- Beranda
- Stories from the Heart
TOR DOLOK MALEA
...
TS
semutbulat
TOR DOLOK MALEA

Permisi agan2...kali ini aku kembali berbagi kisah petualanganku dan seorang sahabatku, iya kami hanya berdua mendaki gunung yang sebenarnya bukan merupakan gunung yang lazim didaki orang, belum tentu dalam setahun, dua tahun bahkan 5 tahun ada orang yang mau mendakinya.
Perkenalkan nama aku Anto, asli Medan dan kini mengais rezeki di Kabupaten Mandailing Natal yang merupakan wilayah paling ujung dari Sumatera Utara.
Ok langsung aja ke ceritanya, cekicrottt...
Part I : Bukan Kaum Rebahan
Part II : Tertindih
Part III : Bisikan dan Tawa Makhluk Halus
Part IV : Kembali ke Tenda
Part V : Sarapan Sultan Mirip Sesajen
Part VI : Taman di Tengah Hutan
Part VII : Mencari Tempat Camp
Part VIII : Suara Itu Terdengar Kembali
Diubah oleh semutbulat 14-07-2021 11:44
Rohmatullah212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
4.4K
60
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
semutbulat
#3
Part III : Bisikan dan Tawa Makhluk Halus
Aku mencoba untuk bernafas, namun tetap juga sulit, aku mencoba membuka mata, ternyata aku tidak bermimpi. Tindihan yang menimpaku terasa semakin berat, dan bernafaspun sudah sangat sulit aku lakukan.
Aku mencoba untuk melawan, namun tindihan yang kurasakan semakin berat, bahkan untuk menggerakan anggota badanpun aku tak bisa, aku tetap berusaha untuk melawan tindihan tersebut.
Lalu dengan sisa kesadaran yang kumiliki aku mencoba membaca doa-doa mohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan Sang Maha Pencipta dan setelah aku membaca Ayat Kursi sebanyak 3 kali, akhirnya aku bisa bernafas dan aku berteriak sambil mengucap Istigfar.
Kini beban berat yang tadi menindihku sudah tidak terasa, akan tetapi nafas yang kurasakan belum begitu lancar.
Dengan penerangan lampu headlamp yang tergantung di dalam tenda, aku melihat keadaan di sekeliling, kulihat pintu tenda masih tertutup rapat, dan suara hewan malam memecah kesunyian.
Kemudian aku melihat ke arah Raja, ternyata dia sudah tidak ada, dia tidak ada lagi disampingku, tidak ada sesuatu apapun di tempatnya tidur tadi.
Aku menjadi bingung dan ketakutan, samar-samar aku seperti mendengar ada suara yang menyuruhku untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, aku menjadi panik dan nggak tau apa yang harus ku lakukan, yang pasti aku harus keluar mencari sahabatku, mencari keberadaannya.
Lalu dengan takut akupun membuka resleting tenda, kemudian melihat keluar, dan tidak ada apa-apa.
Aku masih sangat ketakutan, dan suara yang menyuruhku pergi masih tetap terdengar.
Aku langsung keluar dari tenda, dan mencari Raja. Aku menyenter di sekelilingi, akan tetapi aku tidak menemukannya.
Aku berusaha untuk menenangkan diri, akan tetapi sia-sia, aku sangat panik dalam keadaan dan kegelapan seperti ini.
Saat aku berdiri, aku melihat sekelebat bayangan putih dari arah pohon besar di dekat tenda, dan aku menjadi semakin takut, dan kini terdengar jelas suara tawa dari arah bayangan yang ku lihat tadi.
Suara tawa yang membuat bulu kudukku merinding, suara tawa nyaring milik wanita, dan untuk sejenak aku terdiam seperti patung, hampir saja aku tak kuasa untuk kehilangan kesadaran.
Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan, dalam pikiranku, aku harus mengikuti suara bisikan yang kudengar sebelumnya, untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari tanpa tahu arah yang aku tuju, aku berlari dan berlari secepat yang aku mampu sambil berusaha menahan tangis dan juga berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran serta tidak lupa aku berdoa mohon perlindungan dari Allah dan segera dijumpakan dengan sahabatku, namun suara tawa sialan itu tetap saja mengikuti kemanapun aku berlari.
Entah sudah berapa kali aku terjatuh saat berlari, namun aku tetap bangkit dan berusaha untuk kabur, aku seperti dikejar oleh pemilik suara itu.
Sambil menahan sesak nafas di dada aku tetap berusaha untuk berjalan secapat mungkin bila ulu hatiku mulai terasa nyeri dan tidak memungkinkan lagi berlari.
Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berlari, namun jalan yang kurasakan sedikit menanjak, dan karena sudah sangat lelah dan putus asa, dengan mengucap Bismillah aku memberanikan diri.
Aku berhenti, tidak lagi berlari, aku sudah terlalu lelah tapi aku tidak mau menyerah.
Dengan di terangi cahaya bulan dan headlamp yang sempat aku ambil, ternyata kini aku berada di padang yang terbuka.
Aku terduduk di atas rerumputan karena untuk berdiripun aku sudah tidak sanggup. Aku menanti datangnya suara sialan tersebut berikut pemiliknya.
Setelah kutunggu-tunggu, suara tawa sialan itu tidak kunjung tiba, aku berusaha untuk menenangkan diri.
Aku hanya terduduk di padang rumput ini. Yang kupikirkan dimana keberadaan si Raja. Aku berusaha untuk menghubunginya, ternyata handphoneku tertinggal di dalam tenda tanpa sempat aku bawa saat pergi dari tempat tersebut.
Aku hanya diam dan diam, aku sangat kelelahan, baik fisik, mental maupun pikiranku.
Sambil menahan dingin, aku kembali melihat keadaan di sekeliling, yang ada hanya rerumputan dan pepohonan, lalu aku merebahkan diriku dengan tidak hentinya berdoa untuk keselamatan sahabatku.
Aku nggak tahu sudah berapa lama aku berada disini, ku lihat sinar mentari mulai muncul di ufuk timur, langsung aku mencari debu untuk tayamum dan melaksanakan 2 rakaat.
Dengan membelakangi arah munculnya matahari, aku mulai khusyuk dalam sholatku, dan aku mulai merasakan ketenangan hingga saat di sujud terakhir, aku kembali berdoa agar dipertemukan dengan sahabatku, tak terasa air mata tiba-tiba keluar tanpa aku dapat membendungnya, dan tangisku pecah saat itu, aku menjadi sangat merasa bersalah, aku merasa sangat lemah dan seakan aku tidak sanggup mengahadapi masalah ini, dan tangisku semakin kuat bahkan untuk bangkit dari sujud aku masih belum sanggup, aku terus memohon kepada Tuhan agar diberi keselamatan kepada kami berdua, hingga aku benar-benar merasa tenang dan menyelesaikan sholatku.
Ternyata ada benarnya, terkadang air mata menjadi obat saat dalam kesusahan. Setelah menangis hingga meraung-raung, kini aku sudah bisa menguasai diriku.
Aku mencoba untuk bernafas, namun tetap juga sulit, aku mencoba membuka mata, ternyata aku tidak bermimpi. Tindihan yang menimpaku terasa semakin berat, dan bernafaspun sudah sangat sulit aku lakukan.
Aku mencoba untuk melawan, namun tindihan yang kurasakan semakin berat, bahkan untuk menggerakan anggota badanpun aku tak bisa, aku tetap berusaha untuk melawan tindihan tersebut.
Lalu dengan sisa kesadaran yang kumiliki aku mencoba membaca doa-doa mohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan Sang Maha Pencipta dan setelah aku membaca Ayat Kursi sebanyak 3 kali, akhirnya aku bisa bernafas dan aku berteriak sambil mengucap Istigfar.
Kini beban berat yang tadi menindihku sudah tidak terasa, akan tetapi nafas yang kurasakan belum begitu lancar.
Dengan penerangan lampu headlamp yang tergantung di dalam tenda, aku melihat keadaan di sekeliling, kulihat pintu tenda masih tertutup rapat, dan suara hewan malam memecah kesunyian.
Kemudian aku melihat ke arah Raja, ternyata dia sudah tidak ada, dia tidak ada lagi disampingku, tidak ada sesuatu apapun di tempatnya tidur tadi.
Aku menjadi bingung dan ketakutan, samar-samar aku seperti mendengar ada suara yang menyuruhku untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, aku menjadi panik dan nggak tau apa yang harus ku lakukan, yang pasti aku harus keluar mencari sahabatku, mencari keberadaannya.
Lalu dengan takut akupun membuka resleting tenda, kemudian melihat keluar, dan tidak ada apa-apa.
Aku masih sangat ketakutan, dan suara yang menyuruhku pergi masih tetap terdengar.
Aku langsung keluar dari tenda, dan mencari Raja. Aku menyenter di sekelilingi, akan tetapi aku tidak menemukannya.
Aku berusaha untuk menenangkan diri, akan tetapi sia-sia, aku sangat panik dalam keadaan dan kegelapan seperti ini.
Saat aku berdiri, aku melihat sekelebat bayangan putih dari arah pohon besar di dekat tenda, dan aku menjadi semakin takut, dan kini terdengar jelas suara tawa dari arah bayangan yang ku lihat tadi.
Suara tawa yang membuat bulu kudukku merinding, suara tawa nyaring milik wanita, dan untuk sejenak aku terdiam seperti patung, hampir saja aku tak kuasa untuk kehilangan kesadaran.
Aku nggak tahu apa yang harus kulakukan, dalam pikiranku, aku harus mengikuti suara bisikan yang kudengar sebelumnya, untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari tanpa tahu arah yang aku tuju, aku berlari dan berlari secepat yang aku mampu sambil berusaha menahan tangis dan juga berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran serta tidak lupa aku berdoa mohon perlindungan dari Allah dan segera dijumpakan dengan sahabatku, namun suara tawa sialan itu tetap saja mengikuti kemanapun aku berlari.
Entah sudah berapa kali aku terjatuh saat berlari, namun aku tetap bangkit dan berusaha untuk kabur, aku seperti dikejar oleh pemilik suara itu.
Sambil menahan sesak nafas di dada aku tetap berusaha untuk berjalan secapat mungkin bila ulu hatiku mulai terasa nyeri dan tidak memungkinkan lagi berlari.
Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berlari, namun jalan yang kurasakan sedikit menanjak, dan karena sudah sangat lelah dan putus asa, dengan mengucap Bismillah aku memberanikan diri.
Aku berhenti, tidak lagi berlari, aku sudah terlalu lelah tapi aku tidak mau menyerah.
Dengan di terangi cahaya bulan dan headlamp yang sempat aku ambil, ternyata kini aku berada di padang yang terbuka.
Aku terduduk di atas rerumputan karena untuk berdiripun aku sudah tidak sanggup. Aku menanti datangnya suara sialan tersebut berikut pemiliknya.
Setelah kutunggu-tunggu, suara tawa sialan itu tidak kunjung tiba, aku berusaha untuk menenangkan diri.
Aku hanya terduduk di padang rumput ini. Yang kupikirkan dimana keberadaan si Raja. Aku berusaha untuk menghubunginya, ternyata handphoneku tertinggal di dalam tenda tanpa sempat aku bawa saat pergi dari tempat tersebut.
Aku hanya diam dan diam, aku sangat kelelahan, baik fisik, mental maupun pikiranku.
Sambil menahan dingin, aku kembali melihat keadaan di sekeliling, yang ada hanya rerumputan dan pepohonan, lalu aku merebahkan diriku dengan tidak hentinya berdoa untuk keselamatan sahabatku.
Aku nggak tahu sudah berapa lama aku berada disini, ku lihat sinar mentari mulai muncul di ufuk timur, langsung aku mencari debu untuk tayamum dan melaksanakan 2 rakaat.
Dengan membelakangi arah munculnya matahari, aku mulai khusyuk dalam sholatku, dan aku mulai merasakan ketenangan hingga saat di sujud terakhir, aku kembali berdoa agar dipertemukan dengan sahabatku, tak terasa air mata tiba-tiba keluar tanpa aku dapat membendungnya, dan tangisku pecah saat itu, aku menjadi sangat merasa bersalah, aku merasa sangat lemah dan seakan aku tidak sanggup mengahadapi masalah ini, dan tangisku semakin kuat bahkan untuk bangkit dari sujud aku masih belum sanggup, aku terus memohon kepada Tuhan agar diberi keselamatan kepada kami berdua, hingga aku benar-benar merasa tenang dan menyelesaikan sholatku.
Ternyata ada benarnya, terkadang air mata menjadi obat saat dalam kesusahan. Setelah menangis hingga meraung-raung, kini aku sudah bisa menguasai diriku.
jondolson dan 6 lainnya memberi reputasi
7