Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#564
Lost_Part 5B
Cukup lama gue dan Tya tenggelam dalam diam. Tidak berbicara satu sama lain. Gue sibuk chat Emi dan Anin, yang mana saat ini keduanya tidak merespon gue. Tumben sekali Anin tidak merespon sama sekali. Kalo Emi, mungkin dia jenuh, sama dengan gue. Mungkin juga dia mau menyerah. Gue pun juga. Bahkan di saat kekesalan ini menumpuk karena tidak kunjung ada respon baik dari Emi, gue malah berniat untuk melampiaskannya ke Anantya. Membuatnya bertekuk lutut, dan kemudian menjadikannya seperti Anin selanjutnya. Tetapi, niat ini sudah terlalu buruk dan mau sampai kapan gue begini terus?

“Silakan, Kak, minumannya.” Dila datang dengan senyum manisnya dan memecah keheningan kami berdua.

“Makasih ya, Dil.” Ucap Tya sembari tersenyum.

“Makasih, Kak Dila.” Gue menambahkan, juga dengan senyuman, dan dibalas dengan anggukan serta senyuman manisnya. Seperti yang gue pernah bilang, berapa gaji staf disini ya? Bisa pada bening-bening begini. Oke mereka cantik, tapi perlu biaya perawatan yang tidak murah biar bisa berpenampilan seperti Fadilah malam ini.

“Ja. Ja. Bener kata dia, lo itu sebenarnya sama aja dari dulu. Nggak ada berubahnya.” Katanya datar, membuat gue gelagapan sejenak, sebelum akhirnya bisa mengendalikan diri kembali.

“Eh.. Oh.. Apaan. Gue biasa aja.” Gue sedikit gugup.

“Hahaha. Udah lah. Gue juga punya pengalaman sama banyak cowok kali. Nggak usah lo belagak pilon kayak gitu. Orang kayak lo gampang gue baca.” Dia menambahkan, tatapannya terus menatap layar HP nya. Gue menemukan keunikan lagi. Biasanya, cewek-cewek modis dan kece di ibukota itu kebanyakan memakai HP keluaran buah tergigit, sedangkan yang gue lihat sekarang adalah, Tya yang menggunakan Android asal Korea, keluaran terbaru dan gue tahu itu seri tertingginya. Agak lain memang. Tapi gue tidak terlalu mempedulikan cewek jutek ini. Gue lebih ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari dia.

“Gimana? Ayo deh mulai cerita. Gue nggak mau ngehabisin banyak waktu gue sama lo. Banyak banget yang gue bisa kerjain selain harus barengan sama lo.” Ucap gue dengan nada tak kalah meremehkan.

“Sabar. Lagian lo mau kemana sih? Apa emang mau lo lakuin? Hah?! Lo kan nggak ngapa-ngapain. Cuma kerja, ngikutin instruksi orang, lalu pulang, main game dan nonton film. Harusnya gue yang ngomong begitu ke lo. Ngapain gue berlama-lama sama cowok yang nggak banyak manfaatnya untuk gue. Gue bisa ngerancang plan baru untuk usaha-usaha gue yang lain, coba koordinasi dengan tim gue, meeting online sama calon investor atau bahkan ngejarin tagihan-tagihan yang belum dilunasin sama klien. Jauh lebih bermanfaat dan menghasilkan kan, daripada yang lo lakukan? Hahaha.” Nada bicaranya kembali dalam mode ‘bengis’, walaupun santai.

“Terserah lo, deh, Tya.” Gue mendengus kesal dan menyeruput minuman yang ada di hadapan gue dan kembali merebahkan badan gue di sofa.

“Haha. Ya kalo terserah gue, sabar!” dia menekankan akhir katanya dengan tatapan tajam, lalu mulai meminum minumannya dengan sedotan. Bibirnya yang tipis sangat menggugah selera ketika dia menyeruput minuman melalui sedotan.

“…………..” gue hanya bisa memandangi sambil membatin, ‘anj*ng banget. Kenapa gue mesti kerja sama orang kayak gini, sih.’

“Oke, gue akan mulai.” Ucapnya tiba-tiba setelah kami berdiam cukup lama.

“Lo dengerin aja kayak anak kecil lagi dengerin dongeng sebelum tidur ya. Haha.” Nada mengejeknya selalu mengikuti setiap kata yang keluar dari mulutnya. 

“…jingan…” gumam gue.

“Apaan?”

“Oh. Nggak. Go on..”

Anantya membetulkan posisi duduknya. Dia sedikit menegakkan badannya yang sedari tadi direbahkan agak kebelakang sofa. Lalu, dia menepuk sofa dengan tangan kirinya, mengode untuk gue berpindah duduk di sebelahnya.

“Hah? Nggak bisa begini aja? Gue rada aneh kalo lawan bicara gue ada di sebelah gue.” Kata gue.

“Udah deh, lo mau dengar atau nggak? Kalo mau, pindah sebelah gue.” Sahutnya, ketus seperti biasa.

“Banyak cingcong lo….” Lalu gue beranjak dari sofa seberang dan berpindah ke sebelah Anantya. Dari jarak sekitar satu meter saja, parfumnya sudah bisa membius gue. Setelah gue duduk di sebelahnya persis, gue melihat dari sisi samping raut wajahnya, ada seperti banyak beban di ujung mata sendunya. Sepertinya, salah satu alasan kenapa dia berlagak super power itu, ya karena dia ingin menutupi rapuhnya hati. Itu tebakan gue. Tapi gue tidak mau ambil pusing, karena gue hanya ingin dapat informasi.

“Gue pernah ngerasain jadi orang yang dinomerduakan…” dia mulai berbicara dengan nada yang sedikit pelan dari sebelumnya.

“Maksudnya?”

“Iya, dari kecil, gue selalu dinomerduakan. Memang, gue adalah anak nomer dua. Tetapi, bukan berarti dengan begitu, hak-hak gue juga dikesampingkan. Gue juga mau jadi pusat perhatian. Karena memang itu yang jadi impian gue sejak dulu. Gue selalu pingin nyolong spotlight dari kakak gue sendiri. Tapi gue nggak pernah bisa. Kalaupun bisa, itu karena kakak gue yang kasih pembelaan ke gue, ngasih peluang ke gue. Ketika gue beneran lebih baik dari dia pun, nggak bakalan bokap nyokap gue apresiasi yang gimana-gimana. Apalagi, gue tuh selalu dibandingin terus sama dia, dalam hal apapun. Even dalam hal nyari cowok. Gue benci dia, tapi juga sayang sama dia. Dia selalu ngebelain gue dalam keadaan apapun. Walaupun pada dasarnya kami sama-sama keras dan berkemauan kuat yang bikin kami sering banget cekcok bahkan sampai kontak fisik, tapi gue selalu pingin dia ada di sekitar gue. Gue nggak rela buat jauh-jauh dari dia.” Dia lalu menyeruput minumannya lagi, dan dari samping begini, Anantya benar-benar terlihat berbeda.

“…………………………” gue hanya sibuk memandanginya tanpa berbicara, menunggu untuk dia melanjutkan ceritanya.

“Pada satu waktu, gue pun mulai berulah. Mulainya di SMP, tapi menjadi-jadi pas SMA. Gue mulai merubah tampilan gue menjadi tomboy, walaupun gue tetap memelihara rambut gue sampai sebahu, kayak sekarang ini, tapi lebih boyish dari ini………..” lanjutnya sembari mengibas sekilas rambutnya. Wangi sekali rupanya. “….sebelum gue operasi lasik pas mau kuliah, gue pakai kacamata yang lumayan tebal. Minus dua, kanan dan kiri. Jadi kelihatan cupu sebelum gue ubah dandanan jadi tomboy. Dulu itu gue senang banget pakai celana jeans yang robek di lutut, dan kaos-kaos oblong. Jaman kita dulu kan anak-anak cewek kalo pake kaos ngetat, nah gue sebaliknya. Ini kemudian lumayan berhasil ‘mencuri’ perhatian bokap nyokap gue. Karena disamping gue berpenampilan kayak begitu, gue juga suka bikin masalah. Sok galak, sok keren dan sok-sokan lainnya. Tentunya, harus ada yang jadi korban gue. Makanya gue terkenal sebagai tukang labrak waktu SMA. Instead of berprestasi kayak dia, gue berlaku sebaliknya. Kalo dibilang bodoh, gue nggak bodoh. Waktu jaman SMA, kan pernah tuh kita tes IQ, nah IQ gue bisa nyampe 130-an…”

“Haha. Mirip kayak gue. Gue 133 dulu…”

“Ssst. Jangan potong omongan gue. Dan gue nggak peduli IQ lo ya. Soalnya kakak gue IQ-nya 143 sih. Nggak usah sombong lo.” Jawabnya ketus.

“Iya iya. Kan gue cuma bilang doang….” Balas gue sambil melihat ke arah meja.

“Mau dilanjutin nggak?”

“Oke. Oke. Nggak usah galak-galak lo. Jauh dari jodoh nanti.” Kata gue mencoba mencairkan suasana.

“Nggak usah ngomong jodoh sama gue, njing.”

“Alright then, go on…” sahut gue sambil mengangkat kedua tangan. ‘Emi berkata kasar seperti ini gue biasa saja rasanya, tapi kenapa kalau dia bawaannya sakit hati terus ya?’ gue membatin lagi.

“Maaf permisi, ini makanannya ya, Kak. Fish and Cheesy Pasta-nya satu, dan Fish and Chips original-nya satu. Pesanannya sudah lengkap semua ya?” Fadilah memberikan pelayanan yang oke punya, sesuai dengan standar disini. Kami pun mengangguk hampir berbarengan diiringi dengan senyum. “Baik saya permisi dulu, Kak.” Tanggapnya, kemudian undur diri dengan mengangkat tangan kanan ke atas dada kirinya seraya sedikit membungkuk.

“Lanjut…” ucap gue.

“Masalah demi masalah terus hadir selama masa gue SMA. Karena gue cuma beda dua tahun sama dia, jadi kami sempat ngerasain satu sekolah bareng. Dulu itu salah satunya masalahnya adalah, kita di sekolah negeri kan semua sepatu harus serba hitam, nah gue pernah tuh pakai sepatu belang-belang merah putih hitam. Dan lo tau? Dia yang kemudian nukar sepatu gue, demi biar gue nggak keseringan dipanggil ke ruang BK. Jadi dia yang kena hukuman. Itu juga hampir aja ngehancurin reputasinya sebagai siswa berprestasi di angkatannya. Hampir aja dia batal jadi salah satu wakil sekolah gue untuk jalur undangan masuk kampus lo. Semuanya demi ngebelain gue.”

“……………..”

“Gue sama dia itu sering curhat-curhatan, dari kami masih umur, ya mungkin sekitar 9 tahun dia 11 tahunan lah, sampai mulai berkurang itu pas dia bersiap untuk menikah. Dia hidupnya nggak neko-neko, santai, dan terus lancar. Dia pintar, cantik, dan punya segalanya karena di support full sama bokap nyokap. Privilege itu juga bisa dia konversi jadi sesuatu yang positif. Dari mulai ranking terus di sekolah, keterima jalur undangan di kampus lo, ngelanjutin S2 juga nyari beasiswa dulu dan dapat, ngebangun usaha sendiri dan ngelanjutin usaha keluarga dibidang F&B dengan moncer, dan sebagainya. Semua lancar dan mostly, sukses. Bahkan dia sempat masuk nominasi 30 under 30 di salah satu majalah bisnis, tapi dianya nggak mau untuk ikut-ikutan kayak gitu. Nggak senang ke-ekspos katanya, dan hal itu hanya gimmick belaka. Beda sama gue yang selalu aja ada masalah, pingin jadi center of attention, dan  keinginan lainnya yang gue ingin gapai, tapi seringnya gagal. Memang sih gue yang memulai untuk membuat masalah itu datang, tapi entah kenapa, malah si masalah-masalah ini seperti akrab dengan gue. Mau ngapain aja, ada aja masalah datang. Nah, peran dia itu untuk ngangkat gue dari keterpurukan, mulai dari memperbaiki hubungan dengan bokap nyokap sehabis gue ditampar sama nyokap karena satu kasus ngelabrak anak orang sampai dia gegar otak, sampai dengan bisa ngeyakinin rekan yang lain kalo gue pantas untuk di push jadi CEO di kantor kita.”

“Gila, beda banget lo sama dia. Tapi ada samanya, sama-sama nekat dan sakit jiwa kalau dipikir-pikir.” Gue memberikan tanggapan sembari memotong daging yang ada di depan gue.

“Kami emang sama-sama nekat. Tapi kalo mau lebih nekat dan lebih diluar nalar, itu gue.” Lanjutnya. “….dan salah satu yang mempengaruhi dia untuk berbuat gila-gilaan jaman dia kuliah, itu Sebagian besar ide gue. Sayang, korbannya malah salah sasaran. Bukannya lo yang kesiksa, dia malah ngehancurin kehidupan sahabatnya sekaligus kehilangan dia.”

“Sebentar. Dulu dia kayak gitu, karena lo yang ngidein kayak gitu? Ini beneran?!” gue bertanya, gue betul-betul tidak percaya semua ini.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Gimana, udah cukup gila kan gue?” tanyanya singkat.

“Sakit lo, Tya!” Bentak gue dan pada saat yang sama mengingat memori tidak mengenakkan ketika dulu masih Bersama Zalina jaman kuliah.

“Ya begitulah gue. Gimana caranya, gue bisa dapatin perhatian, disitu gue akan lakukan apapun. Termasuk ngejerumusin saudara gue sendiri. Hahaha.”ujarnya puas.

Gue hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya cewek seperti ini masih dibela habis-habisan. Sampai diberikan jalan menjadi CEO pula. Adanya bisa living hell timnya. Termasuk mungkin gue juga setelah ini.

“Terus, gimana ceritanya lo bisa jadi CEO di perusahaan ini?” tanya gue penasaran.

“Awalnya, gue itu udah mau berubah banget pas gue ketemu sama mantan gue. Saat gue kelas dua, dia kuliah. Kami ketemu di salah satu pensi sekolah di ibukota. Dia seumuran sama lo. Dia yang benar-benar bisa mengubah perspektif tentang hidup. Dia juga yang support gue untuk terus menyelesaikan Pendidikan gue, selain Kakak gue. Dia selalu ngingatin untuk akur sama bokap nyokap. Dia anak orang berada, Bapak Ibu-nya Dokter dan punya pekerjaan yang mumpuni, Bapaknya pengusaha besar yang punya banyak perusahaan di negeri ini, Ibunya salah satu petinggi BUMN. Hidupnya sempurna banget. Nggak pernah ngerasain susah. Tapi dia selalu sederhana, nggak neko-neko, nggak banyak memanfaatkan privilege orang tuanya, mirip-mirip sama lo. Cuma satu kurangnya. Dia nggak terlalu tinggi. Haha. Posturnya nggak jauh beda sama gue. Eh dua deh, dia nggak terlalu pintar. Nggak sepintar adiknya. Nah adiknya ini beberapa kali ketemu gue di KBRI Denmark. Dia baru mau ambil S2 waktu gue disana. Sementara gue, lagi menempuh S2 disana. Beda kampus, tapi suka ketemu di perkumpulan PPI sana. Gue ngambil bisnis, dia Teknik Industri. Kalo mantan gue, dia S2 nya manajemen bisnis, kalo nggak salah belum lama ini dia lulus, di kampusnya waktu S1, sama kayak lo, ngelanjutin di almamater. Gue nggak terlalu tau lagi kabarnya.”

“Tunggu deh, ini kok cirinya mirip banget ya. Jangan-jangan. Ah nggak mungkin. Ini sinetron banget kalo benar. Terlalu banyak kebetulannya dan dunia kok kayaknya sempit banget perasaan.” gue bergumam penuh dengan keraguan. Hanya menduga-duga.

“Kadang kala emang hidup kita se-sinetron itu, Ja. Gue aja suka ngerasa begitu kok kalo dia lagi curhat habis-habisan tentang mantan-mantannya, yang kemudian selalu dibandingin sama lo. Terus akhirnya mantan-mantannya ninggalin dia karena nggak kuat ngehadapin dia yang selalu delusional. Setengah gila kalau kata gue. Makanya, gue jadi ikutan benci sama lo, Ja. Lo benar-benar udah ngalihin perhatiannya. Mulai dari gue yang dia tinggalin perlahan, kemudian mantan-mantannya, dan bahkan beberapa kali dia nggak fokus kuliah S2-nya dan paling gilanya adalah dia harus bercerai. Semua benang merahnya ada di lo.”

“Gue sama sekali nggak tau menau soal ini, Tya. Lo nggak bisa ngehakimin gue kayak gitu dong. Kan dari dulu gue nggak pernah ngasih harapan apapun. Dia selalu datang di saat yang nggak tepat, dan ujung-ujungnya selalu menyakiti gue, menyakiti pasangan gue. Yang ada, dia malah menumbuhkan rasa benci yang besar.”

“Itu semua salah gue, Ja.” Katanya tiba-tiba dengan nada lirih dan tatapan yang sendu ke makanannya. Daritadi Tya hanya memainkan sendoknya ke makanan, tanpa menyuap sekalipun.

“Kalo emang cerita lo ini benar, lo benar-benar udah ngancurin masa muda kakak lo, Tya.” tanggap gue dengan nada rendah.

“Iya, tapi entah kenapa, gue ngerasa puas aja. Puas dengan apa yang udah dia rasain dan derita, sekarang juga ikutan menderita. Ya itu lo, Ja.”

“Heh, kakak lo itu udah berusaha berubah untuk lebih baik. Kok lo malah masih aja mikir mau bikin hidup gue susah sih? emang gue ada salah sama lo? Kalaupun ada, adanya gue salah sama Kakak lo.”

“Nggak tau ya. Semenjak mantan gue itu ninggalin gue gitu aja, dengan alasan gue yang nggak bisa dan nggak mau berubah jadi lebih baik, dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, gue nggak pernah lagi nemu yang benar-benar mau sabar dan ngerti serta nerima gue yang kayak gini. Dan memang beratnya adalah, kami LDR. Gue sayang banget sama dia. Bahkan gue udah pernah diajak ketemu sama bapak ibunya, sebelum keberangkatan gue ke Denmark untuk kuliah. Gue pun menyanggupi untuk pulang beberapa kali ke Indonesia atau dia yang berangkat ke Denmark hanya untuk memperjuangkan cinta. Tapi semuanya kandas gitu aja, dengan alasan yang bullsh*t banget. Kakak gue udah mohon-mohon sama dia untuk jangan tinggalin gue, tapi tetap nihil. Memang sih, setelah putus, dia lama banget nggak punya-punya pacar lagi, dan dengar-dengar dia sampai sekarang masih sendiri. Saudara-saudaranya kebanyakan sudah menikah dan akan menikah. Kecuali adiknya yang di Denmark ya. Dia mungkin akan jadi yang terakhir menikah di keluarga besarnya.”

“………..”

“….hidup gue makin nggak karuan sejak itu. Salah satu pelampiasannya adalah gue ngehasut kakak gue untuk selalu bikin ide-ide gila yang nggak masuk akal, termasuk salah satunya itu ngasih kotak yang isinya kondom ke lo. Termasuk jadi orang yang pongah dan selalu ngerasa super power.”

Gue hanya menggeleng-gelengkan kepala, sembari ingin memastikan tebakan gue akan mantan pacar Anantya ini.

“…tapi anehnya, dibalik dia yang kemudian jadi salah satu penjahat terbesar di kehidupan lo, dia tetap men-support gue habis-habisan, sampai akhirnya gue bisa menyelesaikan studi gue dengan baik, nilainya juga baik dan gue juga sempat bekerja disana dan beberapa negara eropa lainnya sebelum pulang kesini, lalu balik lagi kesana buat ngambil S2. Itu juga yang jadi alasan kenapa dia mendorong gue untuk memimpin perusahaan rintisan yang dia bangun ini. Karena dia udah banyak usaha lainnya, dia juga membagi waktu untuk keluarganya yang akhirnya tetap berantakan, dan mengurus perasaannya yang nggak habis-habis untuk lo. Dia melihat kegigihan gue untuk menebus kesalahan gue di masa lalu dan mencoba melupakan mantan terindah gue itu. Dia menantang gue dengan beragam tantangan seperti berpindah-pindah kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain dengan beragam posisi pekerjaan, beda negara, beda kultur dan manusianya, dan gue selalu berhasil melewatinya. Ternyata dia nyuruh gue ini itu tuh, sebenarnya karena lagi mempersiapkan adiknya ini memikul beban yang lebih besar lagi. Dia mau gue numbuhin empati yang besar dengan bekerja sama orang dulu, apalagi dengan kultur yang berbeda karena berada di negara yang berbeda pula. Cuma konsekuensinya, gue masih belum bertemu jodoh. Mungkin gue yang bodoh karena menginginkan jodoh seperti mantan gue itu.” Jelasnya Panjang lebar, kini lebih kalem bicaranya.

“Kenapa nggak lo coba untuk ngejar dia lagi? Dia kayaknya masih available. Dan tolong gedein lagi empati lo.” Usul gue.

“Hah? Gimana maksudnya? Emang lo kenal siapa dia? Nggak usah sok tau lo. Tau apa lo soal empati?!” tanyanya heran.

“Kayaknya, gue kenal banget malah.” Jawab gue singkat dan tidak menjawab pertanyaan terakhirnya.

“Hah? Yang benar, lo?” dia masih tidak percaya.

“Mantan lo Emir kan? Edmiral.” tanya gue lagi singkat.

“HAH?! LO KOK?! AAAH. ANJ*NG. NGGAK. NGGAK.” Kali ini dia berteriak, menunjuk muka gue yang berada tepat di sampingnya dan kemudian setitik air mata keluar membasahi pipinya yang terias make up tipis lalu memukul-mukulkan tangannya ke sofa tempat kami berdua duduk.

Gue tersenyum kecil, dan mengangguk yakin. Sangat yakin sekarang. Dunia memang seperti sinetron. Kesannya dibuat-buat dan serba kebetulan, tetapi pada kenyataannya, kita memang berada di dalamnya dan memainkan peran yang tidak kita duga. Mana sangka, ternyata mantan terindahnya Anantya adalah sepupu gue sendiri. Sepupu paling dekat dengan gue, Emir. Kami adalah sepupu yang umurnya sama persis. Adiknya yang sekolah di Denmark itu adalah Emran, yang mana beberapa kali ketemu dengan Anantya, disana.

Mereka adalah anak Om Reza dan Tante Nadine, keluarga Papa yang amat sangat peduli dengan keluarga gue, apalagi setelah keruntuhan bisnis dan usaha Papa dan Om Reza. Beliau adalah adik bungsu Papa yang Bersama-sama mendirikan usaha dari nol sampai sebesar itu. Bahkan salah satu yang membantu adik gue secara finansial sampai lulus kuliah adalah keluarga Om Reza ini, karena dia banyak gagalnya dalam mengusahakan beasiswa ketika dulu kuliah di Malaysia. Unik bukan? Dunia sempit tidak hanya di lokasi yang dekat, tetapi di negeri orang nun jauh disana pun terjadi. Sepertinya Tuhan memiliki rencana untuk gue, Tya dan mungkin orang-orang yang dulu pernah gue kenal dan dekat, yang gue sendiri benar-benar tidak bisa memprediksinya sama sekali.


“Ayo lanjutin lagi cerita lo, Tya.” Kata gue sambil menyentuh bahu kirinya dengan lembut.
Diubah oleh yanagi92055 07-11-2024 14:07
laynard22
itkgid
jiyanq
jiyanq dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.