- Beranda
- Stories from the Heart
TOR DOLOK MALEA
...
TS
semutbulat
TOR DOLOK MALEA

Permisi agan2...kali ini aku kembali berbagi kisah petualanganku dan seorang sahabatku, iya kami hanya berdua mendaki gunung yang sebenarnya bukan merupakan gunung yang lazim didaki orang, belum tentu dalam setahun, dua tahun bahkan 5 tahun ada orang yang mau mendakinya.
Perkenalkan nama aku Anto, asli Medan dan kini mengais rezeki di Kabupaten Mandailing Natal yang merupakan wilayah paling ujung dari Sumatera Utara.
Ok langsung aja ke ceritanya, cekicrottt...
Part I : Bukan Kaum Rebahan
Part II : Tertindih
Part III : Bisikan dan Tawa Makhluk Halus
Part IV : Kembali ke Tenda
Part V : Sarapan Sultan Mirip Sesajen
Part VI : Taman di Tengah Hutan
Part VII : Mencari Tempat Camp
Part VIII : Suara Itu Terdengar Kembali
Diubah oleh semutbulat 14-07-2021 11:44
Rohmatullah212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
4.4K
60
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
semutbulat
#11
Part VI : Taman Di Tengah Hutan
Bagaimana mungkin disini bisa ada taman bunga yang luas. Bermacam-macam bunga dan tanaman hias dengan aneka warna ada di tempat ini. Siapa pula yang mau membuat taman di tempat yang jauh seperti ini.
Sayangnya aku tidak tahu jenis-jenis bunga apa saja yang ada di tempat ini, yang aku tahu hanya krisan warna kuning, merah dan putih, bunga terompet, bunga lily dan tanaman-tanaman kecil yang mengelilingi pohon yang lebih besar.
Walaupun tampak tidak terawat dan mulai tumbuh liar, tapi sangat jelas kelihatan bahwa ada yang menanamnya, karena jarak antar pohon tertata dengan rapi.
Kami berisitirahat di tempat ini, lalu mulai memasak makanan sambil melihat taman tersembunyi yang sangat indah ini.
Aku mulai memasak mie instant yang diupgrade dengan saos bologness dengan kornet plus keju parut, lalu tidak lupa menambahkan nasi putih.
Maklum coy, pribumi tulen, lambung kalo belum berjumpa nasi belum makan namanya.
Sehabis makan, kami hanya berleha-leha di tempat ini sambil tidur-tiduran, menikmati kopi dan rokok menjadi paduan yang sempurna, sebenarnya aku kurang mengerti tentang bunga, yang aku tahu merah, kuning, hijau semuanya indah.
"Udah ya Ja, kita nyampek sini aja, abang mau kerja" kataku kepadanya.
"Kalo cuma mau nengok bunga, mending kita ke alun-alun kota bang, nggak usah capek-capek kemari, udah nggak usah alasan, senin libur, macam nggak ada kelender di rumah aku" jawabnya.
"Ya udahlah ayok jalan, biar cepat kita nyampek" ajakku lagi.
Selanjutnya kami terus berjalan, kini medan masih sama seperti sebelumnya, medan menanjak dengan hutan yang rapat dengan kemiringan yang kini sudah bisa ditolerir.
Sekitar sejam kemudian kami melihat ada cahaya yang terang dari arah sebelah kanan, seperti ada medan terbuka di tempat tersebut, lalu karena penasaran aku mengajak Raja melihatnya, mana tahu ada view bagus yang bisa kami tangkap lewat gambar, apalagi kalau ada harta karun, semangat.
Sesampainya disana kami sama-sama terkejut, ingin rasanya mengutuk.
Di lahan ini sudah sangat banyak pohon-pohon yang ditumbangi, hutan yang mulai gundul, aku yakin pohon yang mereka pilih adalah pohon jati yang memiliki nilai komersil yang tinggi.
Terlihat jelas bekas gergaji mesin di batang-batang pohon yang sudah tidak ada lagi di tempat ini, bekas potongan yang rapi dan rata.
Setelah kami melihat-lihat keadaan sekitar, kami berpendapat bahwa kayu yang ditebang, akan dihanyutkan melewati sungai yang tidak jauh dari tempat ini dan sungai tersebut akan melewati perkampungan penduduk di bawah bukit.
Jadi tidak lagi menjadi misteri mengapa beberapa tahun belakangan ini sering terjadi banjir di Mandailing Natal, ternyata sudah banyak hutan yang gundul di atas sini, termasuk juga hutan di bukit yang ada di seberangnya yang menjadi tambang emas ilegal.
Kami tidak lama di tempat ini, karena kami tidak mau konyol bila bertemu dengan para penambang liar yang sering membawa senapan angin bila berada di hutan.
Selanjutnya kami terus berjalan menanjak tanpa lagi membahas masalah pohon-pohon yang ada disini.
Selepas lahan gundul di tempat ini, trek mulai nggak karuan, bisa dibilang kami lebih banyakan memanjat dari pada berjalan.
Asli, treknya parah minta ampun, ujung kaki sering cod sama diafraghma. Aku lebih sering ditarik si Raja ketika berusaha untuk melewati trek ini. Tanjakan yang curam dan panjang serta teriknya matahari, menjadi paduan yang sempurna bila ingin menyiksa seseorang.
Entah sudah berapa kali aku meminta istirahat di tempat ini, hampir bisa dibilang aku selalu berhenti setelah memanjat tanjakan.
Raja tidak pernah memaksa aku untuk berjalan, dia selalu berjalan di belakangku, dan bila saat memanjat dia yang di depan, lalu menarikku agar bisa naik ke atas.
Jadi tidak mengherankan bila semalam aku sangat frustasi waktu kehilangan anak ini.
"Ampun aku Ja kalo ke tempat ini, nggak bakal mau lagi kalo kau ajak kemari" kataku disela-sela kami beristirahat dengan nafas yang tidak teratur.
"Iya bang, kau kan selalu minta ampun kalo jalan kemanapun, ke Singgalang, ke Longat, ke Bukit Raya juga minta ampun kau bang, tapi entah berapa bulan kemudian, kau lagi yang ngajak balek kesana" jawabnya.
"Nggak Ja, kalo kemari tobat aku, cukup sekali" jawabku kembali.
Semakin ke atas tanjakan semakin parah, dan jalur trek sama sekali nggak kelihatan, sebenarnya aku nggak tau apa kami berada di jalur yang benar.
Aku sudah sangat lelah, dan kakiku mulai gemetaran karena jalan hampir seharian dan berlari-lari di malam sebelumnya. Kami istirahat kembali, dan Raja tidak pernah mengeluh karena aku kebanyakan istirahat.
Hampir 3 jam lamanya kami menanjak di tempat ini sebelum akhirnya menemukan satu dataran padang rumput yang luas.
Kulihat sudah jam 5 sore, lalu aku berjalan melewati beberapa pohon terakhir sebelum menyaksikan keindahan yang sesungguhnya di tempat ini.
Ternyata tempat ini sangat indah, dari pinggir padang ini kami bisa melihat hampir seluruh kota Panyabungan dari ketinggian yang tepat berada di lembah.
Di bawah sana juga terlihat hamparan hutan dan bukit-bukit yang lebih rendah, lalu di sisi selatan, Gunung Sorik Marapi berdiri dengan gagahnya di antara deret gugusan Bukit Barisan yang saling menyambung hingga membentuk lingkaran.
Suasana sore yang menenangkan, sepanjang mata memandang hanya ada keindahan.
Kemudian kami berjalan menuju sumber air di antara celah bebatuan di dalam hutan.
Air ini sangat segar, rasanya sama persis dengan air mineral kemasan botol premium warna hijau lumut yang harganya puluhan ribu, air mineral murni langsung dari sumbernya, tanpa ada bau dan sangat terasa ringan.
Sehabis puas meminum air tersebut kami kembali duduk di padang rumput sambil memandang keindahan alam yang tersaji di depan mata.
Tidak banyak kata yang keluar, kami sama-sama menikmati kesunyian ini. Kami saling diam dengan pemikiran masing-masing, tapi hal ini tidak berlangsung lama, sampai Raja berdiri terkejut dan mengagetkanku.
"Bang yok kita jalan lagi, kayaknya aku merasa ada yang sedang mengawasi kita" katanya kepadaku pelan.
"Astaga Ja, akupun semalam merasakan hal yang sama, tapi nggak ada kubilang-bilang samamu, ngapainlah kau harus cerita" kataku dalam hati.
"Bentar lagi Ja, abang masih capek kali, bentar lagi ya" Jawabku meminta kepadanya agar beristirahat lebih lama di tempat ini.
Dia kembali diam, tapi kini duduk lebih merapat ke dekatku.
Tidak lama kemudian dia kembali berdiri refleks, "Bang ada ular, ada ular" katanya sambil menunjuk ke satu arah di rerumputan.
Dan aku juga terkejut ketika melihat ada ular di tempat tersebut, aku pun refleks dan berusaha untuk tetap tenang, sementara Raja sudah berdiri dengan siaga.
Bagaimana mungkin disini bisa ada taman bunga yang luas. Bermacam-macam bunga dan tanaman hias dengan aneka warna ada di tempat ini. Siapa pula yang mau membuat taman di tempat yang jauh seperti ini.
Sayangnya aku tidak tahu jenis-jenis bunga apa saja yang ada di tempat ini, yang aku tahu hanya krisan warna kuning, merah dan putih, bunga terompet, bunga lily dan tanaman-tanaman kecil yang mengelilingi pohon yang lebih besar.
Walaupun tampak tidak terawat dan mulai tumbuh liar, tapi sangat jelas kelihatan bahwa ada yang menanamnya, karena jarak antar pohon tertata dengan rapi.
Kami berisitirahat di tempat ini, lalu mulai memasak makanan sambil melihat taman tersembunyi yang sangat indah ini.
Aku mulai memasak mie instant yang diupgrade dengan saos bologness dengan kornet plus keju parut, lalu tidak lupa menambahkan nasi putih.
Maklum coy, pribumi tulen, lambung kalo belum berjumpa nasi belum makan namanya.
Sehabis makan, kami hanya berleha-leha di tempat ini sambil tidur-tiduran, menikmati kopi dan rokok menjadi paduan yang sempurna, sebenarnya aku kurang mengerti tentang bunga, yang aku tahu merah, kuning, hijau semuanya indah.
"Udah ya Ja, kita nyampek sini aja, abang mau kerja" kataku kepadanya.
"Kalo cuma mau nengok bunga, mending kita ke alun-alun kota bang, nggak usah capek-capek kemari, udah nggak usah alasan, senin libur, macam nggak ada kelender di rumah aku" jawabnya.
"Ya udahlah ayok jalan, biar cepat kita nyampek" ajakku lagi.
Selanjutnya kami terus berjalan, kini medan masih sama seperti sebelumnya, medan menanjak dengan hutan yang rapat dengan kemiringan yang kini sudah bisa ditolerir.
Sekitar sejam kemudian kami melihat ada cahaya yang terang dari arah sebelah kanan, seperti ada medan terbuka di tempat tersebut, lalu karena penasaran aku mengajak Raja melihatnya, mana tahu ada view bagus yang bisa kami tangkap lewat gambar, apalagi kalau ada harta karun, semangat.
Sesampainya disana kami sama-sama terkejut, ingin rasanya mengutuk.
Di lahan ini sudah sangat banyak pohon-pohon yang ditumbangi, hutan yang mulai gundul, aku yakin pohon yang mereka pilih adalah pohon jati yang memiliki nilai komersil yang tinggi.
Terlihat jelas bekas gergaji mesin di batang-batang pohon yang sudah tidak ada lagi di tempat ini, bekas potongan yang rapi dan rata.
Setelah kami melihat-lihat keadaan sekitar, kami berpendapat bahwa kayu yang ditebang, akan dihanyutkan melewati sungai yang tidak jauh dari tempat ini dan sungai tersebut akan melewati perkampungan penduduk di bawah bukit.
Jadi tidak lagi menjadi misteri mengapa beberapa tahun belakangan ini sering terjadi banjir di Mandailing Natal, ternyata sudah banyak hutan yang gundul di atas sini, termasuk juga hutan di bukit yang ada di seberangnya yang menjadi tambang emas ilegal.
Kami tidak lama di tempat ini, karena kami tidak mau konyol bila bertemu dengan para penambang liar yang sering membawa senapan angin bila berada di hutan.
Selanjutnya kami terus berjalan menanjak tanpa lagi membahas masalah pohon-pohon yang ada disini.
Selepas lahan gundul di tempat ini, trek mulai nggak karuan, bisa dibilang kami lebih banyakan memanjat dari pada berjalan.
Asli, treknya parah minta ampun, ujung kaki sering cod sama diafraghma. Aku lebih sering ditarik si Raja ketika berusaha untuk melewati trek ini. Tanjakan yang curam dan panjang serta teriknya matahari, menjadi paduan yang sempurna bila ingin menyiksa seseorang.
Entah sudah berapa kali aku meminta istirahat di tempat ini, hampir bisa dibilang aku selalu berhenti setelah memanjat tanjakan.
Raja tidak pernah memaksa aku untuk berjalan, dia selalu berjalan di belakangku, dan bila saat memanjat dia yang di depan, lalu menarikku agar bisa naik ke atas.
Jadi tidak mengherankan bila semalam aku sangat frustasi waktu kehilangan anak ini.
"Ampun aku Ja kalo ke tempat ini, nggak bakal mau lagi kalo kau ajak kemari" kataku disela-sela kami beristirahat dengan nafas yang tidak teratur.
"Iya bang, kau kan selalu minta ampun kalo jalan kemanapun, ke Singgalang, ke Longat, ke Bukit Raya juga minta ampun kau bang, tapi entah berapa bulan kemudian, kau lagi yang ngajak balek kesana" jawabnya.
"Nggak Ja, kalo kemari tobat aku, cukup sekali" jawabku kembali.
Semakin ke atas tanjakan semakin parah, dan jalur trek sama sekali nggak kelihatan, sebenarnya aku nggak tau apa kami berada di jalur yang benar.
Aku sudah sangat lelah, dan kakiku mulai gemetaran karena jalan hampir seharian dan berlari-lari di malam sebelumnya. Kami istirahat kembali, dan Raja tidak pernah mengeluh karena aku kebanyakan istirahat.
Hampir 3 jam lamanya kami menanjak di tempat ini sebelum akhirnya menemukan satu dataran padang rumput yang luas.
Kulihat sudah jam 5 sore, lalu aku berjalan melewati beberapa pohon terakhir sebelum menyaksikan keindahan yang sesungguhnya di tempat ini.
Ternyata tempat ini sangat indah, dari pinggir padang ini kami bisa melihat hampir seluruh kota Panyabungan dari ketinggian yang tepat berada di lembah.
Di bawah sana juga terlihat hamparan hutan dan bukit-bukit yang lebih rendah, lalu di sisi selatan, Gunung Sorik Marapi berdiri dengan gagahnya di antara deret gugusan Bukit Barisan yang saling menyambung hingga membentuk lingkaran.
Suasana sore yang menenangkan, sepanjang mata memandang hanya ada keindahan.
Kemudian kami berjalan menuju sumber air di antara celah bebatuan di dalam hutan.
Air ini sangat segar, rasanya sama persis dengan air mineral kemasan botol premium warna hijau lumut yang harganya puluhan ribu, air mineral murni langsung dari sumbernya, tanpa ada bau dan sangat terasa ringan.
Sehabis puas meminum air tersebut kami kembali duduk di padang rumput sambil memandang keindahan alam yang tersaji di depan mata.
Tidak banyak kata yang keluar, kami sama-sama menikmati kesunyian ini. Kami saling diam dengan pemikiran masing-masing, tapi hal ini tidak berlangsung lama, sampai Raja berdiri terkejut dan mengagetkanku.
"Bang yok kita jalan lagi, kayaknya aku merasa ada yang sedang mengawasi kita" katanya kepadaku pelan.
"Astaga Ja, akupun semalam merasakan hal yang sama, tapi nggak ada kubilang-bilang samamu, ngapainlah kau harus cerita" kataku dalam hati.
"Bentar lagi Ja, abang masih capek kali, bentar lagi ya" Jawabku meminta kepadanya agar beristirahat lebih lama di tempat ini.
Dia kembali diam, tapi kini duduk lebih merapat ke dekatku.
Tidak lama kemudian dia kembali berdiri refleks, "Bang ada ular, ada ular" katanya sambil menunjuk ke satu arah di rerumputan.
Dan aku juga terkejut ketika melihat ada ular di tempat tersebut, aku pun refleks dan berusaha untuk tetap tenang, sementara Raja sudah berdiri dengan siaga.
Diubah oleh semutbulat 13-07-2021 14:27
jondolson dan 7 lainnya memberi reputasi
8