Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#396
Simpang Siur_Part 1
Hari ini adalah hari keberangkatan Emi ke Singapura. Berbeda dari keberangkatan dia ke Bali dulu, kali ini gue tidak bisa mengantarkan dia sampai bandara. Gue hanya bisa mengantarkan dia ke kantor di pagi hari, karena dia mengambil penerbangan di malam hari.

Sebenarnya gue bisa saja menjemput dia ke kantor di sore hari, kemudian mengantarkannya ke bandara. Tetapi karena dia pergi rombongan, keberangkatan dia mulai dari pergi hari ini hingga kepulangan dia nanti telah diprovide oleh kantor. Mereka diantar-jemput oleh mobil dan supir kantor. Emi tidak enak dengan temen kantornya yang lain kalo dia harus pergi sendiri. Apalagi ternyata Ibu Yuni, HR yang melakukan proses rekrutmen bersama gue, juga ikut bersama mereka. Sepertinya gue kurang lengkap menjelaskannya, seluruh tim HR-GA ikut bersama tim-nya Emi ke Singapura.

“Kamu yakin nggak mau dianterin aku?” tanya gue sembari mengambil tas backpack gue yang ada di seat tengah untuk dibawa Emi. Iya, Emi pergi menggunakan tas backpack gue karena dia ingin menghindari bagasi. Tas backpack gue lebih besar daripada tas yang biasa dibawa oleh Emi, jadi bisa muat lebih banyak barang. Maklum, perjalanannya ga sedeket itu.

“Aku males entar jadi bahan omongan. Nanti dikata ‘Ah lagaknya nggak kuat. Baru juga mobil begitu udah sok dibawa kemana-mana. Noh lakiknya Debby udah bawa Mersi juga diem-diem aja.’ atau ‘Mau pamer? Iya? Mau pamer kalo udah punya pacar yang bermobil? Iya? Sok banget sih kayak kita nggak bisa aja punya pacar kayak dia.’… Atau malah nanti bisa-bisa Yuni jadi otak-atik penilaian rekrutmen kamu lagi. Nggak mau ah. Amit-amit.”

“Masa sih sampe sebegitunya? Ini kamu doang yang ngarang apa diem-diem mereka pernah ngomong begini ke kamu?”

“Nggak pernah sih. Tapi ya mereka bisa sepedes itu.” Emi memeriksa dulu HP dia sebelum akhirnya menggenggam tangan gue untuk pamitan.

Gue pun mencium keningnya. Cukup lama. Ya gue paham sih, dia hanya pergi 2 hari. Hari Minggu malam pun gue sudah bisa kembali bertemu dengannya, tetapi gue tetap merasa berat untuk melepasnya. Apalagi ketika selama beberapa hari ini kami banyak bertengkar.

“Kamu mau sarapan dulu?”

“Iya nih. Bimo udah pesenin aku nasgor nenek.”

“Nenek siapa?”

Emi nengok ke arah gue sembari tertawa. “Bukan nenek siapa-siapa, Zy. Hahaha. Emang namanya aja nasgor nenek. Nasgor jadul gitu yang bahannya cuma nasi, bawang merah, daun bawang, sama garem. Udah gitu doang. Tapi kalo versi gue, masih dicampur sawi sama telor dadar.”



“Itu mah resep nasgor lo kalo lagi beli ke kang nasgor keliling bukan? Kenapa sekarang dinamain nasgor nenek?”

“Soalnya ibu kantinnya bilang kalo itu resep neneknya dia, walaupun dia aneh pas tau gue masih request nambahin sawi ke nasgor. Kan sawi biasanya ke mie instan.”

“Lo kan ajaib, Mi.”

“Biar tetep bergizi, Zy. Hahaha.” Emi mencium pipi gue. “Ya udah aku pergi dulu ya. Doain lancar ya segala urusan aku.”

Wait, aku kepo deh. Kenapa sih HR-GA segala jadi ngikut semua?”

Emi melirik jam tangannya. “Nggak bisa dichat aja ya?”

“Kamu buru-buru banget deh. Ini kan baru jam 7. Kamu masuk jam 9. Emang ada meeting jam 8?”

“Ya nggak sih. Ini si Bimo lagi ngajak video callIfan—”

“Ifan lagi.” gumam gue perlahan.

Emi melirik ke arah gue, curiga. “Kok Ifan lagi?”

“Nggak apa-apa. It's nothing.” Gue tidak ingin merusak mood dia hari ini. “Cerita dikiiit aja. Kan nanti gue nyetir, sampe kantor pas ngecek HP pasti kamunya udah sibuk kerja. Aku baru dibales lagi siang.” Gue coba nyari-nyari alesan. Biarin aja si Ifan nungguin dia terus jadinya nutup teleponnya.

Gue nggak jahat bukan? Ini bentuk mempertahankan pasangan dari pengganggu loh!

Dia kembali melirik HP dia dan membalas chat yang masuk. Kemudian dia kembali fokus pada gue. Victory! Eat that mafakin Ifan! Hahaha. “Sampe kemarin pas gue ngasih paspor gue pun, yang pergi itu masih divisi gue doang. Kalo nggak salah tuh ada yang curiga kenapa Pak Oscar kok kemana-mana sama Bimo melulu bawa berkas ini itu, dimana berkas-berkas itu tuh bukan kerjaan dia. Tapi berkas-berkas kepergian kita termasuk itinerary sama informasi tentang klien kita nanti.”

“Terus yang curiga siapa?”

“Nggak tau kita. Gue sih curiga si Kobokan Pecel Lele itu!”

“Si Olivia maksud lo?”

“Iye si bangs*t Olivia kan sok banyak kerjaan tuh. Makanya kalo Pak Edward masuk ke ruangan doi, pasti dia ada aja alasan buat goda-godain sok ngejilat Pak Edward gitu.”

“Terus hubungannya apa? Kalo dia curiga, kenapa jadinya dia bisa bikin Pak Edward ngajak semua HR-GA? Itu banyak loh!”

“Ya mau gimana? Entah ada deal apaan antara Pak Oscar, Pak Edward, sama doi sampe akhirnya ya kayak sekarang ini. HR-GA wajib ikut semua! Gokil. Entah habis berapa Pak Edward nanggung tiket pesawat, makan, sama kamar hotel kita semua.”

“Lah? Kok jadi dibebanin ke Pak Edward sih?”

“Ya soalnya kan kliennya cuma nanggung beberapa dari tim kita, itu aja sisanya masih ditanggung Pak Edward. Pas semua HR-GA pergi, ya mau nggak mau ditanggung Pak Edward juga lah. Kesel makanya gue. Kayak mereka baik aja sama kita aja. T*i! Mereka aja banyak sok nuduh gue kan? Mereka sering lebih percaya omongan Debby itu daripada kita! Terus belum lagi mereka pada nggak bisa tuh bedain yang namanya informasi confidential sama informasi public! Kesel!”

Gue belum pernah ketemu dan kenal yang namanya Olivia ini. Tapi dari hasil pengamatan gue selama proses rekrutmen kemarin, gue paham sih kenapa Ibu Yuni ini bisa nurut-nurut aja sama Debby. Orangnya terlihat kurang tegas dan berujung jadi seakan sok tegas. Entah bagaimana Olivia yang katanya lebih sok lagi daripada Yuni dan menjadi musuh bebuyutan Emi hingga mendapatkan julukan Kobokan Pecel Lele. Kalau sudah sampai ada julukan begini, Emi biasanya sudah mencapai batas kesabarannya terhadap orang ini.

“T*i juga tuh Olivia. Terus mereka disana mau ngapain? Emang ngerti gitu kerjaan kalian?”

“Mana gue ngerti. Ya gue sih nanti di sana mau ketemu klien kayak waktu di Bali. Emang sih cuma 1 hari doang, tapi karena nggak dapet penerbangan di Sabtu malam ya kita jadinya pulang Minggu sore. Kita jadinya jalan-jalan dulu, mumpung di sana.”

“Ya udah sabar ya. Survey doang kan? Anggap aja lo emang mau pergi jalan-jalan, tapi ada yang perlu didokumentasiin. Biar lo nggak kebawa bete sepanjang perjalanan.”

“Hmm. Kayaknya sih begitu.” kata Emi lesu.

“Terus nggak usah mikirin yang nggak ikut pergi.” gumam gue perlahan.

“Maksudnya? Mikirin kamu?”

Padahal maksud gue Ifan loh. Haha. “Iya, gue kan ke kondangan bareng Drian sama Arko. Jadi santai aja. Gue sampein kok salam lo ke Tyo entar.”

Dia menghela napas. “Bener deh, Zy. Gue nggak enak banget sama Bang Tyo.”

“Santai aja oke? Nanti kita samperin aja Tyo abis nikahan dia, silaturahmi.”

“Oke deh…”

“Ya udah sana gih masuk. Sarapan abis itu ya.”

“Eh iya!” Dia melirik jam di tangannya. “Udah jam segini. Keburu dingin nasgor gue!”

“Makanya. Ya udah gih sana. Ati-ati di jalan ya sayang.”

Seketika dia langsung terdiam mendengar panggilan sayang tersebut. “Lo lagi seneng banget ya gue tinggalin sampe manggil gue begitu? Atau lo salah panggil karena biasanya manggil cewek lain pake sebutan itu eh kebablasan ke gue?”

“Masih mikir begitu, Mi? Seriously???”

Dia membanting pintu di hadapan gue dan pergi masuk ke dalam. Entah dia marah atau sedang bercanda satir pada gue. Yang jelas, gue mulai lelah dengan tuduhan dia itu. Rasanya ingin kembali seperti diri gue yang dulu lagi dimana gue akan mengaminkan setiap tuduhan dia. Tetapi, perjuangan dia untuk terus bertahan dengan gue yang selalu mengingatkan gue untuk tidak melakukannya.

“Gue harus bisa nunjukin ke dia kalo dia cuma satu-satunya di hidup gue…”

---

(EMI CHAT)
Quote:


Dia tidak menjawab chat terakhir gue tersebut. Sepertinya dia sedang check-in. Soalnya keberangkatan dia 1 jam lagi. Jujur, ada ketenangan di dalam hati gue ketika tahu kalo Ifan tidak jadi ikut ke Singapura. Gue tidak ingin sepulang dari Singapura nanti, dia banyak menceritakan atau menunjukkan foto dimana ada Ifan di dalamnya. Gue sangat tidak ikhlas.

(EMI CHAT)
Quote:


Gue bersyukur, mood dia terus membaik apalagi ketika sudah menjelang keberangkatannya. Soalnya tidak baik kalau dia harus berangkat ketika kami sedang bertengkar. Amit-amit kalo sampe terjadi sesuatu di perjalanannya nanti. Memang sih dia ada sedikit marah dan betenya, karena riweuh-nya ngangkut banyak orang, dimana sebagian besar belum pernah naik ke pesawat. Apalagi pesawat ke luar negri dimana aturannya lebih banyak lagi. Untungnya gue sudah mewanti-wanti ini semua pada Emi, terutama aturan barang bawaan.

(EMI CHAT)
Quote:


Oke gue sadar, gue yang tidak ingin merusak mood dia tapi gue sendiri yang membuat mood dia rusak dengan membahas mengenai Crocodile bangs*t itu.

(EMI CHAT)
Quote:


Gue mengirimkan foto bus yang bermerek Mercedes-Benz pada Emi. She had no idea kalo bis-bis sini banyak yang dibangun atas sasis dan menggendong mesin Mercedes-Benz. Pasti para bus mania paham dengan candaan yang gue sebut sebelumnya. Contoh gambar bukti kalo bis menggunakan Mercedes-Benz adalah sebagai berikut :



(EMI CHAT)
Quote:


Suasana yang sempat tegang tadi pun seketika langsung cair.

(EMI CHAT)
Quote:


Sekitar 5 menit kemudian, sambungan ponsel ke Emi terputus. Gue mengirimkan satu chat tapi hanya centang satu, yang artinya dia sudah take off dengan kondisi HP airplane mode. Gue hanya bisa tersenyum iri. Gue iri karena dia bisa dapat kesempatan ke luar negeri dari kantornya. Sebuah pertanda baik untuk karirnya sepertinya. Sementara gue masih entah bagaimana ini nasibnya. Gue akhirnya memilih untuk melanjutkan bermain game Metal Gear Solid V : Phantom Pain.


oktavp
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.