- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.4K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#573
AMOR & DOLOR
Sepanjang perjalanan meninggalkan tempat yang punya banyak kenangan untuk gue itu, terbesit banyak sekali pertanyaan yang belum mampu dijawab. Tapi kata Anantya, semuanya ada di dalam amplop merah yang kiri ada di genggaman tangan kanan gue. Apa gerangan yang terjadi? Apa yang sebenarnya diinginkan Anin? Apa yang sebetulnya direncanakan Tuhan untuk gue? Apakah gue akan kembali menderita karena ketidaktegasan gue? Apakah justru ini sebagai pembuka jalan gue untuk menjadi a better man, yang menghargai setiap waktu dan perjuangan wanita yang amat mencintai gue? Gue masih samar akan hal yang mungkin terjadi kedepannya.
Pada dasarnya, gue adalah orang yang tidak memiliki ketegasan dalam hal penentuan sikap dan hati. Inilah yang jadi penghalang utama kesuksesan dalam kehidupan gue belakangan, baik itu dalam hubungan antar individu, hubungan percintaan, sampai hubungan dengan pekerjaan dan tentu saja, finansial. Terlalu banyak yang gue lewatkan dalam beberapa tahun terakhir. Gue terlalu banyak membuang waktu ketika gue bisa banyak belajar karena adanya kesempatan. Kenapa gue gagal memanfaatkan itu semua? Karena disamping gue ada Emi. Emi yang selalu mem-provide semuanya, membuatnya semakin terasa mudah bagi gue, sehingga gue terlena dengan keadaan. Segala macam masalah yang hadir dalam kehidupan gue, selalu bisa teratasi karena adanya Emi. Emi selalu menjadi solusi. Inilah yang menyebabkan gue semakin tidak memiliki asa dan usaha dalam memulai sesuatu. Semua seolah sudah dimudahkan dengan adanya Emi.
Sikap seperti ini bisa bikin Emi akan semakin jengah dan capek. Sebagai orang yang normal, dia pasti juga punya batas kesabaran. Ada kalanya beberapa kali Emi mengeluh dengan kondisi kami. Ada kalanya juga dia selalu bersemangat dan optimis akan keberhasilan hubungan ini. Tetapi gue? Selalu menanggapi dengan ketidaktahuan, keengganan dan kebimbangan. Selalu seperti ini, sehingga tidak ada perkembangan berarti dalam kehidupan gue, yang mana sebenarnya membutuhkan ketegasan dan kepastian sikap. Gue takut Emi suatu saat akan berhenti, tetapi gue seperti tidak banyak usaha untuk memperjuangkannya lagi seperti dulu. Ini menjadi pertanyaan yang selalu berputar di kepala gue. Apa iya gue mencintai Emi sampai ke tahap ingin mengikatnya untuk selamanya bersama gue? Atau apakah benar dugaan Anin tentang gue yang belum seratus persen yakin akan ketetapan hati gue dalam mengambil keputusan besar dalam hidup gue ini? Keberadaan Anin jugalah yang membuat kacau semuanya, menurut pemikiran gue. Ketika gue sedang memperjuangkan semuanya biar lancar dan memantapkan hati ini, dia malah hadir lagi di ujung waktu. Gilanya, sekarang dia memberikan hal yang tidak terduga sama sekali. Mempertemukan gue dengan perempuan bengis bernama Anantya yang mana merupakan atasan gue di tempat kerja sekaligus adik kandungnya, serta mantan kekasih sepupu gue, Emir. Sebuah rencana Tuhan yang sama sekali diluar ekspektasi.
Keadaan ini jujur saja membuat gue bimbang tidak karuan. Keadaan ini menjadi semakin sulit karena Anin menitipkan sebuah amplop, entah apa isinya gue belum berani membukanya hingga hari berikutnya gue datang lagi ke kantor. Gue lebih banyak melamunkan Anin daripada Emi, yang mana sekarang sudah tiga hari lamanya mereka tidak memberikan kabar apapun ke gue. Telepon tersambung, chat terkirim, tetapi nihil respon. Anin pun melakukan hal yang sama. Yang ada gue harus berkutat dengan Anantya yang sedikit demi sedikit dapat gue lihat sisi lainnya. Anantya di kantor memang banyak yang benci, karena memang sikapnya itu yang membuatnya jadi bahan bercandaan ataupun gunjingan orang-orang disini. Gue juga tidak mengerti apakah ini bagian dari empati gue terhadapnya atau bukan, yang jelas gue melihat sisi lain darinya setelah obrolan kami kemarin. Dia tidak seburuk yang orang kira.
-------
“Mas … Mas Ija.” ucap singkat seseorang yang membuyarkan lamunan gue.
“Eh sori, Dar. Ada apaan ya? Haha.” kata gue setengah gelagapan menanggapi salah seorang office boy belia di kantor ini yang bernama Haidar, sesuai dengan Name tag yang tertera di bagian kanan seragamnya.
“Jadi pesan kopi nggak, Mas?” tanyanya.
“Oh iya jadi, Caffe Latte aja nitip tolong beliin di tempat biasa, ya. Thanks berat, Dar.” jawab gue.
“Oke siap Mas. Makasih ya, Mas.” Tutupnya, lalu bergerak menjauh dan menghilang dari hadapan gue.
Padahal, gue jauh lebih beruntung daripada anak ini. Umurnya masih sekitar tujuh belas tahun, tetapi harus berjibaku melawan kerasnya persaingan di ibukota, seolah mengamini sebuah jargon ‘ibukota lebih kejam daripada ibu tiri’. Haidar sejauh ini cukup gue kenal karena beberapa kali gue menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya dan tim office boy serta cleaning service lainnya, adalah seorang yang gigih dalam berjuang. Walaupun seringkali menemui kegagalan demi kegagalan karena minimnya dukungan sekitarnya, dia tidak patah arang. Bahkan di usia semuda itu, dia sudah beberapa kali berpindah pekerjaan. Sekolahnya di sebuah SMK dengan mengambil jurusan administrasi perkantoran. Gue tidak mengetahui anak ini pintar atau tidak, karena belum mengenalnya secara dekat, tapi jika ditilik dari cara bicaranya, gue yakin anak ini memiliki potensi. Hanya kesempatan saja yang minim dan tidak banyak mengenal orang yang ‘lebih besar’ perannya. Anak ini juga yang kadang membuat gue berpikir, apa iya gue memilih untuk menjadi orang yang tidak bersyukur terhadap apa yang sudah gue punya dan sudah gue lewati? Apakah gue harus menjadi seperti Haidar dulu baru gue bisa bersyukur? Entahlah. Ketidaktegasan gue lagi-lagi terus mengikuti gue yang statusnya bahkan sudah berada di level yang cukup jauh dari Haidar.
Gue seperti membenci diri gue sendiri. Jauh berbeda ketika gue dulu SMA dan kemudian masuk ke jenjang universitas. Gue adalah orang yang sangat percaya diri, lantang dalam menyuarakan suatu pemikiran, tidak takut akan apapun, siap bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu yang gue mimpikan, rela berkorban untuk orang lain maupun orang yang gue cintai dan utamanya, gue mencintai diri sendiri dengan baik tanpa harus bersikap narsistik. Gue juga merupakan orang yang optimis dan selalu termotivasi akan banyak hal yang bisa gue raih serta gue lakukan. Semua itu seperti hilang dan menguap ditelan sang waktu. Waktu bagaikan musuh besar dalam perubahan karakter dan kepribadian gue. Mungkin juga gue terlena dengan enaknya hubungan percintaan gue dengan Emi. Orang luar biasa cerdas dan pintar serta punya pemikiran super out of the box tidak seperti orang cerdas kebanyakan, membuat gue terbuai dalam kesenangan yang terus menerus sehingga lupa bahwa diri ini harus juga berubah menjadi lebih baik. Dia mengaktualisasikan dirinya dengan baik, sementara gue malah declining tidak karuan. Ini pula yang mungkin membuat Emi dan juga Anin merasa tidak ada lagi yang tersisa dalam diri gue sekarang. Tidak pantas untuk diperjuangkan selayaknya dulu. Tidak pantas untuk dibela habis-habisan di depan keluarga besar, dan tidak bisa lagi diharapkan menjadi imam yang baik dalam mengarungi mahligai pernikahan. Ketika dulu semua bisa menjadi fakta, sekarang seperti hanya utopia belaka. Semuanya hanya sekadar impian yang tidak bisa diwujudkan.
Mendekati waktu keberangkatan gue ke negeri orang, gue malah terjun kedalam lembah ketidakpastian. Pernikahan gue dipertaruhkan. Terlalu cepat dan terlalu mendadak semua ini menghadang gue. Gue sama sekali tidak siap untuk menghadapi semuanya, sendirian. Gue berharap Emi mau berkolaborasi dengan gue untuk menghalau cobaan ini. Tetapi ini akan menjadi bencana karena Emi akan menganggap gue mentautkan hati kepada orang lain, dan bukan hanya untuknya. Memang kenyataannya seperti itu. Gue mentautkan hati pada Anin, yang mana dalam waktu sesingkat itu bisa membolakbalikkan hati gue. Sekarang ini bahkan gue mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik, dari cara yang salah. Rumit sekali bukan? Jika Emi mengetahui dari mana gue bisa masuk dan bekerja di tempat Anantya, bisa-bisa makin banyak asumsi yang hilir mudik di dalam kepalanya.
“Lo nggak usah ngelamun terus bisa nggak?!” suara lantang Anantya membuyarkan lamunan gue.
“Bisa biasa aja nggak ngasih taunya?!” gue membalas dengan lantang juga. Hal ini menyebabkan beberapa pasang mata mulai memperhatikan gue dan Tya secara diam-diam. Tya langsung tersentak dengan bentakan spontan gue. Dia berlalu begitu saja dan menghilang dibalik pintu ruangannya yang langsung diburamkan kacanya begitu dia masuk.
“Mas, berani banget lo,” ucap Nadia.
“Sesekali, orang resek macam Bu Tya mesti kita gituin,” kata gue santai.
“Ya tapi kan dia itu atasan kita, atasan lo juga, Mas.” Charles menimpali.
“Udah lah, pokoknya kalian santai aja, tenang, kalau ada apa-apa, gue yang tanggung jawab.” sahut gue.
Tidak lama kemudian, interkom di meja gue berbunyi dan menampilkan tiga digit angka yang menunjukkan penelpon. 109. Ruangan Anantya. Gue tidak mengangkatnya, melainkan langsung beranjak dari tempat duduk gue menuju ke ruangannya.
“Lo lusa ke Shanghai kan? Gue ikut ya,” ujarnya cepat, tidak menunggu gue duduk dulu setelah gue masuk ke ruangannya.
“Wow, wow, wow. Nanti dulu. Main ikut ikut aja, lo. Emang udah dapet tiket penerbangan? Emang lo tau nanti mau nginap dimana? Dan emang lo tau apa yang gue kerjain disana nanti? Lagian habis itu gue mau ke Xiamen University dulu ketemu sama teman-teman gue.” tanya gue dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Kalo gue mau liburan, dan kebetulan mau ke Shanghai juga, kenapa emangnya? Dan siapa lo untuk ngelarang gue kemanapun gue pergi?” katanya ketus.
“Eh, gue nanyanya apa dijawabnya apa. Otak tuh dipake, jangan dianggurin aja,” ucap gue tenang.
“Otak dipake? Udah berani lo sekarang bilang kayak gitu sama gue?!” dia menghardik.
“Heh, dengar ya. Lo emang punya masa lalu sama sepupu gue, lo juga adik dari Anin, tapi bukan berarti lo berhak ngucapin apapun ke siapapun sesuka hati lo. Ingat Tya, lo disini tuh banyak nggak disukain karena sikap lo ini. Belum juga lama gue bilangin ke lo, malah kayak gini lagi. Mau lo apa sih?”
“Mau gue, gue ikut sama lo ke Shanghai. Gue mau dengar semua cerita yang ada di amplop itu langsung dan nggak pakai lama.” Katanya, jauh lebih santai nadanya sekarang.
“Ini sih alasan aja. Nanti gimana kata orang-orang disini kalau lo ngikut gue?”
“Emang ada yang tau lo mau ke Shanghai? Kan itu kerjaan dari kantor utama lo, bukan disini. Jadi ya nggak akan ada yang tau. Kalaupun tau, ya biarin aja. Peduli setan amat sama orang lain.”
“Lo bener-bener ya….”
“Apa? Nggak senang lo dengan sikap gue?”
Gue hanya mengangguk dan kemudian menggelengkan kepala, lalu mengernyitkan dahi. Gue pusing dengan cewek yang sudah berada di usia matang, sukses, tapi masih labil seperti ini.
“Nih…” kemudian dia menunjukkan sebuah tampilan di layar tabletnya. Tiket penerbangan dengan nama gue dan dirinya.
“Lah, lo kok beliin tiketnya? Kan gue juga dapat dari kantor kali. Untung gue belum bilang pesan tiket sama kantor. Ah lo mah gila emang. Nanti dari Shanghai ke Xiamen itu mesti naik pesawat lagi, coy.”
Tya kemudian membalikkan tabletnya dan mengetikkan sesuatu disana.
“Nggak usah banyak cincong. Kita jalan lusa. Disana ada fasilitas Bullet Train, nih. Naik ini aja nanti dari Shanghai ke Xiamen. Gue belum pernah naik soalnya,” katanya, lalu menoleh sebentar ke gue, “gue yang bayar. Lo tenang aja.”
“Terus mau nginapnya bareng juga? Gila lo. Gue nggak mau ah, nanti malah kejadian macam-macam.”
“Hahaha. Gue nggak seb*go kakak gue kali. Apalagi lawannya cuma cowok medioker sekelas lo, ya nggak level lah gue. Enak banget lo mau ngapa-ngapain gue yang secara level udah jauh diatas lo.” ujarnya merendahkan.
“Terserah lo, Tya. Gue malas ngedebat lo.” gue mendengus kesal dengan perkataanya barusan dan menghiraukannya.
CHAT EMI
----
Hari keberangkatan gue sudah tiba, dan gue telah berada di Terminal 3 Ultimate Bandara Soetta malam buta begini. Pesawat yang akan membawa gue rencana berangkat pada jam 00.10 WIB. Tya juga sudah datang, sekitar sepuluh menit setelah gue datang. Style-nya benar-benar ingin liburan, lengkap dengan bantal leher dan kacamata hitamnya. Dia memakai celana 7/8 dengan kaos kasual yang simpel warna biru muda yang freshserta jam tangan di tangan kanannya. Ini masih malam, loh. Gue baru ngeh, ketika dia berpakaian kasual begini, dia amat mirip dengan Anin. Namanya bos, mau liburan kapan saja, tidak akan jadi masalah.
“Gue udah siap nih,” katanya.
“Ya udah, gue juga. Ayo check-in dulu, deh,” ucap gue.
Kami melakukan check-in Bersama dan cukup cepat prosesnya hingga kami sudah berada di ruang tunggu. Sekitar setengah jam kami menunggu dan akhirnya waktu boarding-pun tiba. Kami berjalan beriringan menuju ke dalam pesawat. Gue kebetulan mendapat kursi yang di dekat jendela, sementara Tya di sebelah gue. Sampai perintah untuk memutuskan hubungan internet digaungkan, gue terus menelpon Emi dan juga mengirimkan chat, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Gue amat sangat bingung. Kemana Emi? Masa sampai gue berangkat ke negeri orang pun, dia tidak merespon sama sekali.
“Tunangan lo nyusahin ya,” kata Tya mendadak.
“Nggak usah ikut campur,” sahut gue.
“Hahaha. Kayaknya tunangan lo ini udah mikir kalo emang nggak ada untungnya nikah sama orang yang nggak punya ketegasan macam lo ini, Ja.” Lanjutnya lagi.
“Bisa diam nggak lo, Tya?” suara gue sedikit meninggi namun tetap dengan volume rendah.
Dia hanya tersenyum simpul saja. Gue pun tidak menanggapinya lagi. Gue menunggu pengumuman ‘kencangkan sabuk pengaman’ dicabut, barulah gue bisa santai dan menikmati perjalanan. Setelah sekitar tiga jam mengudara, gue mengeluarkan amplop merah pemberian Anin dari sling bag yang tidak gue simpan di bagasi.
“Bismillah,” ucap gue dalam hati seraya membuka amplop.
Tak terasa, air mata gue menetes cukup deras di pipi hingga membasahi bagian depan kaos yang gue kenakan. Anin menuliskan semuanya dengan tangannya sendiri. Tulisannya rapi, walaupun tidak sebagus Emi. Tya yang semangat sekali ingin ikut membaca, malah sudah tertidur pulas. Gue hanya bisa memandangi langit biru kehitaman di luar sana dalam diam dengan tangis yang tak terbendung. Tiga puluh ribu kaki jarak antara gue dengan tanah berpijak, tidak membuat hati ini senang dan bahagia. Hanya gundah yang semakin melanda. Penyesalan bertubi-tubi merasuki alam bawah sadar gue. Anin sudah tidak ingin bertemu gue lagi, memilih pergi dan malah menitipkan adiknya yang bengis ini. Gue juga ketitipan untuk memajukan kantor, dan diharapkan untuk bisa memiliki sebagian besar saham perusahaan di masa depan.
Sebuah jawaban yang malah memunculkan pertanyaan baru lagi. Suatu hal yang amat sangat berat jika gue lakukan sendiri. Apalagi jika gue tidak mampu untuk jujur dengan Emi atas semua yang telah terjadi ini. Gue butuh semuanya; Emi, Anin, mungkin Tya, untuk bisa melakukannya. Namun apa daya, gue terkurung dalam ketidakjujuran gue sendiri yang berawal dari ketidaktegasan bersikap. Gamang. Tak punya pendirian. Labil. Bodoh. Tak ada prinsip. Pengecut.
Hhh. Sungguh penerbangan yang terasa sangat lama. Enam jam ke negeri Cina terasa seperti puluhan jam terbang ke eropa.
------
Sekitar jam 7 pagi waktu setempat, gue dan Tya akhirnya sudah berada di Shanghai Pudong International Airport. Gue belum mengaktifkan telepon seluler gue. Tya pun sama. Dia terus saja meracau seperti orang yang baru pertama kali ke luar negeri. Gue mengurus bagasi terlebih dahulu dan kemudian berjalan menuju ke stasiun kereta Shanghai Maglev yang nantinya akan membawa penumpang dari bandara menuju ke Stasiun Longyang Road, di tengah kota Shanghai. Sementara Tya terus mengoceh, gue mengaktifkan nomor gue dan kemudian jaringan internet dan ponsel tersambung sepenuhnya. Beberapa notifikasi masuk dan akhirnya gue menemukan satu notifikasi chat dari Emi. Gue senang bukan kepalang melihatnya.
“Gue ke kamar mandi sebentar,” gue menginformasikan ke Tya, dan langsung dibalas dengan anggukan, sementara dirinya sibuk berswafoto tanpa memperhatikan gue.
Gue berjalan menuju ke kamar mandi. Tidak sepenuhnya ingin ke kamar mandi sebenarnya, tapi gue ingin segera membuka pesan dari Emi yang gue yakin sedang rindu dan mungkin surprise dengan keberangkatan gue ini. Senyum mengembang sangat lebar ketika gue mulai membuka pesan dari Emi.
EMI CHAT
Pada dasarnya, gue adalah orang yang tidak memiliki ketegasan dalam hal penentuan sikap dan hati. Inilah yang jadi penghalang utama kesuksesan dalam kehidupan gue belakangan, baik itu dalam hubungan antar individu, hubungan percintaan, sampai hubungan dengan pekerjaan dan tentu saja, finansial. Terlalu banyak yang gue lewatkan dalam beberapa tahun terakhir. Gue terlalu banyak membuang waktu ketika gue bisa banyak belajar karena adanya kesempatan. Kenapa gue gagal memanfaatkan itu semua? Karena disamping gue ada Emi. Emi yang selalu mem-provide semuanya, membuatnya semakin terasa mudah bagi gue, sehingga gue terlena dengan keadaan. Segala macam masalah yang hadir dalam kehidupan gue, selalu bisa teratasi karena adanya Emi. Emi selalu menjadi solusi. Inilah yang menyebabkan gue semakin tidak memiliki asa dan usaha dalam memulai sesuatu. Semua seolah sudah dimudahkan dengan adanya Emi.
Sikap seperti ini bisa bikin Emi akan semakin jengah dan capek. Sebagai orang yang normal, dia pasti juga punya batas kesabaran. Ada kalanya beberapa kali Emi mengeluh dengan kondisi kami. Ada kalanya juga dia selalu bersemangat dan optimis akan keberhasilan hubungan ini. Tetapi gue? Selalu menanggapi dengan ketidaktahuan, keengganan dan kebimbangan. Selalu seperti ini, sehingga tidak ada perkembangan berarti dalam kehidupan gue, yang mana sebenarnya membutuhkan ketegasan dan kepastian sikap. Gue takut Emi suatu saat akan berhenti, tetapi gue seperti tidak banyak usaha untuk memperjuangkannya lagi seperti dulu. Ini menjadi pertanyaan yang selalu berputar di kepala gue. Apa iya gue mencintai Emi sampai ke tahap ingin mengikatnya untuk selamanya bersama gue? Atau apakah benar dugaan Anin tentang gue yang belum seratus persen yakin akan ketetapan hati gue dalam mengambil keputusan besar dalam hidup gue ini? Keberadaan Anin jugalah yang membuat kacau semuanya, menurut pemikiran gue. Ketika gue sedang memperjuangkan semuanya biar lancar dan memantapkan hati ini, dia malah hadir lagi di ujung waktu. Gilanya, sekarang dia memberikan hal yang tidak terduga sama sekali. Mempertemukan gue dengan perempuan bengis bernama Anantya yang mana merupakan atasan gue di tempat kerja sekaligus adik kandungnya, serta mantan kekasih sepupu gue, Emir. Sebuah rencana Tuhan yang sama sekali diluar ekspektasi.
Keadaan ini jujur saja membuat gue bimbang tidak karuan. Keadaan ini menjadi semakin sulit karena Anin menitipkan sebuah amplop, entah apa isinya gue belum berani membukanya hingga hari berikutnya gue datang lagi ke kantor. Gue lebih banyak melamunkan Anin daripada Emi, yang mana sekarang sudah tiga hari lamanya mereka tidak memberikan kabar apapun ke gue. Telepon tersambung, chat terkirim, tetapi nihil respon. Anin pun melakukan hal yang sama. Yang ada gue harus berkutat dengan Anantya yang sedikit demi sedikit dapat gue lihat sisi lainnya. Anantya di kantor memang banyak yang benci, karena memang sikapnya itu yang membuatnya jadi bahan bercandaan ataupun gunjingan orang-orang disini. Gue juga tidak mengerti apakah ini bagian dari empati gue terhadapnya atau bukan, yang jelas gue melihat sisi lain darinya setelah obrolan kami kemarin. Dia tidak seburuk yang orang kira.
-------
“Mas … Mas Ija.” ucap singkat seseorang yang membuyarkan lamunan gue.
“Eh sori, Dar. Ada apaan ya? Haha.” kata gue setengah gelagapan menanggapi salah seorang office boy belia di kantor ini yang bernama Haidar, sesuai dengan Name tag yang tertera di bagian kanan seragamnya.
“Jadi pesan kopi nggak, Mas?” tanyanya.
“Oh iya jadi, Caffe Latte aja nitip tolong beliin di tempat biasa, ya. Thanks berat, Dar.” jawab gue.
“Oke siap Mas. Makasih ya, Mas.” Tutupnya, lalu bergerak menjauh dan menghilang dari hadapan gue.
Padahal, gue jauh lebih beruntung daripada anak ini. Umurnya masih sekitar tujuh belas tahun, tetapi harus berjibaku melawan kerasnya persaingan di ibukota, seolah mengamini sebuah jargon ‘ibukota lebih kejam daripada ibu tiri’. Haidar sejauh ini cukup gue kenal karena beberapa kali gue menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya dan tim office boy serta cleaning service lainnya, adalah seorang yang gigih dalam berjuang. Walaupun seringkali menemui kegagalan demi kegagalan karena minimnya dukungan sekitarnya, dia tidak patah arang. Bahkan di usia semuda itu, dia sudah beberapa kali berpindah pekerjaan. Sekolahnya di sebuah SMK dengan mengambil jurusan administrasi perkantoran. Gue tidak mengetahui anak ini pintar atau tidak, karena belum mengenalnya secara dekat, tapi jika ditilik dari cara bicaranya, gue yakin anak ini memiliki potensi. Hanya kesempatan saja yang minim dan tidak banyak mengenal orang yang ‘lebih besar’ perannya. Anak ini juga yang kadang membuat gue berpikir, apa iya gue memilih untuk menjadi orang yang tidak bersyukur terhadap apa yang sudah gue punya dan sudah gue lewati? Apakah gue harus menjadi seperti Haidar dulu baru gue bisa bersyukur? Entahlah. Ketidaktegasan gue lagi-lagi terus mengikuti gue yang statusnya bahkan sudah berada di level yang cukup jauh dari Haidar.
Gue seperti membenci diri gue sendiri. Jauh berbeda ketika gue dulu SMA dan kemudian masuk ke jenjang universitas. Gue adalah orang yang sangat percaya diri, lantang dalam menyuarakan suatu pemikiran, tidak takut akan apapun, siap bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu yang gue mimpikan, rela berkorban untuk orang lain maupun orang yang gue cintai dan utamanya, gue mencintai diri sendiri dengan baik tanpa harus bersikap narsistik. Gue juga merupakan orang yang optimis dan selalu termotivasi akan banyak hal yang bisa gue raih serta gue lakukan. Semua itu seperti hilang dan menguap ditelan sang waktu. Waktu bagaikan musuh besar dalam perubahan karakter dan kepribadian gue. Mungkin juga gue terlena dengan enaknya hubungan percintaan gue dengan Emi. Orang luar biasa cerdas dan pintar serta punya pemikiran super out of the box tidak seperti orang cerdas kebanyakan, membuat gue terbuai dalam kesenangan yang terus menerus sehingga lupa bahwa diri ini harus juga berubah menjadi lebih baik. Dia mengaktualisasikan dirinya dengan baik, sementara gue malah declining tidak karuan. Ini pula yang mungkin membuat Emi dan juga Anin merasa tidak ada lagi yang tersisa dalam diri gue sekarang. Tidak pantas untuk diperjuangkan selayaknya dulu. Tidak pantas untuk dibela habis-habisan di depan keluarga besar, dan tidak bisa lagi diharapkan menjadi imam yang baik dalam mengarungi mahligai pernikahan. Ketika dulu semua bisa menjadi fakta, sekarang seperti hanya utopia belaka. Semuanya hanya sekadar impian yang tidak bisa diwujudkan.
Mendekati waktu keberangkatan gue ke negeri orang, gue malah terjun kedalam lembah ketidakpastian. Pernikahan gue dipertaruhkan. Terlalu cepat dan terlalu mendadak semua ini menghadang gue. Gue sama sekali tidak siap untuk menghadapi semuanya, sendirian. Gue berharap Emi mau berkolaborasi dengan gue untuk menghalau cobaan ini. Tetapi ini akan menjadi bencana karena Emi akan menganggap gue mentautkan hati kepada orang lain, dan bukan hanya untuknya. Memang kenyataannya seperti itu. Gue mentautkan hati pada Anin, yang mana dalam waktu sesingkat itu bisa membolakbalikkan hati gue. Sekarang ini bahkan gue mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik, dari cara yang salah. Rumit sekali bukan? Jika Emi mengetahui dari mana gue bisa masuk dan bekerja di tempat Anantya, bisa-bisa makin banyak asumsi yang hilir mudik di dalam kepalanya.
“Lo nggak usah ngelamun terus bisa nggak?!” suara lantang Anantya membuyarkan lamunan gue.
“Bisa biasa aja nggak ngasih taunya?!” gue membalas dengan lantang juga. Hal ini menyebabkan beberapa pasang mata mulai memperhatikan gue dan Tya secara diam-diam. Tya langsung tersentak dengan bentakan spontan gue. Dia berlalu begitu saja dan menghilang dibalik pintu ruangannya yang langsung diburamkan kacanya begitu dia masuk.
“Mas, berani banget lo,” ucap Nadia.
“Sesekali, orang resek macam Bu Tya mesti kita gituin,” kata gue santai.
“Ya tapi kan dia itu atasan kita, atasan lo juga, Mas.” Charles menimpali.
“Udah lah, pokoknya kalian santai aja, tenang, kalau ada apa-apa, gue yang tanggung jawab.” sahut gue.
Tidak lama kemudian, interkom di meja gue berbunyi dan menampilkan tiga digit angka yang menunjukkan penelpon. 109. Ruangan Anantya. Gue tidak mengangkatnya, melainkan langsung beranjak dari tempat duduk gue menuju ke ruangannya.
“Lo lusa ke Shanghai kan? Gue ikut ya,” ujarnya cepat, tidak menunggu gue duduk dulu setelah gue masuk ke ruangannya.
“Wow, wow, wow. Nanti dulu. Main ikut ikut aja, lo. Emang udah dapet tiket penerbangan? Emang lo tau nanti mau nginap dimana? Dan emang lo tau apa yang gue kerjain disana nanti? Lagian habis itu gue mau ke Xiamen University dulu ketemu sama teman-teman gue.” tanya gue dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Kalo gue mau liburan, dan kebetulan mau ke Shanghai juga, kenapa emangnya? Dan siapa lo untuk ngelarang gue kemanapun gue pergi?” katanya ketus.
“Eh, gue nanyanya apa dijawabnya apa. Otak tuh dipake, jangan dianggurin aja,” ucap gue tenang.
“Otak dipake? Udah berani lo sekarang bilang kayak gitu sama gue?!” dia menghardik.
“Heh, dengar ya. Lo emang punya masa lalu sama sepupu gue, lo juga adik dari Anin, tapi bukan berarti lo berhak ngucapin apapun ke siapapun sesuka hati lo. Ingat Tya, lo disini tuh banyak nggak disukain karena sikap lo ini. Belum juga lama gue bilangin ke lo, malah kayak gini lagi. Mau lo apa sih?”
“Mau gue, gue ikut sama lo ke Shanghai. Gue mau dengar semua cerita yang ada di amplop itu langsung dan nggak pakai lama.” Katanya, jauh lebih santai nadanya sekarang.
“Ini sih alasan aja. Nanti gimana kata orang-orang disini kalau lo ngikut gue?”
“Emang ada yang tau lo mau ke Shanghai? Kan itu kerjaan dari kantor utama lo, bukan disini. Jadi ya nggak akan ada yang tau. Kalaupun tau, ya biarin aja. Peduli setan amat sama orang lain.”
“Lo bener-bener ya….”
“Apa? Nggak senang lo dengan sikap gue?”
Gue hanya mengangguk dan kemudian menggelengkan kepala, lalu mengernyitkan dahi. Gue pusing dengan cewek yang sudah berada di usia matang, sukses, tapi masih labil seperti ini.
“Nih…” kemudian dia menunjukkan sebuah tampilan di layar tabletnya. Tiket penerbangan dengan nama gue dan dirinya.
“Lah, lo kok beliin tiketnya? Kan gue juga dapat dari kantor kali. Untung gue belum bilang pesan tiket sama kantor. Ah lo mah gila emang. Nanti dari Shanghai ke Xiamen itu mesti naik pesawat lagi, coy.”
Tya kemudian membalikkan tabletnya dan mengetikkan sesuatu disana.
“Nggak usah banyak cincong. Kita jalan lusa. Disana ada fasilitas Bullet Train, nih. Naik ini aja nanti dari Shanghai ke Xiamen. Gue belum pernah naik soalnya,” katanya, lalu menoleh sebentar ke gue, “gue yang bayar. Lo tenang aja.”
“Terus mau nginapnya bareng juga? Gila lo. Gue nggak mau ah, nanti malah kejadian macam-macam.”
“Hahaha. Gue nggak seb*go kakak gue kali. Apalagi lawannya cuma cowok medioker sekelas lo, ya nggak level lah gue. Enak banget lo mau ngapa-ngapain gue yang secara level udah jauh diatas lo.” ujarnya merendahkan.
“Terserah lo, Tya. Gue malas ngedebat lo.” gue mendengus kesal dengan perkataanya barusan dan menghiraukannya.
CHAT EMI
Quote:
----
Hari keberangkatan gue sudah tiba, dan gue telah berada di Terminal 3 Ultimate Bandara Soetta malam buta begini. Pesawat yang akan membawa gue rencana berangkat pada jam 00.10 WIB. Tya juga sudah datang, sekitar sepuluh menit setelah gue datang. Style-nya benar-benar ingin liburan, lengkap dengan bantal leher dan kacamata hitamnya. Dia memakai celana 7/8 dengan kaos kasual yang simpel warna biru muda yang freshserta jam tangan di tangan kanannya. Ini masih malam, loh. Gue baru ngeh, ketika dia berpakaian kasual begini, dia amat mirip dengan Anin. Namanya bos, mau liburan kapan saja, tidak akan jadi masalah.
“Gue udah siap nih,” katanya.
“Ya udah, gue juga. Ayo check-in dulu, deh,” ucap gue.
Kami melakukan check-in Bersama dan cukup cepat prosesnya hingga kami sudah berada di ruang tunggu. Sekitar setengah jam kami menunggu dan akhirnya waktu boarding-pun tiba. Kami berjalan beriringan menuju ke dalam pesawat. Gue kebetulan mendapat kursi yang di dekat jendela, sementara Tya di sebelah gue. Sampai perintah untuk memutuskan hubungan internet digaungkan, gue terus menelpon Emi dan juga mengirimkan chat, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Gue amat sangat bingung. Kemana Emi? Masa sampai gue berangkat ke negeri orang pun, dia tidak merespon sama sekali.
“Tunangan lo nyusahin ya,” kata Tya mendadak.
“Nggak usah ikut campur,” sahut gue.
“Hahaha. Kayaknya tunangan lo ini udah mikir kalo emang nggak ada untungnya nikah sama orang yang nggak punya ketegasan macam lo ini, Ja.” Lanjutnya lagi.
“Bisa diam nggak lo, Tya?” suara gue sedikit meninggi namun tetap dengan volume rendah.
Dia hanya tersenyum simpul saja. Gue pun tidak menanggapinya lagi. Gue menunggu pengumuman ‘kencangkan sabuk pengaman’ dicabut, barulah gue bisa santai dan menikmati perjalanan. Setelah sekitar tiga jam mengudara, gue mengeluarkan amplop merah pemberian Anin dari sling bag yang tidak gue simpan di bagasi.
“Bismillah,” ucap gue dalam hati seraya membuka amplop.
Quote:
Tak terasa, air mata gue menetes cukup deras di pipi hingga membasahi bagian depan kaos yang gue kenakan. Anin menuliskan semuanya dengan tangannya sendiri. Tulisannya rapi, walaupun tidak sebagus Emi. Tya yang semangat sekali ingin ikut membaca, malah sudah tertidur pulas. Gue hanya bisa memandangi langit biru kehitaman di luar sana dalam diam dengan tangis yang tak terbendung. Tiga puluh ribu kaki jarak antara gue dengan tanah berpijak, tidak membuat hati ini senang dan bahagia. Hanya gundah yang semakin melanda. Penyesalan bertubi-tubi merasuki alam bawah sadar gue. Anin sudah tidak ingin bertemu gue lagi, memilih pergi dan malah menitipkan adiknya yang bengis ini. Gue juga ketitipan untuk memajukan kantor, dan diharapkan untuk bisa memiliki sebagian besar saham perusahaan di masa depan.
Sebuah jawaban yang malah memunculkan pertanyaan baru lagi. Suatu hal yang amat sangat berat jika gue lakukan sendiri. Apalagi jika gue tidak mampu untuk jujur dengan Emi atas semua yang telah terjadi ini. Gue butuh semuanya; Emi, Anin, mungkin Tya, untuk bisa melakukannya. Namun apa daya, gue terkurung dalam ketidakjujuran gue sendiri yang berawal dari ketidaktegasan bersikap. Gamang. Tak punya pendirian. Labil. Bodoh. Tak ada prinsip. Pengecut.
Hhh. Sungguh penerbangan yang terasa sangat lama. Enam jam ke negeri Cina terasa seperti puluhan jam terbang ke eropa.
------
Sekitar jam 7 pagi waktu setempat, gue dan Tya akhirnya sudah berada di Shanghai Pudong International Airport. Gue belum mengaktifkan telepon seluler gue. Tya pun sama. Dia terus saja meracau seperti orang yang baru pertama kali ke luar negeri. Gue mengurus bagasi terlebih dahulu dan kemudian berjalan menuju ke stasiun kereta Shanghai Maglev yang nantinya akan membawa penumpang dari bandara menuju ke Stasiun Longyang Road, di tengah kota Shanghai. Sementara Tya terus mengoceh, gue mengaktifkan nomor gue dan kemudian jaringan internet dan ponsel tersambung sepenuhnya. Beberapa notifikasi masuk dan akhirnya gue menemukan satu notifikasi chat dari Emi. Gue senang bukan kepalang melihatnya.
“Gue ke kamar mandi sebentar,” gue menginformasikan ke Tya, dan langsung dibalas dengan anggukan, sementara dirinya sibuk berswafoto tanpa memperhatikan gue.
Gue berjalan menuju ke kamar mandi. Tidak sepenuhnya ingin ke kamar mandi sebenarnya, tapi gue ingin segera membuka pesan dari Emi yang gue yakin sedang rindu dan mungkin surprise dengan keberangkatan gue ini. Senyum mengembang sangat lebar ketika gue mulai membuka pesan dari Emi.
EMI CHAT
Quote:
=====FIN POV IJA=====
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 10:04
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
dan bintang 5 
