Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#424
Setengah Laku_Part 1
Blank.

Iya, gue super nge-blank. Buntu rasanya otak gue saat mendengar berita dari Emi tentang gosip yang ada di kantornya. Memang sih BELUM JADI konsumsi orang di kantor, tapi tetap aja rese. Kalau Yuni dengan mudahnya menanyakan informasi confidential itu ke Emi, bukan berarti Yuni tidak akan membahas gue dengan timnya yang lain, Olivia, Manajer, ataupun Debby bangs*t itu bukan?

Gue sangat amat yakin, orang yang mendatangi Yuni adalah Debby! PASTI! Pertanyaan gue saat ini adalah MAU NGAPAIN LAGI SIH LO? MAU MATIIN REZEKI GUE? KENAPA? LO NGERASA RUGI NGGAK NGEDAPETIN GUE? BUKANNYA LO UDAH DAPET COWOK BER-MERCEDES-BENZ? MASIH KURANG? MASIH KURANG KALAU NGGAK NGEREBUT DARI (MANTAN) SAHABAT SENDIRI? IYA?

Udah ngeluarin uneg-uneg di dalam hati sebanyak itu, tetap saja gue tidak merasa lega. Mengapa demikian? Karena gue tidak menyampaikannya langsung di hadapan si empunya kebangs*tan yang sebenarnya! Sumpah ya, MAU NGAPAIN LAGI SIH INI ANAK? Ampun dah.

“STUCK!” teriak gue sembari membanting HP yang ada di dalam genggaman gue.

Dret. Dret. Dret.

HP gue yang tergeletak di meja pun bergetar. Notifikasi masuk dari Emi.

(EMI CHAT)
Quote:


Gue simpan HP dan membuka Dropbox yang dimaksud oleh Emi. Emi sudah membuat satu folder berisi segala hal yang dibutuhkan untuk lamaran, akad nikah, hingga bulan madu. Dia menuliskan apa saja yang harus kami urus bersama, dia membuat to-do list yang perlu kami kejar per harinya untuk masing-masing dari kami, bahkan dia sudah menghubungi vendor untuk dekorasi maupun hantaran nanti. Dia melakukannya sendiri, ketika gue di sini malah sibuk meratapi nasib.

“Bener kata Emi, ‘Lo lagi kenapa sih, Zy?’ Gue juga heran sama diri gue sendiri.”

(EMI CHAT)
Quote:


(MAMA CHAT)
Quote:


“Harusnya gue udah tau dari awal. Harusnya gue nggak ngandelin Mama untuk bantu ngurusin keperluan gue. Ya karena Mama nggak akan pernah bisa bantu gue.”

(MAMA CHAT)
Quote:


Lagipula ini bukan salah Dian. Gue juga tidak mempermasalahkan keberadaan Dian. Gue hanya meminta tolong Mama untuk menghubungi Pak RT dan Pak RW yang kebetulan hanya Mama yang punya nomornya. Apa susahnya sih dimintain tolong menghubungi begitu? Gue bukan Dania yang meminta Mama untuk mengurus SELURUH kebutuhan pernikahannya sampai Dania sendiri pun tidak pernah tahu, apa saja yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan dia sendiri.

“Ija cuma minta tolong Mama sedikit aja kok.” gumam gue dalam hati sembari membenahi meja kerja gue.

Tok. Tok. Tok.

“Mas Ija?”

Gue menoleh ke arah pintu masuk. “Iya? Hapsari ya?”

“Iya, Mas.”

“Masuk, Sar.” Hapsari pun membuka pintu ruangan gue. “Kenapa, Sar?” Seketika gue tidak melihat ke arah Hapsari. Gue malah memperhatikan Ana yang berdiri di belakang Hapsari, dengan ekspresi sedih.

“Surat ijin Mas Ija udah aku serahin ke Pak Yudi. Tapi Pak Yudi minta ketemu sama Mas Ija dulu katanya.”

“Hmm. Gue lagi mau dikasih banyak kerjaan ya?”

“Kayaknya nggak sih, Mas. Lebih kayak kepingin ngasih khutbah nikah kayaknya. Hahaha.”

“Bisa aja lo, Sar. Hahaha.”

“Aku balik ke ruangan ya, Mas. Tadi pingin ngasih tau itu aja. Pak Yudi udah ada di ruangan. Hmm. Mas udah mau pulang ya?”

“Gue ada yang mau diurus dulu di rumah, Sar. Tapi ketemu Pak Yudi dulu sih.” Gue melirik ke arah Ana yang tengah menunduk. “Kenapa, Na? Kok diem aja?”

Ana menyodorkan kertas ke arah gue. “Ada yang perlu Mas Ija tandatangani sebelum ketemu Pak Yudi…”

“Apaan itu, Na? Tadi kayaknya Pak Yudi nggak bilang apa-apa.”

“Itu loh, buat filingdokumen gitu deh pokoknya.” Ana sepertinya berusaha mencari-cari alasan.

Hapsari menatapnya sesaat dan membisikkan sesuatu yang bisa terdengar jelas oleh gue. “Nggak usah bikin masalah ya, Na. Lo udah tau semuanya.” Ana hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan gue begitu Hapsari pergi meninggalkan dia.

“Masalah?” tanya gue dalam hati.

“Mas…”

Gue mengeluarkan pulpen yang ada di kantung kemeja gue. Kebiasaan gue kalau di kantor. “Sini mana yang perlu gue tandatanganin, Na.”

“Hmm. Nggak ada, Mas.” Sudah gue duga. “Aku cuma lagi butuh waktu berdua sama kamu, Mas.” lanjutnya sambil menggigit bibir sebelah kirinya.

“Oke cukup ya drama nggak penting ini, Na.” Gue melanjutkan kembali ritual membenahi tas dan meja kerja gue. Gue berusaha mengabaikan keberadaan Ana di ruangan gue. “Lo udah tau kalau gue udah mau nikah bahkan lo juga udah tau kapan aja gue bakal cuti, baik itu cuti untuk akad nikah dan cuti untuk bulan madu. Nanti juga lo dan Hapsari yang bakalan ngurusin perubahan status gue dari ‘Lajang’ jadi ‘Sudah Menikah’ yang bener-bener tinggal menghitung hari. Apa lagi sih yang kurang jelas buat lo, Na?”

“Semuanya udah jelas. Aku udah paham kok. Aku juga udah ngomong sama Hapsari. Aku cuma susah aja buat move on.”

“Susah move on apa lagi? Emang ada apa sih di antara kita? Nggak ada apa-apa, Na! Kecuali nih kalau gue ditinggalin sama calon istri gue, baru tuh gue bisa seumur idup kali susah move on-nya.”

“Dia segitu berartinya ya buat, Mas?”

“Ya iyalah, Na!” Gue menatap dia tidak percaya. Bisa-bisanya dia mempertanyakan hal seperti itu pada gue. “Dia calon istri gue! Dia adalah orang yang bakal gue temuin setiap hari, sepanjang waktu, seumur hidup gue. Jadi jawabannya adalah IYA! ABSOLUTELY YES!

“Dia lebih sempurna dari aku ya, Mas?”

“Gue paham. Bagi lo atau siapapun mungkin masih ada cewek yang lebih sempurna dibandingin calon istri gue. Apalagi kalau mau banding-bandingin fisik. Calon istri gue hanya terlihat seperti seorang anak remaja yang tidak pernah terlihat dewasa. Tapi bagi gue, dia sangat menyempurnakan hidup gue. Hidup gue sama dia bakalan sempurna ketika kami bersama. Paham?”

“Aku nggak kuat ngeliat Mas Ija berdiri di pelaminan nanti sama calon istrinya Mas.”

“Ya kalau lo nggak kuat, lo nggak usah dateng aja ke nikahan gue entar. Susah amat.” Gue menggendong tas kerja gue dan berjalan menuju pintu ruangan gue. “Masih ada yang mau diomongin nggak? Gue nggak mau lama-lama, takut Pak Yudi keburu cabut lagi.”

“Udah nggak mungkin lagi ya aku ngarepin Mas Ija?”

“Mau ngarepin apa lagi sih ke gue, Na? Gue cuma orang yang nggak bisa apa—”

“Nggak! Mas bukan orang yang begitu!”

“… tanpa calon istri gue. Kalau lo maksain diri lo buat mencintai gue, gue cuma cowok yang gagal dan nggak berguna, Na.”

“Mas…”

“Udah, udah nggak usah maksain apapun lagi. Ini bukan jalannya kita. Gue nggak seharusnya ada di perjalanan hidup lo. Lo deserve someone better, Na. Lo belum mengenal gue sepenuhnya, Na. Mungkin…” Gue menatap mata dia. “Kalau lo kenal gue lebih dalam, lo bisa aja jadi benci sama gue.”

“Nggak mungkin!”

“Mungkin banget. Karena cuma calon istri gue yang sesabar itu untuk nerima setiap permintaan maaf setelah gue udah nyakitin dia berulang kali.” Gue menutup pintu ruangan gue dan berjalan menuju ruangan Pak Yudi.
oktavp
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.