Kaskus

Story

twisctreAvatar border
TS
twisctre 
MLM - Main Lalu Mati

MLM - Main Lalu Mati

Kisah ini adalah serpihan kisah Kaskuser korban MLM abal abal di Lounge, terutama thread yang ane kasih rujuk di #3. Kisah ini ane gabungkan jadi cerita fiksi berbahan dasar cerita kaskuser. Ini kisah fiksi belaka namun banyak kejadian di sini yang benar-benar terjadi di Indonesia.

Kamu harus tahu, MLM itu kayak main Russian Roulette. Main Lalu Mati. MLM itu perbudakan berlapis melebihi kerja yang bisa kamu bilang budak, duit memperbudak atasan, atasan memperbudak kamu, juga berlaku silogisme:

Duit memperbudak kamu.


Aku Ridwan, 29 tahun, saat ini sukses berwirausaha sendiri. Aku tidak pernah memulai segala sesuatu dengan baik. Aku belum tentu hidup sampai hari ini kalau aku tidak sadar. Insaf. Tidak lagi menjadi budak uang yang menghancurkan segala sesuatu sampai habis. Sampai tersisa modal usahaku sekarang yang tak ada apa apanya.

Semua karena temanku menawarkan sesuatu yang katanya mendulang duit banyak, kenyataannya lebih memperbudak dibanding kerja kerja kerja. Katanya leha leha di rumah, sayang duitku habis dan apapun dijual demi permainan uang lebih mengerikan dari judi.

Main lalu mati. Entah mati harafiah atau mati hati atau keduanya.

Quote:



Quote:
Diubah oleh twisctre 12-08-2018 00:12
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
9.2K
49
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
twisctreAvatar border
TS
twisctre 
#3
Bagian satu: Kurang Kerjaan

Semua berawal dari masa mudaku di sebuah universitas swasta di Indonesia. Aku yang sedang tidur tiba tiba dikirimi sesuatu. Suatu tawaran maha menggiurkan bagi para mahasiswa.

Hmmm... Tawaran menggiurkan itu aku terima begitu saja, bagaikan kuda dilecut kusir. Apalagi tawaran itu disodorkan sahabatku waktu masih bekerja di Tanah Ngambang.

"Ridwan, gw ada tawaran kerjaan bagus nih," buka temanku di telepon.
"Apaan Din? Lu tiba tiba main telepon gua geblek. Tuminem sama Subahar apa kabar?" Well, ini anak yang sering dan sering diumpat dulu nama orang tuanya sewaktu di sekolah.
"Ah elah gua serius cuk, jangan bawa bawa bokap lah. Malu umur."
"Ngapain dah lu Subahar nelpon sini?"
"Aduh Ridwan gua serius nawarin kerja nih. Please jangan bercanda dulu, ditunggu bos gua."
"Iya deh bro gua serius. Jadi ada apa nih? Tumben bener lu ga manggil gua Dompet Tuyul." Aku curiga karena si teman ini yang biasa memanggil aku Dompet Tuyul karena sering mengambil uang pas jam istirahat macam tuyul.
"Gue ada tawaran kerja nih Rid. Lumayan dibayar 100 ribu sampe sejuta per bulan. Gua baru gawe aja dapet 100 ribu. Mau gak?"
Mataku berbinar, keadaanku buta soal MLM dan skema piramida begini itu lah. Yang penting duit ngalir. Pula, informasi bisnis bodong tidak semenggurita sekarang.
"Mau," jawabku dengan berpikiran duit dapat mengalir ke kantong mahasiswa macam aku ini.
"Ketemuan yuk. Gue juga kangen." Temanku anak Subahar itu membalas tanpa gelagat mencurigakan.
"Kapan dan di mana?"
"Udah di GI aja. Bisa gak lu?
"Asib bro. Gw penasaran jadinya," kataku berbinar.
"Okeee".

Kututup telepon dan aku pergi mandi. Tiba-tiba ibu yang sedang masak bertanya. "Ridwan kamu telepon siapa?"
"Temen lama aku Bu."
"Ada apa tumben bener temen lama udah begitu?" kata ibuku.
"Nawarin pekerjaan Bu. Duitnya gede, 100 ribu sehari."
"Halah bohong itu Nak. Hari gini BBM naik. Minyak tanah lagi susah nak. Emak ini masih pake kompor minyak. Kok di kampung gini ada kerjaan segitu? Mustahil nak."
"Ah Bu seriusan temen aku udah kerja ini."
"Siapa bisa tahu di balik telepon Wan? Piye toh. Kerja opo?"
"Katanya sih jualan apa gitu Bu."
"Ah Mbok Darmi jualan segitu rame paling untung 100 ribu sehari," kata Ibu menandaskan, membawa Mbok Darmi pengusaha sukses di kampungku. Mbok Darmi adalah pedagang sayur - ibaratnya minimarket sayur di kampungku. Jadi warga tidak usah ke ibukota kecamatan buat belanja, Mbok Darmi punya penyedia stok dari orang desa sekitar sini kok. Mbok Darmi sudah kaya, anaknya sudah kuliah di Jerman pada saat itu.
"Yaa mungkin kerja kayak Mbok Darmi. Nanti aku ketemu dulu."
"Kalo kerja aneh aneh kamu tolak ya nak! Ibu takut itu investasi bodong."
"Apa itu Bu?"
"Panjang jelasinnya Nak. Ibu mau lanjut masak dulu takut gosong."

Lalu aku ke halaman, mempertimbangkan baik buruknya pekerjaan itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Intinya aku hanya mau... Dibayar.

Bersambung
Diubah oleh twisctre 10-01-2016 10:00
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.