Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.5K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#434
Setengah Laku_Part 3
Assalamualaikum…” kata gue sembari menutup pintu rumah gue. Saat itu sudah pukul 11 malam, entah Mama atau Dania masih terjaga atau tidak. Biasanya sih, terutama semenjak ada Dian, mereka masih bangun untuk bergantian memberi susu pada Dian.

“Kirain nggak pulang, Kak.” Sapaan yang kurang baik diucapkan pada mereka yang baru sampai di rumah.

“Hmm.” jawab gue singkat.

“Sekarang udah ada Dian. Biasain kalau abis dari mana-mana langsung ke kamar mandi buat bersih-bersih dulu. Baru nengokin Dian. Jangan langsung masuk kamar. Anak kecil kan sensitif.” jelas Mama panjang lebar tanpa sedikitpun menoleh ke arah gue.

Padahal, sebelum ada Dian pun gue sudah membiasakan diri gue untuk segera membersihkan diri selepas gue sampai di rumah. Sebagaimana diketahui, gue merupakan orang yang sangat higienis dan tidak tahan terhadap segala sesuatu yang kotor serta berantakan. Kemanapun gue pergi, termasuk ke hotel atau penginapan apapun, pasti akan gue bersihkan ulang dulu sebelum ditempati. Jadi tidak mungkin gue tidak melakukan ritual yang sudah puluhan tahun gue lakukan rutin. Jadi, kalaupun gue tidak sempat mandi karena sudah terlalu larut ya minimal gue pasti membersihkan tangan dan kaki gue. Gue bukan anak kecil lagi untuk terus diingatkan urusan begini.

“Ma, Ija mau nunjukin sesuatu.” kata gue sembari mengambil HP gue setelah gue selesai berganti pakaian. Mama masih mengerjakan dokumen, entah dokumen apa itu.

“Nggak bisa nunggu besok aja, Kak? Udah malem. Mama juga udah mau selesai nih.”

“Ija cuma mau nunjukin sebentar aja kok.”

Mama melirik gue sesaat dan menurunkan kacamata beliau. “Hmm. Ya udah deh sini. Biar cepet aja. Mau nunjukin apaan sih, Kak? Penting banget kayaknya sampe nggak bisa nunggu besok.”

Jujur ya, mendengar ucapan Mama tersebut rasanya gue ingin mengurungkan niat gue untuk memberi tahu Mama. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Gue sudah mendapatkan atensi dari Mama. Ya sesuai apa yang beliau bilang tadi, biar cepet aja. Jadi mau nunggu apa lagi bukan?

“Tadi Ija pulang rada maleman itu abis beli ini…” Gue menunjukkan foto cincin nikah yang gue beli dengan Emi sebelumnya. “Cincinnya belum bisa dibawa pulang sekarang. Soalnya mau diukir nama dulu. Besok baru bisa diambil.”

“Hmm.” jawab Mama sepintas dan kembali menggunakan kacamata beliau kembali.

“Gimana menurut Mama?” Mama kembali fokus pada dokumennya, meninggalkan gue yang terdiam don’t know what to say di hadapan beliau. “Bagus.” Well, at least beliau masih merasa pilihan gue dan Emi tidak kampungan lah.

“Alhamdulillah.” jawab gue sembari balik badan untuk kembali ke peraduan.

“Ya lagian kalau Mama komen negatif atau protes, emang kamu masih bisa ganti cincin nikah kamu itu? Udah nggak bisa bukan?” Tiba-tiba Mama menambahkan penilaian beliau.

“Maksudnya?”

Mama nengok ke arah gue. “Kalau Mama bilang, ‘Mama kurang suka sama modelnya…’ Emang ngaruh apaan? Emang kamu bakalan beli cincin nikah yang baru? Emang kamu punya uang buat beli cincin nikah baru lagi?”

“Oh emang Mama kurang suka sama cincin nikahnya Ija?”

“Mama tanya deh, itu yang milih kamu sendiri atau Emi sendiri sih?”

“Kenapa emangnya?”

“Penasaran Mama tuh, sebenernya siapa sih yang manja di antara kalian?”

“Manja? Apa hubungannya manja sama milih cincin begini sih, Ma?” Atau gue doang yang otaknya nggak nyampe untuk menyambungkan urusan cincin nikah ini dengan sifat seseorang.

“Oke lah itu emas putih. Eh emas putih kan bener?”

“Hmm.” jawab gue super singkat.

“Kenapa milih yang desainnya simpel banget begitu? Kenapa harus samaan? Kenapa yang punya kamu harus ada ‘mata’-nya juga? Kenapa punya kamu nggak polos aja terus yang Emi itu ‘mata’ cincinnya rada gede. Ya yang kayak punya Dania gini.” Mama menunjukkan foto cincin nikah Dania. “Liat, bagus kan punya Dania? Bohong deh kalau Emi nggak mau dibeliin cincin kayak begini sama kamu.”

“Nggak mau kok. Emi nggak mau cincin yang begitu. Ija sama Emi yang sama-sama mau pake cincin nikah yang identik begini.”

“Manja.”

“Manja apa norak, Ma?”

“Mama nggak bilang norak. Manja. Apa-apa mesti samaan. Emi itu kalau Mama perhatiin, emang masih anak kecil banget. Keliatan gitu beda umurnya sama kamu.”

“Darimananya sih? Keliatan darimananya?” Gue yang tadinya hanya berniat untuk menunjukkan cincin nikah gue malah berakhir debat tidak penting seperti ini.

Mama sempat terdiam. Entah beliau sedang memilah kalimat di dalam pikirannya atau she had no idea what to say. “Buktinya Adit nggak komen tuh cincinnya beda bentuknya. Lagian Dania juga ujung-ujungnya beli cincin baru lagi. Cincin nikah dia disimpan di kotak cincinnya. Udah lah, Kak. Nggak penting juga bahas beginian. Bingung Mama itu. Ada aja hal nggak penting begini dibahas. Kamu mah mau nikah ada aja drama. Heran Mama.” gumam Mama perlahan tapi terdengar sangat jelas oleh gue.

“Ada aja drama gimana, Ma?” Mama terus saja menyulut emosi gue malam itu. Gue tidak mengerti, karena gue hanya ingin menunjukkan rencana pembelian cincin dengan model yang sudah gue pilih. Yang membuat drama adalah Mama sendiri sebenarnya kalau menurut gue.

“Ya kayak begini ini. Kamu sama Mama kan jadinya ribut. Kamu jadi sering begini ya semenjak kamu sama Emi.”

“Ah nggak kok.”

“Iya. Dulu pas kamu sama—” Gue harus memotong omongan Mama sampai di situ. Bukan berniat untuk tidak sopan, tapi buat apa sih masih membahas masa lalu? Toh semua sudah selesai dan kalau mau menilik lebih dalam lagi, yang dulu itu hampir semua berakhir tragis bagi gue, tapi Mama tidak pernah tahu urusan ini.

“Ija udah mau nikah sama Emi, Ma. Ija nggak perlu lagi denger Mama ngebandingin Emi sama orang lain.”

“Mama nggak mau ngebandingin, Mama cuma mau ingetin aja kalau kamu nggak kayak begini dulu pas kamu nggak sama Emi. Emi kayak ngasih bad influence ke kamu kalau begini jadinya. Masa udah mau nikah, masih aja kesana sini bareng. Harusnya tuh kalian libur dulu, nggak usah ketemuan. Kenapa sih kalian masih aja main mulu tiap hari?”

“Main mulu?!” How dare she said that?

“Iya, main mulu pulang malem. Terus aja begitu. Sampai kamu udah nikah nggak punya waktu sama sekali bareng keluarga. Mama nggak kebayang deh gimana kehidupan kamu nanti abis nikah. Amit-amit deh Kak kalau sampe kamu lupa sama keluarga kamu sendiri. Lupa sama Mama. Sama Dania. Sama Dian…” And she forgot mentioned Adit.

“Terus Mama anggep keluarga kecil Dania itu akan lebih baik dari keluarga Ija nanti?”

“Ya Mama nggak mau ngebandingin lah, Kak.”

“Iya kan? Jawab, Ma. Mama mikir begitu kan?”

“Kok kamu maksa begitu sih, Kak?” Mama ngerapihin dokumen yang sedang beliau baca sebelumnya. “Mama ngantuk. Mau tidur.”

“Mama nggak percaya ya kalau Emi bisa ngebantu Ija buat berubah?”

“Dia aja bikin kamu lupa sama keluarga padahal waktu kamu sama Mama itu tinggal sedikit. Mama khawatir kamu ngejauh dari keluarga, Kak.” gumam Mama perlahan.

Ternyata Mama masih tidak paham. Mama masih tidak peka. Gue tidak akan perlu bertemu dengan Emi setiap hari menjelang acara besar kami kalau memang ada yang membantu kami mengurus segala kebutuhan kami.

FYI, Emi dan gue masih harus tetap bekerja di tengah kesibukan kami mempersiapkan hari besar ini. Berdua. Tanpa bantuan tenaga, pemikiran apalagi materi dari keluarga kami. Terus Mama malah berpikir kalau Emi bad influence buat gue yang kemungkinan akan membuat gue melupakan keluarga gue? Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?

Gue membalikkan badan gue dan berjalan ke arah kamar gue. “Kalau aja ada yang mau bantu persiapan Ija dan Emi, sama kayak gimana banyak yang rela direpotin pas persiapan nikahan Dania dulu, mungkin Ija nggak akan serepot ini. Asal Mama tau aja, Ija sekarang pulang malem nggak cuma buat pacaran sama Emi. Tapi Ija sama Emi ngurus persiapan acara nanti. Berdua doang sama Emi.” kata gue sembari menutup pintu kamar gue. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya Mama memadamkan lampu ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya.

“Mama harus tau yang sebenernya. Gue nggak perlu nutupin apapun lagi. Gue nggak mau sampe Mama jadi mertua yang selalu mandang rendah menantunya cuma karena Mama nggak pernah tau gimana perjuangan Emi buat gue.” Kata gue dalam hati.
oktavp
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.