Kaskus

Story

semutbulatAvatar border
TS
semutbulat
TOR DOLOK MALEA
TOR DOLOK MALEA

Permisi agan2...kali ini aku kembali berbagi kisah petualanganku dan seorang sahabatku, iya kami hanya berdua mendaki gunung yang sebenarnya bukan merupakan gunung yang lazim didaki orang, belum tentu dalam setahun, dua tahun bahkan 5 tahun ada orang yang mau mendakinya.

Perkenalkan nama aku Anto, asli Medan dan kini mengais rezeki di Kabupaten Mandailing Natal yang merupakan wilayah paling ujung dari Sumatera Utara.

Ok langsung aja ke ceritanya, cekicrottt...

Part I : Bukan Kaum Rebahan
Part II : Tertindih
Part III : Bisikan dan Tawa Makhluk Halus
Part IV : Kembali ke Tenda
Part V : Sarapan Sultan Mirip Sesajen
Part VI : Taman di Tengah Hutan
Part VII : Mencari Tempat Camp
Part VIII : Suara Itu Terdengar Kembali
Diubah oleh semutbulat 14-07-2021 11:44
dimaschevy62Avatar border
jondolsonAvatar border
Rohmatullah212Avatar border
Rohmatullah212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
4.4K
60
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
semutbulatAvatar border
TS
semutbulat
#8
Part V : Sarapan Sultan mirip Sesajen

"Emmmm"

Aku ngulet di dalam sleeping bag merah dengan aneka aroma milikku, yang terakhir aku cuci di Telaga Dewi Puncak Singgalang 3 bulan yang lalu untuk meluruskan badan.

Aku bersaha menyatukan sisa-sisa roh yang masih bergentayangan hingga sadar sepenuhnya.

Aku membalikan badan, dan mencari sesuatu di sampingku, ternyata di sampingku sudah kosong, tidak ada apa-apa, dan aku terkejut.

Aku langsung bangkit dan teringat kejadian sebelumnya, dan kini Raja sudah tidak ada lagi di sampingku.

Kulihat di luar tenda hari sudah terang, dan Raja lagi sibuk menyiapkan sesuatu dengan cangkir dan kompor portable sambil nelpon dengan sok mesra, yang aku yakin itu selingkuhan atau calon selingkuhannya, bukan pacarnya, kalo sama pacarnya palingan anak ini nelpon ngomongin jorok.

"Weissss Pangeran Saudi baru bangun, nyenyak kali kau tidur bang, semalam kusangka ada babi hutan sedang minta kimpoi, rupanya suara kau ngorok" ucapnya mengawali hari yang baru.

Aku hanya diam dan tidak menghiraukannya, lalu aku kembali tiduran sambil bermalas-malasan di dalam tenda dan mengingat-ingat kejadian semalam.

Badanku rasanya sangat lelah, dan kakiku terasa sangat pegal.

Aku mencoba memejamkan mataku kembali, akan tetapi Raja membangunkanku kali ini.

"Bangun kau bang, jangan tidur lama-lama, nanti jauh jodoh. Hahahhahaha" katanya.

"Tapi nggak tidur-tidurpun tetap aja jauh jodohmu, kalo orang dimandiin air bunga biar cepat kimpoi, kalo kau cocoknya dimandiin air comberan" sambungnya berusaha mencari keributan.

Aku masih tak ngehiraukannya, rasanya benar-benar sangat berat untuk berpisah dari sleeping bag.

"Bangun kau bang, udah jam 9 siang, ini udah kusiapkan kopi tanpa sianida" katanya lagi dari luar tenda.

Aroma kopi seolah-olah memanggilku untuk datang mendekat kepadanya.

Sambil malas-malasan, akupun keluar dari tenda dengan hiasan kosmetik baru bangun tidur berupa iler kering di pinggir bibir dan belek di mata, lalu aku duduk di atas batu yang ada di samping tenda agar tidak melihat pohon sialan dimana aku menyaksikan bayangan putih yang terbang semalam, karena jujur aku masih takut untuk menatap pohon tersebut.

"Bangun tidur nggak bangun tidur muka kau nggak ada bedanya bang, tetap anarkis, hahahahha" katanya yang lagi-lagi mengajak bercanda.

"Astaga, jorok kali baju kau bang, kepalapun berdebu semua, dari mana kau semalam, tidur di luar kau bang, atau jangan-jangan betul yang kubilang tadi, ada babi hutan mau minta kimpoi, terus ngesot-ngesot di tanah. Hahhahahaha" cerocosnya setelah melihat baju aku yang kotor akibat jatuh semalam sambil memberikan secangkir kopi.

"Udah minum bang, nanti keburu dingin, nggak enak" pintanya.

"Ya udah, mandi kau dulu sana bang, siap itu sarapan kita, itu udah aku masak" katanya lagi.

Lalu aku melihat ke seberang tenda dari tempat dudukku, pas di dekat pohon sumber suara ketawa sialan itu.

"Wowww, ini anak ngajak camping atau ngajak bulan madu" kataku dalam hati.

Kulihat sarapan ala sultan saat mendaki sudah terhidang di bawah pohon itu, dan kalo kuperhatikan lagi, mengingat kejadian semalam, sudah persisi mirip dengan sesajen untuk penunggu pohon keramat dari pada hidangan sarapan.

Roti isi, telur mata sapi, sosis, salad sayur, kentang goreng dan nugget ada di situ.

Walaupun aku tidak terbiasa sarapan berat, akan tetapi melihat makanan yang begitu menggiurkan, rasanya aku sanggup menghabiskan semua makanan itu.

"Ja, ulang tahun abang masih lama, jangan bilang kau mau nembak aku di tempat ini, hahhahaha" selorohku kepadanya.

"Udah mandi kau sana bang, di air terjun, segar airnya, udah lapar kali aku" pintanya, "kalo nembak nggak mungkin bang, tapi kalo mau bakar kau kemungkinan besar iya, hahahhaha, kapan lagi kita bisa mendaki kayak sultan" sambungnya.

"Sultan kepala kau, nggak tau kau tadi malam aku hampir gila" kataku dalam hati.

Lalu aku langsung masuk ke tenda mengambil peralatan mandi berupa sikat gigi, odol dan sabun yang merangkap sampo.

Saat di dekat air terjun aku kembali memikirkan hal semalam, dan aku akan meminta kepada Raja agar kami segera turun tidak jadi naik saat makan nanti.

Saat masuk ke dalam air, aku meraskan perih di kakiku, ternyata di kakiku sudah terdapat banyak lecet dan bekas goresan akibat jatuh semalam, dan aku menemukan alasan agar mandi tidak lama, padahal alasan utama, karena aku memang malas mandi apalagi airnya sangat dingin.

Selesai mandi aku kembali ke tenda dan Raja kembali mengajak ku bercanda "Udah mandi kau bang?" tanyanya memancing.

"Kenapa, kau mau bilang mandi nggak mandi sama aja jeleknya, basi" jawabku.

"Ja kita sarapannya disini aja, jangan dibawah pohon" ajakku kepadanya agar kami makan di tempat yang terbuka, jauh dari pohon yang sebenarnya masih membuatku takut.

Saat makan, aku mengutarakan maksudku agar kami tidak jadi meneruskan perjalanan ini, akan tetapi Raja tetap bersikeras agar kami tetap mendaki.

"Ja, calon orang rumah abang nelpon, ada acara kami nanti malam" kataku.

"Rumah mana bang, rumah makan atau rumah sakit" jawabnya seoalah-olah tidak peduli.

"Seriuslah Ja, nggak bisa abang naik lagi, nantilah abang ceritakan samamu" kataku lagi.

Akan tetapi anak ini tetap memaksa untuk meneruskan perjalanan, karena dia mengatakan ada sesuatu yang menarik di puncak bukit ini, dan hanya bisa kita lihat dari atas sana.

Entah kenapa anak ini selalu berhasil meyakinkanku, dan seolah-olah dia bisa membuat aku menjadi penasaran dengan mengatakan "Semacam ada bekas peradaban di atas sana bang".

Akhirnya setelah mempacking barang kami melanjutkan perjalanan, dan saat di dekat jurang dengan akar-akar yang menjuntai sehingga membentuk seperti anak tangga aku mengatakan kepadanya "Lewat sini aja, manjat ke atas lewat akar-akar ini, lebih dekat".

"Sok tau kau bang, nanti nyasar, mending sak ganteng timbang sok tau, kalo sok ganteng cuma kau yang susah, tapi kalo sok tau, orang lain bisa ikut susah" jawabnya.

"Udah ikutin aja, nggak usah bacot, kalo salah ntar ke Semeru abang yang bayar ongkos semua" kataku lagi meyakinkannya.

Setelah mendengar kata Semeru anak ini terlihat nenjadi tidak semangat dan murung, dan dia hanya menjawab "Iyalah bang" lalu memulai untuk memanjat.

Dia memanjat di depan sedangkan aku di belakangnya, sambil sekali-sekali dia menarik aku agar bisa memanjat di titik-titik tertentu.

Padahal tadi malam rasanya tidak lah terlalu susah melewati tempat ini, tapi kini rasanya sangat susah.

Dan aku baru sadar "Iyalah begok, semalamkan menurun, ini harus memanjat, pasti aja jauh beda".

Dengan susah payah untuk mengangkat keril plus membawa lemak akhirnya kami sampai di atas jurang ini, aku mulai keringatan, dan nafas yang memburu, lagian baru jalan udah langsung memanjat tanpa ada pemanasan.

Raja hanya tersenyum meleceh kepadaku, seolah dia berkata "Siapa suruh nimbun lemak, lagian jalan kok maksa, udah mirip beruang akar kau bang pas manjat tadi".

"Udah kau nggak usah ngejek" kataku kepadanya sambil duduk dengan mengatur nafas yang tak karuan.

"Siapa yang ngejek, aku aja cuma diam, hahahhahha" jawabnya sambil ketawa kencang.

"Nggak perlupun kau ngomong, udah tau aku apa diotak kau" jawabku lagi.

Terkadang bila orang sudah berteman dekat, tanpa harus bersuara kita sudah tau apa yang akan disampaikannya, misalnya kalo ada orang yang lewat di depan kami dengan tampilan aneh, rambut pirang, muka putih, leher hitam, bibir merah udah persis kayak bendera Mesir, kami bisa sama-sama tertawa bila saling tatap-tatapan tanda harus berbicara.

"Udah yok jalan" ajakku kepadanya.

Sesampai di simpang bekas ranting-ranting yang kupatahkan kemarin, kami berbelok ke arah kanan dan Raja berbicara "Siapalah orang bodoh yang matah-matahin pohon ini" katanya.

Kemudian kami terus berjalan sampai kami tiba di dekat kuburan yang semalam juga aku lihat, dan Raja berkata lagi "Permisi numpang lewat".

"Iyaaa" jawabku dengan suara yang agak diberat-beratkan.

Mendengar jawabanku Raja menjadi kaget, dan dia tampak melotot dan berkata "Canda kau ntah apa-apa bang, nggak lihat situasi".

"Abang sangka kau bicara sama abang Ja" jawabku sambil menahan tawa yang sebenarnya juga takut kena kualat.

Kami terus berjalan, melewati jalan setapak dengan rindangnya pepohonan hingga kami tiba di padang rumput tempat aku rebahan kemarin.

Bila semalam saat kemari aku berlari dan jalan cepat, hingga sampai 2 jam, kini kami hanya memerlukan waktu 45 menit lewat jalan pintas dengan memanjat jurang melalui sela-sela akar pohon yang menjuntai.

Ternyata padang rumput ini sangat indah, bila semalam aku tidak bisa melihat keindahan itu karena pikiranku yang kacau, kini aku benar-benar bisa menikmatinya.

Walaupun pandangan ke depan terhalang oleh bukit yang ada di depannya, tetapi bukit itu menjadi keindahan tersendiri dengan lembah di antaranya.

Kami beristirahat disini lalu aku menceritakan kejadian semalam yang kualami.

Awalnya Raja nggak percaya akan ceritaku, lagian kami memang susah untuk saling percaya bila ada yang bercerita tanpa didahului sumpah, setelah aku bersumpah dan menjelaskan dari mana aku bisa mengetahui jalan potong tersebut baru dia percaya.

Dia mengatakan kepadaku, bahwa semalaman dia hanya tidur tanpa ada pernah keluar tenda, dan dia juga tidak ada mendengar aku berteriak apalagi mendengar suara tawa wanita.

Kini giliran aku yang terkejut dan terheran-heran, semua menjadi misteri, tanpa dapat dijelaskan dengan nalar, karena aku yakin semalam sama sekali tidak ada melihat dia setelah tertindih.

Setelah mendengar ceritaku, awalnya dia ragu untuk meneruskan perjalanan ini, akan tetapi anak ini memang sulit diprediksi, tiba-tiba dia mengajakku untuk berjalan kembali, dan anehnya lagi, kenapa aku selalu mau menurutinya.

Kami meneruskan perjalanan setelah mencari-cari jalan melewati padang ini. Jalur pendakian berupa dataran kurang lebih 50 meter kami lalui, dan setelah itu trek berubah total, jalanan terus menanjak, dan pepohonan mulai berbeda, tidak ada lagi tanaman karet disini, yang ada hanya tanaman hutan hujan khas Sumatera, dimana hampir sepanjangan jalur tertutup pohon besar, tidak ada lagi bonus pemandangan terbuka, hanya ada hutan yang jarak pohonnya saling berdekatan.

Kami terus menanjak, keringat mulai membasahi bajuku akibat lemak yang mulai mencair, hitung-hitung donor lemak di tempat ini. Tidak ada lagi bonus dataran, yang ada hanya tanjakan dan tanjakan yang bervariasi melalui jalur akar. Untungnya kami jalan di musim kemarau yang panas seperti saat ini, karena bila musim hujan dapat dipastikan jalur ini akan menjadi sangat licin, akan tetapi dengan panasnya hari, membuat kami lebih mudah untuk merasa lelah.

Tidak hanya bajuku yang kuyup, bahkan dalaman yang kupakai rasanya sudah basah semua, dan Raja juga mulai kelihatan lelah.

Sudah hampir 3 jam kami berjalan akan tetapi trek jalur masih belum berubah, masih di dominasi jalur akar dengan pepohonan yang besar dan rapat.

Kali ini kami jarang bercanda seperti sebelum-sebelumnya selain untuk menghemat tenaga, panasnya hari membuat kami hampir lupa untuk tertawa.

"Bang ayok, angkat lemakmu lebih tinggi, udah ada dataran ini, dikit lagi" ajak Raja yang sudah ada di atas.

Bukannya semangat, aku malah dongkol melihatnya, bisa-bisanya anak ini menyembunyikan mancis/korek biar aku nggak merokok sambil jalan, dan mulutku mulai asem tanpa bersilturahmi dengan nikotin sejak sejam yang lalu.

Sesampainya di atas aku baru bisa bernafas sedikit lega melihat bonus jalur lurus.

Kami berjalan kembali hingga kami tiba di tempat yang membuatku takjub.

Bersambung dulu gan....
bohemianflaneur
indrag057
jondolson
jondolson dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.