- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.5K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#457
Jelang Final_Part 3a
Acara dimulai dengan Pembukaan oleh MC dimana (sepertinya) keluarga Emi meminta tolong kepada tetangga mereka untuk menjadi MC. Gue mengenal beliau sebagai tetangga yang bekerja palugada alias apa lu mau gue ada. Setiap tetangga lain butuh tenaga untuk suatu pekerjaan, beliau akan selalu menyanggupinya. Mulai dari kepanitiaan, juru parkir, hingga tim penjualan. Keren sudah pokoknya. Ya seperti saat ini, beliau sedang menjadi MC di acara lamaran gue dan Emi.
“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya iwal mursalin syaidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi aj ma’in. Amma ba’du. Yang saya hormati, Bapak Dedi, selaku orang tua dari Emilya Riva Oktariani. Yang saya hormati, Bapak Reza, selaku wali dari Firzy Widzviantra Andreano. Dan yang saya hormati kepada keluarga besar Bapak Dedi. Serta yang saya hormati kepada keluarga besar Bapak Reza yang sudah bersedia hadir dalam acara sesi lamaran Emilya dan Firzy hari ini.”
Setelah Pembukaan dari beliau, kini giliran Om Reza yang berbicara. Beliau menjadi wali di acara lamaran kali ini sebagai pengganti Papa. Om Reza menyampaikan maksud kedatangan kami ke rumah Emi pagi ini yang dijawab oleh MC dengan basa basi seakan mereka kaget dan tidak tahu menahu tujuan kedatangan mereka. Kalau tidak tahu, masa iya sampai memasang tenda di depan rumah dan mempersiapkan catering di teras depan rumah? Benar-benar basa basi. Hahaha. Klasik tapi menarik dan cukup membuat jantung gue berdegup kencang setiap kali mereka menyebut nama gue, Nak Firzy.
“Gimana, Pak Dedi? Udah jelas kan maksud dan tujuan Nak Firzy membawa seluruh keluarga besarnya ke rumah Bapak ini? Nak Firzy insyaAllah punya niat baik untuk melamar putri tunggal Bapak yang saat ini masih di umpetin dulu ya. Biar Nak Firzynya juga tambah degdegan menunggu jawaban dan kehadiran Nak Emilya. Hahaha. Untuk tau jawabannya, gimana kalau baiknya kita tanya langsung aja nih ya ke Nak Emilya-nya itu sendiri? Soalnya takutnya nih ya… Jawabannya Bapak Dedi berbeda nih sama jawaban dari Nak Emilya.” cerocos Pak MC seolah tidak tahu menahu.
“Wah jangan dong, Pak! Kakak-kakak saya udah tua-tua nih. Kasian jauh-jauh pingin ngedampingin keponakan kesayangan buat ngelamar calonnya. Masa ditolak? Sakit pinggangnya dapet, masa lamarannya nggak?”
Padahal ini adalah pengalaman pertama Om Reza di keluarga kecil mereka. Maklum Emran dan Edmiral masih belum menikah. Jadi, bisa dibilang gue melangkahi kedua anak kandung mereka. Apalagi ketika ternyata potongan rambut kami sama persis sehingga kami dianggap lebih cocok sebagai bapak dan anak.
Wait! Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama Om Reza. Dulu sekali, Om Reza juga pernah mewakili seseorang untuk meminang wanita yang beliau cintai. Siapa lagi kalau bukan Papa itu sendiri! Hahaha.
Dulu, Papa adalah sosok yang gemar sekali bergonta-ganti pacar. Namun, setiap kali berganti pacar, Papa akan mengajak calonnya tersebut ke rumah dan memperkenalkannya di hadapan keluarga. Keluarga besar selalu berpikir “Okay. She’s the one”, yang pada nyatanya tidak demikian. Lama kelamaan, keluarga besar lelah melihat dan mengenal cewek satu per satu yang dibawa Papa.
Akhirnya, ketika Papa memperkenalkan Mama ke keluarga, Om Reza segera bertindak. Ketika hubungan mereka berjalan selama beberapa waktu, beliau segera mempertanyakan keseriusan Papa terhadap Mama. Sebelum Papa ditinggalkan/meninggalkan cewek lain lagi, Om Reza segera memutus rutinitas tersebut. Setelah memastikan perasaan Papa, beliau menyegerakan dirinya untuk mendatangi rumah Mbah bersama Papa untuk melamar Mama.
Beda tapi sama. Bedanya kalau Papa harus take action karena dorongan dari Om Reza, sedangkan gue take action karena keinginan gue sendiri (dan dorongan dari Emi pastinya). Kalau bukan karena Emi akan meninggalkan gue, mungkin gue masih merasa belum siap untuk melamar dia. BUKAN MEMBATALKAN YA! Pokoknya gue tidak akan pernah boleh kehilangan dia!
Kesamaannya, kami sama-sama diwakilkan beliau untuk melamar kekasih hati kami. Beliau yang menjadi wajah keluarga besar kami di hadapan keluarga besar calon istri kami dan beliau juga yang menjadi pencair suasana di acara lamaran tersebut. Panjang umur ya, Om! Sehat terus! Mungkin suatu saat nanti, Ija bakalan minta pendampingan Om ketika Ija akan menikahkan anak Ija di masa depan. Amin. Biar hattrick, Om! Hahaha.
Berpikir demikian saja, sudah membuat ketegangan diri gue sedikit mereka. Gue tidak begitu mendengarkan pembicaraan basa basi mereka. Gue hanya merespon mereka dengan senyum template yang biasa digunakan di acara formal. Senyum cukup lebar tanpa menunjukkan gigi sembari sedikit menundukkan kepala setiap kali perhatian ditujukan ke arah gue. Ya senyum seperti ini lah :
Kebayang kan?
“Makanya… Yuk kita panggil aja Nak Emilya-nya. Kok kayaknya saya perhatiin Nak Firzy udah sumringah banget ya ingin ngeliat calonnya. Hahaha. Ayooo… Nak Emilya. Boleh keluar dari kamar…” Nah kan, padahal gue lagi sibuk sama pikiran gue sendiri eh dibilang gue yang sumringah excitedsendiri. Tapi tidak apa, gue memang sangat menunggu kehadiran Emi di ruangan ini. Hahaha.
Mungkin banyak orang yang akan bilang “Nanti lu bakalan kaget sama dandanan calon pasangan lu!” Kenapa harus kaget? Gue sudah menjalani hubungan percintaan dengan Emi lebih dari satu minggu!
Sudah banyak acara dan kegiatan yang kami lalui bersama. Bahkan gue sudah pernah melihat Emi dalam kondisi sekucel-kucelnya dia, sudah pernah melihat Emi ketika bangun tidur (Ups. Hahaha.), dan sudah pernah melihat Emi ketika dia berbalut make-up ala make-up artist ketika didandani di acara pernikahan Dania. Jadi, gue sudah berekspektasi kalau APAPUN DAN BAGAIMANAPUN kondisi calon istri gue nanti, itu adalah penampilan terbaik dia untuk gue.
Emi keluar dari dalam kamar. Dia keluar menggunakan baju batik yang kami beli kemarin dengan dandanan ala Emilya yang cukup sederhana sesuai kesukaan gue. Dia cantik seperti Emi yang gue kenal dan akan gue kenal seumur hidup gue.
Gue bisa melihat ketidaknyamanan Emi saat itu. Gue yakin, bukan karena Emi tidak berkenan dengan acara lamaran hari ini. Namun, Emi sangat membenci kondisi di mana dia menjadi pusat perhatian. Memang Emi tidak akan panic attack dimana dia akan jatuh pingsan atau semacamnya. Tetapi Emi terlihat sangat tidak nyaman. Apalagi nanti pasti dia diminta mewakili seluruh keluarga besarnya untuk menjawab lamaran gue ini. Gue harap Emi bisa menjalaninya. Gue yakin Emi bisa menjalaninya.
“Nah… MasyaAllah ya cantiknya Nak Emilya hari ini dan hari-hari biasanya. Ya nggak Nak Firzy? Hahaha. Eh sebentar… Ternyata udah janjian toh? Coba liat, baju batik yang dipake Nak Firzy sama persis sama Nak Emilya loh! Wah wah wah, kebetulan apa gimana ini? Hahaha.” Gue yakin, MC juga melihat hal yang sama dengan gue sehingga beliau mencoba mencairkan suasana dengan membahas pakaian yang kami gunakan.
“Wah lega berarti saya kalau gitu ceritanya. Semua ini udah dirancang dan rencanain dengan baik sama merekanya sendiri. Nggak perlu degdegan lagi dong saya? Hahaha.” Celetuk Om Reza. Sepertinya semua orang melihat ketegangan dari Emi. Tidak hanya gue.
“Tunggu sebentar, Pak Reza. Mari kita beri kesempatan untuk Nak Emilya secara resmi menjawab lamaran dari Nak Firzy. Gimana, Nak Emilya? Hari ini Nak Firzy ngeboyong seluruh keluarga besar beliau sembari membawa hantaran yang ada di hadapan kita semua untuk menunjukkan niat baik Nak Firzy yang ingin meminang Nak Emilya untuk jadi calon istri beliau. Apa Nak Emilya berkenan untuk menerima lamaran Nak Firzy ini? Silahkan dijawab Nak Emilya.”
“Andai ini bisa call-a-friend, gue bakalan bantu lo kok, Mi! Sorry!” teriak gue dalam hati. “Lo pasti bisa, Mi! Gue sangat yakin, lo pasti bisa!” Gue berusaha tersenyum pada dia biar dia yakin pada dirinya sendiri dan memberanikan diri dia. Memegang mic dan menjadi pusat perhatian adalah passion gue, bukan Emi.
“Hmm.” Hanya itu yang keluar dari bibir Emi, membuat keadaan semakin tegang.
“Gimana, Nak Emilya? Masih butuh waktu lagi atau bisa langsung dijawab? Boleh kok kalau mau kasih sepatah dua patah kata untuk Nak Firzy dan keluarga.”
Setelah dia diam selama kurang lebih 1 menit. Akhirnya Emi berani membuka suaranya. “Bismillahirahmanirrahim. Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih atas kedatangan Bang Firzy dan keluarga untuk niat baiknya. Terima kasih juga sudah karena sudah mempercayakan hatinya kepada saya. Terima kasih juga Bang Firzy yang sudah menemani saya selama beberapa tahun ini baik di saat suka maupun duka dan tidak pernah lelah berusaha membuat dan menjaga agar saya terus bahagia. Atas ridho dari Allah SWT dan diiringi oleh restu dari Papa dan Mama serta keluarga besar. saya bersedia menerima lamarannya.”
“Alhamdulillah!” ucap gue dan teriak beberapa saudara gue dari depan rumah Emi. Semuanya ternyata dapat merasakan ketegangan yang sama dengan gue. Hahaha. Gue lega, akhirnya tahap semi final ini sudah dapat gue lalui dengan baik. Satu langkah lagi sampai akhirnya gue bisa memenangkan hati kekasih hidup gue hanya jadi milik gue, untuk selamanya.
“Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya iwal mursalin syaidina wa maulana Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi aj ma’in. Amma ba’du. Yang saya hormati, Bapak Dedi, selaku orang tua dari Emilya Riva Oktariani. Yang saya hormati, Bapak Reza, selaku wali dari Firzy Widzviantra Andreano. Dan yang saya hormati kepada keluarga besar Bapak Dedi. Serta yang saya hormati kepada keluarga besar Bapak Reza yang sudah bersedia hadir dalam acara sesi lamaran Emilya dan Firzy hari ini.”
Setelah Pembukaan dari beliau, kini giliran Om Reza yang berbicara. Beliau menjadi wali di acara lamaran kali ini sebagai pengganti Papa. Om Reza menyampaikan maksud kedatangan kami ke rumah Emi pagi ini yang dijawab oleh MC dengan basa basi seakan mereka kaget dan tidak tahu menahu tujuan kedatangan mereka. Kalau tidak tahu, masa iya sampai memasang tenda di depan rumah dan mempersiapkan catering di teras depan rumah? Benar-benar basa basi. Hahaha. Klasik tapi menarik dan cukup membuat jantung gue berdegup kencang setiap kali mereka menyebut nama gue, Nak Firzy.
“Gimana, Pak Dedi? Udah jelas kan maksud dan tujuan Nak Firzy membawa seluruh keluarga besarnya ke rumah Bapak ini? Nak Firzy insyaAllah punya niat baik untuk melamar putri tunggal Bapak yang saat ini masih di umpetin dulu ya. Biar Nak Firzynya juga tambah degdegan menunggu jawaban dan kehadiran Nak Emilya. Hahaha. Untuk tau jawabannya, gimana kalau baiknya kita tanya langsung aja nih ya ke Nak Emilya-nya itu sendiri? Soalnya takutnya nih ya… Jawabannya Bapak Dedi berbeda nih sama jawaban dari Nak Emilya.” cerocos Pak MC seolah tidak tahu menahu.
“Wah jangan dong, Pak! Kakak-kakak saya udah tua-tua nih. Kasian jauh-jauh pingin ngedampingin keponakan kesayangan buat ngelamar calonnya. Masa ditolak? Sakit pinggangnya dapet, masa lamarannya nggak?”
Padahal ini adalah pengalaman pertama Om Reza di keluarga kecil mereka. Maklum Emran dan Edmiral masih belum menikah. Jadi, bisa dibilang gue melangkahi kedua anak kandung mereka. Apalagi ketika ternyata potongan rambut kami sama persis sehingga kami dianggap lebih cocok sebagai bapak dan anak.
Wait! Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama Om Reza. Dulu sekali, Om Reza juga pernah mewakili seseorang untuk meminang wanita yang beliau cintai. Siapa lagi kalau bukan Papa itu sendiri! Hahaha.
Dulu, Papa adalah sosok yang gemar sekali bergonta-ganti pacar. Namun, setiap kali berganti pacar, Papa akan mengajak calonnya tersebut ke rumah dan memperkenalkannya di hadapan keluarga. Keluarga besar selalu berpikir “Okay. She’s the one”, yang pada nyatanya tidak demikian. Lama kelamaan, keluarga besar lelah melihat dan mengenal cewek satu per satu yang dibawa Papa.
Akhirnya, ketika Papa memperkenalkan Mama ke keluarga, Om Reza segera bertindak. Ketika hubungan mereka berjalan selama beberapa waktu, beliau segera mempertanyakan keseriusan Papa terhadap Mama. Sebelum Papa ditinggalkan/meninggalkan cewek lain lagi, Om Reza segera memutus rutinitas tersebut. Setelah memastikan perasaan Papa, beliau menyegerakan dirinya untuk mendatangi rumah Mbah bersama Papa untuk melamar Mama.
Beda tapi sama. Bedanya kalau Papa harus take action karena dorongan dari Om Reza, sedangkan gue take action karena keinginan gue sendiri (dan dorongan dari Emi pastinya). Kalau bukan karena Emi akan meninggalkan gue, mungkin gue masih merasa belum siap untuk melamar dia. BUKAN MEMBATALKAN YA! Pokoknya gue tidak akan pernah boleh kehilangan dia!
Kesamaannya, kami sama-sama diwakilkan beliau untuk melamar kekasih hati kami. Beliau yang menjadi wajah keluarga besar kami di hadapan keluarga besar calon istri kami dan beliau juga yang menjadi pencair suasana di acara lamaran tersebut. Panjang umur ya, Om! Sehat terus! Mungkin suatu saat nanti, Ija bakalan minta pendampingan Om ketika Ija akan menikahkan anak Ija di masa depan. Amin. Biar hattrick, Om! Hahaha.
Berpikir demikian saja, sudah membuat ketegangan diri gue sedikit mereka. Gue tidak begitu mendengarkan pembicaraan basa basi mereka. Gue hanya merespon mereka dengan senyum template yang biasa digunakan di acara formal. Senyum cukup lebar tanpa menunjukkan gigi sembari sedikit menundukkan kepala setiap kali perhatian ditujukan ke arah gue. Ya senyum seperti ini lah :
Kebayang kan?
“Makanya… Yuk kita panggil aja Nak Emilya-nya. Kok kayaknya saya perhatiin Nak Firzy udah sumringah banget ya ingin ngeliat calonnya. Hahaha. Ayooo… Nak Emilya. Boleh keluar dari kamar…” Nah kan, padahal gue lagi sibuk sama pikiran gue sendiri eh dibilang gue yang sumringah excitedsendiri. Tapi tidak apa, gue memang sangat menunggu kehadiran Emi di ruangan ini. Hahaha.
Mungkin banyak orang yang akan bilang “Nanti lu bakalan kaget sama dandanan calon pasangan lu!” Kenapa harus kaget? Gue sudah menjalani hubungan percintaan dengan Emi lebih dari satu minggu!
Sudah banyak acara dan kegiatan yang kami lalui bersama. Bahkan gue sudah pernah melihat Emi dalam kondisi sekucel-kucelnya dia, sudah pernah melihat Emi ketika bangun tidur (Ups. Hahaha.), dan sudah pernah melihat Emi ketika dia berbalut make-up ala make-up artist ketika didandani di acara pernikahan Dania. Jadi, gue sudah berekspektasi kalau APAPUN DAN BAGAIMANAPUN kondisi calon istri gue nanti, itu adalah penampilan terbaik dia untuk gue.
Emi keluar dari dalam kamar. Dia keluar menggunakan baju batik yang kami beli kemarin dengan dandanan ala Emilya yang cukup sederhana sesuai kesukaan gue. Dia cantik seperti Emi yang gue kenal dan akan gue kenal seumur hidup gue.
Gue bisa melihat ketidaknyamanan Emi saat itu. Gue yakin, bukan karena Emi tidak berkenan dengan acara lamaran hari ini. Namun, Emi sangat membenci kondisi di mana dia menjadi pusat perhatian. Memang Emi tidak akan panic attack dimana dia akan jatuh pingsan atau semacamnya. Tetapi Emi terlihat sangat tidak nyaman. Apalagi nanti pasti dia diminta mewakili seluruh keluarga besarnya untuk menjawab lamaran gue ini. Gue harap Emi bisa menjalaninya. Gue yakin Emi bisa menjalaninya.
“Nah… MasyaAllah ya cantiknya Nak Emilya hari ini dan hari-hari biasanya. Ya nggak Nak Firzy? Hahaha. Eh sebentar… Ternyata udah janjian toh? Coba liat, baju batik yang dipake Nak Firzy sama persis sama Nak Emilya loh! Wah wah wah, kebetulan apa gimana ini? Hahaha.” Gue yakin, MC juga melihat hal yang sama dengan gue sehingga beliau mencoba mencairkan suasana dengan membahas pakaian yang kami gunakan.
“Wah lega berarti saya kalau gitu ceritanya. Semua ini udah dirancang dan rencanain dengan baik sama merekanya sendiri. Nggak perlu degdegan lagi dong saya? Hahaha.” Celetuk Om Reza. Sepertinya semua orang melihat ketegangan dari Emi. Tidak hanya gue.
“Tunggu sebentar, Pak Reza. Mari kita beri kesempatan untuk Nak Emilya secara resmi menjawab lamaran dari Nak Firzy. Gimana, Nak Emilya? Hari ini Nak Firzy ngeboyong seluruh keluarga besar beliau sembari membawa hantaran yang ada di hadapan kita semua untuk menunjukkan niat baik Nak Firzy yang ingin meminang Nak Emilya untuk jadi calon istri beliau. Apa Nak Emilya berkenan untuk menerima lamaran Nak Firzy ini? Silahkan dijawab Nak Emilya.”
“Andai ini bisa call-a-friend, gue bakalan bantu lo kok, Mi! Sorry!” teriak gue dalam hati. “Lo pasti bisa, Mi! Gue sangat yakin, lo pasti bisa!” Gue berusaha tersenyum pada dia biar dia yakin pada dirinya sendiri dan memberanikan diri dia. Memegang mic dan menjadi pusat perhatian adalah passion gue, bukan Emi.
“Hmm.” Hanya itu yang keluar dari bibir Emi, membuat keadaan semakin tegang.
“Gimana, Nak Emilya? Masih butuh waktu lagi atau bisa langsung dijawab? Boleh kok kalau mau kasih sepatah dua patah kata untuk Nak Firzy dan keluarga.”
Setelah dia diam selama kurang lebih 1 menit. Akhirnya Emi berani membuka suaranya. “Bismillahirahmanirrahim. Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih atas kedatangan Bang Firzy dan keluarga untuk niat baiknya. Terima kasih juga sudah karena sudah mempercayakan hatinya kepada saya. Terima kasih juga Bang Firzy yang sudah menemani saya selama beberapa tahun ini baik di saat suka maupun duka dan tidak pernah lelah berusaha membuat dan menjaga agar saya terus bahagia. Atas ridho dari Allah SWT dan diiringi oleh restu dari Papa dan Mama serta keluarga besar. saya bersedia menerima lamarannya.”
“Alhamdulillah!” ucap gue dan teriak beberapa saudara gue dari depan rumah Emi. Semuanya ternyata dapat merasakan ketegangan yang sama dengan gue. Hahaha. Gue lega, akhirnya tahap semi final ini sudah dapat gue lalui dengan baik. Satu langkah lagi sampai akhirnya gue bisa memenangkan hati kekasih hidup gue hanya jadi milik gue, untuk selamanya.
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
dan bintang 5 

