- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#444
Setengah Laku_Part 8
Gue dan Emi berboncengan menuju mall tersebut. Sudah lama gue tidak berboncengan dalam waktu yang cukup lama dengan Emi. Biasanya kami naik mobil karena cuaca seringkali hujan kala sore menjelang malam, waktu-waktu kami bertemu dan bercengkrama. Sekitar 30 menit kami habiskan di perjalanan menuju ke mall.
Seperti biasa, kami selalu ada bahasan dan hampir tidak pernah diam sepanjang perjalanan karena silih berganti bercerita atau sekedar saling melempar jokes. Kami rencananya akan membeli beberapa baju resmi untuk dipakaikan ke keluarga kami, mulai dari Papa dan Mama Emi, Mama, Dania dan Om Dani serta istrinya. Sedangkan Om Reza yang rencananya akan datang tidak mau merepotkan gue, karena sepertinya beliau akan datang bersama dengan anak-anaknya saja, tanpa istrinya. Tante Nadine sedang terbaring sakit dan beberapa kali masuk rumah sakit, jadi agak kurang memungkinkan kalau dipaksakan datang. Baju yang akan gue dan Emi pakai sudah dibeli sebelumnya di daerah Trusmi, Cirebon, yang terkenal sebagai pusat kerajinan batik terbesar di Jawa Barat, yang tentunya juga memiliki kualitas terbaik sebagai pilihan kami.
“Kita mau beliin yang batik model kemarin kayak browsing-an, kan?” tanya Emi.
“Iya paling yang kayak gitu aja. Mudah-mudahan ada yang murah kalo bisa beli paket yang banyakan. hehehe.” jawab gue.
“Kayaknya itu ada deh di sebelah sana. Banyak batik tuh. Kayaknya ada batik buat anak juga.”
“Buat anak? bakal siapa emang?”
“Anaknya Kak Dania emang nggak mau dibeliin?”
“Lah Dian dibeliin buat apaan? Anak masih piyik begitu mah pake baju yang nyaman buat dia aja. Jangan dipakein yang aneh-aneh.”
“Ya kan lebih enak kalo semuanya seragaman.”
“Nggak gitu juga. Udah deh, yang pasti kita konsentrasi buat listing kita aja.”
“Ya udah. Kan aku cuma nyaranin aja. Budget juga cukup, kok.”
Gue tidak membalas lagi perkataan Emi. Emi ini selalu saja dari dulu seperti ini. Selalu memikirkan kepentingan orang lain. Gue tidak habis pikir sempat-sempatnya dia berpikir untuk orang lain sementara target utama saja belum tercapai. Gue dan Emi kemudian melanjutkan pengedaran penglihatan kami di mall ini.
“Gila ya, bahan keren kayak gini harganya cukup terjangkau. Ini kalau masuk ke GI (Grand Indonesia, Mall) atau Kokas (Kota Kasblanka, Mall), bisa berkali-kali lipat ini harganya.” celetuk Emi ketika memilah beberapa kemeja dengan bahan yang enak sekali di kulit.
“Iya emang. Makanya mall ini terus bertahan dari dulu. Mana pemilihannya selalu di tempat yang ramai, kayak dekat dengan terminal atau pasar, kan. Makanya jadi laku. Model bisnis mereka sama target pasarnya bener-bener sesuai prediksi, presisi banget.” kata gue.
“Iya makanya itu. Dengan harga segini, ya wajar mereka nyari tempat untuk bangun mall dekat sama pasar tradisional atau terminal. Karena mereka mau ngincer pasar menengah kebawah.” timpal Emi.
“Gue tuh pingin banget kita brainstorming sampe sejauh ini kalau mau bikin usaha. Even itu kecil-kecilan kayak jualan minuman semacem boba atau capcin, Mi.”
“Iya, gue ngerti kok. Kita pasti bisa, Zy. Tapi kita itu, terutama lo, karena lo bisa banyak hal, bikin lo jadi nggak fokus. Semuanya mau dijalanin bareng-bareng. Gue bisa aja bantuin. Tapi lo nggak bisa ngejalanin semuanya di satu waktu. Adanya jadi nggak maksimal. Lo ngeband, lo nulis, lo kerja kantoran, lo juga hardcore gamer, terus sekarang kita seneng juga mendokumentasikan jalan-jalan dan makan-makan kita, jadi semacem blogger kecil-kecilan, semuanya di satu waktu yang sama. Belum kalau ada kegiatan renang. Fokus dulu satu. Lo mau yang mana?”
“Gue sih kalau di hati kecil, maunya nulis. Gue udah seneng nulis dari dulu. Bahkan ketika gue bikin lirik lagu kan juga intinya tetep menuliskan sesuatu. Cuma beda ekspresi aja. Gue rasa juga gue nggak terlalu bakat gede di bidang penulisan lagu atau proses kreatif aransemen. Makanya gue putusin dulu sebelum hiatus di band yang lama, kalau ngeband itu cuma hobi aja. Kadang gue emang ngerasa gitu sih. Nggak fokus. Mentang-mentang gue merasa bisa semua, semuanya gue embat. Ini nggak bagus, dan jadi backfire buat gue. Karena gue ngerasa juga nggak pernah bener-bener ada yang beres dilakuin sampe 100%.”
“Makanya, gue pasti akan selalu dukung lo, Zy, tapi lo nya juga mesti konsisten dengan pilihan yang udah lo buat. Kalo pingin nulis, ya udah fokus disana. Toh juga gue kan nulis. Kita maju bareng-bareng. Nanti InsyaAllah kalo emang ada jalan, bisa kok kita berkembang dari jadi penulis.”
“Nggak tau, Mi. Gue sih emang pingin jadi penulis profesional. Cuma gue kadang tuh suka nggak fokus juga apa yang mau di bahas. Kadang mau ngebahas tentang perpolitikan, ngulik sejarah, sampe ke urusan pendidikan aja susah nentuinnya. Gue juga pernah bikin semacam novel kecil-kecilan yang terinspirasi dari kisah jatuh bangunnya The Beatles (band legendaris dari Inggris), sampe ke cerita tentang zombie apocalypse terinspirasi dari bencana alam yang melanda negeri ini, semuanya udah di tengah-tengah jalan gue tulis, tapi berhenti gitu aja. Ada aja alasan buat males-malesan ngelanjutin cerita-cerita itu. Entah writer’s block lah, atau kadang me time kayak main game gitu yang ngehabisin waktu gue lebih banyak, Mi.”
“Kalo emang mau kayak gitu, kenapa nggak lo seriusin aja jadi gamer? Sekarang ini kan jadi gamer itu bisa ngehasilin duit bukan? Udah mulai banyak tuh gue denger soal esport, Zy.”
“Tapi masalahnya gue nggak minat sama game-game yang harus main online kayak gitu, Mi. Gue seneng main game yang sendirian aja. Atau walaupun bisa dimainin bareng-bareng, gue akan tetep main solo. Kayak GTA series, Yakuza Series, Assassin’s Creed series, Hitman series, Tomb Raider Series, atau Uncharted Series, pokoknya yang semacam itu. Kalau yang online semua gitu gue males, Mi. Gue juga nggak kepikiran mau jadi pro disini atau bikin konten Youtube tentang game. Beli game itu mahal banget, Mi. Makanya game yang gue mainin nggak banyak, karena gue hanya mainin apa yang gue seneng mainin atau udah dari dulu gue mainin seriesnya.”
“Kalo gitu berarti lo belum bisa meredam ego lo sendiri, Zy. Kalo lo punya satu cita-cita ya fokus disitu, jangan ke distract sama yang lain. Emang kok, yang namanya main game itu fun dan bisa self healing, tapi masa iya self healing waktunya lebih lama daripada yang utama? Kan nggak gitu juga, Zy.”
“Gue ngerti, Mi. Gue sangat sadar itu. Apalagi sekarang waktu gue sendiri semakin sedikit dan sebentar lagi kita akan nikah. Manajemen waktu ini yang dulu bisa gue atur dengan baik bakal berubah skemanya. Mungkin ini gara-gara gue banyak maunya kali ya?”
“Bukan banyak maunya, tapi lo itu banyak bisanya Zy. Makanya jadi semuanya mau lo geber. Lo jadi ngerasa kewalahan manajemen waktu karena lo itu kebanyakan mau, jadi hilang fokus. Satu belum kelar udah mikir ke urusan yang berikutnya, jadinya ya lo keteteran ngatur waktu lo untuk itu semua. Kurangin satu dua, Zy.”
“Nah ini yang lagi gue coba lawan, Mi. Gue tau kalau udah nikah itu tanggung jawab nggak cuma gue sendiri, tapi ada lo, ada ke orang tua dan mertua, belum nanti juga kalau udah punya anak. Banyak yang di pikirin. Sebenernya jujur aja gue takut, tapi entah kenapa, gue yakin gue bisa karena ada lo.”
“Ada gue? Gue nggak bisa apa-apa, Zy. Gue nggak S2 kayak lo. Gue juga nggak punya banyak bakat kayak lo.”
“Mulai dah, merendah terus. Lo itu banyak bisanya, lebih banyak dari gue bisanya. Tapi karena lo nggak diajarin untuk percaya diri dari kecil, makanya lo jadi begini. Udahlah, Mi. Lo bisa nyusun tesis bareng gue tanpa pernah ikut kuliah aja itu udah luar biasa buat gue, Mi. Mungkin buat orang lain yang tau juga. Jadi nggak usah ngerendahin diri sendiri, lah. Nggak suka gue.”
“Ya udah. Ini kita jadi bahas apaan dah. Haha. Ayo kita muter-muter lagi. Ini kayak surga tau nggak, Zy. Harga murah, kualitas bahan oke banget. Ah gokil lah ini mall.”
“Makanya gue banyak beli kemeja kerja disini kan. Sekarang malah gue lebih banyak pake kemeja kasual untuk kerja. Kualitasnya nggak kalah sama kemeja kasual punya retail dari jepang itu, Mi. Asli.”
“Iya ya. Teman gue yang di Jepang itu ngibaratin retail Jepang itu sama kayak mall ini kalo di Jepang sana Zy. Termasuk yang murah untuk ukuran retail di Jepang-nya sana. Jadi keliatan mahal karena nilai tukar kita kan dibawah Yen, dan satu lagi, mindset made in Japan atau produk-produk luar negeri itu lebih bagus tetep tertanam di benak warga Wakanda sini, Zy. Hahaha.”
“Hahaha. Wakanda jauh lebih maju dari negeri ini kali, Mi. Iya sih, kualitas barang mereka sebenernya hampir sama kalo kata gue, ya yang bedain branding sama mindset konsumen yang mikir kalo barang dari luar kualitasnya bakal lebih bagus. Sama kayak dulu gue ke Cibaduyut pernah nanya ini sepatu-sepatu tanpa merk mau di ekspor kemana? jawabannya mau di ekspor ke Jerman, Cina, sama Singapura. Satunya tu sepatu di hargain seratus ribu, eh pas di labelin sama negara yang ekspor terus di jual lagi disini, harganya bisa 7-10 kali lipat. Haha.”
“Nah iya. Itu dia kekuatannya. Makanya aku sih tetep pede dan nggak ngerasa cemen belanja disini, Zy.”
“Iya dong. Sederhana tapi berkualitas itu kan kamu banget, Mi.”
Gue dan Emi tergelak bersama, dan kemudian mengambil beberapa pasang kemeja dan batik. Kami berputar dulu sebelum membayar di kasir. Kami melihat banyak sekali barang berkualitas di jual disini dengan harga miring, lalu masih ada diskon lagi. Banyak juga yang berpendapat kalau barang-barang diskon di mall ini akan ditinggikan terlebih dulu untuk kemudian di potong harganya, yang kemudian membentuk opini kalau sebenarnya diskon hanya gimmick. Itulah namanya strategi pemasaran. Kalau anda tidak mampu atau tidak sanggup membeli disini, berarti targetnya bukan anda. Ayo semangat mengais rejeki biar bisa beli di mall ini, atau toko yang dari Jepang itu.
Setelah membayar dengan menggunakan kartu debit, gue dan Emi naik ke lantai atas mencari foodcourt. Sepertinya sudah waktunya makan malam. Kami pun bergegas dengan menggunakan lift.
“Enak banget ya, temen-temen aku itu banyak yang persiapan pernikahannya dibantu sama ortunya.” ujar Emi sembari menunggu pesanan.
“Banyak kan yang kayak gitu. Temen-temen aku juga yang begitu, Mi.” gue menimpali.
“Iya, baju mereka di jahitin sama ortunya. Semuanya pokoknya tau beres dah. Kayaknya nggak perlu keluar uang banyak juga. Jadi wajar ya kalau mereka ini masih bisa hedon-hedon dan dipamerin di media sosial mereka. Haha.”
“Tapi dengan begitu, mereka nggak tau caranya mempersiapkan segala sesuatunya. Tau nggak, dengan kita mempersiapkan ini semua sendiri, sebenernya itu memperkuat bonding kita, Mi. Kita jadi makin ngerti satu sama lain, saling menghargai satu sama lain. Utamanya sih, jerih payah kita ini bakal mantep bener hasilnya kalau udah selesai Hari H nanti, Mi.”
“Iya sih emang. Cuma kadang, jujur ya, aku iri sama mereka. Soalnya temen aku pernah ada yang cerita dia dituntut untuk ngadain resepsi nanti di nikahan dia, tapi dia bilang ajuin aja konsepnya mau gimana, nanti dibantu sama ortunya. Lah kita? Udah ngotot dipaksa tetap ada resepsi, tapi dibantuin aja sepeserpun nggak. Nggak juga ditanya-tanya konsepnya apa, sampai dimana, dan segala macemnya. Udah kayak urusan nggak penting aja.”
“Udah lah, Mi. Semua orang punya rejekinya masing-masing. Kalo mau bawa kesel sih, aku sebenernya kesel sama keluarga kamu. Udah tau nggak mampu nyumbang apa-apa, tapi maksain tetep ada dan ngebebanin semuanya ke kita. Kayak yang udah kita bahas, dikiranya nikah itu selesai sampai resepsi doang apa. Kalo kayak gini, nanti uang refinancing cair, kita bisa pake itu uang, tapi setelahnya kita dihantuin utang sampai tiga tahun ke depan pernikahan kita, Mi.”
“Maaf ya, Zy. Kamu jadi susah begini. Aku udah ngomong berulang kali sama Papa, tapi tetep keukeuh kayak gitu, Zy. Susah ngajak ngomong (generasi) boomer.”
“Aku ngerti. Ya sekarang sih berdoa aja semuanya lancar dan setelah menikah nanti nggak ada masalah yang berawal dari kondisi keuangan yang keseok-seok yang bikin kita mulai segalanya dari minus, Mi. Nggak usah kamu liat temen-temen kamu yang punya privilege dibiayain pernikahannya bahkan dihadiahin rumah sama orangtuanya. Kita aja buat ngebujuk Papa kamu untuk akad doang aja gagal terus. Apalagi minta hadiah. Lagian, emang punya duit? Hahaha.”
Gue dan Emi tertawa bersama menertawakan bagaimana perjuangan kami yang tanpa privilege ini. Andai saja Papa masih ada dan Mama Emi masih sehat seperti dulu, bekerja seperti biasa, mungkin ceritanya tidak akan begini. Tetapi gue tetap tidak mau menggantungkan segalanya sama orang tua. Gue juga mau dihargai perjuangannya. Hanya memang mungkin tidak akan seberat ini. Ini baru urusan finansial, belum lagi drama-drama tidak penting yang ada saja terjadi diantara kami berdua, yang kebanyakan berasal dari faktor eksternal.
--
Seperti biasa, kami selalu ada bahasan dan hampir tidak pernah diam sepanjang perjalanan karena silih berganti bercerita atau sekedar saling melempar jokes. Kami rencananya akan membeli beberapa baju resmi untuk dipakaikan ke keluarga kami, mulai dari Papa dan Mama Emi, Mama, Dania dan Om Dani serta istrinya. Sedangkan Om Reza yang rencananya akan datang tidak mau merepotkan gue, karena sepertinya beliau akan datang bersama dengan anak-anaknya saja, tanpa istrinya. Tante Nadine sedang terbaring sakit dan beberapa kali masuk rumah sakit, jadi agak kurang memungkinkan kalau dipaksakan datang. Baju yang akan gue dan Emi pakai sudah dibeli sebelumnya di daerah Trusmi, Cirebon, yang terkenal sebagai pusat kerajinan batik terbesar di Jawa Barat, yang tentunya juga memiliki kualitas terbaik sebagai pilihan kami.
“Kita mau beliin yang batik model kemarin kayak browsing-an, kan?” tanya Emi.
“Iya paling yang kayak gitu aja. Mudah-mudahan ada yang murah kalo bisa beli paket yang banyakan. hehehe.” jawab gue.
“Kayaknya itu ada deh di sebelah sana. Banyak batik tuh. Kayaknya ada batik buat anak juga.”
“Buat anak? bakal siapa emang?”
“Anaknya Kak Dania emang nggak mau dibeliin?”
“Lah Dian dibeliin buat apaan? Anak masih piyik begitu mah pake baju yang nyaman buat dia aja. Jangan dipakein yang aneh-aneh.”
“Ya kan lebih enak kalo semuanya seragaman.”
“Nggak gitu juga. Udah deh, yang pasti kita konsentrasi buat listing kita aja.”
“Ya udah. Kan aku cuma nyaranin aja. Budget juga cukup, kok.”
Gue tidak membalas lagi perkataan Emi. Emi ini selalu saja dari dulu seperti ini. Selalu memikirkan kepentingan orang lain. Gue tidak habis pikir sempat-sempatnya dia berpikir untuk orang lain sementara target utama saja belum tercapai. Gue dan Emi kemudian melanjutkan pengedaran penglihatan kami di mall ini.
“Gila ya, bahan keren kayak gini harganya cukup terjangkau. Ini kalau masuk ke GI (Grand Indonesia, Mall) atau Kokas (Kota Kasblanka, Mall), bisa berkali-kali lipat ini harganya.” celetuk Emi ketika memilah beberapa kemeja dengan bahan yang enak sekali di kulit.
“Iya emang. Makanya mall ini terus bertahan dari dulu. Mana pemilihannya selalu di tempat yang ramai, kayak dekat dengan terminal atau pasar, kan. Makanya jadi laku. Model bisnis mereka sama target pasarnya bener-bener sesuai prediksi, presisi banget.” kata gue.
“Iya makanya itu. Dengan harga segini, ya wajar mereka nyari tempat untuk bangun mall dekat sama pasar tradisional atau terminal. Karena mereka mau ngincer pasar menengah kebawah.” timpal Emi.
“Gue tuh pingin banget kita brainstorming sampe sejauh ini kalau mau bikin usaha. Even itu kecil-kecilan kayak jualan minuman semacem boba atau capcin, Mi.”
“Iya, gue ngerti kok. Kita pasti bisa, Zy. Tapi kita itu, terutama lo, karena lo bisa banyak hal, bikin lo jadi nggak fokus. Semuanya mau dijalanin bareng-bareng. Gue bisa aja bantuin. Tapi lo nggak bisa ngejalanin semuanya di satu waktu. Adanya jadi nggak maksimal. Lo ngeband, lo nulis, lo kerja kantoran, lo juga hardcore gamer, terus sekarang kita seneng juga mendokumentasikan jalan-jalan dan makan-makan kita, jadi semacem blogger kecil-kecilan, semuanya di satu waktu yang sama. Belum kalau ada kegiatan renang. Fokus dulu satu. Lo mau yang mana?”
“Gue sih kalau di hati kecil, maunya nulis. Gue udah seneng nulis dari dulu. Bahkan ketika gue bikin lirik lagu kan juga intinya tetep menuliskan sesuatu. Cuma beda ekspresi aja. Gue rasa juga gue nggak terlalu bakat gede di bidang penulisan lagu atau proses kreatif aransemen. Makanya gue putusin dulu sebelum hiatus di band yang lama, kalau ngeband itu cuma hobi aja. Kadang gue emang ngerasa gitu sih. Nggak fokus. Mentang-mentang gue merasa bisa semua, semuanya gue embat. Ini nggak bagus, dan jadi backfire buat gue. Karena gue ngerasa juga nggak pernah bener-bener ada yang beres dilakuin sampe 100%.”
“Makanya, gue pasti akan selalu dukung lo, Zy, tapi lo nya juga mesti konsisten dengan pilihan yang udah lo buat. Kalo pingin nulis, ya udah fokus disana. Toh juga gue kan nulis. Kita maju bareng-bareng. Nanti InsyaAllah kalo emang ada jalan, bisa kok kita berkembang dari jadi penulis.”
“Nggak tau, Mi. Gue sih emang pingin jadi penulis profesional. Cuma gue kadang tuh suka nggak fokus juga apa yang mau di bahas. Kadang mau ngebahas tentang perpolitikan, ngulik sejarah, sampe ke urusan pendidikan aja susah nentuinnya. Gue juga pernah bikin semacam novel kecil-kecilan yang terinspirasi dari kisah jatuh bangunnya The Beatles (band legendaris dari Inggris), sampe ke cerita tentang zombie apocalypse terinspirasi dari bencana alam yang melanda negeri ini, semuanya udah di tengah-tengah jalan gue tulis, tapi berhenti gitu aja. Ada aja alasan buat males-malesan ngelanjutin cerita-cerita itu. Entah writer’s block lah, atau kadang me time kayak main game gitu yang ngehabisin waktu gue lebih banyak, Mi.”
“Kalo emang mau kayak gitu, kenapa nggak lo seriusin aja jadi gamer? Sekarang ini kan jadi gamer itu bisa ngehasilin duit bukan? Udah mulai banyak tuh gue denger soal esport, Zy.”
“Tapi masalahnya gue nggak minat sama game-game yang harus main online kayak gitu, Mi. Gue seneng main game yang sendirian aja. Atau walaupun bisa dimainin bareng-bareng, gue akan tetep main solo. Kayak GTA series, Yakuza Series, Assassin’s Creed series, Hitman series, Tomb Raider Series, atau Uncharted Series, pokoknya yang semacam itu. Kalau yang online semua gitu gue males, Mi. Gue juga nggak kepikiran mau jadi pro disini atau bikin konten Youtube tentang game. Beli game itu mahal banget, Mi. Makanya game yang gue mainin nggak banyak, karena gue hanya mainin apa yang gue seneng mainin atau udah dari dulu gue mainin seriesnya.”
“Kalo gitu berarti lo belum bisa meredam ego lo sendiri, Zy. Kalo lo punya satu cita-cita ya fokus disitu, jangan ke distract sama yang lain. Emang kok, yang namanya main game itu fun dan bisa self healing, tapi masa iya self healing waktunya lebih lama daripada yang utama? Kan nggak gitu juga, Zy.”
“Gue ngerti, Mi. Gue sangat sadar itu. Apalagi sekarang waktu gue sendiri semakin sedikit dan sebentar lagi kita akan nikah. Manajemen waktu ini yang dulu bisa gue atur dengan baik bakal berubah skemanya. Mungkin ini gara-gara gue banyak maunya kali ya?”
“Bukan banyak maunya, tapi lo itu banyak bisanya Zy. Makanya jadi semuanya mau lo geber. Lo jadi ngerasa kewalahan manajemen waktu karena lo itu kebanyakan mau, jadi hilang fokus. Satu belum kelar udah mikir ke urusan yang berikutnya, jadinya ya lo keteteran ngatur waktu lo untuk itu semua. Kurangin satu dua, Zy.”
“Nah ini yang lagi gue coba lawan, Mi. Gue tau kalau udah nikah itu tanggung jawab nggak cuma gue sendiri, tapi ada lo, ada ke orang tua dan mertua, belum nanti juga kalau udah punya anak. Banyak yang di pikirin. Sebenernya jujur aja gue takut, tapi entah kenapa, gue yakin gue bisa karena ada lo.”
“Ada gue? Gue nggak bisa apa-apa, Zy. Gue nggak S2 kayak lo. Gue juga nggak punya banyak bakat kayak lo.”
“Mulai dah, merendah terus. Lo itu banyak bisanya, lebih banyak dari gue bisanya. Tapi karena lo nggak diajarin untuk percaya diri dari kecil, makanya lo jadi begini. Udahlah, Mi. Lo bisa nyusun tesis bareng gue tanpa pernah ikut kuliah aja itu udah luar biasa buat gue, Mi. Mungkin buat orang lain yang tau juga. Jadi nggak usah ngerendahin diri sendiri, lah. Nggak suka gue.”
“Ya udah. Ini kita jadi bahas apaan dah. Haha. Ayo kita muter-muter lagi. Ini kayak surga tau nggak, Zy. Harga murah, kualitas bahan oke banget. Ah gokil lah ini mall.”
“Makanya gue banyak beli kemeja kerja disini kan. Sekarang malah gue lebih banyak pake kemeja kasual untuk kerja. Kualitasnya nggak kalah sama kemeja kasual punya retail dari jepang itu, Mi. Asli.”
“Iya ya. Teman gue yang di Jepang itu ngibaratin retail Jepang itu sama kayak mall ini kalo di Jepang sana Zy. Termasuk yang murah untuk ukuran retail di Jepang-nya sana. Jadi keliatan mahal karena nilai tukar kita kan dibawah Yen, dan satu lagi, mindset made in Japan atau produk-produk luar negeri itu lebih bagus tetep tertanam di benak warga Wakanda sini, Zy. Hahaha.”
“Hahaha. Wakanda jauh lebih maju dari negeri ini kali, Mi. Iya sih, kualitas barang mereka sebenernya hampir sama kalo kata gue, ya yang bedain branding sama mindset konsumen yang mikir kalo barang dari luar kualitasnya bakal lebih bagus. Sama kayak dulu gue ke Cibaduyut pernah nanya ini sepatu-sepatu tanpa merk mau di ekspor kemana? jawabannya mau di ekspor ke Jerman, Cina, sama Singapura. Satunya tu sepatu di hargain seratus ribu, eh pas di labelin sama negara yang ekspor terus di jual lagi disini, harganya bisa 7-10 kali lipat. Haha.”
“Nah iya. Itu dia kekuatannya. Makanya aku sih tetep pede dan nggak ngerasa cemen belanja disini, Zy.”
“Iya dong. Sederhana tapi berkualitas itu kan kamu banget, Mi.”
Gue dan Emi tergelak bersama, dan kemudian mengambil beberapa pasang kemeja dan batik. Kami berputar dulu sebelum membayar di kasir. Kami melihat banyak sekali barang berkualitas di jual disini dengan harga miring, lalu masih ada diskon lagi. Banyak juga yang berpendapat kalau barang-barang diskon di mall ini akan ditinggikan terlebih dulu untuk kemudian di potong harganya, yang kemudian membentuk opini kalau sebenarnya diskon hanya gimmick. Itulah namanya strategi pemasaran. Kalau anda tidak mampu atau tidak sanggup membeli disini, berarti targetnya bukan anda. Ayo semangat mengais rejeki biar bisa beli di mall ini, atau toko yang dari Jepang itu.
Setelah membayar dengan menggunakan kartu debit, gue dan Emi naik ke lantai atas mencari foodcourt. Sepertinya sudah waktunya makan malam. Kami pun bergegas dengan menggunakan lift.
“Enak banget ya, temen-temen aku itu banyak yang persiapan pernikahannya dibantu sama ortunya.” ujar Emi sembari menunggu pesanan.
“Banyak kan yang kayak gitu. Temen-temen aku juga yang begitu, Mi.” gue menimpali.
“Iya, baju mereka di jahitin sama ortunya. Semuanya pokoknya tau beres dah. Kayaknya nggak perlu keluar uang banyak juga. Jadi wajar ya kalau mereka ini masih bisa hedon-hedon dan dipamerin di media sosial mereka. Haha.”
“Tapi dengan begitu, mereka nggak tau caranya mempersiapkan segala sesuatunya. Tau nggak, dengan kita mempersiapkan ini semua sendiri, sebenernya itu memperkuat bonding kita, Mi. Kita jadi makin ngerti satu sama lain, saling menghargai satu sama lain. Utamanya sih, jerih payah kita ini bakal mantep bener hasilnya kalau udah selesai Hari H nanti, Mi.”
“Iya sih emang. Cuma kadang, jujur ya, aku iri sama mereka. Soalnya temen aku pernah ada yang cerita dia dituntut untuk ngadain resepsi nanti di nikahan dia, tapi dia bilang ajuin aja konsepnya mau gimana, nanti dibantu sama ortunya. Lah kita? Udah ngotot dipaksa tetap ada resepsi, tapi dibantuin aja sepeserpun nggak. Nggak juga ditanya-tanya konsepnya apa, sampai dimana, dan segala macemnya. Udah kayak urusan nggak penting aja.”
“Udah lah, Mi. Semua orang punya rejekinya masing-masing. Kalo mau bawa kesel sih, aku sebenernya kesel sama keluarga kamu. Udah tau nggak mampu nyumbang apa-apa, tapi maksain tetep ada dan ngebebanin semuanya ke kita. Kayak yang udah kita bahas, dikiranya nikah itu selesai sampai resepsi doang apa. Kalo kayak gini, nanti uang refinancing cair, kita bisa pake itu uang, tapi setelahnya kita dihantuin utang sampai tiga tahun ke depan pernikahan kita, Mi.”
“Maaf ya, Zy. Kamu jadi susah begini. Aku udah ngomong berulang kali sama Papa, tapi tetep keukeuh kayak gitu, Zy. Susah ngajak ngomong (generasi) boomer.”
“Aku ngerti. Ya sekarang sih berdoa aja semuanya lancar dan setelah menikah nanti nggak ada masalah yang berawal dari kondisi keuangan yang keseok-seok yang bikin kita mulai segalanya dari minus, Mi. Nggak usah kamu liat temen-temen kamu yang punya privilege dibiayain pernikahannya bahkan dihadiahin rumah sama orangtuanya. Kita aja buat ngebujuk Papa kamu untuk akad doang aja gagal terus. Apalagi minta hadiah. Lagian, emang punya duit? Hahaha.”
Gue dan Emi tertawa bersama menertawakan bagaimana perjuangan kami yang tanpa privilege ini. Andai saja Papa masih ada dan Mama Emi masih sehat seperti dulu, bekerja seperti biasa, mungkin ceritanya tidak akan begini. Tetapi gue tetap tidak mau menggantungkan segalanya sama orang tua. Gue juga mau dihargai perjuangannya. Hanya memang mungkin tidak akan seberat ini. Ini baru urusan finansial, belum lagi drama-drama tidak penting yang ada saja terjadi diantara kami berdua, yang kebanyakan berasal dari faktor eksternal.
--
Diubah oleh yanagi92055 25-11-2021 20:26
itkgid dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup
dan bintang 5 
