- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.2K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#553
...Are You Ready For..._Part 4
“Hai, Kak, aku Nda.” Balasnya dengan menerima jabatan tangan gue, genggamannya sangat tegas dan dia tersenyum lebar sekali. Gigi geliginya terlihat rapi serta bersih sehingga membuatnya menjadi semakin manis, dan tentu saja memikat. Dalam hati gue, wow. Cobaan apa lagi ini.
“Nda ini baru aja selesai KKN, Ja. Dia lagi skripsi juga. Bener kan, Nda?” Kata Anin.
“Iya, Kak. Lagi nyusun. Doakan aja semoga cepat selesai ya. Hehe.” Jawabnya lugas dan bersemangat.
“Wah asyik juga ya KKN begitu. Hehe. Biasanya ada cinlok-cinlokan tuh.” Ujar gue asal, dan berdasarkan pengalaman gue saja dulu.
“Hehehe. Bisa aja Kakak ini. Tapi benar kok, emang kejadian di aku. Hehehe.” Nda menjawab lagi dengan nada yang tetap bersemangat.
“Nah kan benar. Apa gue bilang, Nin…” senyum gue terkembang ke Anin, dan Anin menangkap gelagat yang sepertinya tidak asing baginya terhadap gue.
“Haha. Ija..Ija.. lo tuh sebenarnya sama aja, Ja, dari dulu..” kata Anin singkat diiringi senyum simpul yang masih terlihat manis.
“Emang salah ya kalau gue bilang begitu? Kenapa malah dikaitin sama gue yang sama aja?” tanya gue bingung.
“Yah, nanti juga lo bakal tau sendiri jawabannya…” Anin tak lagi melanjutkan kalimatnya.
Singkat cerita, gue, Anin dan Nda akhirnya bercengkrama asyik seperti kawan lama yang kembali bertemu. Terutama gue dengan Anin. Entah mengapa, gue seperti terhipnotis oleh aura Anin yang sekarang. Padahal sudah jelas, ini orang masih tetap orang yang dulu gue kenal, yang bengis, licik dan oportunis. Tidak ada lagi Anin yang gue kenal belakangan, yang sudah berubah. Semua masih sama saja. Sedangkan Nda ini karena lebih muda, berbeda budaya dan kebiasaan, makanya tidak banyak nyambung dengan gue ngobrolnya. Tapi tetap saja ini anak menarik. Hanya saja sekarang ini gue tidak lagi tertarik dengan siapapun yang ada di hadapan gue, karena gue hanya ingin fokus pada pernikahan gue.
Bagaimana dengan foto yang dikirimkan tempo hari? Anin tidak mau mengiyakan kalau itu adalah dia, tetapi gue yakin bahwa foto tersebut adalah dirinya. Gue sempat memperhatikan bentuk tubuh Anin dari atas sampai bawah sepintas, dan gue yakin yang di foto itu adalah dia. Walaupun tidak terlihat wajah dan pengambilan fotonya merupakan pantulan cermin, gue yakin itu tubuh dia. Gue pun tidak ambil pusing lagi. Anggap saja sebagai bonus.
“Gue cabut dulu ya kalau begitu. Gue udah ada urusan lagi, nih.”Ujar gue ke mereka berdua yang masih asyik ngobrol, sembari beranjak dari tempat duduk gue.
“Buru-buru banget sih, lo? Ada yang mau dikejar banget sampai mau ngelewatin kesempatan ngobrol sama teman baru kita ini, Ja?” Sambar Anin cepat, seraya tersenyum dan menyusul gue berdiri.
“Iyalah, fokus gue saat ini adalah pernikahan gue, dan gue nggak mau buang-buang banyak waktu gue untuk urusan yang sebenarnya tersier kayak gini, Nin.” Balas gue dengan nada yang cukup kencang sehingga Nda yang sedang duduk bisa mendengarnya. Sekilas, Anin mengarahkan pandangannya ke belakang bahu gue, jelas untuk melihat Nda, mungkin ingin memastikan apakah Nda dengar atau tidak. Tapi gue sudah tidak ingin peduli apa yang dilakukan Anin. Jarak Anin dan gue sangat dekat sehingga gue bisa mencium aroma parfum Anin yang sepintas mirip parfum yang dulu Zalina pakai. Ketika itu pula ingatan gue tentang hubungan gue dengan Zalina menjadi muncul kembali.
“Lo bisa nggak sih buat mundur sedikit?” Tanya gue sembari mendorong pelan tubuh Anin dengan memegang lengan atas kanan dan kiri.
“Kenapa? Lo teringat sama sohib gue, ya?” Jawabnya dengan mengajukan pertanyaan baru. Gilanya, dia seperti bisa membaca pikiran gue.
“Ngg…nggak usah sok tau, lo.” Kilah gue terbata.
“Ja, Ja. Gue tau lo lagi kebayang memori sama Zalina kan sekarang? Gue memang pakai parfum favorit dia kok sekarang.” Ujarnya sembari terkekeh.
“………………” Gue hanya diam saja.
“Gue tuh memang sengaja bertemu lo dengan memakai parfum ini. Parfum ini dulu pernah jadi hadiah dia ke gue. Selera dia soal parfum sangatlah tinggi. Itu cewek yang dibelakang lo juga sama. Seleranya soal parfum tinggi, loh, walaupun dia nggak tinggal di ibukota. Coba aja lo diskusi.” Kata Anin mengarahkan ke Nda lagi.
“Ngapain juga gue nanya-nanyain soal parfum dia? Baru juga ketemu hari ini.”
“Ya udah, next meeting lo tanya-tanyain aja.”
“Lah, ngapain next meeting. Itu kan teman lo, bukan teman gue, Nin.”
“We’ll see ya, Ja. Hehehe….”
“Terserah lo aja deh, Nin. Gue udah keburu kecewa dengan lo. Selama ini gue udah nganggap sebagai teman yang sudah lebih baik, ternyata masih begini. Susah memang merubah sifat dan kebiasaan orang, tuh. Apalagi ternyata kebiasaan lo ini kebiasaan buruk semua.” Ucap gue ketus yang membuat Anin seperti tidak nyaman, terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah masam.
“Untuk hal ini gue nggak bisa terima ya, Ja. Apa yang lo rasakan ketika bersama gue pas ngobrol dan curhat setiap kita bertemu itu, real, Ja. Gue memang udah berubah. Banyak hal yang udah gue lewatin, Ja. Hal yang menyedihkan, pahit dan semua itu gue anggap redemption (penebusan) dari apa yang sudah gue lakukan di masa lalu. Itu juga harusnya lo sadarin kali, Ja.” Ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
“Uhm…ahh.. Gimana ya. Soalnya gue nggak nyangka aja, lo masih kayak gini ke gue. Lo udah tau gue mau nikah, tapi masih aja usaha untuk lo kenalin ke orang lain.” Gue menjadi serba salah di obrolan ini.
“Mau nikah, Ja. Mau nikah! Lo harusnya sadar, kalo lo itu sebenarnya masih bimbang, kan? Apalagi dengan tuntutan macam-macam, entah dari orang tua lo ataupun orang tua cewek lo, gue yakin lo pasti jadi bimbang. Mau maju mundur ngejalanin ini, ya kan? Ngaku aja lo.”
“Nggak usah sok tau lo, Nin….”
“Alah! Udahlah, Ja. Nggak usah pura-pura di depan gue. Gue tau apa yang ada di pikiran lo, walaupun selama ini gue nggak pernah benar-benar ada di samping lo sebagai pendamping yang sangat lo cintai. Tapi dengan pancingan, yang sebetulnya nggak sengaja, dengan memperkenalkan Nda ke lo, gue bisa nilai kalo lo sebenarnya nggak benar-benar siap 100%.” Potong Anin dengan nada semangat, tapi terasa sangat getir.
“Nggak usah sok tau dengan apa yang ada dipikiran gue, Nin. Lo tau apa?”
“Tatapan lo ke Nda, cara dan gestur lo tadi ke Nda, itu udah nunjukin kalo ada sesuatu yang mau lo lepas, tapi nggak bisa. Gue kenal lo udah lama dan gue mempelajari lo selama itu, dan lo nggak pernah sekalipun tau kan?”
“Lo mempelajari gue? Dih, niat amat sih, Nin. Buat…..”
“Buat bikin lo jatuh cinta sama gue, Ja. Lo ngerti nggak sih? Hah?!” Anin memotong kalimat gue dan suaranya sedikit tinggi serta bergetar hebat dibarengi dengan matanya yang mulai berkaca, membuat beberapa orang di sekitar gue menoleh sesaat. Gue yang semakin kikuk dengan keadaan ini, akhirnya memberikan gestur tangan untuk menepi ke kursi yang berada di depan pintu keluar.
“Duduk dulu, deh…” Kata gue memberikan instruksi ke Anin, dan diapun menuruti.
“Nda masih ada nggak sih? Gue jadi lupa sama dia.” Tanya Anin.
“Adaaa. Dia ngeliatin kita daritadi. Tau nggak lo?!” Kata gue sedikit kesal.
“Naaah, benar kan? Lo aja sempat banget untuk menoleh ke dia. Itu udah buktiin kalo lo itu masih belum 100% hatinya buat menikah dengan cewek lo, Ja. Udahlah, akui aja.” Kali ini air mata mulai menetes tipis dari matanya. Suaranya sudah tidak dapat ditutupi lagi, amat sangat bergetar menahan sedih dan marah. Gue salah tingkah menghadapi situasi ini. Serba salah, antara sedih, iba, dan kesal.
“Udah. Ya. Udah. Nin. Please, gue mohon banget sama lo. Situasi ini udah nggak akan pernah berubah lagi, mau bagaimanapun. Gue sebentar lagi mau menikah, dan semuanya udah dipersiapkan. Jadi nggak ada lagi alasan apapun untuk merubah keputusan dan perjalanan kisah gue ini. Pencarian gue udah bermuara di calon istri gue, Emilia. So, mau lo nangis, bentak-bentak, marah, mukul, bahkan sampai nyakitin diri lo sendiri, itu nggak akan merubah apapun lagi. Gue harap lo paham, Nin.” Kata gue, seraya menggenggam kedua tangannya dengan kedua tangan gue, di atas meja.
“……………….” Anin hanya tertunduk. Air matanya berlinang deras sekarang. Dia menggenggam tangan gue dengan kuat, sampai terasa sakit. Tapi gue membiarkan dulu ini semua berlangsung. Dari kejauhan, gue melihat Nda yang menengok ke arah gue dan Anin, dengan tatapan yang sepertinya mengiba juga ke Anin. Gue tidak terlalu perhatikan karena memang tidak terlalu jelas ekspresi mukanya.
“Sekarang, apa yang akan lo lakukan ke gue?” Gue mulai bertanya kembali setelah gue melihat sepertinya dia sudah agak tenang.
“Gue…gue….” Anin menangis kembali, kali ini sesenggukan dan amat sangat jelas terlihat oleh semua orang. Bahunya yang terhentak turun naik, dan tangannya yang kali ini menutupi seluruh wajahnya sudah menggambarkan betapa sedihnya Anin. Ini juga mengundang lebih banyak orang untuk menyaksikan drama yang sebetulnya sudah tidak perlu ada lagi dalam kehidupan gue.
Gue akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat duduk ke sebelahnya. Gue pun dengan terpaksa mendekap Anin dalam pelukan gue. Gue mencoba memeluknya sehangat yang gue bisa. Gue tidak ingin ini berlangsung lebih lama lagi. Gue tahu Anin bukanlah aktor kawakan. Jadi semua ini menurut gue adalah sesuatu yang natural. Anin memang selama ini selalu menunggu gue. Tetapi selalu bertepuk sebelah tangan. Gue tidak menyadari itu, dan tidak pernah terpikirkan sama sekali, karena apa yang telah dia lakukan ke gue, ke mantan-mantan gue, itu semua terlalu absurd dan kejam, sehingga malah melahirkan perasaan antipati dan kebencian yang amat dalam terhadapnya.
Dalam dekapan hangat yang gue usahakan, dia mulai berbicara, dengan nada lirih, dan tentunya terbata-bata tak begitu jelas, sesenggukan, karena tangisnya pecah sejadi-jadinya. Sepertinya dia sudah tidak peduli dengan sekitar. Malam yang cukup dingin ditambah cuaca yang mulai gerimis kecil menambah suasana semakin mellow.
“Tau nggak sih, dulu ketika Zalina cerita dia mulai didekati sama lo, itu tuh sebenarnya gue duluan yang udah suka sama lo. Karena awalnya gue bantuin Zalina untuk cari tahu siapa lo. Tapi pada akhirnya gue terlalu takut karena gue ngerasa lo cukup oke untuk sahabat gue, yang padahal gue rasa sebenarnya lo lebih cocok kalo sama gue. Gue takut sahabat gue kecewa sama gue. Ujungnya jadi kekecewaan juga untuk gue.” Ujarnya lirih.
“Gue nggak pernah tau ini, Nin. Kan lo juga baru cerita sekarang.”
“Terus, gue memilih untuk menyakiti lo berdua. Mungkin karena obsesi gue ke lo yang begitu dalam. Gue mempelajari lo, seluk beluk lo, sifat lo, kebiasaan lo dan lainnya. Banyak yang Zalina nggak tau dari lo, tapi pada akhirnya dia tau, karena apa? Karena dapat clue atau insight dari gue. Ketika dia kembali bercerita ke gue kalo dia senang banget dari clue yang gue kasih ternyata worked very well di hubungan kalian, itu malah bikin gue makin sakit. Makin sedih, dan menderita. Ini memang salah gue, karena nggak pernah bisa bersikap baik……” Anin menjeda sejenak kalimatnya.
“…..tapi percaya sama gue, Ja, kalau ini semua karena gue benci dengan keadaan gue yang nggak berani nyatain sikap. Malah pada akhirnya gue menjerumuskan Zalina, dan menciptakan kejadian-kejadian buruk dalam hubungan kalian. Itu semua gue lakuin biar lo nggak bahagia. Gue maunya lo bahagia dengan adanya gue, bukan yang lain. Di atas kata-kata cinta dan sayang, masih ada lagi yang perlu dilakukan, yaitu disampaikan. Ini yang nggak bisa gue lakukan dari dulu. Gue ngerasa kotor banget untuk bisa sama-sama dengan lo, karena semua perlakuan gue. Semakin hari bukannya semakin terbuka jalannya, gue malah terjebak dalam cinta sebelah. Cinta satu hati. Karena lo, sahabat gue dan siapapun yang gue sakitin di sepanjang perjalanan cinta lo, semakin membenci gue. Itu sebabnya juga gue akhirnya memutuskan untuk menghilang dan berusaha untuk jadi Anin yang lo kenal saat ini, Ja. Ini gue lakukan demi kesempatan terakhir. Kesempatan terakhir yang mungkin masih bisa gue dapatkan, setelah tahu ternyata lo akan segera menikah.” Anin menjelaskan dengan panjang lebar, membuat hati gue bergetar, bercampur aduk perasaan marah, kesal, sekaligus iba.
“…………………..” gue hanya diam dan tetap mendekapnya. Aroma wangi tubuhnya membuat gue mengingat masa kuliah gue dulu dengan segala macam drama dan keseruan serta kesedihannya yang selalu gue catatkan dalam diari kecil kehidupan gue, yang hingga kini masih bisa dibaca dengan baik.
“Gue selalu ingat apa yang dulu pernah Zalina bilang ke gue, yang mana itu juga asalnya dari lo sebetulnya, yaitu jangan pernah mulai apa yang sekiranya nggak bisa diakhiri. Bokap gue pun pernah bilang kalau dalam hubungan percintaan, segala kesalahan harus bisa dimaafkan, kecuali perselingkuhan."
DEG.
Gue dengan amat sadar, tertohok dengan apa yang gue pernah bilang ke Zalina, dan juga apa yang dibilang Bapaknya Anin. Itu semua adalah atribut yang selalu menempel di diri gue. Gue juga nggak pernah tahu apakah Zalina, Dee, Emi akan pernah memaafkan gue ketika gue melakukan kesalahan tersebut berulang kali jika mereka tahu. Entah bagaimana, Anin punya perspektif sendiri soal ini. Dia seperti mengingatkan kalau perilaku yang didasari atas dendam yang berkepanjangan akhirnya akan merugikan diri sendiri. Ya, gue menjadi seorang yang dendam akan hubungan dengan perempuan akibat kesalahan Zalina, yang sebenarnya ditengarai sebagai akal bulus Anin.
“Gue nggak pernah sekalipun membina hubungan dengan cara kotor. Tetapi gue malah menghancurkan hubungan orang lain dengan cara kotor dan membuat semua orang yang gue kerjai semakin trauma dan merasa bersalah sepanjang hidupnya. Zalina dan lo adalah contoh nyatanya. Gue selalu menjaga ketika hubungan terjalin, perselingkuhan tidak boleh terjadi. Tetapi, apa yang terjadi? Gue malah membuat Zalina terjerumus dan pada akhirnya berimbas ke mental lo. Lo menjadi Ija yang semakin liar terhadap banyak cewek, dan gilanya, cewek-cewek ini mau-mau aja selalu. Bahkan ketika lo berhubungan dengan Keket yang mana sebenarnya ada irisan diantara hubungan lo dengan Zalina, gue tau lo itu punya bibit untuk mudah sekali tergoda. Makanya akhirnya gue buatkan skenario agar lo dan Zalina berpisah, dengan cara yang bombastis. Berhasil buat gue. Tapi itu akhirnya menghancurkan hidup Zalina, yang sampai sekarang pun masih belum nerima gue lagi sebagai mantan sahabat dekatnya. Ternyata imbas ini juga kena di lo. Lo jadi kayak petualang cinta yang nggak pernah puas dengan satu perempuan. Ya walaupun ketika menjalin hubungan gue lihat lo selalu berusaha setia. Hanya aja, tetap ada bumbu-bumbu. Gue tahu semua. Karena obsesi gue terhadap lo, Ja. Gue perhatiin lo, selama ini. Tanpa lo pernah tahu.”
Gue sudah tidak bisa dan mampu untuk berkata-kata lagi menanggapi semua pengakuan mengejutkan Anin ini. Benar-benar diluar dugaan gue. Gue tidak pernah tahu sekalipun kalau selama ini, at least delapan atau sembilan tahun terakhir, gue selalu dikuntit orang, diperhatikan dari jauh, atau bahkan di hack mungkin.
“Terus saat ini jadinya lo mau kayak gimana, Nin?”
“Jujur….. gue mau tetap berhubungan dengan lo, as a friend maybe, but, I think it’s a bad idea.”
“Nah itu lo tau, Nin. Berat buat gue. Apalagi lo se-freak itu ke gue. Gue aja dengar pengakuan lo tadi jadi seram sendiri. Kalo kita tetap stay berteman dan keep contact, jangan-jangan malah gue nggak bisa tahan godaan dari lo.”
“Gue kan bilang, Ja, gue selalu berusaha untuk menjaga hubungan dari cara kotor. Jadi kalau memang gue mau terus mengejar lo, gue akan usaha buat bikin lo batalin pernikahan lo dulu. Seperti yang udah-udah. Karena ada Nda juga yang kebetulan sedang disini, makanya gue jadi kepikiran ide itu. Dia akan gue jadikan seperti Zalina.” Ujarnya kalem seperti tanpa dosa.
“Lo mulai gila lagi ya, Lin?!” Gue langsung melepaskan dekapan gue dan menegakkan tubuh Anin.
“Maybe. Tapi itu kayaknya udah nggak akan gue lakukan, Ja. Umur kita udah nggak bisa dibilang muda banget lagi kan. Sepertinya gue akan memilih karir daripada terus berharap ke seseorang yang nggak pernah nganggap gue ada.”
“Gue bukan nggak anggap lo ada, tapi gue nggak bisa ngasih cinta gue ke lo. Karena memang dari awal gue nggak ada rasa sama lo. Masa lo nggak bisa ngerti juga, Nin. Bertahun-tahun, loh. Berarti yang engage ke gue itu selama ini ya lo sebenarnya. Karena setelah putus atau nggak berhubungan lagi dengan cewek-cewek itu, gue kebanyakan lost contact dengan mereka. Tapi lo, bahkan lo tahu perkembangan gue selama ini, Nin. Gila banget…”
“Itulah namanya ketulusan, Ja. Gue nggak pernah neko-neko untuk urusan cinta. Gue akan kejar dengan cara apapun. Walaupun itu mengorbankan siapapun dan apapun yang gue punya demi cita-cita cinta gue. Cuma kayaknya kali ini gue akan stop. Gue udah nyerah dengan keadaan, Ja. Yaaa, setidaknya, lo jadi tahu kan semua alasan gue selama ini.” Katanya lancar terucap dari bibir yang juga terulas senyum manis ditengah derai airmata yang belum kunjung reda.
“Yakin lo, Nin? Gue tuh kadang suka nggak yakin kalo lo yang ngomong. Sekarang jadi orang yang mikirnya normal dan bijak, besoknya udah jadi kayak orang paling jahat sedunia.” Gue pun berusaha mencairkan suasana. Gue sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar yang semakin banyak memperhatikan drama obrolan gue dan Anin.
“Yes, pretty sure, I am.” Ucapnya, seraya mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan gue.
“Ehh.. hmm.. Oke. Ini berarti gue bisa pegang kata-kata lo, ya?” Tanya gue ragu-ragu.
“Iya, lo bisa pegang kata-kata gue.”
Tanpa berkata lagi, gue langsung menjabat tangan Anin dan kemudian memeluknya. Gue tidak sadar ternyata gue meneteskan air mata. Dia pun sama. Kami menangis sambil larut dalam dekapan satu sama lain. Baru kali ini gue bisa se-mellow ini menghadapi orang yang gue benci dalam waktu lama. Kenapa gue? Apakah gue termakan kalimat-kalimat sedih yang dia katakan? Mungkin. Tapi, gue tahu dan gue yakin, semua yang tadi dia bicarakan adalah apa adanya, tulus dan tidak ditambah-tambahkan.
“Thanks for everything….” Gue berucap lirih di telinga Anin yang tertutup kerudung.
“Nda ini baru aja selesai KKN, Ja. Dia lagi skripsi juga. Bener kan, Nda?” Kata Anin.
“Iya, Kak. Lagi nyusun. Doakan aja semoga cepat selesai ya. Hehe.” Jawabnya lugas dan bersemangat.
“Wah asyik juga ya KKN begitu. Hehe. Biasanya ada cinlok-cinlokan tuh.” Ujar gue asal, dan berdasarkan pengalaman gue saja dulu.
“Hehehe. Bisa aja Kakak ini. Tapi benar kok, emang kejadian di aku. Hehehe.” Nda menjawab lagi dengan nada yang tetap bersemangat.
“Nah kan benar. Apa gue bilang, Nin…” senyum gue terkembang ke Anin, dan Anin menangkap gelagat yang sepertinya tidak asing baginya terhadap gue.
“Haha. Ija..Ija.. lo tuh sebenarnya sama aja, Ja, dari dulu..” kata Anin singkat diiringi senyum simpul yang masih terlihat manis.
“Emang salah ya kalau gue bilang begitu? Kenapa malah dikaitin sama gue yang sama aja?” tanya gue bingung.
“Yah, nanti juga lo bakal tau sendiri jawabannya…” Anin tak lagi melanjutkan kalimatnya.
Singkat cerita, gue, Anin dan Nda akhirnya bercengkrama asyik seperti kawan lama yang kembali bertemu. Terutama gue dengan Anin. Entah mengapa, gue seperti terhipnotis oleh aura Anin yang sekarang. Padahal sudah jelas, ini orang masih tetap orang yang dulu gue kenal, yang bengis, licik dan oportunis. Tidak ada lagi Anin yang gue kenal belakangan, yang sudah berubah. Semua masih sama saja. Sedangkan Nda ini karena lebih muda, berbeda budaya dan kebiasaan, makanya tidak banyak nyambung dengan gue ngobrolnya. Tapi tetap saja ini anak menarik. Hanya saja sekarang ini gue tidak lagi tertarik dengan siapapun yang ada di hadapan gue, karena gue hanya ingin fokus pada pernikahan gue.
Bagaimana dengan foto yang dikirimkan tempo hari? Anin tidak mau mengiyakan kalau itu adalah dia, tetapi gue yakin bahwa foto tersebut adalah dirinya. Gue sempat memperhatikan bentuk tubuh Anin dari atas sampai bawah sepintas, dan gue yakin yang di foto itu adalah dia. Walaupun tidak terlihat wajah dan pengambilan fotonya merupakan pantulan cermin, gue yakin itu tubuh dia. Gue pun tidak ambil pusing lagi. Anggap saja sebagai bonus.
“Gue cabut dulu ya kalau begitu. Gue udah ada urusan lagi, nih.”Ujar gue ke mereka berdua yang masih asyik ngobrol, sembari beranjak dari tempat duduk gue.
“Buru-buru banget sih, lo? Ada yang mau dikejar banget sampai mau ngelewatin kesempatan ngobrol sama teman baru kita ini, Ja?” Sambar Anin cepat, seraya tersenyum dan menyusul gue berdiri.
“Iyalah, fokus gue saat ini adalah pernikahan gue, dan gue nggak mau buang-buang banyak waktu gue untuk urusan yang sebenarnya tersier kayak gini, Nin.” Balas gue dengan nada yang cukup kencang sehingga Nda yang sedang duduk bisa mendengarnya. Sekilas, Anin mengarahkan pandangannya ke belakang bahu gue, jelas untuk melihat Nda, mungkin ingin memastikan apakah Nda dengar atau tidak. Tapi gue sudah tidak ingin peduli apa yang dilakukan Anin. Jarak Anin dan gue sangat dekat sehingga gue bisa mencium aroma parfum Anin yang sepintas mirip parfum yang dulu Zalina pakai. Ketika itu pula ingatan gue tentang hubungan gue dengan Zalina menjadi muncul kembali.
“Lo bisa nggak sih buat mundur sedikit?” Tanya gue sembari mendorong pelan tubuh Anin dengan memegang lengan atas kanan dan kiri.
“Kenapa? Lo teringat sama sohib gue, ya?” Jawabnya dengan mengajukan pertanyaan baru. Gilanya, dia seperti bisa membaca pikiran gue.
“Ngg…nggak usah sok tau, lo.” Kilah gue terbata.
“Ja, Ja. Gue tau lo lagi kebayang memori sama Zalina kan sekarang? Gue memang pakai parfum favorit dia kok sekarang.” Ujarnya sembari terkekeh.
“………………” Gue hanya diam saja.
“Gue tuh memang sengaja bertemu lo dengan memakai parfum ini. Parfum ini dulu pernah jadi hadiah dia ke gue. Selera dia soal parfum sangatlah tinggi. Itu cewek yang dibelakang lo juga sama. Seleranya soal parfum tinggi, loh, walaupun dia nggak tinggal di ibukota. Coba aja lo diskusi.” Kata Anin mengarahkan ke Nda lagi.
“Ngapain juga gue nanya-nanyain soal parfum dia? Baru juga ketemu hari ini.”
“Ya udah, next meeting lo tanya-tanyain aja.”
“Lah, ngapain next meeting. Itu kan teman lo, bukan teman gue, Nin.”
“We’ll see ya, Ja. Hehehe….”
“Terserah lo aja deh, Nin. Gue udah keburu kecewa dengan lo. Selama ini gue udah nganggap sebagai teman yang sudah lebih baik, ternyata masih begini. Susah memang merubah sifat dan kebiasaan orang, tuh. Apalagi ternyata kebiasaan lo ini kebiasaan buruk semua.” Ucap gue ketus yang membuat Anin seperti tidak nyaman, terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah masam.
“Untuk hal ini gue nggak bisa terima ya, Ja. Apa yang lo rasakan ketika bersama gue pas ngobrol dan curhat setiap kita bertemu itu, real, Ja. Gue memang udah berubah. Banyak hal yang udah gue lewatin, Ja. Hal yang menyedihkan, pahit dan semua itu gue anggap redemption (penebusan) dari apa yang sudah gue lakukan di masa lalu. Itu juga harusnya lo sadarin kali, Ja.” Ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
“Uhm…ahh.. Gimana ya. Soalnya gue nggak nyangka aja, lo masih kayak gini ke gue. Lo udah tau gue mau nikah, tapi masih aja usaha untuk lo kenalin ke orang lain.” Gue menjadi serba salah di obrolan ini.
“Mau nikah, Ja. Mau nikah! Lo harusnya sadar, kalo lo itu sebenarnya masih bimbang, kan? Apalagi dengan tuntutan macam-macam, entah dari orang tua lo ataupun orang tua cewek lo, gue yakin lo pasti jadi bimbang. Mau maju mundur ngejalanin ini, ya kan? Ngaku aja lo.”
“Nggak usah sok tau lo, Nin….”
“Alah! Udahlah, Ja. Nggak usah pura-pura di depan gue. Gue tau apa yang ada di pikiran lo, walaupun selama ini gue nggak pernah benar-benar ada di samping lo sebagai pendamping yang sangat lo cintai. Tapi dengan pancingan, yang sebetulnya nggak sengaja, dengan memperkenalkan Nda ke lo, gue bisa nilai kalo lo sebenarnya nggak benar-benar siap 100%.” Potong Anin dengan nada semangat, tapi terasa sangat getir.
“Nggak usah sok tau dengan apa yang ada dipikiran gue, Nin. Lo tau apa?”
“Tatapan lo ke Nda, cara dan gestur lo tadi ke Nda, itu udah nunjukin kalo ada sesuatu yang mau lo lepas, tapi nggak bisa. Gue kenal lo udah lama dan gue mempelajari lo selama itu, dan lo nggak pernah sekalipun tau kan?”
“Lo mempelajari gue? Dih, niat amat sih, Nin. Buat…..”
“Buat bikin lo jatuh cinta sama gue, Ja. Lo ngerti nggak sih? Hah?!” Anin memotong kalimat gue dan suaranya sedikit tinggi serta bergetar hebat dibarengi dengan matanya yang mulai berkaca, membuat beberapa orang di sekitar gue menoleh sesaat. Gue yang semakin kikuk dengan keadaan ini, akhirnya memberikan gestur tangan untuk menepi ke kursi yang berada di depan pintu keluar.
“Duduk dulu, deh…” Kata gue memberikan instruksi ke Anin, dan diapun menuruti.
“Nda masih ada nggak sih? Gue jadi lupa sama dia.” Tanya Anin.
“Adaaa. Dia ngeliatin kita daritadi. Tau nggak lo?!” Kata gue sedikit kesal.
“Naaah, benar kan? Lo aja sempat banget untuk menoleh ke dia. Itu udah buktiin kalo lo itu masih belum 100% hatinya buat menikah dengan cewek lo, Ja. Udahlah, akui aja.” Kali ini air mata mulai menetes tipis dari matanya. Suaranya sudah tidak dapat ditutupi lagi, amat sangat bergetar menahan sedih dan marah. Gue salah tingkah menghadapi situasi ini. Serba salah, antara sedih, iba, dan kesal.
“Udah. Ya. Udah. Nin. Please, gue mohon banget sama lo. Situasi ini udah nggak akan pernah berubah lagi, mau bagaimanapun. Gue sebentar lagi mau menikah, dan semuanya udah dipersiapkan. Jadi nggak ada lagi alasan apapun untuk merubah keputusan dan perjalanan kisah gue ini. Pencarian gue udah bermuara di calon istri gue, Emilia. So, mau lo nangis, bentak-bentak, marah, mukul, bahkan sampai nyakitin diri lo sendiri, itu nggak akan merubah apapun lagi. Gue harap lo paham, Nin.” Kata gue, seraya menggenggam kedua tangannya dengan kedua tangan gue, di atas meja.
“……………….” Anin hanya tertunduk. Air matanya berlinang deras sekarang. Dia menggenggam tangan gue dengan kuat, sampai terasa sakit. Tapi gue membiarkan dulu ini semua berlangsung. Dari kejauhan, gue melihat Nda yang menengok ke arah gue dan Anin, dengan tatapan yang sepertinya mengiba juga ke Anin. Gue tidak terlalu perhatikan karena memang tidak terlalu jelas ekspresi mukanya.
“Sekarang, apa yang akan lo lakukan ke gue?” Gue mulai bertanya kembali setelah gue melihat sepertinya dia sudah agak tenang.
“Gue…gue….” Anin menangis kembali, kali ini sesenggukan dan amat sangat jelas terlihat oleh semua orang. Bahunya yang terhentak turun naik, dan tangannya yang kali ini menutupi seluruh wajahnya sudah menggambarkan betapa sedihnya Anin. Ini juga mengundang lebih banyak orang untuk menyaksikan drama yang sebetulnya sudah tidak perlu ada lagi dalam kehidupan gue.
Gue akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat duduk ke sebelahnya. Gue pun dengan terpaksa mendekap Anin dalam pelukan gue. Gue mencoba memeluknya sehangat yang gue bisa. Gue tidak ingin ini berlangsung lebih lama lagi. Gue tahu Anin bukanlah aktor kawakan. Jadi semua ini menurut gue adalah sesuatu yang natural. Anin memang selama ini selalu menunggu gue. Tetapi selalu bertepuk sebelah tangan. Gue tidak menyadari itu, dan tidak pernah terpikirkan sama sekali, karena apa yang telah dia lakukan ke gue, ke mantan-mantan gue, itu semua terlalu absurd dan kejam, sehingga malah melahirkan perasaan antipati dan kebencian yang amat dalam terhadapnya.
Dalam dekapan hangat yang gue usahakan, dia mulai berbicara, dengan nada lirih, dan tentunya terbata-bata tak begitu jelas, sesenggukan, karena tangisnya pecah sejadi-jadinya. Sepertinya dia sudah tidak peduli dengan sekitar. Malam yang cukup dingin ditambah cuaca yang mulai gerimis kecil menambah suasana semakin mellow.
“Tau nggak sih, dulu ketika Zalina cerita dia mulai didekati sama lo, itu tuh sebenarnya gue duluan yang udah suka sama lo. Karena awalnya gue bantuin Zalina untuk cari tahu siapa lo. Tapi pada akhirnya gue terlalu takut karena gue ngerasa lo cukup oke untuk sahabat gue, yang padahal gue rasa sebenarnya lo lebih cocok kalo sama gue. Gue takut sahabat gue kecewa sama gue. Ujungnya jadi kekecewaan juga untuk gue.” Ujarnya lirih.
“Gue nggak pernah tau ini, Nin. Kan lo juga baru cerita sekarang.”
“Terus, gue memilih untuk menyakiti lo berdua. Mungkin karena obsesi gue ke lo yang begitu dalam. Gue mempelajari lo, seluk beluk lo, sifat lo, kebiasaan lo dan lainnya. Banyak yang Zalina nggak tau dari lo, tapi pada akhirnya dia tau, karena apa? Karena dapat clue atau insight dari gue. Ketika dia kembali bercerita ke gue kalo dia senang banget dari clue yang gue kasih ternyata worked very well di hubungan kalian, itu malah bikin gue makin sakit. Makin sedih, dan menderita. Ini memang salah gue, karena nggak pernah bisa bersikap baik……” Anin menjeda sejenak kalimatnya.
“…..tapi percaya sama gue, Ja, kalau ini semua karena gue benci dengan keadaan gue yang nggak berani nyatain sikap. Malah pada akhirnya gue menjerumuskan Zalina, dan menciptakan kejadian-kejadian buruk dalam hubungan kalian. Itu semua gue lakuin biar lo nggak bahagia. Gue maunya lo bahagia dengan adanya gue, bukan yang lain. Di atas kata-kata cinta dan sayang, masih ada lagi yang perlu dilakukan, yaitu disampaikan. Ini yang nggak bisa gue lakukan dari dulu. Gue ngerasa kotor banget untuk bisa sama-sama dengan lo, karena semua perlakuan gue. Semakin hari bukannya semakin terbuka jalannya, gue malah terjebak dalam cinta sebelah. Cinta satu hati. Karena lo, sahabat gue dan siapapun yang gue sakitin di sepanjang perjalanan cinta lo, semakin membenci gue. Itu sebabnya juga gue akhirnya memutuskan untuk menghilang dan berusaha untuk jadi Anin yang lo kenal saat ini, Ja. Ini gue lakukan demi kesempatan terakhir. Kesempatan terakhir yang mungkin masih bisa gue dapatkan, setelah tahu ternyata lo akan segera menikah.” Anin menjelaskan dengan panjang lebar, membuat hati gue bergetar, bercampur aduk perasaan marah, kesal, sekaligus iba.
“…………………..” gue hanya diam dan tetap mendekapnya. Aroma wangi tubuhnya membuat gue mengingat masa kuliah gue dulu dengan segala macam drama dan keseruan serta kesedihannya yang selalu gue catatkan dalam diari kecil kehidupan gue, yang hingga kini masih bisa dibaca dengan baik.
“Gue selalu ingat apa yang dulu pernah Zalina bilang ke gue, yang mana itu juga asalnya dari lo sebetulnya, yaitu jangan pernah mulai apa yang sekiranya nggak bisa diakhiri. Bokap gue pun pernah bilang kalau dalam hubungan percintaan, segala kesalahan harus bisa dimaafkan, kecuali perselingkuhan."
DEG.
Gue dengan amat sadar, tertohok dengan apa yang gue pernah bilang ke Zalina, dan juga apa yang dibilang Bapaknya Anin. Itu semua adalah atribut yang selalu menempel di diri gue. Gue juga nggak pernah tahu apakah Zalina, Dee, Emi akan pernah memaafkan gue ketika gue melakukan kesalahan tersebut berulang kali jika mereka tahu. Entah bagaimana, Anin punya perspektif sendiri soal ini. Dia seperti mengingatkan kalau perilaku yang didasari atas dendam yang berkepanjangan akhirnya akan merugikan diri sendiri. Ya, gue menjadi seorang yang dendam akan hubungan dengan perempuan akibat kesalahan Zalina, yang sebenarnya ditengarai sebagai akal bulus Anin.
“Gue nggak pernah sekalipun membina hubungan dengan cara kotor. Tetapi gue malah menghancurkan hubungan orang lain dengan cara kotor dan membuat semua orang yang gue kerjai semakin trauma dan merasa bersalah sepanjang hidupnya. Zalina dan lo adalah contoh nyatanya. Gue selalu menjaga ketika hubungan terjalin, perselingkuhan tidak boleh terjadi. Tetapi, apa yang terjadi? Gue malah membuat Zalina terjerumus dan pada akhirnya berimbas ke mental lo. Lo menjadi Ija yang semakin liar terhadap banyak cewek, dan gilanya, cewek-cewek ini mau-mau aja selalu. Bahkan ketika lo berhubungan dengan Keket yang mana sebenarnya ada irisan diantara hubungan lo dengan Zalina, gue tau lo itu punya bibit untuk mudah sekali tergoda. Makanya akhirnya gue buatkan skenario agar lo dan Zalina berpisah, dengan cara yang bombastis. Berhasil buat gue. Tapi itu akhirnya menghancurkan hidup Zalina, yang sampai sekarang pun masih belum nerima gue lagi sebagai mantan sahabat dekatnya. Ternyata imbas ini juga kena di lo. Lo jadi kayak petualang cinta yang nggak pernah puas dengan satu perempuan. Ya walaupun ketika menjalin hubungan gue lihat lo selalu berusaha setia. Hanya aja, tetap ada bumbu-bumbu. Gue tahu semua. Karena obsesi gue terhadap lo, Ja. Gue perhatiin lo, selama ini. Tanpa lo pernah tahu.”
Gue sudah tidak bisa dan mampu untuk berkata-kata lagi menanggapi semua pengakuan mengejutkan Anin ini. Benar-benar diluar dugaan gue. Gue tidak pernah tahu sekalipun kalau selama ini, at least delapan atau sembilan tahun terakhir, gue selalu dikuntit orang, diperhatikan dari jauh, atau bahkan di hack mungkin.
“Terus saat ini jadinya lo mau kayak gimana, Nin?”
“Jujur….. gue mau tetap berhubungan dengan lo, as a friend maybe, but, I think it’s a bad idea.”
“Nah itu lo tau, Nin. Berat buat gue. Apalagi lo se-freak itu ke gue. Gue aja dengar pengakuan lo tadi jadi seram sendiri. Kalo kita tetap stay berteman dan keep contact, jangan-jangan malah gue nggak bisa tahan godaan dari lo.”
“Gue kan bilang, Ja, gue selalu berusaha untuk menjaga hubungan dari cara kotor. Jadi kalau memang gue mau terus mengejar lo, gue akan usaha buat bikin lo batalin pernikahan lo dulu. Seperti yang udah-udah. Karena ada Nda juga yang kebetulan sedang disini, makanya gue jadi kepikiran ide itu. Dia akan gue jadikan seperti Zalina.” Ujarnya kalem seperti tanpa dosa.
“Lo mulai gila lagi ya, Lin?!” Gue langsung melepaskan dekapan gue dan menegakkan tubuh Anin.
“Maybe. Tapi itu kayaknya udah nggak akan gue lakukan, Ja. Umur kita udah nggak bisa dibilang muda banget lagi kan. Sepertinya gue akan memilih karir daripada terus berharap ke seseorang yang nggak pernah nganggap gue ada.”
“Gue bukan nggak anggap lo ada, tapi gue nggak bisa ngasih cinta gue ke lo. Karena memang dari awal gue nggak ada rasa sama lo. Masa lo nggak bisa ngerti juga, Nin. Bertahun-tahun, loh. Berarti yang engage ke gue itu selama ini ya lo sebenarnya. Karena setelah putus atau nggak berhubungan lagi dengan cewek-cewek itu, gue kebanyakan lost contact dengan mereka. Tapi lo, bahkan lo tahu perkembangan gue selama ini, Nin. Gila banget…”
“Itulah namanya ketulusan, Ja. Gue nggak pernah neko-neko untuk urusan cinta. Gue akan kejar dengan cara apapun. Walaupun itu mengorbankan siapapun dan apapun yang gue punya demi cita-cita cinta gue. Cuma kayaknya kali ini gue akan stop. Gue udah nyerah dengan keadaan, Ja. Yaaa, setidaknya, lo jadi tahu kan semua alasan gue selama ini.” Katanya lancar terucap dari bibir yang juga terulas senyum manis ditengah derai airmata yang belum kunjung reda.
“Yakin lo, Nin? Gue tuh kadang suka nggak yakin kalo lo yang ngomong. Sekarang jadi orang yang mikirnya normal dan bijak, besoknya udah jadi kayak orang paling jahat sedunia.” Gue pun berusaha mencairkan suasana. Gue sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar yang semakin banyak memperhatikan drama obrolan gue dan Anin.
“Yes, pretty sure, I am.” Ucapnya, seraya mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan gue.
“Ehh.. hmm.. Oke. Ini berarti gue bisa pegang kata-kata lo, ya?” Tanya gue ragu-ragu.
“Iya, lo bisa pegang kata-kata gue.”
Tanpa berkata lagi, gue langsung menjabat tangan Anin dan kemudian memeluknya. Gue tidak sadar ternyata gue meneteskan air mata. Dia pun sama. Kami menangis sambil larut dalam dekapan satu sama lain. Baru kali ini gue bisa se-mellow ini menghadapi orang yang gue benci dalam waktu lama. Kenapa gue? Apakah gue termakan kalimat-kalimat sedih yang dia katakan? Mungkin. Tapi, gue tahu dan gue yakin, semua yang tadi dia bicarakan adalah apa adanya, tulus dan tidak ditambah-tambahkan.
“Thanks for everything….” Gue berucap lirih di telinga Anin yang tertutup kerudung.
jiyanq dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup
dan bintang 5 
