- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.8K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#378
Pencarian Koin_Part 1
Tidak terasa, hari sudah pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Gue membalikkan badan gue ke sisi kanan gue, tempat Emi tidur semalam di samping gue. Namun, gue tidak menemukan sosoknya sama sekali. “Kayaknya dia udah turun masak…” gumam gue perlahan. Gue kembali merebahkan badan gue. “Akhirnya setelah sekian lama, gue bisa balik nginep lagi di sini. Perjuangannya panjang banget asli.”
Gue ambil HP gue yang ada di samping tempat tidur. Bukan… Bukan buat ngecek apa kali ini ada chat atau sms aneh dari Diani ataupun Ana. Tapi karena semalem, ketika Emi udah terlelap di sisi gue, gue diem-diem mencoba peruntungan untuk mencari pundi-pundi tambahan dengan ngelamar kerja sana sini. Tidak hanya mencari pekerjaan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan yang gue tekuni, tetapi juga bidang pekerjaan yang selama ini gue impikan.
Mengajar.
Iya, seorang yang (gue akui) temperamen dan tidak sabaran ini memang bermimpi menjadi seorang pengajar. Entah mengapa gue sangat menyukai bidang pendidikan hingga gue pun selalu ingin menjadi seorang pengajar. Jangan berpikir juga kalau gue bermimpi menjadi seorang pengajar karena terinspirasi salah satu video-video ‘edukatif dari sekolah Jepang’ ya. TIDAK SAMA SEKALI! Haha.
Semalam, salah satu rekan dari Pascasarjana gue memberikan informasi mengenai lowongan mengajar yang sekiranya bisa menerima kami (mahasiswa yang masih menyusun tesis). Ya memang sih kami belum sepenuhnya S2, jadi kami pun tidak mencari lowongan untuk posisi sebagai Dosen Tetap. Tetapi Dosen Tamu, Guru Honorer, atau tenaga pengajar semacamnya pun would be great. Gue bisa menggapai mimpi gue sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya pernikahan gue nanti.
Tetapi chat yang masuk paling atas adalah chat yang tidak gue tunggu sama sekali.
(DIANI CHAT)
Lalu tiba-tiba gue mendengar dari kejauhan, “REJEKI NOMPLOK NIH, ZY!” teriak Emi yang entah ada dimana dia sekarang. Mungkin dia ada di dapur yang berada di lantai bawah. Dan tidak perlu menunggu hingga 1 menit, Emi sudah berlari menuju kamar dimana gue berada. I can tell. Gue sempatkan diri untuk kembali menghapus chat dari Diani sebelum Emi yang menemukannya dan kemudian berpura-pura tidur kembali. “Zy?” Dia sudah ada di pintu kamar.
“Hmm?” jawab gue sembari membuka kedua mata gue perlahan seakan gue baru saja bangun tidur. Tidak lupa gue menggosok kedua mata gue dengan tangan. “Kenapa?”
Dia jalan ke sisi kanan gue dan menunjukkan HP dia pada gue. “Ada rejeki nomplok, Zy!”
“Maksudnya? Lo masang togel?”
“Bangs*t! Kenapa gue pasang togel sih? Lagian kalo gue pasang togel, nggak akan gue bagi-bagi info sama lo. Gue diem aje kalo gue punya duit banyak biar disangka melihara tuyul. Haha.”
“Dih… Haha. Terus lo ngapain nunjukin kalkulator? Ada urusan apaan di kalkulator sama rejeki nomplok?” Gue pun bingung. Soalnya memang dia hanya menunjukkan kalkulator dari layar HP dia.
“EH IYA BANGS*T! HAHAHA.”
“Gila ya, belom sejam gue buka mata eh udah denger berapa kali itu kata mutiara dari mulut lo? Haha.”
“Kenapa? Nggak suka? Ya udah kalo nggak suka nggak usah kimpoi sama gue lo! Seumur idup lo entar bakalan dengerin kata-kata mutiara terooos sampe lo tua. Nggak mau? Nggak suka? Mending kimpoi sama pacar-pacar lo aja sana gih. Yang cantik dan akhlaknya mukhaffafah.”
“Hah? Kok mukhaffafah? Lo kata najis ringan sampe dikata mukhaffafah? Kan lagi ngomongin akhlak, Njir. Haha.”
“Ya bohong, Zy, kalo jaman sekarang cewek yang lo deketin nggak ada dosanya sama sekali. Haha. Anggep aja dosanya ringan kayak najis ringan, nggak kayak gue yang udah expertbener itu dosa-dosa. Haha.”
“Ah bodo amat. Mau dosanya kayak apa. Toh nanti pas udah nikah, semua dosa lo jadi tanggungan gue. Biar tugas gue yang bantu ingetin lo buat perbaiki diri dan lo juga bantu ingetin plus arahin gue buat perbaiki diri gue…”
“………” Dia diam sambil natap mata gue. Mungkin dia bingung mau merespon apa pernyataan gue tersebut.
“Bisa kan gue ngomong so sweet begitu? Haha.”
“Hmm.” Dia kembali memeriksa HP dia dan menunjukkan chat yang dia maksud sebelumnya. “Nih baca…”
(BIMO CHAT)
“Eh iya mumpung inget, si Bang Ija udah lulus S2 belum sih? Kemarin gue pas lagi ngurus ini itu sama Pak Oscar, denger-denger obrolan HRD. Ada lowongan kerja buat jadi Asisten Manajer di Cikarang. Bang Ija mau coba ngelamar nggak?”
“Gue kan belom lulus S2-nya. Masih proses. Emang bisa ya?”
“Gue nggak tau, Zy. Gue belom ngomong apa-apa sama HRD. Apa mau lo coba dulu? Lo bisa ngomong pas interview. Di sini yang lo ‘jual’ ya jam terbang kerja lo, sertifikasi lo, dan lo yang calon Magister Manajemen.”
“Hmm. Bisa sih.” kata gue sembari mencoba baca chat-chat sebelumnya antara Bimo dan Emi.
“Ya udah ayo kita rapihin CV lo…” Dia duduk di depan laptop dia dan mulai menghidupkan laptopnya. She’s super excited about it.
Gue kaget dengan apa yang gue baca. “Bentar. Lo mau ada survey ke Singapur? Anj*ng amat! Baru kemaren dari Bali, sekarang mau ke Singapur?”
“Nah di situ rejeki nomploknya!” Dia kembali duduk di samping gue di tempat tidur. “Sampe lupa gue mau cerita sama lo!”
“Kapan— Eh bentar! Lo emang udah punya paspor?” Dia cemberut dan memasang ekspresi muka sedih. “Nah kan belom punya. Terus mau kapan bikinnya? Kapan perginya? Kekejar nggak bikin paspornya?”
“Besok bisa nggak temenin gue bikin paspor, Zy?”
“Terus gue kapan ngelamar kerjanya ke kantor lo? Gimana gue mau nemenin lo bikin paspor kalo gue mesti ke kantor lo juga? Lagian emang besok lo nggak kerja?”
“Besok gue ijin sama Bimo…”
“Lo tuh tau nggak sih kalo mau ngurus paspor itu bisa seharian dan mesti ngantri dari pagi?”
“Ya tinggal dateng jam 7—” katanya polos.
“JAM 7 LO KATA? ABIS SUBUH LO MESTI UDAH DI IMIGRASI, MI! ENAK AJE LO KATA JAM 7!” She had no idea what she’s going to face later.
“Pagi bener mau ngapain gue? Ngepel? Becanda lo, Zy!”
“Liat aja besok dah kalo nggak percaya. Pokoknya lo harus bangun dari sebelom Subuh ya.”
“Ya udah dah gue percaya aja sama yang berpengalaman.” kata dia dengan nada sarkas.
“Lah dia nggak percaya. Begini nih ngomong sama orang pinter. Susah banget dikasih tau, apalagi kalo dikasih tau sama yang lebih gobl*k. Susah udah…”
“Ih jangan gitu sih, Zy. Emang gue ngeremehin lo?”
“Coba lo pikir aja, kalo gue itu Bimo dan obrolan kita kayak tadi, Bimo udah ngambek pasti sama lo.”
“Iya-iya… Gue percaya kok. Huh. Kesel deh…” kata dia yang kembali fokus pada laptop. “Ayo kita siapin CV lo. Diedit jadi sama kayak CV gue aja ya?”
“Diedit? Buat apa diedit lagi? CV gue udah lengkap kok.” Ya soalnya CV yang ada saat itu adalah CV yang gue kirim ke temen gue malam sebelumnya untuk melamar pekerjaan.
“Coba sini gue liat…”
“Ada di e-mail gue, liat aja folder Sent.”
“Hmm. Word? Even bukan PDF?” Dia kembali menjeda omongannya. “Lo ngelamar jadi dosen? Lo mau jadi dosen, Zy? Seriusan lo?”
“Mau mana dulu nih yang gue jawab? Banyak bener nanyanya masih pagi. Tau gitu gue tidur aja tadi.”
“Ish. Buru jawab! Lo mau cari pacar baru? Lo mau pacar baru lo anak kuliahan?”
“APAAN LAGI SIH INI BUSET!”
“Buru jawab!”
“Ini nggak ada urusannya sama pacar-pacar lagi, Mi. Gue udah nggak ngurusin pacar lagi! Bisa nggak sih positive thinking sama gue—”
“Nggak.”
“YA UDAHLAH! DOAIN AJA GUE NGGAK BISA DAPET DUIT LAGI! SEKALIAN AJA NGGAK USAH GUE NGELAMAR KE KANTOR LO! ENTAR SEKALINYA GUE NGELAMAR TERUS KETERIMA, LO ENTAR MIKIRNYA ‘KAMU MAU CARI PACAR BARU DI KANTOR BARU?’ LAGI! NYUSAHIN AJA! TOT!”
“Nyusahin?”
“YA IYA NYUSAHIN NAMANYA! MAU KEMANAPUN GUE PERGI, MAU DIMANAPUN GUE KERJA, GUE BAKALAN TERUS DICURIGAIN KAYAK BEGINI! GUE KAYAK COWOK NGAC*NGAN YANG NGGAK BISA PROFESIONAL BANGET SIH DI MATA LO! HERAN GUE!”
“Ana? Hubungan kamu sama dia emang profesional aja?”
“Kenapa jadi bahas Ana lagi sih, Mi?”
“………”
“Kalo lo emang nggak ngerestuin gue buat jadi dosen, liat aja entar pasti gue nggak akan keterima. Taruhan sama gue, gue nggak akan keterima sama sekali. Dan gue nggak tau lagi bisa ngelamar jadi apa lagi nanti.” Gue merebahkan badan gue. “Gue itu emang pingin banget bisa ngajar. Gue pingin banget bisa berbagi ilmu sama orang lain. Makanya waktu kuliah dulu gue pernah jadi Asisten Dosen terus jadi Koordinator Asisten, gue senang banget. Cuma ya sayang, otak gue nggak semoncer temen-temen gue yang bisa ngelanjutin sekolahnya dan didukung dengan nilai yang bagus-bagus, makanya gue nggak bisa jadi dosen pasca lulus S1 gue.”
Salah satu cita-cita gue yang muncul semenjak gue menginjakkan kaki di dunia Pendidikan tinggi adalah menjadi seorang dosen. Gue melihat dosen sebagai profesi yang oke. Oke disini bukanlah dari sisi penghasilan, tapi dari sisi penghargaan, penghormatan dan pengabdian. Apalagi dengan mentransfer ilmu spesifik yang dia punya dari jurusannya masing-masing itu menurut gue adalah suatu kebanggaan. Menurut gue, jadi dosen juga sebenarnya tidak perlu yang pintar-pintar amat seperti otak Emi. Tapi yang mampu mendedikasikan diri untuk mengabdi ke universitas dan tentu saja ilmunya terpakai untuk kemaslahatan yang lebih besar.
Berbeda dengan Emi yang ingin sekali menjadi peneliti untuk menemukan maslahat bagi orang banyak, gue ingin bisa mengajarkan kepada banyak sekali orang-orang yang pada dasarnya sudah diberi kesempatan untuk menimba ilmu di universitas, dimanapun gue mengajar, agar bisa menggunakan keilmuan yang sudah gue sampaikan dengan cara terbaik gue demi kemaslahatan lebih banyak lagi orang. Harusnya itu menjadi pahala tersendiri buat gue.
“Terus kalo keterima, lo mau ngelepas kerjaan lo sekarang demi jadi dosen?” ucap Emi sedikit cemas.
“Nggak gitu juga, Mi. Liat sikon.”
“Ngajar itu kan nggak semudah itu, Zy. Lo ngajar anak SD, pasti beda rasanya dan perlakuannya ketika lo ngajar anak kuliahan. Lo ngajar di sekolah atau kampus juga pasti beda perlakuannya ketika lo ngajar les privat. Lo yang anger management-nya low begitu, kuat emang?”
“Gue nggak tau, Mi. Namanya juga usaha dulu. Usaha buat nyari tambahan uang buat nikahan kita.”
“Belom ada kabar ya dari bank?” Gue menggelengkan kepala gue. Pertanda belum ada kabar baik dari sana. “Ya udah. Usaha dulu aja ya kalo gitu. Gue… Ikhlas kok.”
Gue nengok ke arah dia. “Maksudnya?”
“Iya, gue restui segala usaha yang lo lakui demi dapetin tambahan uang. Either/i] jadi dosen, guru di sekolah, [i]or guru les privat. Ataupun ya usaha lo ngelamar di kantor gue nanti. Gue restui semuanya. ASAL…”
“Asal apaan?”
“Kau jaga slalu hatimu… Saat jauh dariku… Tunggu aku kembali…” Dia menyanyikan sebait lirik lagu favorit dia tersebut.
“InsyaAllah, hati ini udah tau kemana dia pulang, Mi. Hati ini udah capek mampir.”
“Amiiin… Semoga sekuat itu ya, Zy.”
“Gue pasti kuat kok!” kata gue lantang. “Semoga gue terus kuat!” Kali ini gue ucapkan di dalam hati gue.
“Ya udah. Gue edit ya CV lo. Oke udah lengkap emang CV lo, cuma masih agak kurang menarik. Gue bantu edit ya. Samain aja desainnya, gue bedain warna sama posisi dikit-dikit. Tapi gue bikin lebih simpel.” kata dia sembari melihat-lihat CV gue.
“Lo udah bisa Photoshop emang?”
“Ya nggak pake itu. Pake Word aja. Kita edit pake Shapes.”
“Lah? Bisa? Apa nggak repot?”
“Wong ada kok yang bikin lukisan dari Excel[i/i], apa salahnya bikin CV make [i]Word? Toh nanti dikirimnya juga pake PDF. Haha.”
“Iya juga ya, Mi…”
“Apanya?”
“Gue kenapa kemarin ngirimnya pake Word ya? Ah gobl*k banget asli!”
“Namanya juga udah malem banget. Mana capek juga ye kan abis ‘baku hantam’?” Dia melirik gue dengan tatapan seksi dia.
“Capek yang membawa kenikmatan itu namanya. Haha.”
“Berarti bukan capek namanya. Tapi nggak fokus abis ng*we! Haha.”
Siang itu kami habiskan buat diskusi (walaupun lebih banyak diajarkan oleh dia) mengenai CV, cover letter, dan body mail. Sedangkan gue mengajarkan dan membantu dia mempersiapkan segala kebutuhan untuk mengurus ke Kantor Imigrasi keesokan harinya. Hari Minggu yang produktif. Hari yang produktif begini adalah hari yang akan selalu gue rindukan karena gue tidak akan merasakan hal seperti ini jika gue berakhir dengan cewek lainnya.
Gue ambil HP gue yang ada di samping tempat tidur. Bukan… Bukan buat ngecek apa kali ini ada chat atau sms aneh dari Diani ataupun Ana. Tapi karena semalem, ketika Emi udah terlelap di sisi gue, gue diem-diem mencoba peruntungan untuk mencari pundi-pundi tambahan dengan ngelamar kerja sana sini. Tidak hanya mencari pekerjaan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan yang gue tekuni, tetapi juga bidang pekerjaan yang selama ini gue impikan.
Mengajar.
Iya, seorang yang (gue akui) temperamen dan tidak sabaran ini memang bermimpi menjadi seorang pengajar. Entah mengapa gue sangat menyukai bidang pendidikan hingga gue pun selalu ingin menjadi seorang pengajar. Jangan berpikir juga kalau gue bermimpi menjadi seorang pengajar karena terinspirasi salah satu video-video ‘edukatif dari sekolah Jepang’ ya. TIDAK SAMA SEKALI! Haha.
Semalam, salah satu rekan dari Pascasarjana gue memberikan informasi mengenai lowongan mengajar yang sekiranya bisa menerima kami (mahasiswa yang masih menyusun tesis). Ya memang sih kami belum sepenuhnya S2, jadi kami pun tidak mencari lowongan untuk posisi sebagai Dosen Tetap. Tetapi Dosen Tamu, Guru Honorer, atau tenaga pengajar semacamnya pun would be great. Gue bisa menggapai mimpi gue sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya pernikahan gue nanti.
Tetapi chat yang masuk paling atas adalah chat yang tidak gue tunggu sama sekali.
(DIANI CHAT)
Quote:
Lalu tiba-tiba gue mendengar dari kejauhan, “REJEKI NOMPLOK NIH, ZY!” teriak Emi yang entah ada dimana dia sekarang. Mungkin dia ada di dapur yang berada di lantai bawah. Dan tidak perlu menunggu hingga 1 menit, Emi sudah berlari menuju kamar dimana gue berada. I can tell. Gue sempatkan diri untuk kembali menghapus chat dari Diani sebelum Emi yang menemukannya dan kemudian berpura-pura tidur kembali. “Zy?” Dia sudah ada di pintu kamar.
“Hmm?” jawab gue sembari membuka kedua mata gue perlahan seakan gue baru saja bangun tidur. Tidak lupa gue menggosok kedua mata gue dengan tangan. “Kenapa?”
Dia jalan ke sisi kanan gue dan menunjukkan HP dia pada gue. “Ada rejeki nomplok, Zy!”
“Maksudnya? Lo masang togel?”
“Bangs*t! Kenapa gue pasang togel sih? Lagian kalo gue pasang togel, nggak akan gue bagi-bagi info sama lo. Gue diem aje kalo gue punya duit banyak biar disangka melihara tuyul. Haha.”
“Dih… Haha. Terus lo ngapain nunjukin kalkulator? Ada urusan apaan di kalkulator sama rejeki nomplok?” Gue pun bingung. Soalnya memang dia hanya menunjukkan kalkulator dari layar HP dia.
“EH IYA BANGS*T! HAHAHA.”
“Gila ya, belom sejam gue buka mata eh udah denger berapa kali itu kata mutiara dari mulut lo? Haha.”
“Kenapa? Nggak suka? Ya udah kalo nggak suka nggak usah kimpoi sama gue lo! Seumur idup lo entar bakalan dengerin kata-kata mutiara terooos sampe lo tua. Nggak mau? Nggak suka? Mending kimpoi sama pacar-pacar lo aja sana gih. Yang cantik dan akhlaknya mukhaffafah.”
“Hah? Kok mukhaffafah? Lo kata najis ringan sampe dikata mukhaffafah? Kan lagi ngomongin akhlak, Njir. Haha.”
“Ya bohong, Zy, kalo jaman sekarang cewek yang lo deketin nggak ada dosanya sama sekali. Haha. Anggep aja dosanya ringan kayak najis ringan, nggak kayak gue yang udah expertbener itu dosa-dosa. Haha.”
“Ah bodo amat. Mau dosanya kayak apa. Toh nanti pas udah nikah, semua dosa lo jadi tanggungan gue. Biar tugas gue yang bantu ingetin lo buat perbaiki diri dan lo juga bantu ingetin plus arahin gue buat perbaiki diri gue…”
“………” Dia diam sambil natap mata gue. Mungkin dia bingung mau merespon apa pernyataan gue tersebut.
“Bisa kan gue ngomong so sweet begitu? Haha.”
“Hmm.” Dia kembali memeriksa HP dia dan menunjukkan chat yang dia maksud sebelumnya. “Nih baca…”
(BIMO CHAT)
“Eh iya mumpung inget, si Bang Ija udah lulus S2 belum sih? Kemarin gue pas lagi ngurus ini itu sama Pak Oscar, denger-denger obrolan HRD. Ada lowongan kerja buat jadi Asisten Manajer di Cikarang. Bang Ija mau coba ngelamar nggak?”
“Gue kan belom lulus S2-nya. Masih proses. Emang bisa ya?”
“Gue nggak tau, Zy. Gue belom ngomong apa-apa sama HRD. Apa mau lo coba dulu? Lo bisa ngomong pas interview. Di sini yang lo ‘jual’ ya jam terbang kerja lo, sertifikasi lo, dan lo yang calon Magister Manajemen.”
“Hmm. Bisa sih.” kata gue sembari mencoba baca chat-chat sebelumnya antara Bimo dan Emi.
“Ya udah ayo kita rapihin CV lo…” Dia duduk di depan laptop dia dan mulai menghidupkan laptopnya. She’s super excited about it.
Gue kaget dengan apa yang gue baca. “Bentar. Lo mau ada survey ke Singapur? Anj*ng amat! Baru kemaren dari Bali, sekarang mau ke Singapur?”
“Nah di situ rejeki nomploknya!” Dia kembali duduk di samping gue di tempat tidur. “Sampe lupa gue mau cerita sama lo!”
“Kapan— Eh bentar! Lo emang udah punya paspor?” Dia cemberut dan memasang ekspresi muka sedih. “Nah kan belom punya. Terus mau kapan bikinnya? Kapan perginya? Kekejar nggak bikin paspornya?”
“Besok bisa nggak temenin gue bikin paspor, Zy?”
“Terus gue kapan ngelamar kerjanya ke kantor lo? Gimana gue mau nemenin lo bikin paspor kalo gue mesti ke kantor lo juga? Lagian emang besok lo nggak kerja?”
“Besok gue ijin sama Bimo…”
“Lo tuh tau nggak sih kalo mau ngurus paspor itu bisa seharian dan mesti ngantri dari pagi?”
“Ya tinggal dateng jam 7—” katanya polos.
“JAM 7 LO KATA? ABIS SUBUH LO MESTI UDAH DI IMIGRASI, MI! ENAK AJE LO KATA JAM 7!” She had no idea what she’s going to face later.
“Pagi bener mau ngapain gue? Ngepel? Becanda lo, Zy!”
“Liat aja besok dah kalo nggak percaya. Pokoknya lo harus bangun dari sebelom Subuh ya.”
“Ya udah dah gue percaya aja sama yang berpengalaman.” kata dia dengan nada sarkas.
“Lah dia nggak percaya. Begini nih ngomong sama orang pinter. Susah banget dikasih tau, apalagi kalo dikasih tau sama yang lebih gobl*k. Susah udah…”
“Ih jangan gitu sih, Zy. Emang gue ngeremehin lo?”
“Coba lo pikir aja, kalo gue itu Bimo dan obrolan kita kayak tadi, Bimo udah ngambek pasti sama lo.”
“Iya-iya… Gue percaya kok. Huh. Kesel deh…” kata dia yang kembali fokus pada laptop. “Ayo kita siapin CV lo. Diedit jadi sama kayak CV gue aja ya?”
“Diedit? Buat apa diedit lagi? CV gue udah lengkap kok.” Ya soalnya CV yang ada saat itu adalah CV yang gue kirim ke temen gue malam sebelumnya untuk melamar pekerjaan.
“Coba sini gue liat…”
“Ada di e-mail gue, liat aja folder Sent.”
“Hmm. Word? Even bukan PDF?” Dia kembali menjeda omongannya. “Lo ngelamar jadi dosen? Lo mau jadi dosen, Zy? Seriusan lo?”
“Mau mana dulu nih yang gue jawab? Banyak bener nanyanya masih pagi. Tau gitu gue tidur aja tadi.”
“Ish. Buru jawab! Lo mau cari pacar baru? Lo mau pacar baru lo anak kuliahan?”
“APAAN LAGI SIH INI BUSET!”
“Buru jawab!”
“Ini nggak ada urusannya sama pacar-pacar lagi, Mi. Gue udah nggak ngurusin pacar lagi! Bisa nggak sih positive thinking sama gue—”
“Nggak.”
“YA UDAHLAH! DOAIN AJA GUE NGGAK BISA DAPET DUIT LAGI! SEKALIAN AJA NGGAK USAH GUE NGELAMAR KE KANTOR LO! ENTAR SEKALINYA GUE NGELAMAR TERUS KETERIMA, LO ENTAR MIKIRNYA ‘KAMU MAU CARI PACAR BARU DI KANTOR BARU?’ LAGI! NYUSAHIN AJA! TOT!”
“Nyusahin?”
“YA IYA NYUSAHIN NAMANYA! MAU KEMANAPUN GUE PERGI, MAU DIMANAPUN GUE KERJA, GUE BAKALAN TERUS DICURIGAIN KAYAK BEGINI! GUE KAYAK COWOK NGAC*NGAN YANG NGGAK BISA PROFESIONAL BANGET SIH DI MATA LO! HERAN GUE!”
“Ana? Hubungan kamu sama dia emang profesional aja?”
“Kenapa jadi bahas Ana lagi sih, Mi?”
“………”
“Kalo lo emang nggak ngerestuin gue buat jadi dosen, liat aja entar pasti gue nggak akan keterima. Taruhan sama gue, gue nggak akan keterima sama sekali. Dan gue nggak tau lagi bisa ngelamar jadi apa lagi nanti.” Gue merebahkan badan gue. “Gue itu emang pingin banget bisa ngajar. Gue pingin banget bisa berbagi ilmu sama orang lain. Makanya waktu kuliah dulu gue pernah jadi Asisten Dosen terus jadi Koordinator Asisten, gue senang banget. Cuma ya sayang, otak gue nggak semoncer temen-temen gue yang bisa ngelanjutin sekolahnya dan didukung dengan nilai yang bagus-bagus, makanya gue nggak bisa jadi dosen pasca lulus S1 gue.”
Salah satu cita-cita gue yang muncul semenjak gue menginjakkan kaki di dunia Pendidikan tinggi adalah menjadi seorang dosen. Gue melihat dosen sebagai profesi yang oke. Oke disini bukanlah dari sisi penghasilan, tapi dari sisi penghargaan, penghormatan dan pengabdian. Apalagi dengan mentransfer ilmu spesifik yang dia punya dari jurusannya masing-masing itu menurut gue adalah suatu kebanggaan. Menurut gue, jadi dosen juga sebenarnya tidak perlu yang pintar-pintar amat seperti otak Emi. Tapi yang mampu mendedikasikan diri untuk mengabdi ke universitas dan tentu saja ilmunya terpakai untuk kemaslahatan yang lebih besar.
Berbeda dengan Emi yang ingin sekali menjadi peneliti untuk menemukan maslahat bagi orang banyak, gue ingin bisa mengajarkan kepada banyak sekali orang-orang yang pada dasarnya sudah diberi kesempatan untuk menimba ilmu di universitas, dimanapun gue mengajar, agar bisa menggunakan keilmuan yang sudah gue sampaikan dengan cara terbaik gue demi kemaslahatan lebih banyak lagi orang. Harusnya itu menjadi pahala tersendiri buat gue.
“Terus kalo keterima, lo mau ngelepas kerjaan lo sekarang demi jadi dosen?” ucap Emi sedikit cemas.
“Nggak gitu juga, Mi. Liat sikon.”
“Ngajar itu kan nggak semudah itu, Zy. Lo ngajar anak SD, pasti beda rasanya dan perlakuannya ketika lo ngajar anak kuliahan. Lo ngajar di sekolah atau kampus juga pasti beda perlakuannya ketika lo ngajar les privat. Lo yang anger management-nya low begitu, kuat emang?”
“Gue nggak tau, Mi. Namanya juga usaha dulu. Usaha buat nyari tambahan uang buat nikahan kita.”
“Belom ada kabar ya dari bank?” Gue menggelengkan kepala gue. Pertanda belum ada kabar baik dari sana. “Ya udah. Usaha dulu aja ya kalo gitu. Gue… Ikhlas kok.”
Gue nengok ke arah dia. “Maksudnya?”
“Iya, gue restui segala usaha yang lo lakui demi dapetin tambahan uang. Either/i] jadi dosen, guru di sekolah, [i]or guru les privat. Ataupun ya usaha lo ngelamar di kantor gue nanti. Gue restui semuanya. ASAL…”
“Asal apaan?”
“Kau jaga slalu hatimu… Saat jauh dariku… Tunggu aku kembali…” Dia menyanyikan sebait lirik lagu favorit dia tersebut.
“InsyaAllah, hati ini udah tau kemana dia pulang, Mi. Hati ini udah capek mampir.”
“Amiiin… Semoga sekuat itu ya, Zy.”
“Gue pasti kuat kok!” kata gue lantang. “Semoga gue terus kuat!” Kali ini gue ucapkan di dalam hati gue.
“Ya udah. Gue edit ya CV lo. Oke udah lengkap emang CV lo, cuma masih agak kurang menarik. Gue bantu edit ya. Samain aja desainnya, gue bedain warna sama posisi dikit-dikit. Tapi gue bikin lebih simpel.” kata dia sembari melihat-lihat CV gue.
“Lo udah bisa Photoshop emang?”
“Ya nggak pake itu. Pake Word aja. Kita edit pake Shapes.”
“Lah? Bisa? Apa nggak repot?”
“Wong ada kok yang bikin lukisan dari Excel[i/i], apa salahnya bikin CV make [i]Word? Toh nanti dikirimnya juga pake PDF. Haha.”
“Iya juga ya, Mi…”
“Apanya?”
“Gue kenapa kemarin ngirimnya pake Word ya? Ah gobl*k banget asli!”
“Namanya juga udah malem banget. Mana capek juga ye kan abis ‘baku hantam’?” Dia melirik gue dengan tatapan seksi dia.
“Capek yang membawa kenikmatan itu namanya. Haha.”
“Berarti bukan capek namanya. Tapi nggak fokus abis ng*we! Haha.”
Siang itu kami habiskan buat diskusi (walaupun lebih banyak diajarkan oleh dia) mengenai CV, cover letter, dan body mail. Sedangkan gue mengajarkan dan membantu dia mempersiapkan segala kebutuhan untuk mengurus ke Kantor Imigrasi keesokan harinya. Hari Minggu yang produktif. Hari yang produktif begini adalah hari yang akan selalu gue rindukan karena gue tidak akan merasakan hal seperti ini jika gue berakhir dengan cewek lainnya.
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
dan bintang 5 
