- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#557
Lost_Part 1
Persiapan pernikahan sudah hampir final dan gue masih saja bimbang, mau terus atau disudahi. Kalau disudahi, berarti sia-sia perjuangan gue yang penuh dengan duka untuk memperjuangkan Emi. Tapi kalau dilanjutkan, gue teringat terus kata-kata Anin yang mengingatkan gue kalau sebenarnya gue sama sekali belum siap untuk menikahi Emi. Kasihan di Emi-nya. Gue betul-betul butuh sosok Anin untuk jadi ‘penjaga’ perasaan gue. Untuk benar-benar memantapkan hati gue. Terlalu banyak katalis dalam perjalanan persiapan pernikahan ini. Salah satunya ya, Anin sendiri.
Anin sangat sukses untuk merubah arah pandangan gue dalam merapikan hati. Entah ini bagian dari rencana jahat selanjutnya untuk menggagalkan pernikahan gue? Atau ada maksud lain yang sebenarnya ingin dia sampaikan ke gue, tapi tidak juga bisa tersampaikan? Entahlah. Yang jelas saat ini gue hanya ingin Anin berada di sisi gue. Gue seperti sudah pasrah akan semuanya. Walaupun gue juga belum mengetahui detail apa yang sebenarnya terjadi di keluarga kecilnya itu. Gue memlilih untuk menyerahkan itu semua kepada waktu.
“Ayo sini review bareng gue, deh, Tan. Ke ruangan gue aja ya.” Ujar gue di sambungan intercom kantor, Bersama dengan salah satu tim gue, Titan. Gue menutup telepon dan mulai memeriksa pekerjaan beberapa rekan tim. Hampir semuanya ada missed-nya. Gue menjambak rambut gue. Sungguh pusing. Kenapa ketika urusan personal gue menghadapi sebuah dilema yang tak berkesudahan, di kantor pun terjadi hal yang sama. Kenapa yang di kantor ini tidak terjadi tiga atau empat bulan lalu, ketika kondisi sedang lengang dan persiapan pernikahan gue pun masih belum seribet sekarang.
Tok. Tok. Tok. Terdengar suara ketukan dari pintu geser kaca rangka alumunium ruangan kerja gue.
“Yuk, masuk sini, Tan.” Kata gue mengajaknya masuk seraya menampilkan gestur tangan mempersilakan Titan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja gue.
“Misi ya, bang.” Ucap Titan lirih, pandangannya menunduk ke bawah.
“Lah, lo kenapa dah? Santai aja. Kayak ketemu monster aja, lo. Hahaha.” Ujar gue mencoba meredakan ketegangan Titan. Gue lalu mengarahkan monitor komputer flat screen 24 inch yang berada di ujung sebelah kanan meja gue ke arahnya, sehingga kami bisa sama-sama melihat proyeksi layar laptop gue yang gue set duplicate, jadi di layar laptop terlihat, di monitor pun terlihat. Gue mengkoneksikan laptop dengan layar monitor ini menggunakan kabel HDMI yang baru saja gue beli dua hari lalu.
“Udah bisa gue mulai ni, bang?” tanyanya.
“Sip lanjut. Ini excel-nya udah gue buka ya. Coba jelasin dulu apa yang lo dapet di lapangan.”
“Jadi kemarin itu gue kesulitan untuk nyari data bang. Karena memang daerahnya itu agak remote ya, dan kondisi desanya itu juga nggak bisa banyak orang yang ditanyain. Kayak agak gimana gitu kalo ngomong sama orang asing.” Katanya.
“Tunggu. Lo nggak coba ke kelurahan nanya-nanya informasi?” tanya gue kemudian.
Dia hanya menggeleng. Gue menghela napas.
“Terus udah coba nongkrong di warung kopi setempat, buat nanya-nanya orang yang ada disitu?”
“Udah bang kalo itu. Tapi tetep nggak dapat informasi apa-apa. Mereka hanya bisa menerka-nerka aja kisaran harganya yang mau dijual, nggak bisa ngasih harga pasti, dan toh itu informasi juga sifatnya hanya “katanya” , nggak fix.”
“Lo udah berapa lama sih ngerjain proyek-proyek kayak gini?”
“Tiga tahunan bang, kenapa emangnya?”
“Terus lo kayak gini nggak bisa tau cara pemecahannya gimana?” suara gue mulai meninggi.
“Iya bang. Makanya gue mau diskusi sama lo.”
“Ya ampun, Tan, Tan. Ini kan seharusnya bisa lo urus dengan baik, Tan. Ini bukan perkara susah buat orang sekelas lo.”
“Maaf bang, tapi gue juga stuck karena keadaan lapangannya nggak memungkinkan.”
“Nggak memungkinkan gimana, Tan? Ini kan udah jelas semuanya…” lalu gue memberitahu beberapa detail yang sepertinya terlewat olehnya. Gue memberikan beberapa arahan untuk melakukan penyesuaian agar angka yang keluar tidak aneh-aneh.
“Makanya gue minta tolong sama lo, Bang. Soalnya gue stuck dan gue bingung mesti minta tolong siapa lagi. Hehe.” Katanya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Nanti kalo seandainya gue bikin kantor sendiri dan cabut dari sini, gimana Tan? Mau sampe kapan lo ngandelin orang lain terus? Lo itu potensinya gede banget. Lo yang selalu gue andalin. Lo aja udah kewalahan gini, gimana yang lain, Tan?”
“Ya maybe, gue bisa ikut sama lo, Bang.”
“Ah elah lo Tan…..”
Gue sangat pusing dengan keadaan kantor yang menghadapi beberapa tantangan di lapangan. Sekelas orang kepercayaan gue saja sepertinya kebingungan untuk mengerjakan pekerjaan ini. Pun dengan gue. Seharusnya gue yang melakukan review akhir saja malah harus turun tangan dari proses pertengahan sampai akhir. Memang lah Gen Z ini agak gimana gitu effort-nya.
Memang sebenarnya ini salah gue yang membuat keadaan menjadi runyam. Gue selalu mencari pelarian ketika terdapat masalah. Gue mulai menghindari keadaan tidak mengenakkan di persiapan pernikahan gue, dan sekarang ditambah dengan permainan hati gue dengan Anin yang statusnya belum jelas. Apakah gue harus bertanya tentang kejelasan statusnya dulu? Jika ya, untuk apa gue bertanya seperti itu? Toh pada akhirnya hubungan gue dan dia tetap akan berakhir. Tapi di sisi lain, gue sekarang malah merasa amat sangat takut kehilangan dirinya. Gue seperti senang-senang saja ketika ada orang yang selalu peduli terhadap gue. Emi selalu peduli, tapi Anin? Bahkan dia selalu ada di momen-momen krusial gue, seperti dulu dia memberikan insight besar ke gue mengenai kebimbangan gue dalam memperjuangkan Emi. Malah ditambah dengan tamparan, literally slap, di depan orang banyak karena kebodohan gue dalam penentuan sikap seperti ini. Sekarang malah orang yang dulu memberikan pencerahan inilah yang membuat gue semakin pusing, dan membuka peluang gue berada di persimpangan jalan lagi. Jalan mana lagi yang harus gue pilih untuk akhir pencarian gue. Dulu dia yang mengingatkan untuk tegas terhadap hati gue, nah sekarang dia malah datang untuk meruntuhkan keteguhan hati gue terhadap Emi.
Lo kenapa sih, Nin?
Datangnya selalu tidak terduga kayak begini. Kenapa juga gue jadi berpikir seperti ini? Susah payah gue memperjuangkan Emi selama beberapa tahun belakangan, ujung-ujungnya malah jadi tidak jelas begini. Mana yang gue alihkan perhatiannya itu adalah orang yang bahkan gue belum tahu lagi kejelasan status keluarganya seperti apa. Mengapa dia mengambil kontrakan sendiri? Mengapa dia tidak memajang foto keluarga kecilnya? Kemana suami dan anaknya? Kenapa juga dia bilang katanya masih mau melanjutkan mimpinya, setelah apa yang gue lakukan beberapa waktu terakhir ini dengannya, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang silih berganti memenuhi isi kepala gue.
“Gue harus ke tempat Anin.” Gue berkata dalam hati.
----
Sekitar jam 21.00 gue baru bisa keluar dari kantor imbas dari beberapa pekerjaan, terutama membantu tim gue yang seharusnya sudah bisa jalan sendiri, yang harus diselesaikan hari ini, gue pun melajukan motor bebek tua gue menuju kediaman Anin. Sekitar 15 menit gue berjalan menyusuri dingin malam kota Jakarta hingga akhirnya gue sampai di rumah kontrakan yang nyaman itu.
Tok. Tok. Tok.
Gue mencoba untuk mengetuk pintu. Pagarnya tidak dikunci sehingga gue bisa langsung melewatinya. Jarak antara pagar dan teras yang hanya beberapa langkah saja membuat gue dengan cepat mencapai pintu depan rumah itu. Setelah beberapa saat, tidak ada jawaban juga. Gue mencoba menelpon Anin, tidak ada yang mengangkat. Pun dari dalam tidak ada terdengar suara ringtone HP-nya. Kemana Anin? Tanpa terasa, gue pun terlelap di kursi teras Anin karena memang pada dasarnya gue juga capek.
“…mas, bangun, mas….” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, dan ada guncangan sedikit di tangan gue.
“Ehhm.. Ada apa ya? Kalian siapa ini?” tanya gue, masih mengumpulkan nyawa dengan pandangan sedikit buram karena gue belum memakai kacamata yang gue taruh di meja bulat di samping kursi tempat gue tertidur.
“Halo, mas-nya ini siapa, kalo boleh tau?” pria yang berbaju merah bertanya balik.
“Hah?! Gue cowoknya.” Jawab gue sekenanya, dengan kesadaran belum penuh.
“Oooh….” Terdengar beberapa orang menyahut bersamaan.
Begitu gue benar-benar sadar sepenuhnya, gue melihat di taksi online yang ditumpangi beberapa orang ini, cowok semua, ada Anin yang duduk sembari setengah teler. Gue pun mendekati taksi online tersebut dan mendapati bau alkohol yang kuat sekali di sekitar tubuhnya.
“Nin, Anin….hadeeeh.” ujar gue dalam hati.
“Ehm, mas-mas ini darimana ya kalo boleh tau?” tanya gue ke empat orang yang bersama Anin.
“Kami tadi dari bar, Mas. Mbak ini kayaknya mabuk berat, dan sempat cekcok dengan cowok juga. Pakai baju pilot gitu, pokoknya kemeja putih, ada pangkat hitamnya, celana panjang hitam.” Cowok berbaju merah kembali menjelaskan.
“Ohh, oke. Terus kalian bisa tau alamat rumah ini darimana?”
“Tadi kami coba tanya langsung si mbaknya, mumpung dia masih sedikit sadar, dan kebetulan tau daerah sini. Makanya kami anterin kesini.”
“Tapi lo pada nggak apa-apain kan dia?” nada bicara gue sedikit tinggi, dengan maksud untuk menggertak.
“Nggak Mas. Mas percaya sama kami, kami cuma nganterin aja. Soalnya tadi dia sempat debat sama cowok yang berseragam, dan berakhir dipukul Mas.”
“Bah?! Dipukul?! Ini cerita beneran, apa lo ngarang-ngarang?” emosi gue langsung naik seketika dari nada bicara yang gue ucapkan.
“Beneran, Mas. Sumpah demi Tuhan deh, kami berani. Kami cuma anterin aja.”
Gue tidak membalas lagi. Gue pun mengucapkan terima kasih, dan atas bantuan mereka pula Anin berhasil gue angkut sampai ke teras depan rumahnya. Gue mencari kunci rumahnya dan menemukannya di pouch kecil dalam dompetnya yang cukup besar. Gue juga melihat deretan kartu, mulai dari debit, kredit, KTP sampai BPJS, ada semua disitu. Kebiasaan Anin, selalu menaruh semuanya di satu tempat. Tapi karena dia anak orang kaya sih ya, jadinya tidak perlu khawatir akan jatuh di jalan atau apapun, kan dia hidupnya selalu punya fasilitas kendaraan pribadi.
Gue mencoba mengangkat Anin dan ternyata berat juga ini emak-emak. Haha. Gue merebahkannya di kasur. lalu gue membuka sepatunya, kaus kaki, celana, blouse, hingga baju dalamannya. Gue memasakkan air hangat untuk mengelap tubuhnya, karena kan tidak mungkin gue memandikannya dengan kondisi setengah tidur begini. Setelah 10 menit gue menunggu, air hangat siap, gue pun mengganti bra dan celana dalamnya. Gue mengusapkan seluruh tubuhnya dengan air hangat menggunakan handuk kecil yang dia jemur dekat kamar mandi. Gue tidak tahu handuk kecil ini bekas apa, yang jelas aromanya wangi, jadi asumsi gue, handuk ini bersih.
Sejenak gue memperhatikan tubuh Anin. Luar biasa, walaupun sudah tidak sesempurna seperti terakhir kami bertempur di sebuah hotel bertahun-tahun lalu, tetapi perawatan ala orang kaya tetaplah menghasilkan hasil yang baik. Hasil waxing tetap menjadi pemandangan yang terbaik. Gue mengusap seluruh tubuh Anin, dan ketika gue membalikkan tubuhnya, tato yang berada di dekat tulang belikat sebelah kanan punggungnya masih terpampang jelas, dan sampai saat ini pun gue tidak pernah mengetahui tato tersebut menggambarkan apa. Haha. Kulit tubuhnya yang agak kuning langsat seakan ingin bercerita jika baru saja ada yang mendaratkan pukulan hebat di sekitar lengan kiri dan pinggang kanannya. “Gila, habis dipukul karena apa? Sampai berbekas biru keunguan seperti ini?” gue membatin.
Setelahnya gue mengeringkan dengan handuk besar yang dia jemur juga dekat kamar mandi. Gue memakaikan pakaian yang gue cari di lemarinya yang luar biasa wangi ketika gue buka. Gue juga mendapati kalau Anin memiliki kebiasaan unik, yaitu menjejerkan pakaian berdasarkan warna. Setelah selesai semuanya, gue pun beranjak ke peraduan gue, di beanbag yang ada di ruang tamu.
----
“Morning, mi amor!” Ucap suara yang lemah lembut, tepat di telinga kanan gue.
“Hh..Heeei..” sahut gue sembari tersenyum dan kemudian meregangkan otot badan sejenak. Enak sekali.
“Kamu semalam ngapain aku?” tanyanya singkat.
“Hah?! Ngapain apaan?” tanya gue balik, dan langsung mengumpulkan kesadaran penuh gue.
“Ini…?” ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya, lalu berputar layaknya seorang model di pemotretan.
Sepintas gue melihat kibasan rambutnya yang tergerai, apalagi terpapar sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela yang terbuka. “Indah sekali pemandangan pagi ini”, pikir gue.
“Oooh.. haha.. Itu..itu semalam kamu kayaknya mabuk berat banget..makanya aku bantu buat kamu ganti baju, daripada aku usaha bangunin juga nggak akan bangun kan kamunya. Jadi biar kamu sleep proper, aku bantuin deh buat gantiin baju kamu.”
“……………..” dia diam saja.
“Nin, kenapa diam?” tanya gue penasaran. Hanya gelengan kepala dan senyum tipis dari bibirnya yang gue lihat. “….aku udah lihat.” lanjut gue seraya menunjuk bekas pukulan di lengan dan pinggangnya.
“Aku bener-bener ngerasa nggak pantes banget sama kamu, Ja.” Katanya lirih.
“Lah, kenapa begitu, Nin?”
“Semalam aja aku milih untuk melampiaskan semuanya di club. Aku clubbing. Lagi. Udah lama banget sebenarnya aku ninggalin clubbing ini. Tapi aku nggak tau kenapa tiba-tiba kepikiran kesana. Benar aja jadinya kacau semua. Mana kamu pas banget datang kesini, nggak bilang-bilang aku dulu.” Katanya.
“Kan aku nggak masalah, kenapa jadi kamu ngerasa bersalah, sih?”
“Iya karena itu bikin aku malu di depan kamu, tau nggak sih kamu, Ja?”
Gue melirik sepintas ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 8.30 pagi. Seharusnya gue sudah harus bersiap kerja, tetapi gue tidak membawa kemeja ganti, celana dalam ganti, dan bahkan peralatan mandipun tidak.
“Mending kamu berangkat kerja aja dulu.” Ucapnya seraya mengelus pipi kanan gue dengan lembut.
“Aku nggak bawa apa-apa, Nin. Gimana aku mau kerja?”
“Aku udah siapin semua. Tuh, coba aja buka lemari aku yang sebelah kanan. Disitu udah ada kemeja, celana dalam, kaos dalam, sama celana Panjang.” Katanya santai.
“Hah? Kamu emang tau size-nya berapa?” tanya gue, tidak percaya dengan apa yang baru saja gue dengar.
“Aku kan bilang, aku tau semua seluk beluk kamu. Even kamu sekarang perutnya udah mulai mengembang pun, bisa aku perkirakan kok. Ingat, kita lulusan kampus mana? Hehehe.” Jawabnya ceria.
“Beneran ini? Gila banget asli. Aku terharu.” Gue menghampiri Anin dan mencium keningnya, lalu mendekapnya.
“Makasih ya, Ja.”
“Lah kok jadi kamu yang makasih? Kan harusnya aku?”
“Ya kamu tetap percaya aku, walaupun dengan kejadian semalam.”
“Kamu utang cerita sama aku. Aku nggak terima biru-biru di badan kamu. Harusnya nggak ada itu.”
“Kamu konsentrasi kerja dulu aja, nanti pulang jangan lupa diskusi lagi sama Emi mengenai persiapan kalian. Udah makin krusial nih waktunya, hon.” katanya.
“Boleh nggak sih, aku sayang sama kamu tapi sayang sama Emi juga?”
Anin hanya tertawa lepas. Sorot mata tajamnya tetap tidak bisa membohongi adanya harapan untuk gue sayangi sepenuhnya, tapi dia ragu.
“I had to, Nin.” Kata gue lagi.
“Don’t force yourself, sayang. Take it easy. I’m ready wherever you ready for it.”
“Really miss you, Nin. More than I miss Emi, right now.”
“Udah gih, siap-siap dulu. Semuanya udah tersedia, kamu tinggal mandi. Di kamar mandi juga udah ada sikat gigi dan parfum. Pakai aja.” Katanya lagi sembari mendorong gue untuk beringsut dari Kasur.
“Hhhh. Anin. Anin. Really need to make though decision kalau kayak begini”. Kata gue membatin.
Anin sangat sukses untuk merubah arah pandangan gue dalam merapikan hati. Entah ini bagian dari rencana jahat selanjutnya untuk menggagalkan pernikahan gue? Atau ada maksud lain yang sebenarnya ingin dia sampaikan ke gue, tapi tidak juga bisa tersampaikan? Entahlah. Yang jelas saat ini gue hanya ingin Anin berada di sisi gue. Gue seperti sudah pasrah akan semuanya. Walaupun gue juga belum mengetahui detail apa yang sebenarnya terjadi di keluarga kecilnya itu. Gue memlilih untuk menyerahkan itu semua kepada waktu.
“Ayo sini review bareng gue, deh, Tan. Ke ruangan gue aja ya.” Ujar gue di sambungan intercom kantor, Bersama dengan salah satu tim gue, Titan. Gue menutup telepon dan mulai memeriksa pekerjaan beberapa rekan tim. Hampir semuanya ada missed-nya. Gue menjambak rambut gue. Sungguh pusing. Kenapa ketika urusan personal gue menghadapi sebuah dilema yang tak berkesudahan, di kantor pun terjadi hal yang sama. Kenapa yang di kantor ini tidak terjadi tiga atau empat bulan lalu, ketika kondisi sedang lengang dan persiapan pernikahan gue pun masih belum seribet sekarang.
Tok. Tok. Tok. Terdengar suara ketukan dari pintu geser kaca rangka alumunium ruangan kerja gue.
“Yuk, masuk sini, Tan.” Kata gue mengajaknya masuk seraya menampilkan gestur tangan mempersilakan Titan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja gue.
“Misi ya, bang.” Ucap Titan lirih, pandangannya menunduk ke bawah.
“Lah, lo kenapa dah? Santai aja. Kayak ketemu monster aja, lo. Hahaha.” Ujar gue mencoba meredakan ketegangan Titan. Gue lalu mengarahkan monitor komputer flat screen 24 inch yang berada di ujung sebelah kanan meja gue ke arahnya, sehingga kami bisa sama-sama melihat proyeksi layar laptop gue yang gue set duplicate, jadi di layar laptop terlihat, di monitor pun terlihat. Gue mengkoneksikan laptop dengan layar monitor ini menggunakan kabel HDMI yang baru saja gue beli dua hari lalu.
“Udah bisa gue mulai ni, bang?” tanyanya.
“Sip lanjut. Ini excel-nya udah gue buka ya. Coba jelasin dulu apa yang lo dapet di lapangan.”
“Jadi kemarin itu gue kesulitan untuk nyari data bang. Karena memang daerahnya itu agak remote ya, dan kondisi desanya itu juga nggak bisa banyak orang yang ditanyain. Kayak agak gimana gitu kalo ngomong sama orang asing.” Katanya.
“Tunggu. Lo nggak coba ke kelurahan nanya-nanya informasi?” tanya gue kemudian.
Dia hanya menggeleng. Gue menghela napas.
“Terus udah coba nongkrong di warung kopi setempat, buat nanya-nanya orang yang ada disitu?”
“Udah bang kalo itu. Tapi tetep nggak dapat informasi apa-apa. Mereka hanya bisa menerka-nerka aja kisaran harganya yang mau dijual, nggak bisa ngasih harga pasti, dan toh itu informasi juga sifatnya hanya “katanya” , nggak fix.”
“Lo udah berapa lama sih ngerjain proyek-proyek kayak gini?”
“Tiga tahunan bang, kenapa emangnya?”
“Terus lo kayak gini nggak bisa tau cara pemecahannya gimana?” suara gue mulai meninggi.
“Iya bang. Makanya gue mau diskusi sama lo.”
“Ya ampun, Tan, Tan. Ini kan seharusnya bisa lo urus dengan baik, Tan. Ini bukan perkara susah buat orang sekelas lo.”
“Maaf bang, tapi gue juga stuck karena keadaan lapangannya nggak memungkinkan.”
“Nggak memungkinkan gimana, Tan? Ini kan udah jelas semuanya…” lalu gue memberitahu beberapa detail yang sepertinya terlewat olehnya. Gue memberikan beberapa arahan untuk melakukan penyesuaian agar angka yang keluar tidak aneh-aneh.
“Makanya gue minta tolong sama lo, Bang. Soalnya gue stuck dan gue bingung mesti minta tolong siapa lagi. Hehe.” Katanya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Nanti kalo seandainya gue bikin kantor sendiri dan cabut dari sini, gimana Tan? Mau sampe kapan lo ngandelin orang lain terus? Lo itu potensinya gede banget. Lo yang selalu gue andalin. Lo aja udah kewalahan gini, gimana yang lain, Tan?”
“Ya maybe, gue bisa ikut sama lo, Bang.”
“Ah elah lo Tan…..”
Gue sangat pusing dengan keadaan kantor yang menghadapi beberapa tantangan di lapangan. Sekelas orang kepercayaan gue saja sepertinya kebingungan untuk mengerjakan pekerjaan ini. Pun dengan gue. Seharusnya gue yang melakukan review akhir saja malah harus turun tangan dari proses pertengahan sampai akhir. Memang lah Gen Z ini agak gimana gitu effort-nya.
Memang sebenarnya ini salah gue yang membuat keadaan menjadi runyam. Gue selalu mencari pelarian ketika terdapat masalah. Gue mulai menghindari keadaan tidak mengenakkan di persiapan pernikahan gue, dan sekarang ditambah dengan permainan hati gue dengan Anin yang statusnya belum jelas. Apakah gue harus bertanya tentang kejelasan statusnya dulu? Jika ya, untuk apa gue bertanya seperti itu? Toh pada akhirnya hubungan gue dan dia tetap akan berakhir. Tapi di sisi lain, gue sekarang malah merasa amat sangat takut kehilangan dirinya. Gue seperti senang-senang saja ketika ada orang yang selalu peduli terhadap gue. Emi selalu peduli, tapi Anin? Bahkan dia selalu ada di momen-momen krusial gue, seperti dulu dia memberikan insight besar ke gue mengenai kebimbangan gue dalam memperjuangkan Emi. Malah ditambah dengan tamparan, literally slap, di depan orang banyak karena kebodohan gue dalam penentuan sikap seperti ini. Sekarang malah orang yang dulu memberikan pencerahan inilah yang membuat gue semakin pusing, dan membuka peluang gue berada di persimpangan jalan lagi. Jalan mana lagi yang harus gue pilih untuk akhir pencarian gue. Dulu dia yang mengingatkan untuk tegas terhadap hati gue, nah sekarang dia malah datang untuk meruntuhkan keteguhan hati gue terhadap Emi.
Lo kenapa sih, Nin?
Datangnya selalu tidak terduga kayak begini. Kenapa juga gue jadi berpikir seperti ini? Susah payah gue memperjuangkan Emi selama beberapa tahun belakangan, ujung-ujungnya malah jadi tidak jelas begini. Mana yang gue alihkan perhatiannya itu adalah orang yang bahkan gue belum tahu lagi kejelasan status keluarganya seperti apa. Mengapa dia mengambil kontrakan sendiri? Mengapa dia tidak memajang foto keluarga kecilnya? Kemana suami dan anaknya? Kenapa juga dia bilang katanya masih mau melanjutkan mimpinya, setelah apa yang gue lakukan beberapa waktu terakhir ini dengannya, dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang silih berganti memenuhi isi kepala gue.
“Gue harus ke tempat Anin.” Gue berkata dalam hati.
----
Sekitar jam 21.00 gue baru bisa keluar dari kantor imbas dari beberapa pekerjaan, terutama membantu tim gue yang seharusnya sudah bisa jalan sendiri, yang harus diselesaikan hari ini, gue pun melajukan motor bebek tua gue menuju kediaman Anin. Sekitar 15 menit gue berjalan menyusuri dingin malam kota Jakarta hingga akhirnya gue sampai di rumah kontrakan yang nyaman itu.
Tok. Tok. Tok.
Gue mencoba untuk mengetuk pintu. Pagarnya tidak dikunci sehingga gue bisa langsung melewatinya. Jarak antara pagar dan teras yang hanya beberapa langkah saja membuat gue dengan cepat mencapai pintu depan rumah itu. Setelah beberapa saat, tidak ada jawaban juga. Gue mencoba menelpon Anin, tidak ada yang mengangkat. Pun dari dalam tidak ada terdengar suara ringtone HP-nya. Kemana Anin? Tanpa terasa, gue pun terlelap di kursi teras Anin karena memang pada dasarnya gue juga capek.
“…mas, bangun, mas….” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, dan ada guncangan sedikit di tangan gue.
“Ehhm.. Ada apa ya? Kalian siapa ini?” tanya gue, masih mengumpulkan nyawa dengan pandangan sedikit buram karena gue belum memakai kacamata yang gue taruh di meja bulat di samping kursi tempat gue tertidur.
“Halo, mas-nya ini siapa, kalo boleh tau?” pria yang berbaju merah bertanya balik.
“Hah?! Gue cowoknya.” Jawab gue sekenanya, dengan kesadaran belum penuh.
“Oooh….” Terdengar beberapa orang menyahut bersamaan.
Begitu gue benar-benar sadar sepenuhnya, gue melihat di taksi online yang ditumpangi beberapa orang ini, cowok semua, ada Anin yang duduk sembari setengah teler. Gue pun mendekati taksi online tersebut dan mendapati bau alkohol yang kuat sekali di sekitar tubuhnya.
“Nin, Anin….hadeeeh.” ujar gue dalam hati.
“Ehm, mas-mas ini darimana ya kalo boleh tau?” tanya gue ke empat orang yang bersama Anin.
“Kami tadi dari bar, Mas. Mbak ini kayaknya mabuk berat, dan sempat cekcok dengan cowok juga. Pakai baju pilot gitu, pokoknya kemeja putih, ada pangkat hitamnya, celana panjang hitam.” Cowok berbaju merah kembali menjelaskan.
“Ohh, oke. Terus kalian bisa tau alamat rumah ini darimana?”
“Tadi kami coba tanya langsung si mbaknya, mumpung dia masih sedikit sadar, dan kebetulan tau daerah sini. Makanya kami anterin kesini.”
“Tapi lo pada nggak apa-apain kan dia?” nada bicara gue sedikit tinggi, dengan maksud untuk menggertak.
“Nggak Mas. Mas percaya sama kami, kami cuma nganterin aja. Soalnya tadi dia sempat debat sama cowok yang berseragam, dan berakhir dipukul Mas.”
“Bah?! Dipukul?! Ini cerita beneran, apa lo ngarang-ngarang?” emosi gue langsung naik seketika dari nada bicara yang gue ucapkan.
“Beneran, Mas. Sumpah demi Tuhan deh, kami berani. Kami cuma anterin aja.”
Gue tidak membalas lagi. Gue pun mengucapkan terima kasih, dan atas bantuan mereka pula Anin berhasil gue angkut sampai ke teras depan rumahnya. Gue mencari kunci rumahnya dan menemukannya di pouch kecil dalam dompetnya yang cukup besar. Gue juga melihat deretan kartu, mulai dari debit, kredit, KTP sampai BPJS, ada semua disitu. Kebiasaan Anin, selalu menaruh semuanya di satu tempat. Tapi karena dia anak orang kaya sih ya, jadinya tidak perlu khawatir akan jatuh di jalan atau apapun, kan dia hidupnya selalu punya fasilitas kendaraan pribadi.
Gue mencoba mengangkat Anin dan ternyata berat juga ini emak-emak. Haha. Gue merebahkannya di kasur. lalu gue membuka sepatunya, kaus kaki, celana, blouse, hingga baju dalamannya. Gue memasakkan air hangat untuk mengelap tubuhnya, karena kan tidak mungkin gue memandikannya dengan kondisi setengah tidur begini. Setelah 10 menit gue menunggu, air hangat siap, gue pun mengganti bra dan celana dalamnya. Gue mengusapkan seluruh tubuhnya dengan air hangat menggunakan handuk kecil yang dia jemur dekat kamar mandi. Gue tidak tahu handuk kecil ini bekas apa, yang jelas aromanya wangi, jadi asumsi gue, handuk ini bersih.
Sejenak gue memperhatikan tubuh Anin. Luar biasa, walaupun sudah tidak sesempurna seperti terakhir kami bertempur di sebuah hotel bertahun-tahun lalu, tetapi perawatan ala orang kaya tetaplah menghasilkan hasil yang baik. Hasil waxing tetap menjadi pemandangan yang terbaik. Gue mengusap seluruh tubuh Anin, dan ketika gue membalikkan tubuhnya, tato yang berada di dekat tulang belikat sebelah kanan punggungnya masih terpampang jelas, dan sampai saat ini pun gue tidak pernah mengetahui tato tersebut menggambarkan apa. Haha. Kulit tubuhnya yang agak kuning langsat seakan ingin bercerita jika baru saja ada yang mendaratkan pukulan hebat di sekitar lengan kiri dan pinggang kanannya. “Gila, habis dipukul karena apa? Sampai berbekas biru keunguan seperti ini?” gue membatin.
Setelahnya gue mengeringkan dengan handuk besar yang dia jemur juga dekat kamar mandi. Gue memakaikan pakaian yang gue cari di lemarinya yang luar biasa wangi ketika gue buka. Gue juga mendapati kalau Anin memiliki kebiasaan unik, yaitu menjejerkan pakaian berdasarkan warna. Setelah selesai semuanya, gue pun beranjak ke peraduan gue, di beanbag yang ada di ruang tamu.
----
“Morning, mi amor!” Ucap suara yang lemah lembut, tepat di telinga kanan gue.
“Hh..Heeei..” sahut gue sembari tersenyum dan kemudian meregangkan otot badan sejenak. Enak sekali.
“Kamu semalam ngapain aku?” tanyanya singkat.
“Hah?! Ngapain apaan?” tanya gue balik, dan langsung mengumpulkan kesadaran penuh gue.
“Ini…?” ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya, lalu berputar layaknya seorang model di pemotretan.
Sepintas gue melihat kibasan rambutnya yang tergerai, apalagi terpapar sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela yang terbuka. “Indah sekali pemandangan pagi ini”, pikir gue.
“Oooh.. haha.. Itu..itu semalam kamu kayaknya mabuk berat banget..makanya aku bantu buat kamu ganti baju, daripada aku usaha bangunin juga nggak akan bangun kan kamunya. Jadi biar kamu sleep proper, aku bantuin deh buat gantiin baju kamu.”
“……………..” dia diam saja.
“Nin, kenapa diam?” tanya gue penasaran. Hanya gelengan kepala dan senyum tipis dari bibirnya yang gue lihat. “….aku udah lihat.” lanjut gue seraya menunjuk bekas pukulan di lengan dan pinggangnya.
“Aku bener-bener ngerasa nggak pantes banget sama kamu, Ja.” Katanya lirih.
“Lah, kenapa begitu, Nin?”
“Semalam aja aku milih untuk melampiaskan semuanya di club. Aku clubbing. Lagi. Udah lama banget sebenarnya aku ninggalin clubbing ini. Tapi aku nggak tau kenapa tiba-tiba kepikiran kesana. Benar aja jadinya kacau semua. Mana kamu pas banget datang kesini, nggak bilang-bilang aku dulu.” Katanya.
“Kan aku nggak masalah, kenapa jadi kamu ngerasa bersalah, sih?”
“Iya karena itu bikin aku malu di depan kamu, tau nggak sih kamu, Ja?”
Gue melirik sepintas ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 8.30 pagi. Seharusnya gue sudah harus bersiap kerja, tetapi gue tidak membawa kemeja ganti, celana dalam ganti, dan bahkan peralatan mandipun tidak.
“Mending kamu berangkat kerja aja dulu.” Ucapnya seraya mengelus pipi kanan gue dengan lembut.
“Aku nggak bawa apa-apa, Nin. Gimana aku mau kerja?”
“Aku udah siapin semua. Tuh, coba aja buka lemari aku yang sebelah kanan. Disitu udah ada kemeja, celana dalam, kaos dalam, sama celana Panjang.” Katanya santai.
“Hah? Kamu emang tau size-nya berapa?” tanya gue, tidak percaya dengan apa yang baru saja gue dengar.
“Aku kan bilang, aku tau semua seluk beluk kamu. Even kamu sekarang perutnya udah mulai mengembang pun, bisa aku perkirakan kok. Ingat, kita lulusan kampus mana? Hehehe.” Jawabnya ceria.
“Beneran ini? Gila banget asli. Aku terharu.” Gue menghampiri Anin dan mencium keningnya, lalu mendekapnya.
“Makasih ya, Ja.”
“Lah kok jadi kamu yang makasih? Kan harusnya aku?”
“Ya kamu tetap percaya aku, walaupun dengan kejadian semalam.”
“Kamu utang cerita sama aku. Aku nggak terima biru-biru di badan kamu. Harusnya nggak ada itu.”
“Kamu konsentrasi kerja dulu aja, nanti pulang jangan lupa diskusi lagi sama Emi mengenai persiapan kalian. Udah makin krusial nih waktunya, hon.” katanya.
“Boleh nggak sih, aku sayang sama kamu tapi sayang sama Emi juga?”
Anin hanya tertawa lepas. Sorot mata tajamnya tetap tidak bisa membohongi adanya harapan untuk gue sayangi sepenuhnya, tapi dia ragu.
“I had to, Nin.” Kata gue lagi.
“Don’t force yourself, sayang. Take it easy. I’m ready wherever you ready for it.”
“Really miss you, Nin. More than I miss Emi, right now.”
“Udah gih, siap-siap dulu. Semuanya udah tersedia, kamu tinggal mandi. Di kamar mandi juga udah ada sikat gigi dan parfum. Pakai aja.” Katanya lagi sembari mendorong gue untuk beringsut dari Kasur.
“Hhhh. Anin. Anin. Really need to make though decision kalau kayak begini”. Kata gue membatin.
Diubah oleh yanagi92055 22-10-2024 18:33
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
dan bintang 5 
