- Beranda
- Stories from the Heart
Bermalam di Hutan Tinjomoyo
...
TS
Visiliya123
Bermalam di Hutan Tinjomoyo
Horror Story
Cerita mengandung kata-kata kasar, yang sengaja digunakan untuk membiat cerita lebih hidup.
Fun Fact terkait Hutan Tinjomoyo:
Hutan Tinjomoyo terletak di Kecamatan Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah. Dulu, hutan ini digunakan sebagai kebun binatang, namun karena terjadi banjir besar, sehingga para binatang dipindah ke daerah Mangkang. Sekarang, hutan ini beralih fungsi menjadi hutan wisata. Banyak wisatawan yang berkunjung, seperti untuk foto prewedding, makrab atau ngcamp, outbond, atau sekedar berburu view yang bagus untuk diambil gambarnya dan di upload di sosial media.

BAB 1
Suara tembakan terdengar Cumian telinga di kesunyian malam. Seorang pria dengan langkah kaki terseok sambil menggandeng bocah laki-laki berusia sepuluh tahun mengumpat kasar mendengar itu.
"Sial!" Mendengar suara tembakan dan ditambah tangisan bocah yang ia bawa membuat darahnya mendidih. "Bisakah kau berhenti menangis!" bentaknya sambil menampar pipi bocah itu dengan kencang, sedang tangan satunya mempererat pegangan pada sang bocah karena tak tahan lagi mendengar tangisan yang keluar dari mulutnya.
Sang bocah mengatupkan bibir, dadanya naik turun mencoba meredam isak tangis. Rasanya ia ingin menangis lebih kencang lagi, apalagi pegangan erat itu tak berniat melepasnya. Dia sangat kesakitan, tetapi pria yang menariknya tak peduli.
Suara derap kaki lebih dari satu orang terdengar. Pria tersebut semakin panik, lalu menyeret sebelah kakinya yang terluka karena tembakkan, lebih cepat dan begitu tergesa. Sang bocah berusaha mengikuti arah tarikan itu, tetapi langkahnya tak cukup lebar, hingga terkesan dia diseret dan membuat dedaunan kering yang terasa lembab berantakan, menujukkan tanda bahwa dia telah melewatinya. Melihat jejak kaki yang mereka tinggalkan, pria itu kembali mengumpat lalu membawa bocah itu untuk bersembunyi dibalik semak belukar yang cukup lebat. "Jangan berani pergi dari sini, atau aku akan membunuhmu!" ancamnya tak main-main. Tanpa bersuara, bocah itu mengangguk cepat, karena tak ingin mengambil resiko. "Bagus, anak pintar! Sekarang diam di sini dan tutup mulutmu! Aku akan segera kembali."
Pria tersebut kemudian meninggalkannya. Dia berjalan menuju jalanan yang mereka lewati tadi. Dengan tergesa, pria itu memindahkan dedaunan kering yang menumpuk, lalu menyebarnya di daerah yang mereka lewati. Berharap, jejak itu tak akan dikenali.
Derap kaki semakin mendekat, sang pria kembali mengumpat, entah untuk keberapa kali. Dia dengan cepat melompat dengan satu kaki menuju semak belukar tempat bocah tadi berada. Keduanya tak terlihat di kegelapan malam. Apalagi mereka di tengah hutan sekarang ini. Hanya ada satu penerangan, yaitu cahaya bulan. Namun, tetap saja, kegelapan lebih mendominasi.
Tak lama kemudian, dua orang yang menggunakan seragam polisi terlihat diterangi cahaya bulan yang menembus celah-celah pepohonan. Sang bocah ingin berteriak dan mengatakan bahwa dia di balik semak, tetapi sorot mata mengintimidasi dari pria yang menculiknya mampu mengurungkan niat itu. Tubuhnya gemetar hebat, dia menangis tetapi berusaha tidak membuka suara dengan cara membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan.
Dor
Sumber gambar : Pixaby.com
Cerita mengandung kata-kata kasar, yang sengaja digunakan untuk membiat cerita lebih hidup.
Quote:
Fun Fact terkait Hutan Tinjomoyo:
Hutan Tinjomoyo terletak di Kecamatan Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah. Dulu, hutan ini digunakan sebagai kebun binatang, namun karena terjadi banjir besar, sehingga para binatang dipindah ke daerah Mangkang. Sekarang, hutan ini beralih fungsi menjadi hutan wisata. Banyak wisatawan yang berkunjung, seperti untuk foto prewedding, makrab atau ngcamp, outbond, atau sekedar berburu view yang bagus untuk diambil gambarnya dan di upload di sosial media.
Quote:

Gambar hanya pemanis, bukan aslinya (Sumber : Pixaby.com)
BAB 1
Suara tembakan terdengar Cumian telinga di kesunyian malam. Seorang pria dengan langkah kaki terseok sambil menggandeng bocah laki-laki berusia sepuluh tahun mengumpat kasar mendengar itu.
"Sial!" Mendengar suara tembakan dan ditambah tangisan bocah yang ia bawa membuat darahnya mendidih. "Bisakah kau berhenti menangis!" bentaknya sambil menampar pipi bocah itu dengan kencang, sedang tangan satunya mempererat pegangan pada sang bocah karena tak tahan lagi mendengar tangisan yang keluar dari mulutnya.
Sang bocah mengatupkan bibir, dadanya naik turun mencoba meredam isak tangis. Rasanya ia ingin menangis lebih kencang lagi, apalagi pegangan erat itu tak berniat melepasnya. Dia sangat kesakitan, tetapi pria yang menariknya tak peduli.
Suara derap kaki lebih dari satu orang terdengar. Pria tersebut semakin panik, lalu menyeret sebelah kakinya yang terluka karena tembakkan, lebih cepat dan begitu tergesa. Sang bocah berusaha mengikuti arah tarikan itu, tetapi langkahnya tak cukup lebar, hingga terkesan dia diseret dan membuat dedaunan kering yang terasa lembab berantakan, menujukkan tanda bahwa dia telah melewatinya. Melihat jejak kaki yang mereka tinggalkan, pria itu kembali mengumpat lalu membawa bocah itu untuk bersembunyi dibalik semak belukar yang cukup lebat. "Jangan berani pergi dari sini, atau aku akan membunuhmu!" ancamnya tak main-main. Tanpa bersuara, bocah itu mengangguk cepat, karena tak ingin mengambil resiko. "Bagus, anak pintar! Sekarang diam di sini dan tutup mulutmu! Aku akan segera kembali."
Pria tersebut kemudian meninggalkannya. Dia berjalan menuju jalanan yang mereka lewati tadi. Dengan tergesa, pria itu memindahkan dedaunan kering yang menumpuk, lalu menyebarnya di daerah yang mereka lewati. Berharap, jejak itu tak akan dikenali.
Derap kaki semakin mendekat, sang pria kembali mengumpat, entah untuk keberapa kali. Dia dengan cepat melompat dengan satu kaki menuju semak belukar tempat bocah tadi berada. Keduanya tak terlihat di kegelapan malam. Apalagi mereka di tengah hutan sekarang ini. Hanya ada satu penerangan, yaitu cahaya bulan. Namun, tetap saja, kegelapan lebih mendominasi.
Tak lama kemudian, dua orang yang menggunakan seragam polisi terlihat diterangi cahaya bulan yang menembus celah-celah pepohonan. Sang bocah ingin berteriak dan mengatakan bahwa dia di balik semak, tetapi sorot mata mengintimidasi dari pria yang menculiknya mampu mengurungkan niat itu. Tubuhnya gemetar hebat, dia menangis tetapi berusaha tidak membuka suara dengan cara membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan.
Dor
Quote:
Sumber gambar : Pixaby.com
Diubah oleh Visiliya123 29-12-2022 04:54
johny251976 dan 4 lainnya memberi reputasi
3
1.9K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#3
BAB 3
Dengan kasar Mahendra mengurai pelukan di perutnya. Dia berbalik, bersandar pada mobil dan menemukan seorang gadis yang tingginya hanya sepundak Mahendra tengah tersenyum lebar. Ah, itu bukan senyum, tetapi terlihat seperti cengiran lebar yang memperlihatkan gigi gingsul miliknya. Mahendra sempat tertegun sesaat, sebab gadis itu terlihat manis. Namun, rasa kesalnya mengalahkan pesona yang dipancarkan sang gadis.
"Mau ke mana lo?" tanya Mahendra. Pemuda itu menelisik gadis tersebut dari atas sampai bawah. Kaos hitam dipadukan dengan jaket denim dan celana jeans putih membuatnya cocok. Apalagi rambutnya yang panjang setengah bergelombang terurai bebas, membuat pesonanya semakin menjadi. "Lo gak kuliah?" tanyanya kembali. Mahendra tahu, gadis di depannya ini setiap kuliah pasti memakai rok. Jika ditanya, maka dia akan menjawab, 'Biar keliatan lebih feminim gue. Emang lo gak mau punya calon istri yang feminim gitu?'.
Ya, gadis itu adalah tunangan Mahendra, seperti yang pemuda itu katakan sebelumnya, ada harga yang harus dibayar dengan pilihannya. Sang ayah tidak ingin anaknya membangun usaha dan berfoya-foya, dia ingin Mahendra mengemban tanggung jawab, jika bukan untuk negara, maka untuk keluarga kecilnya. Dan akhirnya, sang ayah mendesak Mahendra bertunangan dengan Kavia, teman dari kecil juga tetangganya yang menyebalkan. Ikatan pertunangan mereka tidak sama seperti orang pada umumnya, karena setelah resmi bertunangan maka Mahendralah yang bertanggung jawab atas kebutuhan Kavia, dan itu syarat mutlak.
"Gue libur hari ini."
Mahendra mencibir mendengarnya. "Perasaan kuliah lo libur mulu. Gue gak mau ya lo bolos, lo pikir uang kuliah lo murah apa?" Mahendra sedikit kesal, dia bahkan rela berhemat untuk kebutuhannya sendiri demi menabung untuk masa depan dan membiayai kehidupan Kavia termasuk uang kuliahnya. Dia tidak akan terima jika Kavia menghamburkan uangnya. Mahendra telah bekerja keras untuk itu, sampai dia jarang libur.
"Yee." Dengan berani gadis itu menjitak kepala Mahendra dengan sedikit berjinjit. Benar-benar tidak memiliki sopan santun terhadap calon suami.
"Kavia Radisya, jangan lupa, gue ini calon suami lo!”
“Iya iya calon suami. Maafin calon istri ya.”
Mendengar hal itu malah membuat Mahendra jijik. Pemuda itu berdecak, menatap sinis pada tunangannya. “Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo gak bolos kuliah ‘kan?”
"Calon suami! Senakal-nakalnya gue, gue gak akan pernah bolos kuliah. Lo tahu kenapa?" Melihat Mahendra yang hanya diam saja, Kavia pun kembali bersuara. "Karena gue tau, kuliah gue itu bayarnya pake uang. Uang itu susah dicari, jadi gue gak boleh sia-siain itu. Apalagi uang itu hasil memeras keringat calon suami gue tersayang.” Kavia menekankan kata calon suami, lalu menyengir lebar. “Lagian ini baru percobaan blended learning, jadi gak full berangkatnya. Seminggu berangkat, seminggu libur," jelas sang gadis panjang lebar. Mahendra yang mendengar itu hanya mengangguk. "Makanya calon suami, kuliah dong lo, biar-"
"Stop!" potong Mahendra cepat. Dia tidak suka jika ada yang memintanya kuliah. Mahendra sudah cukup sekolah selama 12 tahun. Tidak lagi, dia malas berpikir. Sekolah selama dua belas tahun saja sudah menyiksa. Mahendra bukanlah anak yang pintar, setiap ada ujian dia pasti berusaha keras hanya untuk lulus, tidak seperti Kavia yang memang sudah lumayan pintar dan cepat memahami pelajaran. Lagi pula, semua tak akan berakhir baik jika itu dipaksa bukan?
Sang gadis menghela napas. Sangat sulit jika berdebat dengan calon suaminya yang keras kepala melebihi batu.
"Kavia!" panggil Maharani yang tiba-tiba muncul.
"Hallo, Kakak ipar!" sapa balik gadis itu.
"Kakak kira gak jadi ikut tadi."
Kavia nyengir lebar. "Jadi dong, Kak. Gue kan ma—“
"Tunggu-tunggu," potong Mahendra. Seketika kedua gadis itu menoleh ke arahnya. "Lo mau ikut gue?"
"Ralat! Gue bukan mau ikut lo, tapi mau ikut Kak Mahar sama Mas Rio."
"Gak, gak bisa! Nanti lo nyusahin gue yang ada!"
***
Mahendra mencebik kesal sepanjang perjalanan. Memang sia-sia berdebat dengan wanita. Akhirnya dia juga yang harus mengalah. Mau tak mau Mahendra tetap menerima keputusan sang kakak, bahwa Kavia akan ikut dengan mereka. Dan lihat saja, gadis itu dari tadi sengaja mengganggu Mahendra. Gadis itu dari tadi bersandar pada dirinya.
“Geser, gak!” perintah Mahendra. Namun, Kavia tak memerdulikan hal itu, gadis itu malah menguselkan kepalanya di dada bidang sang tunangan. Semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda itu. Dia bahkan dengan sengaja menarik tangan Mahendra agar melingkari lehernya. Mahendra menghela napas, membiarkan gadis itu bertingkah sesukanya. Dia terlalu capek meladeni Kavia yang super keras kepala dan tidak tahu malu.
“Calon suami, lo kok gak deg-degan kayak yang lain, gue tempelin seperti ini?” tanya Kavia penasaran. Pasalnya Mahendra selalu terlihat tenang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia tertarik ataupun merasa terpesona akan dirinya.
“Dengan telinga yang nempel di dada gue, lo gak bisa denger gue deg-degan? Telinga lo tuli apa gimana?”
Mendengar kalimat itu, Kavia mengernyit bingung. “Maksudnya?”
“Lo pikir kalau gue gak deg-degan gue bakal hidup?”
Kavia mendengkus kesal, dia tak berniat berbicara pada Mahendra lagi. Kavia memilih melihat ponselnya, dia tersenyum senang melihat beberapa foto yang Maharani kirimkan sebelumnya. Matanya berbinar memandang semua itu. Hal itu tak luput dari pandangan Mahendra. Diam-diam, pemuda itu ikut melihat ke arah ponsel Kavia.
Hal yang pertama kali Mahendra tatap adalah sebuah foto pria dan wanita dengan baju couple yang tengah berdiri mesra di atas jembatan dengan background pepohonan. Sebagai fotografer, otak Mahendra langsung menilai kualitas gambar tersebut, bagaimana posisi si objek yang menurutnya kurang pas.
Kavia menggeser foto tersebut. Kali ini terlihat foto semacam gapura pintu masuk dengan tulisan "Selamat Datang Di Hutan Wisata Tinjomoyo." Mahendra seketika menegang, wajahnya menjadi pucat pasi. Kavia yang menyadari perubahan pada tubuh yang ia sandari tentu saja hanya mengernyit heran. Dia lalu mendongakkan kepala, tatapannya bertemu dengan Mahendra yang memasang muka tegang.
“Kak Mahar, fotonya bagus-bagus. Kavia gak sabar pengen ke sana. Kita kapan sampainya sih?”
“Masih jauh ini, ya ‘kan, Mas?” Rio hanya berdehem atas pertanyaan dari calon istrinya. Pria itu terlalu fokus pada jalanan di depannya.
"Kak, kita mau ke Hutan Tinjomoyo?" Kali ini Mahendra membuka suara.
"Hmm," jawab Maharani acuh.
Mahendra seketika melebarkan matanya tak percaya. Dia tak menyangka, sang kakak begitu tega. Mahendra tidak menyukai hutan, dia sedikit trauma. Beberapa kali kali Mahendra mendapatkan job untuk pemotretan di hutan, tetapi dia selalu menolaknya, karena rasa traumanya masih bersemayam. Dan sekarang, dia harus melakukan pemotretan di hutan Tinjomoyo, hutan yang teman-temannya di dunia fotografi bilang terkenal akan keangkerannya itu. Nyali Mahendra sedikit menciut, dia tak takut pada apapun, kecuali empat hal. Tuhan, orang tuanya, hutan, dan makhluk gaib.
Smg.blogspot.com, Semarang- Wisata Hutan Tinjomoyo kembali dibuka, Senin 4 Oktober 2021. Selama ini Hutan Tinjomoyo Semarang dikenal dengan keindahnnya juga cerita-cerita horor di dalamnya. Hutan yang dulunya kebun binatang itu sering dijadikan tempat uji nyali. Bahkan youtuber terkenal yang memiliki mata batin pernah menjadikan hutan tersebut sebagai objek kontennya. Hutan wisata Tinjomoyo makin sepi semenjak ditemukannya banyak mayat di sana. Pemerintah Semarang mencoba menepis berita tersebut, dan menjadikan Hutan Tinjomoyo sebagai wisata yang semakin menarik dari waktu ke waktu.
Mahendra semakin pucat pasi ketika melihat artikel di internet. Selama ini ia hanya mendengar hutan itu angker, tetapi Mahendra tak berniat mencari tahu lebih. Dan sekarang … Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan?
Mahendra mengumpat di dalam hati. Menyurah-serapahi kakaknya. Dia benar-benar tidak tahu dimana mereka akan mengambil foto. Mahendra tak mau bertanya, dia tak ingin menjadi kesal, sebab pikiran Mahendra tidak pernah sejalan dengan Maharani. Dan ujung-ujungnya, Mahendralah yang harus mengalah. Maka dari itu dia enggan mencari tahu ataupun bertanya, karena keputusan tetap di tangan sang kakak. Sedangkan Maharani, dia tahu Mahendra trauma dengan hutan, tetapi bisa-bisanya kakaknya itu kekukeh meminta Mahendra menjadi fotografernya. Apa dia ingin Mahendra mati karena ketakutan?
“Calon suami, lo kenapa?” Mahendra hanya melirik Kavia sekilas. Lalu pandangannya ia tujukan pada Maharani.
"Kak!"
Maharani yang mendengar sang adik berucap sedikit tak bertenaga hanya menanggapinya dengan deheman. Gadis itu enggan menoleh ke belakang, alhasil dia hanya menatap Mahendra dari kaca spion. Di sana sang adik terlihat khawatir. Mahendra yang songong kini telah lenyap digantikan oleh seorang pemuda yang memasang wajah memelas.
"Kita serius mau ke hutan itu?"
"Iyalah!"
"Batalin aja deh, gue cariin tempat yang lebih bagus buat foto prewedding," bujuknya pada sang kakak.
"Enak aja batal-batalin. Masa karena pandemi gue gak boleh ngadain pesta, dan sekarang karena lo, gue gak jadi foto prewed di tempat yang gue mau!" protes Maharani sedikit ngegas.
Mahendra menghela napas, begitu pula dengan Rio. "Dek, kalau Mahendra gak mau, gak usah dipaksa."
"Aku gak mau tau, Mas. Orang tadi dia setuju kok."
Iya gue setuju, karna lo gak bilang mau ke hutan.
"Lo takut?” tanya Kavia dengan suara tenang dan sedikit smirk di wajah. Gadis itu menggenggam tangan Mahendra yang masih mengantung melingkari lehernya. “Tangan lo dingin.” Mahendra yang mendengar itu seketika darahnya mendidih, dia menatap tajam kea rah Kavia, tetapi tak berniat melepaskan gengaman tangan itu. Mahendra tak menyangkal, bahwa genggaman tangan Kavia membuat hatinya menghangat sekaligus kesal.
"Atau gini aja, kita tetap ke Semarang tapi cari tempat yang lain buat foto," usul Rio.
Tentu saja, Maharani dan keras kepalanya tidak akan mau menyutujui hal tersebut. "Mahar gak mau, Mas. Laki-laki itu yang dipegang janjinya." Setelah mengatakan itu Maharani melirik Mahendra tak suka.
Rasanya Mahendra ingin mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. Lagi pula kapan dia berjanji? Mahendra mau juga karena terpaksa. Jika ada penghargaan orang paling egois dan pemaksa sedunia maka Mahendra yakin Maharani akan mendapatkan penghargaan itu.
Rio menghela napas, sebenarnya dia kasihan pada Mahendra. Namun, ia tak berani menyakiti wanitanya. Rio benar-benar mencintai Maharani. “Gak akan terjadi apa-apa di sana. Aman. Mas sudah pernah ke sana kok, Hen.” Pria itu menoleh ke belakang, memberikan senyuman tulus pada Mahendra.
Tepat setelah itu, suara kucing yang mengeong terdengar keras seperti suara teriakan. Mobil yang mereka tumpangi sempat oleng ke samping, seperti telah menginjak sesuatu. Keempat orang di dalam mobil itu seketika menegang, apalagi setelah Rio tiba-tiba menginjak rem secara mendadak. Hingga mereka semua terpelanting ke depan. Rio, Maharani dan Mahendra tidak papa, karena mereka memakai sabuk pengaman. Tetapi Kavia, gadis itu terdorong ke depan hingga kepalanya membentur kursi depan. Mahendra yang sempat ingin menarik gadis itu, terlambat karena gerakannya kalah cepat.
“Ma-Mas, kamu nabrak kucing.”
Dengan kasar Mahendra mengurai pelukan di perutnya. Dia berbalik, bersandar pada mobil dan menemukan seorang gadis yang tingginya hanya sepundak Mahendra tengah tersenyum lebar. Ah, itu bukan senyum, tetapi terlihat seperti cengiran lebar yang memperlihatkan gigi gingsul miliknya. Mahendra sempat tertegun sesaat, sebab gadis itu terlihat manis. Namun, rasa kesalnya mengalahkan pesona yang dipancarkan sang gadis.
"Mau ke mana lo?" tanya Mahendra. Pemuda itu menelisik gadis tersebut dari atas sampai bawah. Kaos hitam dipadukan dengan jaket denim dan celana jeans putih membuatnya cocok. Apalagi rambutnya yang panjang setengah bergelombang terurai bebas, membuat pesonanya semakin menjadi. "Lo gak kuliah?" tanyanya kembali. Mahendra tahu, gadis di depannya ini setiap kuliah pasti memakai rok. Jika ditanya, maka dia akan menjawab, 'Biar keliatan lebih feminim gue. Emang lo gak mau punya calon istri yang feminim gitu?'.
Ya, gadis itu adalah tunangan Mahendra, seperti yang pemuda itu katakan sebelumnya, ada harga yang harus dibayar dengan pilihannya. Sang ayah tidak ingin anaknya membangun usaha dan berfoya-foya, dia ingin Mahendra mengemban tanggung jawab, jika bukan untuk negara, maka untuk keluarga kecilnya. Dan akhirnya, sang ayah mendesak Mahendra bertunangan dengan Kavia, teman dari kecil juga tetangganya yang menyebalkan. Ikatan pertunangan mereka tidak sama seperti orang pada umumnya, karena setelah resmi bertunangan maka Mahendralah yang bertanggung jawab atas kebutuhan Kavia, dan itu syarat mutlak.
"Gue libur hari ini."
Mahendra mencibir mendengarnya. "Perasaan kuliah lo libur mulu. Gue gak mau ya lo bolos, lo pikir uang kuliah lo murah apa?" Mahendra sedikit kesal, dia bahkan rela berhemat untuk kebutuhannya sendiri demi menabung untuk masa depan dan membiayai kehidupan Kavia termasuk uang kuliahnya. Dia tidak akan terima jika Kavia menghamburkan uangnya. Mahendra telah bekerja keras untuk itu, sampai dia jarang libur.
"Yee." Dengan berani gadis itu menjitak kepala Mahendra dengan sedikit berjinjit. Benar-benar tidak memiliki sopan santun terhadap calon suami.
"Kavia Radisya, jangan lupa, gue ini calon suami lo!”
“Iya iya calon suami. Maafin calon istri ya.”
Mendengar hal itu malah membuat Mahendra jijik. Pemuda itu berdecak, menatap sinis pada tunangannya. “Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo gak bolos kuliah ‘kan?”
"Calon suami! Senakal-nakalnya gue, gue gak akan pernah bolos kuliah. Lo tahu kenapa?" Melihat Mahendra yang hanya diam saja, Kavia pun kembali bersuara. "Karena gue tau, kuliah gue itu bayarnya pake uang. Uang itu susah dicari, jadi gue gak boleh sia-siain itu. Apalagi uang itu hasil memeras keringat calon suami gue tersayang.” Kavia menekankan kata calon suami, lalu menyengir lebar. “Lagian ini baru percobaan blended learning, jadi gak full berangkatnya. Seminggu berangkat, seminggu libur," jelas sang gadis panjang lebar. Mahendra yang mendengar itu hanya mengangguk. "Makanya calon suami, kuliah dong lo, biar-"
"Stop!" potong Mahendra cepat. Dia tidak suka jika ada yang memintanya kuliah. Mahendra sudah cukup sekolah selama 12 tahun. Tidak lagi, dia malas berpikir. Sekolah selama dua belas tahun saja sudah menyiksa. Mahendra bukanlah anak yang pintar, setiap ada ujian dia pasti berusaha keras hanya untuk lulus, tidak seperti Kavia yang memang sudah lumayan pintar dan cepat memahami pelajaran. Lagi pula, semua tak akan berakhir baik jika itu dipaksa bukan?
Sang gadis menghela napas. Sangat sulit jika berdebat dengan calon suaminya yang keras kepala melebihi batu.
"Kavia!" panggil Maharani yang tiba-tiba muncul.
"Hallo, Kakak ipar!" sapa balik gadis itu.
"Kakak kira gak jadi ikut tadi."
Kavia nyengir lebar. "Jadi dong, Kak. Gue kan ma—“
"Tunggu-tunggu," potong Mahendra. Seketika kedua gadis itu menoleh ke arahnya. "Lo mau ikut gue?"
"Ralat! Gue bukan mau ikut lo, tapi mau ikut Kak Mahar sama Mas Rio."
"Gak, gak bisa! Nanti lo nyusahin gue yang ada!"
***
Mahendra mencebik kesal sepanjang perjalanan. Memang sia-sia berdebat dengan wanita. Akhirnya dia juga yang harus mengalah. Mau tak mau Mahendra tetap menerima keputusan sang kakak, bahwa Kavia akan ikut dengan mereka. Dan lihat saja, gadis itu dari tadi sengaja mengganggu Mahendra. Gadis itu dari tadi bersandar pada dirinya.
“Geser, gak!” perintah Mahendra. Namun, Kavia tak memerdulikan hal itu, gadis itu malah menguselkan kepalanya di dada bidang sang tunangan. Semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda itu. Dia bahkan dengan sengaja menarik tangan Mahendra agar melingkari lehernya. Mahendra menghela napas, membiarkan gadis itu bertingkah sesukanya. Dia terlalu capek meladeni Kavia yang super keras kepala dan tidak tahu malu.
“Calon suami, lo kok gak deg-degan kayak yang lain, gue tempelin seperti ini?” tanya Kavia penasaran. Pasalnya Mahendra selalu terlihat tenang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia tertarik ataupun merasa terpesona akan dirinya.
“Dengan telinga yang nempel di dada gue, lo gak bisa denger gue deg-degan? Telinga lo tuli apa gimana?”
Mendengar kalimat itu, Kavia mengernyit bingung. “Maksudnya?”
“Lo pikir kalau gue gak deg-degan gue bakal hidup?”
Kavia mendengkus kesal, dia tak berniat berbicara pada Mahendra lagi. Kavia memilih melihat ponselnya, dia tersenyum senang melihat beberapa foto yang Maharani kirimkan sebelumnya. Matanya berbinar memandang semua itu. Hal itu tak luput dari pandangan Mahendra. Diam-diam, pemuda itu ikut melihat ke arah ponsel Kavia.
Hal yang pertama kali Mahendra tatap adalah sebuah foto pria dan wanita dengan baju couple yang tengah berdiri mesra di atas jembatan dengan background pepohonan. Sebagai fotografer, otak Mahendra langsung menilai kualitas gambar tersebut, bagaimana posisi si objek yang menurutnya kurang pas.
Kavia menggeser foto tersebut. Kali ini terlihat foto semacam gapura pintu masuk dengan tulisan "Selamat Datang Di Hutan Wisata Tinjomoyo." Mahendra seketika menegang, wajahnya menjadi pucat pasi. Kavia yang menyadari perubahan pada tubuh yang ia sandari tentu saja hanya mengernyit heran. Dia lalu mendongakkan kepala, tatapannya bertemu dengan Mahendra yang memasang muka tegang.
“Kak Mahar, fotonya bagus-bagus. Kavia gak sabar pengen ke sana. Kita kapan sampainya sih?”
“Masih jauh ini, ya ‘kan, Mas?” Rio hanya berdehem atas pertanyaan dari calon istrinya. Pria itu terlalu fokus pada jalanan di depannya.
"Kak, kita mau ke Hutan Tinjomoyo?" Kali ini Mahendra membuka suara.
"Hmm," jawab Maharani acuh.
Mahendra seketika melebarkan matanya tak percaya. Dia tak menyangka, sang kakak begitu tega. Mahendra tidak menyukai hutan, dia sedikit trauma. Beberapa kali kali Mahendra mendapatkan job untuk pemotretan di hutan, tetapi dia selalu menolaknya, karena rasa traumanya masih bersemayam. Dan sekarang, dia harus melakukan pemotretan di hutan Tinjomoyo, hutan yang teman-temannya di dunia fotografi bilang terkenal akan keangkerannya itu. Nyali Mahendra sedikit menciut, dia tak takut pada apapun, kecuali empat hal. Tuhan, orang tuanya, hutan, dan makhluk gaib.
Smg.blogspot.com, Semarang- Wisata Hutan Tinjomoyo kembali dibuka, Senin 4 Oktober 2021. Selama ini Hutan Tinjomoyo Semarang dikenal dengan keindahnnya juga cerita-cerita horor di dalamnya. Hutan yang dulunya kebun binatang itu sering dijadikan tempat uji nyali. Bahkan youtuber terkenal yang memiliki mata batin pernah menjadikan hutan tersebut sebagai objek kontennya. Hutan wisata Tinjomoyo makin sepi semenjak ditemukannya banyak mayat di sana. Pemerintah Semarang mencoba menepis berita tersebut, dan menjadikan Hutan Tinjomoyo sebagai wisata yang semakin menarik dari waktu ke waktu.
Mahendra semakin pucat pasi ketika melihat artikel di internet. Selama ini ia hanya mendengar hutan itu angker, tetapi Mahendra tak berniat mencari tahu lebih. Dan sekarang … Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan?
Mahendra mengumpat di dalam hati. Menyurah-serapahi kakaknya. Dia benar-benar tidak tahu dimana mereka akan mengambil foto. Mahendra tak mau bertanya, dia tak ingin menjadi kesal, sebab pikiran Mahendra tidak pernah sejalan dengan Maharani. Dan ujung-ujungnya, Mahendralah yang harus mengalah. Maka dari itu dia enggan mencari tahu ataupun bertanya, karena keputusan tetap di tangan sang kakak. Sedangkan Maharani, dia tahu Mahendra trauma dengan hutan, tetapi bisa-bisanya kakaknya itu kekukeh meminta Mahendra menjadi fotografernya. Apa dia ingin Mahendra mati karena ketakutan?
“Calon suami, lo kenapa?” Mahendra hanya melirik Kavia sekilas. Lalu pandangannya ia tujukan pada Maharani.
"Kak!"
Maharani yang mendengar sang adik berucap sedikit tak bertenaga hanya menanggapinya dengan deheman. Gadis itu enggan menoleh ke belakang, alhasil dia hanya menatap Mahendra dari kaca spion. Di sana sang adik terlihat khawatir. Mahendra yang songong kini telah lenyap digantikan oleh seorang pemuda yang memasang wajah memelas.
"Kita serius mau ke hutan itu?"
"Iyalah!"
"Batalin aja deh, gue cariin tempat yang lebih bagus buat foto prewedding," bujuknya pada sang kakak.
"Enak aja batal-batalin. Masa karena pandemi gue gak boleh ngadain pesta, dan sekarang karena lo, gue gak jadi foto prewed di tempat yang gue mau!" protes Maharani sedikit ngegas.
Mahendra menghela napas, begitu pula dengan Rio. "Dek, kalau Mahendra gak mau, gak usah dipaksa."
"Aku gak mau tau, Mas. Orang tadi dia setuju kok."
Iya gue setuju, karna lo gak bilang mau ke hutan.
"Lo takut?” tanya Kavia dengan suara tenang dan sedikit smirk di wajah. Gadis itu menggenggam tangan Mahendra yang masih mengantung melingkari lehernya. “Tangan lo dingin.” Mahendra yang mendengar itu seketika darahnya mendidih, dia menatap tajam kea rah Kavia, tetapi tak berniat melepaskan gengaman tangan itu. Mahendra tak menyangkal, bahwa genggaman tangan Kavia membuat hatinya menghangat sekaligus kesal.
"Atau gini aja, kita tetap ke Semarang tapi cari tempat yang lain buat foto," usul Rio.
Tentu saja, Maharani dan keras kepalanya tidak akan mau menyutujui hal tersebut. "Mahar gak mau, Mas. Laki-laki itu yang dipegang janjinya." Setelah mengatakan itu Maharani melirik Mahendra tak suka.
Rasanya Mahendra ingin mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. Lagi pula kapan dia berjanji? Mahendra mau juga karena terpaksa. Jika ada penghargaan orang paling egois dan pemaksa sedunia maka Mahendra yakin Maharani akan mendapatkan penghargaan itu.
Rio menghela napas, sebenarnya dia kasihan pada Mahendra. Namun, ia tak berani menyakiti wanitanya. Rio benar-benar mencintai Maharani. “Gak akan terjadi apa-apa di sana. Aman. Mas sudah pernah ke sana kok, Hen.” Pria itu menoleh ke belakang, memberikan senyuman tulus pada Mahendra.
Tepat setelah itu, suara kucing yang mengeong terdengar keras seperti suara teriakan. Mobil yang mereka tumpangi sempat oleng ke samping, seperti telah menginjak sesuatu. Keempat orang di dalam mobil itu seketika menegang, apalagi setelah Rio tiba-tiba menginjak rem secara mendadak. Hingga mereka semua terpelanting ke depan. Rio, Maharani dan Mahendra tidak papa, karena mereka memakai sabuk pengaman. Tetapi Kavia, gadis itu terdorong ke depan hingga kepalanya membentur kursi depan. Mahendra yang sempat ingin menarik gadis itu, terlambat karena gerakannya kalah cepat.
“Ma-Mas, kamu nabrak kucing.”
Diubah oleh Visiliya123 24-12-2022 08:29
johny251976 memberi reputasi
1