Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#348
Kabar Kampus_Part 1
Gue sudah berdiri di depan pintu kamar Emi. Gue tidak bisa terus menerus membuang waktu gue hanya untuk pertengkaran yang sangat kekanakan ini. Gue harus terus bergerak. Kalo Emi memilih untuk diam, biar gue yang bergerak duluan.

Sebelum ada masalah lain, di luar dugaan gue. Well, gue berharap tidak ada masalah lain lagi. Masalah yang ada saja sudah cukup menguras lahir dan batin gue.

“Ketok yang lebih kenceng aja, Ji. Emi tidur kali atau nggak denger gara-gara make headset. Kalau nggak ya langsung buka aja pintunya…” kata Papanya Emi. Mungkin beliau risih atau beliau tidak enak hati mengetahui ada tamu yang belum kunjung mendapatkan sambutan di rumahnya. “Bentar deh, Om samperin Emi-nya.” Papa-nya Emi kini sedang menuju tangga untuk menghampiri gue.

“Eh nggak usah, Om. Om mau ke Masjid kan? Udah nggak apa-apa. Saya sendiri bisa kok…” Gue tidak mau ada orang lain ikut campur di urusan kami.

“Beneran nggak apa-apa?”

“Ya udah atuh ya. Om berangkat ke Masjid dulu. Nanti kalo ada apa-apa, bilang aja sama Tante di bawah. Nitip sekalian Tante ya, Ji.”

“Iya, Om…”

Gue mulai kembali mengetuk pintu kamar Emi ketika gue mendengar suara pintu yang ditutup oleh Papa-nya Emi. “Ini dia sengaja nggak denger apa emang budek beneran sih? Elah.” Akhirnya gue menghubungi dia.

Tidak perlu menunggu lama, dia segera mengangkat telepon gue tersebut. “Aku udah di depan.” Kata gue tanpa basa basi lagi.

Tetapi bukannya gue mendapatkan sosok Emi yang membukakan pintu kamarnya untuk gue, gue malah mendapatkan Emi yang mengunci pintu kamarnya dari dalam kamar! Apa-apaan coba ini? Rasanya saat itu, ingin sekali gue berteriak dan mendobrak pintu kamar dia. Dia sangat menguji kesabaran gue!

Gue kembali mencoba menghubungi dia. Tidak ada jawaban. I’ll keep trying. But still no damn answers. Mungkin dia sedang berganti pakaian? Tapi apa yang perlu dia khawatirkan? Well, I’ve seen everything she had, rite? Sok malu amat.

Gue sudah mulai hilang kesabaran gue. Gue memang pada dasarnya bukanlah kaum yang sabar sih. “Mi, udahlah buruan ganti bajunya. Aku mau masuk ini.” Kata gue sembari mengetuk pintu kamar dia.

“Aku udah ganti baju. Lagian mau ganti baju buat apaan lagi?”

Pintunya masih juga dikunci. Gue masih belum diterima oleh Emi. “Kenapa dikunci? Buka buruan.”

“Pulang, Zy…” Sesuai dugaan gue. I'm done.

“Aku baru aja nyampe. Kenapa disuruh pulang sih?”

“Mau ngapain emang kesini? Aku lagi… Hmm. Lagi nggak enak badan. Aku mau istirahat dulu.”

“Alesan ah. Ayo buru buka! Mau dibuka apa mau gue dobrak ini pintu?” tanya gue sembari mendorong pintu kamar dia. I’m fucking serious.

“Gue marah banget sama lo kalau lo sampe dobrak pintu kamar gue segala!”

“Makanya ayo buruan buka pintunya! Gue itung sampe 3, kalo masih juga nggak dibuka pintunya, gue bener-bener dobrak ini pintu!”

“Lo nggak akan berani!”

“Berani aja! Bokap lo kan udah pergi ke Masjid, tadi pamitan sama gue. Gue bilang aja nanti Eminya kekunci dari dalem, makanya gue bukain dengan didobrak. Inget, bokap lo lebih percaya gue daripada sama lo bukan?”

“Diem! Oke! Gue buka pintunya! Tapi kalo urusan lo nggak jelas, mending lo langsung pulang aja!”

“Buruan!”

Tidak perlu menunggu lama, Emi segera membuka pintu kamar dia. Kamar yang selalu gue rindukan, terutama si empunya kamarnya.

Gue masuk ke dalam kamar dia dan meletakkan seluruh perlengkapan gue di tempat seperti biasa. Tidak ada perubahan apapun. Gue bersikap seolah tidak ada masalah apapun di antara kami. Cara terbaik menghadapi Emi yang seperti ini. Biar dia yang membuka obrolan.

“Mau ngomongin apaan? Gue mau istirahat.” Seems like she want to get in the business as soon as she can. Dia tahu kalo gue kesini karena ada urusan lain.

“Nyokap sama adik gue udah ngehubungin lo?”

“Ngehubungin kenapa? Kapan?”

“Lha? Katanya mau berangkat besok? Kok malah belom ngomong ke Emi sama sekali begini? Gimana sih mereka? Terus buat apa gue bawa baju ganti buat pergi besok? Bingung juga nih si Dania.” Kata gue dalam hati. “Oh jadi mereka emang nggak niat berarti. Biarin aja lah udah.” Gue membuka tas gue dan mengeluarkan berkas refinancing mobil yang sedang gue urus.

“Apaan sih? Kenapa? Mereka mendadak nggak setuju--” Gue sedang malas meladeni perdebatan mengenai ketidaksetujuan-keluarga-gue-tentang-pernikahan-kami. Karena bukan itu permasalahannya. Kalo gue boleh ngomong kasar, “Masalahnya itu ya keluarga lo sendiri, Mi! Mereka yang nyusahin!” Tapi ya tidak begitu caranya.

“Nggak usah mulai keributan kenapa sih? Nggak usah kebanyakan asumsi!”

“Lo kenapa sih? Dateng-dateng ngamuk-ngamuk udah kayak kesambet setan. T*i.”

Saat ini gue tidak ingin ribut dengan dia. Gue datang dengan damai. Gue ingin bercerita dan berdiskusi dengan dia tentang segala hal yang gue lalui. Kecuali tentang Diani dan Ana sepertinya, gue harus bercerita dengan dia di waktu yang tepat. Tidak sekarang pastinya. Karena gue hanya ingin membahas…tentang kami.

Gue memeluk dia erat, tanpa persetujuan dia. “Maaf aku nggak cerita sama kamu di awal tentang Arasti, Hana, dan Tifani. Mereka emang dateng tiba-tiba. Arasti mendadak ngehubungi aku via Line Alumni. Langsung berjalan gitu aja obrolan kita. Aku akui kalau aku emang salah karena ngaku jomblo ketika aku udah ada kamu.”

“… Bahkan kita mau kenalan keluarga ya, Zy.” Dia menyelesaikan kalimat gue, dengan tujuan sarcasm.

“Tifani itu emang temen deket aku dari aku sekolah dulu. Dia jomblo dan emang kita nggak ada apapun. Ya mungkin sama kayak kamu sama Bimo, cuma nggak sedeket itu. Oke kita emang sering kemana-mana bareng selama di SMA--”

“Terus Kak Ara tau?” tanya dia, memotong omongan gue.

“Jangan dipotong dulu kalau orang lagi cerita.” Dia orang yang paling sering bicara demikian karena memang (tanpa gue sadari) gue suka memotong omongan dia. Tapi kini, gue puas bisa mengembalikan omongan ini ke dia.

“Hmm.” Dia terlihat tidak suka.

“Tapi aku sama sekali nggak ada hubungan apapun sama dia. Iya Ara tau dan Ara emang sempet jealous. Tapi kamu bisa hubungi dia kalo kamu nggak percaya sama aku.”

“Nggak penting lagi.” Jawab dia judes.

“Terakhir ada Hana. Shiroihana lebih lengkapnya. Iya, nama dia Bunga. Tapi karena dia suka jepang-jepangan, dia ganti nama dia jadi Hana. Aku kenal sama dia di aplikasi Beetalk. Aplikasi yang waktu itu lagi rame dipake sama temen-temen S2 aku.”

“Kamu masih ya nggak bisa nahan diri buat nggak kenalan sama cewek yang ternyata lebih sempurna dari aku, terutama di bidang jepang-jepangan juga? Kenapa kamu nggak nikahin dia aja sekalian?”

“Jangan potong omongan orang.” Lagi.

“Ah t*i.” Emi terlihat kesal.

“Dia nggak lebih sempurna dari kamu. Kalaupun dia emang lebih sempurna, buat apa terus nyari kesempurnaan kalo ternyata hidup aku sempurnanya sama kamu? Nggak pernah ada lagi cewek yang bisa nyempurnain hidup kamu selain kamu.”

“……..” Kalo ini bukan Emi, gue yakin ini cewek udah klepek-klepek nggak karuan sama gue. Gue bukan tipe cowok yang romantis. Tetapi sekalinya gue mencoba, siapa yang bisa menolak?

“Tapi dia nggak ada t*i-t*inya dari kamu. Jauh banget.”

“Kalo dia lebih sempurna baru ya kamu bingung?” Gue sudah menduga pertanyaan ini.

Gue melepas pelukan gue. “Sekarang Arasti udah nggak akan ngehubungin aku lagi soalnya dia udah pamitan sama aku. Tifani juga udah aku jelasin tentang hubungan kita, biar dia jujur sama kamu kalau suatu saat kamu ngehubungin dia. Terus Hana, udah aku blokir. Bocah labil nggak penting begitu, ngapain diurusin? Mending aku diemin aja. Nggak penting. Aku mau fokus sama kita.” Jelas gue. No debat. “Buka map itu.” kata gue. Hampir saja lupa. Tujuan gue ke rumah dia hari ini kan untuk menjelaskan tentang refinancing itu. Dia berhak tau.

“Apaan ini? Dari nyokap sama adik lo?”

“Bukan. Itu bukti kalau aku serius sama kamu.”

“Serius? Berkas apaan dari nyokap dan adik lo yang ngebuktiin kalo lo serius mau nikahin gue?”

“Apaan sih jadi nyambung-nyambungin nyokap sama Dania?” Jelas gue mau menjelaskan tentang refinancing dan sedari awal pun begitu, entah kenapa dia terus menghubungkan dengan Mama dan Dania. Gue ragu, apa Mama dan Dania benar-benar belum menghubungi dia? Atau ini hanya akal-akalan dia? Mengapa dia terus menerus berusaha menghubungkan obrolan kami dengan mereka?

“Tadi mendadak nanyain nyokap sama Dania kenapa?”

Oke. Ini miskomunikasi. “Oh itu… Katanya Dania mau minjem mobil dan minta kita bantu Dania buat pindahan dari kontrakan mereka dari Bandung.”

“Bandung? Kapan ade lo pindah ke Bandung? Kok lo kayaknya nggak pernah cerita?”

“Hah? Masa? Udah ah.”

Sepertinya ada yang belum sempat gue ceritakan. Rasa-rasanya gue sudah menjelaskan dengan detail mengenai kehidupan gue. Namun, tetap saja masih ada yang tertinggal. Ya, kepindahahan Dania ke Bandung ini salah satunya. Mengapa demikian? Oh, I know. Mungkin karena mereka membuat keputusan TANPA mempertimbangkan pendapat gue dan TANPA persetujuan gue.

Dania dan Adit memutuskan untuk menetap di Bandung pasca pernikahan mereka dulu. Mereka berdua mengurus kepindahan mereka (baik proses angkut-mengangkut barang-barang Dania dan proses surat-menyurat) dengan mengandalkan Mama seorang. Siapa lagi yang bisa diandalkan oleh Dania kalo bukan Mama?

Mereka pindah tepat setelah pernikahan mereka dan sebelum wisuda Dania. A long time ago, dimana gue juga sibuk mengurus urusan gue sendiri. Toh Mama dan Dania juga sudah fokus dengan urusan Dania. HANYA FOKUS dengan urusan Dania. Itulah sebabnya gue tidak menceritakan ini sebelumnya. Tapi seingat gue, gue sudah menceritakan ini pada Emi. Gue yakin itu. Entah kenapa Emi bersikap seolah gue yang belum menceritakannya.

“Kok Dania berani sih main pindah begitu aja ke Bandung padahal dia masih ada hutang pinjaman di kantornya sini?”

Apalagi kalo bukan ‘janji palsu’ dari mertua dia yang SANGAT MEREKA PERCAYA dimana mertua dia menjanjikan akan membantu Dania untuk mendapatkan mutasi karyawan dari sini ke Bandung. Mengapa gue berani bilang kalo mertua dia ini ‘janji palsu’? Karena mereka tidak akan terus menjadi pejuang LDM hingga saat ini. Seharusnya Dania sudah ada di rumah dia sendiri di Bandung sana bukan? Dan Mama tidak perlu sibuk mengurus Dian sendirian. (MUARA SEBUAH PENCARIAN SEASON 3 – PART 106)

Tapi entah Dania denial dengan fakta yang ada atau dia berusaha berdamai dengan keadaan (dimana dia mau tidak mau harus menerima fakta kalo mertua suaminya tidak bisa diandalkan dan mertua dia hanya omong kosong belaka), Dania selalu membanggakan pernikahan mereka dengan label ‘PEJUANG LDR’. Namun, tanpa ada perjuangan sama sekali karena mereka hanya mengandalkan Mama untuk setiap urusan mereka. Terkadang mereka membebankan pada gue dibandingkan Adit.

Singkat cerita, rumah mereka di Bandung terbengkalai karena hanya diurus oleh Adit seorang dan mereka (sepertinya akan terus LDR) entah sampai Dian umur berapa nanti.

“Kapan? Bukan kasih tau gue kali. Ngasih tau yang lain.”

Gue sangat amat yakin kalo gue sudah pernah menceritakan ini pada dia. “Apaan sih lo? Terus aja nuduh gue! Gue udah jelasin semuanya dari lo. Bodo amat lah! Gue mau tidur.” Kata gue ketus sembari berusaha mengingat kapan gue pernah menceritakan pada Emi.

“Refinancing mobil?” Sepertinya Emi sedang membaca isi map yang gue kasih sebelumnya.

“Udah gue urus. Tinggal nunggu keputusan aja. Sori, karena semua berkasnya ada di gue jadi langsung gue urus sendiri semuanya. Mudah-mudahan cair. Gue juga minjem dulu uang ke Pak Yudi 15 juta biar di rekening gue keliatan ada duitnya, soalnya orang banknya bilang itu syaratnya. Kalau nggak di-approve, gue nggak ngerti lagi mesti nyari duit kemana lagi. Pusing kepala gue. Gue mau tidur. Teserah lo mau ngapain. Pokoknya kita jadi nikah, nggak ada namanya batal-batalin nikah.” Kata gue sembari menutup mata gue. Gue memutuskan untuk tidur. Gue cukup lelah berpikir hari ini.

---

“Bangun, Zy! Magrib dulu."

Itu adalah hal pertama yang gue dengar dari mulut Emi ketika gue bangun tidur. "Iya." jawab gue singkat. Saat itu, Emi sudah menggunakan mukena miliknya sembari menunaikan ibadah Magrib di samping kiri tempat tidur yang sedang gue gunakan. "Lumayan juga aku tidur. Hampir 1 jam." gumam gue. Well, gue nggak mengharapkan balasan dari dia. Toh dia memang sedang beribadah.

Gue memperhatikan sekeliling gue sesaat. "Tidak ada perubahan. Bahkan barang-barang gue masih pada tempatnya. Pertanda baik bukan?" ucap gue dalam hati. Sembari menunggu Emi selesai menyelesaikan ibadah Magribnya, gue mengambil HP gue yang berada tepat di samping tempat tidur Emi.

(DIANI CHAT)
Quote:


Notifikasi tersebut akan sangat jelas terlihat oleh siapapun yang membuka HP gue (yang kebetulan sudah tidak dikunci sama sekali saat itu). Terutama Emi. Gue melirik Emi yang sebentar lagi selesai beribadah. "Apa dia udah ngeliat notifikasi Diani ini?" tanya gue dalem hati. "Kalo gue tanya langsung ke dia, apa nggak bikin masalah baru? Oke kalo misalnya ternyata dia udah tau, gue bisa langsung jelasin. Lah kalo sebenernya tadinya dia belum tau? Bukannya nggak bunuh diri namanya?"

"Kenapa?" tanya Emi mendadak. Dia sudah selesai. "Kenapa ngeliatin gue mulu? Chat dari nyokap? Muka lo khawatir gitu." tanya dia sembari berdiri dan melihat mukena yang dia gunakan sebelumnya.

"Nggak apa-apa." jawab gue sembari menghapus chat dari Diani tersebut.

"Lo udah kayak cewek. Apa-apa ditanya jawabnya 'nggak apa-apa' padahal ada apa-apanya." gumam dia perlahan yang bisa gue dengar dengan sangat jelas.

"Apaan sih yang ada apa-apanya? Gue tuh jauh-jauh kesini loh. Gue sengaja kasih lo waktu buat nenangin diri. Biar gue juga berusaha nyari jalan keluar buat kita. Kenapa lo sekarang malah mikir gue yang nggak-nggak? Gue ngapain lagi? Gue sekarang cuma fokus buat kita. Nggak sempet gue mikir yang aneh-aneh lagi, Mi."

"Oh iya?"

Dret. Dret. Dret.

HP gue kembali bergetar. I hope, ini bukan Diani lagi.

"Buka dulu itu chat-nya. Siapa tau penting."

"Penting apaan? Yang penting itu chat dari lo. Nggak ada lagi yang penting!"

"Ya buka aja dulu."

"Ah paling chat group."

"Gue tau banget nada dering lo. Mana yang lo pake khusus untuk gue, mana yang lo pake untuk chat biasa, dan mana yang lo pake untuk grup. Jadi gue bisa bedain masing-masing. Notif lo tadi buat grup? I don't think so."

"Lo mulai lagi ya buka-bukain chat HP gue?"

"Buka-bukain gimana sih? Emang ada siapa lagi yang lo sembunyiin?"

"Ya Tuhan, Mi!" Gue buka HP gue. "Bangs*t!" teriak gue dalam hati. Gue nggak bisa serta merta menunjukkan chat yang sedang gue baca tersebut pada Emi.

(ANA CHAT)
"Masih berasa sakit banget, Mas."

Chat ini super duper ambigu. Sakit apa coba? Sakit hati kan maksudnya si Ana? Tapi kalo Emi yang baca, dia bisa mikir gimana coba? Sakit diapain si Ana ini sama gue? Ana, yang notabenenya teman kantor gue, sakit karena abis diapain sama gue? Bangs*t banget sumpah!

Sama seperti chat Diani, gue auto hapus chat Ana tersebut.

"Kenapa? Kok diem aja?"

"Aneh nih. Chat grup kok notifnya begitu ya?" tanya gue. Maaf, Mi. Gue harus bohong sama lo lagi. Soalnya ini chat nggak penting dan tidak perlu penjelasan apapun lagi. Kalo chat ini dibahas, cuma nambah perkara aja di hubungan kita.

"Nggak mungkin."

"Nggak mungkin gimana?"

"Bukan itu yang gue liat soalnya."

Gue lagi males banget debat sama dia. Gue lagi capek. Gue pusing sama kelakuan Ana dan Diani. Gue juga bingung harus ngeyakinin Emi gimana lagi. Gue nggak mau juga ngamuk-ngamuk sama dia, yang pada dasarnya nggak tau apa-apa. "Lo liat apa lagi sih, Mi? Ya Tuhan. Mending gue balik aja lah kalo begitu."

"Lo sekarang udah nggak betah lama-lama di sini? Malem Minggu begini, mau kemana lo? Ada orang yang mau lo temuin lagi?"

Gue menatap dia tajam. "Mi. Ini..." Gue tunjukkan berkas refinancingmobil yang gue bawa sebelumnya di hadapan Emi. "Adalah bukti keseriusan gue. Gue nggak butuh uang ini cuma buat malem mingguan sama cewek lain atau mau nraktir cewek lain! Nggak! Gue butuh uang ini biar lo sama gue bisa dapet restu dari keluarga lo untuk melangsungkan RESEPSI pernikahan kita! Yang pada aslinya, KITA BERDUA NGGAK BUTUH! Tanpa lo bilang, gue tau kok, lo nggak berhasil pasti ngeyakinin orang tua lo kalo lo nggak mau resepsi. Makanya tanpa persetujuan lo, gue tetep urus semuanya!"

"........." Awalnya dia hanya diam. Kami hanya saling menatap satu sama lain. Mungkin saling kehabisan kata. Padahal yang gue butuhkan hanya satu kalimat 'Kita pasti bisa kok, Zy.' dan pelukan hangat dia. "Terus kenapa lo hapus chat yang barusan masuk?"

Enough. Tanpa menunggu persetujuan dia, gue segera mengambil kunci motor dan tas gue. "Percuma jelasin panjang lebar sama lo, yang lo pikiran cuma urusan perselingkuhan gue terus. Padahal udah gue bilang kalo nggak ada siapapun lagi. Malah sibuk perkarain siapa yang gue apus chatnya. Gue udah bilang kalo gue nggak apus chat apapun. Itu chat grup. Masih aja perkarain itu. Terserah lo aja lah! Nanti aja kalo ada duitnya, gue baru balik lagi kesini. Biar lo puas! Biar keluarga lo puas!" jelas gue panjang lebar sembari keluar dari rumah dia.

"ZY!" Dia menarik tangan gue yang hendak mengeluarkan motor gue dari rumah dia. "Kalo lo mau serius sama gue, bukan cuma urusan uang doang, Zy. Tapi jujur dan setia itu jauh lebih penting daripada uang yang lagi lo usahain itu."

"T*i." gumam gue perlahan.

Gue pacu kuda besi gue keluar dari rumah dia. Tanpa pamit, gue meninggalkan rumah dia. Doa gue, semoga perjalanan pulang gue tanpa hambatan apapun. Semoga kata terakhir gue meninggalkan rumah Emi bukan jadi kata terakhir gue untuk dia.
hayuus
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.