Kupetik bintang, untuk kau simpan. Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan. Sebagai pengingat teman. Juga sebagai jawaban, semua tantangan.
Quote:
Di Kamis yang cerah di jalan Kaji yang ramai, semua pasukan masih tersusun rapih didalam barisan. Hari ini kami tidak ada niat untuk ngalong, hanya mau menunggu bus yang biasa datang menjemput dan mengantar kami. Ini masih siang, matahari sedikit malu menampakan sinarnya. Hanya gumpalan awan yang masih bersemayam dilangit langit galau, menyisahkan tanda tanya apakah hari ini akan turun hujan.
"** (Sekolah tetangga) lagi mau jalan ke B**k. Mau nyamperin ** (Sekolah musuh" Kata salah satu teman ane.
"Godain aja dulu, nanti kalo minta gabungan minta kolekannya" Kata teman ane. Ane tidak mau berbicara banyak, hanya mau menyimak dan mengikuti yang lain.
Tiba tiba keluarlah sekolah tetangga dari arah berlawanan tempat kami menunggu bus. Lumayan banyak jumlahnya.
"Buka lah" Kata Anca. Tengil emang nih anak haha.
"Lu dong" Kata salah satu teman ane.
Anca bangun dari tempat duduknya, mengambil batu lalu menyebrang ke tengah jalan. Kami hanya melihati tingkahnya itu, sambil mengambil ancang ancang jika terjadi keributan.
Anca menimpuk batu ke arah sekolah tetangga kami. Tapi tak ada gerakan yang memancing kami. Hanya ada satu orang yang mendekat ke arah tempat kami duduk. Cukup berani memang orang itu.
"Gabungan aja, anak anak gw mau bantai ** (Sekolah musuh)" Kata anak itu.
Kami semua sedikit tertawa karena ajakannya, tidak tau malu juga rasa rasanya meminta gabungan ke sekolah kami.
"Yaudeh, tapi kolekannye buat gw" Kata teman ane anak basis Gajah Mada.
"Iyee bang nanti gw kolekin" Kata anak itu.
Akhirnya kami bergabung bersama mereka yang mau membantai sekolah yang juga musuh bebuyutan kami.
Kami berjalan menaiki truk kontainer, kami semua naik, ada yang duduk di atasnya, disamping dan dibelakang. Teriakan teriakan sekolah mulai terdengar. Mencari eksistensi dijalan itu sudah dari dulu kami lakukan. Karena yang kami tau, mempertahankan lebih sulit daripada membesarkannya.
Truk melaju pelan, padahal kondisi jalan tidak terlalu ramai. Kepulan asap mulai terhirup. Tiba tiba truk yang kami tumpangi berhenti. Salah satu dari sekolah tetangga kami yang mengatur, katanya. "Turun disinih aja, jalan kaki". Kami mengikuti kemauannya. Kami turun dan berjalan menyusuri perkampungan. Banyaknya jumlah kami dijalan membuat orang orang sekitar sedikit menghindar. Para warga mungkin sedikit risih karena kedatangan kami. Namanya juga anak muda.
"Nanti kalo ribut, biar mereka aja dulu. Kita dibelakang, jangan ikutan" Kata ane.
"Biar dia cape duluan" Kata teman ane yang ikut setuju.
Salah satu dari mereka ada yang merekam aksi kami. Banyak yang bertanya hari ini akan terjadi apa. Tapi sampai saat ini belum ada tanda apa apa. Kami masih terus jalan ke arah jalur mereka. Berharap akan ada sesuatu yang istimewa untuk dijadikan kado di hari yang cerah.
"Lu masih sama Fauziyah, Tan" Kata teman ane.
"Masih, temenan doang" Jawab ane sambil menghisap rokok yang ada ditangan.
"Kok bisa sih gak musuhan" Kata teman ane.
"Kenapa harus musuhan? Udah gapunya masalah gua sama dia" Kata ane. Asap rokok masih mengepul.
"Hebat deh" Kata teman ane. Ane tidak menjawab dan hanya memberi senyum, berharap tidak ada pertanyaan lagi tentang Fauziyah.
Kami masih terus berjalan, tapi yang punya jalur sampai saat ini belum keliatan. Mungkin mereka sudah pulang duluan? Atau mereka sudah tau kami akan datang. Percuma sekali hari yang cerah ini, tidak ada cerita panas yang harus dibagi.
Karena jalur yang kami lewati sepi penghuni, kami singgah disalah satu perkampungan. Dekat dengan rumah teman salah satu basis ane yang kebetulan tinggal disinih. Ane duduk di dekat mainan anak anak. Didepan kami ada lapangan yang cukup luas untuk menampung semua yang masih berseragam pelajar. Salah satu dari mereka ada menagih uang untuk kolekan yang nantinya akan dipakai untuk keperluan selama disinih. Teman ane yang sekaligus punya wilayah hanya berpesan jaga kebersihan. Supaya nantinya jikalau kesinih lagi kita akan diterima.
Jam menunjukan pukul sore hari, pasti pelajar mereka sudah pulang kerumah masing masing. Niat awal kami harus batal sampai disinih. Karena bosan, teman ane membawa bola plastiknya, untuk kami mainkan bersama sama. Karena ane bosan, ane ikut bermain sebentar sekedar mencari keringat.
"Woy oper woy" Teriak ane ketika didepan gawang.
"Gooll" Teriak ane. Haha, ngos ngosan, padahal baru main 5 menitan. Maklum, rokok jadi kendala. Suatu hal yang hanya bisa ane sesali, tapi masih terus dijalani.
"Nih bang, cuma ada seginih" Kata salah satu dari mereka mengasih setumpuk uang yang lumayan banyak.
"Ger atur Ger" Kata ane ke Gerry.
"Udeh beliin aer sama rokok aja" Kata Gerry.
Anak itu nurut, lalu pergi ke warung membeli air dan rokok. Ane membuka ponsel, ternyata tidak ada pesan yang masuk. Biasanya jam seginih ada yang nanyain. Jadi kangen kamu, Sa.
"Sampe jam berapa nih" Kata Anca yang duduk disamping ane.
"Nanti sih, buru buru banget" Kata ane.
"Laper gw" Kata Anca.
"Makan noh rumput" Kata teman ane sambil tertawa.
Pasukan sekolah ane berkumpul, duduk sama rata. Kegiatan yang mungkin nanti akan susah dilakukan ketika lulus. Tidak akan lagi ngebasis sampai sore hari, semua akan sibuk untuk dunianya masing masing. Tidak ada ketawa haha hihi. Semuanya sibuk mencari jati diri. Tidak ada bercengkerama satu sama lain, karena sibuk memperkaya diri. Hehe.
Ketika kami sedang asik asiknya bergurau, ada salah satu anak dari sekolah yang kami cari. Sontak kami semua bangun, jumlahnya tak kurang dari 10 orang. Mereka hanya tertunduk ketika tau ada kami disinih. Padahal kami hanya memastikan, siapatau mereka punya niat menghadang. Tapi kayanya tidak, karena mereka hanya lewat dengan pala yang ditundukkan.
"Udah sore nih" Kata ane. Jam memang sudah menunjukan pukul sore hari, tapi kami semua masih saja duduk disinih.
"Iyaa, pulang aja" Kata teman ane basis Gajah Mada.
Akhirnya kami bangun, merapihkan semua bekas sisa sisa tadi. Kami ini pelajar, bukan orang yang tidak terdidik lalu boleh dihajar. Setelah dipastikan tidak ada sampah yang tertinggal, kami berjalan untuk pulang. Kami masih dalam kondisi ramai, sedikit berharap masih ada sisa keajaiban yang datang. Tapi, bukannya pelajar yang datang, malah ada salah satu anggota TNI yang berseragam menghampiri kami yang sedang jalan. Bapak TNI itu membentak salah satu anak sekolah tetangga. Menanyakan dari sekolah mana kami berasal.
"Dari sekolah mana kamu" Kata bapak berseragam.
"Dari sekolah ** pak" Kata anak itu, jawabannya ngasal.
"Jangan lari, selow aja" Kata ane ke pasukan kami.
"Mau kemana" Tanya bapak itu.
"Mau pulang pak" Jawab anak itu.
"Pulang hati hati, kalian bapak liatin. Bapak tangkepin nanti kalo sampai ada kejadian" Kata bapak itu. Kami mengiyakan. Dan terus berjalan dengan tenang.
Anak basis Gajah Mada pamit untuk pulang, kami berpisah dijalan Roxy yang sudah ramai karena jam pulang kantor. Basis ane tentu masih komplit. Ane membakar rokok yang tadi disimpan di kantung baju. Ane hisap lalu ane buang, menengok ke langit langit yang mulai agak gelap. Sudah kesekian kalinya ane pulang jam seginih, padahal sudah ada niatan untuk mengakhiri. Tapi ada sedikit rasa sadar juga, bila nanti semuanya akan tiba pada waktunya. Sudah tak punya waktu lagi untuk kembali, sudah gak bisa lagi pulang sore hari, sudah tak bisa merasakan kebersamaan, lagi.
Memang sulit dimengerti, untuk mencari alasan meninggalkan apa yang sudah sering kita jalani, hadapi dan syukuri. Tapi inilah hidup, roda terus berputar.
Naik turun sering kita temui, rasa rasanya kita harus tetap kuat untuk terus menjalani hidup yang tak pasti ini. Jangan pernah mengeluh, apalagih membodohi diri sendiri.
Basis ane sudah tiba diperkampungan tempat biasa kami lewati, ane ke warung sebentar membeli rokok dan kopi granita. Selesai membeli, perjalanan pulang harus dilanjuti, karena ada orang tua yang siap mempertanyakan anaknya. "Kemana saja hari ini" "Kenapa jam segini baru balik". Hehe, itu sudah ada fikiran ane. Sekarang tugas ane hanya perlu menjawabnya dengan alasan yang masuk akal.
Tak terasa ane sudah mau sampai rumah. Ane pamit untuk berpisah, teman teman ane yang lain melanjutkan perjalanan pulangnya. Ane sudah berada didepan rumah, siap untuk menjawab segudang pertanyaan. Kkrreekkk. Suara pintu ane buka. Lampu menerangi ruangan sekitar, seorang ibu sedang menunggu anaknya pulang. Dengan muka yang menahan marah, mungkin.
"Darimana jam seginih baru pulang" Tanya mamah ane.
"Main, kerumah temen" Jawab ane.
"Main apa main? Yang lain udah pada pulang kok Aa belum pulang" Kata mamah ane.
"Main Mah" Kata ane sambil membuka sepatu.
"Makan langsung" Kata mamah ane.
Ane tidak menjawab, rasa lapar ane turun karena badan ane memaksa untuk langsung diistirahatkan. Ane naik keatas, ke kamar yang menjadi tempat paling dirindukan ketika baru pulang dari lelahnya dunia luar.
Tak terasa, hari demi hari sudah ane lalui. Semua kenangan masih terus terbayang. Semua kegiatan tadi ternyata sudah selesai. Berjalan berdampingan layaknya raja jalanan. Beriringan tanpa ketakutan. Semua yang dilakukan ternyata hanya kesenangan semata. Tak ada yang abadi, di dunia ini.