Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#363
Kabar Kampus_Part 3

(EMI CHAT)
Quote:


Hanya itu jawaban Emi ketika gue mengajaknya bertemu. Gue tidak pernah meng-underestimatedia kalo dia bilang begitu. Gue memang lebih dahulu kerja dibandingkan dia, tapi bukan berarti dia tidak bisa sesibuk gue. Dia sangat mungkin untuk lebih sibuk dari gue. Toh dia bukan freelancer seperti gue, walaupun dia masih trial sebagai staf kontrak selama satu tahun. Dia sangat mungkin untuk sibuk. Gue hargai dia, gue tidak ingin mengganggu dia.

Gue mencoba membuka obrolan dengan dia. Gue kirimkan artikel mengenai musik yang dia suka, artikel lingkungan yang menjadi concern dia, ataupun sekedar berkirim memes. Tapi tidak ada jawaban sama dia. Chat gue hanya dia baca.

“Segitu marah dan kecewanya ya dia sama gue? Kok rasa-rasanya ini sama aja kayak gue putus sama dia.” kata gue dalam hati.

Rasanya ingin sekali gue menghampiri kantor dia biar dia tidak pergi kemana-mana lagi. Tapi gue malas. Malas kalo sampai Debby melihat gue dan Emi yang sedang tidak baik hubungannya ini. Dia hanya akan menambah masalah dan pertikaian di antara kami.

Gue membuka e-mail gue. Masih tidak ada e-mail masuk dari bank mengenai kelanjutan refinancing mobil gue. Entah pengajuan gue akan di-approve atau tidak. Tidak jelas sama sekali. Mengapa semua orang seakan menghindari gue seperti ini?

Gue merebahkan badan gue di tempat tidur. “Apa kali ini gue harus nyerah? Nyerah sama segalanya?” Gue memiringkan badan gue dan melirik tumpukan kertas yang berisi berkas-berkas tesis gue. “Lebih baik gue DO aja lah, daripada gue harus bayar denda gede.”

Kalo orang tidak mengetahui setiap proses dan tahapan yang sudah kami lalui, mereka pasti berpikir kalau gue sangat menggantungkan diri gue pada Emi mengenai tesis ini. Sebenarnya tidak hanya itu saja, mungkin bisa dibilang gue sangat menggantung seluruh hidup gue pada Emi. Untuk saat ini. Karena hanya dia yang percaya pada gue. Hanya dia yang mau mendampingi gue, sebrengsek apapun gue. Hanya dia yang percaya kalo gue bisa menjalani ini semua.

Padahal gue sendiri merasa khawatir akan kemampuan diri gue. “Apa gue bisa ngelakuin itu semua sendiri? Apa jangan-jangan apa yang dipikirkan orang-orang itu benar? Apa selama ini Mama itu nggak pernah salah tentang gue?”

Jangan berpikir gue tidak berusaha sendiri untuk tesis ini. Gue sudah mencoba memperbaiki tesis gue seperti apa yang diinstruksikan oleh kedua Profesor yang membimbing gue. Gue pun sudah membaca rancangan Emi mengenai isi, simpulan, serta luaran dari tesis gue. Tetapi, I’m stuck. I’ve no idea what should I do next.

Untuk saat ini, hanya pekerjaan kantor gue yang kondisinya baik-baik saja. Bahkan mungkin, cenderung membaik. Urusan pekerjaan ya, bukan urusan hubungan gue dengan Ana di kantor. Ah, gue sudah tidak mempedulikan dia lagi untuk saat ini.

---

Malam ini, gue beranikan diri gue untuk bertemu dengan Emi secara langsung. Gue tidak menghubungi dia terlebih dahulu. Gue pun tidak menunggu kedatangan dia di stasiun. Gue langsung ke rumah dia agar dia tidak kembali menghindari gue.

Tidak. Gue ingin bertemu Emi bukan ingin menyerahkan tesis gue pada dia dan meminta dia untuk menyelesaikannya. Gue adalah cowok yang sangat tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, dan patut untuk ditinggalkan kalau gue melakukan itu. Gue sangat butuh ada di dekat dia. Gue butuh menemui dia. Gue butuh sosok dia ada dan mendampingi gue.

Mungkin dia akan murka pada gue. Mungkin dia akan membentak atau menangis sembari mendongeng mengenai bagaimana perasaan kecewanya dia pada gue. Mungkin akan ada ‘muka asem’ lain yang dia tunjukan ketika melihat gue ada di doorstep dia. Tidak apa-apa. Gue harus menghadapi dia. Gue harus mendengarkan seluruh keluh kesah dia. Gue harus belajar memahami dia. Gue harus belajar mengubah diri gue menjadi versi terbaik gue seperti apa yang mungkin bisa gue lakuin dan dia percaya kalo gue bisa.

Dia saja selalu bisa belajar menerima gue yang selalu menyakiti dia, mengapa gue tidak bisa berusaha merubah keadaan gue sendiri?

Gue paham, baru berangkat selepas Isya bukanlah waktu terbaik untuk berangkat ke rumah Emi. Sudah cukup malam dan ketika sampai di rumah Emi, gue khawatir Emi kembali menolak gue dengan alasan sudah terlalu lelah.

Apalagi ketika ternyata. “Yailah, ujan gede pulak.” Gerutu gue sembari menggunakan jas hujan gue yang gue simpan di bagasi motor gue.

“Mau kemana lo malem-malem, Kak?” tanya Dania yang baru saja membuka pintu gerbang rumah kami.

“Ke rumah Emi.” Jawab gue singkat.

“Harus malem ini banget? Nggak bisa besok aja? Kan besok udah Sabtu. Lo juga nggak kerja kan?” tanya dia sembari merapihkan payung yang dia gunakan sebelumnya.

“Gue maunya malem ini, kenapa nunggu besok?”

“Oh jadi lo nggak pulang LAGI malem ini? Udah bilang Mama belom?”

“LAGI? Gue sekarang kayaknya SELALU pulang ke rumah dan SELALU PULANG TEPAT WAKTU kali. Nggak pernah semalem lo.”

“Gue kerja, Kak! Dan kerjaan gue banyak!”

“Terus menurut lo gue nggak kerja gitu? Terus kerjaan gue sedikit? Gitu?” Emosi gue mulai meningkat. Kenapa sih sama mereka berdua? Gue masih aja dituduh kerja nggak bener.

“Heh heh heh! Ngapain sih, Kak? Ribut-ribut begitu sama Dania? Nggak bisa ngomongnya biasa aja? Malu didenger tetangga! Udah buru masuk! Lagi ujan duereeesss begini juga!” Dan kayaknya Mama kaget ngeliat gue sudah menggunakan helm gue. “Loh kamu mau kemana malem-malem begini, Kak?”

“Nginep di rumah Emi! Mau aja lo disuruh-suruh berangkat malem-malem begini sama Emi, Kak.” Kata Dania sambil masuk ke dalam rumah tanpa nengok sama sekali pada gue dan Mama.

“Emang nggak bisa besok aja berangkatnya, Kak? Bukannya kalau Sabtu tuh Emi kerja? Kenapa? Minta dianterin kerjanya besok? Emang nggak bisa berangkat kerja sendiri?”

“Ini apa-apaan sih? Kenapa jadi Emi yang disalah-salahin? Ini tuh nggak ada hubungannya sama Emi! Ija yang mau nemuin Emi di rumah dia! Kenapa jadi Emi yang nyuruh nginep, Emi yang minta dianterin kerja! Siapa sih yang bilang begitu? Heran. Udah tau calon istri anaknya sendiri, masih aja dituduh nggak bener mulu!”

“Yaudah kalo nggak ada yang nyuruh kamu berangkat sekarang, ya berangkat besok aja! Bisa bukan? Kenapa harus malem ini sih???”

Gue males menjelaskan ulang alasan gue pergi ke rumah Emi malam itu. Karena gue tau, itu hanya buang-buang waktu saja. Mereka tidak akan benar-benar mau mendengarkan alasan gue. Mereka hanya mencari celah untuk menyalahkan segala keputusan gue dan Emi. Jadi gue tidak menggubris pertanyaan Mama.

Gue menghampiri Mama dan salim pada beliau sekaligus pamit. “Ija berangkat dulu.” Gue langsung tancap gas menggunakan kuda besi gue, meninggalkan Mama yang speechless melihat kelakuan gue. “Maaf, Ma. Ija nggak berniat nggak sopan sama Mama. Tapi Mama nggak kasih Ija pilihan…”

---

“Loh, Ji? Om kira kamu nggak kesini.” Tanya bokapnya Emi ketika baru saja naik ke lantai 2.

Sepertinya beliau kaget melihat gue yang sedang menunggu di ruang keluarga yang ada di depan kamar Emi. Soalnya tadi ketika gue ijin membuka pintu rumah, tidak ada yang menjawab. Mungkin beliau sedang pergi, sedangkan Mamanya Emi sudah terlelap di dalam kamar. Itulah sebabnya gue langsung naik ke lantai 2.

“Kenapa emangnya, Om?”

“Emi udah ijin sama Om mau pulang rada malam. Om kira perginya sama kamu atau perginya nanti dijemput kamu. Ini aja Om belum lama baca WA-nya dia.”

“Oh iya, Om? Emi nggak cerita apa-apa sih sama saya. Mungkin nanti bilang pas minta dijemput kali ya?” kata gue sembari memeriksa HP gue. Siapa tau Emi baru mau menghubungi gue. Tetapi nothing, tidak ada apapun.

“Ya udah kalo gitu, Om turun dulu ya. Om ngantuk pisan ini. Cuacanya teh bikin males. Hehehe.”

“Oh iya nggak apa-apa, Om. Nanti kalo saya jemput Emi, saya kunci lagi pintunya.”

“Iya, Ji. Om turun dulu ke bawah.”

Setelah memastikan Papanya Emi masuk ke dalam kamar, gue memeriksa HP gue. Tidak ada chat sama sekali dari dia yang meminta gue untuk menjemputnya. Apalagi meminta ijin atau memberi kabar kalo dia pulang malam. Nothing.

“Mungkin dia nanti ngabarin gue pas minta dijemput kali…” Gue membuka laptop gue untuk mencoba mengerjakan tesis gue lebih dulu. “Siapa tau di rumah ini, gue ada inspirasi.”

---

Satu hingga tiga jam menunggu. Emi tidak kunjung pulang. Kini jam sudah hampir menunjukkan pukul 23.00 malam. Biasanya, Emi hanya pulang di atas jam segini kalo sama gue. Tidak pernah benar-benar pulang seorang diri. Dia bisa kehabisan angkutan umum. Dan rasa-rasanya cukup membahayakan bila naik ojek online atau taxi online seorang diri semalam itu.

“Masih nggak ada kabar juga ya dari dia?” tanya gue sembari memeriksa HP gue.

Bolak balik gue aktif dan non-aktifkan HP gue. Memastikan bukan HP gue yang tidak bisa menerima chat dia. Tetapi murni, memang Emi yang tidak memberi kabar dari gue. Mengapa? Karena chat dari Diani masih terus masuk dimana dia masih (sok) menanyakan pekerjaan di luar jam kerja. Demi kemasalahatan hubungan dengan Emi, gue tidak menggubris chat dia tersebut. Emi bisa sampai di rumah kapan saja. What if, dia ngeliat chat Diani (lagi)? Bisa-bisa ngambeknya nggak udah-udah nanti.

“Apa gue balik aja ya? Kesini lagi besok mulai dari sore?” gumam gue seorang diri sembari melihat langit malam itu. “Mendung. Mumpung belum hujan lagi, mending gue balik aja sekarang.” Tetapi ketika gue akan mengeluarkan motor gue. “Hmm. Emi nanti pulangnya naik apa? Kalo udah malem begini, keujanan nggak dia misalnya naik ojek online? Apa nggak mending gue standby di sini siap-siap jemput dia naik mobil? Tapi gimana gue tau kapan mesti jemput dia kalo dia sama sekali nggak ngabarin gue?”

“KAN LO BISA NGEHUBUNGI DIA, JA!”

Iya paham. Tapi gue nggak mau dia ngehindar dari gue atau berusaha nutupi ini itu dari gue. Gue pingin sergap dia dan bikin dia marah langsung ke gue, bisa gue tau apa yang dia rasain. Biar gue juga bisa jujur sama dia. Biar kita berdua bisa sadar dan yakin, kalo kita itu saling membutuhkan satu sama lainnya.

“Gue balik aja lah. Entar keburu ujan.”

---

Mungkin bukan hal yang bijak untuk pulang jam segitu. Emi selalu mengingatkan gue mengenai jam biologis tubuh. Jam biologis adalah mekanisme jadwal kerja seluruh organ tubuh yang berjalan secara otomatis. Jam biologis tubuh manusia bekerja 24 jam untuk memberi sinyal kepada tubuh kita kapan tubuh harus beristirahat, kapan tubuh harus terjaga, kapan tubuh membutuhkan makanan, dan proses fisiologis lainnya.
(Sumber)

Kadang Emi melarang gue untuk pulang jam segini. Biasanya dia akan mengingatkan pulang sekitar pukul 22.00. Dia akan membiarkan gue untuk tidur terlebih dahulu jika gue akan berencana pulang pukul 23.00 atau lebih. Karena biasanya pada waktu ini, perubahan hormon pada tubuh mengirimkan sinyal pada otak bahwa sudah saatnya tidur dan beristirahat. Hormon melatonin akan diproduksi semakin banyak sehingga kita akan merasa lebih lelah dan mengantuk. (Sumber)

Awalnya perjalanan gue berjalan seperti biasa. Gue masih bisa fokus mengendarai kuda besi gue. Hanya saja, cuaca yang dingin pasca hujan deras sebelumnya membuat angin semilir lumayan menusuk kulit gue. Sisanya? Tidak ada masalah sama sekali, alhamdulillah.

Sampai akhirnya, kurang lebih sekitar satu kilometer sebelum sampai di rumah, kejadian yang tidak gue inginkan pun terjadi. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba gue merasakan kantuk yang luar biasa sehingga tanpa gue sadari kalo gue ternyata menurunkan gas motor gue dan kemudian gue mengarahkan kemudi motor gue ke arah pinggir jalan!

Voila! Gue menabrak objek di pinggir jalan yang tidak ketahuan apa, tapi sepertinya beton pagar yang rusak.

Kejadian tersebut, terjadi sangat cepat! Ketika gue tersadar, badan gue telah tersungkur ke aspal. Untungnya gue memakai helm full face. Karena jika tidak, dagu gue sudah pasti jadi korban.

Kala itu sepi sekali jalanan dan tidak banyak orang di sekitar tempat gue jatuh. Jadinya gue bangun dan mengembalikan posisi motor seperti semula entah bagian mana lagi yang luka selain telapak tangan kiri gue. Tetapi gue merasakan rasa sakit yang luar biasa di tulang kering kaki kiri gue.

Gue sempat mengkhawatirkan kondisi laptop gue yang mana masih menggunakan HDD sebagai penyimpanannya. Mungkin kalau laptop gue sudah menggunakan SSD M2 NVMe misalnya, seperti teknologi saat ini, gue tidak akan terlalu khawatir. Sekarang gue hanya berharap bodi laptop gue cukup bisa melindungi isi laptop dengan baik.

Tidak lama, orang-orang yang ada di sekitar berinisiatif membantu gue dan memeriksa kondisi gue. Tidak jauh dari lokasi kejadian ada warteg yang masih buka. Mereka menawarkan gue untuk beristirahat sejenak sembari mengobati luka gue.

“Nggak apa-apa, Mas. Cuma lecet tangan aja ini tadi kesungkur kena aspal.” kata gue sembari menunjukkan lecet di telapak tangan kiri gue yang menahan badan sebelumnya.

“Sini minum teh anget dulu, Mas. Biar nggak ngantuk lagi. Bahaya nyetir jam segini, Mas. Rumahnya masih jauh?” tanya salah satu anak muda yang motornya gue tabrak.

“Oh nggak kok, Mas. Deket.” jawab gue sembari memeriksa kondisi motor gue. Gue lihat sekeliling gue, banyak orang yang sampai sengaja menghentikan kendaraan mereka untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Biasa, kepo intinya mah, membantu merupakan urusan belakangan bagi mereka.

“Mas motornya nggak kenapa-napa?” tanya salah satu dari mereka yang kini tengah mengerubungi gue.

“InsyaAllah nggak kenapa-napa, Pak. Ini masih bisa nyala motornya. Tadi nabrak beton pinggir situ.” Gue menunjuk beton pagar yang gue maksud. “Untungnya saya udah nggak ngegas lagi. Jadinya nubruknya nggak kenceng.”

“Paling…” Salah satu anak muda yang tadinya duduk di pinggir jalan mendekati bagian depan motor gue. “Sayap Mas aja nih jadinya lecet. Sama jalu bagian belakang rusak. Kayaknya kena aspal tadi.”

Gue memeriksa bodi motor yang dimaksud dia. “Ah iya nggak apa-apa.”

“Saya anterin aja deh, Mas. Minimal mastiin Mas sampe rumah dulu. Kalo deket mah nggak apa-apa. Saya anterin bareng temen-temen saya kalo nggak.” Dia menunjuk beberapa teman dia yang sedang nongkrong juga.

“Nggak apa-apa, Mas. Bener kok. Saya udah bisa lanjut sendiri. Malah sekarang udah seger banget ini.” Gue bukannya mau berburuk sangka dengan mereka. Gue menolak tawaran mereka murni tidak ingin merepotkan. Lagipula, perjalanan ke rumah gue pun cukup ramai dan dekat. InsyaAllah gue bisa kembali fokus. Entah kenapa, rasa nyeri di kaki kiri gue ini cukup membuat gue terjaga. Nanti gue periksa sesampainya di rumah saja.

“Bener toh, Mas? Nggak ngopi dulu biar seger? Ndak usah bayar. Biar Mas seger aja. Sekalian tak obati itu luka di telapak tangannya.” Tanya ibu-ibu warteg yang ikutan kepo.

“Makasih banyak, Bu. Saya langsung aja.” Mumpung gue udah seger lagi. Takutnya nanti gue istirahat dulu, malah keburu ngantuk lagi gue. “Semoga satu kilometer kedepan nggak ada kejadian apapun lagi.” Kata gue dalam hati.

---

Sesampainya di rumah. Gue menyimpan barang-barang gue sesuai tempatnya sebelum gue memeriksa kondisi kaki kiri gue yang rasa sakitnya semakin tidak tertahankan. Gue abaikan motor gue. Motor gue masih bisa nyala tanpa hambatan, kemungkinan besar hanya lecet.

“Ah dalem banget!”

Ketika gue membuka celana panjang gue, barulah terlihat kalo kaki kiri gue tidak hanya lecet atau luka kecil. Tetapi kaki kiri nyaris bolong dan hampir memperlihatkan tulang kering gue! Gue nggak bisa mendeskripsikan bagaimana kondisi kaki kiri gue dengan baik. Pokoknya di sana terlihat darah yang mulai mengalir ke punggung kaki hingga telapak kaki gue! Kalo gue masih punya fotonya, it’s gonna be some disturbing pictures for sure!

“Pantesan aja sakit banget!”

Gue segera membersihkan luka-luka gue dengan alkohol seperti di film-film action yang ternyata metode seperti itu sakitnya minta ampun, tapi kemudian cepat pula hilangnya. Sebenarnya gue bisa saja berangkat ke Dokter 24 Jam yang ada di ruko depan komplek rumah. Tapi badan gue sudah cukup lemas untuk pergi kesana. Jadi mungkin, gue akan pergi kesana nanti pagi.

Anehnya, celana panjang gue tidak bolong sama sekali. Kemeja dan jaket yang gue pakai pun sama. Hanya ada noda kotor di beberapa bagian. Sisanya tidak ada bolong. Tapi mengapa gue bisa sampai luka sedalam ini dan lecet sana sini ya?

Saat itu sudah hampir pukul 02.00 pagi. Gue bisa saja membangunkan Mama untuk membantu mengobati luka gue. Atau gue menghubungi Emi yang gue yakin sudah sampai di rumah. Tetapi gue tidak tega, mereka akan bangun dan memulai aktivitas mereka ketika Subuh berkumandang. “I can take care o' myself.” Kemudian gue tertidur di peraduan.
Diubah oleh yanagi92055 16-06-2021 16:05
hayuus
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.