Quote:
Hari yang cerah di langit ibukota. Perjalanan ini masih panjang, iyaa benar. Masih banyak yang harus ku kejar lalu ku gapai. Ada atau tidak bersamanya
Quote:
Dikelas yang ramai ku angkat kursi duduk yang tadinya tersusun diatas meja bekas pekerjaan piket teman temanku. Membereskan jaket yang ku kenakan lalu menaruh tas diatas meja yang selalu menjadi kebiasaanku lalu merebahkan kepala yang masih tertunduk ngantuk karena kurangnya jam tidur hari lalu.
"Masih pagi boy, udah ngantuk aja" Kata Daniel menggebrak sedikit meja yang kujadikan kasur.
"Ngantuk Cek gua" Kataku yang sebenarnya sedikit terganggu karena ulahnya itu.
"Liverpool gw menang nih tadi malem lawan Manchester City" Kata Daniel yang sedang meledek Ozan. Padahal Ozan baru saja sampai dikelas pagi itu.
"Gabakal nyenyak deh kalo udeh beginih" Gerutu ku mendengar ocehan temanku yang mulai ramai.
Ozan dan Daniel masih terus mengeluarkan pembelaan masing masing tentang klub bola kesukaannya. Tak ada yang mau mengalah sampai Ocol tiba tiba datang menimbrung obrolan mereka.
"Udehlah nonton Persija aja enak, deket. Gak perlu jauh jauh keluar negeri" Kata Ocol sambil tertawa.
"Alah bacot. Udeh bel noh keluar sonoh deh" Kataku lalu bangun dari tempat duduk. Lalu keluar kelas untuk mengikuti kegiatan baris berbaris yang dimulai sebelum jam pelajar dimulai.
Satu persatu dari kami keluar lalu berbaris didepan pintu.
"Oiyaa hari ini ada praktek bu Ernita bego" Kata Anca.
Bu Ernita adalah guru yang sangat ditakuti oleh semua murid disinih. Pembawaan materi yang sedikit berbeda dari guru yang lainnya membuat beliau sangat disegani dan ditakuti.
Semua murid masuk ke kelas dan duduk di kursinya masing masing. Bu Ernita masih tetap berdiri dan memandang anak murid yang akan diajarinya.
"Sudah baca doa?" Tanya bu Ernita dengan suara lantangnya.
"Zan siapin Zan" Kataku menyenggol Ozan untuk segera memimpin doa.
"Itu Revika ada" Kata Ozan.
Revika menengok ke Ozan. Dengan muka cueknya menatap Ozan dengan tatapan yang tajam lalu memalingkan muka lagi kedepan.
"Apadah tuh cewek" Kataku, suaranya kecil karena takut terdengar oleh orangnya.
BERSIAP. BERDOA, MULAI.
Suasana hening sementara dari kelas yang biasanya terlihat ramai. Pagi ini kami menjalani sesi doa dengan khidmat. Tak ada suara yang keluar kecuali bisik bisikan surat Al Fatiha...
BERDOA SELESAI. MEMBERI SALAM
"Assalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh" Ucap kami serentak.
"Walaiqumsalam" Jawab bu Ernita yang setau ku dia adalah non muslim. Tapi itu bukanlah suatu hal yang harus dipermasalahkan.
Tidak ada suara yang keluar, semua nampak canggung karena jam pertama hari ini diisi oleh guru yang tidak biasanya, atau bisa dibilang berbeda wataknya dengan guru guru yang lain.
"Hari ini materinya nyanyi"
"Yang maju kedepan lalu bernyanyi akan mendapatkan nilai" Kata bu Ernita dari kursi guru yang tersedia didepan.
Tengok tengokan mulai terlihat karena mungkin tidak ada yang punya persiapan tentang materi yang dibawakan hari ini. Wajah wajah murung sudah mulai menampakan wujudnya. Ada yang malu, ragu, ingin maju tak masih malu.
"Lagu Indonesia bu?" Tanyaku. Lalu sontak semua menengok kebelakang tempat duduk ku.
"Iyaa lagu Indonesia, lagu pop apa saja" Kata bu Ernita.
Bu Ernita masih menunggu sambil memutar mutarkan pulpen yang berada di jari jemarinya. Sedangkan kami masih sibuk tunjuk tunjukan untuk siapa yang harus maju terlebih dahulu.
"Kalo gak ada yang maju ibu keluar aja" Kata bu Ernita yang lalu bangkit dari tempat duduknya.
Bu Ernita benar benar keluar dari kelas kami, keributan mulai terdengar tentang materi hari ini. Tunjuk tunjukan dan salah salahan sudah pasti jadi ajang dikelas kami hari itu.
"Lu aja Col maju" Kataku menyuruh Ocol untuk memulai.
"Lo dulu maju, baru gw maju" Kata Ocol yang menyuruh ku balik.
Bu Ernita kembali lagi ke kelas kami dengan muka yang terlihat santai tapi seakan akan sudah merencanakan sesuatu. Bu Ernita duduk kembali di kursinya lalu membuka ponsel genggam yang dikeluarkan dari saku bajunya.
"Ini beneran gak ada yang mau dapat nilai?"
"Kalian ini gimana? Sudah mau lulus tapi kelakuan masih seperti anak kelas 7" Kata bu Ernita. Jelas perkataannya sangat menyinggung sekaligus ku mengerti ada pengajaran didalamnya.
"Kalian disuruh nyanyi aja susah banget" Kata bu Ernita, lanjut mengomeli kami.
Semua diam kembali, diam seakan menghomarti perkataan seorang guru yang berada didepan sanah.
"Udah Col maju, nanti gua maju" Kataku.
"Lu maju gw maju, sumpah Tan" Kata Ocol.
Ah kalo gak ada yang mulai gak bakal pernah dimulai. Kalo gak ada yang mau maju gak bakal pernah maju.
Ku melangkah kedepan dengan perlahan, sekaligus memikirkan lagu apa yang akan ku nyanyikan. Semua menatapku ketika ku terus berjalan kedepan. Tatapannya seolah tak percaya. Ku menghampiri bu Ernita dan menyapanya dengan sopan.
"Saya mau bu" Kataku sambil merapihkan baju yang tadi sempat tak rapih.
"Nama kamu siapa?" Tanya bu Ernita yang lalu membuka buku absen.
"Sultan hasanudin, bu" Kataku.
"Kamu mau nyanyi lagu apa?" Tanya bu Ernita.
"Lagu Iwan Fals bu" Kata ku"
"Yaudah ayo mulai" Kata bu Ernita.
Lagi dan lagi, pertanyaan sempat terbesit dibenakku. "Kenapa harus gua duluan yang maju sih?".
Ku mencoba mereleks'an suasana dan mencoba menyatu dengan keadaan. Bibir ini sudah tak tertahan, ingin menyanyikan sebuah lagu yang sering ia nyanyikan....
Suatu hari, dikala kita duduk ditepi pantai. Dan memandang, ombak dilautan yang kian menepi. Burung camar, terbang bermain di derunya air. Suara alam ini hangatkan jiwa kita.
Ku mengambil nafas sejenak sambil melihat sekitar, teman temanku hanya diam dan mencoba mengamatiku dari tempat duduknya.
Sementara, sinar surya perlahan mulai tenggelam. Suara gitarmu, mengalunkan melodi tentang cinta. Ada hati, membara erat bersatu. Getar seluruh jiwa tercurah saat itu.
Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini, ingin ku kenang selalu. Hatiku damai, jiwaku tentram disampingmu. Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu
Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. "Kemesraan ini, ingin ku kenang selalu" Itu suara bu Ernita, ternyata dia juga ikut bernyanyi bersamaku. Suaranya kecil tapi masih terdengar ditelingaku.
Kemesraan ini, inginku kenang selalu. Hatiku damai, jiwaku tentram disampingmu. Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu
Semua kekacauan diotak tentang takut gagalnya aksi menyanyiku didepan berubah drastis ketika ada suara tepuk tangan dari teman teman yang mendengarkannya dari tempat duduk. Suara tepuk tangan itu seakan mengubah suasana yang tadinya panas kini mulai hangat dan diriku bisa beristirahat dari kegugupan.
"Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu" Kata bu Ernita yang ikut bertepuk tangan.
"Kamu ngebawain lagu itu ngebuat ibu inget waktu masih pacaran" Kata bu Ernita.
"Nama kamu siapa?" Tanya bu Ernita.
"Sultan bu" Kataku.
"Sssuuulltaann" Kata bu Ernita sambil mencari namaku di buku absennya.
"Kamu ibu kasih nilai 9, silahkan duduk" Kata bu Ernita.
Lalu ku duduk kembali ke tempatku. Pada akhirnya setiap "KENAPA" yang keluar diotak ku harus kujawab, kubantah dan ku selesaikan sendiri. Walau ku tau banyak pertengkaran yang sedang terjadi didalamnya. Tapi, didalam itu semua. Nantinya, aku sendiri yang akan mendapatkan kebahagiaan. Sekaligus penguat dan pengingat tidak ada yang boleh lari apalagi sembunyi.