- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.4K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#464
Papa dan Mama memang selalu mendidik gue dan Dania untuk belajar hidup sederhana karena harta adalah sesuatu yang tidak abadi. Kenikmatan berupa materi yang kami rasakan dulu hanya titipan dari Tuhan untuk kami nikmati. Papa dan Mama terus mengajarkan untuk terus bersyukur, apapun kondisi keluarga kami nanti di masa depan.
Pun ketika kami berada di titik terendah dalam hidup kami semenjak kepergian Papa, Mama terus mengingatkan gue dan Dania untuk terus bersyukur dengan segala yang masih tersisa. “Bersyukur karena kita masih bisa hidup walaupun harus jual ini itu ya, Nak.” Sepeninggal Papa, Mama harus berjuang untuk move on ketika di sisi lain beliau harus memikirkan bagaimana Mama menghidupi dan melanjutkan pendidikan gue dan Dania.
Semua, terjadi di rumah ini.
Kadang memang, ketika gue terbentur sana sini karena keterbatasan materi yang gue miliki, gue suka menyalahkan keadaan. Buat apa perjuangan Papa selama ini? Kenapa Papa bisa sebodoh itu menaruh kepercayaan beliau? Kemana orang-orang tidak tahu diuntung itu? Tahu tidak mereka kalau kedua anak mantan bosnya yang sudah mati itu hampir putus sekolah bahkan mati karena tidak memiliki uang? Perasaan itu berulang kali muncul di diri gue yang berujung perandai-andaian di dalam benak gue “… seandainya Papa masih ada, mungkin gue udah …” and on and on.
“Mau sampe kapan lo ngebenci orang-orang itu?” tanya Emi suatu waktu.
“Lo itu ngerti nggak sih apa yang lagi gue bahas di sini? Apa yang gue rasain selama ini? Lo tau nggak gimana rasanya dikhianatin sampe lo hampir DO saking nggak punya duit? PERNAH NGGAK? NGGAK PERNAH KAN?! MAKANYA NGGAK USAH IKUTAN KOMEN! Lo itu sekolah di kampus kita gratis karena otak lo brilian, Mi. Lo harus inget itu!” Selalu keluar kalimat-kalimat kasar yang keluar dari mulut gue ketika Emi berusaha menenangkan gue.
“Gue emang nggak pernah ada di posisi lo. Tapi gue bisa kok ngebayangin gimana sakitnya perasaan lo saat itu bahkan sampe sekarang. Tapi coba lo pikir lagi sekarang, LO BISA APA KALAU EMANG LO BENCI MEREKA? Lo bisa ngomong sekarang ‘EH ANJ*NG! BANGS*T! LO BIKIN GUE MISKIN, SAT! LO HAMPIR BIKIN GUE MATI! GUE HAMPIR DO! NGERTI NGGAK LO baik!’ ke mereka suatu saat kalau lo ketemu. Terus, apa yang bisa mereka lakuin? Minta maaf? Apa abis mereka minta maaf rumah lo, harta lo, mobil lo, perhiasan nyokap lo, atau bahkan bokap lo bisa balik lagi?”
“………”
“Gue tanya sekali lagi. Bisa nggak itu semua balik kalau mereka udah minta maaf? Emang mereka bisa apa lagi selain minta maaf? Balikin semua duit yang mereka bawa kabur? Atau lo mau urus ini ke polisi? Emang yakin bisa muter balikin semua kehidupan lo? Nggak kan? Jadi buat apa lo mendam kebencian lo itu?”
“Bisa gila gue kalau gue nggak ngeluarin emosi gue kali!”
“Gue paham banget. Itu yang ngebuat lo akhirnya temperamen dan meluap-luap emosinya. Karena lo selalu nahan emosi lo dan sekalinya nggak terbendung, jadinya meledak-ledak nggak karuan dan terus nyari kambing hitam atas perasaan lo…”
“Your point?”
“Kalau lo mau bales dendam atas kebencian lo, ya move on. Tunjukin kalau lo dan keluarga lo bisa hidup WALAUPUN TANPA warisan dari bokap lo. Lo bisa jadi sesuatu yang lo impikan dari dulu, walaupun lo harus mulai dari nol lagi tanpa keluarga lo. Waktu dan emosi yang lo pupuk hanya buat nabung kalimat kebencian atau memori kebencian lo itu cuma sia-sia. Waktu lo bisa lo pake buat ngerjain yang lain yang sekiranya lebih guna buat ngejar apapun yang jadi mimpi lo.”
“Easy for you to say.”
“Karena itu yang gue lakuin buat para pembully gue dulu, Zy. Gue cuma bisa berlindung di rumah gue pas mereka ngebully gue abis-abisan. Gue benci mereka. Gue sangat ngebenci mereka karena mereka bikin gue takut di rumah. Tapi apa? Gue buktiin kalau mereka salah. Gue dikenal di sekolah, gue berprestasi di bidang yang gue suka, dan gue punya nama di dunia maya WALAUPUN pake nama samaran gue. Dan lo juga…”
“Kok gue?”
“Bohong kalau gue nggak benci sama lo karena lo berulang kali nyakitin perasaan gue?”
“Gue not in the mood for that f*cking talk.”
“Dengerin dulu…”
“………”
“Tapi jauh di dalem hati gue, gue selalu percaya kalau lo itu the one di hidup gue. Lo itu cowok yang gue sayang dan cinta. Lo itu bukan orang yang gagal. Lo itu bisa berubah. Lo adalah orang yang serius mencintai gue apa adanya. Dan gue di sini mau ngebuktiin kalau rasa benci gue itu salah. Lo itu cuma LAGI salah jalan aja. Lo tau kok jalan pulang. Lo tau kok siapa yang selama ini ngedukung lo. Lo sadar siapa aja yang selalu percaya sama lo. Sekali lagi, lo selalu tau dimana tempat yang lo sebut ‘rumah’.”
“………”
“Kalau gue emang nurutin emosi gue buat terus ngebenci lo? Ngapain gue terus ngedampingin lo? Mending gue move on nyari cowok lain yang lebih hebat dari lo bukan? Tapi gue ngebohongin diri gue juga kalau cowok yang gue cinta itu lo. Terus gue nggak yakin tuh bakal bener-bener cinta nggak sama orang itu? Kenapa? Karena mereka cuma pelarian. Pelarian dari gue yang CUMA BERUSAHA bikin lo nyesel sebagai bentuk bales dendam gue… Paham sampe di sini?”
“Iya.”
“Sini peluk dulu. Jangan pernah tunjukin ke orang lain lagi apa yang bikin lo lemah kayak sekarang gini. Cukup gue aja yang tau. Cukup lo keluarin aja unek-unek lo ke gue. Orang lain cukup tau gimana strong-nya lo dan lo bisa move on buat ngebahagiain semua yang ada di sekeliling lo. Lo bukan orang yang gagal…”
Obrolan dengan Emi saat itu terus melekat di dalam benak gue. Gue jadi bisa mulai menyingkirkan kebencian gue pada mereka dan fokus pada hidup gue. Saat Papa pergi, gue sudah belajar hidup sederhana. Tapi bersama Emi, gue lebih diajari yang namanya kesederhanaan, opportunity cost, dan mengenal segala sesuatu yang belum pernah gue tau selama ini. Emi membuat gue sibuk mengurus hal lain tanpa terus balik ke kebencian gue itu. Gue nggak mau jadi orang yang kalah dari mereka. Walaupun kini, gue semakin sulit percaya pada siapapun.
Benar kata Emi, kalau Emi menyerah dan pergi meninggalkan gue, mungkin gue masih stuck di kehidupan gue sembari terus mencari orang yang benar-benar cocok di hidup gue. Gue akan mencari dan mencoba memulai hubungan dengan mereka yang gue inginkan. Tapi mungkin, ketika gue menemukan satu hal di orang lain yang ternyata hal tersebut gue butuhkan, gue akan pergi meninggalkan orang tersebut. Terus seperti itu. Bisa sampe tua kali gue belum nikah.
Tapi ketika bertemu Emi, opportunity cost yang gue rasakan hanya sedikit. 99% match lah kalau bisa dibilang. Apapun yang gue butuhkan dan inginkan, ada di dalam diri Emi. Termasuk ketika jiwa di dalam diri ini ingin berkelana sebagai seorang cassanova, dia tidak pernah pergi. Entah apa ada orang lain seperti Emi lagi di luar sana.
Emi adalah rumah baru di hidup gue. Rumah yang jadi pelindung diri ini yang penuh kebencian akan masa lalu. Rumah yang jadi pelindung diri ini yang kadang takut menghadapi kenyataan kalau ternyata jalan hidup gue berbeda dengan Papa. Rumah yang jadi penyemangat diri ini yang sering kali rapuh karena anggapan kalau gue adalah orang yang gagal. Rumah ini tempat gue berkeluh kesah dan beristirahat. Sungguh beruntung gue dapat bertemu dan mencintai Emi.
Emi selalu bisa mengajarkan gue arti kata pulang. Ketika rumah yang seharusnya menjadi zona nyaman gue tidak lagi dapat diandalkan, Emi dan keluarganya mau menerima gue. Gue selalu diberikan kehangatan layaknya anggota keluarga sendiri. Tapi itu bisa saja tidak akan terjadi kalau Papanya Emi tau anaknya diperlakukan seperti apa oleh gue di masa lalu. Itu adalah ketakutan terbesar gue.
Gue takut Emi akan menceritakan semuanya. Emi adalah Emi. Orang yang tidak akan begitu saja koar-koar untuk sesuatu yang sifatnya sangat personal. Jadi gue selalu percaya kalau Emi akan menyelesaikan masalah pribadinya sendiri dan tidak melibatkan siapapun. Apalagi, kedua orang tua Emi sudah berumur. Takutnya malah ada kejutan lain, jika Emi cerita semua kejadian tidak menyenangkan yang gue lakukan ke anak mereka selama ini.
Emi dan keluarganya selalu bisa datang dalam keheningan hati gue dan menyapa gue dalam sepi. Emi bisa mengisi kesepian gue dan bisa membuat gue mengerti apa arti kata pulang, dalam versi lebih kekinian. Gue mampu melihat sebuah cahaya dalam suara Emi yang mengiringi langkah otak gue dalam menjalani perjalanan kehidupan gue yang banyak melewati ruang gelap.
Emi selalu meminta gue untuk kembali ketika gue jauh, ketika gue selalu mencari arah yang salah, bahkan ketika gue didekatnya dan merusak kepercayaannya. Emi mampu dan selalu bisa untuk mengubah semuanya. Itulah kenapa ketika nanti saatnya gue menikah, gue akan pulang ke rumah. Rumah dimana Emi berada. Rumah dimana hati besar penuh goresan luka milik Emi selalu tersimpan rapat. Rumah dimana Emi selalu merasa gue adalah yang terbaik baginya.
(EMI CHAT)
See? Saking emosinya gue dengan pikiran gue sendiri, gue sampai bersikap kasar pada Emi. Emi yang bercerita kalau teman-teman Crocodile dia menerima dengan lapang dada berita lamaran kami membuat gue emosi. Sebagaimana emosinya gue dengan pikiran gue sendiri. Tapi apa? Gue terus melampiaskannya pada Emi. Dan dia tidak pernah berhenti mencintai gue. Nikmat apa yang harus gue dustakan lagi?
---
“Udah siap kan ya semuanya?” tanya gue pada Emi yang tengah memasukkan tas carrier kami ke dalam bagasi belakang.
“Udah InsyaAllah.” jawab Emi semangat. “Ini berkas…” Dia membuka pintu penumpang paling depan dan duduk di sana. “Jadi jangan disimpen di belakang. Semua berkas kita udah lengkap semua di sini.”
“Mama sama Papa tetep ikut jadinya?”
“Iya.”
“Kenapa mesti ikut sih? Kan cuma ngurus administrasi doang. Nggak percaya banget anaknya bisa ngurus administrasi begitu sendirian? Gue udah gede kali di sini. Administrasi gue kemaren gue urus sendiri loh.”
“Mereka maunya ikut, Zy.”
Gue menengok ke arah spion kiri gue. Gue bisa melihat bapaknya Emi mendorong ibunya yang tengah duduk di kursi roda. “Terus itu Mama tetep mau diangkut sana sini?”
“Ya mau gimana? Papa maunya kayak gitu. Papa yakin kok Mama kuat.”
“Papa aku pas sakit dulu, bener-bener di rumah loh. Kita punya kursi roda di rumah, tapi itu cuma buat beliau ngejemur di depan rumah. Nggak buat dia dibawa kesana sini. Kenapa nggak kita berdua aja sih yang ngurus? Ketakutan apaan? Takut kita main-main? Ya nggak mungkin lah, wong akadnya bentar lagi. Kita juga tau prioritas kali? Sumpah maksain banget bokap lo.”
“Tau sendiri kan Papa aku kalo udah ada kemauan pasti denial. Aku udah bilangin ke Papa supaya di rumah aja, kasian Mama diangkut sana sini. Mana Mama ngomongnya juga udah nggak jelas, badan sakit sana sini, kakinya juga udah mulai kaku juga gara-gara jarang digerakin, sekarang malah mau diajak perjalanan jauh begini. Kalau acara akad nikahnya nggak apa-apa lah, sekali kan seumur idup? Tapi masa ngurus administrasi 2 hari doang juga mesti ngikut?”
“Kita nginepnya di rumah saudara lo kan?”
“Lah iya. Soalnya ngapain nyewa hotel kalau saudara gue juga pada tau kalau gue mau kesana.”
“Apaan lagi coba yang dikhawatirin? Suseh boomer emang. Ntar aku cuma takutnya Mama malah nge-drop lagi. Entar malah nggak kuat dateng di hari H gimana? Lagian ngapain sih bokap ngotot banget mau ikutan?”
“Soalnya Papa mikirnya Mama kuat dan nggak akan kenapa-kenapa kalo diajak. Sekalian mereka kan udah lama banget nggak jalan jauh gitu. Jadi sekalian refreshing gitu lah, KATANYA.”
“Iya refreshing tapi malah beresiko buat bikin nyokap tambah parah. Denial banget asli bapak lo, Mi.”
Gue masih tidak habis pikir kenapa Papanya Emi ini begitu ngotot. Tidak hanya soal urusan mau mengangkut ibunya Emi untuk bepergian jauh ke kampung halaman Emi mengurus urusan numpang nikah dan segala macamnya, tapi di nikahannya itu sendiri pun beliau ini seperti hambatan utama. Beliau ngotot sekali ingin mengadakan acara resepsi, tapi tidak sepeserpun membantu ataupun ikut memikirkan bagaimana solusi ketiadaan dana tersebut. Ini yang kadang membuat gue kecewa dengan keluarganya Emi, terutama bapaknya. Sudah dibicarakan baik-baik saja seringkali tetap pada keputusannya untuk memaksakan segalanya.
Terlalu denial kalau menurut gue.
Oke gue paham sekali bahwa Emi adalah anak satu-satunya, makanya beliau ingin sekali ada kenangan di pernikahan. Tetapi masalahnya sekarang adalah, syarat menikah harus di kampung halaman Emi saja itu sudah cukup memberatkan, secara waktu dan secara finansial. Gue harus izin ke kantor dulu untuk cuti mengurus dokumen pernikahan yang serba konvensional di kampung halamannya. Gue pula yang harus menyetir kesana sendiri tanpa ada substitusi. Gue juga yang harus mengeluarkan ongkos bahan bakar, mobil pun mobil gue.
Semua sudah dibicarakan, tapi hasilnya tetap nihil, dengan alasan amanah neneknya Emi sebelum meninggal. Oke, disitu gue pikir bisa jadi celah untuk membicarakan masalah tidak perlu ada resepsinya. Nyatanya? Beliau tetap ngotot untuk diadakan resepsi di ibukota dan bahkan awalnya di kampung halamannya sendiri juga mau diadakan. Yang ini gue dengan tegas menolak, mengingat banyak saudara Emi sendiri yang sudah tidak berada di sana saat ini. Sisanya, semua argumen gue dan Emi mentah. Mentah dan tidak ada solusi bantuan sama sekali. Istilahnya, dia yang ngotot pakai pemikiran dia, tapi beban pekerjaan diserahkan ke gue dan Emi. Mau berdarah-darah seperti apapun urusannya dalam pengadaan uang agar resepsi terselenggara, beliau tak mau tahu. Pokoknya, harus ada. Titik. …… T*i!
Sekarang pun sama, orang stroke itu sudah sewajarnya untuk berdiam diri di rumah saja. Gue juga sudah menyakinkan bapaknya Emi kalau gue mampu mengurus ini itu semuanya berdua saja dengan Emi. Begitu pula dengan Emi. Tetapi, Bapaknya tetap ngotot dengan alasan ingin keluar dari rumah sesekali dan menikmati rasanya pulang kampung. Alasan tersebut terus digaungkan bahkan sebelum acara lamaran dilaksanakan.
“Pirji, ini Om udah siap. Si Mama juga tinggal diangkut buat dinaekin nih.” sahut Bapaknya Emi dari samping jendela mobil. Beliau sepertinya bersemangat sekali. Kadang melihatnya juga kasihan. Beliau hampir sama sekali tidak pernah kemana-mana selama bertahun-tahun sejak Mama Emi stroke.
“Iya, Om. Saya bantu masukin kursi rodanya ke dalem mobil.”
“Sabar ya, Zy.” bisik Emi tepat sebelum gue turun dari mobil untuk membantu bapaknya.
“Percuma juga kita banyak ngomong atau marah-marah. Nggak akan ngaruh juga. Terserah mereka aja. Yang penting udah gue ingetin ya.”
Perjalanan ke kampung halaman Emi pun di mulai.
Pun ketika kami berada di titik terendah dalam hidup kami semenjak kepergian Papa, Mama terus mengingatkan gue dan Dania untuk terus bersyukur dengan segala yang masih tersisa. “Bersyukur karena kita masih bisa hidup walaupun harus jual ini itu ya, Nak.” Sepeninggal Papa, Mama harus berjuang untuk move on ketika di sisi lain beliau harus memikirkan bagaimana Mama menghidupi dan melanjutkan pendidikan gue dan Dania.
Semua, terjadi di rumah ini.
Kadang memang, ketika gue terbentur sana sini karena keterbatasan materi yang gue miliki, gue suka menyalahkan keadaan. Buat apa perjuangan Papa selama ini? Kenapa Papa bisa sebodoh itu menaruh kepercayaan beliau? Kemana orang-orang tidak tahu diuntung itu? Tahu tidak mereka kalau kedua anak mantan bosnya yang sudah mati itu hampir putus sekolah bahkan mati karena tidak memiliki uang? Perasaan itu berulang kali muncul di diri gue yang berujung perandai-andaian di dalam benak gue “… seandainya Papa masih ada, mungkin gue udah …” and on and on.
“Mau sampe kapan lo ngebenci orang-orang itu?” tanya Emi suatu waktu.
“Lo itu ngerti nggak sih apa yang lagi gue bahas di sini? Apa yang gue rasain selama ini? Lo tau nggak gimana rasanya dikhianatin sampe lo hampir DO saking nggak punya duit? PERNAH NGGAK? NGGAK PERNAH KAN?! MAKANYA NGGAK USAH IKUTAN KOMEN! Lo itu sekolah di kampus kita gratis karena otak lo brilian, Mi. Lo harus inget itu!” Selalu keluar kalimat-kalimat kasar yang keluar dari mulut gue ketika Emi berusaha menenangkan gue.
“Gue emang nggak pernah ada di posisi lo. Tapi gue bisa kok ngebayangin gimana sakitnya perasaan lo saat itu bahkan sampe sekarang. Tapi coba lo pikir lagi sekarang, LO BISA APA KALAU EMANG LO BENCI MEREKA? Lo bisa ngomong sekarang ‘EH ANJ*NG! BANGS*T! LO BIKIN GUE MISKIN, SAT! LO HAMPIR BIKIN GUE MATI! GUE HAMPIR DO! NGERTI NGGAK LO baik!’ ke mereka suatu saat kalau lo ketemu. Terus, apa yang bisa mereka lakuin? Minta maaf? Apa abis mereka minta maaf rumah lo, harta lo, mobil lo, perhiasan nyokap lo, atau bahkan bokap lo bisa balik lagi?”
“………”
“Gue tanya sekali lagi. Bisa nggak itu semua balik kalau mereka udah minta maaf? Emang mereka bisa apa lagi selain minta maaf? Balikin semua duit yang mereka bawa kabur? Atau lo mau urus ini ke polisi? Emang yakin bisa muter balikin semua kehidupan lo? Nggak kan? Jadi buat apa lo mendam kebencian lo itu?”
“Bisa gila gue kalau gue nggak ngeluarin emosi gue kali!”
“Gue paham banget. Itu yang ngebuat lo akhirnya temperamen dan meluap-luap emosinya. Karena lo selalu nahan emosi lo dan sekalinya nggak terbendung, jadinya meledak-ledak nggak karuan dan terus nyari kambing hitam atas perasaan lo…”
“Your point?”
“Kalau lo mau bales dendam atas kebencian lo, ya move on. Tunjukin kalau lo dan keluarga lo bisa hidup WALAUPUN TANPA warisan dari bokap lo. Lo bisa jadi sesuatu yang lo impikan dari dulu, walaupun lo harus mulai dari nol lagi tanpa keluarga lo. Waktu dan emosi yang lo pupuk hanya buat nabung kalimat kebencian atau memori kebencian lo itu cuma sia-sia. Waktu lo bisa lo pake buat ngerjain yang lain yang sekiranya lebih guna buat ngejar apapun yang jadi mimpi lo.”
“Easy for you to say.”
“Karena itu yang gue lakuin buat para pembully gue dulu, Zy. Gue cuma bisa berlindung di rumah gue pas mereka ngebully gue abis-abisan. Gue benci mereka. Gue sangat ngebenci mereka karena mereka bikin gue takut di rumah. Tapi apa? Gue buktiin kalau mereka salah. Gue dikenal di sekolah, gue berprestasi di bidang yang gue suka, dan gue punya nama di dunia maya WALAUPUN pake nama samaran gue. Dan lo juga…”
“Kok gue?”
“Bohong kalau gue nggak benci sama lo karena lo berulang kali nyakitin perasaan gue?”
“Gue not in the mood for that f*cking talk.”
“Dengerin dulu…”
“………”
“Tapi jauh di dalem hati gue, gue selalu percaya kalau lo itu the one di hidup gue. Lo itu cowok yang gue sayang dan cinta. Lo itu bukan orang yang gagal. Lo itu bisa berubah. Lo adalah orang yang serius mencintai gue apa adanya. Dan gue di sini mau ngebuktiin kalau rasa benci gue itu salah. Lo itu cuma LAGI salah jalan aja. Lo tau kok jalan pulang. Lo tau kok siapa yang selama ini ngedukung lo. Lo sadar siapa aja yang selalu percaya sama lo. Sekali lagi, lo selalu tau dimana tempat yang lo sebut ‘rumah’.”
“………”
“Kalau gue emang nurutin emosi gue buat terus ngebenci lo? Ngapain gue terus ngedampingin lo? Mending gue move on nyari cowok lain yang lebih hebat dari lo bukan? Tapi gue ngebohongin diri gue juga kalau cowok yang gue cinta itu lo. Terus gue nggak yakin tuh bakal bener-bener cinta nggak sama orang itu? Kenapa? Karena mereka cuma pelarian. Pelarian dari gue yang CUMA BERUSAHA bikin lo nyesel sebagai bentuk bales dendam gue… Paham sampe di sini?”
“Iya.”
“Sini peluk dulu. Jangan pernah tunjukin ke orang lain lagi apa yang bikin lo lemah kayak sekarang gini. Cukup gue aja yang tau. Cukup lo keluarin aja unek-unek lo ke gue. Orang lain cukup tau gimana strong-nya lo dan lo bisa move on buat ngebahagiain semua yang ada di sekeliling lo. Lo bukan orang yang gagal…”
Obrolan dengan Emi saat itu terus melekat di dalam benak gue. Gue jadi bisa mulai menyingkirkan kebencian gue pada mereka dan fokus pada hidup gue. Saat Papa pergi, gue sudah belajar hidup sederhana. Tapi bersama Emi, gue lebih diajari yang namanya kesederhanaan, opportunity cost, dan mengenal segala sesuatu yang belum pernah gue tau selama ini. Emi membuat gue sibuk mengurus hal lain tanpa terus balik ke kebencian gue itu. Gue nggak mau jadi orang yang kalah dari mereka. Walaupun kini, gue semakin sulit percaya pada siapapun.
Benar kata Emi, kalau Emi menyerah dan pergi meninggalkan gue, mungkin gue masih stuck di kehidupan gue sembari terus mencari orang yang benar-benar cocok di hidup gue. Gue akan mencari dan mencoba memulai hubungan dengan mereka yang gue inginkan. Tapi mungkin, ketika gue menemukan satu hal di orang lain yang ternyata hal tersebut gue butuhkan, gue akan pergi meninggalkan orang tersebut. Terus seperti itu. Bisa sampe tua kali gue belum nikah.
Tapi ketika bertemu Emi, opportunity cost yang gue rasakan hanya sedikit. 99% match lah kalau bisa dibilang. Apapun yang gue butuhkan dan inginkan, ada di dalam diri Emi. Termasuk ketika jiwa di dalam diri ini ingin berkelana sebagai seorang cassanova, dia tidak pernah pergi. Entah apa ada orang lain seperti Emi lagi di luar sana.
Emi adalah rumah baru di hidup gue. Rumah yang jadi pelindung diri ini yang penuh kebencian akan masa lalu. Rumah yang jadi pelindung diri ini yang kadang takut menghadapi kenyataan kalau ternyata jalan hidup gue berbeda dengan Papa. Rumah yang jadi penyemangat diri ini yang sering kali rapuh karena anggapan kalau gue adalah orang yang gagal. Rumah ini tempat gue berkeluh kesah dan beristirahat. Sungguh beruntung gue dapat bertemu dan mencintai Emi.
Emi selalu bisa mengajarkan gue arti kata pulang. Ketika rumah yang seharusnya menjadi zona nyaman gue tidak lagi dapat diandalkan, Emi dan keluarganya mau menerima gue. Gue selalu diberikan kehangatan layaknya anggota keluarga sendiri. Tapi itu bisa saja tidak akan terjadi kalau Papanya Emi tau anaknya diperlakukan seperti apa oleh gue di masa lalu. Itu adalah ketakutan terbesar gue.
Gue takut Emi akan menceritakan semuanya. Emi adalah Emi. Orang yang tidak akan begitu saja koar-koar untuk sesuatu yang sifatnya sangat personal. Jadi gue selalu percaya kalau Emi akan menyelesaikan masalah pribadinya sendiri dan tidak melibatkan siapapun. Apalagi, kedua orang tua Emi sudah berumur. Takutnya malah ada kejutan lain, jika Emi cerita semua kejadian tidak menyenangkan yang gue lakukan ke anak mereka selama ini.
Emi dan keluarganya selalu bisa datang dalam keheningan hati gue dan menyapa gue dalam sepi. Emi bisa mengisi kesepian gue dan bisa membuat gue mengerti apa arti kata pulang, dalam versi lebih kekinian. Gue mampu melihat sebuah cahaya dalam suara Emi yang mengiringi langkah otak gue dalam menjalani perjalanan kehidupan gue yang banyak melewati ruang gelap.
Emi selalu meminta gue untuk kembali ketika gue jauh, ketika gue selalu mencari arah yang salah, bahkan ketika gue didekatnya dan merusak kepercayaannya. Emi mampu dan selalu bisa untuk mengubah semuanya. Itulah kenapa ketika nanti saatnya gue menikah, gue akan pulang ke rumah. Rumah dimana Emi berada. Rumah dimana hati besar penuh goresan luka milik Emi selalu tersimpan rapat. Rumah dimana Emi selalu merasa gue adalah yang terbaik baginya.
(EMI CHAT)
Quote:
See? Saking emosinya gue dengan pikiran gue sendiri, gue sampai bersikap kasar pada Emi. Emi yang bercerita kalau teman-teman Crocodile dia menerima dengan lapang dada berita lamaran kami membuat gue emosi. Sebagaimana emosinya gue dengan pikiran gue sendiri. Tapi apa? Gue terus melampiaskannya pada Emi. Dan dia tidak pernah berhenti mencintai gue. Nikmat apa yang harus gue dustakan lagi?
---
“Udah siap kan ya semuanya?” tanya gue pada Emi yang tengah memasukkan tas carrier kami ke dalam bagasi belakang.
“Udah InsyaAllah.” jawab Emi semangat. “Ini berkas…” Dia membuka pintu penumpang paling depan dan duduk di sana. “Jadi jangan disimpen di belakang. Semua berkas kita udah lengkap semua di sini.”
“Mama sama Papa tetep ikut jadinya?”
“Iya.”
“Kenapa mesti ikut sih? Kan cuma ngurus administrasi doang. Nggak percaya banget anaknya bisa ngurus administrasi begitu sendirian? Gue udah gede kali di sini. Administrasi gue kemaren gue urus sendiri loh.”
“Mereka maunya ikut, Zy.”
Gue menengok ke arah spion kiri gue. Gue bisa melihat bapaknya Emi mendorong ibunya yang tengah duduk di kursi roda. “Terus itu Mama tetep mau diangkut sana sini?”
“Ya mau gimana? Papa maunya kayak gitu. Papa yakin kok Mama kuat.”
“Papa aku pas sakit dulu, bener-bener di rumah loh. Kita punya kursi roda di rumah, tapi itu cuma buat beliau ngejemur di depan rumah. Nggak buat dia dibawa kesana sini. Kenapa nggak kita berdua aja sih yang ngurus? Ketakutan apaan? Takut kita main-main? Ya nggak mungkin lah, wong akadnya bentar lagi. Kita juga tau prioritas kali? Sumpah maksain banget bokap lo.”
“Tau sendiri kan Papa aku kalo udah ada kemauan pasti denial. Aku udah bilangin ke Papa supaya di rumah aja, kasian Mama diangkut sana sini. Mana Mama ngomongnya juga udah nggak jelas, badan sakit sana sini, kakinya juga udah mulai kaku juga gara-gara jarang digerakin, sekarang malah mau diajak perjalanan jauh begini. Kalau acara akad nikahnya nggak apa-apa lah, sekali kan seumur idup? Tapi masa ngurus administrasi 2 hari doang juga mesti ngikut?”
“Kita nginepnya di rumah saudara lo kan?”
“Lah iya. Soalnya ngapain nyewa hotel kalau saudara gue juga pada tau kalau gue mau kesana.”
“Apaan lagi coba yang dikhawatirin? Suseh boomer emang. Ntar aku cuma takutnya Mama malah nge-drop lagi. Entar malah nggak kuat dateng di hari H gimana? Lagian ngapain sih bokap ngotot banget mau ikutan?”
“Soalnya Papa mikirnya Mama kuat dan nggak akan kenapa-kenapa kalo diajak. Sekalian mereka kan udah lama banget nggak jalan jauh gitu. Jadi sekalian refreshing gitu lah, KATANYA.”
“Iya refreshing tapi malah beresiko buat bikin nyokap tambah parah. Denial banget asli bapak lo, Mi.”
Gue masih tidak habis pikir kenapa Papanya Emi ini begitu ngotot. Tidak hanya soal urusan mau mengangkut ibunya Emi untuk bepergian jauh ke kampung halaman Emi mengurus urusan numpang nikah dan segala macamnya, tapi di nikahannya itu sendiri pun beliau ini seperti hambatan utama. Beliau ngotot sekali ingin mengadakan acara resepsi, tapi tidak sepeserpun membantu ataupun ikut memikirkan bagaimana solusi ketiadaan dana tersebut. Ini yang kadang membuat gue kecewa dengan keluarganya Emi, terutama bapaknya. Sudah dibicarakan baik-baik saja seringkali tetap pada keputusannya untuk memaksakan segalanya.
Terlalu denial kalau menurut gue.
Oke gue paham sekali bahwa Emi adalah anak satu-satunya, makanya beliau ingin sekali ada kenangan di pernikahan. Tetapi masalahnya sekarang adalah, syarat menikah harus di kampung halaman Emi saja itu sudah cukup memberatkan, secara waktu dan secara finansial. Gue harus izin ke kantor dulu untuk cuti mengurus dokumen pernikahan yang serba konvensional di kampung halamannya. Gue pula yang harus menyetir kesana sendiri tanpa ada substitusi. Gue juga yang harus mengeluarkan ongkos bahan bakar, mobil pun mobil gue.
Semua sudah dibicarakan, tapi hasilnya tetap nihil, dengan alasan amanah neneknya Emi sebelum meninggal. Oke, disitu gue pikir bisa jadi celah untuk membicarakan masalah tidak perlu ada resepsinya. Nyatanya? Beliau tetap ngotot untuk diadakan resepsi di ibukota dan bahkan awalnya di kampung halamannya sendiri juga mau diadakan. Yang ini gue dengan tegas menolak, mengingat banyak saudara Emi sendiri yang sudah tidak berada di sana saat ini. Sisanya, semua argumen gue dan Emi mentah. Mentah dan tidak ada solusi bantuan sama sekali. Istilahnya, dia yang ngotot pakai pemikiran dia, tapi beban pekerjaan diserahkan ke gue dan Emi. Mau berdarah-darah seperti apapun urusannya dalam pengadaan uang agar resepsi terselenggara, beliau tak mau tahu. Pokoknya, harus ada. Titik. …… T*i!
Sekarang pun sama, orang stroke itu sudah sewajarnya untuk berdiam diri di rumah saja. Gue juga sudah menyakinkan bapaknya Emi kalau gue mampu mengurus ini itu semuanya berdua saja dengan Emi. Begitu pula dengan Emi. Tetapi, Bapaknya tetap ngotot dengan alasan ingin keluar dari rumah sesekali dan menikmati rasanya pulang kampung. Alasan tersebut terus digaungkan bahkan sebelum acara lamaran dilaksanakan.
“Pirji, ini Om udah siap. Si Mama juga tinggal diangkut buat dinaekin nih.” sahut Bapaknya Emi dari samping jendela mobil. Beliau sepertinya bersemangat sekali. Kadang melihatnya juga kasihan. Beliau hampir sama sekali tidak pernah kemana-mana selama bertahun-tahun sejak Mama Emi stroke.
“Iya, Om. Saya bantu masukin kursi rodanya ke dalem mobil.”
“Sabar ya, Zy.” bisik Emi tepat sebelum gue turun dari mobil untuk membantu bapaknya.
“Percuma juga kita banyak ngomong atau marah-marah. Nggak akan ngaruh juga. Terserah mereka aja. Yang penting udah gue ingetin ya.”
Perjalanan ke kampung halaman Emi pun di mulai.
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
dan bintang 5 
