- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#443
Setengah Laku_Part 7
“Makasih ya buat semuanya, Mi.”
“Kenapa kamu bilang begitu?” tanya dia sembari menyeruput hot chocolate yang dia pesan.
“Jangan bilang kamu mau ngerencanain sesuatu? Apaan? Kamu mau ngebatalin tiba-tiba H-1? Apa kamu mau ngebatalin lamarannya hari H? Atau kamu mau bikin keluarga aku kecewa lagi dengan dateng super duper telat???”
“Banyak ya asumsinya? Belom juga ngejelasin apapun. Udah dituduh begitu aje gue.”
“Lah abisnya lo mendadak bilang makasih sama gue.”
“Ya emang kenapa?”
“Biasanya kalau cowok kayak begitu tuh pilihannya antara ada maunya atau punya salah. Gue milih lo mau punya salah, makanya lo minta maaf begitu.”
“Dih. Dasar drama queen! Hahaha.”
“Terus gimana?”
“Apanya?”
“Ya lo bilang makasih karena mau punya salah apaan?”
“Dikata nggak mau punya salah! Anj*ng juga yak ini anak! Tau gitu nggak gue jajanin ke Dunkin Donuts lo!”
“Dih perhitungan! Hahaha.”
“Abis bawaannya suudzon mulu dah sama gue.”
“Soalnya kalau gue prasangka baik sama lo, entar gue murtad, Zy!”
“Mulut lo kan!” gue menunjuk mukanya dengan telunjuk gue.
“Hahaha. Iya iya serius, kenapa sih?”
Gue melirik Emi sesaat. “Beneran nggak mau dengerin aku?”
“Beneran lah! Belah dadaku!”
“Nanti di hotel pas hanimun, baru gue belah dada lo!” bisik gue sembari menyenggol salah satu gunung kembar yang dia pepet di meja. Sudah cukup lama gue tidak menggarapnya. Apa kabar ya ‘di sana’? Hahaha.
“BACOT LO, ZY! Hahaha.”
“Makasih ya Mi udah support aku selama ini. Makasih kamu udah percaya sama aku yang nggak bisa apa-apa ini. Udah yakin kalau aku bisa berubah dan merubah keadaan aku yang dianggep orang yang gagal ini. Makasih udah mau ngedampingin aku dan sama sekali nggak ninggalin aku di tiap langkah kita. Makasih udah mau ngedikte setiap langkah hidup aku biar hidup aku terus jadi lebih baik. WALAUPUN, kayaknya nggak dirasain sama keluarga aku. Tapi aku nggak peduli sama mereka. Selama aku bisa ngebahagiain kamu, aku rasa semuanya udah cukup.”
“Zy. Kamu bukan orang yang gagal.”
“Keluarga aku nggak percaya itu. Aku nggak ada t*i-t*inya dari Dania, Mi. Bahkan mungkin aku lebih rendah dari Adit kali.”
“Aku juga nggak mau anggep Adit itu orang yang gagal.”
“Adit kayaknya udah mulai dianggap orang yang gagal juga sama Mama.”
“Nah jujur ya, aku kurang suka cara Mama mikir kayak begitu. Kenapa Mama bisa-bisanya judge kamu sama Adit orang yang gagal? Kenapa? Karena kamu itu jalan hidupnya nggak kayak Papa kamu? Kak Dania juga mikir begitu? Jadi semua orang hebat itu ya standar-nya harus sama persis kayak jalan hidup dan pemikiran Papa kalian? Kalau begitu, berarti nggak akan pernah ada yang sesuai standard dong bagi Mama dan Kak Dania? Even anak pertama di keluarga mereka sendiri.”
“Entahlah.”
“Kalau mereka sebegitu sayang dan percayanya sama Papa. Harusnya mereka juga mau mikir, kalau kamu di masa depannya nanti juga bisa jadi sosok yang kayak Papa—”
“Tapi aku nggak mau sama persis kayak Papa!” Gue memotong omongan Emi.
“Jangan dipotong dulu omongan aku, Zy. Dengerin dulu.”
“Hmm.” Gue menurut.
“Siapa tau kalau kamu di masa depan nanti bisa jadi sosok yang kayak Papa, TAPI DENGAN CARA KAMU SENDIRI. Dengan jalan kamu sendiri. Dengan pilihan kamu sendiri. Kamu bisa jadi sosok yang SEPERTI Papa kamu. Kalau kamu anak kandung beliau, insyaAllah kamu bisa nemuin jalannya kok. Ada darah beliau mengalir di diri kamu. Dan aku percaya itu.”
“………”
“Sejak pertama kali aku lihat kamu. Aku dengar simpang siur tentang kamu dari orang sana sini, sampe akhirnya aku kenal kamu. Aku selalu percaya kalau kamu itu nggak kayak apa yang orang bilang. Ada sesuatu di diri kamu yang cuma perlu sedikit perbaikan, terutama urusan hati. Bukan kemampuan. Bukan kecerdasan. Tapi ya hati kamu. Kamu cuma perlu yakin, percaya, jujur.”
“Tapi—" Hampir aja gue mau motong omongan dia lagi, tapi gue urungkan niat gue ketika dia menggenggam tangan gue pertanda omongan dia belum selesai.
“Orang yang ngedampingin kamu cuma perlu sabar, nggak bosen ingetin kamu, dan nggak egois buat ninggalin kamu. Cuma itu. Dan mungkin ya itu alesan aku buat terus bertahan sama kamu. Aku nggak mau egois ninggalin kamu dan belum ngerasa bosan buat ingetin kamu, sampe aku bisa bantu kamu nunjukin ke mereka yang memandang rendah kamu kalau mereka salah besar.”
“Masalahnya, cuma kamu yang percaya begitu.”
“Nggak kok. Aku yakin, kalau Papa kamu masih ada. Beliau pasti bakalan bilang hal yang sama ke kamu. Zy, kamu bukan orang yang nothing. Kamu bukan orang yang gagal. Kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa jadi sesuatu. Kamu pasti bisa nunjukin ke mereka kalau mereka salah selama ini. Papa kamu, nggak mendidik anak yang gampang putus asa.”
“………”
“Papa kamu nggak akan ada di titik kesuksesannya kalau beliau nggak pernah ngerasa ada di bawah. Kalau beliau nggak pernah ngerasa gagal sebelumnya. Kalau beliau putus asa dan mau berenti berusaha. Buktinya Papa kamu juga nikah sama Mama kamu di umur yang udah cukup tua kan? Kenapa? Beliau nggak putus asa mencari jodoh yang dia cari, beliau nggak mau nyerah nyari cewek yang nggak ngeliat dia cuma dari harta, beliau nggak nyari istri yang siap nyari pengganti suaminya ketika beliau pergi meninggalkan istrinya selamanya. Sampai akhirnya di umurnya yang udah nggak muda lagi, Papa kamu ketemu Mama kamu…”
“………”
“Terus Papa kamu keluar dari kantornya terus merintis usahanya berdua sama Om Reza di Jakarta sedangkan Mama kamu ditinggalin di kota di Jawa sana seorang diri ngurus kamu, berarti Papa kamu nggak mau berhenti berusaha. Kali ini tekad dia, mau berjuang demi menafkahi keluarganya yang ditinggalin di kampung sana. Padahal bisa aja kan Papa kamu nikah lagi, begitu juga sama Mama kamu? Tapi karena Papa kamu yakin, percaya, dan jujur. Beliau nggak mikir begitu. Sampai akhirnya keyakinan, kepercayaan, dan kejujuran dia membuahkan hasil dimana istri dan anak-anaknya masih terus mengingat beliau dan merasa beliau nggak pernah tergantikan sampe detik ini. Itu semua perjuangan, Zy.”
“Tapi apa aku bisa kayak Papa?”
Kali ini Emi yang menggenggam jemari gue. “Jujur ya, Zy. Aku yakin dan percaya, kamu pasti bisa.”
---
“Aku selonjorin kaki sebentar yaa, Zy.” kata Emi sembari merebahkan badannya di tempat tidur.
Kamar dia saat itu sangat berantakan. Ada barang-barang dekorasi, barang-barang yang seharusnya ada di ruang tamu dimasukkan ke dalam kamarnya, dan beberapa barang yang akan dibawa kami untuk ke luar kota Senin nanti.
Gue mengangkut hantaran yang tadi kami ambil satu per satu ke dalam ruang tamu Emi yang sudah kosong. Kami sengaja tidak membawanya ke rumah karena kami mau menitipkan hantaran ini ke rumah tetangga Emi. Seharusnya hantaran ini memang ada di rumah gue, secara gue adalah pihak laki-laki. Tapi untuk mempermudah dan menghindari kerempongan keluarga gue di Minggu pagi nanti, kami memilih demikian.
“Mi aku—” Emi terlihat kelelahan. Dia terlelap dengan baju kerja yang masih melekat di badannya.
Gue membantunya membuka kaos kaki dan jaket yang dia pakai. Bisa aja sih gue bantu mengganti pakaian dia. TAPI, gue khawatir nanti terlihat agak mencurigakan bagi ayahnya Emi. Hahaha.
Setelah memastikan Emi sudah tidur dengan aman. Gue pun pamit pulang via WhatsApp dan kembali menghidupkan mobil untuk pulang ke rumah.
Dret. Dret. Dret.
HP gue mendadak berbunyi ketika gue baru saja akan menginjak gas. Gue menoleh ke arah pintu depan rumah Emi, “Dia bangun lagi gitu?” Tetapi tidak ada tanda-tanda ada orang yang keluar dari rumah.
Gue pun membuka HP gue untuk memeriksa siapa yang menghubungi gue di waktu menjelang dini hari tersebut.
(BANG OZZY CHAT)
(BANG OZZY CHAT)
Omongan Emi terjawab. Gue hanya perlu yakin dan percaya, kalau semuanya akan terus jadi lebih baik. Gue tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Tuhan yang selalu Maha Pemurah bagi hambanya yang sedang butuh pertolongan, padahal seringkali pula hambanya lupa kepada Tuhan.
--
Sore hari gue baru bisa mendatangi rumah Emi. Pada perjalanan dari gerbang perumahan Emi sampai ke depan rumahnya, ada beberapa ibu yang sepertinya mengamati gue. Gue tidak peduli juga. Mungkin mereka berpikir orang mau lamaran itu harusnya tidak bertemu. Hei, anda saja tidak tahu yang gue dan Emi jalani seperti apa, jadi tidak usah berpikir macam-macam. Simpan aja pemikiran busuk anda-anda yang siap bergosip itu.
“Udah siap kan?” sapa gue ketika Emi membukakan pintu rumahnya.
“Ayo.” jawabnya singkat.
“Jadinya kemana kita?” tanya gue.
“Ke Mall yang ada huruf R gedenya lah. Disana bajunya bagus-bagus kok, harganya juga bersahabat sama kantong kita saat ini, Zy.”
Gue hanya tersenyum menyaksikan keputusan Emi ini. Rasa gundah yang selama ini kami rasakan seperti hilang karena dia mau menurunkan ego untuk kebaikan bersama. Mungkin sekarang ini gue dan Emi sedang terjebak di titik terendah dimana gue dan Emi merasa apa-apa yang kami usahakan dan perjuangkan selalu saja mendapat tentangan, ketidaksetujuan, yang pada akhirnya membawa kami dalam keputusasaan sesaat. Dengan sikap seperti ini, mau menerima keadaan, yang gue definisikan secara jelas sebagai namanya menerima apa adanya, menambah energi gue menjadi berlipat-lipat banyaknya. Bagi Sebagian orang, hal untuk membeli kebutuhan tersier terdengar remeh, tetapi bagi gue dan Emi ini adalah momen penting dimana penurunan ego diri sendir demi kepentingan bersama harus ada di atas segalanya. Sejauh ini kami berhasil melewati itu bersama-sama.
“Kenapa kamu bilang begitu?” tanya dia sembari menyeruput hot chocolate yang dia pesan.
“Jangan bilang kamu mau ngerencanain sesuatu? Apaan? Kamu mau ngebatalin tiba-tiba H-1? Apa kamu mau ngebatalin lamarannya hari H? Atau kamu mau bikin keluarga aku kecewa lagi dengan dateng super duper telat???”
“Banyak ya asumsinya? Belom juga ngejelasin apapun. Udah dituduh begitu aje gue.”
“Lah abisnya lo mendadak bilang makasih sama gue.”
“Ya emang kenapa?”
“Biasanya kalau cowok kayak begitu tuh pilihannya antara ada maunya atau punya salah. Gue milih lo mau punya salah, makanya lo minta maaf begitu.”
“Dih. Dasar drama queen! Hahaha.”
“Terus gimana?”
“Apanya?”
“Ya lo bilang makasih karena mau punya salah apaan?”
“Dikata nggak mau punya salah! Anj*ng juga yak ini anak! Tau gitu nggak gue jajanin ke Dunkin Donuts lo!”
“Dih perhitungan! Hahaha.”
“Abis bawaannya suudzon mulu dah sama gue.”
“Soalnya kalau gue prasangka baik sama lo, entar gue murtad, Zy!”
“Mulut lo kan!” gue menunjuk mukanya dengan telunjuk gue.
“Hahaha. Iya iya serius, kenapa sih?”
Gue melirik Emi sesaat. “Beneran nggak mau dengerin aku?”
“Beneran lah! Belah dadaku!”
“Nanti di hotel pas hanimun, baru gue belah dada lo!” bisik gue sembari menyenggol salah satu gunung kembar yang dia pepet di meja. Sudah cukup lama gue tidak menggarapnya. Apa kabar ya ‘di sana’? Hahaha.
“BACOT LO, ZY! Hahaha.”
“Makasih ya Mi udah support aku selama ini. Makasih kamu udah percaya sama aku yang nggak bisa apa-apa ini. Udah yakin kalau aku bisa berubah dan merubah keadaan aku yang dianggep orang yang gagal ini. Makasih udah mau ngedampingin aku dan sama sekali nggak ninggalin aku di tiap langkah kita. Makasih udah mau ngedikte setiap langkah hidup aku biar hidup aku terus jadi lebih baik. WALAUPUN, kayaknya nggak dirasain sama keluarga aku. Tapi aku nggak peduli sama mereka. Selama aku bisa ngebahagiain kamu, aku rasa semuanya udah cukup.”
“Zy. Kamu bukan orang yang gagal.”
“Keluarga aku nggak percaya itu. Aku nggak ada t*i-t*inya dari Dania, Mi. Bahkan mungkin aku lebih rendah dari Adit kali.”
“Aku juga nggak mau anggep Adit itu orang yang gagal.”
“Adit kayaknya udah mulai dianggap orang yang gagal juga sama Mama.”
“Nah jujur ya, aku kurang suka cara Mama mikir kayak begitu. Kenapa Mama bisa-bisanya judge kamu sama Adit orang yang gagal? Kenapa? Karena kamu itu jalan hidupnya nggak kayak Papa kamu? Kak Dania juga mikir begitu? Jadi semua orang hebat itu ya standar-nya harus sama persis kayak jalan hidup dan pemikiran Papa kalian? Kalau begitu, berarti nggak akan pernah ada yang sesuai standard dong bagi Mama dan Kak Dania? Even anak pertama di keluarga mereka sendiri.”
“Entahlah.”
“Kalau mereka sebegitu sayang dan percayanya sama Papa. Harusnya mereka juga mau mikir, kalau kamu di masa depannya nanti juga bisa jadi sosok yang kayak Papa—”
“Tapi aku nggak mau sama persis kayak Papa!” Gue memotong omongan Emi.
“Jangan dipotong dulu omongan aku, Zy. Dengerin dulu.”
“Hmm.” Gue menurut.
“Siapa tau kalau kamu di masa depan nanti bisa jadi sosok yang kayak Papa, TAPI DENGAN CARA KAMU SENDIRI. Dengan jalan kamu sendiri. Dengan pilihan kamu sendiri. Kamu bisa jadi sosok yang SEPERTI Papa kamu. Kalau kamu anak kandung beliau, insyaAllah kamu bisa nemuin jalannya kok. Ada darah beliau mengalir di diri kamu. Dan aku percaya itu.”
“………”
“Sejak pertama kali aku lihat kamu. Aku dengar simpang siur tentang kamu dari orang sana sini, sampe akhirnya aku kenal kamu. Aku selalu percaya kalau kamu itu nggak kayak apa yang orang bilang. Ada sesuatu di diri kamu yang cuma perlu sedikit perbaikan, terutama urusan hati. Bukan kemampuan. Bukan kecerdasan. Tapi ya hati kamu. Kamu cuma perlu yakin, percaya, jujur.”
“Tapi—" Hampir aja gue mau motong omongan dia lagi, tapi gue urungkan niat gue ketika dia menggenggam tangan gue pertanda omongan dia belum selesai.
“Orang yang ngedampingin kamu cuma perlu sabar, nggak bosen ingetin kamu, dan nggak egois buat ninggalin kamu. Cuma itu. Dan mungkin ya itu alesan aku buat terus bertahan sama kamu. Aku nggak mau egois ninggalin kamu dan belum ngerasa bosan buat ingetin kamu, sampe aku bisa bantu kamu nunjukin ke mereka yang memandang rendah kamu kalau mereka salah besar.”
“Masalahnya, cuma kamu yang percaya begitu.”
“Nggak kok. Aku yakin, kalau Papa kamu masih ada. Beliau pasti bakalan bilang hal yang sama ke kamu. Zy, kamu bukan orang yang nothing. Kamu bukan orang yang gagal. Kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa jadi sesuatu. Kamu pasti bisa nunjukin ke mereka kalau mereka salah selama ini. Papa kamu, nggak mendidik anak yang gampang putus asa.”
“………”
“Papa kamu nggak akan ada di titik kesuksesannya kalau beliau nggak pernah ngerasa ada di bawah. Kalau beliau nggak pernah ngerasa gagal sebelumnya. Kalau beliau putus asa dan mau berenti berusaha. Buktinya Papa kamu juga nikah sama Mama kamu di umur yang udah cukup tua kan? Kenapa? Beliau nggak putus asa mencari jodoh yang dia cari, beliau nggak mau nyerah nyari cewek yang nggak ngeliat dia cuma dari harta, beliau nggak nyari istri yang siap nyari pengganti suaminya ketika beliau pergi meninggalkan istrinya selamanya. Sampai akhirnya di umurnya yang udah nggak muda lagi, Papa kamu ketemu Mama kamu…”
“………”
“Terus Papa kamu keluar dari kantornya terus merintis usahanya berdua sama Om Reza di Jakarta sedangkan Mama kamu ditinggalin di kota di Jawa sana seorang diri ngurus kamu, berarti Papa kamu nggak mau berhenti berusaha. Kali ini tekad dia, mau berjuang demi menafkahi keluarganya yang ditinggalin di kampung sana. Padahal bisa aja kan Papa kamu nikah lagi, begitu juga sama Mama kamu? Tapi karena Papa kamu yakin, percaya, dan jujur. Beliau nggak mikir begitu. Sampai akhirnya keyakinan, kepercayaan, dan kejujuran dia membuahkan hasil dimana istri dan anak-anaknya masih terus mengingat beliau dan merasa beliau nggak pernah tergantikan sampe detik ini. Itu semua perjuangan, Zy.”
“Tapi apa aku bisa kayak Papa?”
Kali ini Emi yang menggenggam jemari gue. “Jujur ya, Zy. Aku yakin dan percaya, kamu pasti bisa.”
---
“Aku selonjorin kaki sebentar yaa, Zy.” kata Emi sembari merebahkan badannya di tempat tidur.
Kamar dia saat itu sangat berantakan. Ada barang-barang dekorasi, barang-barang yang seharusnya ada di ruang tamu dimasukkan ke dalam kamarnya, dan beberapa barang yang akan dibawa kami untuk ke luar kota Senin nanti.
Gue mengangkut hantaran yang tadi kami ambil satu per satu ke dalam ruang tamu Emi yang sudah kosong. Kami sengaja tidak membawanya ke rumah karena kami mau menitipkan hantaran ini ke rumah tetangga Emi. Seharusnya hantaran ini memang ada di rumah gue, secara gue adalah pihak laki-laki. Tapi untuk mempermudah dan menghindari kerempongan keluarga gue di Minggu pagi nanti, kami memilih demikian.
“Mi aku—” Emi terlihat kelelahan. Dia terlelap dengan baju kerja yang masih melekat di badannya.
Gue membantunya membuka kaos kaki dan jaket yang dia pakai. Bisa aja sih gue bantu mengganti pakaian dia. TAPI, gue khawatir nanti terlihat agak mencurigakan bagi ayahnya Emi. Hahaha.
Setelah memastikan Emi sudah tidur dengan aman. Gue pun pamit pulang via WhatsApp dan kembali menghidupkan mobil untuk pulang ke rumah.
Dret. Dret. Dret.
HP gue mendadak berbunyi ketika gue baru saja akan menginjak gas. Gue menoleh ke arah pintu depan rumah Emi, “Dia bangun lagi gitu?” Tetapi tidak ada tanda-tanda ada orang yang keluar dari rumah.
Gue pun membuka HP gue untuk memeriksa siapa yang menghubungi gue di waktu menjelang dini hari tersebut.
(BANG OZZY CHAT)
Quote:
(BANG OZZY CHAT)
Quote:
Omongan Emi terjawab. Gue hanya perlu yakin dan percaya, kalau semuanya akan terus jadi lebih baik. Gue tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Tuhan yang selalu Maha Pemurah bagi hambanya yang sedang butuh pertolongan, padahal seringkali pula hambanya lupa kepada Tuhan.
--
Sore hari gue baru bisa mendatangi rumah Emi. Pada perjalanan dari gerbang perumahan Emi sampai ke depan rumahnya, ada beberapa ibu yang sepertinya mengamati gue. Gue tidak peduli juga. Mungkin mereka berpikir orang mau lamaran itu harusnya tidak bertemu. Hei, anda saja tidak tahu yang gue dan Emi jalani seperti apa, jadi tidak usah berpikir macam-macam. Simpan aja pemikiran busuk anda-anda yang siap bergosip itu.
“Udah siap kan?” sapa gue ketika Emi membukakan pintu rumahnya.
“Ayo.” jawabnya singkat.
“Jadinya kemana kita?” tanya gue.
“Ke Mall yang ada huruf R gedenya lah. Disana bajunya bagus-bagus kok, harganya juga bersahabat sama kantong kita saat ini, Zy.”
Gue hanya tersenyum menyaksikan keputusan Emi ini. Rasa gundah yang selama ini kami rasakan seperti hilang karena dia mau menurunkan ego untuk kebaikan bersama. Mungkin sekarang ini gue dan Emi sedang terjebak di titik terendah dimana gue dan Emi merasa apa-apa yang kami usahakan dan perjuangkan selalu saja mendapat tentangan, ketidaksetujuan, yang pada akhirnya membawa kami dalam keputusasaan sesaat. Dengan sikap seperti ini, mau menerima keadaan, yang gue definisikan secara jelas sebagai namanya menerima apa adanya, menambah energi gue menjadi berlipat-lipat banyaknya. Bagi Sebagian orang, hal untuk membeli kebutuhan tersier terdengar remeh, tetapi bagi gue dan Emi ini adalah momen penting dimana penurunan ego diri sendir demi kepentingan bersama harus ada di atas segalanya. Sejauh ini kami berhasil melewati itu bersama-sama.
Diubah oleh yanagi92055 22-11-2021 20:25
itkgid dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup
dan bintang 5 
