- Beranda
- Stories from the Heart
ALMOST LOVER (Drama, Mystery)
...
TS
sunyigelumat
ALMOST LOVER (Drama, Mystery)
Spoiler for COVER:
Spoiler for Kata Pengantar:
Spoiler for KARAKTER:
Spoiler for DAFTAR ISI:
BAGIAN #1
Hey, I can't live in here for another day
Darkness has kept the light concealed
Tidak ada yang istimewa hari ini. Matahari tetap terik dan menyengat, padahal semalam hujan, awet sampai menjelang fajar. Bagaimana aku bisa tahu? Karena semalaman pula aku menunggui mereka berlomba turun menuju garis akhir permukaan tanah.
Namaku Yona. Aku merasa muda. Terkadang aku merasa bermimpi. Seringnya aku sulit tidur.
Sisanya, aku sepenuhnya sadar saat menggenggam Smirnoff atau Chivas Regal. Hehehe. Di Yogyakarta ini, kota yang katanya tersusun atas rindu dan kenangan aku meneruskan nafasku setelah sekian lama menghabiskan masa pertumbuhan di kampung halaman di daerah Barat Laut.
Mulai dari kuliah aku menjejakkan kaki di sini. Berlanjut hingga mulai bekerja, bercinta, dan seterusnya sampai hari ini.
Sudah kuselesaikan pekerjaanku hari ini. Stock checkuntuk linen dan amenities sudah beres, segala sesuatunya sudah dikerjakan para stafku dengan sempurna. Menarik. Di ruangan yang hanya 1 lantai ini hampir semua urusan pekerjaan ditangani. Padahal dari keseluruhan tempat kerjaku jika saja dibuat labirin dengan jebakan ala Jigsaw, aku sangsi ada yang akan keluar hidup-hidup saking luasnya.
Meja kerjaku hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk hanya dibatasi sekat partisi setinggi dada orang dewasa, sehingga aku bisa tahu setiap ada orang yang melintas. Meja ini hanya berisi satu buah komputer all in oneringkas dan tempat alat tulis berbahan plastik yang juga hanya berisi sedikit barang. Di dinding partisi di samping kiriku tertempel sticky notes warna warni yang bertuliskan beberapa catatan penting soal pekerjaan.
Hotel El Grandisyang jadi saksi perjalanan karirku semenjak lulus kuliah 9 tahun lalu tak kusangka akan juga menjadi bagian hidupku. Menginjak tahun ke 6 bekerja di hotel tujuh lantai ini, aku punya kesempatan menapaki tangga berikutnya dalam level karir per-hospitality-an. Kini aku seorang supervisor. Tanggung jawab lebih. Dan jam kerja yang lebih, tentu saja. Tapi worth it.
Seharusnya sudah cukup bagiku. Toh aku masih single,belum ada nyawa yang harus kutanggung dengan memberi makan setiap hari. Tapi aku bisa muntah jenuh jika hanya pekerjaan ini yang kulakukan. Perlu ada pelampiasan ekspresi bagi kaum proletar sepertiku. Beruntung bagiku, aku sudah tahu apa hobi dan kegemaranku. Kurasa tak semua orang seberuntung aku, di dunia yang luas dan serba tidak pasti ini pasti ada saja orang-orang yang terkungkung dalam rutinitas menjemukan dan bahkan tidak tahu apa hobi mereka sebenarnya. Sampai mati.
Setiap weekend, atau Sabtu malam lebih tepatnya, aku dan beberapa teman mengisi live music di kafe yang juga berada di kota ini. Kami bertiga sudah menginjakkan kaki di tahun ke 10 bermain bersama sebagai band untuk live performance di kafe. Bukan waktu yang singkat. Jika saja kami menempuh major label, mungkin usia 10 tahun sudah menjadikan kami band papan atas. Tapi sayangnya skill kami tak semumpuni itu untuk mencukupi syarat sebagai band besar. Haha. Toh kami juga punya pekerjaan reguler masing-masing sebagai penopang kebutuhan.
Yang tak semua orang tahu di kehidupanku yang mereka pandang telah mapan dan mentereng, bisa membeli ini itu, masih single atau mungkin tampak bahagia adalah tak ada yang instan di dunia ini. Mie yang digadang-gadang punya nama belakang instan saja perlu proses memasak hingga siap dihidangkan. Apalagi kehidupan, bukan? Aku sudah mulai bekerja sejak di bangku kuliah. Apapun kukerjakan, mulai dari menjadi ojek, joki ketik skripsi dan makalah atau tugas sejenis, membantu di warung pecel lele, menjadi sopir untuk mobil sewaan, hingga yang awet sampai sekarang adalah mengisi live music sessiondi tempat makan modern.
Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, pukul 18.48. Hanya mampu kugumamkan sesuatu yang tidak jelas. Huffftt. Kelelahan mulai menjalar di sekujur tubuhku. Berarti hampir 11 jam aku di kantor. Rasanya kemeja biru polosku ini sudah ingin lekas kulemparkan ke muka pegawai laundry.
Aku beranjak, berjalan pelan menggendong tas punggung hitam yang sebenarnya hanya berisi sebiji laptop, rokok, dan korek saja. Sedangkan dua ponselku hampir selalu kukantongi.
Kantor belum terlalu sepi, karena selalu ada orang yang stand bybergantian untuk pelayanan 24 jam. Tak kuhiraukan keberadaan mereka, selayak meraka juga tak begitu menghiraukan aku yang berjalan melewatinya. Sneakers hitam yang kupakai tak banyak menimbulkan suara, kurasa aku takkan mengganggu siapa-siapa dengan suara langkahku ini.
Kususuri area parkir basement yang remang-remang dan lembab. Beberapa lampu neon sudah terlihat redup dan berbeda. Basement masuk ke area kerjaku sebenarnya, tapi toh masih ada hari esok. Biarlah, aku sudah penat.
Bisa kurasakan hangat yang begitu berbeda dengan lantai yang persis berada di atasnya. Begitu sepi di sini. Jika aku sedang berada di satu adegan film horror, maka ini setting yang tepat untuk mengantar atmosfer ruang tertutup yang pengap ke penonton. Long shotke arah pendar neon yang tak stabil jadi pengantar sempurna untuk jumpscares murahan. Hantu yang muncul dari balik mobil para tamu hotel mungkin bisa mengangkat harga jumpscares, biar nggak murahan. Padahal basement ini juga tak separah itu sih. Walaupun berada di dasar hotel seperti ini, bukan berarti ada di bawah seperti para produsen di hirearki rantai makanan. Di sini lebih seperti kuburan mobil mewah para tamu hotel.
Mobilku nyaris di ujung dinding selatan basement. Membiasakan selalu parkir di tempat yang persis sama merupakan hal yang menguntungkan buatku, tidak perlu kuletakkan tanda reserveddi sana. Security akan menggantikanku melakukan itu. Sempat kusapa Dia dengan malas saat aku akan keluar area hotel. Sekedar berbasa-basi tidak penting.
"Yo pak," saat kuturunkan sedikit jendela kiriku.
Pak Irawan si security tampak menyapa balik sambil sedikit membungkukkan badan kekarnya.
Jalanan Yogya begitu ramai malam ini. Padahal aku menghindari jalan utama. Tapi yah, maklum, jumat malam. Waktunya muda-mudi untuk mengumbar diri di luar rumah sejenak melupakan rutinitas lima hari kerja dan kuliah. Seharusnya bisa saja kulakukan hal yang sama dengan mereka. Tapi aku lebih memilih menyibukkan diri di kantor atau berdiam di ruang nyamanku di kos. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada itu.
Aku kini terjebak di antrian lampu merah. Lengkap dengan para musisi yang coba mengubur suntuk para penunggu lampu hijau dengan senandungnya. Entah lagu apa yang mereka mainkan. Suara mereka tenggelam dalam volume keras musik di dalam kabin. Kuturunkan kembali jendela mobilku dan kuacungkan selembar dua puluh ribuan ke arah kantong yang mereka bawa. Berulang kali kudengar mereka berucap terima kasih, tapi aku diam saja, hanya berusaha menutup kembali jendelaku, agar kedap lagi.
Setelah beberapa kali lampu merah menyala, baru giliranku untuk melintas. Kulewati satu tukang sate di kiri jalan. Kulirik sepintas. Aku ingat, warung sate Madura itu dulunya salah satu tempat favorit Rena. Renata. Entah berapa kali kuhabiskan masa makan malam bersamanya di tempat itu. Ingatanku kembali terlempar ke masa lalu.
****Enam tahun lalu.****
"Ayok buruan, laper nih.. hehe," Rena tersenyum menggoda ke arahku yang sedang sibuk mencari kunci motor.
"Iyaa, bentar.. ini kunci jahanam ngumpet dimana sih, giliran dicari ngilang mulu," Gerutuku.
"Hush, jangan ngomong jorok ah! Makanya nyari aku aja yang nggak ngilang-ngilang," Kini Rena mencibir tipis ke arahku dan meletakkan pantatnya ke jok motorku dan duduk di jok bagian depan. Sejurus kemudian, "Lah ini apa?"
Rena menunjuk ke arah bawah stang motorku dan mulai tertawa, "Makanya, jadi orang jangan cepet pikun,"
"Haha, efek laper nih, nggak inget kalo masih nyantol," mau tak mau aku ikut tertawa menyadari ketololanku.
Baru jam 8 malam, masih kurang malah. tapi kurasakan lalu lintas sudah mulai lengang. Sepertinya langit mulai mendung. Orang-orang memilih untuk menunda agendanya keluar rumah daripada kehujanan di jalan.
Seperti biasa, Rena ingin makan sate ayam. Di tempat favoritnya, sangat spesifik. Tapi di sisi lain juga memudahkan untuk para cowok sepertiku yang jengah mendengar kata 'terserah' dari mulut cewek saat ditawari berbagai pilihan menu makan.
"Enak?" keluar pertanyaan retorik dariku.
"Hmmmmm, masih nanya.. yummmyyyy," Jawab Rena seraya tersenyum geli mendengar pertanyaanku.
Cak Dodo, si tukang sate tersenyum mendengar obrolan kami. Ya, sampai kami kenal dengan penjualnya, Rena sendiri cukup akrab. Bahkan dulu pernah sekali dia ikut kipas-kipas sate dengan gaya khasnya yang sok-sokan bisa bakar sate. Halah.
"Berapa tusuk mas?" Tanya Rena dengan dialek yang di-Madura-madura-kan kepadaku saat dia iseng ikut mengipasi sate.
Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Pede bener ini bocah. Haha.
Seusai makan kuantar dia pulang ke kosannya. Ya, kami sama-sama anak kos, anak perantauan yang mengadu nasib di kota. Rena bekerja di sebuah bengkel mobil di kota ini. Bukan sebagai montir, dia ada di belakang meja sebagai akuntan. Sedangkan aku kerja di hotel, sebagai staff di manajemen.
'ckkkiiiiiiitttttttttttttt'
Seketika kuinjak rem dalam-dalam ketika muncul seorang pejalan kaki melintas di depan mobilku yang sedang melaju. Si pejalan sialan sukses membuyarkan kenangan yang sedang kurangkai.
"Matamu! Asu! Utekmu njebluk nang silit! (trans.-Matamu! Anjing! Otakmu meledak di anus!)" Sontak aku mengeluarkan kata-kata makian yang aku yakin takkan terdengar dari luar akibat kedapnya kabin.
Bisa saja si penyeberang jalan tadi terpental jauh jika aku tak beruntung melihat penampakannya. Bisa saja dia menderita patah tulang, mungkin kakinya bis pengkor, ususnya terburai, atau kepalanya bocor akibat beradu keras dengan aspal jalanan. Hmm, tapi ini hanya selintas pikiran yang muncul begitu saja. Di dunia nyata, kuharap dia tetap hidup walaupun di jalanan dia tak berguna.
Kini kulajukan mobilku lebih pelan, berjaga-jaga jika ada penyeberang laknat lain yang melintas.
Kubelokkan mobilku ke arah parkir kosan. Ini kos-kosan yang baru 3 tahun kuhuni. Semenjak aku punya mobil, aku pindah ke kosan yang punya lahan parkir. Otomatis dong?
Kulihat Mazda 2 merah Mas Rian sudah terparkir di ujung, tepat di depan kamarnya. Syukurlah, setidaknya tak perlu kutaruh mobilku terlalu mepet dinding, toh biasanya aku yang bangun lebih dulu jika Mas Rian butuh mengeluarkan mobilnya.
Kuputar gagang pintu kamarku yang berada di lantai 2 dan hanya berkunci tunggal. Sebenarnya tidak ada yang istimewa juga di dalam kamar yang perlu dikhawatirkan akan hilang. Barang-barang pribadiku hanya 1 biji gitar akustik elektrik dan 2 biji gitar elektrik dengan beberapa stompboxyang masih berserakan di lantai. Sisanya hanya bawaan kamar kos berupa smart TV, AC dan kulkas mini yang kuisi beberapa botol bir.
Kurogoh rokok dan korekku di dalam tas dan melemparkan sisanya begitu saja ke atas meja. Jemariku mulai menari membuka kuncian ponsel 'pribadiku' dan memeriksa beberapa pemberitahuan yang muncul di notification bar sembari tangan yang lain menjepit sebatang rokok. Kusebut ini ponsel 'pribadi' karena ponsel satunya khusus untuk urusan kantor dan kucantumkan nomornya sebagai salah satu nomor tujuan untuk menanggapi keluhan tamu.
"Kapan terakhir aku makan..." aku bergumam sendiri sambil coba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bertemu karbohidrat.
Sepertinya aku baru sarapan siangsaja di hotel tadi. Pantas saja perutku keroncongan. Segera kugulir menu kontak dan kutekan tombol dial.
"Pak, pesen nasgor 1 ya, pedes. Ntar dicantol aja di gagang pintu. Saya mau mandi soalnya. Uangnya di tempat biasa. Harganya masih sama kan? hehe," Kataku sejurus kemudian setelah lawan bicaraku mengangkat telepon.
"Oke mas, siap, harga masih sama, spesial pokoknya deh," terdengar jawaban dari sisi lain telepon.
Rasanya tak sabar untuk menerima guyuran air hangat malam ini. Sekedar untuk sedikit mengurangi kelelahan yang kurasakan.
Dengan masih berkalung handuk yang basah hasil mengusap tubuhku paska mandi, kubuka pintu kamarku dan mendapati sebuah bungkusan berbalut plastik hitam yang menggantung di gagang pintu. Masih hangat kurasakan.
Belum sempat kusuap sendok nasi goreng pertamaku, nada dering ponsel pribadiku berbunyi. Kulihat ada nama 'Ardi' sebagai nama penelepon.
"Piye su? (trans.- gimana njing?) ngganggu orang makan aja," kataku sambil kutempelkan ponselku di telinga kiri.
"Lha chatku aja nggak mbokbaca, yo tak telpon, haha," kudengar suara Ardi yang menjawab seraya tertawa ringan.
"Piye-piye?"
"Besok siang ke rumah Doni, jangan lupa, jangan sampe telat latihan. Doni mau pamer pedal baru katanya tuh, ntar ngambek kalo kita telat," Ardi nyerocos.
"Oke-oke.. santai lho, kapan aku pernah telat? tapi besok aku mau mampir shopdulu, cadangan senarku abis," Jawabku kemudian.
Shop merupakan istilahku untuk menyebut toko alat musik yang biasa kusambangi sekedar untuk membeli beberapa kebutuhan.
"Oke su, yo wes sesuk meneh(trans.- Oke njing, ya sudah, sampe besok)," Tutup Ardi.
Langsung dia tutup teleponnya dan menyisakan wallpaper ponselku yang berisi fotoku bersama Rena.
Perut sudah kenyang. Nasi goreng dari warung depan kos sudah berpindah ke perutku. Sebagai ahli hisap profesional, langsung kusulut sebatang Marlborosembari kupangku gitar akustik elektrikku. Kusendandungkan beberapa lagu populer yang kutahu sambil sesekali kusela dengan menenggak bir dingin. Rokok, gitar, dan bir. Sungguh perpaduan yang indah di malam hari ini. Sabtu ini masih berada di minggu pertama bulan ini, berarti tajuk kafe untuk besok malam masih rockmantic, sebuah tema khusus di minggu pertama tiap bulan dimana kami memainkan lagu-lagu rock saat live performance. Seharusnya ada sisi romantisnya jika melihat judul tema. Tapi kami terbiasa untuk tidak terlalu peduli dengan istilah 'rockmantic' yang diusung oleh kafe tempat kami main.
Dengan mengusung tema rockmantic, toh kami tetap membawakan lagu-lagu seperti Final Countdown-nya Europe, Welcome to the Junglemilik Guns 'n Roses, atau Have a Nice Day-nya Bon Jovi yang jika diperhatikan hampir tak ada romantis-romantisnya.
Kuhempaskan tubuhku ke bed dan mulai kunyalakan TV. Tak ada acara khusus yang sedang kunantikan. Kupilih saja channel yang ada secara acak. Sekedar untuk mengisi suara di dalam kamar yang lengang. Sebuah stasiun TV memutar acara talkshow dengan bintang tamu artis ibukota. Obrolan mereka sama sekali tak penting. Sesekali terdengar tawa bersahutan saat salah satu host melontarkan candaan-candaan receh.
Entah kuhabiskan berapa lama menonton TV. Sama sekali tak kulirik jam, begitu pula dengan channelnya, sama sekali tak kupindah semenjak kunyalakan.
Mataku mulai sayu. Beberapa kali kuubah posisi tubuhku. Dan tanpa sadar aku mulai jatuh tertidur, dengan TV dan lampu kamar yang masih terang menyala hingga pagi tiba.
Diubah oleh sunyigelumat 10-01-2023 10:25
benk.chibenk dan 4 lainnya memberi reputasi
5
7.1K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya