- Beranda
- Stories from the Heart
TOR DOLOK MALEA
...
TS
semutbulat
TOR DOLOK MALEA

Permisi agan2...kali ini aku kembali berbagi kisah petualanganku dan seorang sahabatku, iya kami hanya berdua mendaki gunung yang sebenarnya bukan merupakan gunung yang lazim didaki orang, belum tentu dalam setahun, dua tahun bahkan 5 tahun ada orang yang mau mendakinya.
Perkenalkan nama aku Anto, asli Medan dan kini mengais rezeki di Kabupaten Mandailing Natal yang merupakan wilayah paling ujung dari Sumatera Utara.
Ok langsung aja ke ceritanya, cekicrottt...
Part I : Bukan Kaum Rebahan
Part II : Tertindih
Part III : Bisikan dan Tawa Makhluk Halus
Part IV : Kembali ke Tenda
Part V : Sarapan Sultan Mirip Sesajen
Part VI : Taman di Tengah Hutan
Part VII : Mencari Tempat Camp
Part VIII : Suara Itu Terdengar Kembali
Diubah oleh semutbulat 14-07-2021 11:44
Rohmatullah212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
4.3K
60
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
semutbulat
#1
Part I : Bukan Kaum Rebahan
Siapapun pasti suntuk disuruh diam di rumah seperti ini, 3 bulan lebih kena lock down dan tidak bisa keluar kota, karena untuk masuk ke Propinsi Sumatera Barat, jalanan ditutup total, sedangkan ke arah Medan, baru sampai di Kota Padang Sidempuan saja sudah mendapat pengawasan yang ketat, akan tetapi demi kebaikan bersama, aku rasa itulah yang terbaik, namun rasa jenuh akhirnya datang juga dan aku menemukan alasan untuk kembali menjelajah hutan di kota ini, Panyabungan, Mandailing Natal.
Sudah sejak seminggu yang lalu Raja mengajak aku untuk pergi ke Dolok Malea, sebuah bukit bahkan bisa disebut gunung yang sebenarnya telah sejak lama aku tau, tapi sama sekali tidak ada niat untuk pergi kesana, alasannya karena medan untuk menuju puncak Dolok Malea sangat tidak mendukung untuk didaki. Jarang sekali orang pergi ke tempat tersebut dan aku juga tidak tahu apa yang ada disana. Yang aku tau hanya namanya.
Dolok Malea adalah sebuah bukit yang berada disisi timur Kota Panyabungan, dengan ketinggian tidak sampai 2.000 mdpl.
Salah satu yang unik dari Dolok Malea tersebut adalah puncaknya yang menyerupai sebuah kepundan gunung namun tidak berbentuk kerucut, tetapi agak rata. Karena permukaannya yang rata ini, banyak orang menduga bahwa di puncak tor Dolok Malea tersebut terdapat sebuah pertapakan rumah atau perkampungan (Walaupun ketika ditanya orang mana yang mau tinggal di tempat tinggi yang sulit terjangkau itu, orangnya yang menduga sendiripun tidak dapat menjawabnya).
Di sekitaran puncak bukit ini terdapat kayu alim, kayu yang harganya sangat mahal, perkilonya bisa mencapai jutaan rupiah.
"Woi Bagudung, jadinya kita yang pergi itu?" kataku kepada Raja yang sibuk dengan mobile legend di dalam kamarnya, lagian epic abadi, mainnya serius benar kayak orang lagi ikut ujian tes CPNS.
"Woiiiii, jadi pergi nggak?" tanyaku lagi sambil melempar asbak rokok.
"Iya jadi bang, pasti, apapun yang terjadi" jawabnya sambil tetap fokus pada hpnya.
"Ok lah Ja" jawabku sambil pergi namun tidak lupa menelponnya agar jaringannya terputus.
"Antoooooo heboh kali kau, jadi ngeleg bodat" makinya kesal.
Sudah sejak seminggu yang lalu anak ini berencana mengajakku pergi untuk kembali ke habitat asli sebagai reinkarnasi dari sun go kong berchasing pat kay, dan karena memang sudah terlalu bosan berdiam diri di rumah, aku menyetujuinya, dengan pertimbangan, kami berada di zona hijau, dan tempat yang akan kami kunjungi bukan daerah objek wisata, melainkan hutan belantara.
Selesai Sholat Jumat, berhubungan mandor di sawah sedang keluar kota, akupun cabut kerja dan langsung ke rumah Raja untuk mempacking barang, emang cuma anak sekolah yang bisa cabut, petani juga bisa coyyyy.
Saat tiba di rumahnya aku sangat terkejut karena segala keperluan sudah disiapi oleh Raja, sebenarnya aku merasa agak aneh, tumben anak ini mau nyiapin semua, biasanya juga dia paling malas kalo belanja kebutuhan logistik.
Setelah kuperiksa ternyata semua sudah lengkap, dan terkesan berlebihan.
"Ja, kau taukan jalannya?" tanyaku sambil merapikan jacket dan onderdil lainnya.
"Tau bang, udah pernah aku kesana" jawabnya sambil membantui aku memasukan barang-barang ke dalam keril.
"Kau yakin kita cuma berdua Ja, nanti kalo ada apa-apa susah Ja?" tanyaku kembali.
"Yakin loh bang Anto, kalo nggak yakin, nggak mungkin aku mau jalan" jawabnya.
Memang kami sering jalan berdua dengan anak ini, walaupun terkadang juga jalan beramai-ramai dengan teman yang lainnya, akan tetapi bila naik gunung, atau masuk ke dalam hutan, biasanya kami hanya berdua, bukannya apa-apa, yang lain pada nggak mau ikut, mungkin cuma kami berdua di kota ini yang kurang kerjaan.
Bahkan anak ini juga pernah rela datang saat dia di luar kota pada waktu subuh dengan menempuh waktu 2 jam hanya sekedar menemani aku agar ada kawan di jalan saat melihat air terjun, padahal saat itu aku jalan ikut dengan rombongan pecinta alam di kota ini, yang mana rombongan tersebut merupakan teman-teman lamanya, akan tetapi sepertinya dia tau, kalo aku bakal ketinggalan dan jalan sendirian. Cerita ini akan saya tuliskan pada cerita berikutnya.
Setelah semua beres, kami langsung jalan menuju desa terakhir untuk menitipkan sepeda motor yang berjarak hanya sekitar 30 menit dari rumah.
Sesampainya di desa tersebut, kami meminta izin kepada Kepala Desa untuk masuk ke dalam kawasannya (itu Kades atau preman, pakek istilah kawasan, wilayah kali maksudnya), dan saat mengutarakan maksud kami, Kepala Desa tersebut terkejut, (jreng jreeenggg, Kumenangissss, membayangkan betapa kejamnya dirimu.....woiiiii ini bukan sinetron Indosiar tentang pelakor, nggak usah dinyanyikan juga bacanya, dramatisir bener hidupnya, hahhaahha).
Kepala Desa tersebut menyarankan kepada kami agar memakai pemandu jalan biar tidak tersasar, karena bukit yang akan kami kunjungi sangat jarang di datangi orang dan jalurnya juga tidak terlalu jelas, akan tetapi Raja tetap memaksa agar kami diizinkan jalan berdua saja tanpa ada pemandu, dan entah apa yang mereka ceritakan, akhirnya Kepala Desa memberikan izin kepada kami untuk meneruskan perjalanan.
Walaupun tidak terlalu tinggi, akan tetapi untuk menuju puncak Dolok Malea ini bisa memakan waktu hingga 2 sampai 3 hari, tergantung fisik kita.
"Ngomong apa kau tadi Ja sama Kepala Desa sampai bisa dapat izin?" tanyaku penasaran di sela-sela perjalanan kami.
"Kubilang aja kau toke getah dari Malaysia mau nyari tanah disini bang" jawabnya ngasal.
"Seriuslah lapet, apa kau bilang sama Kepala Desa?, nanti kau bilang aku Polisi mau nangkap orang di atas" tanyaku nggak mau kalah ngasal.
"Hahahahha" tawanya mendengar apa yang kusampaikan, "Nggak mungkinlah bapak itu percaya kalo kau polisi bang, akupun kalo mau nipu lihat-lihat keadaan, iya kali ada polisi badannya kayak orang kena biri-biri, mukanya kayak kena santet" sambungnya.
"Mending, dari pada kau, body kuli, kulit putih bersih, muka kinclong, Kuli jadi sales skincare, hahahaha" jawabku nggak mau kalah.
"Kubilang tadi kita dari pegawai Taman Nasional Batang Gadis, dan nengok muka kau langsung percaya bapak itu bang, soalnya muka kau kayak orang kelamaan di hutan yang nggak pernah mandi" jawabnya tanpa ku tanya lagi.
Siapapun pasti suntuk disuruh diam di rumah seperti ini, 3 bulan lebih kena lock down dan tidak bisa keluar kota, karena untuk masuk ke Propinsi Sumatera Barat, jalanan ditutup total, sedangkan ke arah Medan, baru sampai di Kota Padang Sidempuan saja sudah mendapat pengawasan yang ketat, akan tetapi demi kebaikan bersama, aku rasa itulah yang terbaik, namun rasa jenuh akhirnya datang juga dan aku menemukan alasan untuk kembali menjelajah hutan di kota ini, Panyabungan, Mandailing Natal.
Sudah sejak seminggu yang lalu Raja mengajak aku untuk pergi ke Dolok Malea, sebuah bukit bahkan bisa disebut gunung yang sebenarnya telah sejak lama aku tau, tapi sama sekali tidak ada niat untuk pergi kesana, alasannya karena medan untuk menuju puncak Dolok Malea sangat tidak mendukung untuk didaki. Jarang sekali orang pergi ke tempat tersebut dan aku juga tidak tahu apa yang ada disana. Yang aku tau hanya namanya.
Dolok Malea adalah sebuah bukit yang berada disisi timur Kota Panyabungan, dengan ketinggian tidak sampai 2.000 mdpl.
Salah satu yang unik dari Dolok Malea tersebut adalah puncaknya yang menyerupai sebuah kepundan gunung namun tidak berbentuk kerucut, tetapi agak rata. Karena permukaannya yang rata ini, banyak orang menduga bahwa di puncak tor Dolok Malea tersebut terdapat sebuah pertapakan rumah atau perkampungan (Walaupun ketika ditanya orang mana yang mau tinggal di tempat tinggi yang sulit terjangkau itu, orangnya yang menduga sendiripun tidak dapat menjawabnya).
Di sekitaran puncak bukit ini terdapat kayu alim, kayu yang harganya sangat mahal, perkilonya bisa mencapai jutaan rupiah.
"Woi Bagudung, jadinya kita yang pergi itu?" kataku kepada Raja yang sibuk dengan mobile legend di dalam kamarnya, lagian epic abadi, mainnya serius benar kayak orang lagi ikut ujian tes CPNS.
"Woiiiii, jadi pergi nggak?" tanyaku lagi sambil melempar asbak rokok.
"Iya jadi bang, pasti, apapun yang terjadi" jawabnya sambil tetap fokus pada hpnya.
"Ok lah Ja" jawabku sambil pergi namun tidak lupa menelponnya agar jaringannya terputus.
"Antoooooo heboh kali kau, jadi ngeleg bodat" makinya kesal.
Sudah sejak seminggu yang lalu anak ini berencana mengajakku pergi untuk kembali ke habitat asli sebagai reinkarnasi dari sun go kong berchasing pat kay, dan karena memang sudah terlalu bosan berdiam diri di rumah, aku menyetujuinya, dengan pertimbangan, kami berada di zona hijau, dan tempat yang akan kami kunjungi bukan daerah objek wisata, melainkan hutan belantara.
Selesai Sholat Jumat, berhubungan mandor di sawah sedang keluar kota, akupun cabut kerja dan langsung ke rumah Raja untuk mempacking barang, emang cuma anak sekolah yang bisa cabut, petani juga bisa coyyyy.
Saat tiba di rumahnya aku sangat terkejut karena segala keperluan sudah disiapi oleh Raja, sebenarnya aku merasa agak aneh, tumben anak ini mau nyiapin semua, biasanya juga dia paling malas kalo belanja kebutuhan logistik.
Setelah kuperiksa ternyata semua sudah lengkap, dan terkesan berlebihan.
"Ja, kau taukan jalannya?" tanyaku sambil merapikan jacket dan onderdil lainnya.
"Tau bang, udah pernah aku kesana" jawabnya sambil membantui aku memasukan barang-barang ke dalam keril.
"Kau yakin kita cuma berdua Ja, nanti kalo ada apa-apa susah Ja?" tanyaku kembali.
"Yakin loh bang Anto, kalo nggak yakin, nggak mungkin aku mau jalan" jawabnya.
Memang kami sering jalan berdua dengan anak ini, walaupun terkadang juga jalan beramai-ramai dengan teman yang lainnya, akan tetapi bila naik gunung, atau masuk ke dalam hutan, biasanya kami hanya berdua, bukannya apa-apa, yang lain pada nggak mau ikut, mungkin cuma kami berdua di kota ini yang kurang kerjaan.
Bahkan anak ini juga pernah rela datang saat dia di luar kota pada waktu subuh dengan menempuh waktu 2 jam hanya sekedar menemani aku agar ada kawan di jalan saat melihat air terjun, padahal saat itu aku jalan ikut dengan rombongan pecinta alam di kota ini, yang mana rombongan tersebut merupakan teman-teman lamanya, akan tetapi sepertinya dia tau, kalo aku bakal ketinggalan dan jalan sendirian. Cerita ini akan saya tuliskan pada cerita berikutnya.
Setelah semua beres, kami langsung jalan menuju desa terakhir untuk menitipkan sepeda motor yang berjarak hanya sekitar 30 menit dari rumah.
Sesampainya di desa tersebut, kami meminta izin kepada Kepala Desa untuk masuk ke dalam kawasannya (itu Kades atau preman, pakek istilah kawasan, wilayah kali maksudnya), dan saat mengutarakan maksud kami, Kepala Desa tersebut terkejut, (jreng jreeenggg, Kumenangissss, membayangkan betapa kejamnya dirimu.....woiiiii ini bukan sinetron Indosiar tentang pelakor, nggak usah dinyanyikan juga bacanya, dramatisir bener hidupnya, hahhaahha).
Kepala Desa tersebut menyarankan kepada kami agar memakai pemandu jalan biar tidak tersasar, karena bukit yang akan kami kunjungi sangat jarang di datangi orang dan jalurnya juga tidak terlalu jelas, akan tetapi Raja tetap memaksa agar kami diizinkan jalan berdua saja tanpa ada pemandu, dan entah apa yang mereka ceritakan, akhirnya Kepala Desa memberikan izin kepada kami untuk meneruskan perjalanan.
Walaupun tidak terlalu tinggi, akan tetapi untuk menuju puncak Dolok Malea ini bisa memakan waktu hingga 2 sampai 3 hari, tergantung fisik kita.
"Ngomong apa kau tadi Ja sama Kepala Desa sampai bisa dapat izin?" tanyaku penasaran di sela-sela perjalanan kami.
"Kubilang aja kau toke getah dari Malaysia mau nyari tanah disini bang" jawabnya ngasal.
"Seriuslah lapet, apa kau bilang sama Kepala Desa?, nanti kau bilang aku Polisi mau nangkap orang di atas" tanyaku nggak mau kalah ngasal.
"Hahahahha" tawanya mendengar apa yang kusampaikan, "Nggak mungkinlah bapak itu percaya kalo kau polisi bang, akupun kalo mau nipu lihat-lihat keadaan, iya kali ada polisi badannya kayak orang kena biri-biri, mukanya kayak kena santet" sambungnya.
"Mending, dari pada kau, body kuli, kulit putih bersih, muka kinclong, Kuli jadi sales skincare, hahahaha" jawabku nggak mau kalah.
"Kubilang tadi kita dari pegawai Taman Nasional Batang Gadis, dan nengok muka kau langsung percaya bapak itu bang, soalnya muka kau kayak orang kelamaan di hutan yang nggak pernah mandi" jawabnya tanpa ku tanya lagi.
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6