- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#567
Lost_Part 5C
“Kakak gue biasanya suka random jalan sendiri. Ke pasar, ke mall atau sekedar datang ke keramaian orang. Dia cuma mau tau kebiasaan orang-orang seperti apa. Itu juga yang membuat dia jadi gampang bergaul sama orang. Dia mempelajari banyak orang. Makanya ketika sahabatnya dulu menugaskan dia untuk stalking orang, dengan mudah dia melakukan tugasnya. Pada akhirnya ini juga yang jadi modal dia untuk bisa bertemu dan banyak sekali relasi dengan beragam manusia. Dari kaki lima yang dia temuin di pinggir jalan, sampai dengan yang ada di penthouse sebuah Gedung pencakar langit pun bisa dia jabanin. Sesuatu yang masih gue coba kejar untuk pelajarin. Sampai sekarang gue belum bisa semahir dia.”
“………………….”
“Oh iya, dulu itu dia yang habis-habisan bantu mohon ke bokap nyokap gue demi bisa berangkat ke luar negeri buat kuliah. Gue capek dan gue muak untuk selalu dinomerduakan, dan nggak pernah diturutin permintaannya. Hal ini bikin dia sadar, adiknya juga butuh pengakuan. Adiknya butuh diberikan kesempatan. Pada akhirnya dia harus melakukan ‘sesuatu’ sebagai jaminan kalau gue bermasalah di luar negeri nanti pas gue kuliah, semua biaya dan segala macem kebutuhan gue harus dia yang nanggung. Karena dia percaya gue, maka dia iyain semua persyaratan dari bokap dan nyokap. Ini kayak semacam jalan untuk memuluskan satu permintaan gue karena selama ini permintaan, atau mungkin gue-nya, yang nggak pernah dianggap ada. ”
“………………….”
“…..dan yang benar-benar meyakinkan bokap nyokap itu adalah mantan gue itu. Dia yang rela untuk memantau gue, ngawasin gue, walaupun harus ngejalanin LDR. Dia menyanggupi untuk sesekali berangkat ke negara tempat gue kuliah yang kala itu belum gue tentukan kemananya. Dia juga menyanggupi untuk membantu gue mendapatkan kampus yang bagus dan bisa menumbuhkembangkan kemampuan gue. Mungkin karena pengalaman itu juga, Makanya dia bisa merekomendasikan adiknya untuk kuliah S2 juga disana. Hebatnya, adiknya kesana via beasiswa, full gratis..tis.. beda dengan gue, yang masih pakai uang orangtua.”
“By the way, lo tau nggak sih kenapa gue bisa kenal sama Edmiral?” tanya gue tiba-tiba yang memotong omongannya. Dia hanya menggeleng lalu menaikkan kedua bahunya, tanda tidak tahu apa-apa.
“Kira-kira lo bakal surprise nggak, kalau gue kasih tau?” tanya gue lagi, menambahkan pertanyaan yang belum dijawab sebelumnya.
“Mungkin ya. Tapi gue nggak mau berharap banyak juga sih sebenarnya. Dan kita itu kesini mau ngomongin informasi yang berhubungan dengan gue ya, bukan dengan mantan gue.” Balasnya ketus lagi.
“Yakin lo, nggak mau tau? Karena ini bisa aja ngubah jalan hidup lo kedepannya.” Tanya gue lagi.
“Terserah lo, deh, Ja!” jawabnya judes.
“Oke. Lanjutin aja cerita lo kalau gitu.”
Dia mulai memakan makanannya, dan setelahnya langsung menoleh ke arah gue.
“Dia saudara lo, ya?” tanyanya mendadak. Gue hanya bisa tersenyum kecil.
“Lanjutin cerita lo aja.” Ucap gue singkat, sambil terus tersenyum.
“Jawab dulu…”
“Kalo iya, kenapa? Kalo nggak, kenapa?”
“Ya nggak apa-apa.”
“Haha. Yakin lo nggak apa-apa?”
“Yakin….”
“Kayaknya gue juga tau, salah satu alasan kuat kenapa dia mutusin lo.”
“Nggak usah sok tau dan sok kenal sama gue. Lo baru aja ngobrol sama gue ya!” nadanya kembali bengis dalam kalimatnya kali ini.
“Kan lo yang bilang sendiri, kalo lo sama kakak lo itu banyak memiliki kesamaan, mata lo ya mata dia juga. Otomatis banyak sifatnya yang hampir sama. Cuma gue nebak ada satu perbedaan dan ini yang jadi dasar Emir mutusin lo.”
“Apaan?”
“Empati.”
“Hah?! Tau apa lo soal moral gue? Soal empati gue?”
“Lo sendiri yang cerita tadi kan gimana sikap lo selama ini? Itu yang bedain lo sama kakak lo. Ya empati. Kakak lo bisa sukses kata lo, ya itu karena dia punya empati besar. Dia banyak kolaborasi sama orang, kalo ego dan empatinya nggak gede, nggak akan bisa. Sementara lo, kejebak sama dendam yang nggak bisa lo lampiasin kemana-mana selama ini. Akhirnya, lo memutuskan untuk memilih jalan yang beda dari dia. Lo menyalahkan keadaan terus-terusan dan akhirnya lo jadi nirempati sama sekitar. Sama orang lain, sama bokap nyokap lo sendiri, bahkan sama kakak lo aja lo bisa berantem, padahal udah segitunya dia belain lo. Ya gimana Emir yang anaknya super sabar itu betah sama lo. Hahaha. Gue juga bingung itu orang-orang yang masih bertahan di kantor nyari apa dari lo yang model begini?”
“Lo tuh baru aja dengar cerita gue sebentar udah jadi polisi moral ya? Sok tau banget lo!” Dia kembali menyalak galak.
“Tapi faktanya begitu kan? Ayolah, akuin aja.”
“………………..”
“Kenapa diam aja, lo? Biasanya tengil banget kalo mau nge-counter gue.” Ucap gue kemudian sambil mengetik di HP gue, mengirim pesan. Dia hanya termangu kembali. Dia hanya melihat saja makanan di hadapannya.
“Nggak tau…..” suaranya lirih, nadanya terdengar bergetar. “…dan Emir itu siapa lo, sih?” tiba-tiba dia menegakkan kepala dan menoleh lagi ke gue, bertanya.
“Akuin dulu kalo lo emang nirempati.” Jawab gue.
Dia hanya mengangguk pelan. Sepertinya dia merasa gue menjebaknya, tapi memang harusnya seperti ini. Orang yang bengis seperti ini tidaklah natural. Pasti ada sebab musababnya. Pada akhirnya gue pun mengetahui kalau selama ini dia hampir atau bahkan tidak pernah dianggap eksis. Segala yang ia lakukan tidak pernah mendapatkan apresiasi. Hal ini sebetulnya juga terjadi di Emi. Hanya saja, mungkin karena Emi punya pegangan agama yang lebih baik dan dia selalu memposisikan diri sebagai orang yang jadi lawan bicara atau membayangkan menjadi orang lain, tingkat empatinya menjadi sangat tinggi, sampai-sampai perjalanan lika liku cinta kami berdua jadi berwarna.
Naik turunnya hubungan kami berdua terjadi karena rasa empati Emi yang amat sangat tinggi terhadap sekitarnya, terhadap teman-temannya, terhadap orang tuanya, dan sampai pada titik dimana kepentingannya tidaklah menjadi prioritas demi membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Gue seringkali jengah merasakan hubungan yang seperti ini, karena dia mengutamakan orang lain terus. Bahkan persiapan pernikahan gue yang runyam dan akhirnya berimbas pada bimbangnya gue, dan mungkin Emi sendiri, ya penyebabnya ini, mengakomodir kepentingan orang lain terus.
Hal yang menjadi pertanyaan gue berikutnya, kok Anin bisa luput ya dari penyelidikannya soal mantan kekasih adiknya ini? Padahal ini jelas adanya dan dekat sekali hubungannya dengan gue. Kan Anin tahu seluk beluk gue semua? Apa jangan-jangan dia tidak ingin mencampuri urusan pribadi adiknya? Tapi katanya, mata dia selalu jadi matanya Anin dan sebaliknya. Ah, biar saja lah ini menjadi misteri. Atau nanti bisa gue tanyakan.
“...oke. Sekarang biar gue kasih tau. Emir itu adalah sepupu gue. Dia sepupu terdekat gue, dari sekian banyak sepupu gue yang lain. Karena kami memang seumuran.” lanjut gue.
Entah mengapa, tangisnya pecah seketika. Ini kok malah jadi urusan dia ya? Padahal yang gue mau adalah informasi mengenai hubungan dia dengan kakaknya, keberadaan kakaknya yang entah kemana sekarang, dan mungkin informasi-informasi lainnya yang gue butuh tahu demi keberlangsungan kegiatan di kantor nanti.
Gue menunggunya selesai menangis. Cukup lama. Gue mendiamkan saja walaupun pada dasarnya gue tidak pernah tega melihat cewek menangis di depan gue. Semua cewek yang pernah gue kenal dan dekat dengan gue rasa-rasanya pernah menangis di depan gue. Frekuensi yang banyak tidak membuat gue kebal dengan perasaan tidak enak jika melihat sosok Wanita menangis. Tapi anehnya, gue seperti membiarkan Emi untuk menangisi gue, menangisi keadaan hubungan kami, menangisi kondisi keluarga kami yang bagaikan dua kutub yang saling berlawanan. Apa iya gue betul-betul mencintainya? Karena apa yang gue lakukan ini sudah melebihi batas. Kenapa pula Emi masih mau bertahan dan masih mau untuk gue perjuangkan?
Gue jadi bertanya kepada diri gue sendiri, apa iya seorang Firzy mau bertahan karena memang mencintai Emi dengan tulus? Atau sebenarnya hanya tidak ingin kehilangan karena Emi merupakan sosok penyempurna kepentingan-kepentingan Firzy saja? Membantu dalam banyak hal, dari mulai akademik sampai dengan pemikiran-pemikiran logis dan taktis dalam menghadapi masalah serta tantangan dalam kehidupan. Gue semakin larut dalam pemikiran ini. ketidaktegasan gue menjerumuskan gue semakin dalam.
“Kak Anin itu cinta mati sama lo, Ja. Asal lo tau!!!” tiba-tiba dia berteriak ditengah tangisnya yang belum mereda.
“Hah? Kok jadi tiba-tiba kesitu?” Gue kaget setengah mati.
“Gue udah ngerasain yang namanya kehilangan kepercayaan dari orang tua gue, kehilangan kepercayaan dari teman-teman gue yang akhirnya membuat gue nggak punya banyak teman, ditambah dengan kelakuan gue yang hampir selalu jahat, egois dan mau menang sendiri kepada mereka, dan kemudian ditambah lagi kehilangan orang yang benar-benar gue cintai setulus hati gue, mantan gue. Saat ini, gue udah nggak mau kehilangan lagi. Gue nggak mau kehilangan kakak gue, Ja.” Dia berbicara dengan getir dan dari nada bicaranya seperti penuh pengharapan.
“Sebentar deh, gue kok jadi nggak ngerti gini ya?”
“Ja, dengan fakta kalo ternyata Emir adalah sepupu lo, itu berarti takdir gue dan kakak gue sama. Kami sama-sama mencintai orang yang memiliki ikatan darah. Gilanya, lo akan segera meninggalkan kakak gue, sementara gue sudah kehilangan Emir sedari lama. Gue dan Kak Anin menderita bertahun-tahun karena kalian. Kehidupan gue dan kakak gue berantakan karena kalian. Gue udah nggak mau kehilangan siapa-siapa lagi, Ja.” Tya terus berbicara getir yang benar-benar menggetarkan hati gue.
“Tunggu-tunggu. Ini dari tadi lo ngomong kehilangan kehilangan terus. Emang kakak lo mau kemana sih?” tanya gue penasaran.
Anantya menyeka air matanya yang mengalir deras di pipi ber-make up tipis itu. Sebagian eye liner yang ia lukiskan diatas kantong matanya mulai luntur. Gue yakin eye liner yang dia pakai bukan merk murah, yang mana itu artinya, sudah banyak air mata yang mengucur deras dari matanya yang sendu tapi sangat indah dipandang, persis seperti milik Anin. Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop warna merah, seukuran amplop untuk menaruh uang kertas.
“Dia bilang ke gue, setelah pertemuan dengan lo ini, gue harus nyerahin ini ke lo.” Katanya.
“Apaan nih?” gue menerima amplop merah ini dan bersiap untuk membukanya.
“…jangan dibuka! Nanti kalo lo udah di rumah atau dimanapun, asal pas udah nggak bareng gue.” Ujarnya memotong gerak gerik gue.
“Oke…” ucap gue singkat.
“…dan setelah ini, ini artinya semua akan segera berakhir dan lo harus memulai dari awal. Itu yang dia sampaikan ke gue, yang katanya harus gue bilang ke lo.”
“Apaan sih? Anin mau kemana, Tya? Kok dia nggak bilang apa-apa sama gue? Ini gue hubungin juga nggak bisa.”
Dia hanya menggeleng.
“Please. Gue mohon sama lo, Tya. Ada yang perlu gue tau lagi nggak ini?” mendadak gue khawatir setengah mati. Gue berpikir kalau Anin nanti akan bertindak nekat.
“Dia janji akan terus menjalani kehidupan. Jadi lo tenang aja.” Ucapnya lirih sembari sesenggukan.
“Iya tapi menjalani kehidupan dimana? Sama siapa? Dan kenapa lo nggak tau?!” nada gue meninggi karena panik.
“ITU SEBABNYA GUE BILANG GUE NGGAK MAU KEHILANGAN SIAPA-SIAPA LAGI, LO NGERTI NGGAK SIH???!!!” Tya berteriak lagi dengan cukup kencang dan membuat atensi di ruangan tersebut menuju ke kami.
“Please, Tya, calm down. Jujur gue masih susah mencerna ini semua.” Lanjut gue.
“Dia cuma bilang, 'ada di amplop'. So, gue juga nggak tau apa-apa lagi. Makanya gue takut, Ja. Gue takut. Gue benar-benar nggak mau kehilangan dia.” Tangisnya pecah lagi.
“Gue juga, Tya!”
PLAAAAK.
“Lo nggak akan ngerasa kehilangan ya! Lo itu mau nikah, Ja! Kakak gue mau mati sekalipun itu nantinya nggak akan jadi pikiran lo. Lo ngerti nggak?! Lo tuh pernah ngerasa kehilangan nggak sih?! Pernah kan?! Kenapa lo masih kayak gini? Tunangan lo nggak bikin lo puas? Terus mau lo dia juga ninggalin lo? Gitu?!” Tya menampar gue dan kemudian berbicara antara sedih dan marah, nadanya luar biasa bergetar di setiap kata yang ia ucapkan.
“……………………” gue hanya bisa diam dan tertunduk. Sekali lagi, ketidaktegasan gue merusak segalanya.
“Kakak gue udah kehilangan lo, kehilangan keluarga kecilnya, kehilangan anaknya, dan mungkin sebentar lagi kehilangan gue. Itu semua gara-gara lo. Dia merasakan derita cinta sebelah selama belasan tahun dari jaman kalian masih maba di kampus. Dan lo sekarang masih bisa untuk bilang lo juga ngerasa kehilangan dia? Lo masih mau main-mainin perasaan cewek lagi, hah?! Lo nggak mikirin perasaan tunangan lo? Lo nggak mikirin perasaan Kak Anin? Bagaimana kalo lo di posisi mereka dan mendapati pujaan hati yang udah dibelain habis-habisan ternyata berbagi hati dengan orang lain? Bener-bener manusia nggak tau diuntung lo, Ja! Selama ini sikap gue emang udah benar untuk membenci lo!!” nadanya kembali ke mode bengis dan cukup lantang, yang menyebabkan atensi kembali kepada kami. Untuk orang nirempati seperti Tya, berbicara fakta seperti ini sangat menohok gue. Karena omongan ini justru menampakkan sisi empatinya terhadap kakaknya yang sangat besar.
Kami terjebak dalam diam yang cukup lama sampai akhirnya ada sosok yang menghampiri kami di meja tempat kami berbicara.
“Tya?” ujar sosok tersebut, lembut tetapi menampilkan ekspresi kaget karena terkejut. Anantya menegakkan kepalanya dan menoleh keatas, dan luar biasa terkejut dengan sosok ini. Tya kemudian menoleh ke gue, seperti tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Gue hanya mengangguk kecil saja, kemudian berdiri sambil memegang lembut bahu kiri Tya.
“Lo mau kemana?” tanyanya lirih.
“Kayaknya untuk saat ini, jawaban lengkap bisa gue dapatkan disini….” Kata gue sambil menunjukkan amplop yang gue pegang dengan tangan kiri, “…so, gue bisa pulang sekarang. Kalian lanjut aja.”
“Ja, nanti setelah lo pulang, please tolong kabarin apapun yang jadi isi di amplop itu…” ujar Tya, lirih dan penuh pengharapan lagi. Gue hanya bisa mengangguk lagi dan tersenyum kepadanya. Gue pun berpamitan dengan mereka berdua.
“Nanti gue ceritain.” Ujar gue ke sosok tersebut ketika gue berada disampingnya, menepuk bahu kanannya dan kemudian berjalan membelakanginya. Dia hanya berdiam dan menatap gue dengan sejuta pertanyaan.
“………………….”
“Oh iya, dulu itu dia yang habis-habisan bantu mohon ke bokap nyokap gue demi bisa berangkat ke luar negeri buat kuliah. Gue capek dan gue muak untuk selalu dinomerduakan, dan nggak pernah diturutin permintaannya. Hal ini bikin dia sadar, adiknya juga butuh pengakuan. Adiknya butuh diberikan kesempatan. Pada akhirnya dia harus melakukan ‘sesuatu’ sebagai jaminan kalau gue bermasalah di luar negeri nanti pas gue kuliah, semua biaya dan segala macem kebutuhan gue harus dia yang nanggung. Karena dia percaya gue, maka dia iyain semua persyaratan dari bokap dan nyokap. Ini kayak semacam jalan untuk memuluskan satu permintaan gue karena selama ini permintaan, atau mungkin gue-nya, yang nggak pernah dianggap ada. ”
“………………….”
“…..dan yang benar-benar meyakinkan bokap nyokap itu adalah mantan gue itu. Dia yang rela untuk memantau gue, ngawasin gue, walaupun harus ngejalanin LDR. Dia menyanggupi untuk sesekali berangkat ke negara tempat gue kuliah yang kala itu belum gue tentukan kemananya. Dia juga menyanggupi untuk membantu gue mendapatkan kampus yang bagus dan bisa menumbuhkembangkan kemampuan gue. Mungkin karena pengalaman itu juga, Makanya dia bisa merekomendasikan adiknya untuk kuliah S2 juga disana. Hebatnya, adiknya kesana via beasiswa, full gratis..tis.. beda dengan gue, yang masih pakai uang orangtua.”
“By the way, lo tau nggak sih kenapa gue bisa kenal sama Edmiral?” tanya gue tiba-tiba yang memotong omongannya. Dia hanya menggeleng lalu menaikkan kedua bahunya, tanda tidak tahu apa-apa.
“Kira-kira lo bakal surprise nggak, kalau gue kasih tau?” tanya gue lagi, menambahkan pertanyaan yang belum dijawab sebelumnya.
“Mungkin ya. Tapi gue nggak mau berharap banyak juga sih sebenarnya. Dan kita itu kesini mau ngomongin informasi yang berhubungan dengan gue ya, bukan dengan mantan gue.” Balasnya ketus lagi.
“Yakin lo, nggak mau tau? Karena ini bisa aja ngubah jalan hidup lo kedepannya.” Tanya gue lagi.
“Terserah lo, deh, Ja!” jawabnya judes.
“Oke. Lanjutin aja cerita lo kalau gitu.”
Dia mulai memakan makanannya, dan setelahnya langsung menoleh ke arah gue.
“Dia saudara lo, ya?” tanyanya mendadak. Gue hanya bisa tersenyum kecil.
“Lanjutin cerita lo aja.” Ucap gue singkat, sambil terus tersenyum.
“Jawab dulu…”
“Kalo iya, kenapa? Kalo nggak, kenapa?”
“Ya nggak apa-apa.”
“Haha. Yakin lo nggak apa-apa?”
“Yakin….”
“Kayaknya gue juga tau, salah satu alasan kuat kenapa dia mutusin lo.”
“Nggak usah sok tau dan sok kenal sama gue. Lo baru aja ngobrol sama gue ya!” nadanya kembali bengis dalam kalimatnya kali ini.
“Kan lo yang bilang sendiri, kalo lo sama kakak lo itu banyak memiliki kesamaan, mata lo ya mata dia juga. Otomatis banyak sifatnya yang hampir sama. Cuma gue nebak ada satu perbedaan dan ini yang jadi dasar Emir mutusin lo.”
“Apaan?”
“Empati.”
“Hah?! Tau apa lo soal moral gue? Soal empati gue?”
“Lo sendiri yang cerita tadi kan gimana sikap lo selama ini? Itu yang bedain lo sama kakak lo. Ya empati. Kakak lo bisa sukses kata lo, ya itu karena dia punya empati besar. Dia banyak kolaborasi sama orang, kalo ego dan empatinya nggak gede, nggak akan bisa. Sementara lo, kejebak sama dendam yang nggak bisa lo lampiasin kemana-mana selama ini. Akhirnya, lo memutuskan untuk memilih jalan yang beda dari dia. Lo menyalahkan keadaan terus-terusan dan akhirnya lo jadi nirempati sama sekitar. Sama orang lain, sama bokap nyokap lo sendiri, bahkan sama kakak lo aja lo bisa berantem, padahal udah segitunya dia belain lo. Ya gimana Emir yang anaknya super sabar itu betah sama lo. Hahaha. Gue juga bingung itu orang-orang yang masih bertahan di kantor nyari apa dari lo yang model begini?”
“Lo tuh baru aja dengar cerita gue sebentar udah jadi polisi moral ya? Sok tau banget lo!” Dia kembali menyalak galak.
“Tapi faktanya begitu kan? Ayolah, akuin aja.”
“………………..”
“Kenapa diam aja, lo? Biasanya tengil banget kalo mau nge-counter gue.” Ucap gue kemudian sambil mengetik di HP gue, mengirim pesan. Dia hanya termangu kembali. Dia hanya melihat saja makanan di hadapannya.
“Nggak tau…..” suaranya lirih, nadanya terdengar bergetar. “…dan Emir itu siapa lo, sih?” tiba-tiba dia menegakkan kepala dan menoleh lagi ke gue, bertanya.
“Akuin dulu kalo lo emang nirempati.” Jawab gue.
Dia hanya mengangguk pelan. Sepertinya dia merasa gue menjebaknya, tapi memang harusnya seperti ini. Orang yang bengis seperti ini tidaklah natural. Pasti ada sebab musababnya. Pada akhirnya gue pun mengetahui kalau selama ini dia hampir atau bahkan tidak pernah dianggap eksis. Segala yang ia lakukan tidak pernah mendapatkan apresiasi. Hal ini sebetulnya juga terjadi di Emi. Hanya saja, mungkin karena Emi punya pegangan agama yang lebih baik dan dia selalu memposisikan diri sebagai orang yang jadi lawan bicara atau membayangkan menjadi orang lain, tingkat empatinya menjadi sangat tinggi, sampai-sampai perjalanan lika liku cinta kami berdua jadi berwarna.
Naik turunnya hubungan kami berdua terjadi karena rasa empati Emi yang amat sangat tinggi terhadap sekitarnya, terhadap teman-temannya, terhadap orang tuanya, dan sampai pada titik dimana kepentingannya tidaklah menjadi prioritas demi membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Gue seringkali jengah merasakan hubungan yang seperti ini, karena dia mengutamakan orang lain terus. Bahkan persiapan pernikahan gue yang runyam dan akhirnya berimbas pada bimbangnya gue, dan mungkin Emi sendiri, ya penyebabnya ini, mengakomodir kepentingan orang lain terus.
Hal yang menjadi pertanyaan gue berikutnya, kok Anin bisa luput ya dari penyelidikannya soal mantan kekasih adiknya ini? Padahal ini jelas adanya dan dekat sekali hubungannya dengan gue. Kan Anin tahu seluk beluk gue semua? Apa jangan-jangan dia tidak ingin mencampuri urusan pribadi adiknya? Tapi katanya, mata dia selalu jadi matanya Anin dan sebaliknya. Ah, biar saja lah ini menjadi misteri. Atau nanti bisa gue tanyakan.
“...oke. Sekarang biar gue kasih tau. Emir itu adalah sepupu gue. Dia sepupu terdekat gue, dari sekian banyak sepupu gue yang lain. Karena kami memang seumuran.” lanjut gue.
Entah mengapa, tangisnya pecah seketika. Ini kok malah jadi urusan dia ya? Padahal yang gue mau adalah informasi mengenai hubungan dia dengan kakaknya, keberadaan kakaknya yang entah kemana sekarang, dan mungkin informasi-informasi lainnya yang gue butuh tahu demi keberlangsungan kegiatan di kantor nanti.
Gue menunggunya selesai menangis. Cukup lama. Gue mendiamkan saja walaupun pada dasarnya gue tidak pernah tega melihat cewek menangis di depan gue. Semua cewek yang pernah gue kenal dan dekat dengan gue rasa-rasanya pernah menangis di depan gue. Frekuensi yang banyak tidak membuat gue kebal dengan perasaan tidak enak jika melihat sosok Wanita menangis. Tapi anehnya, gue seperti membiarkan Emi untuk menangisi gue, menangisi keadaan hubungan kami, menangisi kondisi keluarga kami yang bagaikan dua kutub yang saling berlawanan. Apa iya gue betul-betul mencintainya? Karena apa yang gue lakukan ini sudah melebihi batas. Kenapa pula Emi masih mau bertahan dan masih mau untuk gue perjuangkan?
Gue jadi bertanya kepada diri gue sendiri, apa iya seorang Firzy mau bertahan karena memang mencintai Emi dengan tulus? Atau sebenarnya hanya tidak ingin kehilangan karena Emi merupakan sosok penyempurna kepentingan-kepentingan Firzy saja? Membantu dalam banyak hal, dari mulai akademik sampai dengan pemikiran-pemikiran logis dan taktis dalam menghadapi masalah serta tantangan dalam kehidupan. Gue semakin larut dalam pemikiran ini. ketidaktegasan gue menjerumuskan gue semakin dalam.
“Kak Anin itu cinta mati sama lo, Ja. Asal lo tau!!!” tiba-tiba dia berteriak ditengah tangisnya yang belum mereda.
“Hah? Kok jadi tiba-tiba kesitu?” Gue kaget setengah mati.
“Gue udah ngerasain yang namanya kehilangan kepercayaan dari orang tua gue, kehilangan kepercayaan dari teman-teman gue yang akhirnya membuat gue nggak punya banyak teman, ditambah dengan kelakuan gue yang hampir selalu jahat, egois dan mau menang sendiri kepada mereka, dan kemudian ditambah lagi kehilangan orang yang benar-benar gue cintai setulus hati gue, mantan gue. Saat ini, gue udah nggak mau kehilangan lagi. Gue nggak mau kehilangan kakak gue, Ja.” Dia berbicara dengan getir dan dari nada bicaranya seperti penuh pengharapan.
“Sebentar deh, gue kok jadi nggak ngerti gini ya?”
“Ja, dengan fakta kalo ternyata Emir adalah sepupu lo, itu berarti takdir gue dan kakak gue sama. Kami sama-sama mencintai orang yang memiliki ikatan darah. Gilanya, lo akan segera meninggalkan kakak gue, sementara gue sudah kehilangan Emir sedari lama. Gue dan Kak Anin menderita bertahun-tahun karena kalian. Kehidupan gue dan kakak gue berantakan karena kalian. Gue udah nggak mau kehilangan siapa-siapa lagi, Ja.” Tya terus berbicara getir yang benar-benar menggetarkan hati gue.
“Tunggu-tunggu. Ini dari tadi lo ngomong kehilangan kehilangan terus. Emang kakak lo mau kemana sih?” tanya gue penasaran.
Anantya menyeka air matanya yang mengalir deras di pipi ber-make up tipis itu. Sebagian eye liner yang ia lukiskan diatas kantong matanya mulai luntur. Gue yakin eye liner yang dia pakai bukan merk murah, yang mana itu artinya, sudah banyak air mata yang mengucur deras dari matanya yang sendu tapi sangat indah dipandang, persis seperti milik Anin. Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop warna merah, seukuran amplop untuk menaruh uang kertas.
“Dia bilang ke gue, setelah pertemuan dengan lo ini, gue harus nyerahin ini ke lo.” Katanya.
“Apaan nih?” gue menerima amplop merah ini dan bersiap untuk membukanya.
“…jangan dibuka! Nanti kalo lo udah di rumah atau dimanapun, asal pas udah nggak bareng gue.” Ujarnya memotong gerak gerik gue.
“Oke…” ucap gue singkat.
“…dan setelah ini, ini artinya semua akan segera berakhir dan lo harus memulai dari awal. Itu yang dia sampaikan ke gue, yang katanya harus gue bilang ke lo.”
“Apaan sih? Anin mau kemana, Tya? Kok dia nggak bilang apa-apa sama gue? Ini gue hubungin juga nggak bisa.”
Dia hanya menggeleng.
“Please. Gue mohon sama lo, Tya. Ada yang perlu gue tau lagi nggak ini?” mendadak gue khawatir setengah mati. Gue berpikir kalau Anin nanti akan bertindak nekat.
“Dia janji akan terus menjalani kehidupan. Jadi lo tenang aja.” Ucapnya lirih sembari sesenggukan.
“Iya tapi menjalani kehidupan dimana? Sama siapa? Dan kenapa lo nggak tau?!” nada gue meninggi karena panik.
“ITU SEBABNYA GUE BILANG GUE NGGAK MAU KEHILANGAN SIAPA-SIAPA LAGI, LO NGERTI NGGAK SIH???!!!” Tya berteriak lagi dengan cukup kencang dan membuat atensi di ruangan tersebut menuju ke kami.
“Please, Tya, calm down. Jujur gue masih susah mencerna ini semua.” Lanjut gue.
“Dia cuma bilang, 'ada di amplop'. So, gue juga nggak tau apa-apa lagi. Makanya gue takut, Ja. Gue takut. Gue benar-benar nggak mau kehilangan dia.” Tangisnya pecah lagi.
“Gue juga, Tya!”
PLAAAAK.
“Lo nggak akan ngerasa kehilangan ya! Lo itu mau nikah, Ja! Kakak gue mau mati sekalipun itu nantinya nggak akan jadi pikiran lo. Lo ngerti nggak?! Lo tuh pernah ngerasa kehilangan nggak sih?! Pernah kan?! Kenapa lo masih kayak gini? Tunangan lo nggak bikin lo puas? Terus mau lo dia juga ninggalin lo? Gitu?!” Tya menampar gue dan kemudian berbicara antara sedih dan marah, nadanya luar biasa bergetar di setiap kata yang ia ucapkan.
“……………………” gue hanya bisa diam dan tertunduk. Sekali lagi, ketidaktegasan gue merusak segalanya.
“Kakak gue udah kehilangan lo, kehilangan keluarga kecilnya, kehilangan anaknya, dan mungkin sebentar lagi kehilangan gue. Itu semua gara-gara lo. Dia merasakan derita cinta sebelah selama belasan tahun dari jaman kalian masih maba di kampus. Dan lo sekarang masih bisa untuk bilang lo juga ngerasa kehilangan dia? Lo masih mau main-mainin perasaan cewek lagi, hah?! Lo nggak mikirin perasaan tunangan lo? Lo nggak mikirin perasaan Kak Anin? Bagaimana kalo lo di posisi mereka dan mendapati pujaan hati yang udah dibelain habis-habisan ternyata berbagi hati dengan orang lain? Bener-bener manusia nggak tau diuntung lo, Ja! Selama ini sikap gue emang udah benar untuk membenci lo!!” nadanya kembali ke mode bengis dan cukup lantang, yang menyebabkan atensi kembali kepada kami. Untuk orang nirempati seperti Tya, berbicara fakta seperti ini sangat menohok gue. Karena omongan ini justru menampakkan sisi empatinya terhadap kakaknya yang sangat besar.
Kami terjebak dalam diam yang cukup lama sampai akhirnya ada sosok yang menghampiri kami di meja tempat kami berbicara.
“Tya?” ujar sosok tersebut, lembut tetapi menampilkan ekspresi kaget karena terkejut. Anantya menegakkan kepalanya dan menoleh keatas, dan luar biasa terkejut dengan sosok ini. Tya kemudian menoleh ke gue, seperti tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Gue hanya mengangguk kecil saja, kemudian berdiri sambil memegang lembut bahu kiri Tya.
“Lo mau kemana?” tanyanya lirih.
“Kayaknya untuk saat ini, jawaban lengkap bisa gue dapatkan disini….” Kata gue sambil menunjukkan amplop yang gue pegang dengan tangan kiri, “…so, gue bisa pulang sekarang. Kalian lanjut aja.”
“Ja, nanti setelah lo pulang, please tolong kabarin apapun yang jadi isi di amplop itu…” ujar Tya, lirih dan penuh pengharapan lagi. Gue hanya bisa mengangguk lagi dan tersenyum kepadanya. Gue pun berpamitan dengan mereka berdua.
“Nanti gue ceritain.” Ujar gue ke sosok tersebut ketika gue berada disampingnya, menepuk bahu kanannya dan kemudian berjalan membelakanginya. Dia hanya berdiam dan menatap gue dengan sejuta pertanyaan.
Diubah oleh yanagi92055 09-11-2024 23:48
itkgid dan 9 lainnya memberi reputasi
10
dan bintang 5 
