- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#555
...Are You Ready For.. Part 5
“Iya. Maafin gue, Ja. Hanya ini yang bisa gue bilang ke lo. Gue udah terlalu banyak merusak kehidupan lo selama ini. First, I think love is some kind of pain that could change itself as time goes by. Cuma kayaknya ini nggak berlaku buat gue. But, it’s ok!. Gue lega udah ungkapin apa yang selama ini gue nggak bisa katakan ke lo. Gue harap lo bisa mengingat gue sebagai memori yang baik di kehidupan lo setelah ini, ya walaupun itu sulit karena gue pernah sebegitu jahatnya sama lo.” Bisiknya di telinga gue.
Gue merasakan bagian lengan kiri kaos gue basah. Basah oleh airmata orang yang selama ini sebenarnya sangat tulus mencintai gue. Emi adalah orang yang paling tulus mencintai gue, tapi Anin? Dia mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan cinta gue, yang selalu bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun karena kurangnya komunikasi yang baik. Nasi sudah menjadi bubur, dan semua ini tidak akan mungkin diputar balik.
“Ya udah, kali ini lo gue antar pulang ya. Mau kan?” gue menawarkan.
“Makasih ya, Ja…” Ucapnya sedikit sesenggukan sambil mengangguk dipelukan gue.
Gue dan Anin beranjak ke meja tempat Nda duduk sedari tadi. Dia sedang membuka laptopnya yang sepintas gue melihat ada beberapa tab, dan di layarnya dia sedang menulis. Membuka Microsoft Word. Mungkin dia mau mulai menulis drama antara gue dan Anin, entah. Gue tidak peduli untuk saat ini. Gue hanya mau berbuat baik ke Anin yang sedang bersedih hati. Entah ini benar atau tidak, gue tidak mau berasumsi.
“Nda, gue balik dulu sama Anin ya. Lo nggak apa-apa disini?” tanya gue.
“Oh nggak apa-apa kok, Kak. Aku masih mau nyelesaiin beberapa tugas dan kerjaan. Kalo kakak sama Kak Anin mau duluan, silakan aja ya. Mungkin Kak Anin lagi butuh ditemani. Aku disini aja dulu. Nanti aku bisa pulang naik taksi atau ojek online.” Jawabnya yakin dan selalu diselingi dengan senyuman yang amat manis. Sumpah ini cewek sangat mengganggu pikiran gue. Mungkin Anin benar, gue sebenarnya belum 100% yakin bahwa pernikahan gue dan Emi akan berlangsung sebentar lagi. Gue harus buang rasa galau dan tidak fokus ini jauh-jauh.
“Beneran ya? Aku minta maaf ya, Nda. Aku malah jadi pulang duluan. Mungkin next time kita arrange lagi buat ketemuan ya. Nice to see you, Nda.” Kata Anin menambahkan. Matanya sembab, kemerahan dan tidak bisa disembunyikan lagi bahwa dia baru saja menangis.
Gue dan Anin berpamitan duluan. Nda cipika cipiki dengan Anin, dan pada saat akan salaman dengan gue, dia pun menarik tangan gue dan mendekatkan wajahnya ke wajah gue, dan dia pun cipika cipiki dengan gue. Aroma magis tercium. “Luar biasa sekali sensasi cipika cipiki dengan anak kuliahan ini”, dalam hati gue bergumam. Setelahnya, gue dan Anin pun meninggalkan tempat itu.
Kami Bersama menyusuri gelap dan gemerlapnya Ibukota dengan penuh kebimbangan. Gue bimbang lagi dengan apa yang telah Anin sampaikan. Gue bimbang, apakah benar yang dikatakannya bahwa gue belum siap seratus persen untuk menikah dengan Emi? Apakah gue tidak akan pernah bisa siap untuk melangkah lebih jauh dan lebih serius? Apakah selamanya gue akan terjebak dalam permainan gue sendiri yang selalu bisa dekat dengan banyak perempuan, namun tidak pernah bisa menyeriusi salah satu diantaranya? Gue amat sangat bingung.
Dalam kebingungan itu, gue tetap fokus untuk menyetir mobil Anin yang interiornya amat sangat cantik, secantik dirinya malam ini. Aroma dari kabin yang menyeruak dalam hidung membuat gue merasa sangat rileks. Mungkin dia membeli parfum khusus mobil yang bertipe aromaterapi. Gue tidak banyak bertanya soal ini, karena Anin yang duduk di sebelah gue hanya menatap kosong ke arah samping kiri, ke jendela berlatar malam bercahaya temaram.
----
Sekitar 20 menit gue menyetir dan tidak terasa kami sudah sampai ke kediaman Anin. Rumahnya sudah tidak di rumahnya yang dulu. Jaraknya tidak jauh dari kantor tempat gue bekerja, ternyata. Gue sama sekali tidak menyangka jaraknya sedekat itu. Mungkin juga Anin, atau dia meminta orang tuanya membelikan rumah yang berdekatan dengan tempat dimana gue setiap hari beraktivitas karena untuk memantau pergerakan gue setiap harinya. Entahlah gue tidak mau ambil pusing. Pentingnya sekarang ini adalah mengantarkan dia sampai di rumahnya dengan selamat.
“Lo nggak mau masuk dulu, Ja?” tanyanya lembut.
“Hmm. Boleh deh.” Jawab gue, seperti terhipnotis. Bagaimana mungkin gue menerima ajakan ini sedangkan selama ini gue tidak pernah sama sekali menggubris ajakannya, dalam bentuk apapun.
“Wah, senang banget gue Ja, pada akhirnya lo mau juga gue ajak. Yah, walaupun hanya untuk mampir sebentar ke kontrakan gue.” Katanya lagi.
“Oh, ini lo ngontrak? Emang lo ada kerjaan di dekat sini?” tanya gue lagi.
“Mestinya lo tau lah. Lo kan orang cerdas. Harusnya lo bisa nebak kenapa gue ngambil kontrakan disini.” Jawabnya penuh dengan senyum ceria.
Benar ternyata dugaan gue. Dia ternyata mengamati gue sampai sebegitunya. Entah sekarang dia kerja apa dan dimana, yang jelas dia mengelola beberapa restoran di ibukota. Gue hanya tidak menyangka dia niat sekali untuk mendekat ke gue sampai harus mengontrak rumah yang dekat dengan tempat gue bekerja. Rumah ini sebenarnya tidak terlalu besar, tipe 36, satu lantai dan berada di dalam sebuah cluster yang tertata apik. Pengembang propertinya sepertinya tahu selera milenial yang kian hari kian sulit membeli rumah. Jika dilihat dari segi bahan pembuat rumah ini, sepertinya tidak terlalu baik, karena gue perkirakan rumah ini dibangun tiga atau empat tahun lalu, tetapi ada beberapa bagian plafon dan dinding bagian atas yang sudah sedikit retak. Ruang tamunya simpel, dengan dua buah bean bag ukuran sedang berwarna merah marun, sebuah meja kecil bulat dan juga digelar sebuah karpet ukuran sedang yang cukup menutupi sebagian lantai ruang tamu.
Gue mengedarkan pandangan dan mendapati dia memajang beberapa buah foto, yang diantaranya adalah foto bersama keluarganya. Ayah, ibu dan dua anak. Gue baru tahu ternyata Anin punya adik perempuan. Lalu gue mengedarkan pandangan lagi, dan gue fokus ke satu frame foto, dimana terdapat foto dirinya bersama Zalina, sepertinya diambil sebelum kenal dengan gue, awal-awal kehidupan kampus dimulai, lalu diantara dua gadis manis ini seperti ada inzet foto kecil, yang berwajah, gue. Ya, foto gue ada terselip diantara foto Anin dan Zalina yang sedang berfoto berdua.
Gue cukup kaget dan surprise melihat apa yang gue lihat saat ini. Bagaimana tidak? Ada foto gue, sepertinya diambil candid dengan menggunakan kamera yang bagus dan profesional dari jarak agak jauh, ketika gue sedang berada di salah satu site proyek yang gue kerjakan (karena gue memakai safety helmet di foto itu). Siapa yang mengikuti gue sampai ke tempat kerja lapangan gue? Niat sekali. Kalaupun Anin sendiri, apa dia tidak bekerja? Atau dia sengaja rela meninggalkan pekerjaannya demi untuk menemani gue dari jauh? Gila sekali kalau memang pola pikirnya seperti ini. Gue benar-benar ngeri dan bergidik mendapati fakta-fakta yang malam ini terpampang di depan muka gue. Anin yang masih berada di dalam kamarnya, entah mengapa tidak juga keluar. Gue tetap menunggu saja sembari menghubungi Emi lewat chat.
Gue bertanya dalam hati gue, masa iya pernikahan gue dan Emi bisa batal hanya karena malam blak-blakan ini? Apa benar yang Anin bilang, gue belum siap 100% untuk menikah dengan Emi? Sejauh apa dia memahami situasi gue dan Emi, yang pada dasarnya memang berada dalam kondisi yang amat sangat tidak ideal untuk menikah? Muncul banyak pertanyaan lain lagi yang tidak kalah banyak dan masuk dalam antrian di otak gue, tetapi gue berusaha untuk realistis karena gue tidak mau lagi terjerumus dalam mimpi-mimpi yang mungkin akan membawa kesenangan sesaat untuk gue.
Sejurus kemudian, Anin keluar dari kamarnya dengan memakai kaos lengan pendek kebesaran berwarna putih kekuningan, celana pendek sepaha, tanpa kerudung, dengan rambut agak basah seperti baru saja keramas. Tangan kirinya memegang sebuah handuk kecil yang kemudian digosokkan ke rambutnya, sebagai pengering. Pada jarak sekitar 2 meter dari tempat gue duduk, gue sudah bisa mencium aroma wangi dari tubuhnya. Kulit kuning langsat yang terawat dengan baik terlihat pada bagian lengan, tangan, leher dan paha sampai ke kakinya. Dia masih seperti dulu. Seketika pandangan gue langsung tertuju ke bagian dadanya. Walaupun tidak terlampau besar dan menyembul, tetapi ya tetap menarik untuk disimak, bukan? Dia tidak mengenakan bra sama sekali. Pada saat yang sama pula, gue langsung ingat dengan foto yang dia kirimkan tempo hari. Penampakannya mirip sekali dengan apa yang gue lihat di depan mata gue sekarang, hanya saja yang saat ini terbungkus pakaian.
“Lo bengong aja kayak orang susah, nggak mau minum atau makan gitu? Self service aja lah, kayak baru kenal aja, lo.” Ujarnya santai sambil terus menggosokkan handuk kecilnya ke rambut dan kemudian mengibaskannya ke kanan, lalu ke kiri sampai beberapa kali ulangan.
“Oh…aaah. Iya juga sih, tadi gue mau nanya kalo mau minum ngambil dimana, tapi lo keburu masuk kamar, kan nggak enak gue….” Sahut gue seadanya. Gila, gue seperti star struck begini melihat Anin. Ada apa ini sebetulnya?
“Kebiasaan dilayanin cewek-cewek ya? Hahaha. Ya udah, sebagai tanda terima kasih gue, gue layanin lo malam ini.” katanya lagi, dan dia pun beranjak ke arah dalam rumah, sepertinya kearah dapur.
“Oke, Nin.” Gue hanya menanggapi singkat.
Sekitar lima menit berselang, Anin sudah kembali dengan membawa nampan berisi cangkir berisi kopi hitam, dan pisang goreng. Ini toolkit buat ronda banget, ya? Hahaha. Dia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman sederhana ini di meja, dengan cara merundukkan badannya setengah, sehingga gue bisa melihat dengan jelas dari lehernya, kaos kebesarannya ini memiliki rongga yang cukup lebar untuk semua orang bisa melihat isi dibaliknya. Terlihat dua gunungan berwarna putih kekuningan, sesuai warna kulitnya, yang tidak mungkin tidak terlihat sama sekali. Entah Anin sengaja atau tidak, tapi sepertinya cewek kalau di rumahnya sendiri banyak yang seperti ini ya, dan yang jelas, gue amat sangat tidak fokus karena ini.
“Gue lagi kehabisan bahan makanan, belum sempat beli lagi. Jadi paling ini aja. Pisangnya juga tadi siang sebelum berangkat ketemu lo itu belinya. Mestinya sih masih enak. Cobain, Ja. Ini kopi juga gue bikin seadanya aja ya, nggak terlalu manis karena gue nggak tau takaran gulanya. Hehehe.”
“Hummm. Oke, Nin, makasih ya.” Mendadak gue gugup berada didekatnya. Antara ketakutan, kasihan, atau apalah perasaan ini namanya, gue tidak mengerti.
“Lo kenapa sih, Ja? Kok jadi kaku gini sama gue? Tadi perasaan biasa aja. Pas perjalanan pulang, di mobil juga lo banyak ngajak gue ngomong, kenapa sekarang jadi kayak kehabisan kata-kata?” tanyanya bingung.
“Ah nggak, nggak kenapa-kenapa gue. Cuma lucu aja, gue nggak pernah ngebayangin bisa datang ke rumah lo, tanpa ada orang lain.” Ucap gue datar, dan gue seperti tidak menyadari apa yang gue ucapkan barusan, keluar begitu saja dari mulut gue. Otak dan mulut seperti tidak kompak.
“Hah? Seriusan lo mikir begitu? Hahaha. Kayak anak amatiran kemarin sore lo, ya. Seriusan deh, ada apa sih? Lo beneran kok bisa cerita sama gue. Kayak yang dulu suka lo lakukan juga. Gue terbuka. I swear, nggak akan ada yang aneh-aneh lagi. Kan tadi gue udah janji sama lo.”
“Mungkin benar ya kata bokap gue dulu, kalo orang itu bisa aja berubah karena dua perkara, bisa karena pikirannya terbuka, atau bisa juga karena hatinya yang terluka…” otak gue seperti tidak ingin bekerjasama dengan mulut. Apa yang terucap tidak seiring dengan apa yang gue pikirkan.
“Hah?! Lo ngomong apa sih, Ja? Kesurupan, lo? Hahaha. Ngaco banget perasaan.” Anin masih bertanya-tanya karena heran.
“Eeh..ngg, nggak, Nin. Nggak apa-apa, lupain aja ya. Hehe.” Jawaban dari mulut gue semakin tidak beraturan. Gue menggelengkan kepala juga beriringan.
“Ja, kalo lo kepikiran apa yang kita obrolin tadi di kafe atau lounge atau apalah itu namanya, lo berhak kok untuk ngelupain. Sehabis ini lo juga berhak menghapus gue dari seluruh kehidupan lo.” Katanya sambil memegang bahu kanan dan kiri gue. Saat ini kami berhadapan, Anin berdiri sedikit membungkuk, sementara gue duduk. Jarak tubuh kami hanya sepanjang tangan Anin yang terlihat sangat terawat.
“Hmm, Nin, bisa tolong dilepas dulu nggak pegangan tangan lo dari bahu gue? Kok rasanya agak gimana, gitu..” kata gue.
“Hoo, oke, sorry ya….” Anin pun dengan cepat melepaskan tangannya dari bahu gue dan beranjak duduk di sebelah gue.
“Nah gini, kan lebih enak ngobrolnya. Duh, di luar masih hujan aja, ya. Mana gue kan lagi nggak bawa kendaraan.” Kata gue.
“Lo ini sebenarnya mau nginap disini apa gimana? Jujur deh, Ja. Ada apa lagi? Apa yang ada di pikiran lo? Lo boleh kok cerita lagi.” Ujarnya sambil tersenyum dan mengelus kecil jari jemarinya di buku jari gue.
“Gue nggak tau apa yang ada di otak gue sekarang, Nin. Gue nggak pusing, tapi gue nggak bisa mikir. Kenapa juga sih, lo tiba-tiba malah ceritain semuanya ke gue? Lo tau nggak, karena itu tadi gue benar-benar bingung gimana harus bersikap sama lo.” Gue mulai mengumpulkan kesadaran gue kembali.
“Loh, harusnya lo lega dong, gue udah ceritain semuanya. Apa yang menjadi harapan dan cita-cita gue selama ini yang rasanya udah nggak ada yang bisa dihidupkan kembali. Itu udah cukup buat gue, Ja. Gue udah senang banget lo masih mau ketemu dan ngobrol sama gue. Bahkan, bertahun-tahun lamanya gue akhirnya bisa merasakan pelukan pakai hati lo, pelukan seorang yang selama ini gue idamkan, gue dambakan untuk jadi pendamping gue, untuk jadi orang yang paling menginginkan gue dalam hidupnya, orang yang akan gue sayangi sepanjang sisa hidup gue di dunia, Ja. Itu cukup buat gue. Gue berterima kasih sekali untuk kesediaan lo tadi.” Kata Anin, kali ini dia kembali dalam mode melankolisnya.
“Iyaaa. Justru itu, Nin. Justru itu yang membuat gue jadi amat bimbang. Setelah banyaknya kekisruhan persiapan pernikahan gue, dan insight dari lo yang membuka pikiran gue kalau ternyata gue mungkin aja memang belum siap untuk menikah dengan Emi, dan dengan pengakuan lo kalo ternyata lo selama ini sebegitu berharapnya sama gue, bikin perasaan gue campur aduk, tau nggak sih?” gue mencoba menjelaskan dengan tenang, tapi tidak bisa dipungkiri, ada semacam kesedihan tersendiri dari nada bicara gue.
Apakah gue akan menangis? Well, bisa saja. Laki-laki tidak pernah diharamkan untuk meneteskan air mata, bukan?
“Well, sebenarnya, ini adalah cara mengakhiri semua yang udah gue mulai dari dulu, Ja. Gue harus jujur dengan diri gue kalau selama bertahun-tahun gue menjalani kehidupan gue, silih berganti orang-orang baik mengisi relung hati gue, nggak pernah bisa sedikit pun gue berpaling dari lo, Ja. Yang bodohnya adalah, gue malah menyakiti lo sehebat itu. Kesalahan paling besar yang pernah gue lakukan itu ya menyakiti orang yang paling gue cintai. Gue mencintai lo selama itu, Ja. Demi itu pula gue mencurahkan kesakitan hati gue dengan mencari orang-orang tulus yang akhirnya gue sakiti juga. Mantan-mantan gue selama rentang waktu gue pertama kali kenal sama lo di kampus sampai sekarang, Zalina, dan akhirnya malah lo sendiri.”
“Maksud lo, mengakhiri gimana, Nin?”
“Gue telah memulai lembar kisah gue sendiri sebagai seorang yang mencintai sebuah bayangan selama bertahun-tahun. Gue hanya bisa menggapai bayangan lo, gue hidup dalam bayang-bayang lo. Lo nggak salah, tapi gue yang memang memilih untuk seperti itu, demi menyenangkan hati gue. Semakin kita dewasa, maka awareness akan kesehatan mental dan fisik kita pun meningkat, kan? Nah, sejak itu pula gue berusaha untuk berdamai dengan fakta yang ada. Lo nggak akan pernah bisa jadi orang yang mencintai gue. Karena gue hanya bisa cinta sendiri. Hanya ada monolog dalam kesepian hati gue, Ja. Gue nggak mau kesehatan mental dan fisik gue terganggu dengan ilusi yang selalu mengikuti hidup gue selama ini. So, this is the time, I think.” Anin kemudian menebar senyum yang amat manis malam itu, dengan tatapan getir berderai air mata, lagi.
“Maaf, Nin. Tapi dengan sikap lo ini, gue malah jadi semakin galau dengan keadaan gue sekarang. Apa iya gue harus mencoba bersama lo. Apa iya hambatan dan kendala serta ruwetnya persiapan pernikahan gue adalah pertanda bahwa gue tidak bisa bersama Emi? Gue bingung, Nin.” Kata gue tertunduk dan memegangi kepala gue yang tidak gatal maupun pusing.
“Gue nggak mengharapkan lo lagi, Ja. Nggak usah lo paksain. Lagian udah mendekati akhir juga. Gue nggak mau. Kalaupun lo ternyata batal menggelar pernikahan lo, terus mencoba berhubungan dengan gue secara serius, tapi atas dasar iba dan kasihan setelah mendengar apa yang gue perjuangkan selama ini untuk lo, ya gue nggak bisa lagi. Masa iya, ada seorang cowok yang bisa menjalin hubungan dengan salah satu cewek yang paling dia benci sepanjang sejarah hidupnya? Rasa-rasanya itu cuma dongeng aja, Ja.” Lagi-lagi dia menggenggam tangan kiri gue dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengelus lembut tangan gue.
“Kita nggak pernah tau masa depan, Nin. Kita merencanakan A, ternyata yang terjadi B. Semua bisa aja, kan. Segala kemungkinan masih bisa terjadi.” Gue agak ngotot ngomongnya dan entah kenapa, genggaman tangan gue ke tangannya semakin kuat.
“Ija, stop!” Anin membentak gue dan tangan kirinya kemudian menggengam rahang gue. “Mau berapa banyak lagi list cewek yang lo sakitin karena sikap lo yang nggak tegas ini? Sikap ini lo pelihara terus selama ini. Apa nggak capek? Semua hubungan cinta lo berakhir tragis ya karena kayak gini sikap lo. Emi, walaupun gue nggak kenal secara personal dengan dia, dia itu tulus Ja. Dia itu memiliki ketulusan yang sama dengan gue dan Kathy untuk mencintai lo. Bahkan Zalina pun tidak sampai levelnya seperti Emi dan Kathy. Karena gue melihat Emi setulus itu ke lo, itu pula yang akhirnya mulai menyadarkan gue dari mimpi-mimpi gue selama ini, lo dengar nggak?!” Suara Anin meninggi dan tetap berderai air mata.
Gue menurunkan perlahan tangan Anin dari rahang gue karena gue mulai merasa sakit. Gue memeluk Anin dengan lembut. Gue mendekap Anin lagi di dada dan mengelus lembut rambutnya yang masih agak basah dan wangi itu dengan tangan gue. Tangisnya kembali pecah dalam pelukan gue. Dia terus terisak. Tubuhnya berguncang hebat mengiringi suara rintihan kesedihannya yang terlepas keluar, semuanya.
“Ssssstt…… Udah. Kita coba…..” ujar gue.
Gue merasakan bagian lengan kiri kaos gue basah. Basah oleh airmata orang yang selama ini sebenarnya sangat tulus mencintai gue. Emi adalah orang yang paling tulus mencintai gue, tapi Anin? Dia mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan cinta gue, yang selalu bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun karena kurangnya komunikasi yang baik. Nasi sudah menjadi bubur, dan semua ini tidak akan mungkin diputar balik.
“Ya udah, kali ini lo gue antar pulang ya. Mau kan?” gue menawarkan.
“Makasih ya, Ja…” Ucapnya sedikit sesenggukan sambil mengangguk dipelukan gue.
Gue dan Anin beranjak ke meja tempat Nda duduk sedari tadi. Dia sedang membuka laptopnya yang sepintas gue melihat ada beberapa tab, dan di layarnya dia sedang menulis. Membuka Microsoft Word. Mungkin dia mau mulai menulis drama antara gue dan Anin, entah. Gue tidak peduli untuk saat ini. Gue hanya mau berbuat baik ke Anin yang sedang bersedih hati. Entah ini benar atau tidak, gue tidak mau berasumsi.
“Nda, gue balik dulu sama Anin ya. Lo nggak apa-apa disini?” tanya gue.
“Oh nggak apa-apa kok, Kak. Aku masih mau nyelesaiin beberapa tugas dan kerjaan. Kalo kakak sama Kak Anin mau duluan, silakan aja ya. Mungkin Kak Anin lagi butuh ditemani. Aku disini aja dulu. Nanti aku bisa pulang naik taksi atau ojek online.” Jawabnya yakin dan selalu diselingi dengan senyuman yang amat manis. Sumpah ini cewek sangat mengganggu pikiran gue. Mungkin Anin benar, gue sebenarnya belum 100% yakin bahwa pernikahan gue dan Emi akan berlangsung sebentar lagi. Gue harus buang rasa galau dan tidak fokus ini jauh-jauh.
“Beneran ya? Aku minta maaf ya, Nda. Aku malah jadi pulang duluan. Mungkin next time kita arrange lagi buat ketemuan ya. Nice to see you, Nda.” Kata Anin menambahkan. Matanya sembab, kemerahan dan tidak bisa disembunyikan lagi bahwa dia baru saja menangis.
Gue dan Anin berpamitan duluan. Nda cipika cipiki dengan Anin, dan pada saat akan salaman dengan gue, dia pun menarik tangan gue dan mendekatkan wajahnya ke wajah gue, dan dia pun cipika cipiki dengan gue. Aroma magis tercium. “Luar biasa sekali sensasi cipika cipiki dengan anak kuliahan ini”, dalam hati gue bergumam. Setelahnya, gue dan Anin pun meninggalkan tempat itu.
Kami Bersama menyusuri gelap dan gemerlapnya Ibukota dengan penuh kebimbangan. Gue bimbang lagi dengan apa yang telah Anin sampaikan. Gue bimbang, apakah benar yang dikatakannya bahwa gue belum siap seratus persen untuk menikah dengan Emi? Apakah gue tidak akan pernah bisa siap untuk melangkah lebih jauh dan lebih serius? Apakah selamanya gue akan terjebak dalam permainan gue sendiri yang selalu bisa dekat dengan banyak perempuan, namun tidak pernah bisa menyeriusi salah satu diantaranya? Gue amat sangat bingung.
Dalam kebingungan itu, gue tetap fokus untuk menyetir mobil Anin yang interiornya amat sangat cantik, secantik dirinya malam ini. Aroma dari kabin yang menyeruak dalam hidung membuat gue merasa sangat rileks. Mungkin dia membeli parfum khusus mobil yang bertipe aromaterapi. Gue tidak banyak bertanya soal ini, karena Anin yang duduk di sebelah gue hanya menatap kosong ke arah samping kiri, ke jendela berlatar malam bercahaya temaram.
----
Sekitar 20 menit gue menyetir dan tidak terasa kami sudah sampai ke kediaman Anin. Rumahnya sudah tidak di rumahnya yang dulu. Jaraknya tidak jauh dari kantor tempat gue bekerja, ternyata. Gue sama sekali tidak menyangka jaraknya sedekat itu. Mungkin juga Anin, atau dia meminta orang tuanya membelikan rumah yang berdekatan dengan tempat dimana gue setiap hari beraktivitas karena untuk memantau pergerakan gue setiap harinya. Entahlah gue tidak mau ambil pusing. Pentingnya sekarang ini adalah mengantarkan dia sampai di rumahnya dengan selamat.
“Lo nggak mau masuk dulu, Ja?” tanyanya lembut.
“Hmm. Boleh deh.” Jawab gue, seperti terhipnotis. Bagaimana mungkin gue menerima ajakan ini sedangkan selama ini gue tidak pernah sama sekali menggubris ajakannya, dalam bentuk apapun.
“Wah, senang banget gue Ja, pada akhirnya lo mau juga gue ajak. Yah, walaupun hanya untuk mampir sebentar ke kontrakan gue.” Katanya lagi.
“Oh, ini lo ngontrak? Emang lo ada kerjaan di dekat sini?” tanya gue lagi.
“Mestinya lo tau lah. Lo kan orang cerdas. Harusnya lo bisa nebak kenapa gue ngambil kontrakan disini.” Jawabnya penuh dengan senyum ceria.
Benar ternyata dugaan gue. Dia ternyata mengamati gue sampai sebegitunya. Entah sekarang dia kerja apa dan dimana, yang jelas dia mengelola beberapa restoran di ibukota. Gue hanya tidak menyangka dia niat sekali untuk mendekat ke gue sampai harus mengontrak rumah yang dekat dengan tempat gue bekerja. Rumah ini sebenarnya tidak terlalu besar, tipe 36, satu lantai dan berada di dalam sebuah cluster yang tertata apik. Pengembang propertinya sepertinya tahu selera milenial yang kian hari kian sulit membeli rumah. Jika dilihat dari segi bahan pembuat rumah ini, sepertinya tidak terlalu baik, karena gue perkirakan rumah ini dibangun tiga atau empat tahun lalu, tetapi ada beberapa bagian plafon dan dinding bagian atas yang sudah sedikit retak. Ruang tamunya simpel, dengan dua buah bean bag ukuran sedang berwarna merah marun, sebuah meja kecil bulat dan juga digelar sebuah karpet ukuran sedang yang cukup menutupi sebagian lantai ruang tamu.
Gue mengedarkan pandangan dan mendapati dia memajang beberapa buah foto, yang diantaranya adalah foto bersama keluarganya. Ayah, ibu dan dua anak. Gue baru tahu ternyata Anin punya adik perempuan. Lalu gue mengedarkan pandangan lagi, dan gue fokus ke satu frame foto, dimana terdapat foto dirinya bersama Zalina, sepertinya diambil sebelum kenal dengan gue, awal-awal kehidupan kampus dimulai, lalu diantara dua gadis manis ini seperti ada inzet foto kecil, yang berwajah, gue. Ya, foto gue ada terselip diantara foto Anin dan Zalina yang sedang berfoto berdua.
Gue cukup kaget dan surprise melihat apa yang gue lihat saat ini. Bagaimana tidak? Ada foto gue, sepertinya diambil candid dengan menggunakan kamera yang bagus dan profesional dari jarak agak jauh, ketika gue sedang berada di salah satu site proyek yang gue kerjakan (karena gue memakai safety helmet di foto itu). Siapa yang mengikuti gue sampai ke tempat kerja lapangan gue? Niat sekali. Kalaupun Anin sendiri, apa dia tidak bekerja? Atau dia sengaja rela meninggalkan pekerjaannya demi untuk menemani gue dari jauh? Gila sekali kalau memang pola pikirnya seperti ini. Gue benar-benar ngeri dan bergidik mendapati fakta-fakta yang malam ini terpampang di depan muka gue. Anin yang masih berada di dalam kamarnya, entah mengapa tidak juga keluar. Gue tetap menunggu saja sembari menghubungi Emi lewat chat.
Gue bertanya dalam hati gue, masa iya pernikahan gue dan Emi bisa batal hanya karena malam blak-blakan ini? Apa benar yang Anin bilang, gue belum siap 100% untuk menikah dengan Emi? Sejauh apa dia memahami situasi gue dan Emi, yang pada dasarnya memang berada dalam kondisi yang amat sangat tidak ideal untuk menikah? Muncul banyak pertanyaan lain lagi yang tidak kalah banyak dan masuk dalam antrian di otak gue, tetapi gue berusaha untuk realistis karena gue tidak mau lagi terjerumus dalam mimpi-mimpi yang mungkin akan membawa kesenangan sesaat untuk gue.
Sejurus kemudian, Anin keluar dari kamarnya dengan memakai kaos lengan pendek kebesaran berwarna putih kekuningan, celana pendek sepaha, tanpa kerudung, dengan rambut agak basah seperti baru saja keramas. Tangan kirinya memegang sebuah handuk kecil yang kemudian digosokkan ke rambutnya, sebagai pengering. Pada jarak sekitar 2 meter dari tempat gue duduk, gue sudah bisa mencium aroma wangi dari tubuhnya. Kulit kuning langsat yang terawat dengan baik terlihat pada bagian lengan, tangan, leher dan paha sampai ke kakinya. Dia masih seperti dulu. Seketika pandangan gue langsung tertuju ke bagian dadanya. Walaupun tidak terlampau besar dan menyembul, tetapi ya tetap menarik untuk disimak, bukan? Dia tidak mengenakan bra sama sekali. Pada saat yang sama pula, gue langsung ingat dengan foto yang dia kirimkan tempo hari. Penampakannya mirip sekali dengan apa yang gue lihat di depan mata gue sekarang, hanya saja yang saat ini terbungkus pakaian.
“Lo bengong aja kayak orang susah, nggak mau minum atau makan gitu? Self service aja lah, kayak baru kenal aja, lo.” Ujarnya santai sambil terus menggosokkan handuk kecilnya ke rambut dan kemudian mengibaskannya ke kanan, lalu ke kiri sampai beberapa kali ulangan.
“Oh…aaah. Iya juga sih, tadi gue mau nanya kalo mau minum ngambil dimana, tapi lo keburu masuk kamar, kan nggak enak gue….” Sahut gue seadanya. Gila, gue seperti star struck begini melihat Anin. Ada apa ini sebetulnya?
“Kebiasaan dilayanin cewek-cewek ya? Hahaha. Ya udah, sebagai tanda terima kasih gue, gue layanin lo malam ini.” katanya lagi, dan dia pun beranjak ke arah dalam rumah, sepertinya kearah dapur.
“Oke, Nin.” Gue hanya menanggapi singkat.
Sekitar lima menit berselang, Anin sudah kembali dengan membawa nampan berisi cangkir berisi kopi hitam, dan pisang goreng. Ini toolkit buat ronda banget, ya? Hahaha. Dia meletakkan nampan berisi makanan dan minuman sederhana ini di meja, dengan cara merundukkan badannya setengah, sehingga gue bisa melihat dengan jelas dari lehernya, kaos kebesarannya ini memiliki rongga yang cukup lebar untuk semua orang bisa melihat isi dibaliknya. Terlihat dua gunungan berwarna putih kekuningan, sesuai warna kulitnya, yang tidak mungkin tidak terlihat sama sekali. Entah Anin sengaja atau tidak, tapi sepertinya cewek kalau di rumahnya sendiri banyak yang seperti ini ya, dan yang jelas, gue amat sangat tidak fokus karena ini.
“Gue lagi kehabisan bahan makanan, belum sempat beli lagi. Jadi paling ini aja. Pisangnya juga tadi siang sebelum berangkat ketemu lo itu belinya. Mestinya sih masih enak. Cobain, Ja. Ini kopi juga gue bikin seadanya aja ya, nggak terlalu manis karena gue nggak tau takaran gulanya. Hehehe.”
“Hummm. Oke, Nin, makasih ya.” Mendadak gue gugup berada didekatnya. Antara ketakutan, kasihan, atau apalah perasaan ini namanya, gue tidak mengerti.
“Lo kenapa sih, Ja? Kok jadi kaku gini sama gue? Tadi perasaan biasa aja. Pas perjalanan pulang, di mobil juga lo banyak ngajak gue ngomong, kenapa sekarang jadi kayak kehabisan kata-kata?” tanyanya bingung.
“Ah nggak, nggak kenapa-kenapa gue. Cuma lucu aja, gue nggak pernah ngebayangin bisa datang ke rumah lo, tanpa ada orang lain.” Ucap gue datar, dan gue seperti tidak menyadari apa yang gue ucapkan barusan, keluar begitu saja dari mulut gue. Otak dan mulut seperti tidak kompak.
“Hah? Seriusan lo mikir begitu? Hahaha. Kayak anak amatiran kemarin sore lo, ya. Seriusan deh, ada apa sih? Lo beneran kok bisa cerita sama gue. Kayak yang dulu suka lo lakukan juga. Gue terbuka. I swear, nggak akan ada yang aneh-aneh lagi. Kan tadi gue udah janji sama lo.”
“Mungkin benar ya kata bokap gue dulu, kalo orang itu bisa aja berubah karena dua perkara, bisa karena pikirannya terbuka, atau bisa juga karena hatinya yang terluka…” otak gue seperti tidak ingin bekerjasama dengan mulut. Apa yang terucap tidak seiring dengan apa yang gue pikirkan.
“Hah?! Lo ngomong apa sih, Ja? Kesurupan, lo? Hahaha. Ngaco banget perasaan.” Anin masih bertanya-tanya karena heran.
“Eeh..ngg, nggak, Nin. Nggak apa-apa, lupain aja ya. Hehe.” Jawaban dari mulut gue semakin tidak beraturan. Gue menggelengkan kepala juga beriringan.
“Ja, kalo lo kepikiran apa yang kita obrolin tadi di kafe atau lounge atau apalah itu namanya, lo berhak kok untuk ngelupain. Sehabis ini lo juga berhak menghapus gue dari seluruh kehidupan lo.” Katanya sambil memegang bahu kanan dan kiri gue. Saat ini kami berhadapan, Anin berdiri sedikit membungkuk, sementara gue duduk. Jarak tubuh kami hanya sepanjang tangan Anin yang terlihat sangat terawat.
“Hmm, Nin, bisa tolong dilepas dulu nggak pegangan tangan lo dari bahu gue? Kok rasanya agak gimana, gitu..” kata gue.
“Hoo, oke, sorry ya….” Anin pun dengan cepat melepaskan tangannya dari bahu gue dan beranjak duduk di sebelah gue.
“Nah gini, kan lebih enak ngobrolnya. Duh, di luar masih hujan aja, ya. Mana gue kan lagi nggak bawa kendaraan.” Kata gue.
“Lo ini sebenarnya mau nginap disini apa gimana? Jujur deh, Ja. Ada apa lagi? Apa yang ada di pikiran lo? Lo boleh kok cerita lagi.” Ujarnya sambil tersenyum dan mengelus kecil jari jemarinya di buku jari gue.
“Gue nggak tau apa yang ada di otak gue sekarang, Nin. Gue nggak pusing, tapi gue nggak bisa mikir. Kenapa juga sih, lo tiba-tiba malah ceritain semuanya ke gue? Lo tau nggak, karena itu tadi gue benar-benar bingung gimana harus bersikap sama lo.” Gue mulai mengumpulkan kesadaran gue kembali.
“Loh, harusnya lo lega dong, gue udah ceritain semuanya. Apa yang menjadi harapan dan cita-cita gue selama ini yang rasanya udah nggak ada yang bisa dihidupkan kembali. Itu udah cukup buat gue, Ja. Gue udah senang banget lo masih mau ketemu dan ngobrol sama gue. Bahkan, bertahun-tahun lamanya gue akhirnya bisa merasakan pelukan pakai hati lo, pelukan seorang yang selama ini gue idamkan, gue dambakan untuk jadi pendamping gue, untuk jadi orang yang paling menginginkan gue dalam hidupnya, orang yang akan gue sayangi sepanjang sisa hidup gue di dunia, Ja. Itu cukup buat gue. Gue berterima kasih sekali untuk kesediaan lo tadi.” Kata Anin, kali ini dia kembali dalam mode melankolisnya.
“Iyaaa. Justru itu, Nin. Justru itu yang membuat gue jadi amat bimbang. Setelah banyaknya kekisruhan persiapan pernikahan gue, dan insight dari lo yang membuka pikiran gue kalau ternyata gue mungkin aja memang belum siap untuk menikah dengan Emi, dan dengan pengakuan lo kalo ternyata lo selama ini sebegitu berharapnya sama gue, bikin perasaan gue campur aduk, tau nggak sih?” gue mencoba menjelaskan dengan tenang, tapi tidak bisa dipungkiri, ada semacam kesedihan tersendiri dari nada bicara gue.
Apakah gue akan menangis? Well, bisa saja. Laki-laki tidak pernah diharamkan untuk meneteskan air mata, bukan?
“Well, sebenarnya, ini adalah cara mengakhiri semua yang udah gue mulai dari dulu, Ja. Gue harus jujur dengan diri gue kalau selama bertahun-tahun gue menjalani kehidupan gue, silih berganti orang-orang baik mengisi relung hati gue, nggak pernah bisa sedikit pun gue berpaling dari lo, Ja. Yang bodohnya adalah, gue malah menyakiti lo sehebat itu. Kesalahan paling besar yang pernah gue lakukan itu ya menyakiti orang yang paling gue cintai. Gue mencintai lo selama itu, Ja. Demi itu pula gue mencurahkan kesakitan hati gue dengan mencari orang-orang tulus yang akhirnya gue sakiti juga. Mantan-mantan gue selama rentang waktu gue pertama kali kenal sama lo di kampus sampai sekarang, Zalina, dan akhirnya malah lo sendiri.”
“Maksud lo, mengakhiri gimana, Nin?”
“Gue telah memulai lembar kisah gue sendiri sebagai seorang yang mencintai sebuah bayangan selama bertahun-tahun. Gue hanya bisa menggapai bayangan lo, gue hidup dalam bayang-bayang lo. Lo nggak salah, tapi gue yang memang memilih untuk seperti itu, demi menyenangkan hati gue. Semakin kita dewasa, maka awareness akan kesehatan mental dan fisik kita pun meningkat, kan? Nah, sejak itu pula gue berusaha untuk berdamai dengan fakta yang ada. Lo nggak akan pernah bisa jadi orang yang mencintai gue. Karena gue hanya bisa cinta sendiri. Hanya ada monolog dalam kesepian hati gue, Ja. Gue nggak mau kesehatan mental dan fisik gue terganggu dengan ilusi yang selalu mengikuti hidup gue selama ini. So, this is the time, I think.” Anin kemudian menebar senyum yang amat manis malam itu, dengan tatapan getir berderai air mata, lagi.
“Maaf, Nin. Tapi dengan sikap lo ini, gue malah jadi semakin galau dengan keadaan gue sekarang. Apa iya gue harus mencoba bersama lo. Apa iya hambatan dan kendala serta ruwetnya persiapan pernikahan gue adalah pertanda bahwa gue tidak bisa bersama Emi? Gue bingung, Nin.” Kata gue tertunduk dan memegangi kepala gue yang tidak gatal maupun pusing.
“Gue nggak mengharapkan lo lagi, Ja. Nggak usah lo paksain. Lagian udah mendekati akhir juga. Gue nggak mau. Kalaupun lo ternyata batal menggelar pernikahan lo, terus mencoba berhubungan dengan gue secara serius, tapi atas dasar iba dan kasihan setelah mendengar apa yang gue perjuangkan selama ini untuk lo, ya gue nggak bisa lagi. Masa iya, ada seorang cowok yang bisa menjalin hubungan dengan salah satu cewek yang paling dia benci sepanjang sejarah hidupnya? Rasa-rasanya itu cuma dongeng aja, Ja.” Lagi-lagi dia menggenggam tangan kiri gue dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengelus lembut tangan gue.
“Kita nggak pernah tau masa depan, Nin. Kita merencanakan A, ternyata yang terjadi B. Semua bisa aja, kan. Segala kemungkinan masih bisa terjadi.” Gue agak ngotot ngomongnya dan entah kenapa, genggaman tangan gue ke tangannya semakin kuat.
“Ija, stop!” Anin membentak gue dan tangan kirinya kemudian menggengam rahang gue. “Mau berapa banyak lagi list cewek yang lo sakitin karena sikap lo yang nggak tegas ini? Sikap ini lo pelihara terus selama ini. Apa nggak capek? Semua hubungan cinta lo berakhir tragis ya karena kayak gini sikap lo. Emi, walaupun gue nggak kenal secara personal dengan dia, dia itu tulus Ja. Dia itu memiliki ketulusan yang sama dengan gue dan Kathy untuk mencintai lo. Bahkan Zalina pun tidak sampai levelnya seperti Emi dan Kathy. Karena gue melihat Emi setulus itu ke lo, itu pula yang akhirnya mulai menyadarkan gue dari mimpi-mimpi gue selama ini, lo dengar nggak?!” Suara Anin meninggi dan tetap berderai air mata.
Gue menurunkan perlahan tangan Anin dari rahang gue karena gue mulai merasa sakit. Gue memeluk Anin dengan lembut. Gue mendekap Anin lagi di dada dan mengelus lembut rambutnya yang masih agak basah dan wangi itu dengan tangan gue. Tangisnya kembali pecah dalam pelukan gue. Dia terus terisak. Tubuhnya berguncang hebat mengiringi suara rintihan kesedihannya yang terlepas keluar, semuanya.
“Ssssstt…… Udah. Kita coba…..” ujar gue.
Diubah oleh yanagi92055 20-10-2024 01:53
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
dan bintang 5 
