi kowe karo Melia? Kowe ra pernah mempertanyakan kui kan kate kowe menyang omahku mau esuk?" (Kamu tahu enggak, kenapa Imas mau bantu kamu sama Melia? Kamu enggak pernah mempertanyakan itu kan sejak kamu ke rumahku tadi pagi-pagi?)
"Ngopo, Ko?"
Eko tersenyum, pahit sekali.
"Bertahun-tahun, bojoku jebul dihantui rasa bersalah, Dil. Ngerti ora, wong wedok sing ning njero gubug kui ora bersalah. Bengi pas bapak ibune Yuli kui mati, bojoku enek di saat dan waktu yang salah. Deknen ngerti sesuatu..." (Ternyata, istriku dihantui rasa bersalah selama bertahun-tahun, Dil. Tahu enggak, wanita yang sekarang ada di dalam gubug itu tidak bersalah. Malam pas bapak dan ibunya Yuli itu mati, Imas berada di tempat dan waktu yang salah. Dia melihat sesuatu...)
Tapi kalimat berikutnya, tidak pernah keluar dari mulut Eko. Suara raungan sepeda motor dan teriakan orang-orang yang penuh amarah dari kejauhan sana tertangkap telinga, dan langsung menarik perhatian mereka.
Bajingan, ndi jenenge Supri!
Quote:
Mas Supri sudah terbiasa memukul, menjambak, menampar dan menendangi istrinya. Setiap kali ia marah, tak ada obat yang lebih manjur selain menjadikan perempuan itu sebagai samsak hidup. Itu sudah terbukti, dulu pernah sekali Mas Supri dibakar amarah karena dijadikan bahan tertawaan oleh bapak-bapak dusun di warung kopi milik Kang Bowo. Dia kemudian memilih pulang ke rumah setelah telinga dan hatinya makin panas. Tapi, sesampainya di rumah, dia baru sadar bahwa tadi istrinya pamit untuk pergi ke pasar di Kecamatan.
Karena tak ada bahan, Mas Supri mencoba memakai metode pelampiasan yang lain. Dengan kedua lengannya yang hitam legam, Mas Supri membanting dan melempar apapun sekenanya. Lemari dia robohkan, gelas dia lempar ke arah cermin, piring-piring dan peralatan dapur dia tendang dengan kaki kiri dan kanannya.
Tapi sayang, emosinya tak kunjung reda. Yang ada dia malah makin emosi menemukan kaki dan tangannya terluka. Berdarah karena pecahan benda-benda yang dijadikannya sasaran tadi. Untungnya, di tengah kekalutan yang melanda, sang istri memasuki rumah dengan plastik belanjaan di tangan kanan.
Ini dia yang ditunggu-tunggu! Sambil berlari, Mas Supri melompat dan melayangkan sebuah tendangan ala-ala kungfu. Tepat menghantam ulu hati sang istri yang langsung terjatuh ke tanah. Tak ia pedulikan dua ikat daun bayam dan belanjaan lain yang berceceran, Mas Supri langsung mengangkangkan kedua kakinya di sisi kiri dan kanan tubuh sang istri supaya dia tak bisa kabur kemana-mana. Yang terjadi selanjutnya adalah hujan pukulan selama nyaris satu menit tanpa henti; di perut, leher dan kepala. Semuanya kena.
Dan benar saja! Amarah Mas Supri menjadi reda dengan sendirinya. Dia lega, merasa menang dan merasa jumawa. Perasaan menderita karena dianggap pecundang di luar sana, terhapuskan karena di sini, di balik pintu rumahnya, dia bisa merasa seperti seorang jagoan.
Kemudian, Mas Supri merasa mengantuk. Dia puas, berlalu pergi dari hadapan istrinya yang menangis sambil terus menutupi wajah dengan kedua lengannya, kemudian tidur dengan nyenyak.
Tapi tak sekalipun dia menyangka, kejadian pagi tadi akan berakhir seperti ini. Dia sama sekali tidak menduga istrinya akan punya keberanian untuk mengadu kepada kakaknya. Karena selama ini, setiap kali dihajar oleh Mas Supri, sang istri hanya menangis dan meminta maaf kepadanya. Dia tidak pernah melawan, dia tidak pernah memberontak, apalagi melapor kepada orang lain tentang urusan rumah tangga mereka.
Kakak dari istri Mas Supri ada dua; yang sulung bernama Mas Kariman, yang tengah bernama Mas Waskito. Sialnya adalah, sepertinya istrinya melapor kepada kakak tengahnya. Sialnya lagi; Mas Waskito adalah preman yang biasa mangkal di pasar Semanu. Temannya banyak, dan semuanya preman-preman juga.
Jadi malam itu, ketika dia mendengar raungan motor yang gasnya ditarik secara kesetanan dan juga teriakan penuh amarah dimana namanya disebut di situ, Mas Supri tahu dia dalam masalah besar. Rasa takut yang ia rasakan, jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa takut ketika dia harus berada di Omahe Yuli dan mendengar suara rintihan aneh dari dalam gubuk.
Walaupun SD saja tak lulus dan otaknya hanya sebesar otak udang, Mas Supri masih bisa berpikir. Apalagi di situasi terdesak seperti ini. Dia masih ingat, setelah pertemuan rahasia di rumah Pak Gunardi sore tadi, dia membonceng motor Agus menuju kemari. Dia masih ingat pula, kunci motor Agus masing tertinggal di sana. Tergantung di motor yang terparkir hanya sejauh empat langkah saja dari tempatnya berdiri.
Ini satu-satunya kesempatan, pikirnya. Dia toleh Agus di belakang yang masih mengoceh menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Suara raungan motor kian mendekat. Dalam sekejap mata, Mas Supri mengambil langkah secepat kilat.
Melompat ke atas motor, memutar kunci yang benar saja masih tergantung di sana, dan langsung menginjak starter. Ajaib! sekali genjot mesin langsung menyala.
Kekacauan terjadi dalam beberapa detik saja. Mas Supri kabur dengan kecepatan penuh ke arah dusun, sedangkan di belakang, kedua kawannya mengejar sambil tak henti berteriak dan ikut-ikutan memaki Mas Supri. Bahkan saking kacaunya suasana, sampai tak ada lagi yang memedulikan tugas awal mereka. Tak ada yang memedulikan sebuah tempat yang harusnya mereka jaga.
Pun, tak ada yang memedulikan ketika dari gelap dan lebatnya hutan jati di belakang Omahe Yuli...menyeruak siluet dua orang pria yang berjalan berjinjit-jinjit penuh kehati-hatian.
Salah satu dari mereka menenteng sebuah tas besar.
Karena tak ada bahan, Mas Supri mencoba memakai metode pelampiasan yang lain. Dengan kedua lengannya yang hitam legam, Mas Supri membanting dan melempar apapun sekenanya. Lemari dia robohkan, gelas dia lempar ke arah cermin, piring-piring dan peralatan dapur dia tendang dengan kaki kiri dan kanannya.
Tapi sayang, emosinya tak kunjung reda. Yang ada dia malah makin emosi menemukan kaki dan tangannya terluka. Berdarah karena pecahan benda-benda yang dijadikannya sasaran tadi. Untungnya, di tengah kekalutan yang melanda, sang istri memasuki rumah dengan plastik belanjaan di tangan kanan.
Ini dia yang ditunggu-tunggu! Sambil berlari, Mas Supri melompat dan melayangkan sebuah tendangan ala-ala kungfu. Tepat menghantam ulu hati sang istri yang langsung terjatuh ke tanah. Tak ia pedulikan dua ikat daun bayam dan belanjaan lain yang berceceran, Mas Supri langsung mengangkangkan kedua kakinya di sisi kiri dan kanan tubuh sang istri supaya dia tak bisa kabur kemana-mana. Yang terjadi selanjutnya adalah hujan pukulan selama nyaris satu menit tanpa henti; di perut, leher dan kepala. Semuanya kena.
Dan benar saja! Amarah Mas Supri menjadi reda dengan sendirinya. Dia lega, merasa menang dan merasa jumawa. Perasaan menderita karena dianggap pecundang di luar sana, terhapuskan karena di sini, di balik pintu rumahnya, dia bisa merasa seperti seorang jagoan.
Kemudian, Mas Supri merasa mengantuk. Dia puas, berlalu pergi dari hadapan istrinya yang menangis sambil terus menutupi wajah dengan kedua lengannya, kemudian tidur dengan nyenyak.
Tapi tak sekalipun dia menyangka, kejadian pagi tadi akan berakhir seperti ini. Dia sama sekali tidak menduga istrinya akan punya keberanian untuk mengadu kepada kakaknya. Karena selama ini, setiap kali dihajar oleh Mas Supri, sang istri hanya menangis dan meminta maaf kepadanya. Dia tidak pernah melawan, dia tidak pernah memberontak, apalagi melapor kepada orang lain tentang urusan rumah tangga mereka.
Kakak dari istri Mas Supri ada dua; yang sulung bernama Mas Kariman, yang tengah bernama Mas Waskito. Sialnya adalah, sepertinya istrinya melapor kepada kakak tengahnya. Sialnya lagi; Mas Waskito adalah preman yang biasa mangkal di pasar Semanu. Temannya banyak, dan semuanya preman-preman juga.
Jadi malam itu, ketika dia mendengar raungan motor yang gasnya ditarik secara kesetanan dan juga teriakan penuh amarah dimana namanya disebut di situ, Mas Supri tahu dia dalam masalah besar. Rasa takut yang ia rasakan, jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa takut ketika dia harus berada di Omahe Yuli dan mendengar suara rintihan aneh dari dalam gubuk.
Walaupun SD saja tak lulus dan otaknya hanya sebesar otak udang, Mas Supri masih bisa berpikir. Apalagi di situasi terdesak seperti ini. Dia masih ingat, setelah pertemuan rahasia di rumah Pak Gunardi sore tadi, dia membonceng motor Agus menuju kemari. Dia masih ingat pula, kunci motor Agus masing tertinggal di sana. Tergantung di motor yang terparkir hanya sejauh empat langkah saja dari tempatnya berdiri.
Ini satu-satunya kesempatan, pikirnya. Dia toleh Agus di belakang yang masih mengoceh menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Suara raungan motor kian mendekat. Dalam sekejap mata, Mas Supri mengambil langkah secepat kilat.
Melompat ke atas motor, memutar kunci yang benar saja masih tergantung di sana, dan langsung menginjak starter. Ajaib! sekali genjot mesin langsung menyala.
Kekacauan terjadi dalam beberapa detik saja. Mas Supri kabur dengan kecepatan penuh ke arah dusun, sedangkan di belakang, kedua kawannya mengejar sambil tak henti berteriak dan ikut-ikutan memaki Mas Supri. Bahkan saking kacaunya suasana, sampai tak ada lagi yang memedulikan tugas awal mereka. Tak ada yang memedulikan sebuah tempat yang harusnya mereka jaga.
Pun, tak ada yang memedulikan ketika dari gelap dan lebatnya hutan jati di belakang Omahe Yuli...menyeruak siluet dua orang pria yang berjalan berjinjit-jinjit penuh kehati-hatian.
Salah satu dari mereka menenteng sebuah tas besar.
Quote:
"Wektune dewe ora okeh!" (Waktu kita enggak banyak!)
Adil langsung meletakkan tas hitam itu di atas tanah, sedangkan Eko berdiri tepat di belakangnya. Mengawasi arah jalan setapak yang diyakini menuju arah dusun, tempat dimana dua orang penjaga mengejar teman mereka yang kabur dengan motor.
Kini mereka berdua berpacu dengan waktu. Tak lagi mereka pedulikan suara keributan dari arah dusun yang sepertinya makin menjadi-jadi. Entah apa kekacauan yang sedang terjadi di sana, itu malah menguntungkan Adil dan Eko. Setidaknya mereka punya kesempatan untuk mengevakuasi perempuan di dalam gubuk ini.
Sebuah gergaji mesin berukuran kecil dengan besi tajam berbentuk bundar di ujungnya, nyaris dinyalakan Adil andai tidak dicegah terlebih dulu oleh Eko.
"Ojo nganggo gergaji mesin neg mung ameh mlebu, Dil. Ndak malah suarane mengundang perhatian!" (Enggak usah pakai gergaji mesin kalau cuman mau masuk, Dil. Nanti suaranya malah mengundang perhatian!)
Adil menoleh, nyaris menyemprot Eko karena dia merasa semua idenya ditentang oleh orang ini. Tapi sebelum sepatah katapun terucap, Eko sudah lebih dulu mengambil ancang-ancang, dan dengan sekuat tenaga menendang tembok kayu dari gubuk ini. Percobaan pertama gagal, tapi Eko tidak menyerah.
Dia mundur lagi, kali ini mencoba ancang-ancang dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Lari kencang, dan BAAAMM!! Dua baris kayu roboh ke dalam. Adil kemudian berinisiatif untuk mendendang baris kayu yang paling bawah, dan kini sebuah lubang menganga ada di hadapan mereka.
Tanpa buang waktu, Adil dan Eko menyalakan senter mereka dan menerobos masuk ke dalam.
Dan apa yang dilihat mereka kemudian, tak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup!
"Asuuuu!!" Eko berteriak ketika aroma amis bercampur prengus khas kambing mengobrak-abrik indera penciumannya seketika.
Tapi Adil tidak bergerak. Kedua kakinya seakan terpancang di tanah. Tangannya kaku, memegang senter yang mengarah tepat di depannya.
Seorang perempuan, dengan rambut panjang yang menebal dan nyaris gimbal tersenyum ke arahnya. Sebuah senyuman lebar mengerikan, menampakkan gigi-gigi yang menghitam. Tubuhnya bau amis, terbalut baju mirip daster yang Adil yakini awalnya berwarna putih dan kini telah menguning karena tak pernah sekalipun dicuci dalam jangka waktu yang teramat lama.
"Hihihihi...hihihihi!!" Perempuan ini terus terkekeh, seperti kuda yang meringkik. Tangannya menggapai-gapai ke arah Adil dan Eko, sedang kakinya dipaksa mengangkang. Terkunci di dua buah lubang dari kayu pasung yang di bagian tepinya terkunci oleh rantai dan gembok berukuran besar.
"Bangs*t..." Adil mendesis dengan mulut bergetar, menyaksikan kelaknatan dan kebiadaban yang tersaji jelas di hadapannya. Bahkan dia masih tak bergerak, ketika Eko maju sambil menenteng gergaji mesin yang memang sudah mereka siapkan untuk memotong rantai yang mengunci pasung tersebut.
Suara mesin menyala kencang. Eko bahkan tak punya cukup keberanian untuk melihat ke arah Yuli yang kini semakin menggila. Menari-nari sambil terkekeh makin kencang.
"Eko, perempuan ini hamil.”
Adil langsung meletakkan tas hitam itu di atas tanah, sedangkan Eko berdiri tepat di belakangnya. Mengawasi arah jalan setapak yang diyakini menuju arah dusun, tempat dimana dua orang penjaga mengejar teman mereka yang kabur dengan motor.
Kini mereka berdua berpacu dengan waktu. Tak lagi mereka pedulikan suara keributan dari arah dusun yang sepertinya makin menjadi-jadi. Entah apa kekacauan yang sedang terjadi di sana, itu malah menguntungkan Adil dan Eko. Setidaknya mereka punya kesempatan untuk mengevakuasi perempuan di dalam gubuk ini.
Sebuah gergaji mesin berukuran kecil dengan besi tajam berbentuk bundar di ujungnya, nyaris dinyalakan Adil andai tidak dicegah terlebih dulu oleh Eko.
"Ojo nganggo gergaji mesin neg mung ameh mlebu, Dil. Ndak malah suarane mengundang perhatian!" (Enggak usah pakai gergaji mesin kalau cuman mau masuk, Dil. Nanti suaranya malah mengundang perhatian!)
Adil menoleh, nyaris menyemprot Eko karena dia merasa semua idenya ditentang oleh orang ini. Tapi sebelum sepatah katapun terucap, Eko sudah lebih dulu mengambil ancang-ancang, dan dengan sekuat tenaga menendang tembok kayu dari gubuk ini. Percobaan pertama gagal, tapi Eko tidak menyerah.
Dia mundur lagi, kali ini mencoba ancang-ancang dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Lari kencang, dan BAAAMM!! Dua baris kayu roboh ke dalam. Adil kemudian berinisiatif untuk mendendang baris kayu yang paling bawah, dan kini sebuah lubang menganga ada di hadapan mereka.
Tanpa buang waktu, Adil dan Eko menyalakan senter mereka dan menerobos masuk ke dalam.
Dan apa yang dilihat mereka kemudian, tak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup!
"Asuuuu!!" Eko berteriak ketika aroma amis bercampur prengus khas kambing mengobrak-abrik indera penciumannya seketika.
Tapi Adil tidak bergerak. Kedua kakinya seakan terpancang di tanah. Tangannya kaku, memegang senter yang mengarah tepat di depannya.
Seorang perempuan, dengan rambut panjang yang menebal dan nyaris gimbal tersenyum ke arahnya. Sebuah senyuman lebar mengerikan, menampakkan gigi-gigi yang menghitam. Tubuhnya bau amis, terbalut baju mirip daster yang Adil yakini awalnya berwarna putih dan kini telah menguning karena tak pernah sekalipun dicuci dalam jangka waktu yang teramat lama.
"Hihihihi...hihihihi!!" Perempuan ini terus terkekeh, seperti kuda yang meringkik. Tangannya menggapai-gapai ke arah Adil dan Eko, sedang kakinya dipaksa mengangkang. Terkunci di dua buah lubang dari kayu pasung yang di bagian tepinya terkunci oleh rantai dan gembok berukuran besar.
"Bangs*t..." Adil mendesis dengan mulut bergetar, menyaksikan kelaknatan dan kebiadaban yang tersaji jelas di hadapannya. Bahkan dia masih tak bergerak, ketika Eko maju sambil menenteng gergaji mesin yang memang sudah mereka siapkan untuk memotong rantai yang mengunci pasung tersebut.
Suara mesin menyala kencang. Eko bahkan tak punya cukup keberanian untuk melihat ke arah Yuli yang kini semakin menggila. Menari-nari sambil terkekeh makin kencang.
"Eko, perempuan ini hamil.”
wakazsurya77 dan 49 lainnya memberi reputasi
50
Kutip
Balas
Tutup