Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
187.1K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#411
Simpang Siur_Part 2
(ARKO CHAT)
Quote:


Gue menyempatkan diri untuk kembali membuka chat gue dengan Emi. Gue hanya ingin memastikan kalau seluruh chat yang gue kirim ke dia sudah benar-benar terkirim. Tetapi ketika gue membuka chat kami, gue melihat ternyata dia sedang online. Tanpa menunggu lama, gue pun menyegerakan diri gue untuk mengirimkan chat pada dia.

(EMI CHAT)
Quote:


Kurang lebih 1 menit gue menunggu jawaban dari dia, sampai akhirnya dia pun membalas chat gue. Gue sengaja tidak menutup chat kami.

(EMI CHAT)
Quote:


“Fan?” Gue sampe membaca ulang seluruh chat gue untuk memastikan kalau gue nggak mimpi. “Maksudnya dia apaan? Gue semaleman nggak tenang tidurnya sampe jam segini udah bangun nungguin kabar dia terus dia malah lagi chattingan sama cowok lain gitu??? Kok bisa-bisanya dia nggak mikir kayak begini sih?! Bisa-bisanya dia nggak mikir gimana perasaan gue selama ditinggalin sama dia? Terus dia malah asik-asikan chattingan sama cowok lain?!”

(EMI CHAT)
Quote:


Oh gue paham. GUE PAHAM KENAPA DIA KAYAK BEGINI! Dia mau balas dendam nih kayaknya. Dia kepingin balas dendam biar gue BELAJAR merasakan apa yang dia rasakan selama ini kalau tau pasangan kita chattingan sama orang lain tuh begini looooh rasanya. Iya? Hah?! Tapi itu kan udah lewat! Gue udah nggak kayak begitu lagi! Kenapa sih masih aja jadi bahasan sama dia? Kenapa? KENAPA HARUS SAMA IFAN??? DAN KENAPA HARUS SEKARANG PAS KITA LAGI JAUH?!

Gue kembali melanjutkan chat gue.

(EMI CHAT)
Quote:


“Kalau gitu mau lo, sekalian aja gue chattingan sama cewek lain lagi! SEKALIAN, gue bawa cewek lain ke nikahannya Tyo biar lo puas nuduh gue! Iya! Gitu aja!” kata gue dalem hati. Gue pun membuka setting-an HP gue dan berniat untuk membuka blokiran nomor-nomor cewek yang sempat dekat sama gue. Target gue saat itu, Diani. “Persetan sama Dani!”

(DIANI CHAT)
Quote:


Tapi tiba-tiba ada notifikasi masuk, berbarengan dengan chat gue yang sukses terkirim ke Diani.

(EMI CHAT)
Quote:


Gue mengurut jidat gue. “KENAPA SIIIH? GUE MASIH HARUS NGURUSIN KAYAK BEGINIAN? ANJ*NG BANGET! ANJ*NG!”

---

Gue memeriksa kembali penampilan gue di depan kaca sebelum gue memanaskan kuda besi gue. Iya, gue tidak jadi membawa gerobak gue karena Arko mendadak mengabari kalau dia mau langsung datang ke gedung pernikahan Tyo tanpa mampir ke gubuk derita gue. Hahaha. Jadi, gue memutuskan untuk berangkat bersama Drian.

Adityo atau Tyo, biasa gue memanggilnya, merupakan teman karib gue sejak kecil sebelum bertemu dengan Arko dan Drian di sekolah menengah. Soalnya Tyo memang tinggal di komplek perumahan yang sama dengan gue. Jadi, kami banyak menghabiskan masa kecil dengan bermain bersama, bahkan sebelum kami masuk sekolah.

Gue mulai agak jauh dengan Tyo ketika orang tua kami memutuskan untuk memasukkan ke sekolah yang berbeda waktu SD. Ya walaupun seumuran dan berteman, tidak berarti kami harus masuk ke sekolah yang sama dan di waktu yang sama bukan? Karena satu dan lain hal, orang tua Tyo memutuskan untuk memasukkan Tyo satu angkatan di bawah gue.

Seumuran di sini maksudnya kami berbeda 1 hingga 2 tahun lebih muda ataupun lebih tua. Dalam kasus ini, gue lebih tua 1 tahun daripada Tyo. Tetapi masih bisa dibilang kalau kami seumur bukan?

Berbeda dengan gue, Drian dan Tyo lahir di tahun dan bulan yang sama. Hanya beda beberapa hari saja. Tetapi orang tua Drian memutuskan untuk memasukkan Drian di angkatan yang sama dengan gue, sehingga gue, Drian, dan Arko menjadi senior Tyo. Itu menyebabkan Drian hampir selalu jadi siswa termuda di kelas, sementara Tyo menjadi siswa tertua di angkatannya. Serba salah juga jadinya ya mereka yang lahir di awal tahun (sebelum tahun ajaran baru). Hehehe.

Dret. Dret. Dret.

(EMI CHAT)
Quote:


Chat Emi membuyarkan gue yang tengah melamun menunggu Drian di ruang tamu rumah dia. Tanpa sadar gue lagi flashback memori gue dengan teman-teman gue karena melihat foto-foto masa kecil Drian.

Dret. Dret. Dret.

(EMI CHAT)
Quote:


“Nih si Ifan biang kerok juga sih! Bangs*t!” gumam gue perlahan.

“Kenapa, Ja?” tanya Drian yang udah berdiri di hadapan gue sembari menyodorkan kunci milik dia. Hmm. Mungkin Drian pinginnya kami ke nikahan Tyo naik motornya dia kali ya. Gue pun mengambil kuncinya dan memasukkan HP gue ke dalam kantong celana gue. Semua kantong gue jadi penuh karena diisi kunci motor, kunci rumah, dompet, dan HP gue sendiri.

Gue terbiasa menitipkan barang-barang gue di tas slempang yang selalu dibawa Emi. Tetapi ketika Emi sedang tidak bersama gue, jadinya gue harus kembali membawa barang-barang gue sendiri. Dan gue malas menggendong tas slempang gue sendiri. Hahaha. Gue sudah sangat terbiasa dengan keberadaan Emi. Pun sudah sangat terbiasa diurus oleh dia. Tidak pernah terlintas di pikiran gue kalau gue akan hidup tanpa didampingi oleh dia.

“Terus kenapa ya tadi gue malah langsung ngehubungi Diani?” tanya gue dalam hati.

“Oy, Ja. Buset! Kuncinya diambil, guenya masih aje didiemin.”

“Hahaha. Sori bro! Hahaha. Lagi banyak pikiran aje gue. Biasa… Kerjaan.” Gue tidak ingin terlihat linglung tanpa Emi di depan sahabat-sahabat gue. Walaupun itu sulit.

“Tumben. Gue pikir lo kepikiran sama Emi kan biasanya Emi ngontolin lo mulu kemana-mana.” kata Drian sembari memakai sepatu kets dia.

“Weits! Hati-hati jangan sampe salah sebut bro!”

“Ya makanya biar nggak salah sebut, gue bilangnya langsung ngontol, bukan ngintilin lagi. Hahaha.”

“Dih anj*ng! Gue nggak ngeh lagi! Hahaha.”

Drian kemudian memberikan sebuah kunci kontak tanpa besi. Hanya ada beberapa tombol untuk ditekan, kemudian yang membuat gue takjub adalah, ada gambar emboss logo yang sangat mewah berwarna kuning ditengah kunci tersebut.

“Seriusan lo, njir? Bawa ini kita?” ujar gue tak percaya.

“Ya bener lah. Emak gue bilang bawa aja. Soalnya udah lama juga ini nggak keluar kandang.” Jawab Drian santai.

“Anjir gue yang nyetir nih?” Gue kaget sekaligus gugup. Mobil Papa dulu tidak semewah mobil sport ini.

“Kenapa lo? Kayak orang baru aja liat mobil gue yang itu. Hahaha.”

“Ya bukan gitu, tapi ini pertama kali gue ngendarain mobil sport luxurykayak gitu, bro. Selama ini kan itu mobil cuma bisa gue liat dikandangin dan ditutup cover. Sekarang gue bisa nyetirin. Hahaha.”

“Ya udah. Ayo kita cabut.”

Drian membuka dan menyalakan mobilnya. “Dah tuh. Nyetir dah lo. Hehehe.” Drian masuk ke bangku penumpang yang berada di samping supir. Bangkunya memang cuma dua sih. Haha. Maklum, Drian memang nggak bisa nyetir. Keluarga Drian ini punya 4 (empat) buah mobil, tetapi tidak ada yang bisa menyetir di rumah mereka selain Bapaknya, waktu masih tinggal satu atap tentunya. Mereka mengandalkan supir untuk mengantarkan mereka kemana-mana. Itulah sebabnya mereka masih ‘melihara’ motor di rumah mewah mereka. Ya karena mereka cuma bisa naik motor. Hahaha. Mobil yang gue kemudikan ini merupakan mobil termewah yang dimiliki Ibu Drian. Seingat gue, nggak banyak juga orang di negeri ini yang memiliki mobil seperti ini.

Dulu waktu masih ada Papa dan kami masih berada di rumah besar kami, kami pun memiliki beberapa mobil. Tetapi gue, Mama, dan Papa semua bisa menyetir. Hanya Dania yang tidak bisa menyetir, sehingga mobil-mobil kami rutin dipakai bergantian dan tidak teronggok debu di garasi rumah.

Kami juga memiliki supir pribadi (yang memang menjadi fasilitas dari kantor), walaupun Papa pribadi sih masih lebih suka menyetir sendiri dibandingkan disupirin. Alhasil, gue dan Mama pun jadi terbiasa kemana-mana sendiri tanpa ditemani supir pribadi tersebut.

Kini semuanya sudah tidak ada lagi. Namun, walaupun begitu, gue tetap bahagia dengan kehidupan gue yang sekarang dengan segala keterbatasan, kesederhanaan, dan perjuangannya. Kadang terasa sulit, tetapi tetap nikmat untuk dijalani.

Tidak dengan Drian, baik dulu maupun sekarang.

Drian selalu terlihat tidak pernah bahagia dan menikmati apa yang dimiliki oleh keluarganya. Dia selalu terlihat lebih bahagia bersama teman-temannya dibandingkan bersama keluarganya sendiri. Iya, Drian terlihat lebih nyaman di rumah gue yang jauh lebih kecil daripada rumah dia. Drian lebih menjadi diri sendiri ketika bersama kami teman-temannya.

Kalau dipikir-pikir, Drian senasib dengan Emi yang seperti memiliki alter alias kepribadian lain di luar rumah mereka. Dan ini disebabkan karena luka di masa kecil mereka. Apa iya Drian memiliki luka masa kecil seperti apa yang Emi alami dulu, makanya Drian jadi seperti ini?

“Eh kita nggak pamitan dulu sama nyokap lo?”

“Cabut aja langsung. Disini nggak ada siapa-siapa. Nyokap lagi ke Makedonia.” ujarnya cepat.

“Seriusan? Kok tadi kayaknya gue denger suara nyokap lo dah.”

“Salah denger kali lo. Adik gue kali.” kata dia sembari memainkan HP dia, sepertinya berusaha mencoba mengalihkan pembicaraan dengan gue.

Fix. Sepertinya memang ada hubungan yang kurang baik dengan ibunya.

Tapi setau gue, hubungan dia dengan ibunya itu baik. Hanya saja sebenarnya dia hanya tidak sreg dengan perlakuan ibunya kepada dia. Ibunya banyak sekali aturan. Tetapi bukan aturan mengikat semacam diktator gitu ya. Tetapi aturan anak kecil yang masih terus diberlakukan oleh ibunya pada dia.

Asal kalian tahu kalau Drian yang sudah dewasa ini, masih terus diatur hidupnya oleh ibunya. Ibunya masih memperlakukan Drian seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dengan mengabaikan umur Drian saat ini. Drian selalu berusaha menolak dan terlihat risih kalau dia harus membawa teman-temannya datang ke rumahnya. Dia jadi suka malu sendiri karena sikap ibunya yang sangat memanjakan dia.

Arko dan gue sendiri sudah berulang kali melihat momen Drian yang di-‘babysitting’ oleh ibunya. Drian tentu saja merasa malu. Apalagi melihat Arko yang saat ini sudah beranak pinak sedangkan dia masih diatur oleh ibunya. Gue membayangkan Drian ini seperti tokoh dari drama komedi Amerika The Big Bang Theory Bernama Howard Wolowitz yang masih selalu diatur oleh ibu dan tinggal bersamanya ketika umurnya sudah seperempat abad lebih. Tetapi itu menjadi hiburan tersendiri bagi gue dan Arko.

Apa mungkin ini yang menjadi luka dia?

Dret. Dret. Dret.

HP gue kembali bunyi.

“Balas dulu noh si Emi. Biar lo nggak linglung di jalan nanti. Udah sampe kan dia? Apa udah mulai gawe?”

Gue tidak menggubris pertanyaan dia. Bukan karena gue tidak fokus, tetapi karena memang gue tidak tahu dia sedang apa dan ada di mana saat ini. “Hmm. Iya.” jawab gue sebagai formalitas saja.

(DIANI CHAT)
Quote:

millenia05
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.