- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.1K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#441
Setengah Laku_Part 6
Gue sudah berada di parkiran mobil kantor Emi. Tadi gue menyempatkan diri untuk mengganti motor dengan mobil. Soalnya hari ini selepas menjemput Emi, gue akan mengambil hantaran kami. Hantaran kami sudah selesai dihias dan sudah bisa diambil. Soalnya sepertinya terlalu mepet kalau kami masih harus ambil besok. Lagipula besok gue dan Emi masih ada jadwal untuk membeli baju lamaran kami dan koordinasi dengan tetangga di komplek rumah Emi. So much to do.
Sore itu masih cukup terang untuk waktu yang sudah menunjukkan pukul 18.00. Bersyukur banget sore itu tidak hujan. Entah akan semacet apa jalanan kalau hujan.
(EMI CHAT)
Ketika gue sedang mengeluarkan sarung untuk gue pakai beribadah, tidak sengaja gue melihat mobil yang berada tepat di hadapan gue. Mobil klasik tahun 90-an awal berwarna hitam. Gue sudah pernah membahas pemilik mobil legendaris ini. Yap, siapa lagi kalau bukan pacarnya Deborah alias Debby.
Gue benar-benar tidak sengaja memarkirkan mobil kami berhadap-hadapan. Hanya saja, kebetulan spot yang kosong hanya ada di hadapan mobil tersebut. Alhasil gue pun bisa menatap langsung ke dalam mobil dimana si empunya mobil sedang bercengkrama dengan kekasihnya, sembari menggunakan spion tengah mobil untuk merapihkan jilbab yang ia gunakan.
Gue tidak ingin terlihat tertarik dengan apa yang sedang disajikan oleh Debby. Jadi gue putuskan untuk segera keluar dari mobil gue dan bergegas ke mushola. Namun, semua sudah terlambat. Debby sudah menyadari kehadiran gue.
Dengan senyum penuh kelicikan, Debby pun keluar dari mobil dan segera merangkul pacarnya untuk mendekat ke hadapannya. Dia seakan memperlihatkan gestur, “Gue juga bisa kok dapetin pacar bermobil kayak Emi, Bang Ija. Nyesel kan lo, Bang Ija?” ke arah gue. Reaksi gue? Ya tentu saja melengos biasa. Tidak peduli juga gue. Lagipula sejak awal pun gue memang tidak pernah tertarik pada Debby kok.
---
Setelah gue sudah menyelesaikan ibadah Magrib gue, gue duduk di ruang tunggu yang sama ketika gue melakukan wawancara di kantor ini. Emi bilang kalau dia mau membuat beberapa notes untuk ditinggalkan di kantor ini. Maklum, gue dan Emi akan ambil cuti 3 hari setelah kami melaksanakan lamaran nanti. Kami akan mengurus berkas pernikahan kami di kampung Emi sana. Divisi Emi sangat bergantung pada Emi, apalagi di awal minggu. Jadi banyak yang perlu Emi catat untuk timnya tersebut.
Hari sudah mulai gelap. Jadi, lampu sorot di parkiran mobil pun dihidupkan. Gue bisa melihat dengan jelas kalau Debby dan pacarnya masih bercengkrama di samping mobil mereka. Entah apa yang masih mereka bahas di Magrib seperti ini? Apa mereka tidak takut ada makhluk lain yang ikut nimbrung dengan mereka? Entahlah. Dan sekali lagi, gue tidak peduli.
“Ngeliatin Bu Deborah-nya serius bener, Pak?” suara sekuriti yang menjaga receptionist mengangetkan gue. Maklum, saat itu ruang tunggu sudah cukup sepi walaupun masih ada banyak karyawan di dalam ruangan. “Cakep yak, Pak? Hehehe.”
“Oh.. Hahaha. Biasa aja, Pak. Saya nggak mikir gimana-gimana kok. Kebetulan saya kenal sama dia waktu kuliah dulu. Kebetulan juga, dia teman sekelasnya Emi dan Bimo. Bapak tau kan mereka?”
“Kenal dong, Pak. Siapa yang nggak kenal duo Ibu Emi dan Bapak Bimo? Udah kayak sepatu mereka mah, Pak. Nggak bisa ditinggal sepasang, kemana-mana mesti barengan. Hahaha.”
Gue lebih senang jika si bapak bilang ‘biji’ alias berdua mulu kemana-mana. Hahaha. “Hmm. Begitu. Hahaha. Iya, saya mah nggak ngeliatin gimana gimana. Saya cuma lagi bingung aja, dulu kayaknya bukan ini cowoknya makanya saya coba perhatiin lagi. Hahaha.” alibi gue.
“Yah waktu kuliah kan udah lama kali, Pak. Cewek kayak Ibu Deborah mah nggak akan pernah ngerasain jomblo. Pasti gampang laku. Lagian siapa yang nggak mau sama cewek kayak doi, Pak? Saya aja kalau nggak inget anak bini mah mau dah ngejar Ibu Deborah, Pak. Hahaha.” Ujar si bapak sembari tergelak tipis.
Miris banget pemikiran bapak ini. Andai beliau tau bagaimana kelakuan Debby. “Emang Debby segitu cakepnya ya? Masa kantor sebesar ini nggak ada yang lebih cakep dari dia, Pak?”
“Kalo kata sekuriti dimari sih, doi termasuk nyang paling cakep di antara staf lainnya Pak. Staf yang perempuan ya tentunya. Eh saya nggak maksud menghina Ibu Emi loh, Pak. Saya cuma—”
“Iya saya paham kok, Pak. Saya juga akui kalau Deborah itu cakep. Tapi kebetulan selera saya bukan yang kayak dia. Hehehe.”
Gue agak kaget kalau sekuriti di sini ternyata begitu memperhatikan Debby. Walaupun lebih memperhatikan fisik dia ya, bukan kinerjanya. Itu sebenarnya tidak ada masalah selama yang bersangkutan juga oke-oke saja. Faktanya, Debby adalah orang yang sangat haus atensi dan sepertinya dia punya obsesi untuk menaklukan semua cowok dengan kelebihan fisik yang dia miliki. Makanya mungkin dia merasa gagal ketika berurusan dengan gue, dan itu pula yang jadi sebab dia seakan membenci gue, karena gue tidak mempan dipancing dengan segala tipu daya dia.
Gue bisa melihat kalau Debby tidak ikut naik ke mobil pacarnya tersebut. Dia say goodbyedengan pacarnya dan berjalan menuju pintu masuk. Gue tidak ingin membuat dia semakin besar kepala, jadi gue pun menyibukkan diri dengan HP gue. Tetapi ternyata, Debby tidak kunjung masuk ke ruang tunggu. Debby hanya berdiri di depan pintu masuk sembari berfokus pada HP-nya. “Apa mungkin ada barang yang ketinggalan di pacarnya?” tanya gue dalam hati.
(EMI CHAT)
Dengan berat hati, gue pun melihat kembali ke arah jendela yang ada di sebrang ruang tunggu. Kilat sudah mulai terlihat, pertanda akan segera turun hujan. Dan Debby masih berdiri di tempat yang sama dengan aktivitas yang sama.
Tidak lama kemudian, ada sebuah motor berhenti di hadapan Debby. Tepat di depan pintu masuk. Si empunya motor turun dari motornya dan memberikan helm yang ia sangkutkan pada stang motor untuk kemudian digunakan oleh Debby.
“Masa iya pacarnya ganti kendaraan gitu? Mobilnya langsung digadein apa rumahnya deket sini?” tanya gue dalam hati.
“Oy, Pak Irwan! Belum balik?” teriak sekuriti tadi.
Orang yang dipanggil Pak Irwan tersebut membuka helmnya dan membuka pintu masuk. “Biasa, jadi kang ojek heula (dulu) euy. Hahaha. Duluan yak!”
“Balik ke Parung?”
“Liat sikon heula, Pak!”
“Siap 86!”
Gue hanya terdiam and don’t have an idea at the moment. Gue mempertanyakan prinsip si sekuriti ini. Dia barusan membahas tentang Debby yang sudah punya pacar baru tetapi barusan dia seakan sudah terbiasa (dan menerima atas fakta) kalau Pak Irwan itu jadi ‘tukang ojek’ alias punya hubungan khusus dengan Debby. Benarkah? Ini sudah rahasia umum atau gimana sih maksudnya? Sebenarnya siapa pasangan Debby yang sesungguhnya di mata orang-orang kantor ini?
Tapi satu yang pasti. CEWEK INI GILA BANGET! BELUM BERAPA LAMA PACAR ASLINYA PULANG, DIA UDAH BONCENGAN LAGI GITU SAMA SUAMI ORANG? Bagaimana kalau pacarnya ternyata masih belum jauh? Atau mungkin pacarnya sengaja balik lagi buat ketemu sama dia? Tapi, again, apa urusan gue sih?
“Heh!”
Gue memalingkan muka gue ke arah sumber suara. “Eh kamu.” Emi udah ada di samping gue. “Udah beres semuanya?”
“Alhamdulillah udah. Yuk jalan. Mumpung belum jam 7 (malam) juga.”
“Siap!”
Sesampainya di McD, sesekali gue melirik Emi yang masih sibuk dengan HP. Sepertinya dia masih mengurus pekerjaan dia. Atau mungkin dia juga sibuk koordinasi dengan keluarganya? Entahlah. Satu yang pasti, dia bukan tipe cewek yang sibuk dengan HP-nya ketika ada pasangannya di sisinya.
“Maaf ya. Ini aku ngobrol sama Mbaknya. Katanya kalau sampe di rumah dia ba’da Isya, diminta tunggu sebentar. Jam 20.30-an lah. Mbaknya ada pengajian dulu di masjid deket rumahnya.” Seperti tebakan gue, pasti ada yang dia urus. “Jadi santai aja jalannya ya, Zy.”
Gue menggenggam tangan dia yang dingin. “Aku santai kok.” Gue tersenyum ke arah dia. “InsyaAllah acaranya nanti jalan lancar oke?”
“Semoga.” jawabnya sambil menyeruput ice coffee float yang dia beli tadi.
Gue sengaja tidak membicarakan kejadian Debby yang barusan gue lihat pada Emi. Gue tidak ingin merusak mood Emi dengan membahas Debby. Siapa yang tau kalau ternyata di kantor hari ini, dia berseteru dengan Debby, bukan? Gue juga tidak ingin membicarakan kejadian gue dengan Dania dan Mama di rumah. Gue tidak ingin dia memikirkan kelakuan besan dia yang ajaib ini. Ya seperti apa doa Emi tadi, semoga saja acara lamaran kami nanti berjalan lancar.
---
It’s getting closer.
Ketika gue melihat hasil kreasi hantaran kami yang bentuknya keren dan bagus banget, cuma kalimat itu yang ada di pikiran gue. “It’s getting closer!”Hari besar gue segera datang! Sebentar lagi gue akan lamaran! Tinggal beberapa langkah lagi hingga hubungan gue dengan Emi sah di mata hukum dan agama.
Gue melihat pancaran kebahagiaan dan excitement yang sama pada Emi. Dia yang terbiasa pendiam ketika harus berkomunikasi langsung dengan orang lain, kali ini penuh bahasan. Sesekali dia pun bercerita tentang persiapan pernikahan kami pada Mbak vendor yang ada di hadapan kami. Begitupun sebaliknya. Mbak vendor ini berterima kasih pada kami yang mempercayakan hantarannya pada dia, yang masih merintis usaha desain hantaran ini.
Emi, si penyambung silaturahmi.
Kenapa gue berkata demikian? Karena kalau tidak ada Emi, mungkin tidak akan ada silaturahmi gue dengan seluruh member di band gue. Kalau tidak ada Emi, mungkin gue tidak akan berani mengambil Pendidikan S2 gue dan menjalin silaturahmi dengan teman kampus gue. Kalau tidak Emi, mungkin gue malas untuk menghubungi seluruh saudara gue dan meminta mereka untuk datang ke lamaran serta pernikahan gue nanti. Banyak hal lainnya yang tidak bisa gue tuliskan satu per satu bagaimana Emi merubah hidup gue.
“Jalannya pelan-pelan aja ya, Mas? Soalnya takutnya mikanya geser. Nanti kalau geser, takutnya ngerubah bentuk di dalemnya.” jelas Mbak vendor tersebut.
“Siap, Mbak. Makasih sekali lagi ya.”
“Nanti bisa dikembaliin H+7 aja ya, Mas. Nggak usah dibersihin lemnya. Dibalikin seadanya aja.”
“Siap. Pamit dulu, Mbak.”
“Hati-hati di jalan, Mbak! Hati-hati nyetirnya, Mas! Semoga lancar yaa jalannya.” kata Mbak Vendor diiringi senyum ramah dan lambaian tangan.
“Nanti mampir dulu ke Dunkin Donuts boleh?” tanya Emi mendadak.
“Kenapa gitu?”
“Nggak tau kenapa, mendadak ngidam donat aja.”
Gue nengok ke arah Emi. “Lah! Belom crot di dalem aja lo udah ngidam, Mi? Rugi bandar dong gue!”
“Kok bangs*t mulut lo! Emang gue begituan sama siapa?! Hahaha.”
“Ya kali aja, lo nggak gue sentuh-sentuh malah ngelampiasin sama cowok lain gitu?”
“Emangnya lo! Gue sih nggak akan!”
“Gue apaan maksud lo?” Awas aja bahasan ini mengarah ke urusan cewek-cewek lain.
“Lo melampiaskan napsu lo sama cowok lain!” kata dia.
“Bangs*t amat! Hahaha.” Kami pun tertawa bersama.
Kapan lagi bisa ngomong kayak begini sama calon istri sendiri? Gue yakin banget di luar sana banyak yang bisa berbicara sebebas ini dengan pasangannya. Tapi tidak jarang yang meminta untuk berubah drastis demi alibi ‘lebih dewasa’. Padahal bagi gue, selama kita bisa menempatkan diri seharusnya tidak akan jadi masalah bukan?
---
Sore itu masih cukup terang untuk waktu yang sudah menunjukkan pukul 18.00. Bersyukur banget sore itu tidak hujan. Entah akan semacet apa jalanan kalau hujan.
(EMI CHAT)
Quote:
Ketika gue sedang mengeluarkan sarung untuk gue pakai beribadah, tidak sengaja gue melihat mobil yang berada tepat di hadapan gue. Mobil klasik tahun 90-an awal berwarna hitam. Gue sudah pernah membahas pemilik mobil legendaris ini. Yap, siapa lagi kalau bukan pacarnya Deborah alias Debby.
Gue benar-benar tidak sengaja memarkirkan mobil kami berhadap-hadapan. Hanya saja, kebetulan spot yang kosong hanya ada di hadapan mobil tersebut. Alhasil gue pun bisa menatap langsung ke dalam mobil dimana si empunya mobil sedang bercengkrama dengan kekasihnya, sembari menggunakan spion tengah mobil untuk merapihkan jilbab yang ia gunakan.
Gue tidak ingin terlihat tertarik dengan apa yang sedang disajikan oleh Debby. Jadi gue putuskan untuk segera keluar dari mobil gue dan bergegas ke mushola. Namun, semua sudah terlambat. Debby sudah menyadari kehadiran gue.
Dengan senyum penuh kelicikan, Debby pun keluar dari mobil dan segera merangkul pacarnya untuk mendekat ke hadapannya. Dia seakan memperlihatkan gestur, “Gue juga bisa kok dapetin pacar bermobil kayak Emi, Bang Ija. Nyesel kan lo, Bang Ija?” ke arah gue. Reaksi gue? Ya tentu saja melengos biasa. Tidak peduli juga gue. Lagipula sejak awal pun gue memang tidak pernah tertarik pada Debby kok.
---
Setelah gue sudah menyelesaikan ibadah Magrib gue, gue duduk di ruang tunggu yang sama ketika gue melakukan wawancara di kantor ini. Emi bilang kalau dia mau membuat beberapa notes untuk ditinggalkan di kantor ini. Maklum, gue dan Emi akan ambil cuti 3 hari setelah kami melaksanakan lamaran nanti. Kami akan mengurus berkas pernikahan kami di kampung Emi sana. Divisi Emi sangat bergantung pada Emi, apalagi di awal minggu. Jadi banyak yang perlu Emi catat untuk timnya tersebut.
Hari sudah mulai gelap. Jadi, lampu sorot di parkiran mobil pun dihidupkan. Gue bisa melihat dengan jelas kalau Debby dan pacarnya masih bercengkrama di samping mobil mereka. Entah apa yang masih mereka bahas di Magrib seperti ini? Apa mereka tidak takut ada makhluk lain yang ikut nimbrung dengan mereka? Entahlah. Dan sekali lagi, gue tidak peduli.
“Ngeliatin Bu Deborah-nya serius bener, Pak?” suara sekuriti yang menjaga receptionist mengangetkan gue. Maklum, saat itu ruang tunggu sudah cukup sepi walaupun masih ada banyak karyawan di dalam ruangan. “Cakep yak, Pak? Hehehe.”
“Oh.. Hahaha. Biasa aja, Pak. Saya nggak mikir gimana-gimana kok. Kebetulan saya kenal sama dia waktu kuliah dulu. Kebetulan juga, dia teman sekelasnya Emi dan Bimo. Bapak tau kan mereka?”
“Kenal dong, Pak. Siapa yang nggak kenal duo Ibu Emi dan Bapak Bimo? Udah kayak sepatu mereka mah, Pak. Nggak bisa ditinggal sepasang, kemana-mana mesti barengan. Hahaha.”
Gue lebih senang jika si bapak bilang ‘biji’ alias berdua mulu kemana-mana. Hahaha. “Hmm. Begitu. Hahaha. Iya, saya mah nggak ngeliatin gimana gimana. Saya cuma lagi bingung aja, dulu kayaknya bukan ini cowoknya makanya saya coba perhatiin lagi. Hahaha.” alibi gue.
“Yah waktu kuliah kan udah lama kali, Pak. Cewek kayak Ibu Deborah mah nggak akan pernah ngerasain jomblo. Pasti gampang laku. Lagian siapa yang nggak mau sama cewek kayak doi, Pak? Saya aja kalau nggak inget anak bini mah mau dah ngejar Ibu Deborah, Pak. Hahaha.” Ujar si bapak sembari tergelak tipis.
Miris banget pemikiran bapak ini. Andai beliau tau bagaimana kelakuan Debby. “Emang Debby segitu cakepnya ya? Masa kantor sebesar ini nggak ada yang lebih cakep dari dia, Pak?”
“Kalo kata sekuriti dimari sih, doi termasuk nyang paling cakep di antara staf lainnya Pak. Staf yang perempuan ya tentunya. Eh saya nggak maksud menghina Ibu Emi loh, Pak. Saya cuma—”
“Iya saya paham kok, Pak. Saya juga akui kalau Deborah itu cakep. Tapi kebetulan selera saya bukan yang kayak dia. Hehehe.”
Gue agak kaget kalau sekuriti di sini ternyata begitu memperhatikan Debby. Walaupun lebih memperhatikan fisik dia ya, bukan kinerjanya. Itu sebenarnya tidak ada masalah selama yang bersangkutan juga oke-oke saja. Faktanya, Debby adalah orang yang sangat haus atensi dan sepertinya dia punya obsesi untuk menaklukan semua cowok dengan kelebihan fisik yang dia miliki. Makanya mungkin dia merasa gagal ketika berurusan dengan gue, dan itu pula yang jadi sebab dia seakan membenci gue, karena gue tidak mempan dipancing dengan segala tipu daya dia.
Gue bisa melihat kalau Debby tidak ikut naik ke mobil pacarnya tersebut. Dia say goodbyedengan pacarnya dan berjalan menuju pintu masuk. Gue tidak ingin membuat dia semakin besar kepala, jadi gue pun menyibukkan diri dengan HP gue. Tetapi ternyata, Debby tidak kunjung masuk ke ruang tunggu. Debby hanya berdiri di depan pintu masuk sembari berfokus pada HP-nya. “Apa mungkin ada barang yang ketinggalan di pacarnya?” tanya gue dalam hati.
(EMI CHAT)
Quote:
Dengan berat hati, gue pun melihat kembali ke arah jendela yang ada di sebrang ruang tunggu. Kilat sudah mulai terlihat, pertanda akan segera turun hujan. Dan Debby masih berdiri di tempat yang sama dengan aktivitas yang sama.
Tidak lama kemudian, ada sebuah motor berhenti di hadapan Debby. Tepat di depan pintu masuk. Si empunya motor turun dari motornya dan memberikan helm yang ia sangkutkan pada stang motor untuk kemudian digunakan oleh Debby.
“Masa iya pacarnya ganti kendaraan gitu? Mobilnya langsung digadein apa rumahnya deket sini?” tanya gue dalam hati.
“Oy, Pak Irwan! Belum balik?” teriak sekuriti tadi.
Orang yang dipanggil Pak Irwan tersebut membuka helmnya dan membuka pintu masuk. “Biasa, jadi kang ojek heula (dulu) euy. Hahaha. Duluan yak!”
“Balik ke Parung?”
“Liat sikon heula, Pak!”
“Siap 86!”
Gue hanya terdiam and don’t have an idea at the moment. Gue mempertanyakan prinsip si sekuriti ini. Dia barusan membahas tentang Debby yang sudah punya pacar baru tetapi barusan dia seakan sudah terbiasa (dan menerima atas fakta) kalau Pak Irwan itu jadi ‘tukang ojek’ alias punya hubungan khusus dengan Debby. Benarkah? Ini sudah rahasia umum atau gimana sih maksudnya? Sebenarnya siapa pasangan Debby yang sesungguhnya di mata orang-orang kantor ini?
Tapi satu yang pasti. CEWEK INI GILA BANGET! BELUM BERAPA LAMA PACAR ASLINYA PULANG, DIA UDAH BONCENGAN LAGI GITU SAMA SUAMI ORANG? Bagaimana kalau pacarnya ternyata masih belum jauh? Atau mungkin pacarnya sengaja balik lagi buat ketemu sama dia? Tapi, again, apa urusan gue sih?
“Heh!”
Gue memalingkan muka gue ke arah sumber suara. “Eh kamu.” Emi udah ada di samping gue. “Udah beres semuanya?”
“Alhamdulillah udah. Yuk jalan. Mumpung belum jam 7 (malam) juga.”
“Siap!”
Sesampainya di McD, sesekali gue melirik Emi yang masih sibuk dengan HP. Sepertinya dia masih mengurus pekerjaan dia. Atau mungkin dia juga sibuk koordinasi dengan keluarganya? Entahlah. Satu yang pasti, dia bukan tipe cewek yang sibuk dengan HP-nya ketika ada pasangannya di sisinya.
“Maaf ya. Ini aku ngobrol sama Mbaknya. Katanya kalau sampe di rumah dia ba’da Isya, diminta tunggu sebentar. Jam 20.30-an lah. Mbaknya ada pengajian dulu di masjid deket rumahnya.” Seperti tebakan gue, pasti ada yang dia urus. “Jadi santai aja jalannya ya, Zy.”
Gue menggenggam tangan dia yang dingin. “Aku santai kok.” Gue tersenyum ke arah dia. “InsyaAllah acaranya nanti jalan lancar oke?”
“Semoga.” jawabnya sambil menyeruput ice coffee float yang dia beli tadi.
Gue sengaja tidak membicarakan kejadian Debby yang barusan gue lihat pada Emi. Gue tidak ingin merusak mood Emi dengan membahas Debby. Siapa yang tau kalau ternyata di kantor hari ini, dia berseteru dengan Debby, bukan? Gue juga tidak ingin membicarakan kejadian gue dengan Dania dan Mama di rumah. Gue tidak ingin dia memikirkan kelakuan besan dia yang ajaib ini. Ya seperti apa doa Emi tadi, semoga saja acara lamaran kami nanti berjalan lancar.
---
It’s getting closer.
Ketika gue melihat hasil kreasi hantaran kami yang bentuknya keren dan bagus banget, cuma kalimat itu yang ada di pikiran gue. “It’s getting closer!”Hari besar gue segera datang! Sebentar lagi gue akan lamaran! Tinggal beberapa langkah lagi hingga hubungan gue dengan Emi sah di mata hukum dan agama.
Gue melihat pancaran kebahagiaan dan excitement yang sama pada Emi. Dia yang terbiasa pendiam ketika harus berkomunikasi langsung dengan orang lain, kali ini penuh bahasan. Sesekali dia pun bercerita tentang persiapan pernikahan kami pada Mbak vendor yang ada di hadapan kami. Begitupun sebaliknya. Mbak vendor ini berterima kasih pada kami yang mempercayakan hantarannya pada dia, yang masih merintis usaha desain hantaran ini.
Emi, si penyambung silaturahmi.
Kenapa gue berkata demikian? Karena kalau tidak ada Emi, mungkin tidak akan ada silaturahmi gue dengan seluruh member di band gue. Kalau tidak ada Emi, mungkin gue tidak akan berani mengambil Pendidikan S2 gue dan menjalin silaturahmi dengan teman kampus gue. Kalau tidak Emi, mungkin gue malas untuk menghubungi seluruh saudara gue dan meminta mereka untuk datang ke lamaran serta pernikahan gue nanti. Banyak hal lainnya yang tidak bisa gue tuliskan satu per satu bagaimana Emi merubah hidup gue.
“Jalannya pelan-pelan aja ya, Mas? Soalnya takutnya mikanya geser. Nanti kalau geser, takutnya ngerubah bentuk di dalemnya.” jelas Mbak vendor tersebut.
“Siap, Mbak. Makasih sekali lagi ya.”
“Nanti bisa dikembaliin H+7 aja ya, Mas. Nggak usah dibersihin lemnya. Dibalikin seadanya aja.”
“Siap. Pamit dulu, Mbak.”
“Hati-hati di jalan, Mbak! Hati-hati nyetirnya, Mas! Semoga lancar yaa jalannya.” kata Mbak Vendor diiringi senyum ramah dan lambaian tangan.
“Nanti mampir dulu ke Dunkin Donuts boleh?” tanya Emi mendadak.
“Kenapa gitu?”
“Nggak tau kenapa, mendadak ngidam donat aja.”
Gue nengok ke arah Emi. “Lah! Belom crot di dalem aja lo udah ngidam, Mi? Rugi bandar dong gue!”
“Kok bangs*t mulut lo! Emang gue begituan sama siapa?! Hahaha.”
“Ya kali aja, lo nggak gue sentuh-sentuh malah ngelampiasin sama cowok lain gitu?”
“Emangnya lo! Gue sih nggak akan!”
“Gue apaan maksud lo?” Awas aja bahasan ini mengarah ke urusan cewek-cewek lain.
“Lo melampiaskan napsu lo sama cowok lain!” kata dia.
“Bangs*t amat! Hahaha.” Kami pun tertawa bersama.
Kapan lagi bisa ngomong kayak begini sama calon istri sendiri? Gue yakin banget di luar sana banyak yang bisa berbicara sebebas ini dengan pasangannya. Tapi tidak jarang yang meminta untuk berubah drastis demi alibi ‘lebih dewasa’. Padahal bagi gue, selama kita bisa menempatkan diri seharusnya tidak akan jadi masalah bukan?
---
Diubah oleh yanagi92055 10-11-2021 21:48
itkgid dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Tutup
dan bintang 5 

