- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#350
Kabar Kampus_Part 2
Diani masih terus saja menghubungi gue. Terutama di jam kerja. Kadang dia mencoba menarik perhatian gue dengan menanyakan perihal pekerjaan, kadang dia hanya sekedar menanyakan kabar gue. Sesekali gue menanggapi dia. Tetapi ketika bahasan dia mulai masuk ke ranah perasaan, gue kembali tidak menanggapinya karena dari awal memang gue sudah bilang pada diri sendiri kalau gue harus menjaga jarak dengan dia, istri teman gue sendiri.
Memang gue akui, gue sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman-teman gue semasa kuliah dulu. Kecuali teman satu angkatan dan satu jurusan dengan gue yang masih terjaga komunikasinya via WhatsApp Grup.
Tetapi apa kabar teman-teman gue yang berada di jurusan lain atau angkatan lain? Mungkin banyak diantara mereka sudah kembali ke kampung halaman masing-masing atau mungkin pindah kewarganegaraan? Entahlah. Gue sudah benar-benar lost contact. Kabar mantan-mantan pacar gue saja tidak pernah gue update, apalagi teman-teman gue?
Berbeda dengan teman-teman SMA gue. Terutama Arko dan Drian ya. Kami masih terus berkomunikasi. Jelas. Arko dan Drian masih satu band dengan gue. Walaupun semenjak banyak drama di hubungan gue dan Emi, band kami hiatus. Tapi komunikasi gue, Arko dan Drian terus terjaga. Apalagi ketika kami membahas pertandingan klub bola favorit kami masing-masing.
Dret. Dret. Dret.
Awalnya gue malas melihat HP gue. “Bukan notif dari Emi… Paling Diani lagi.” Gumam gue. “Diani ini nggak ada putus asanya mencoba menghubungi gue. Tapi kenapa? Apa karena dia sudah mulai bosan dengan hubungan pernikahan dia dengan Dani? Eh tapi, kalo dia sudah bosan terus kenapa malah lari ke gue? Kenapa nggak dicoba selesein sendiri lah! Jangan nyeret gue ke hubungan pernikahan dia lah! Sinting kali!”
Tapi karena gue penasaran, gue pun membuka HP gue. Ternyata gue salah.
(ADITYO CHAT)
Gue simpan HP gue di meja kerja gue. “Gue udah suudzon aje sama Diani.”
Tyo merupakan teman gue sedari kami belum mencicipi bangku sekolah. Kami sudah bertetangga sejak tahun awal 90-an. Hubungan kami tidak hanya sekedar teman main sedari kecil, tetapi bisa dibilang ‘sudah seperti keluarga sendiri’. Tapi kalo keluarga sendiri, kenapa gue bisa tidak tahu kalo dia sedang mempersiapkan pernikahan dia ya?
Gue memang tidak sedekat itu dengan Tyo semenjak kami duduk di bangku SMA. Beda sekolah, beda pertemanan. Mungkin itu yang membuat kami jadi tidak sedekat ketika kami kecil dulu. Tetapi gue selalu tau kalau Tyo punya band juga yang bergenre metalcore, bahkan sampai sekarang dia bergabung dengan band gue. Ya sesuai dengan teori yang gue pegang, ‘Makin gede juga entar malah kayak orang nggak kenal, walaupun kecilnya akrab banget’.
Pada satu sisi akhirnya gue berpikir, teman-teman satu persatu akan menikah, sementara gue masih disibukkan dengan keadaan yang pelik yang sebetulnya tidak perlu ada ini. Mana sudah masuk awal tahun pula. Urusan resepsi ini benar-benar membuat gue pusing tujuh keliling dan lama-lama membuat muak juga. Seharusnya gue dan Emi sudah mulai mengurus hal lain yang lebih penting. Bukan malah sibuk mikirin mesti-cari-uang-kemana-lagi dan berujung Emi jadi baperan. Efeknya? Merembet kemana-mana. Kami sampai harus bolak balik bertengkar seperti ini.
Lama-lama gue lelah.
---
“Baik… Sudah selesai cek lapangannya, Pak.” Ucap gue sembari mengeluarkan secarik kertas berisi Berita Acara Inspeksi dari kantor gue untuk ditandatangani oleh klien gue hari itu. “Silakan tanda tangan di sini, Pak. Sebagai bukti kalo saya sudah selesai melaksanakan surveynya.”
Beliau pun membubuhkan tanda tangan pada kertas yang gue maksud. “Siap. Sudah semuanya berarti ya, Pak.” ujar beliau.
“Sudah, Pak. Saya mau pamit pulang dulu.”
Beliau segera merangkul gue. “Langsung pulang ke kantor atau ada lokasi lain lagi, Pak?” Agak awkwardsih dengan klien yang sok akrab seperti ini. Tapi apa boleh buat? Tidak sopan kalo gue menghindar dari beliau.
“Saya balik lagi ke kantor biasanya, Pak. Melanjutkan pekerjaan saya yang lain…” Bohong. Hahaha. Kalo sudah jam 3 begini, buat apa gue balik ke kantor? Perjalanan dari Karawang ke Jakarta Selatan aja sudah habisin waktu 2-3 jam perjalanan. Masa iya gue masih mau balik ke kantor? Gue bukan orang yang suka kerja keras bagai kuda, karena mengumpulkan banyak penyakit pastinya. Hahaha.
“Keren banget Bapak Firzy ini ya.” Beliau melepas rangkulannya dan menggenggam tangan gue. Wait! Jangan berpikir kotor dulu! Beliau bukan tipikal bapak-bapak yang doyan daun muda. Beliau… Mau melakukan hal lebih kotor dari itu. Beliau mau memberikan gue salam tempel. Dua gepok uang Rp100.000,- berjumlah 10 lembar masing-masing, yang tidak dibungkus apapun.
Ya Tuhan. Cobaan apa lagi ini? Tidak hanya cobaan hati dari cewek-cewek itu, keluarga gue, dan Emi. Tetapi kini gue mendapat cobaan lainnya dari sini? Pekerjaan gue? Kenapa harus sekarang ketika gue memang sedang membutuhkan uang untuk pernikahan gue?
“Terima saja, Pak. Anggap saja ini hadiah dari saya.”
“Pekerjaan saya aja baru dimulai, Pak. Masa udah dikasih hadiah seperti ini?”
“Ya biar Bapak bisa lebih semangat kerjanya.” Dia memaksa gue untuk menerima uang tersebut sembari kembali merangkul gue.
Memang, ini bukan kali pertama gue ditawarkan uang dari klien ketika gue datang untuk melakukan pengecekan lapang di lokasi. Kalo memang hadiah, kenapa tidak mereka berikan ketika pekerjaan gue sudah selesai? Kenapa mereka harus memberikan pada gue ketika gue baru saja memulai pekerjaan gue? Apalagi ini kalo bukan sogokan untuk gue? Sogokan agar gue mempermudah urusan mereka. Agar mereka bisa mengontrol gue dengan alibi ‘Kan sudah diberikan hadiah, masa nggak mau nolongin?’.
Nope. Gue tidak bisa disogok seperti ini. Gue tidak pernah dididik untuk menerima uang seperti ini. Dulu, almarhum Papa tidak pernah bosan mengingatkan gue tentang hal seperti ini. Beliau tidak ingin kami, keluarga beliau, memakan uang yang tidak berkah. Beliau selalu bilang, kalau sudah sekali terima yang seperti ini, selanjutnya bukan hanya mengharapkan, tapi bisa langsung meminta. Ini sangat membahayakan, tidak hanya diri sendiri, tapi reputasi kantor yang akan berimbas pada blacklist yang di alamatkan untuk kantor. Hal ini akan menjadikan kantor tidak mendapatkan banyak pekerjaan. Kalau sudah begitu, berapa banyak kepala yang akan kelaparan karena tidak ada penghasilan? Bekerja di bidang jasa memang seberat itu tantangannya.
“Tapi kan lo lagi butuh uang, Ja! Nggak banyak ini. Lumayan buat nambah-nambahin duit lo!”
Gue tau, gue lagi sangat butuh uang. Bahkan setiap hari gue bangun tidur dengan kekhawatiran karena terus menunggu kabar baik dari bank dimana gue mengajukan refinancing mobil gue. Tapi tidak seperti ini. Gue tidak mau mendapatkan uang tambahan dengan cara seperti ini. Gue yakin…masih ada cara lain lagi buat gue bisa mendapatkan uang. Gue yakin.
“Mohon maaf, Pak. Bukan bermaksud tidak sopan atau bagaimana. Tapi saya harus menolak pemberian Bapak ini karena saya tidak bisa dan tidak membiasakan diri menerima hadiah/pemberian dalam bentuk apapun ketika pekerjaan saya sedang berjalan atau bahkan sebelum pekerjaan saya dimulai. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik tidak saya terima. Mohon maaf sekali lagi, Pak.”
Beliau auto melepas rangkulannya dari pundak gue. Beliau segera menyimpan uang tersebut kembali ke saku celana beliau yang gue pastikan cukup dalam hingga bisa menyimpan uang sebanyak itu. “Ah tidak apa-apa, Pak Firzy. Saya… Saya jadi yang tidak enak hati sama Pak Firzy. Saya benar-benar cuma mau kasih hadiah loh untuk Pak Firzy. Saya tidak berniat menyogok bapak. Hehehe.”
“Tidak apa-apa, Pak. Walaupun hadiah, lebih baik tidak saya terima dulu ya, Pak. Demi menjaga profesionalitas saya dengan Bapak juga.”
“Baik kalo begitu, Pak. Terima kasih banyak atas waktunya.” Beliau kembali mengulurkan tangannya untuk kembali bersalaman dengan gue. Tapi kali ini dengan tangan kosong.
“Terima kasih banyak juga, Pak. Saya pamit dulu…” Kami berjalan beriringan keluar dari ruangan beliau menuju pintu keluar kantor mereka.
“Hati-hati di jalan, Pak.” Adalah kalimat perpisahan beliau sebelum akhirnya beliau menutup pintu kantornya terlebih dahulu.
Gue segera menggunakan jaket dan helm gue. Iya, gue memang selalu menggunakan motor gue untuk bekerja, terutama ketika gue harus survey ke lapang seperti ini. Lebih simpel, efisien, dan efektif. “InsyaAllah, ini keputusan terbaik…” gumam gue sembari memacu kuda besi gue untuk pulang ke rumah. It’s been a long day.
---
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Kak.” Mama ternyata sedang duduk di ruang tamu. Tidak seperti biasanya.
“Tumben jam segini udah pulang, Kak?”
“Tadi habis survey. Nanggung mau pulang ke kantor. Mending langsung pulang.” Kata gue sembari melepas jaket dan segala peralatan pendukung keselamatan gue.
“Inget. Kamu mau nikah. Harusnya ya kamu sadar, kerjanya makin bener. Biar bisa diangkat jadi pegawai tetap.” ujar Mama yang tetap fokus pada layar HP beliau. Sama sekali tidak menoleh pada gue.
“Ija pulang kerja loh, Ma. Bukan dari main. Salah dimana Ija sampe dikata kerja nggak bener?”
“Emang Mama bilang kerja nggak bener? Mama bilang biar KERJANYA MAKIN BENER. Mama ingetin kamu. Salah dimana sih Mama?”
“Mama ngomong kayak begitu tuh seakan bilang kalo Ija nggak bener kerjanya.”
“Ya kalo kerjanya bener, harusnya nggak ada namanya nanggung nggak lanjut ke kantor. Noh liat Dania aja berangkat lebih pagi dari kamu, sekarang masih di kantor. Masa kamu udah sampe di rumah aja?”
“Ija main terus pulang malem, dibilang salah. Ija kerja tapi pulangnya malem, dibilang salah juga. Sekarang Ija kerja terus pulang lebih cepet, dibilang salah lagi? Terus Mama maunya apa? Ini kenapa sih jadi mendadak ngurusin kerjaan Ija lagi?”
“Ya Mama perhatiin kamu aja. Kerja berangkatnya siang, eh pulangnya cepet. Kasian Dania yang kerjanya pagi, pulangnya bisa sampe malem begitu.”
“Emang Mama yakin, Dania pulang malem itu bener-bener ngerjain kerjaan kantor?” Emosi gue mulai beranjak naik. Gue benci dibanding-bandingkan seperti ini.
“Kamu nuduh Dania kerja nggak bener???” Mama terlihat sangat marah ketika gue membahas hal ini tentang Dania, anak favorit Mama.
“Terus menurut Mama dan Dania, Ija yang kerjanya nggak bener?”
Mama kembali fokus pada HP beliau. “Kamu muter-muter doang ngomongnya, Kak.”
“Ini Mama kenapa sih? Lagi nyari kesalahan apa lagi? Atau Ija punya salah apa lagi?”
“Nggak kok, Mama nggak lagi nyari kesalahan. Mama lagi ribet ngatur jadwal aja.”
Oh, I see. Gue tau kenapa Mama mendadak kayak begini. “Ini pasti karena Minggu kemarin ini kita nggak jadi ke Bandung kan?”
“………” Mama diam, tidak menggubris pertanyaan gue. Pertanda, tebakan gue 100% benar. Diam adalah iya bagi beliau dan Dania.
“Emang Mama sama Dania udah ngomong sama Emi? Bukannya nggak ya? Salah nggak kalo kemaren nggak jadi pergi? Mama sama Dania aja nggak ada ngomong apa-apa sama Emi?”
“Kamu masa nggak ada inisiatif sama sekali sih, Kak? Kasian tuh Dania jadi ribet mesti reschedule jadwal dia. Kasian dia banyak yang diurus.” 1.000% benar! Gue udah sejago Emi untuk urusan tebak-tebakan begini.
“Banyak yang diurus??? Terus menurut Mama— Ah, udahlah! Ija cape kerja. Ija mau istirahat!” kata gue sembari membanting pintu kamar gue.
Mama mungkin tidak pernah gue beritahu perihal penawaran menjadi karyawan tetap yang sudah beberapa kali gue terima dari Pak Yudi, tapi gue tolak. Juga, pekerjaan gue sebagai freelance tidak mengharuskan gue terus berada di kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Gue bisa berada di kantor sampai tengah malam, tidak jarang juga gue menginap di kantor. Tetapi itu semua tidak dilihat karena menurut Mama mungkin kalau bekerja itu yang dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.
Pada saat itu pulalah datang sebuah e-mail yang sebenarnya tidak pernah gue harapkan sebelumnya. e-mail resmi dari kampus tercinta gue.
AKADEMIK PASCASARJANA
Lengkap sudah penderitaan gue sekarang. Di kala gue mengesampingkan urusan tesis gue yang sebenarnya gue bisa selesaikan segera, gue malah terkena denda akademik karena belum menyelesaikan studi gue setelah dua tahun gue berkuliah di kampus ini.
Aturannya dari awal memang seperti ini dikampus gue. Apabila lewat dari jangka waktu dua tahun, maka akan berlaku denda akademik yang mewajibkan mahasiswa pascasarjana untuk membayar denda sesuai dengan nominal yang telah di tetapkan sebelumnya. Semangatnya adalah agar para mahasiswa pasca bisa menyelesaikan studinya tepat waktu, mengingat kebanyakan mahasiswa pasca disini adalah orang-orang yang bekerja. Sampai tenggat yang ditentukan oleh universitas sebelum menentukan DO, total denda yang bisa dikenakan ke mahasiswa bisa mencapai Rp22.000.000,-. Sebuah nominal yang besar untuk gue tentunya. Terutama untuk saat ini.
Kelas gue sendiri merupakan kelas executive yang memang ditujukan untuk mereka yang masih ingin melanjutkan S2, namun ingin tetap bekerja seperti biasa. Banyak yang menyebut juga dengan ‘kelas karyawan’. Tetapi, ada juga yang masuk di kelas gue tanpa bekerja terlebih dulu. Mereka yang pada dasarnya adalah anak-anak orang kaya pastinya. Mengapa gue bisa mengatakan demikian? Karena mereka tetap memilih kelas executive dibandingkan kelas reguler, yang notabene 20 juta lebih mahal.
Ketika menerima e-mail tersebut, gue segera menghubungi beberapa teman gue. Apakah mereka ada yang menerima e-mail yang sama atau hanya gue? Hebatnya, kebanyakan dari teman-teman sekelas gue bernasib sama dengan gue, terkena denda. Tidak ada yang tidak kena yang artinya, tidak ada yang tidak mendapatkan e-mail tersebut.
Untuk Peringatan Pertama ini, tidak ada yang lolos dari denda. Itu yang membuat WhatsApp Grup kelas gue menjadi ramai kembali. Semua teman gue mendadak jadi semangat lagi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan mulai fokus kembali. Sementara gue tidak semangat sama sekali. Apalagi ketika hubungan gue dengan Emi benar-benar sedang tidak baik.
“Gue bisa apa tanpa dia? Bagaimana gue bisa menyelesaikan tesis gue tanpa dia?”
Untuk menyelesaikan tesis ini, gue sangat butuh Emi. Sebenarnya mungkin gue bisa menyelesaikannya sendiri karena memang ini adalah penelitian gue. Tetapi, Emi berperan besar merancang tesis gue yang sangat komprehensif ini. Tingkat kesulitan tesis gue bisa dibilang lebih tinggi dibanding dengan tesis-tesis teman-teman yang lain, kata dosen di akademik.
Kalau ternyata keadaannya seperti ini, alangkah lebih baik kalau gue membuat tesis yang lebih mudah dan simpel bukan? Tetapi gue dan Emi enggan berpikir demikian. Sebuah penelitian itu harus memberikan dampak nyata, terutama bagi lokasi yang dituju sebagai tempat penelitian. Konsep dasarnya, kenapa harus ada penelitian? Ya karena disana ada yang salah dan harus diperbaiki. Hasil penelitian itulah yang bisa menjadi alternatif solusi dalam mengembangkan atau menyudahi permasalahan yang terjadi.
Sekarang keadaannya seperti tidak memihak kepada gue. Kondisi keuangan yang tidak kunjung membaik, tesis yang belum selesai sementara deadline penyelesaian dengan denda berupa uang yang menghantui, ditambah hubungan gue dengan Emi pun semakin tidak jelas.
Tik tok tik tok.
Waktu terus berjalan. Denda terus bertambah. Tesis tak kunjung usai. Persiapan pernikahan gue belum dipersiapkan dengan baik. Kini gue harus memilih, apakah gue akan mulai konsentrasi pada tesis gue yang berarti mengesampingkan urusan pernikahan dan mengurangi job pekerjaan gue, atau sebaliknya?
Gue sangat butuh Emi.
Memang gue akui, gue sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman-teman gue semasa kuliah dulu. Kecuali teman satu angkatan dan satu jurusan dengan gue yang masih terjaga komunikasinya via WhatsApp Grup.
Tetapi apa kabar teman-teman gue yang berada di jurusan lain atau angkatan lain? Mungkin banyak diantara mereka sudah kembali ke kampung halaman masing-masing atau mungkin pindah kewarganegaraan? Entahlah. Gue sudah benar-benar lost contact. Kabar mantan-mantan pacar gue saja tidak pernah gue update, apalagi teman-teman gue?
Berbeda dengan teman-teman SMA gue. Terutama Arko dan Drian ya. Kami masih terus berkomunikasi. Jelas. Arko dan Drian masih satu band dengan gue. Walaupun semenjak banyak drama di hubungan gue dan Emi, band kami hiatus. Tapi komunikasi gue, Arko dan Drian terus terjaga. Apalagi ketika kami membahas pertandingan klub bola favorit kami masing-masing.
Dret. Dret. Dret.
Awalnya gue malas melihat HP gue. “Bukan notif dari Emi… Paling Diani lagi.” Gumam gue. “Diani ini nggak ada putus asanya mencoba menghubungi gue. Tapi kenapa? Apa karena dia sudah mulai bosan dengan hubungan pernikahan dia dengan Dani? Eh tapi, kalo dia sudah bosan terus kenapa malah lari ke gue? Kenapa nggak dicoba selesein sendiri lah! Jangan nyeret gue ke hubungan pernikahan dia lah! Sinting kali!”
Tapi karena gue penasaran, gue pun membuka HP gue. Ternyata gue salah.
(ADITYO CHAT)
Quote:
Gue simpan HP gue di meja kerja gue. “Gue udah suudzon aje sama Diani.”
Tyo merupakan teman gue sedari kami belum mencicipi bangku sekolah. Kami sudah bertetangga sejak tahun awal 90-an. Hubungan kami tidak hanya sekedar teman main sedari kecil, tetapi bisa dibilang ‘sudah seperti keluarga sendiri’. Tapi kalo keluarga sendiri, kenapa gue bisa tidak tahu kalo dia sedang mempersiapkan pernikahan dia ya?
Gue memang tidak sedekat itu dengan Tyo semenjak kami duduk di bangku SMA. Beda sekolah, beda pertemanan. Mungkin itu yang membuat kami jadi tidak sedekat ketika kami kecil dulu. Tetapi gue selalu tau kalau Tyo punya band juga yang bergenre metalcore, bahkan sampai sekarang dia bergabung dengan band gue. Ya sesuai dengan teori yang gue pegang, ‘Makin gede juga entar malah kayak orang nggak kenal, walaupun kecilnya akrab banget’.
Pada satu sisi akhirnya gue berpikir, teman-teman satu persatu akan menikah, sementara gue masih disibukkan dengan keadaan yang pelik yang sebetulnya tidak perlu ada ini. Mana sudah masuk awal tahun pula. Urusan resepsi ini benar-benar membuat gue pusing tujuh keliling dan lama-lama membuat muak juga. Seharusnya gue dan Emi sudah mulai mengurus hal lain yang lebih penting. Bukan malah sibuk mikirin mesti-cari-uang-kemana-lagi dan berujung Emi jadi baperan. Efeknya? Merembet kemana-mana. Kami sampai harus bolak balik bertengkar seperti ini.
Lama-lama gue lelah.
---
“Baik… Sudah selesai cek lapangannya, Pak.” Ucap gue sembari mengeluarkan secarik kertas berisi Berita Acara Inspeksi dari kantor gue untuk ditandatangani oleh klien gue hari itu. “Silakan tanda tangan di sini, Pak. Sebagai bukti kalo saya sudah selesai melaksanakan surveynya.”
Beliau pun membubuhkan tanda tangan pada kertas yang gue maksud. “Siap. Sudah semuanya berarti ya, Pak.” ujar beliau.
“Sudah, Pak. Saya mau pamit pulang dulu.”
Beliau segera merangkul gue. “Langsung pulang ke kantor atau ada lokasi lain lagi, Pak?” Agak awkwardsih dengan klien yang sok akrab seperti ini. Tapi apa boleh buat? Tidak sopan kalo gue menghindar dari beliau.
“Saya balik lagi ke kantor biasanya, Pak. Melanjutkan pekerjaan saya yang lain…” Bohong. Hahaha. Kalo sudah jam 3 begini, buat apa gue balik ke kantor? Perjalanan dari Karawang ke Jakarta Selatan aja sudah habisin waktu 2-3 jam perjalanan. Masa iya gue masih mau balik ke kantor? Gue bukan orang yang suka kerja keras bagai kuda, karena mengumpulkan banyak penyakit pastinya. Hahaha.
“Keren banget Bapak Firzy ini ya.” Beliau melepas rangkulannya dan menggenggam tangan gue. Wait! Jangan berpikir kotor dulu! Beliau bukan tipikal bapak-bapak yang doyan daun muda. Beliau… Mau melakukan hal lebih kotor dari itu. Beliau mau memberikan gue salam tempel. Dua gepok uang Rp100.000,- berjumlah 10 lembar masing-masing, yang tidak dibungkus apapun.
Ya Tuhan. Cobaan apa lagi ini? Tidak hanya cobaan hati dari cewek-cewek itu, keluarga gue, dan Emi. Tetapi kini gue mendapat cobaan lainnya dari sini? Pekerjaan gue? Kenapa harus sekarang ketika gue memang sedang membutuhkan uang untuk pernikahan gue?
“Terima saja, Pak. Anggap saja ini hadiah dari saya.”
“Pekerjaan saya aja baru dimulai, Pak. Masa udah dikasih hadiah seperti ini?”
“Ya biar Bapak bisa lebih semangat kerjanya.” Dia memaksa gue untuk menerima uang tersebut sembari kembali merangkul gue.
Memang, ini bukan kali pertama gue ditawarkan uang dari klien ketika gue datang untuk melakukan pengecekan lapang di lokasi. Kalo memang hadiah, kenapa tidak mereka berikan ketika pekerjaan gue sudah selesai? Kenapa mereka harus memberikan pada gue ketika gue baru saja memulai pekerjaan gue? Apalagi ini kalo bukan sogokan untuk gue? Sogokan agar gue mempermudah urusan mereka. Agar mereka bisa mengontrol gue dengan alibi ‘Kan sudah diberikan hadiah, masa nggak mau nolongin?’.
Nope. Gue tidak bisa disogok seperti ini. Gue tidak pernah dididik untuk menerima uang seperti ini. Dulu, almarhum Papa tidak pernah bosan mengingatkan gue tentang hal seperti ini. Beliau tidak ingin kami, keluarga beliau, memakan uang yang tidak berkah. Beliau selalu bilang, kalau sudah sekali terima yang seperti ini, selanjutnya bukan hanya mengharapkan, tapi bisa langsung meminta. Ini sangat membahayakan, tidak hanya diri sendiri, tapi reputasi kantor yang akan berimbas pada blacklist yang di alamatkan untuk kantor. Hal ini akan menjadikan kantor tidak mendapatkan banyak pekerjaan. Kalau sudah begitu, berapa banyak kepala yang akan kelaparan karena tidak ada penghasilan? Bekerja di bidang jasa memang seberat itu tantangannya.
“Tapi kan lo lagi butuh uang, Ja! Nggak banyak ini. Lumayan buat nambah-nambahin duit lo!”
Gue tau, gue lagi sangat butuh uang. Bahkan setiap hari gue bangun tidur dengan kekhawatiran karena terus menunggu kabar baik dari bank dimana gue mengajukan refinancing mobil gue. Tapi tidak seperti ini. Gue tidak mau mendapatkan uang tambahan dengan cara seperti ini. Gue yakin…masih ada cara lain lagi buat gue bisa mendapatkan uang. Gue yakin.
“Mohon maaf, Pak. Bukan bermaksud tidak sopan atau bagaimana. Tapi saya harus menolak pemberian Bapak ini karena saya tidak bisa dan tidak membiasakan diri menerima hadiah/pemberian dalam bentuk apapun ketika pekerjaan saya sedang berjalan atau bahkan sebelum pekerjaan saya dimulai. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik tidak saya terima. Mohon maaf sekali lagi, Pak.”
Beliau auto melepas rangkulannya dari pundak gue. Beliau segera menyimpan uang tersebut kembali ke saku celana beliau yang gue pastikan cukup dalam hingga bisa menyimpan uang sebanyak itu. “Ah tidak apa-apa, Pak Firzy. Saya… Saya jadi yang tidak enak hati sama Pak Firzy. Saya benar-benar cuma mau kasih hadiah loh untuk Pak Firzy. Saya tidak berniat menyogok bapak. Hehehe.”
“Tidak apa-apa, Pak. Walaupun hadiah, lebih baik tidak saya terima dulu ya, Pak. Demi menjaga profesionalitas saya dengan Bapak juga.”
“Baik kalo begitu, Pak. Terima kasih banyak atas waktunya.” Beliau kembali mengulurkan tangannya untuk kembali bersalaman dengan gue. Tapi kali ini dengan tangan kosong.
“Terima kasih banyak juga, Pak. Saya pamit dulu…” Kami berjalan beriringan keluar dari ruangan beliau menuju pintu keluar kantor mereka.
“Hati-hati di jalan, Pak.” Adalah kalimat perpisahan beliau sebelum akhirnya beliau menutup pintu kantornya terlebih dahulu.
Gue segera menggunakan jaket dan helm gue. Iya, gue memang selalu menggunakan motor gue untuk bekerja, terutama ketika gue harus survey ke lapang seperti ini. Lebih simpel, efisien, dan efektif. “InsyaAllah, ini keputusan terbaik…” gumam gue sembari memacu kuda besi gue untuk pulang ke rumah. It’s been a long day.
---
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Kak.” Mama ternyata sedang duduk di ruang tamu. Tidak seperti biasanya.
“Tumben jam segini udah pulang, Kak?”
“Tadi habis survey. Nanggung mau pulang ke kantor. Mending langsung pulang.” Kata gue sembari melepas jaket dan segala peralatan pendukung keselamatan gue.
“Inget. Kamu mau nikah. Harusnya ya kamu sadar, kerjanya makin bener. Biar bisa diangkat jadi pegawai tetap.” ujar Mama yang tetap fokus pada layar HP beliau. Sama sekali tidak menoleh pada gue.
“Ija pulang kerja loh, Ma. Bukan dari main. Salah dimana Ija sampe dikata kerja nggak bener?”
“Emang Mama bilang kerja nggak bener? Mama bilang biar KERJANYA MAKIN BENER. Mama ingetin kamu. Salah dimana sih Mama?”
“Mama ngomong kayak begitu tuh seakan bilang kalo Ija nggak bener kerjanya.”
“Ya kalo kerjanya bener, harusnya nggak ada namanya nanggung nggak lanjut ke kantor. Noh liat Dania aja berangkat lebih pagi dari kamu, sekarang masih di kantor. Masa kamu udah sampe di rumah aja?”
“Ija main terus pulang malem, dibilang salah. Ija kerja tapi pulangnya malem, dibilang salah juga. Sekarang Ija kerja terus pulang lebih cepet, dibilang salah lagi? Terus Mama maunya apa? Ini kenapa sih jadi mendadak ngurusin kerjaan Ija lagi?”
“Ya Mama perhatiin kamu aja. Kerja berangkatnya siang, eh pulangnya cepet. Kasian Dania yang kerjanya pagi, pulangnya bisa sampe malem begitu.”
“Emang Mama yakin, Dania pulang malem itu bener-bener ngerjain kerjaan kantor?” Emosi gue mulai beranjak naik. Gue benci dibanding-bandingkan seperti ini.
“Kamu nuduh Dania kerja nggak bener???” Mama terlihat sangat marah ketika gue membahas hal ini tentang Dania, anak favorit Mama.
“Terus menurut Mama dan Dania, Ija yang kerjanya nggak bener?”
Mama kembali fokus pada HP beliau. “Kamu muter-muter doang ngomongnya, Kak.”
“Ini Mama kenapa sih? Lagi nyari kesalahan apa lagi? Atau Ija punya salah apa lagi?”
“Nggak kok, Mama nggak lagi nyari kesalahan. Mama lagi ribet ngatur jadwal aja.”
Oh, I see. Gue tau kenapa Mama mendadak kayak begini. “Ini pasti karena Minggu kemarin ini kita nggak jadi ke Bandung kan?”
“………” Mama diam, tidak menggubris pertanyaan gue. Pertanda, tebakan gue 100% benar. Diam adalah iya bagi beliau dan Dania.
“Emang Mama sama Dania udah ngomong sama Emi? Bukannya nggak ya? Salah nggak kalo kemaren nggak jadi pergi? Mama sama Dania aja nggak ada ngomong apa-apa sama Emi?”
“Kamu masa nggak ada inisiatif sama sekali sih, Kak? Kasian tuh Dania jadi ribet mesti reschedule jadwal dia. Kasian dia banyak yang diurus.” 1.000% benar! Gue udah sejago Emi untuk urusan tebak-tebakan begini.
“Banyak yang diurus??? Terus menurut Mama— Ah, udahlah! Ija cape kerja. Ija mau istirahat!” kata gue sembari membanting pintu kamar gue.
Mama mungkin tidak pernah gue beritahu perihal penawaran menjadi karyawan tetap yang sudah beberapa kali gue terima dari Pak Yudi, tapi gue tolak. Juga, pekerjaan gue sebagai freelance tidak mengharuskan gue terus berada di kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Gue bisa berada di kantor sampai tengah malam, tidak jarang juga gue menginap di kantor. Tetapi itu semua tidak dilihat karena menurut Mama mungkin kalau bekerja itu yang dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.
Pada saat itu pulalah datang sebuah e-mail yang sebenarnya tidak pernah gue harapkan sebelumnya. e-mail resmi dari kampus tercinta gue.
Quote:
AKADEMIK PASCASARJANA
Lengkap sudah penderitaan gue sekarang. Di kala gue mengesampingkan urusan tesis gue yang sebenarnya gue bisa selesaikan segera, gue malah terkena denda akademik karena belum menyelesaikan studi gue setelah dua tahun gue berkuliah di kampus ini.
Aturannya dari awal memang seperti ini dikampus gue. Apabila lewat dari jangka waktu dua tahun, maka akan berlaku denda akademik yang mewajibkan mahasiswa pascasarjana untuk membayar denda sesuai dengan nominal yang telah di tetapkan sebelumnya. Semangatnya adalah agar para mahasiswa pasca bisa menyelesaikan studinya tepat waktu, mengingat kebanyakan mahasiswa pasca disini adalah orang-orang yang bekerja. Sampai tenggat yang ditentukan oleh universitas sebelum menentukan DO, total denda yang bisa dikenakan ke mahasiswa bisa mencapai Rp22.000.000,-. Sebuah nominal yang besar untuk gue tentunya. Terutama untuk saat ini.
Kelas gue sendiri merupakan kelas executive yang memang ditujukan untuk mereka yang masih ingin melanjutkan S2, namun ingin tetap bekerja seperti biasa. Banyak yang menyebut juga dengan ‘kelas karyawan’. Tetapi, ada juga yang masuk di kelas gue tanpa bekerja terlebih dulu. Mereka yang pada dasarnya adalah anak-anak orang kaya pastinya. Mengapa gue bisa mengatakan demikian? Karena mereka tetap memilih kelas executive dibandingkan kelas reguler, yang notabene 20 juta lebih mahal.
Ketika menerima e-mail tersebut, gue segera menghubungi beberapa teman gue. Apakah mereka ada yang menerima e-mail yang sama atau hanya gue? Hebatnya, kebanyakan dari teman-teman sekelas gue bernasib sama dengan gue, terkena denda. Tidak ada yang tidak kena yang artinya, tidak ada yang tidak mendapatkan e-mail tersebut.
Untuk Peringatan Pertama ini, tidak ada yang lolos dari denda. Itu yang membuat WhatsApp Grup kelas gue menjadi ramai kembali. Semua teman gue mendadak jadi semangat lagi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan mulai fokus kembali. Sementara gue tidak semangat sama sekali. Apalagi ketika hubungan gue dengan Emi benar-benar sedang tidak baik.
“Gue bisa apa tanpa dia? Bagaimana gue bisa menyelesaikan tesis gue tanpa dia?”
Untuk menyelesaikan tesis ini, gue sangat butuh Emi. Sebenarnya mungkin gue bisa menyelesaikannya sendiri karena memang ini adalah penelitian gue. Tetapi, Emi berperan besar merancang tesis gue yang sangat komprehensif ini. Tingkat kesulitan tesis gue bisa dibilang lebih tinggi dibanding dengan tesis-tesis teman-teman yang lain, kata dosen di akademik.
Kalau ternyata keadaannya seperti ini, alangkah lebih baik kalau gue membuat tesis yang lebih mudah dan simpel bukan? Tetapi gue dan Emi enggan berpikir demikian. Sebuah penelitian itu harus memberikan dampak nyata, terutama bagi lokasi yang dituju sebagai tempat penelitian. Konsep dasarnya, kenapa harus ada penelitian? Ya karena disana ada yang salah dan harus diperbaiki. Hasil penelitian itulah yang bisa menjadi alternatif solusi dalam mengembangkan atau menyudahi permasalahan yang terjadi.
Sekarang keadaannya seperti tidak memihak kepada gue. Kondisi keuangan yang tidak kunjung membaik, tesis yang belum selesai sementara deadline penyelesaian dengan denda berupa uang yang menghantui, ditambah hubungan gue dengan Emi pun semakin tidak jelas.
Tik tok tik tok.
Waktu terus berjalan. Denda terus bertambah. Tesis tak kunjung usai. Persiapan pernikahan gue belum dipersiapkan dengan baik. Kini gue harus memilih, apakah gue akan mulai konsentrasi pada tesis gue yang berarti mengesampingkan urusan pernikahan dan mengurangi job pekerjaan gue, atau sebaliknya?
Gue sangat butuh Emi.
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
dan bintang 5 
