Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#558
Lost_part 2
Menjalani kehidupan dengan penuh dilemma, apalagi dilemanya kita yang buat sendiri, itu sangatlah capek. Terbukti gue yang berulang kali mengalami ini sudah memasuki tahap sangat capek dan jenuh. Dahulu ada Zalina, Keket, Ara, Dee, kemudian Emi dan sekarang Anin. Lengkap sekali bukan? Sewaktu gue menyatakan ingin menikahi Ara karena gue merasa hubungan gue sudah berada di titik nadir bersama Emi, gue merasakan kecemasan yang luar biasa. Kecemasan akan kehilangan salah satu dari mereka, atau semuanya. Ya, inilah yang dinamakan keegoisan. Kemudian keegoisan ini dipadukan dengan ketidaktegasan dalam bersikap. Gue memang boleh saja menjadi seseorang yang mempunyai pengaruh di kampus dulu, kemudian bisa dipercaya dalam pekerjaan, tapi siapa sangka gue selalu kalah dan menyerah dengan diri gue sendiri. Orang lain dapat melihat gue orang yang hampir tanpa cela, padahal, terlalu banyak cela dalam diri gue. Gue hanya lebih pandai untuk menutupinya dari semua orang. Hanya Ara, Keket, Emi dan Anin yang benar-benar mengerti cela yang ada di jiwa gue. Pada saat ini, orang yang benar-benar mengerti gue, Emi dan Anin, sedang berada dalam otak gue. Bertarung tanpa fisik untuk memenangkan hati gue. Sebenarnya mereka tidak benar-benar berselisih, gue saja yang terlalu bodoh membiarkan keduanya masuk kedalam alam bawah sadar gue untuk urusan perasaan. Saat ini, perasaan gue amat sangat condong ke Anin.

Gobl*k.

“Aku udah di depan.” Kata gue melalui sambungan telepon.

“Oke. Sekitar sepuluh menit lagi aku sampai. Kunci rumah aku taruh di dekat vas bunga yang ada di samping, dekat keran yang luar. Kamu cari disitu. Masuk aja, bersih-bersih dulu gih. Biar nanti ketemu aku udah ganteng dan wangi.” Sahutnya di seberang sana.

“Emang kamu pikir aku selama ini nggak ganteng dan wangi ya? Maaf ya.” Ujar gue berlagak memelas.

“Hahaha. Apa sih, kamu nih gitu aja sedih. Nanti aku kasih peluk yang lama biar ketularan wangi dari aku.”

“Yaelah. Kita udah tua, Nin, masih aja kayak gitu bercandaannya. Kayak jaman kuliah aja. Haha.”

“Ya emang aku nggak boleh ya, bercanda kayak gitu? Jaman kuliah aku kan nggak pernah kamu bercandain begitu. Yang kamu bercandain itu kan Zalina sahabat aku sama si anak cantik sejagat, Keket.”

“Ehm..yaaa, gimana ya, kamu ngeselin sih. Sampe dulu saking keselnya pingin rasanya aku pake bolak balik biar kapok. Hehehe.”

“Duuuh. Kalo gitu aku ngeselin aja deh lagi sekarang, biar aku dipake bolak balik sama kamu. Hehe.”

Gue langsung terdiam. Bercandaan ini adalah bercandaan khas gue dan Emi. Gue tidak pernah bercanda sebocor ini selain sama Emi. Hanya Emi yang bisa menyelaraskan pikiran kotor gue soal selangkangan dan dikonversi menjadi sebuah guyonan. Sekarang, Anin bisa ngimbangin kayak gini? Aaaah. Anin. Anin. Bikin pusing aje, lo!

----

Setengah jam berlalu dan akhirnya sebuah sedan berhenti di depan rumah Anin. Akhirnya dia sampai juga di rumah. Gue sudah sempat main game dulu di HP. Mungkin jika gue seorang perokok, bisa beberapa batang ini habis rokok gue hisap. Kemudian dia membuka pagar dan terlihat dirinya dengan anggun menggunakan celana 7/8 slim fit hitam yang membuat kakinya terlihat jenjang, dengan padanan tanktop hitam yang luarannya dibungkus blazer warna biru dongker, tak lupa sepatu sneakers nuansa hitam putih yang sepertinya tidak nyambung dengan pakaiannya, tapi bagus-bagus saja dipakai Anin. Tangan kirinya menenteng tas kecil dengan logo DG besar, dan tangan kanannya menenteng sebuah map cokelat.

“Sayaaang. Maaf ya, jadi nunggu lama. Hehe. Maklum deh, Jakarta selalu begini kan kalau jam pulang kantor?” Sambutnya, seraya berjalan menuju ke arah gue, lalu memeluk erat gue.

“Aku udah sempet jual cilok tadi di depan.” Kata gue asal.

“Wah hebat, sebentar doang langsung laku jualannya, sampai nggak ada sisanya yang bisa aku liat.” Balasnya sembari menyeringai lebar.

“Hahaha. Udah bisa balas-balasan kayak gini ternyata ya kamu.”

“Kan kamu yang ngajarin.”

“Kapan aku ngajarin kamu?”

“Hmm. Kapan-kapan……. Hehehe.” Lidahnya terjulur keluar, panjang juga ternyata lidahnya.

“(D&G) Devotion ya?” tanya gue kemudian.

“Hah?! Kok kamu tau?” jawabnya dengan pertanyaan balasan, tentunya kaget.

“Berarti ada yang kamu belum tau ya tentang aku? Hehehe. Aku kan senang dengan beragam parfum.”

“Iyaaaa. Aku tau kok. Cuma aku nggak nyangka aja, sampai parfum cewek kayak gini kamu juga tau.”

“Aku gituuuu….” Kata gue, bangga.

Sejurus kemudian, dia langsung mencium gue, tepat di bibir. Ciuman hangat yang jelas pakai hati ini sangatlah menentramkan. Gue membalasnya hangat, tapi tidak ada French kiss.

“Senang banget ini pasti, tau-tau dapat serangan begitu.” Katanya dengan ulas senyum tipis.

“Ya senang dong, yang namanya elemen kejutan itu selalu nyenengin.” Sahut gue.

“Yuk masuk.” Katanya, lalu menggamit lengan kanan gue.

“Kan aku dari dalam tadi, Nin.”

“Yah, iya juga yaaa. Hahaha.”

Sepertinya ada angin segar yang dia ingin sampaikan. Dari tadi sumringah sekali dan vibes-nya positif. Entah apa yang ada dibenaknya kali ini, gue tidak mau menebak-nebak. Biarkan dia seperti ini, daripada gue harus melihatnya larut dalam kesedihan sampai melakukan hal bodoh seperti kemarin malam. Pada satu sisi, gue masih menunggu balasan chat Emi yang tidak kunjung menampakkan diri di layar ponsel gue. Kemana dia? Sudah sejak siang gue tunggu tidak juga ada balasan. Mungkin memang sedang hectic saja. Karena biasanya juga seperti ini kalo dia sedang berkonsentrasi kerja. Tapi kan ini sudah jam 20.00 malam. Masa iya tidak ada keinginan buat membalas barang sebentar aja? Entahlah.

“Kamu utang buat cerita ke aku.”ujar gue singkat, setelah mengambil dua cangkir kopi yang sudah gue siapkan dari pantry.

“Iyaaaa. Sabar dong, aku kan baru aja nyampe. Belum juga ganti baju ini.”

“Mau aku gantiin? Hehe.”

“Nih……” Anin menantang dengan merentangkan tangannya.

“Ah takut, masa iya aku ngurusin istri orang. Hehe.” Balas gue asal.

“…………………. “ Anin langsung terdiam, kembali menangkupkan tangannya, dan kemudian berdiri, lalu berlalu dari hadapan gue menuju kamar mandi.

“Nin….. I’m so sorry. Please, aku nggak maksud…” kata gue memohon. Dia tetap bergeming dan berlalu dari hadapan gue.

Hey. Say something, please? Would you?” tanya gue lagi. Tetap tidak ada tanggapan. Mukanya datar tanpa ekspresi.

Hal ini memunculkan kecurigaan gue. Kenapa bisa seperti ini? Kan memang dia adalah istri seorang pilot. Atau dia sedang ada masalah dengan suaminya? Apalagi kemarin mas-mas yang mengantarkannya pulang bilang katanya dia dipukul oleh orang berseragam dengan ciri-ciri seperti pilot.

“Aku mau mandi dulu. Kamu kalo mau makan, tinggal angetin aja itu, ada di kulkas tadi siang aku bawa dari resto.” Katanya.

“Nin….”

“Udah ah, aku mau mandi dulu ya.”

Gue pun duduk di spot favorit gue, beanbag yang ada di ruang tamu. Gue scrolling HP dan masih mendapati nihilnya respon Emi. Gue mencoba menelponnya beberapa kali, tapi tidak ada respon juga. Gue coba chat lagi pun, tetap tidak ada tanggapan. Dia ngambek kenapa lagi, sih? Apa dia sudah give up juga sama perasaannya ke gue, sama dengan perasaan gue ke dia sekarang? Jawaban ini harus segera gue temukan. Apalagi sebentar lagi gue ada perjalanan dinas yang cukup jauh, walaupun sebentar, hanya lima hari.

Sekitar lima belas menit Anin sudah kembali berada di ruang tamu. Kemudian dia duduk di samping gue, menarik beanbag satu lagi yang berwarna biru.

"Maafin sikap aku barusan.." ujarnya lirih.

"Hah? Nggak apa-apa kok. kalo kamu nggak siap bercerita tentang keluarga kamu, nggak apa-apa banget. Lagian aku lebih butuh cerita kamu tentang kejadian kemarin.”kata gue.

“Kamu mau tau aja, apa mau tau banget?” tanyanya, nadanya meledek sambil menyeringai. Ada kelegaan di hati ini, karena ternyata dia tidak jadi marah.

“Dih, kayak anak muda kamu, ah. Hahaha.” Jawab gue sembari menarik bahunya ke pelukan gue. Seperti biasa, aroma wangi dan segar menyeruak di sekitar tubuhnya. Seperti kebanyakan cewek yang pernah bersama gue, rata-rata mereka seperti mengikuti standar hidup gue yang selalu ingin bersih, dan higienis, tidak lupa juga wangi.

“Wangi, kan? Aku baru beli tadi di Body Shop….” Lanjutnya.

“Iya segar banget wanginya, Nin. Suka aku wangi kayak gini.” Gue memberi tanggapan.

“Yah, tapi sebentar lagi kamu nggak bisa nikmatin aroma ini lagi deh. Hehehe.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Nggak inget sebentar lagi mau jadi suami orang?”

“Hmm.. iyaaa…” gue menjawab ragu.

“Kok ragu? Kenapa?” pertanyaan ini menjadi semacam retorika belaka. Dia harusnya sudah tahu jawabannya.

“Ya nggak apa-apa. Ayo dong, ceritain…” gue mengalihkan pembicaraannya.

“Aku tanya dulu ke kamu, kenapa kamu ragu?”

“Ya nggak apa-apa. Kan kamu yang bikin aku ragu..”

“Kok aku? Kan aku juga nggak berjuang untuk menyaingi Emi. Tapi kamu yang melarang aku pergi, Ja.” Dia mulai mengajak berdebat.

“Emang sih, ini sepenuhnya salah aku. Aku nggak pernah bisa jujur sama perasaan, nggak pernah bisa tegas, dan nggak tau kenapa cewek-cewek masih aja ada yang berjuang buat mempertahankan hubungannya sama aku. Termasuk sekarang kamu. Apa sih yang kamu lihat dari aku sekarang? Kamu itu lebih segala-galanya dari aku. Dari mulai uang, pekerjaan, dan bahkan kalau dibandingkan dengan Pendidikan yang ada sekarang, kamu itu lulusan S2 Stanford Graduate School of Business. Sedangkan aku? Lulus aja belum, Nin.”

“Aku nggak melihat itu semua sih sebagai parameter aku, Ja. Aku cuma merasakan kenyamanan yang kamu kasih ke aku, atau ke cewek-cewek yang akhirnya memperjuangkan kamunya nggak kaleng-kaleng. Ini yang kami mau. Ini yang aku rasa semua cewek mau Ja. Seperti contohnya kasus aku dan pasanganku.” semakin ke belakang, kata-katanya semakin lirih terdengar. Seperti ada sesuatu yang menyakitkan ditahan-tahan.

“Kamu bisa cerita. Yuk. Mau sambil tiduran di aku nggak?”gue menawarkan.

“Sebentar, kita makan dulu ya.” Katanya.

“Ya udah, ayo kita makan… Aku juga udah lapar sih dari tadi ini. Hehehe.”

Sekitar sepuluh menit kami makan Bersama di meja makan, dan hanya ada chit chat kecil masalah pekerjaan, dan juga menanyakan perihal hari ini bagaimana kami melewatinya.

“Jadi begitu deh, aku sih mau alihin sahamnya.” Lanjutnya sambil mengangkat piring kotornya dan piring kotor gue dari meja, menuju ke tempat cuci piring.

“Tapi apa nggak buru-buru? Dan ngelepas 40% itu bukan uang yang kecil, lho.” Gue mengingatkan dengan was was. Anin ini kan orangnya nekat, dia bisa-bisa saja melakukan apapun yang bahkan tidak terpikirkan oleh nalar orang normal sekalipun.

It’s my final decision. And I know person to hold this shares respectively.” Sahutnya dari tempat cuci piring.

“Yah, tapi enak juga sih. Kamu lepas yang ini, masih ada beberapa perusahaan lagi yang lain kan. Hehe. Aman. Beda sama kondisi aku, yang walaupun load kerjaan banyak, hasilnya gini-gini aja.”

“Hei… Kamu itu nggak bersyukur ya? Di luar sana banyak yang mau posisi pekerjaan kamu, lho. Ini bukannya bersyukur malah ngeluh.”

“Ya tapi itu sedikit banyak ngaruh ke persiapan pernikahan aku, Nin. Aku terlalu takut untuk melangkah lebih jauh karena semakin hari aku ngebayangin gunungan utangku setelah nanti resmi menikah kayak gimana. Orang-orang seperti kamu bisa memulai pernikahan dari nol, karena memang start kita berbeda. Sementara aku dan Emi, semuanya bergantung ke kami berdua. Nggak ada yang bisa bantuin lagi selain diri kami sendiri. Itu juga tandanya kami harus memulai semuanya dari minus yang banyak banget…….”

“Bentar…bentar….orang-orang kayak aku? Orang-orang kayak gimana tuh maksudnya?” nadanya mendadak meninggi sembari mengelap kedua tangannya dengan handuk kecil, lalu berjalan ke ruang tamu kembali.

“Maksudku, orang-orang yang pada dasarnya dari sananya udah kaya. Orang tua kamu udah tajir dari dulu, Nin.”

“Kamu ngeremehin kemampuan aku nih berarti? Kamu nganggap semua yang udah aku usahain selama ini cuma bertumpu sama harta dan kemudahan dari orang tuaku aja, gitu? Wah..wah..” nada bicaranya sangat tidak terima dengan statement gue barusan.

“Bukan begitu, Nin, come on, lah, kita udah pernah bahas ini bertahun-tahun lalu.”

“Hei! Kamu tuh ngomong gini nggak ngaca ya? Siapa orang tua kamu dulu? Berapa banyak perusahaan yang beliau dirikan? Beberapa diantaranya bahkan punya nama besar di negeri ini. Terus kamu ngerasa aku yang anak orang kaya dari sananya? Gila ya kamu! Kamu nggak ngerasa bahwa kemampuan kamu yang banyak didapetin itu datangnya darimana? Ya dari orang tua kamu yang bisa nyekolahin kamu di sekolah terbaik di kotamu dulu, sampai akhirnya kita bisa ketemu di kampus. Ditambah dengan bakat cerdas yang nurun dari generasi sebelumnya, udah deh jadi paduan yang pas. Kok gitu aja kamu nggak tau sih?! Nggak tau apa denial kamu, Ja?!” katanya, emosinya tak terbendung kali ini.

“Tapi kenyataannya, pada saat ini semuanya udah nggak berbekas, Nin. Aku nih udah kayak turunan ke-8 dari keluargaku yang kayanya cuma tujuh turunan.” Balas gue dengan nada rendah. Gue tidak berani menatap matanya yang sekarang menyorot amat tajam ke gue.

Anin tergelak mendengar ucapan gue. Raut mukanya yang awalnya suram mendadak ceria kembali.

“Iiiih… orang lagi ngebangun momen emosi malah ngelawak sih, kamu.” Katanya seraya memeluk gue kembali.

“Aku nggak lagi ngelawak. Ini beneran faktanya begitu. Kalau memang itu semua masih ada sisanya, aku nggak akan keseok-seok kayak gini kondisinya.” Ujar gue lirih sambil menatap kosong ke pintu depan rumah yang tertutup.

“Jadi menurut kamu, usaha kamu dan Emi untuk jungkir balik nyiapin pernikahan itu sia-sia karena kamu ngerasa nggak cukup terus secara finansial? Gila, pemikiran kamu kayak bukan Firzy yang selama ini aku impikan deh. Kamu kayak manusia-manusia medioker yang nggak pernah nyicipin bangku Pendidikan.” Ucapnya seraya melepaskan kembali pelukannya.

“Ya mungkin kamu bisa bilang begitu, karena kamu nggak pernah ada di posisi aku. Bagaimana dulu aku punya segalanya, bisa membeli segalanya, tapi mendadak, ya walaupun aku juga nggak kaget banget dengan perubahan ini, semuanya hilang begitu aja nggak bersisa.”

“Ingat, Ja, nggak semua orang pernah punya pengalaman yang kompleks kayak kamu. Ya pernah diatas banget, pernah juga dibawah banget. Harusnya dengan begitu, kamu jadi lebih bijak dalam bersikap. Aku pingin banget liat Ija yang dulu punya kharisma, Ija yang dulu didambakan banyak cewek karena sikap gentle-nya, Ija yang dulu kalau udah punya keputusan A, nggak akan berubah jadi B. Mana itu semua? Kok aku kayak nggak lihat ya sekarang?” Anin menyanggah terus omongan gue. Gue tahu, dia ingin menyemangati gue. Tapi satu hal yang tidak mungkin Anin rasakan adalah, berada di posisi gue saat ini. Nyari pembenaran lagi? Mungkin.

“Sayang, kamu harus tau ya, semua atribut yang nempel di kamu itu harusnya bisa bikin kamu jadi problem solver. Bukan jadi quitter kayak gini. Kalau kayak begini, I think I lost you long time ago. This new you, is someone else. I don’t know you anymore, Hon.” Katanya, melanjutkan kalimat sebelumnya.

“Wajar kan kalau aku jadi galau dengan rencana pernikahan aku?” gue bertanya.

“Wajar. Banget. Karena kamu, sesuai sama omongan aku, nggak tegas jadi orang. Nggak pede sama apa yang kamu punya saat ini. Kamu udah kehilangan diri kamu sendiri. Kalau gini pun, rasa-rasanya wajar juga Emi jadi nggak yakin dan malas untuk menghubungi kamu.” Jawabnya.

Lagi-lagi Anin tahu aktivitas gue, tanpa melihat HP gue dan apa saja yang sedang gue lakukan di HP ini.

“…..kegelisahan kamu selama menunggu aku itu kan sebenarnya ekspresi resahnya kamu kalau lagi ngekhawatirin orang. Orang itu adalah Emi, siapa lagi, ya kan?”

“…………………..” gue tidak menjawab, hanya mengangguk, kemudian tertunduk lagi. Gue malu. Mungkin keadaan gue ini lebih memalukan daripada apa yang Anin lakukan semalam.

“Kamu tuh banyak potensi, tapi tenggelam karena keputusasaan kamu sendiri. Kamu posisi kerja udah baik, tapi kamu masih banyak ngeluh. Itu tandanya kamu belum siap untuk berada di posisi atas. Kamu juga udah mempersiapkan dengan matang, penuh lika liku dan dinamika pula, pernikahan kamu ini. Tapi mendadak, hanya dengan aku cerita beberapa jam aja di kafe tempo hari, perasaanmu goyah dan malah sekarang memilih untuk bermimpi bersama aku. Apaan sih?! Kamu tuh kayak anak SMA yang lagi puber. Kayak masih mencari jati diri. Gimana kamu mau diizinin untuk ngejaga anak orang kalau kamu failed to deal with your feeling? Kita udah nggak muda lagi, Ja. Come on, wake up!” Anin terus saja memojokkan gue. Gue bingung kenapa ini anak. She’s taking it seriously.

“…………………” hanya diam yang bisa gue lakukan.

I’m sorry, but I think you should know what I REALLY feel!” katanya lagi.

“…then what is it?” tanya gue.

“Aku cuma ngerasa, I need to fullfill my dream. Setelah ini usai, kamu akan aku buang jauh-jauh. Karena udah cukup terpenuhi segalanya.” Jawabnya.

“Kok ambigu?” tanya gue lagi.

“Ambigu apa? It’s crystal clear. I don’t need your love. I just need you, to fullfill my dream. Impianku sejak dulu. Bersama kamu. Walaupun sejenak, tapi udah cukup. Seperti yang aku bilang di awal. Aku nggak ngerasa aku perlu kasih sayang kamu. Aku cuma butuh kamunya yang ada di sisi aku, sebentar.” Jelasnya.

“Terus?”

“Setelah ini, kayak yang aku juga bilang, aku bisa pergi kapanpun, kemanapun, ninggalin kamu. Aku udah nggak mau lagi ngejar-ngejar kamu. Istilahnya, rasa penasaran aku menjadi seorang pacar Ija sudah cukup sampai disini.”

“….dan itu yang jadi alasan kamu kemarin jadi clubbing? Kamu nggak siap untuk kenyataan ini semua, kan? Itu artinya kamu emang cinta sama aku, Nin. Don’t deny it. It’s inevitable.” gue berspekulasi.

“………………………..” Anin hanya tertunduk, gue tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambutnya yang jatuh memenuhi sisi wajahnya.

“Iya, kan? Ayo tolong, answer me!” gue memaksa Anin untuk menjawabnya.

“………………………” Hanya anggukan kecil yang kemudian disusul setetes air mata yang jatuh tepat di pahanya. Dia berada di mode mellow, lagi.

“Aku nggak tau harus gimana, Nin. Sikap kamu bikin aku bingung.”

“Nah ini! Ini yang aku nggak suka dengan kamu yang sekarang. Quitter. Instead of looking for solution, you just quit!” katanya lagi, sembari menegakkan kepalanya, lalu menatap gue dengan tatapan membunuh.

Yeah, I’m a loser now.”

Absolutely. And I hate it, very much! The man I’ve loved the most all this time, better than my ex, has become a true loser!

“Tunggu! My ex? Are you…”

“……….yes, we got divorced back then!”
kaduruk
suryos
itkgid
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.