Kaskus

Story

sunyigelumatAvatar border
TS
sunyigelumat
ALMOST LOVER (Drama, Mystery)
Spoiler for COVER:

Spoiler for Kata Pengantar:

Spoiler for KARAKTER:


Spoiler for DAFTAR ISI:


BAGIAN #1

Hey, I can't live in here for another day
Darkness has kept the light concealed


Tidak ada yang istimewa hari ini. Matahari tetap terik dan menyengat, padahal semalam hujan, awet sampai menjelang fajar. Bagaimana aku bisa tahu? Karena semalaman pula aku menunggui mereka berlomba turun menuju garis akhir permukaan tanah.

Namaku Yona. Aku merasa muda. Terkadang aku merasa bermimpi. Seringnya aku sulit tidur.

Sisanya, aku sepenuhnya sadar saat menggenggam Smirnoff atau Chivas Regal. Hehehe. Di Yogyakarta ini, kota yang katanya tersusun atas rindu dan kenangan aku meneruskan nafasku setelah sekian lama menghabiskan masa pertumbuhan di kampung halaman di daerah Barat Laut.

Mulai dari kuliah aku menjejakkan kaki di sini. Berlanjut hingga mulai bekerja, bercinta, dan seterusnya sampai hari ini.

Sudah kuselesaikan pekerjaanku hari ini. Stock checkuntuk linen dan amenities sudah beres, segala sesuatunya sudah dikerjakan para stafku dengan sempurna. Menarik. Di ruangan yang hanya 1 lantai ini hampir semua urusan pekerjaan ditangani. Padahal dari keseluruhan tempat kerjaku jika saja dibuat labirin dengan jebakan ala Jigsaw, aku sangsi ada yang akan keluar hidup-hidup saking luasnya.

Meja kerjaku hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk hanya dibatasi sekat partisi setinggi dada orang dewasa, sehingga aku bisa tahu setiap ada orang yang melintas. Meja ini hanya berisi satu buah komputer all in oneringkas dan tempat alat tulis berbahan plastik yang juga hanya berisi sedikit barang. Di dinding partisi di samping kiriku tertempel sticky notes warna warni yang bertuliskan beberapa catatan penting soal pekerjaan.

Hotel El Grandisyang jadi saksi perjalanan karirku semenjak lulus kuliah 9 tahun lalu tak kusangka akan juga menjadi bagian hidupku. Menginjak tahun ke 6 bekerja di hotel tujuh lantai ini, aku punya kesempatan menapaki tangga berikutnya dalam level karir per-hospitality-an. Kini aku seorang supervisor. Tanggung jawab lebih. Dan jam kerja yang lebih, tentu saja. Tapi worth it.

Seharusnya sudah cukup bagiku. Toh aku masih single,belum ada nyawa yang harus kutanggung dengan memberi makan setiap hari. Tapi aku bisa muntah jenuh jika hanya pekerjaan ini yang kulakukan. Perlu ada pelampiasan ekspresi bagi kaum proletar sepertiku. Beruntung bagiku, aku sudah tahu apa hobi dan kegemaranku. Kurasa tak semua orang seberuntung aku, di dunia yang luas dan serba tidak pasti ini pasti ada saja orang-orang yang terkungkung dalam rutinitas menjemukan dan bahkan tidak tahu apa hobi mereka sebenarnya. Sampai mati.

Setiap weekend, atau Sabtu malam lebih tepatnya, aku dan beberapa teman mengisi live music di kafe yang juga berada di kota ini. Kami bertiga sudah menginjakkan kaki di tahun ke 10 bermain bersama sebagai band untuk live performance di kafe. Bukan waktu yang singkat. Jika saja kami menempuh major label, mungkin usia 10 tahun sudah menjadikan kami band papan atas. Tapi sayangnya skill kami tak semumpuni itu untuk mencukupi syarat sebagai band besar. Haha. Toh kami juga punya pekerjaan reguler masing-masing sebagai penopang kebutuhan.

Yang tak semua orang tahu di kehidupanku yang mereka pandang telah mapan dan mentereng, bisa membeli ini itu, masih single atau mungkin tampak bahagia adalah tak ada yang instan di dunia ini. Mie yang digadang-gadang punya nama belakang instan saja perlu proses memasak hingga siap dihidangkan. Apalagi kehidupan, bukan? Aku sudah mulai bekerja sejak di bangku kuliah. Apapun kukerjakan, mulai dari menjadi ojek, joki ketik skripsi dan makalah atau tugas sejenis, membantu di warung pecel lele, menjadi sopir untuk mobil sewaan, hingga yang awet sampai sekarang adalah mengisi live music sessiondi tempat makan modern.

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, pukul 18.48. Hanya mampu kugumamkan sesuatu yang tidak jelas. Huffftt. Kelelahan mulai menjalar di sekujur tubuhku. Berarti hampir 11 jam aku di kantor. Rasanya kemeja biru polosku ini sudah ingin lekas kulemparkan ke muka pegawai laundry.

Aku beranjak, berjalan pelan menggendong tas punggung hitam yang sebenarnya hanya berisi sebiji laptop, rokok, dan korek saja. Sedangkan dua ponselku hampir selalu kukantongi.

Kantor belum terlalu sepi, karena selalu ada orang yang stand bybergantian untuk pelayanan 24 jam. Tak kuhiraukan keberadaan mereka, selayak meraka juga tak begitu menghiraukan aku yang berjalan melewatinya. Sneakers hitam yang kupakai tak banyak menimbulkan suara, kurasa aku takkan mengganggu siapa-siapa dengan suara langkahku ini.

Kususuri area parkir basement yang remang-remang dan lembab. Beberapa lampu neon sudah terlihat redup dan berbeda. Basement masuk ke area kerjaku sebenarnya, tapi toh masih ada hari esok. Biarlah, aku sudah penat.

Bisa kurasakan hangat yang begitu berbeda dengan lantai yang persis berada di atasnya. Begitu sepi di sini. Jika aku sedang berada di satu adegan film horror, maka ini setting yang tepat untuk mengantar atmosfer ruang tertutup yang pengap ke penonton. Long shotke arah pendar neon yang tak stabil jadi pengantar sempurna untuk jumpscares murahan. Hantu yang muncul dari balik mobil para tamu hotel mungkin bisa mengangkat harga jumpscares, biar nggak murahan. Padahal basement ini juga tak separah itu sih. Walaupun berada di dasar hotel seperti ini, bukan berarti ada di bawah seperti para produsen di hirearki rantai makanan. Di sini lebih seperti kuburan mobil mewah para tamu hotel.

Mobilku nyaris di ujung dinding selatan basement. Membiasakan selalu parkir di tempat yang persis sama merupakan hal yang menguntungkan buatku, tidak perlu kuletakkan tanda reserveddi sana. Security akan menggantikanku melakukan itu. Sempat kusapa Dia dengan malas saat aku akan keluar area hotel. Sekedar berbasa-basi tidak penting.

"Yo pak," saat kuturunkan sedikit jendela kiriku.

Pak Irawan si security tampak menyapa balik sambil sedikit membungkukkan badan kekarnya.

Jalanan Yogya begitu ramai malam ini. Padahal aku menghindari jalan utama. Tapi yah, maklum, jumat malam. Waktunya muda-mudi untuk mengumbar diri di luar rumah sejenak melupakan rutinitas lima hari kerja dan kuliah. Seharusnya bisa saja kulakukan hal yang sama dengan mereka. Tapi aku lebih memilih menyibukkan diri di kantor atau berdiam di ruang nyamanku di kos. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada itu.

Aku kini terjebak di antrian lampu merah. Lengkap dengan para musisi yang coba mengubur suntuk para penunggu lampu hijau dengan senandungnya. Entah lagu apa yang mereka mainkan. Suara mereka tenggelam dalam volume keras musik di dalam kabin. Kuturunkan kembali jendela mobilku dan kuacungkan selembar dua puluh ribuan ke arah kantong yang mereka bawa. Berulang kali kudengar mereka berucap terima kasih, tapi aku diam saja, hanya berusaha menutup kembali jendelaku, agar kedap lagi.

Setelah beberapa kali lampu merah menyala, baru giliranku untuk melintas. Kulewati satu tukang sate di kiri jalan. Kulirik sepintas. Aku ingat, warung sate Madura itu dulunya salah satu tempat favorit Rena. Renata. Entah berapa kali kuhabiskan masa makan malam bersamanya di tempat itu. Ingatanku kembali terlempar ke masa lalu.


****Enam tahun lalu.****


"Ayok buruan, laper nih.. hehe," Rena tersenyum menggoda ke arahku yang sedang sibuk mencari kunci motor.

"Iyaa, bentar.. ini kunci jahanam ngumpet dimana sih, giliran dicari ngilang mulu," Gerutuku.

"Hush, jangan ngomong jorok ah! Makanya nyari aku aja yang nggak ngilang-ngilang," Kini Rena mencibir tipis ke arahku dan meletakkan pantatnya ke jok motorku dan duduk di jok bagian depan. Sejurus kemudian, "Lah ini apa?"

Rena menunjuk ke arah bawah stang motorku dan mulai tertawa, "Makanya, jadi orang jangan cepet pikun,"

"Haha, efek laper nih, nggak inget kalo masih nyantol," mau tak mau aku ikut tertawa menyadari ketololanku.

Baru jam 8 malam, masih kurang malah. tapi kurasakan lalu lintas sudah mulai lengang. Sepertinya langit mulai mendung. Orang-orang memilih untuk menunda agendanya keluar rumah daripada kehujanan di jalan.

Seperti biasa, Rena ingin makan sate ayam. Di tempat favoritnya, sangat spesifik. Tapi di sisi lain juga memudahkan untuk para cowok sepertiku yang jengah mendengar kata 'terserah' dari mulut cewek saat ditawari berbagai pilihan menu makan.

"Enak?" keluar pertanyaan retorik dariku.

"Hmmmmm, masih nanya.. yummmyyyy," Jawab Rena seraya tersenyum geli mendengar pertanyaanku.

Cak Dodo, si tukang sate tersenyum mendengar obrolan kami. Ya, sampai kami kenal dengan penjualnya, Rena sendiri cukup akrab. Bahkan dulu pernah sekali dia ikut kipas-kipas sate dengan gaya khasnya yang sok-sokan bisa bakar sate. Halah.

"Berapa tusuk mas?" Tanya Rena dengan dialek yang di-Madura-madura-kan kepadaku saat dia iseng ikut mengipasi sate.

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Pede bener ini bocah. Haha.

Seusai makan kuantar dia pulang ke kosannya. Ya, kami sama-sama anak kos, anak perantauan yang mengadu nasib di kota. Rena bekerja di sebuah bengkel mobil di kota ini. Bukan sebagai montir, dia ada di belakang meja sebagai akuntan. Sedangkan aku kerja di hotel, sebagai staff di manajemen.


'ckkkiiiiiiitttttttttttttt'

Seketika kuinjak rem dalam-dalam ketika muncul seorang pejalan kaki melintas di depan mobilku yang sedang melaju. Si pejalan sialan sukses membuyarkan kenangan yang sedang kurangkai.

"Matamu! Asu! Utekmu njebluk nang silit! (trans.-Matamu! Anjing! Otakmu meledak di anus!)" Sontak aku mengeluarkan kata-kata makian yang aku yakin takkan terdengar dari luar akibat kedapnya kabin.

Bisa saja si penyeberang jalan tadi terpental jauh jika aku tak beruntung melihat penampakannya. Bisa saja dia menderita patah tulang, mungkin kakinya bis pengkor, ususnya terburai, atau kepalanya bocor akibat beradu keras dengan aspal jalanan. Hmm, tapi ini hanya selintas pikiran yang muncul begitu saja. Di dunia nyata, kuharap dia tetap hidup walaupun di jalanan dia tak berguna.

Kini kulajukan mobilku lebih pelan, berjaga-jaga jika ada penyeberang laknat lain yang melintas.

Kubelokkan mobilku ke arah parkir kosan. Ini kos-kosan yang baru 3 tahun kuhuni. Semenjak aku punya mobil, aku pindah ke kosan yang punya lahan parkir. Otomatis dong?

Kulihat Mazda 2 merah Mas Rian sudah terparkir di ujung, tepat di depan kamarnya. Syukurlah, setidaknya tak perlu kutaruh mobilku terlalu mepet dinding, toh biasanya aku yang bangun lebih dulu jika Mas Rian butuh mengeluarkan mobilnya.

Kuputar gagang pintu kamarku yang berada di lantai 2 dan hanya berkunci tunggal. Sebenarnya tidak ada yang istimewa juga di dalam kamar yang perlu dikhawatirkan akan hilang. Barang-barang pribadiku hanya 1 biji gitar akustik elektrik dan 2 biji gitar elektrik dengan beberapa stompboxyang masih berserakan di lantai. Sisanya hanya bawaan kamar kos berupa smart TV, AC dan kulkas mini yang kuisi beberapa botol bir.

Kurogoh rokok dan korekku di dalam tas dan melemparkan sisanya begitu saja ke atas meja. Jemariku mulai menari membuka kuncian ponsel 'pribadiku' dan memeriksa beberapa pemberitahuan yang muncul di notification bar sembari tangan yang lain menjepit sebatang rokok. Kusebut ini ponsel 'pribadi' karena ponsel satunya khusus untuk urusan kantor dan kucantumkan nomornya sebagai salah satu nomor tujuan untuk menanggapi keluhan tamu.

"Kapan terakhir aku makan..." aku bergumam sendiri sambil coba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bertemu karbohidrat.

Sepertinya aku baru sarapan siangsaja di hotel tadi. Pantas saja perutku keroncongan. Segera kugulir menu kontak dan kutekan tombol dial.

"Pak, pesen nasgor 1 ya, pedes. Ntar dicantol aja di gagang pintu. Saya mau mandi soalnya. Uangnya di tempat biasa. Harganya masih sama kan? hehe," Kataku sejurus kemudian setelah lawan bicaraku mengangkat telepon.

"Oke mas, siap, harga masih sama, spesial pokoknya deh," terdengar jawaban dari sisi lain telepon.

Rasanya tak sabar untuk menerima guyuran air hangat malam ini. Sekedar untuk sedikit mengurangi kelelahan yang kurasakan.

Dengan masih berkalung handuk yang basah hasil mengusap tubuhku paska mandi, kubuka pintu kamarku dan mendapati sebuah bungkusan berbalut plastik hitam yang menggantung di gagang pintu. Masih hangat kurasakan.

Belum sempat kusuap sendok nasi goreng pertamaku, nada dering ponsel pribadiku berbunyi. Kulihat ada nama 'Ardi' sebagai nama penelepon.

"Piye su? (trans.- gimana njing?) ngganggu orang makan aja," kataku sambil kutempelkan ponselku di telinga kiri.

"Lha chatku aja nggak mbokbaca, yo tak telpon, haha," kudengar suara Ardi yang menjawab seraya tertawa ringan.

"Piye-piye?"

"Besok siang ke rumah Doni, jangan lupa, jangan sampe telat latihan. Doni mau pamer pedal baru katanya tuh, ntar ngambek kalo kita telat," Ardi nyerocos.

"Oke-oke.. santai lho, kapan aku pernah telat? tapi besok aku mau mampir shopdulu, cadangan senarku abis," Jawabku kemudian.

Shop merupakan istilahku untuk menyebut toko alat musik yang biasa kusambangi sekedar untuk membeli beberapa kebutuhan.

"Oke su, yo wes sesuk meneh(trans.- Oke njing, ya sudah, sampe besok)," Tutup Ardi.

Langsung dia tutup teleponnya dan menyisakan wallpaper ponselku yang berisi fotoku bersama Rena.

Perut sudah kenyang. Nasi goreng dari warung depan kos sudah berpindah ke perutku. Sebagai ahli hisap profesional, langsung kusulut sebatang Marlborosembari kupangku gitar akustik elektrikku. Kusendandungkan beberapa lagu populer yang kutahu sambil sesekali kusela dengan menenggak bir dingin. Rokok, gitar, dan bir. Sungguh perpaduan yang indah di malam hari ini. Sabtu ini masih berada di minggu pertama bulan ini, berarti tajuk kafe untuk besok malam masih rockmantic, sebuah tema khusus di minggu pertama tiap bulan dimana kami memainkan lagu-lagu rock saat live performance. Seharusnya ada sisi romantisnya jika melihat judul tema. Tapi kami terbiasa untuk tidak terlalu peduli dengan istilah 'rockmantic' yang diusung oleh kafe tempat kami main.

Dengan mengusung tema rockmantic, toh kami tetap membawakan lagu-lagu seperti Final Countdown-nya Europe, Welcome to the Junglemilik Guns 'n Roses, atau Have a Nice Day-nya Bon Jovi yang jika diperhatikan hampir tak ada romantis-romantisnya.

Kuhempaskan tubuhku ke bed dan mulai kunyalakan TV. Tak ada acara khusus yang sedang kunantikan. Kupilih saja channel yang ada secara acak. Sekedar untuk mengisi suara di dalam kamar yang lengang. Sebuah stasiun TV memutar acara talkshow dengan bintang tamu artis ibukota. Obrolan mereka sama sekali tak penting. Sesekali terdengar tawa bersahutan saat salah satu host melontarkan candaan-candaan receh.

Entah kuhabiskan berapa lama menonton TV. Sama sekali tak kulirik jam, begitu pula dengan channelnya, sama sekali tak kupindah semenjak kunyalakan.

Mataku mulai sayu. Beberapa kali kuubah posisi tubuhku. Dan tanpa sadar aku mulai jatuh tertidur, dengan TV dan lampu kamar yang masih terang menyala hingga pagi tiba.

Diubah oleh sunyigelumat 10-01-2023 10:25
saputra030090Avatar border
bukhoriganAvatar border
benk.chibenkAvatar border
benk.chibenk dan 4 lainnya memberi reputasi
5
7.1K
30
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
sunyigelumatAvatar border
TS
sunyigelumat
#14
Spoiler for COVER 15 :


Bagian #15

I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken pieces of the life I had before


"Eh itu kan..," Belum selesai kuucapkan kalimatku.

"Itu apa sih?" Rora tampak tersipu malu dan sejenak dia letakkan kembali laptopnya di tempat semula dalam keadaan tertutup.

"Sini..," Kubuka kedua tanganku menyambut Rora dalam posisi dudukku yang bersandar, aku tak ingin membiarkannya dalam kondisi tersipu malu terlalu lama. Kasihan dia harus menanggung canggung yang di luar kontrol.

Rora mendekat pelan duduk menyamping langsung menghadap ke arahku dengan tanganku yang menjangkau pinggangnya. Mungkin ini terlalu mesra untuk ukuran dua manusia yang baru kenal tak lebih dari tiga bulan ke belakang. Tapi sama sekali tak ada penolakan dari kami berdua.

Kulihat dia sudah berganti kaos dengan miliknya sendiri berpadu dengan celana sepanjang lutut warna hitam yang tak seketat tadi. Dan tak lupa kacamata dengan framebundar khas dirinya.

Kuremas lengan kanannya dengan jemariku, "Ra..," kataku lembut.

"Iya?" tak kalah lembut dia jawab, dia sudah siap dengan obrolan yang akan menjurus ke arah serius, walaupun kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya.

"Sejak kapan kamu ngefans sama aku? hahaha...," tak bisa kutahan tawaku saat kusampaikan pertanyaan ini. Sejenak aku melupakan kenyataan bahwa suhu tubuhku belum normal sama sekali.

"iiiih..," Rora seketika menonjok dadaku pelan dan berujar dengan gemas, "kirain mau romantiiis...,"

Aku hanya tertawa merespon ucapan Rora, "Password ada namaku, dan itu.., haha,"

"Itu itu apa hayo.. marah nih marah," dia tunjukkan mimik muka cemberutnya dan malah meninggalkan kesan sebaliknya.

"Itu wallpaper-nya foto pas kita ketemu di kafe kan? kamu udah ngefans aku sejak pertama ketemu atau gimana? haha..," Aku kembali terkekeh mengingat fakta bahwa foto band akustikku terpampang sebagai wallpaper di laptop milik Rora.

"Pede.. pede! pede! pede!" kembali dia pukul dadaku dengan pelan berulang kali, tapi kali ini dia akhiri dengan kepalanya yang menunduk bersandar di tengah-tengah antara pundak dan dadaku, "Yona...,"

"Ya?" Seketika aku mengganti nada bicaraku, kurasa Rora hendak mengatakan sesuatu yang serius.

"Kamu sadar aku serius kan?" Tanyanya tanpa melihat ke arahku sedikitpun, hanya dia lingkarkan tangan kanannya di perutku.

"Kenapa kamu begitu blak-blakan Ra?" Jika saja kusampaikan sambil tertawa mungkin dia akan menganggap ini becanda, jadi kucoba untuk menyampaikan dengan jalan seserius mungkin.

"Aku udah nyaman sama kamu," Semakin kuat dia dorongkan kepalanya ke dadaku.

"Kamu nyaman atau ngefans?" tanyaku.

"Kalo ngefans nggak harus saling kenal deket,"

"Kalo misal aku nggak seperti idamanmu?"

"Maksudmu?"

"Nggak kayak yang kamu pengen,"

"Emang tau pengenku gimana?"

"Eh, nggak tahu juga sih..,"

"Iyuuh...,"

"Gimana kalo aku hanya berpura-pura baik selama ini?"

"Hah?"

"Kamu cantik, nggak akan susah cari laki-laki manapun,"

"Kamu bilang gitu sambil meluk aku? seriusan?" Tanya Rora mengendurkan pelukan tangannya, "Kebiasaan kamu tuh,"

"Aku tawarkan fakta," Kutarik kembali tangan kanannya dan kini kembali seerat sebelumnya.

"Aku bisa milih, aku udah dewasa juga kali," Katanya.

"Yah.. nggak ada yang anggep kamu anak-anak juga, berapa sainganku?"

"Saingan apa?" Rora mendongak pelan ke arah wajahku.

"Yang deketin kamu.. waktu dulu, sebelum kamu pastikan untuk fokus denganku," Tanyaku menyelidik.

"Hmm.. nggak tahu juga mana yang deketin mana yang enggak," Jawabnya.

"Emang aku deketin?" Tanyaku kembali.

"Enggaaak.. kamu cuek banget, cuek secuek cueknya..," Rora memundurkan kepalanya dan kini kami berhadapan wajah, suaranya tampak menggelora, "Udah minta kenalan, minta nomer, eh nggak ngechat-ngechat..., sekalinya ngechat cuma oka-oke doang, iih,"

Aku tertawa geli mendengar pendapatnya, yang mungkin juga itu fakta.

"Emang iya?" tanyaku tak acuh.

"Masih nanya, lagi.. nggak peka, huu," Rora acak-acak rambutku yang sebenarnya juga tak berbentuk.

"Tapi suka?" kutanyakan semakin dalam.

"Awalnya enggak,"

"Tapi?"

"Penasaran,"

"Ah.. penasaran, hanya karena penasaran?"

"Iya..,"

"Sejak kapan punya rasa ke aku?"

"Pede.. siapa bilang punya rasa?"

"Yakin? Yaudah aku cuekin lagi aja kalo gitu,"

"Yaudah sono...," Ucap Rora dengan nada sebal, tapi tak ada gestur yang menunjukkan hal yang sama, "Harusnya aku yang nanya kayak gitu,"

"Tapi kamu nggak pernah nanya soal itu," Tukasku.

"Aku nggak sepede kamu," Jawabnya pelan.

"Tapi kamu pede untuk bilang nyaman," Kusentuh lengannya yang dingin, atau karena aku sedang demam? Maybe.

"Bilang nyaman doang, bukan cinta atau sayang, huu... pede," Cibirnya mengejek.

"Apa bedanya?"

"Beda laaah...,"

"Apaan coba,"

"Hurufnya,"

"Hmmm.. apa yang bakal kamu lakukan, jika kamu bilang nyaman sama orang tapi orang itu nggak ada rasa ke kamu?" Tanyaku mengawali obrolan yang lebih panjang.

"Kalo aku sih ...mungkin menjauh," Jawab Rora mengesankan jawaban yang mengambang.

"Tapi aku dipepet terus?" Tanyaku lagi.

"Pede banget... !!" Dia colek ujung hidungku dengan mesra, "Kamu terus yang nyamperin kok dibilang aku yang mepet, curaang,"

"Emang iya?" Aku ingin tahu jawabannya.

"Yang minta nomer duluan siapa? yang malem-malem ngajak makan siapa? yang tiba-tiba nongol di sini ngajakin jalan siapa?" Rora merasa menang dengan argumen yang dia punya, cibirannya begitu centil menggoda.

"Yang nginep di kosanku siapa?" Aku tak mau kalah.

"Eh lah nggak tahu siapa aja yang udah kamu inepin.. siapa aja emang?" Rora bertanya dengan kecenderungan menuduh yang penuh curiga.

"Serius pengen tahu? liat HP-ku ada foto cewek lain aja kamu uring-uringan kok, ini yakin pengen tahu?" Candaku. Aku sendiri sudah lupa siapa cewek yang pernah singgah di kosanku sebelum Rora.

"Pengen lah...," Ujarnya, tapi sejurus kemudian, "Eh enggak ding, nggak usah... nggak pengen tahu, tapi pengen tahu, aah .. bodo ah,"

Kueratkan pelukanku di pinggang Rora, semoga di bukan tipe cewek yang mudah geli. Tangan kiriku sibuk mengusap lengan kanannya yang masih melingkar di perutku. Kulit Rora terasa begitu dingin walaupun dengan kehangatan yang terus dia berikan.

"Nggak ada, aku nggak se-playboy yang kamu pikir dong," kucoba meyakinkannya.

"I know, and dont try to be.. aku udah capek Yon,", Ujarnya pelan, teramat pelan tapi terasa begitu tajam kudengar.

"Kamu nggak mau cari yang cakepnya sepadan sama kamu?" Tanyaku lagi, "Kalo kita jalan ntar dikira aku main dukun,"

"Kayaknya demammu makin parah deh, ngomongnya udah ngelantur gitu," Dia menarik tubuhnya dari pelukanku dan mencubit bibirku yang belum kering setelah bicara, "Biasanya cuek.. kenapa sekarang overthinking?"

"Bukan overthinking, aku bangunin kamu biar siuman.. siapa tau kamu nutup mata selama ini," Kutarik tangannya yang barusan masih menempel di bibirku.

"Kamu udah terlalu cakep buat aku," Jawab Rora seraya dia tempelkan telapak tangannya di pipiku,"

"Wow?" Balasku dengan kata yang condong ke arah bercanda, padahal aku sedang begitu serius.

"Tapi aku nggak mau kalo disuruh saingan sama vokalismu," Mata Rora sedikit nanar, "Aku nggak mau disuruh saingan sama siapa aja..,"

"Sasa?" Tanyaku singkat diiringi dengan gumaman singkat dari mulut Rora seraya dia anggkukkan kepalanya berulangkali dengan manja.

"Kenapa kamu fokus ke dia? beberapa hari kemarin kamu nanya itu juga kan?" Tanyaku penasaran.

"Temen cewekmu yang aku tahu kan cuma dia, udah cantik banget, pinter nyanyi, suka sama kamu, lagi...," Rora kembali gemas dengan kata-katanya sendiri.

"Aku kan nggak ngrespon juga," Jawabku defensif, "Kenapa kamu takut sama hal yang belum terjadi,"

"Itu namanya khawatir, sayaang..," Ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca, sangat jelas kulihat di depan mataku.

"Cieeh, manggilnya udah sayang...," Aku terkekeh pelan, situasi yang sebenarnya bisa berbelok ke arah romantis, tapi aku tak terbiasa dengan itu.

"Nggak jadi! nggak jadi!" Rora palingkan tubuhnya membelakangiku, tampaknya dia duduk memeluk bantal sambil entah apa yang dia perhatikan di depan matanya.

Aku tak merespon ucapannya, aku hanya mendekat dan sejenak kugenggam kedua lengannya sebelum tanganku merayap turun menuju punggung tangannya. Kupeluk tubuhnya dari belakang sebelum kucoba untuk mendekatakan wajahku ke pundak kanannya.

"Sebegitu khawatirnya?" kutanyakan dengan suara setengah berbisik.

Dia mengangguk perlahan, kurasakan dia seperti menahan isak tangis. Celaka. Memang kesalahan apa yang kulakukan?! Jika terdengar sampai luar kamar bisa-bisa dianggap percobaan pemerkosaan ini. Wah, gawat.

"Kok nangis?" dengan polos kutanyakan padanya, "Sorry kalo bikin kamu nggak nyaman dengan ini..,"

Kulepaskan pelukanku dan aku kembali bersandar di dinding tepi bed.

Tapi Rora menoleh seketika, "Boleh?" Sambil dia peluk erat bantal di depan dadanya.

Dia bertanya tentang apa? Apa yang dia mintakan ijin padaku?

Boleh? Boleh apa ini? Aku tak habis pikir. Jika dia tanya bolehkah dia menangis tentu akan kuiyakan, tapi jika ternyata dia minta ijin untuk terbang ke Israel dan menjadi agen Mossad, tentu aku perlu memikirkan jawaban yang tepat.

Tapi di tengah kebingunganku, dengan nyaris spontan aku menjawab, "Iya, boleh..,"

Rora beringsut mendekat padaku dari depan. Aku yang duduk menekuk lutut pun mau tak mau membuka jalan untuknya. Diia memutar arah duduknya hingga kami kini menghadap arah yang sama. Rora menyandarkan punggungnya ke dadaku dengan masih menggenggam bantal di pangkuannya. Ah, dia minta ijin untuk bersandar rupanya. Hampir saja aku hendak mengurus paspor untuk ke Israel.

"Kenapa nangis?" Tanyaku untuk kedua kali masih dengan volume suara yang sekeras bisikan udara malam.

Telinganya begitu dekat dengan mulutku karena kepalanya memang bersandar di dadaku jadi aku tak perlu khawatir dia takkan mendengar pertanyaanku. Kedua tanganku dia tarik melewati bagian bawah ketiaknya dan melingkari badannya yang masih berhalang bantal di depan dada. Kami saling menempel, begitu dekat dan intim di minggu pagi yang menjelang siang.

"Enggak nangis kok...," Ujarnya pelan, sesekali jemarinya mencoba membetulkan letak kacamata yang sebenarnya tak ada masalah, "Aku boleh minta sesuatu nggak?"

"Buat ultahmu?" Tanyaku balik.

"Bukaaan...,"

"Trus?"

"Aku minta kamu jangan kemana-mana," Ucap Rora lembut.

"Setelah pesan-pesan berikut ini?" Andai bisa kukontrol keran humorku yang rusak ini, tentu tak kukatakan kalimat tanya konyol yang barusan.

"Aku nggak mau saingan, nggak mau..!" Ada upaya Rora untuk berteriak jika saja dia tak segera ingat bahwa mulutnya begitu dekat dengan indera pendengaranku.

"Aku juga," Jawabku singkat.

"Tapi kamu nggak peduli juga kan, ada yang deketin aku atau nggak.. kamu punya saingan apa nggak.. aku punya pacar atau nggaknya pun kamu nggak pernah nanya," Tanya Rora begitu bersemangat, semakin dia desak sandarannya.

"Karena aku tahu... mau siapapun sainganku, atau sekalipun kamu punya pacar, mereka tak selevel denganku, haha..," Jawabku sedikit coba menghiburnya.

"Pede berat yaaah..," Rora genggam tangan kananku yang masih melingkari badannya, "Tapi ada benernya juga sih..,"

"Hah? aku ngasal.. nggak usah dipikir," Ujarku mencoba membelokkan topik.

"Enggak.. akupun ngerasa gitu, kamu salah satu dari sedikit orang cakep tapi entah nggak tau atau nggak ngerasa kalo cakep..hmm?" dia lemparkan segala opininya tentangku.

"Dua-duanya, aku nggak ngerasa dan nggak tahu.. dan juga, masa bodo dengan itu," Tukasku kembali, aku tak ingin berlama-lama dalam topik tidak penting yang satu ini.

"That's why.. wajar dong kalo aku khawatir punya saingan," Muncul nada bicara yang mengungkapkan keraguan.

"Tidak sekompetitif itu juga.. penilaian manusia kan subyektif, kamu cukup menangin aku, sainganmu udah ilang dengan sendirinya," kujawab dengan intonasi sok bijak saat Rora terpekur di pelukku sebelum kulanjutkan, "Aku tiduran boleh? kepala masih eror nih kayaknya,"

"Eh iya, malah aku ngelendot.. minum obat lagi aja ya? abis sarapan belom minum obat kan?" retorik Rora sampaikan.

"Lho, lagi? kutanya balik.

"Iyalah, bentar.. kuambilin, udh situ aja," Jawab Rora seolah aku bisa kemana-kemana tanpa sepengetahuannya.

Hari yang beranjak menuju siang kuhabiskan untuk tidur. Merebahkan diri di bed pink di kamar Rora sambil berselimut tebal. Entah apa saja kegiatan Rora saat aku tidur. Berkali-kali aku terbangun sekedar berganti posisi atau ke kamar mandi, berkali-kali pula kulihat Rora dalam berbagai kesibukannya. Mulai di depan laptop sembari mencorat coret kertas di sampingnya, ngemil sambil nonton entah film apa, sibuk melumuri wajahnya sendiri dengan produk kecantikan yang bahkan tak kuketahui namanya sembari menghadap cermin di meja rias.

Terakhir kudapati badannya ada di sebelahku, tidur siang, mungkin saking tak ada kerjaan. Aku ingin memeluknya, tapi urung kulakukan saat kudapati badanku begitu berkeringat, aku tak ingin membuatnya risih.

****

Ini kali pertama setelah entah kapan terakhir kalinya seorang cewek mencium tanganku saat aku berpamitan. Sore ini kuputuskan untuk pulang dari kosan Rora. Aku perlu mandi dan segala macamnya. Di kantong celanaku sudah ada 2 hingga 3 macam obat yang dia bawakan, penurun panas dan mutivitamin, katanya. Aku sendiri hanya mampu mengangguk-angguk khusyuk saat bermacam nasehat dia keluarkan menjelang kepulanganku. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu. Aku sangsi akan mampu mengingat semua itu sesampainya di kos.

"Atau aku ikut aja? mastiin kamu sembuh," Rajuknya setelah selesai mandi sore.

"Hah?" aku terkejut juga dengan tawarannya.

"Hah heh hoh... atau kamu mau ditemenin yang lain ya? ooo, cukup tahu," ujar Rora dengan gerakan bibir yang menunjukkan gestur cemberut.

"Aku nggak jawab apa-apa lho daritadi, kamu yang nanya, kamu juga yang ngasih kesimpulan," mau tak mau aku juga geli mendengar perkataannya.

"Tapi udah enakan beneran? tadi siang makan mie doang kan?" Tanya Rora memastikan.

"Iya mie doang, tapi kamu buatinnya 2 porsi... sama aja dong," Kucubit pipinya yang kini berhadapan denganku.

"Tapi abis juga tuh.. hayoh," ujarnya tak mau kalah.

"Kalo nggak kuabisin ntar kamu ngomel,"

"Emang,"

"Ya udah,"

"Ya udah," tutup Rora pelan, matanya lekat menatapku.

"Jangan kayak mau ditinggal perang ke timur tengah dong, kita cuma berjarak beberapa kilo looh..," Ujarku saat Rora menunjukkan mimik manjanya yang menggemaskan.

"Mau cuman beberapa kilo juga paling ketemunya masih minggu depan...," Rora jawab dengan mengubah raut mukanya seketika menjadi sembilan puluh sembilan persen serius.

"Maunya?" Tanyaku sambil memastikan tak ada yang tertinggal, "Laptopmu katanya lemot atau gimana tadi? Mau kubawa sekalian?"

"Malah ngomongin laptop iiih...," Rora kembali sebegitu manjanya saat aku membelokkan arah pembicaraan dengan tiba-tiba.

"Haha..," aku kembali terkekeh merespon tingkahnya.

Jika saja yang cemberut bukan Rora apakah responku juga akan sama? Bukankah yang benar-benar subjektif itu adalah selera? So, apakah seperti Rora ini tipeku, hingga aku memberi toleransi yang jauh lebih luas saat merespon reaksinya?

Aku tetap belum bisa seratus persen percaya jika cewek dengan paras seelok dia bahkan hanya mau merajuk manja padaku, sementara aku yakin tak sedikit pria yang mendekatinya. Bahkan di tempat kerjanya mungkin? Terkadang aku benar-benar tak ingin tahu, tapi di sisi lain ada hal-hal yang membuatku penasaran. Kuingat kembali apa yang menempel di diriku, sepertinya tak ada yang layak untuk dijadikan motif penipuan atau hipnotis jika memang Rora berpura-pura tertarik padaku. Apakah itu berarti sebaliknya, tak ada yang tak ikhlas dalam segala ucap dan lakunya?

Respon yang bisa kupikirkan hanya satu untuk merespon raut muka Rora yang manyun dan menyimpan kesal.

Sedetik kemudian kuraih badan Rora untuk kutarik dengan sedikit kasar ke arahku berdiri. Rora menyempatkan diri untuk terkejut saat menerima aksiku. Tapi sekian detik kemudian dia sudah mampu mengendalikan diri. Kulingkarkan kedua tanganku melewati sisi-sisi pinggangnya dan bertemu di belakang punggung Rora. Sedangkan tangan mungil Rora melingkari leherku dengan lembut. Walaupun sesekali dia tarik salah satu tangannya untuk membetulkan letak kacamatanya, walaupun menurutku sama sekali tak ada yang salah.

"Aku cuma mau pulang... bukan pergi," Ujarku lirih persis di depan matanya yang nyaris sejajar dengan mulutku.

Rora mendongak dan tersenyum. Senyuman nakal kah?

Tak dia jawab perkataanku, hanya dia turunkan kedua tangannya melingkari pinggangku dan ganti kini dia yang menarik lekat tubuhku ke arahnya. Kurasakan dia benar-benar menikmati posisinya yang menempel erat di dadaku. Berulang kali dia menghirup napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan suara.

"Kayaknya udah mendingan ya? badanmu udah nggak sepanas kemarin," Ujarnya tanpa melepas pelukannya sedikitpun.

"So, thank you so much for caring me," kataku sambil mengelus rambutnya yang terurai panjang.

"Anytime, beyb," Jawabnya setelah dia tarik kepalanya dan kini menyisakan posisi awal saling berhadapan dengan tangan kami masih saling melingkari, senyumnya begitu ikhlas.
Kuraih tepian wajahnya dengan satu telapak tanganku dan menyusur sela-sela rambut yang ada di atas daun telinganya. Dapat kupastikan Rora terpejam saat perlahan kulepas kacamatanya untuk selanjutnya kugenggam di belakang kepalanya.

Dia masih terpejam dengan sedikit mendongakkan kepalanya. Dia tanggap.
Kudekatkan bibirku dengan perlahan meraih bibirnya yang memucat tanpa riasan. Detik pertama bibir kami bertemu dapat kurasakan napas Rora tercekat. Aku sadar ini jelas bukan ciuman pertamanya. Tapi mungkin ini pertama kali dia berciuman dengan orang yang baru dia kenal selama tiga bulan.

Tangan Rora kini meraih kedua sisi batas antara wajah dan leherku dan berhasil mengusir tanganku yang kini memeluk tubuhnya. Entah berapa menit, atau belas menit yang kami habiskan berdiri saling berhadapan. Saling memagut. Saling meraih.
Setelah kami habiskan beberapa saat untuk berciuman, Rora menarik bibirnya sekaligus kepalanya untuk sesaat. Dia memilih untuk kembali menelusupkan wajahnya di dadaku. Lebih erat dari yang pertama kali tadi.

Kubisikkan dengan teramat lirih ke telinganya untuk mengungkapkan rasa penasaranku yang membuncah sebelum kami berciuman, "Aku masih belum percaya kalau kamu bisa tertarik sama aku, dalam tempo singkat pula, entah otakku yang nggak bekerja atau aku yang terlalu lama sendiri, aku merasa kamu terlalu cantik untuk kupercayai bisa secepat ini bisa sayang aku,"

"Kamu serius bilang kayak gitu, sekarang? setelah kita ciuman? seriusan Yon..? Kebiasaan banget!" Dia tarik tubuhnya setengah langkah menjauhiku, wajahnya yang kini tak berkacamata terlihat begitu serius kurasakan, seingatku belum pernah dia seserius ini.
saputra030090
saputra030090 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.