Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#439
Setengah Laku_Part 5
(EMI CHAT)
Quote:


Kemudian diikuti dengan missed calldari dia sebanyak-banyaknya. Hahaha. Emi paling tau cara terbaik untuk membangunkan gue.

Seperti apa yang Emi bilang di atas, agenda gue hari ini cukup padat. Gue harus bangun dan siap sepagi mungkin untuk mengurus administrasi persiapan pernikahan gue. Yap, gue harus mengurus administrasi yang panjang dan berbelit-belit yang menyangkut kegiatan isi form, fotokopi berkas, dan mengantri. Ya mau bagaimana lagi? Gue tidak bisa menghindari itu semua, karena ya hal seperti ini adalah ciri khas negara kita ini. Betul bukan?

Emi sudah mengingatkan gue untuk fotokopi seluruh berkas dan mencetak foto gue dengan segala ukuran sebanyak mungkin. Tidak lupa untuk membawa banyak map dan alat tulis juga. Biar gue tidak repot untuk beli kesana sini lagi. Kami paham betul kalau segala macam yang berurusan dengan administrasi publik pasti sulit. Sebetulnya tidak sulit untuk dilakukan, hanya saja harus melewati tahapan-tahapan yang harusnya tidak panjang sama sekali.

Kalau tidak ingin direpotkan, ya tinggal bayar sana sini atau bayar calo aja. Sederhana dan cepat. Tapi gue dan Emi tidak mau menambah banyak biaya tidak penting lainnya untuk itu semua.

Administrasi untuk mengurusi dokumen-dokumen yang diperlukan agar gue bisa menikah di luar kota gue ini adalah sesuatu yang mesti dilakukan dengan sabar. Kuncinya sabar saja sudah. Berurusan dengan orang-orang di pemerintahan daerah seringkali membuat gue mengelus dada. Bukan karena ketidakbecusannya, tetapi lebih ke waktu penyelesaiannya yang kadang memakan waktu cukup lama.

Gue memulai pagi gue di hari Jum’at yang cerah itu dengan mengurus perizinan dari RT dan RW tempat gue tinggal. Itu juga harus diselingi dengan basa basi dulu karena mereka adalah tetangga dekat rumah gue. Setelah selesai proses di RW, gue segera memacu kuda besi gue untuk bisa di Kelurahan sepagi mungkin.

Walaupun gue sudah berusaha datang sepagi mungkin di sana, masih ada orang-orang yang datang lebih pagi dari gue. “Gue ngerasa percuma banget ngegangguin Pak RT sama Pak RW yang pada baru bangun tidur, ujung-ujungnya masih aja ngantri begini.” kata gue dalam hati.

“Duduk dulu, Mas.” ajak salah satu bapak yang menyadari kedatangan gue. Beliau memberikan kursi plastik yang telah disediakan di depan pintu masuk yang masih tertutup rapat itu. “Jam segini mah petugasnya belum pada dateng. Paling jam 9-an atau 10 baru pada siap pelayanan.” tambah beliau.

“Iya, terus jam 11. Pelayanan ditutup dulu, dilanjut lagi jam 2 siang. Tapi jam 3 pelayanan tutup. Saya udah 2 minggu bolak balik kesini nggak beres-beres, Pak.” celetuk salah satu ibu-ibu yang juga sedang duduk di bangku antrian.

“Sabar, Bu. Mungkin berkasnya numpuk. Prosesnya panjang. Kasian mereka, jadi banyak kerjaannya.” Entah karena Bapak ini mantan PNS atau mungkin punya anak yang jadi PNS, makanya beliau masih bisa ber-positive thinking begini.

Saat itu sudah hampir jam 8.30 tapi pintu depan Kelurahan pun masih belum dibuka. Petugas yang sudah terlihat bekerja hanya petugas kebersihan yang telah selesai membersihkan ruangan serta mempersiapkan minuman.

Kembali lagi seperti apa yang dibilang Bapak yang tadi, sabar walaupun mungkin stok kesabaran orang-orang yang ikut dalam antrian bersama gue sudah mulai habis. Ingin rasanya gue berteriak dan membuka paksa pintu Kelurahan tempat tinggal gue tersebut. Tetapi karena gue tidak ingin membuat perkara dan mengulang segala prosesnya dari awal lagi, gue terpaksa harus sabar mengikuti semua proses panjangnya. Perbaikan birokrasi yang hanya janji-janji belaka pada setiap pemilihan kepala daerah yang tidak pernah gue pilih terpampang nyata dalam pelaksanaannya.

---

“Kak, kamu jagain Dian dulu ya.” Mama berkata saat gue sedang bersiap untuk kembali ke Kelurahan, memeriksa apakah berkas gue telah selesai ditandatangani. Soalnya jam 4 sore nanti gue harus sudah berangkat menuju kantor Emi untuk menjemput dia. Gue tidak mau terjebak macet mereka yang pulang kerja.

“Lah? Kok jagain Dian sih, Ma? Kan Ija mau ke Kelurahan lagi ini, masih belum beres ngurus administrasi. Kok malah jadi Ija suruh jagain Dian sih?” Gue bingung dengan keinginan Mama ini. Beliau padahal tau kalau gue sudah bangun dari pagi buta untuk mengurus administrasi ini.

“Ya ilah sebentar aja, Kak. Paling lama setengah jam paling. Mama kan sebentar doang mau ke tukang jahit. Mama nggak mungkin bawa Dian, Kak. Kasian lah Dian masa digeletakin di rumahnya bapak tukang jahit? Kepanasan dia pasti. Di sana nggak ada AC, terus kotor. Toh ini kan juga buat kamu, buat hari lamaran kamu.” kata Mama tanpa menoleh sedikit pun ke arah gue. Beliau sedang sibuk menggunakan kerudung beliau di depan meja rias.

“Mama mau bawa mobil kan? Bawa aja Diannya kenapa sih, Ma? Masa Ija yang bawa-bawa Dian make hipseat ke Kelurahan? Emang boleh Ija gendong Dian naik motor? Mama tau kan kalo di Kelurahan kayak apa ribetnya? Belom lagi nanti kalau disuruh bolak balik. Kurang ini lah itu lah. Waktu Ija kan nggak banyak. Ija masih banyak yang perlu diurus.”

“Kamu denger nggak sih apa Mama bilang tadi? Di sana nggak ada AC, terus kotor. Lagian Mama di sana kan bawaannya banyak. Mama juga mau ambil londrian. Ah ribet kalau bawa Dian, Kak. Mesti banyak bawaannya. Masa Mama bawa tas backpack-nya Dian?”

“Mama masih bisa kan ke tukang jahitnya sore atau malem ini pas Dania udah pulang kerja? Kenapa harus Ija yang ngalah sih, Ma?!” Kali ini sepertinya nada bicara gue cukup tinggi.

“Berisik, Kak! Kamu tuh gimana sih? Kan Dania maunya nanti dia pulang, udah jadi semuanya. Malem ini Adit nyampe, biar bisa langsung dicobain. Kalau ada yang perlu dibenerin lagi, bisa besok pagi-pagi.”

“Ya ujung-ujungnya tetep besok pagi kan kalau ada yang dibenerin? Masalahnya dimana sih kalau ngambilnya entar sore atau malem???” Gue sering sekali tidak sepaham seperti ini dengan beliau. “Pokoknya Ija mau berangkat sekarang! Lagian rese banget orang-orang Kelurahan, segala baru buka loketnya jam 10an tapi jam 11 udah minta tutup pelayanan. Nyusahin!” teriak gue sembari memanaskan motor gue.

“Berisik, Kak! Entar Dian kebangun terus rese, Mama jadinya susah pergi.”

“Mama nggak ngerti dimana sih kata-kata Ija? Ini Ija manasin motor soalnya Ija mau berangkat sekarang! AH BRENGSEK!” Bentak gue ketika motor gue mendadak bolak balik tidak mau menyala ketika keadaan sedang genting seperti ini.

“Yah, ya udah coba aja deh kamu ngomong sama Dania entar.”

“Kok jadinya Mama ngadu ke Dania sih???”

Mama jalan kembali masuk ke dalam rumah. “Kamu itu sabar. Udah tau kalau mau nikah ya harus ngurus ini itu. Lagian kenapa nggak dari kemaren? Sibuk pacaran terus sih. Mana si Eminya nggak bisa diandalin juga kan? Udah kalau tau begitu tuh ya ojo ngeluh. Jalanin aja. Dulu aja Mama ngurusin buat Dania bisa sabar—”

“SOALNYA DULU MAMA PAS NGURUS ADMINISTRASI DANIA KAN MAMA BISA DIBANTU SAMA KENALAN-KENALAN MAMA DI KELURAHAN BUKAN? MAMA JUGA NGGAK PERLU DITITIPIN SIAPAPUN! JADI MAMA NGGAK RIBET DAN BISA SABAR! LAH IJA? IJA AJA MESTI TAU SEMUA YANG MESTI DIURUS DARI INTERNET DAN TETEP MESTI KERJA! SEKARANG SEGALA MAU DITITIPIN ANAKNYA DANIA LAGI! TERUS MAMA MASIH NYURUH IJA SABAR???” kesabaran gue sudah berada di titik terendah.

“Udah udah sana pergi aja, Kak. Nanti Mama paling bawa Dian aja lah. Tau dah entar ribetnya kayak gimana. Atau ya udah sekalian aja nggak usah make baju itu ke lamaran kamu. Make baju seadanya aja lah—” Gue memotong omongan Mama, lagi.

“Buat lamaran Ija loh ini, Ma. Mama sampe bisa-bisanya bilang ‘make baju seadanya aja’?”

“Lagian kamu kayaknya sibuk terus. Padahal Mama bilang, ngurusnya itu nggak ribet! Gampang! Yang penting kamunya sabar—"

“Mama sama Dania itu cuma SELALU mikir dari sudut pandang kalian terus! Oke kalian ngerasanya nggak ribet ya, tapi kalian pernah nggak nanya ke Adit? Adit loh yang jadinya ngurus numpang nikah kayak Ija. Pernah nggak kalian mikir kalau apa yang dijalanin Ija sekarang ini sama kayak apa yang dijalanin Adit dulu?”

“………” Tidak ada respon dari Mama.

“Ini aja prosesnya masih panjang. Ija masih harus ngurus di kampung sana. Terus nanti kalau Ija lagi ngurus di kampung, terus Mama masih mau nyuruh Ija balik lagi ke rumah buat dititipin Dian? Mama sama Dania egois banget, asli.”

“Lagian, siapa yang suruh kamu segala nikah jauh-jauh di kampung segala? Nyusahin kalian aja. Kerja dua kali. Liat Dania tuh—"

“CUKUP, MA! CAPEK IJA NGULANG OMONGAN BEGINI TERUS!” Gue kembali memotong omongan Mama lagi dan lagi.

“Ya kalo misalnya keadaannya kayak gini, mbok ya jangan maksa. Kan jadinya kamu malah susah nggak karuan. Banyak banget yang mesti diurus, dan tahapannya juga jadi berlapis kayak gini. Kasian Dian jadinya dilempar sana sini kalau Mamanya juga ribet.”

Gue masih tidak habis pikir dengan Mama. Semuanya HANYA TENTANG DANIA DAN DIAN. “Ija berangkat dulu.”

“Kak ini Dania bilang kamu suruh nunggu sebentar aja. Ini Mama juga udah siap, Kak.”

“Dania? Mama ngadu ke Dania? Mama nurut sama Dania bukan ngejelasin ke Dania gimana kondisinya Ija?”

“Mama sebentar doang kok, Kak.” Mama membuka pintu mobil dan mengeluarkan mobil dari parkiran. “Mama pergi dulu yaa, Kak.”

Mama benar-benar tidak menghiraukan segala omongan yang sudah gue ucapkan tadi. Beliau masih tetap memikirkan Dania dan Dian. Beliau tidak memikirkan tentang gue. Beliau tetap pergi ke tukang jahit dan meninggalkan gue dengan Dian berdua di rumah.

Gue sudah sangat malas berdebat terus dengan Mama. Mama ini sepertinya setengah hati untuk mendukung acara lamaran sampai pernikahan gue. Walaupun sudah ada restu, tapi sepertinya restunya tidak sepenuhnya berpihak pada gue dan Emi.

Tidak apa-apa, justru dengan begini, kekuatan cinta gue dengan Emi yang sudah sangat teruji pada akhirnya bisa melawan semuanya dan memberikan kekuatan ekstra dalam memperjuangkan kehidupan kami bersama di masa depan.

---

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 14.30. Mama sudah pergi kurang lebih 35 menit. Telepon dan WhatsApp gue tidak kunjung dibalas oleh Mama. Petugas Kelurahan sudah mengirimkan SMS pada gue sejak 10 menit yang lalu mengabarkan kalau berkas gue sudah selesai dan harus segera diambil sebelum pukul 15.00 karena pelayanan tutup jam segitu. Kalau gue terlambat mengambil berkas, berkas baru bisa diambil hari Selasa karena hari Senin nanti mereka mau ada acara yang gue juga tidak peduli tentang apa itu.

(CALL DANIA)
Quote:


Dania menutup telponnya dengan keadaan yang sepertinya tidak senang. Ya pasti tidak senang. Mungkin dia merasa terpecundangi oleh gue yang sudah bisa berpikiran seperti itu, padahal memulai pernikahan saja belum. Tidak masalah, yang penting gue cukup puas untuk menembak adik gue yang selama ini selalu membanggakan pernikahannya.

“Jadi, Mama mau angkat telepon Dania tapi nolak buat angkat telepon gue? Gue tinggal juga ini si Dian. Heran banget gue.” gumam gue perlahan.

Sejauh yang gue amati, Dania tidak begitu ‘klik’ dengan suaminya ini. Gue sudah sering sekali mendengar mereka ribut-ribut di telepon ataupun saat Adit datang menginap di rumah. Hebatnya Adit, dia bisa dengan sabar meladeni adik gue yang selalu berapi-api kalau sedang marah-marah. Jauh lebih sangar dari gue, kalau adik gue sedang marah-marah atau sedang tidak menerima keadaan.

Gue masih terus mengamati pernikahan adik gue ini, dan perlahan gue menemukan sepertinya dia banyak kualat sama gue, karena sering mengatai gue segala macam. Sekarang banyak perkataan negatif yang dialamatkan ke gue malah dia rasakan sendiri bersama suaminya yang beberapa kali gue dengar ‘tidak bisa diandalkan’. Hanya bisa tersenyum saja gue. Kita buktikan saja sebenarnya siapa yang bisa diandalkan siapa yang tidak.

Pada akhirnya memang Mama tidak begitu lama, hanya saja mood gue untuk mengurus ini itu sudah sangat luntur. Gue berangkat ke Kelurahan dalam keadaan tidak baik-baik saja. Antara kesal, sedih campur malas. Gue membawa motor pun seperti kurang konsentrasi. Kadang ngebut, kadang pelan, dan kadang juga emosi ketika di klakson pengendara lain. Apalagi ditambah ketika sampai di Kelurahan, petugas loketnya sedang membereskan meja kerja beliau.

Beliau melayani gue dengan ogah-ogahan dan penuh sindiran tajam yang bilang “Percuma banget diburu-buru SMS, Mas. Kalau ujung-ujungnya bikin saya pulang telat kayak begini. Besok-besok HP itu diliat, Mas. Jangan dikantongin doang. Orang juga punya urusan. Nggak cuma Mas doang.” ketika jam masih menunjukkan pukul 15.03 dimana ini belum terlalu sore untuk pegawai pemerintahan seperti beliau. Ingin rasanya gue membentak, "YEEE NG*NTOD!! LO YANG KERJA MALES-MALESAN DAN SELALU NGERUGIIN ORANG!!" di depan mukanya persis, tapi gue sudah tidak mood untuk itu. Gue harus melanjutkan perjalanan gue menjemput Emi di Utara Jakarta sana. Perjalanan yang akan sangaaat panjang.
oktavp
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.