Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.1K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread1Anggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#556
...Are You Ready For.. Part 6
Gue benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran gue saat ini. Tetapi yang gue fokuskan hanya bisa bersama Anin. Terdengar bodoh, gila dan seperti terhipnotis. Memang begitulah adanya. Gue sama sekali tidak menolak dia. Malah sekarang ini sepertiya gue yang menginginkannya. No, gue ralat. Bukan sepertinya, tapi memang iya, gue menginginkannya. Gue seperti terbius dengan omongan Anin, karena gue tahu semua omongannya kali ini adalah apa adanya, jujur, tulus dan langsung dari hatinya. Gue adalah orang yang mampu membedakan mana namanya hubungan berdasarkan fisik saja, dengan hubungan yang memakai hati. Sampai ke jenis kecupan bibir ke bibir pun gue bisa membedakannya. Kali ini, sebenarnya tidak hanya kali ini, dulu pun ketika Anin muncul lagi dan menyatakan dirinya sudah lebih baik, gue memang mempercayainya. Makanya gue tidak sungkan untuk curhat ke dia. Gue merasakan hal itu lagi, tetapi ditambahkan dengan rasa sayang. Belum besar, tapi gue tidak bisa membohongi perasaan ini.

Rasanya berada diantara dua hati ini sungguh menyiksa gue. Tetapi rasa kali ini berbeda ketika gue berada diantara Zalina dan Keket. Gue amat sangat mencintai Emi. Tetapi perasaan gue ke Anin sekarang seperti sihir di siang hari. Gue seperti terkutuk untuk selalu berada dalam peredaran pandangannya.

Gue gila? Mungkin. Gue lemah? Pasti.

Gue tidak tegas?

Setelah Anin berbicara panjang lebar, gue menyadari bahwa memang selama ini gue adalah orang yang tidak tegas. Plintat plintut. Itu sebabnya gue menjadi tidak fokus dalam banyak hal. Gue memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak benar-benar ada yang jadi kekuatan spesial. Karena gue tidak tegas. Gue tidak tegas untuk melawan ego gue sendiri. Terlalu banyak mau menyebabkan gue menjadi orang yang bisa banyak hal, hanya saja tidak menjadi spesial. Gue bisa bernyanyi di band, tetapi tidak sebagus vokalis lainnya, gue memang mengemban tugas yang besar di kantor, tetapi gue tidak yakin apakah gue sebagus itu dimata si bos, dan lain-lainnya lagi yang mungkin sudah pernah gue ceritakan di kisah-kisah sebelum ini. Hal ini terus mengikuti gue, dan sepertinya gue mengalami adiksi terhadapnya.

Pada akhirnya gue tetap berada di rumah kontrakan Anin karena hujan tak kunjung reda. Pagi ini, gue dibangunkan dari beanbag yang begitu nyaman gue pakai tidur. Gue tidur di ruang tamu.

“Bangun, sunshine come with a smile, Ja.” Sapanya di depan wajah gue. Jarak wajah kami paling hanya tiga buku jari saja. Anin menatap gue penuh arti, seakan dia baru saja membangunkan pasangan hidupnya.

“Hh..Heiii. Pagi. Duh maaf ya, jam berapa sekarang?” tanya gue kikuk karena dekat sekali wajahnya di depan gue.

“Jam 8 pagi. Hari minggu. Lo ada rencana untuk ketemu Emi, kan?”

“I..iya benar. Hehe. Eh, hmm. Semalam kita…”

“….nggak kok, aman semuanya.” Anin buru-buru memotong kalimat gue, tentunya dengan senyum manisnya dan tangan kiri memegangi pipi kanan gue.

“Syukur deh. Maaf banget ya, Nin, aku ketiduran.”

“Aku?!”

“Eh..iya, maksudnya gue..hehe..” gue benar-benar gugup sekali menghadapi Anin, seperti anak SMA yang baru saja merasakan cinta monyet.

Naaaah…I’m good with that. From now…” katanya, senyum terus mengembang di bibirnya.

“Kita?” tanya gue singkat. Telunjuk gue menunjuk dada gue, kemudian ke dadanya, sampai dua kali repetisi.

“Hmm.. gimana ya? Aku setuju…” ujarnya tersenyum penuh arti dan kemenangan.

Gila. Ini gila segila-gilanya. Gue malah menjalin hubungan kilat dengan orang yang selama ini gue benci setengah mati. Hipokrit, tidak tegas, dan bodoh. Gue terjebak dalam kebodohan besar. Gue memberikan asa baginya yang telah mencoba untuk menutup rapat harapannya selama bertahun-tahun itu. Entah bagaimana sakitnya Anin ketika nanti pasti berakhir tidak baik untuknya, dan untuk gue sendiri.

“Aku tau semua yang kamu pikirin.” Katanya singkat, tetap dengan senyum terkembang. Manis.

“Kamu tau apa?” nada bingung gue sangat terasa.

“Aku siap untuk menjalani ini. Walaupun singkat, walaupun sesaat, dan walaupun nantinya akan sangat sakit di akhir.” Ia memberi tanggapan, dengan suarah lirih yang nyaris tak terdengar.

“Kamu nggak usah sok tau. Aku udah bilang, nggak ada yang tahu masa depan, Nin.” Gue menyanggah kalimatnya barusan.

“Pernikahan kamu udah tinggal dua bulan lebih sedikit. Apa yang mau aku harapkan lagi? Aku hanya mau ngasih suatu kenangan manis untuk kamu, ya walaupun caranya sangat salah, kayak gini. Tapi, I’m allright. Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Karena disini posisiku yang salah.”

“Uuuh. Mellow sekali…” gue langsung menariknya ke pelukan gue. Dia langsung merebahkan dirinya di dada gue. Berat juga ternyata bobot tubuhnya sekarang. Gue mengelus lembut rambutnya yang wangi. Kemudian punggungnya.

“Maaf…maafin aku..” katanya kemudian, mood-nya langsung berubah sedih lagi.

“Kamu kenapa lagi? Kan kata kamu nggak apa-apa?”

“Iya. Aku udah jahat banget sama Emi. Lagi-lagi aku mengacaukan hubungan kamu dengan orang yang kamu cintai.”

“Aku berikan kamu kesempatan, loh. Ini memang kilat. Tapi setidaknya nggak usah mikirin yang lain dulu. Kamu pikirin, kita. Ya?”

“T..ttapii….” belum sempat Anin menyelesaikan omongannya, HP gue berdering, dan muncul nama Emilia di layar. Gue pun memberikan tanda telunjuk di depan mulut, menyuruhnya diam sejenak.

Quote:


See? Bener kan gue bilang?” Tanya Anin tiba-tiba, yang membuat gue sedikit kaget.

“Apa sih, lo, Nin?!!” kata gue kelepasan. Gue merasa tidak enak hati, membentaknya dengan spontan seperti ini.

“……………….”

“Ehhh, hmm… Maafin aku…” Kata gue dengan membentangkan tangan, ingin memeluk tubuhnya. Reaksinya adalah, menghalangi tangan gue dengan kedua tangannya, seperti menangkis sesuatu.

It’s ok! No probs.” Katanya singkat. Raut wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Gue meraih kedua tangannya kembali, dan mengecup lembut punggung tangannya. Ia hanya bisa tersenyum simpul, sembari melepaskan pegangan tangan gue, untuk kemudian mengelus helaian rambut gue yang berantakan karena gue acak-acak sendiri saat telpon dengan Emi beberapa saat lalu.

“Aku selalu siap untuk menyaksikan orang yang amat kucintai, mencintai orang yang dia cintai.” Ujarnya kemudian.

“Kok kayak pernah denger, dimana ya?” tanya gue heran, tapi seperti familiar.

“Film Heavenly Forest, jaman kita kuliah dulu, Ja.” Jawabnya sambil tersenyum kecil. Gue baru menyadari, Anin memiliki lesung pipi di kedua ujung mulutnya, mirip dengan Dee, tetapi tidak sedalam Dee.

“Aaah. Iya bener. Kalo nggak salah gue pernah nonton sama anak-anak di kostan nih, waktu si Adi F beli VCD bajakan. Haha. Terus di komunitas jepangan aku juga banyak yang ngomongin.” Gue mencoba mengingat-ingat.

“Iya kan? Dulu happening banget. Aku aja senang banget nontonnya. Bagus ceritanya…dan nggak nyangka aja…..”

“……sekarang kejadian di kamu…” gue buru-buru memotong dengan suara rendah dan kalem, kepala gue tertunduk ke lantai.

“……………………..” Anin tidak menanggapi, hanya tersenyum kecil saja.

“Maafin aku….” Hanya itu yang bisa gue ucapkan ke dia.

“Heiii. Aku udah ulangin berapa kali, sih? It’s ok. No probs. Kamu nggak bisa Bahasa inggris apa gimana?” katanya lagi, kali ini sambil mengangkat dagu gue dan mendekatkan muka gue ke mukanya. Gue hanya bisa diam seribu Bahasa. Tidak bisa menanggapinya dengan kata-kata yang terucap.

Gue bertukar pandang dengannya. Begitu dekat, tidak pernah sedekat ini seumur-umur gue mengenalnya. Gue menyadari kalau Anin sebenarnya tidak kalah menarik dengan cewek-cewek yang pernah menjadi pasangan gue, ataupun hanya pernah dekat dengan gue. Even dengan Emi sekalipun, jika tolok ukurnya fisik. Tapi kalau isi otak, kreativitas dan critical think, hanya Keket yang menurut gue bisa mendekati Emi. Itu saja masih kalah dengan Emi.

“Boleh, aku bilang sesuatu ke kamu?” tanyanya kemudian, masih dalam mode saling bertukar pandang.

“Apa, Nin?” gue membalasnya dengan pertanyaan lagi.

“Aku. Cinta. Kamu.” Katanya, mengeja satu persatu kata-kata tersebut. Lugas, tegas dan sungguh-sungguh.

“……………………………….” Gue menurunkan pandangan. Gue tidak sanggup menatap sorot matanya yang amat tajam itu ke gue. Lidah gue kelu. Tidak mau lagi berkompromi dengan otak gue.

“Nggak perlu kamu balas.” Katanya bergetar, masih menatap gue dengan tajam, kali ini kedua tangannya berada di pipi gue dan menaikkan wajah gue agar bisa kembali menatap matanya. Kemudian gue lihat adalah sorot mata tajam yang basah oleh airmata, lagi.

Kali ini, gue betul-betul tidak sampai hati melihat sakit luar biasa yang dia rasakan. Dia menahan ini selama bertahun-tahun tanpa bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa diam, memperhatikan dari jauh, dan memendam perasaannya, sendirian. Bahkan mungkin orangtuanya, adiknya, atau teman-temannya tidak ada yang tahu mengenai hal ini.

“Aku tau kamu pasti akan menanyakan, kenapa kok nggak ada yang support aku selama ini, ya kan?” tanyanya lagi. Pertanyaan ini sangat presisi dengan apa yang sedang gue pikirkan. Freak banget, kan? Mendadak kengerian gue datang lagi.

“……………………..” gue diam. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut gue.

“Aku tau, sebenarnya kamu bimbang. Apa-apa yang kamu lakukan dari malam kemarin sampai detik ini, itu adalah cerminan ketidaktegasan kamu terhadap perasaan kamu sendiri, Ja. Akui aja, kamu udah jatuh hati sama aku, udah mulai merindukan aku. Tetapi kamu nggak bisa juga untuk mengingkari perasaan dengan Emi. Itu sebabnya aku bilang tadi, kan, aku itu jahat banget. Seperti Anin yang kamu tau selama ini. Anin yang selalu berniat jahat sama kamu.”

Gue tidak tahu lagi harus bagaimana menanggapi ini.

“Kita bertemu, kemudian rindu. Ini kata orang-orang.” Dia melanjutkan. “…tapi, aku yakin banget, entah gimana ceritanya, kamu juga merasakan hal yang sama dengan aku sekarang.”

Gue diam, kemudian mengangguk pelan, penuh ragu. Dia hanya tersenyum simpul, lagi dan lagi.

“Terima kasih, sayang.” Dia melepaskan pipi gue dari pegangan tangannya.

“….siap-siap deh, kamu. Kan sebentar lagi kamu harus ketemu Emi.” Dia menuntun gue untuk segera bersih-bersih. Gue menurut dalam diam. Seakan gue ini robot yang tak punya perasaan. Kosong.

---

Berikutnya, gue tetap rutin bertemu dengan Emi, dan juga dengan Anin. Gue tidak yakin apakah Emi tidak curiga terhadap gue. Anak ini selalu punya cara untuk mengetahui apa yang gue sembunyikan. Emi seperti memiliki banyak mata di sekeliling gue. Karena kemampuan analisanya yang tajam, ditambah sudah mengenal gue luar dalam, ya sebetulnya wajar dia jadi tahu kebiasaan gue dan jika diluar itu sikap gue, dia pasti akan merasakan perbedaannya. Berselimut rasa bersalah yang besar terhadap Emi, tapi gue tetap bersikap normal karena waktu pernikahan kami sudah semakin dekat.

Karena waktu yang semakin sempit ini jugalah, kesempatan gue untuk merindukan Anin akan semakin sedikit. Untuk itu, gue selalu mengusahakan bertemu dengannya. Entah janjian di sebuah rumah makan yang dia kelola, atau mampir di kontrakannya yang tidak jauh dari kantor gue. Hobi memelihara kebodohan yang sudah Anin peringatkan gue ini selalu saja jadi alasan gue untuk bertemu dengannya. Benar katanya, setelah bertemu, kemudian merindu. Rasa ini seperti condong lebih besar ke Anin daripada ke Emi di saat pernikahan kami sudah semakin dekat.

CALL ANIN
Quote:



Tidak lama kemudian, Anin membuka pintu depan kontrakannya yang berada tengah-tengah antara dua jendela besar seukuran pintunya. Agak unik memang, biasanya kan kusen itu jendelanya bersebelahan dengan pintu. Tetapi ini pintu berada di tengah-tengah jendela. Gue pun tersenyum melihat sosok manis yang tingginya sekitar 160 cm ini di hadapan gue. Dia menyambut gue dengan tangan terbuka, dan kemudian langsung memberikan gue pelukan hangat.

How’s your day?” tanyanya lembut di telinga kanan gue.

Not so good.” Jawab gue sambil menghela napas Panjang.

Wanna share somethin’?” tanyanya lagi, sambil mengelus lembut punggung tangan kanan gue dengan ibu jari kirinya.

“Nggak apa-apa, nanti aja aku ceritanya. Aku cuma mau ngebayar kangen kamu. Here I am.” Ujar gue dengan senyum penuh arti.

“Urusan persiapan lagi? Kenapa lagi sih? Udah tinggal eksekusi doang masih aja ada yang dikeluhin?”

“Aku nggak tau lagi ya, ini permintaan makin banyak aja dari keluarganya Emi. Keluargaku aja semuanya oke-oke aja. Kayaknya orang kelamaan jadi orang susah, begitu tuh.” Dengus gue kesal.

Anin hanya tersenyum simpul.

“Sabar, hon. Aku support kamu dari sini ya. Yah walaupun aku juga nggak tau ini bisa berefek atau nggak ke kamu, setidaknya dengan adanya aku, mudah-mudahan kamu bisa berkeluh kesah dan ngelepasin semua beban kamu, di aku.”

Gue melihat Anin semakin kesini semakin mengerti gue. Pencapaian Anin ini sudah mendekati bagaimana Emi juga bisa mengerti gue. Emi memang tidak salah, tapi keadaan yang rasa-rasanya selalu tidak berpihak terhadap kami. Rasa frustrasi menghadapi galaunya rencana pernikahan yang serba terbatas secara finansial, dan juga keadaan kantor yang sedang tidak baik karena beberapa proyek yang kebetulan sedang gue handleada masalah, membuat gue bertarung dalam kekalutan hati. Gue seperti mentok tidak karuan kalau mau melakukan sesuatu, dan Anin selalu bisa menawarkan solusi. Persis seperti apa yang dilakukan Emi selama ini. Hanya sekarang, Emi selalu berseberangan dengan gue. Entah kenapa. Apakah dia mulai curiga dengan keadaan persiapan pernikahan yang semakin hari semakin runyam, atau lainnya. Gue tidak mengetahui pasti dan gue terlalu takut untuk berdiskusi dengannya. Karena gue pasti akan kalah telak dalam berargumen dengannya.

“Nin, kamu kenapa sih? Katanya kamu udah nggak mau lagi nerima kenyataan kalo ternyata aku nggak akan bisa jadi bagian dalam hidup kamu, tapi nyatanya saat ini aku sedang sama kamu. Aku mengeluh ke kamu, aku mencurahkan semua ceritaku ke kamu.” Tanya gue setelah merebahkan diri di beanbag. Kancing kemeja gue buka dua kancing teratasnya.

“Karena kamu yang mau aku nggak pergi.” Jawabnya singkat dan lirih.

“………………” gue hanya bisa diam. Gue memang yang mulai untuk membuatnya yakin ingin mencoba. Gue sedang dalam proses menyakiti cewek lain lagi, setelah sekian banyak cewek yang selalu gue sakiti selama ini karena merasa dipermainkan perasaannya.

“Aku udah bersiap untuk mengakhiri semuanya, tapi kamu datang lagi, dengan sungguh-sungguh, ngomong langsung di depan aku, disini, untuk mencoba…….” Katanya lagi kemudian menarik napas agak panjang, lalu melanjutkan kalimatnya, “…………..lalu aku mikir, hanya sedikit waktu yang kupunya sejak penantian selama bertahun-tahun. Aku tau kamu bilang kemarin itu nggak karena kasihan dengan keadaanku, atau kasihan setelah mendengar semua ceritaku, melainkan karena memang menginginkan aku. Suatu hal yang udah bertahun-tahun aku tunggu, Ja. Aku menantikan kamu untuk bilang ini selama bertahun-tahun. Walaupun pada akhirnya harus diakhiri, dan menyisakan sesak di dada ini, tapi aku berusaha untuk berdamai sesaat dengan hati aku. Aku siap untuk ngejalanin waktu yang singkat ini sama kamu. Aku siap untuk nggak mengeluh setiap kamu datang kesini dan membawa seluruh amarah, emosi, keluhan dan lainnya yang hampir semuanya negatif, karena aku tau, kamu rapuh, Ja. Kamu nggak bisa menentukan mana yang menurut kamu paling benar. Aku sangat mengenal kamu, bahkan mungkin dari diri kamu sendiri.”

“Aku egois banget ya, Nin?” gue berpindah dan merebahkan kepala gue kepangkuannya. Gue merasakan kulit kuning langsat pahanya yang halus dan licin ini secara langsung, dengan suhu badan agak sedikit hangat, karena dia sedang memakai celana super pendek yang kalau dipadu kaos oversized pasti akan terlihat tidak memakai celana sama sekali.

“Iya…..” dia menanggapi dengan anggukan kecil, sambil mengelus rambut ikal gue yang acak-acakan karena gue memakai helm. Gue kembali berkendara dengan motor ke kantor setelah pertemuan di kafe itu.

“………………………….” Selama beberapa saat, kami terdiam seolah menikmati suara malam yang diiringi rintik hujan yang telah lama tak kunjung turun di ibukota.

“Nin, gue mau minta tolong boleh, nggak?” gue lalu memecah keheningan.

“Hmm. Apa?” tanyanya.

“Tolong jangan pernah pergi ya. Please.” Jawab gue dengan penuh kesadaran, walaupun mata gue terpejam. Iya, gue terlarut lagi dalam perasaan yang entah apa Namanya ini. Perasaan yang pernah sedalam itu gue curahkan ke Keket dan Emi, melebihi mantan-mantan gue lainnya. Gue bisa merasakannya lagi, di Anin.

“……………………………” tidak ada jawaban dari Anin.

Tidak lama setelah gue berbicara, gue merasakan ada tetesan air di pipi gue. Setelah membuka mata, ternyata tetesan air mata Anin. Gue tidak pernah melihat Anin benar-benar serapuh ini sebelumnya. Mudah sekali dia menangis. Sebenarnya dia menyimpan rahasia apa sehingga dia seperti ini? Dia sekarang ini seperti menyesali sesuatu atau menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.

Gue beringsut bangun dari pahanya, dan kemudian memeluknya dalam diam.

“Keluarin aja semuanya. Nangis aja sepuas kamu. Lampiasin semuanya ke aku, Nin.”

“………………………” hanya terdengar suara terisak sesekali. Anin menangis dalam diam. Tubuhnya bergetar karena menahan isakan tangis agar tidak lebih besar. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang gue, kemudian naik ke bahu. Dia memeluk gue erat.

“Aku mau lebih lama bermimpi kayak gini, Ja….” Ujarnya lirih.
suryos
itkgid
jiyanq
jiyanq dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.