Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.8K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#459
Jelang Final_Part 3b
Kini keluarga Emi tengah mempersilakan para tamu untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan di teras rumah mereka. Makanan khas prasmanan di acara nikahan kini ada di hadapan kami semua. Kenikmatan yang tidak bisa gue tolak. Semua orang tidak ragu lagi untuk menyantap hidangan tersebut, termasuk keluarga gue. Siapa sangka kalau semua hidangan tersebut adalah handmade buatan uwa dan bibinya Emi. Tapi gue tidak bisa menyantap banyak karena gue tidak ingin kehilangan momen penting yang tengah terjadi di ruang tamu Emi saat itu, pembicaraan mengenai acara akad nikah dan resepsi pernikahan kami.

“Jadi seperti yang mungkin udah pernah dibahas sebelumnya sama Emi dan Pirji, akad nikah nanti mau diadakan di kampung halaman kami karena adanya amanah dari ayah dan ibu saya…” Buka bapaknya Emi. “Nah kira-kira apa sampai saat ini ada yang keberatan dari pihaknya Pirji untuk rencana ini?”

Tidak terlihat ada kekhawatiran dari raut wajah Mama, Om Reza, dan Om Dani. Namun, tidak dengan saudara gue yang lain. “Kampung halaman Emi di mana emang? Ke sana nanti naik apa? Emang akad nikahnya hari apa? Akad nikahnya di hari yang sama bareng resepsinya apa gimana?” dan banyak pertanyaan lain yang dilontarkan oleh keluarga besar gue.

Mama, Om Reza, Om Dani, dan perwakilan keluarga Emi pun bermusyawarah terkait hal ini. Keluarga Emi memang tidak dapat menyediakan kamar untuk seluruh keluarga gue. Namun kalau berkenan, jika ada perwakilan seperti Mama, keluarga Om Reza, dan keluarga Om Dani saja yang butuh kamar, bisa disediakan oleh keluarga Emi.

Om Asep mengingatkan kami semua jika pun mereka menyebutkan ‘kampung halaman’, namun rumah keluarga Emi terletak di pusat kota dari kabupaten mereka itu sendiri. Ada hotel bintang 4 di sana. Jadi kalau sekiranya berkenan, beliau bersedia membantu untuk dicarikan penginapan oleh keluarganya Emi. Sepertinya Om Asep melihat dari gaya berbusana, tutur kata dan segala macam atribut yang menempel di keluarga besar gue, semuanya terkesan high class.

Diskusi terus berlanjut mengenai persiapan akad nikah kami. Keluarga Emi meminta agar keluarga gue tidak turut ikut hadir lengkap di akad nikah kami karena lokasinya yang cukup jauh. “Toh hanya akad nikah saja, tanpa resepsi. Resepsi insyaAllah akan diadakan di ibukota.” janji dari bapaknya Emi yang cukup membuat bulu kuduk gue merinding. Emang kami (gue dan Emi) janji bakalan ada resepsi? Hahaha.

Lalu kemudian, “InsyaAllah keluarga besar kami akan hadir lengkap di acara akad nikah Firzy nanti. Tanpa terkecuali.” Tegas Bang Ozy yang sedari tadi duduk di depan pintu menyimak perbincangan kami. “Nanti itu urusan keluarga besar kami. Jangan sampai hanya urusan akomodasi, menghambat persiapan akad nikah Firzy.”

Om Reza tersenyum bangga ke arah Bang Ozy. “Good, Ozy! Siap! Jadi akad nikah sesuai tanggal dan lokasi kesepakatan ya. Untuk lokasi pasti akad nikah dan resepsinya nanti menyusul diinfokan sama Ija berarti ya?” tanya Om Reza pada gue.

“InsyaAllah besok Ija sama Emi survey kesana sekalian ngurusin administrasi numpang nikah, Om.” Gue sengaja tidak membahas mengenai resepsi. Bukan karena gue lupa saking groginya. Tetapi karena gue memang enggan membahas hal tersebut.

Good! Berarti sudah case closed ya! Sekarang saatnya saya mengenal lebih dekat keluarga Emi.” Bahasan berubah menjadi lebih santai dan penuh bahasa daerah antara Sunda, Betawi, Jawa dan tentu saja Bahasa Indonesia. Gue dan Emi pamit undur diri untuk menyapa kawan-kawan kami yang sudah hadir ke acara kami ini.

Kami berdua merasa lega karena prosesi tukar cincin di jari manis kiri sudah selesai dan dilalui dengan lancar. Senyum sumringah terpancar dari wajah kami berdua ketika kami menghampiri Tika dan teman-teman band kami.

“Congrats ya kalian berdua. I’m happy for both of you.” Ujar Tika tak kalah sumringah sembari memeluk erat Emi.

“Makasih banyak ya, Tik. Gue tau lo pasti jadi salah satu seksi paling sibuk di rumah ini. Hahaha. Kalo nggak, Emi nggak akan sepede itu tadi ngomongnya, Tik. Hahaha.” kata gue sembari merangkul Tika. Tenang saja, Tika ini tidak seperti cewek-cewek lain yang gue kenal. Dia tidak akan mendadak ke-geer-an karena gue rangkul seperti itu.

“Hahaha. Santai bro. Gue kan selalu jadi pendamping setia Emi. Inilah yang dinamakan sahabat sejati.”

“Hahaha iya ya. Bersyukur banget Emi punya sahabat yang setia banget kayak lo. Gue juga sih, beruntung gue punya mereka.” kata gue sambil menunjuk tenda di luar pagar rumah Emi dimana teman-teman Band gue dan pasangannya masing-masing menyantap hidangan yang tersedia.

“Iya, Emi juga suka cerita ke gue loh. Kalian hebat banget ya, belasan taun nge-band dan tetap temenan secara personal. Karena nih ya, gue ada beberapa teman yang anak band terkenal juga, mereka itu nggak deket secara personal, jadi ya udah selesai latian atau manggung, ya udah pulang. Kayak lagi kerja aja, kalo kerjaan selesai ya nggak ada haha hihi lagi sama teman kantor.”

“Iya, Tik. Bener kok kayak gitu. Banyak teman-teman band lain yang kayak gitu keadaannya. Makanya gue dan teman-teman, termasuk Emi, itu berusaha nge-treat band ini jadi kayak keluarga kedua. Nggak cuma teman kerja buat cari duit. Lagian gue ngeband lagi di umur segini kan bukan buat cari duit, Tik. Tapi cari refresh, short escape, dari rutinitas kerjaan. Utamanya sekalian jaga silaturahmi yang selama beberapa taun sempet renggang karena nggak ada urusan barengan kan. Makanya jadilah kita ngeband lagi.”

“Mantep deh, gue tuh pingin banget punya temen yang begini modelnya. Kayaknya seru gitu, sehobi, punya ketertarikan di bidang yang sama, punya skill juga di bidang itu, dan akhirnya malah bisa ngebangun chemistry band dengan baik. Gue juga udah liat beberapa video band lo di Youtube kok. Mainnya keren untuk bapak-bapak kayak kalian, hahaha.”

“Sial, gue belum bapak-bapak kali. Yang udah punya anak juga baru satu doang. Hahaha.”

Gue dan Tika terlibat dalam obrolan santai yang seru. Kemudian gue mengajak Tika berbaur dengan teman-teman band gue. Dasarnya orangnya mudah bergaul, Tika cepat sekali menemukan obrolan-obrolan seru dengan teman-teman gue. Terutama dengan Arko. Arko adalah orang yang paling mudah bergaul dengan siapapun diantara kami berempat. Hanya saja, ketika Tika mulai menyalakan rokoknya, teman-teman gue agak kaget awalnya, lalu kemudian ya biasa saja. Maklum, satu band gue tidak ada yang pernah merokok sedari awal gue kenal mereka semua.

Gue pun meninggalkan mereka dan bergabung dengan keluarga gue kembali yang masih berbincang-bincang santai dengan keluarga Emi. Gue mengambil makanan (lagi) lalu mengajak Emi untuk duduk di sebelah gue. Mumpung makan gratis, kenapa tidak bukan? Hahaha.

Ada pemandangan yang mungkin tidak biasa di lihat orang-orang ini sebelumnya. Gue dan Emi makan di piring yang sama di hadapan keluarga besar kami. Bagi kami, ini bukan hal yang luar biasa karena kami memang terbiasa demikian. Konsepnya sama sekali bukan ingin terlihat (sok) romantis. Jauh sekali dari itu. Konsepsi kami sederhana, biar tidak menyusahkan orang lain yang nantinya membereskan bekas makanan kami.

Ketika kami bisa makan di satu piring yang sama karena kami makan lauk yang sama, kenapa harus makan dengan dua piring? KECUALI kayak Emi si pemakan segala yang lagi mau makan seblak sedangkan gue mau makan nasi goreng. Jelas berbeda dan tidak mungkin ada di piring yang sama. Jadi, kami pasti tidak akan makan di piring yang sama. Kalau makanan yang dimakan sama, kenapa tidak makan bersama saja? Toh jadinya tidak merepotkan orang lain karena harus mencuci lebih banyak piring bukan? Tentunya kami membedakan sendok dan garpunya (dihadapan mereka), hanya piringnya saja yang bersama. Tetapi di belakang, ribet bro. Kami terbiasa suap-suapan. Hehehe.

Pemandangan seperti ini ternyata cukup membuat kami jadi pusat perhatian dan ada celetukan seperti “Yailah belom sehari tukeran cincin, udah romantis bener makannya. Segala sepiring berdua… Kebelet nikah banget ini namanya.” atau “Cieee~ Yang baru resmi lamaran udah lengket bener, makan aja barengan…” dan sejenisnya. Kami tidak komentar karena hal ini merupakan hal biasa bagi kami dan tidak ada yang spesial. Jadi kami hanya tersenyum sembari melanjutkan makan kami.

Aktivitas di rumah Emi berjalan cukup lama dan santai. Gue selalu melihat jam tangan gue. Sudah berapa lama gue dan keluarga gue berada di sini. Tidak ada yang mengeluh ingin segera pulang ataupun kesal karena acaranya terlalu lama. Gue tenang melihatnya. Mengapa demikian? Gue tidak ingin mengecewakan (lagi) keluarga besar Emi seperti waktu perkenalan dulu.

Gue tidak ingin hal tersebut terulang kembali. Sepertinya keluarga gue merasa nyaman berada di rumah ini. Semoga ini adalah pertanda baik bukan pertanda buruk karena sebenarnya saat ini mereka sedang berpura-pura. Gue tidak ingin banyak berpikir hal negatif. Untuk saat ini, gue sudah sangat lega semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan mudah-mudahan terus berjalan lancar seperti ini hingga hari H nanti.
laynard22
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.