Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.8K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#380
Pencarian Koin_Part 2
“Percaya nggak sama gue sekarang?” tanya gue pada Emi. Akurasi tebakan gue ternyata 100%. Sudah ada antrian mengular di depan Kantor Imigrasi yang gue dan Emi datangi.

“Oke lah kalo ngantri kayak begini di depan Kantor BPJS Kesehatan, tapi di depan Kantor Imigrasi gitu? Emang semua orang ini mau pada ke luar negri semua? Udah pada nggak betah di Indonesia gitu?”

“Yeee Marpuah, yang diurus di Kantor Imigrasi kan bukan cuma orang mau jalan-jalan ke luar negeri doang. TKW atau TKI yang mau kerja juga ngurusnya kesini. Makanya banyak orang di sini. Tapi tetap nggak akan sebanyak di Kantor BPJS Kesehatan kok. Hahaha.”

“Hmm. Iya juga sih. Kaget aja gue banyak juga yang mau ngantri dari jam segini.”

“Nanti biasanya ada pegawainya yang bagiin nomor antrian. Di sini orang pada ngantri buat ambil nomor antrian itu. Sebenarnya sebentar doang kok ngurusnya, tapi emang prosesnya panjang. Jadi ya bisa ngabisin waktu seharian. Lo mau udah ngantri dari pagi begini terus baru beresnya nanti sore?”

“Ya nggak lah. Ngapain seharian ngantri? Lagian gue besok gawe. Capek banget masa hari off begini masih harus pulangnya sore juga?”

“Makanya, sekarang lo antri deh sana, terus rebutan nomor antrian.”

“Kok rebutan?”

“Itu aja emak-emak pada nggak punya antrian, pasti sekalinya pintu dibuka langsung pada rebutan.”

“Oh I see…” kata dia sembari masuk ke antrian yang sudah ada. Walaupun di sana masih banyak orang yang tidak ikut masuk ke dalam antrian dan sepertinya calon-calon orang tercela karena nyelak antrian.

Terkadang gue sempat bingung juga kenapa di setiap institusi yang berhubungan dengan pemerintahan dan pelayanan publik masih saja terjadi antrian. PT. GG, tempat dulu Emi bekerja, yang notabene baru berdiri di tahun 2014 saja sudah tidak mengenal antrian karena sistemnya diatur secara digital sehingga tidak membuat orang menunggu lama, dan bahkan harus berebutan dulu. Ini antara para boomer gaptek yang tidak mau menerima perubahan dan kemajuan teknologi, atau memang dana untuk membangun infrastruktur tersebut belum ada. Mungkin ada, tapi tidak sampai ke tangan orang jujur dan digunakan sebagaimana mestinya, kalau pada tahu maksud gue ini apa ya. Hahaha.

Gue menunggu di parkiran dadakan yang ada di depan Kantor Imigrasi tersebut. Soalnya memang tidak disediakan tempat duduk untuk mereka para pengantar. Actually, memang tidak ada tempat duduk sama sekali di luar kantor tersebut. Sembari menunggu Emi, gue membuka HP gue untuk memainkan beberapa game yang ada di HP.

Gue melihat sudah mulai ada pergerakan di depan Kantor Imigrasi. Emi mulai dipersilakan masuk ke halaman kantor untuk duduk di tempat duduk yang disediakan. Ada beberapa notifikasi yang masuk ke HP gue. Some good news and bad news.

(EMI CHAT)
Quote:


Setelah memastikan sudah menjawab semua good newsdari Emi. Saatnya membuka notifikasi lain yang gue anggap sebagai bad news hari ini.

(DANIA CHAT)
Quote:


(DIANI CHAT)
Quote:


Ya, bad newsdari dua nama yang sedang gue hindari. Gue sengaja menghindari Dania, adik gue sendiri, karena dia selalu mengintimidasi gue agar gue mau mengabulkan segala keinginan dia terlepas dari segala kepentingan gue. Sedangkan Diani? Sudah jelas kan problem antara gue dengan dia? Dia masih terus berusaha menghubungi gue ketika dia sedang jauh dari suaminya (YANG MERUPAKAN TEMAN MAIN GUE DI KAMPUS DULU!). Salah banget. Gue benar-benar salah banget sudah kembali merespon dia di awal dulu.

“Maafin gue, Di. Gue harus blokir lo dulu.” kata gue dalam hati sembari memasukkan Diani menjadi salah satu cewek yang gue blokir dari seluruh chat gue. “Ini jalan terbaik. Gue nggak mau merusak momen gue untuk memperbaiki hubungan gue dengan Emi.”

Gue tidak ingin merusak kesempatan gue lagi, apalagi karena ulah cewek-cewek ini. Well, oke gue ulangi. Tidak sepenuhnya ulah mereka. Kalo gue tidak membuka jalan untuk mereka, mungkin mereka tidak akan pernah masuk ke hidup gue. TETAPI, gue tidak pernah menjanjikan apapun pada mereka. Gue tidak menjanjikan mereka bahwa gue akan meresmikan hubungan, melamar mereka, apalagi meminang mereka. Tidak pernah. Jadi, tidak sepenuhnya salah gue juga bukan? Hehe.

Tiba-tiba ada notifiksi e-mail masuk ke HP gue. “e-mail? Kerjaan? Jam segini?” tanya gue. Soalnya biasanya orang-orang di kantor gue lebih memilih untuk koordinasi via Whatsapp terlebih dahulu dibandingkan langsung melalui e-mail. Jadi gue pun agak kaget untuk menerima e-mail sepagi ini. “Apa klien?”

Tetapi, e-mail gue tidak kunjung terbuka karena sinyal. Sampai akhirnya ada spoiler dari Emi :

(EMI CHAT)
Quote:


“ALHAMDULILLAH! YA TUHAN!” teriak gue sembari tidak lupa bersyukur di dalam hati. Baru saja gue berniat untuk berubah dan memutuskan untuk memblokir Diani, Tuhan langsung memberikan reward secepat ini untuk gue.

(EMI CHAT)
Quote:


“Dia ngambek lagi. Elah…” gumam gue perlahan.

Kebiasaan Emi akhir-akhir ini, selalu menuduh gue yang masih terus memikirkan atau berusaha menghubungi cewek-cewek itu di belakang dia. Ingin rasanya gue membuat dia tahu segala usaha gue untuk terus lebih baik buat dia. Tetapi sulit. Apalagi ketika Emi sudah tidak percaya sepenuhnya pada setiap omongan gue. Semua salah gue. Gue bisa apa lagi? Selain tidak pernah menyerah untuk memperbaiki kepercayaan dia pada gue.

Gue memutuskan turun dari mobil dan berjalan perlahan ke dalam halaman Kantor Imigrasi. Gue ingin mendampingi Emi. Lagipula, sudah ada banyak bangku kosong di sana yang sekiranya bisa gue pakai untuk duduk. Emi tidak melihat gue yang jalan menghampiri dia. Gue putuskan duduk tepat di belakang dia yang sedang sibuk dengan HP dia. Sepertinya dia sedang mengerjakan pekerjaan dia secara mobile di HP.

Gue sedikit kesal dengan tuduhan Emi tadi. Tapi sekali lagi, ini bukan salah dia. Ini salah gue. Gue akui itu. Gue hanya berpikir, bagaimana ya hidup gue kalo sedari awal gue tidak bertemu dengan dia. Kalo sedari dulu, gue tetap memutuskan untuk menikah dengan Dee? Kalo gue memutuskan menikah dengan Ara? Atau kalo gue tidak mengejar dia kembali dan memutuskan untuk menikah dengan cewek lain? Apa hidup gue akan seperti ini?

Memang sih, saat ini bukanlah posisi terbaik gue dalam hidup. Gue masih dianggap manusia gagal oleh keluarga inti gue sendiri dan gue masih belum memiliki pekerjaan tetap. Belum juga menikah. Pendapatan gue bahkan masih lebih rendah daripada cewek mungil di depan gue ini. Bagi Sebagian orang pasti bilang ke gue, “Apa yang bisa dibanggakan?”

Kata siapa tidak ada yang dibanggakan? Itu karena standar kebanggaan mereka saja yang terlalu tinggi. Bagi gue, ini adalah suatu kebanggaan. Gue saat ini memang belum bisa menyelesaikan Pendidikan Pascasarjana gue, tetapi soon gue yakin kok kalo gue pasti bisa menyelesaikannya. Apalagi ketika ada Emi yang akan selalu ada di samping gue. Di luar sana banyak loh yang berkeinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan mereka tetapi tidak punya kesempatan.

Gue saat ini memang belum menjadi pegawai tetap di kantor gue. Masih banyak pertimbangan untuk menjadi pegawai tetap. Bahkan saat ini, gue malah mencoba mendapatkan penghasilan tambahan atau pekerjaan baru di luar dari kantor gue. Tetapi lihat, perjalanan gue diberi kemudahan bukan? Memang belum ada hasilnya, ya karena prosesnya memang masih panjang. Tetapi ada progresnya bukan? Di luar sana banyak juga loh yang belum mendapatkan panggilan sama sekali dari puluhan bahkan ratusan lamaran yang sudah mereka kirimkan…

Dan banyak hal lain yang gue syukuri walaupun dengan kondisi seperti ini. Cewek di depan gue ini mengajari banyak pengalaman hidup dan tidak pernah bosan mengingatkan gue untuk bersyukur. Apalagi ketika kondisi kami seperti ini.

Namun, sampai disini gue berpikir, apa ini adalah jalan rejeki gue yang lain? Apakah ini juga termasuk kemudahan yang gue terima karena gue serius untuk meminang Emi? Kata orang, orang yang mau menikah ini ada aja rejekinya. Munculnya juga dengan cara-cara ajaib atau minimal tidak kita duga sebelumnya. Mungkin ini adalah salah satunya.

“Heh, Mi!”

Dia terperanjat kaget dan nengok ke gue sembari cemberut. “Ngagetin aje lo! Kok udah di sini aja sih? Kan gue belom chat lo.”

“Hebat bukan? Hahaha. Sini bisikin bentar.”

“Apaan?” Dia mendekatkan telinganya pada gue.

I love you, Emi.” bisik gue perlahan.

---

Gue tidak memberitahukan mengenai berita gue mendapatkan panggilan lamaran pekerjaan dari kantor Emi ini pada mama. Gue tidak ingin beliau jadi ribet sendiri dan menekan gue untuk harus bisa diterima. Apalagi karena Emi juga ada di kantor tersebut, pasti mama pun jadi sangat berharap bantuan dari Emi itu sendiri. Dan gue tidak menginginkan itu.

Gue ingin hasil psikotest dan wawancara kali ini murni hasil kemampuan gue. Bukan karena bantuan ‘orang dalam’ alias Emi. Walaupun pasti akan jadi lebih mudah kalo Emi mau menjadi ‘penjamin’ gue nantinya. Gue tidak ingin semua itu dan tidak dibiasakan seperti itu dari dulu. Sudah cukup banyak Emi membantu gue ketika gue mempersiapkan semuanya selama beberapa hari ini.

Hari itu, gue berangkat bersama Emi. Iya, berangkat sebelum Subuh dari rumah Emi untuk mengejar kereta pertama di hari itu. Gue mencoba merasakan perjuangan Emi untuk pergi bekerja setiap harinya dimana ia harus menaiki seluruh kendaraan darat yang ada mulai dari motor, mobil, bus, hingga kereta. Dan hari itu gue ikut merasakannya.

“Begini banget ya perjuangan lo buat kerja, Mi?” tanya gue perlahan pada dia yang berdiri di samping gue.

Iya, dia tidak mendapatkan tempat duduk di kereta karena terus menerus diselak oleh mereka yang merasa lebih membutuhkan daripada Emi. Setiap kali Emi dipersilahkan duduk, Emi terus mendapatkan sindiran ‘Yang muda berdiri aja, Mbak. Kasian yang lebih tua, masa disuruh berdiri?’. Dan setiap kali Emi mempersilakan orang lain untuk duduk, mereka yang duduk di bangku yang Emi kasih itu hanyalah cewek yang segar bugar dan sepertinya juga bisa memberikan tempat duduknya untuk mereka yang lebih membutuhkan lagi.

“Udah biasa gue. Gue biasa berdiri 1-2 jam setiap perjalanan. Ya tergantung keretanya ada gangguan apa nggak, ditahan dulu di Manggarai sama Gambir apa nggak, atau ya lagi rame aja. Gue jarang dapet duduk, Zy. Paling kalo gue lagi capek banget, baru deh gue rela rebutan sama mereka.”

“Terus lo masih nolak gue jemput, Mi? Emang lo nggak capek? Bohong lo nggak ngerasa capek kayak begitu setiap hari?”

“Ya capek, Zy. Tapi mau gimana? Konsekuensi yang harus gue terima dengan legowo karena gue sendiri yang mau nerima kerjaan yang lokasinya jauh banget dari rumah.”

“Bukan itu masalahnya. Lo kenapa masih suka nolak kalo gue mau jemput?”

“Kenapa emang? Gue aja masih kuat kesana sini sendirian, kenapa gue harus ngarepin dianter kesana kesini sama lo? Nyusahin lo doang dong hidup gue?”

“Aneh ya lo. Dikasih enak malah nolak. Nolak rejeki lo namanya.”

“Sini gue bisikin bentar.” Dia menarik pundak gue untuk mendekat pada dia. “Kalo mau ngasih yang enak-enak sama gue mah di kasur aja, Zy.”

“Dih! Hahaha.” Ngomong sama Emi emang tidak akan jauh dari urusan selangkangan. Heran gue, yang kayak begini kok bisa ya tetep cerdas juga. Hahaha.

---

Gue dan Emi memutuskan untuk naik ojek online dibandingkan naik bus. Jaga-jaga agar kami bisa sampai kantor tepat waktu. Khawatir jalanan hari itu ramai dan gue bisa terlambat untuk psikotest. Soalnya psikotest akan dilaksanakan jam 8 pagi. Gue tidak ingin datang mendekati jam psikotest, tidak baik untuk mental gue.

Sesampainya di kantor, Emi segera masuk ke dalam ruang kerja dia, sedangkan gue menghampiri lobi kantor mereka untuk bertanya pada Sekuriti kantor mereka mengenai lokasi psikotest nanti. “Pagi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Ibu Yolanda?” tanya gue pada Sekuriti tersebut.

“Ibu Yolanda belum ada di tempat, Pak. Ada keperluan apa ya, Pak?”

“Saya dihubungi beliau untuk hadir psikotest dan wawancara hari ini.”

“Oh psikotest ya, Pak. Baik silahkan menunggu di sebelah sini.” Beliau mempersilahkan gue untuk menunggu di ruang tunggu yang cukup familiar. Iya, ruang tunggu yang sama ketika gue menunggu Emi dulu, saat akan mengantarkan Mbah dan Mama umroh. Bad memories. Masih pada ingat kejadiannya saat itu?

(EMI CHAT)
Quote:


Emi tidak membalas chat gue lagi. Gue memeriksa kembali berkas yang gue bawa dan membaca beberapa catatan yang Emi berikan untuk memberikan gue gambaran psikotest, wawancara, dan pekerjaan yang akan gue laksanakan (kalo gue memang ditempatkan sesuai posisi yang gue lamar). Soalnya Emi mengatakan, bisa saja gue dipindahkan ke posisi lain yang sekiranya cocok dengan background pengalaman dan pendidikan gue. Mudah-mudahan gue diberi kemudahan.

Namun…

“Hah? Bang Ija?” Gue merasa seseorang menyebut nama gue. Lobi kantor mereka masih kosong jadi suara seseorang bisa cukup menggema di lobi tersebut. Dan gue yakin kalo gue tidak salah dengar. Seseorang sudah menyebut nama gue! Seorang cewek sudah menyebut nama gue lebih lengkapnya!

Gue menengok ke kanan dan kiri. Memastikan ada seseorang yang gue kenal di antara mereka yang sedang duduk di lobi bersama gue. Ketika gue akan berjalan ke arah pintu masuk yang ada di samping Sekuriti, tiba-tiba seseorang berlari menjauh dari Sekuriti dan masuk ke arah pintu yang sama dengan Emi tadi.

“Hmm. Debby…” gumam gue perlahan. Gue 100% yakin, itu dia. Walaupun gue sudah lama tidak melihat dia, gue yakin tidak salah membedakan dia!

Tapi gue tentu saja menghindarinya dan seolah tidak melihatnya sama sekali, karena buat apa juga bertemu dengan orang tidak penting ini. Adanya kalo gue bertemu dia, dia malah berpikir yang aneh-aneh lalu menyebarkan berita yang sebenarnya tidak pernah ada.

Mau tahu seperti apa dia sekarang? Ya, saat ini harus gue akui secara fisik anak ini cantik banget, sekarang malah makin mirip Melody JKT48. Proporsi badannya sangat bagus, semampai, padat sesuai dengan kebutuhan. Maju depan mundur belakang. Sayang banget anak secantik dia malah senang sekali dengki dengan orang lain, terutama Emi. Jika di telisik, secara visual Debby jauh lebih baik daripada Emi. Tetapi kenapa dia seperti itu? Ya mungkin karena memang sifatnya yang sudah jelek dari sananya.

“Awas aja ini anak macem-macem selama proses psikotest atau wawancara nanti.”
kaduruk
hayuus
itkgid
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.