Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#341
Maju Mundur Resepsi_Part 5
“Mas!” Seseorang manggil gue ketika gue hendak lapor presensi gue dengan menempelkan salah satu jari gue di mesin fingerprint.

“Yo!” jawab gue tanpa menoleh ke arah belakang gue siapa lawan bicara gue.

“Mas, ih!”

Gue kenal suara ini. “Kenapa, Na?” tanya gue sembari melepas tas yang gue gendong selama perjalanan menuju kantor. “Bos nanyain gue? Gue kesiangan, Na. Lagi banyak urusan.” Gue jalan ke arah ruangan gue.

“Mas kenapa sih?” tanya Ana ketika kami sampai di dalam ruangan gue.

Gue mengeluarkan laptop gue dari dalam tas dan mempersiapkan meja kerja gue. “Kenapa apanya, Na?”

“Mas udah berapa hari aku liat datengnya siang, terus pulangnya cepet. Mas sama sekali nggak punya waktu buat sekedar nyapa atau ngobrol bareng aku.”

“Lah? Kenapa lo jadi nuntut gue begini, Na? Emang kita apa? Kita cuma rekan sekantor, Na.” Gue tau kalo gue bisa aja menyakiti hati Ana dengan ngomong kayak begitu ke dia.

“Tapi aku belum dapet jawaban pasti kan dari Mas. Aku masih punya hak buat deket sama Mas. Lagipula apapun hasilnya, aku kan tetep punya hak buat terus deket sama Mas. Kita kan ‘rekan sekantor’, Mas.” jelas dia panjang lebar.

“Nah… Kita ini REAL REKAN SEKANTOR. Nggak pake tanda kutip atau kiasan apapun yang ada di pikiran lo.”

Ana terlihat kaget dengan jawaban gue. “Mas punya pacar lagi?”

Gue lebih kaget lagi dengan pertanyaan dia tersebut. “Lagi? Emang kapan gue bilang kalo gue punya pacar lebih dari satu? Terus emang gue udah pernah bilang ya kalo gue udah punya pacar sama lo?”

“Nah kan berarti kalo Mas belom punya pacar, kenapa harus nolak aku? Jauhin aku begini?”

Gue tarik napas dalam-dalam. Berusaha untuk tidak meluapkan emosi gue yang tidak stabil ini pada dia. “Na. Gue lagi banyak banget urusan. Banyak banget pikiran. Banyak yang harus gue kerjain dan selesaiin. Jadi, please banget, Na. Gue butuh waktu sendiri. Are we good?”

“………”

Gue duduk di bangku kerja gue. “Lo boleh keluar kok, Na.”

“Mas ngapain bolak-balik ke bank? Mas meeting apaan sama Pak Yudi? Mas nunggu surat apa? Nunggu kabar apa dari bank? Kok Mas bilang ke Hapsari kalo ada surat atau telepon dari bank langsung ngabarin, Mas?” berondongan pertanyaan diajukan Ana dengan wajah cemberut tapi tetap manis itu.

“Na, lo itu kenapa sih?” Tau gitu gue benar-benar tidak berurusan sama anak ini.

Entah kenapa dia mendadak jadi kayak begini. Gue bisa saja menjelaskan pada dia apa saja yang sedang gue hadapi. Tapi gue sedang banyak yang diurus. Gue sedang malas mengurus cewek lain lagi selain Emi. Gue berharap dia tau sendiri kalo gue memang sedang mempersiapkan pernikahan gue. Biar dia segera menjauh dari gue.

“Aku dapet omongan dari kantor kalo Mas…”

“Iya?” Gue penasaran dengan kalimat yang akan dia ucapkan. “Gue kenapa, Na?”

“Nggak mungkin sih tapi. Ya kan, Mas?”

“Ya apa dulu? Apa yang nggak mungkin?” Gue nggak mau mengiyakan pernyataan dia. Entah kenapa gue ngerasa dia tengah berasumsi negatif tentang gue.

“Hmm.”

“Apa, Na?” Kali ini dia full mendapatkan perhatian gue. Biar urusan gue dengan dia cepat selesai.

“Kata Om Yudi. Mas lagi ngurus persiapan nikahan kamu ya, Mas?”

Deg.

Gue tau. Hati gue sudah siap untuk jujur sama dia tentang hubungan gue sama Emi. Tapi…gue nggak mau seperti ini caranya memberitahukan ke dia. Gue mau dia tau sendiri karena Pak Yudi atau orang kantor yang lain. Ana ini anaknya diam-diam agak berani dan cenderung memaksa. Jadi, lebih baik dia menyadari sendiri kalo selama ini dia salah mengira daripada gue yang harus mengaku pada dia. Gue nggak mau hubungan dia dengan gue menjadi renggang, karena akan berimbas kepada kinerja tim gue.

Walopun mungkin, hubungan gue dengan dia akan tetap renggang juga pada akhirnya.

“Nggak kan, Mas? Mas belum mau nikah kan, Mas? Mas kan masih muda—”

“Muda, Na? Temen sekelas gue di S1 bahkan anaknya udah mau masuk sekolah, Na. Terus lo masih ngerasa gue muda dan nggak mungkin untuk nikah?”

Dia tertawa canggung seakan menolak untuk menerima penjelasan gue. “Nggak mungkin. Mas nggak mungkin udah punya calon! Masa dadakan banget sih, Mas? Waktu kita pertama ketemu kan Mas juga ngakunya kalo Mas belom punya pacar—”

“Kapan gue bilang belom punya pacar?”

Dia membuka mulutnya dan kembali menutupnya lagi. Sepertinya dia tidak yakin dengan jawaban yang akan dia keluarkan. “Nggak mungkin pokoknya. Kalo Mas udah punya calon, Mas nggak mungkin minta aku ngirimin foto aku tanpa kerudung. Mas nggak mungkin diem aja pas aku buka baju aku di depan Mas. Ini… Ini pasti deh. Ini pasti gara-gara aku nembak Mas waktu kemarin kan? Mas langsung buru-buru cari pacar kan? Iya kan? Bener kan, Mas?”

“Emang kalo gue diem aja pas kejadian itu semua, itu salah satu tanda kalo gue masih jomblo ya?”

Dia mendadak diam. “Ya normalnya kan cowok yang udah punya pasangan, apalagi mau nikah, pasti jadinya jaga jarak dengan cewek lain, ngejaga hubungannya dengan cewek lain, ngaku ke semua cewek kalo dia udah punya calon biar cewek lain juga segan ‘ngegodain’ dia, terus ya langsung ngelarang aku buat nggak seenaknya begitu di depan, Mas!” Kali ini gue yang diam. Gue berasa ditegur. “Dan semua itu nggak ditunjukin sama Mas. Berarti Mas belum mau nikah bukan? Iya kan?”

Toktoktok.

“Mas Ija?” Hapsari mengetuk pintu ruangan gue. Gue dan Ana auto awkward moment saat itu. Semoga saja Hapsari sama sekali tidak mendengar pembicaraan kami.

“Iya. Masuk, Sar…”

“Eh ada lo, Na. Lagi ngapain lo? Gue cariiin juga dari tadi…”

“Ada urusan sama Mas Ija.”

“Eh kenapa, Sar? Lo masuk ke ruangan gue tapi malah nyapa Ana duluan. Hahaha.”

“Tadi ada telepon dari bank, Mas. Sedikit nanya-nanya sih tentang Mas. Udah aku coba jawab sesuai instruksi Mas. Alhamdulillah sih dia kayaknya nggak nanya yang aneh-aneh…”

“Alhamdulillah kalo gitu. Thanks ya, Sar.” Mudah-mudahan Hapsari benar-benar bisa menjawab pertanyaan dari bank dengan benar. Ini pasti tentang proses refinancing mobil gue.

“Siap, Mas. Yuk, Na.” Hapsari menarik tangan Ana. “Makan siang bareng gue.”

“Aku masih ada urusan sama Mas Ija—”

Kring. Kring. Kring.

Diani calling.

HP gue yang sedari tadi gue geletakkan di atas meja kerja gue bergetar. Gue, Ana, dan Hapsari auto melihat layar HP gue. Terutama Ana sih. Kepo banget dia. “Diani? Ini lagi ada ujan atau salju sih di luar? Tumben amat Diani ngehubungi gue lagi. Kapan ya terakhir dia ngehubungi gue?” tanya gue dalam hati.

“Siapa tuh, Mas?” tanya Ana pada gue.

“Lah? Lo kok kepo banget, Na? Hahaha. Ayok ah makan siang! Emang Mas Ija nggak boleh ngobrol sama klien? Kali aja itu pacarnya doi. Ye nggak, Mas?” tanya Hapsari sembari mengedipkan matanya pada gue.

“Iye aja dah gue, biar cepet kelar. Haha.”

“Tuh kan gue bilang juga apa? Mas Ija udah mau nikah. Noh calon bininya nelpon. Ayok ah!” Hapsari mengajak Ana keluar ruangan gue. Ana melirik gue tajam dan keluar dengan ekspresi marah yang tertahan. Semoga saja Hapsari tidak meracuni Ana dengan gosip nggak bener.

Soalnya, Diani memang bukan calon istri gue.

“Halo?”

“Assalamualaikum, Kak Ija…”

“Waalaikumsalam, Di…”

“Lama nggak ngehubungi lo, Kak. Hmm… Apa kabar?”

Basa basi ala teman lama pun terjadi di awal perbincangan gue dengan Diani. Dimulai dengan menanyakan kabar masing-masing, keluarga masing-masing, dan pekerjaan masing-masing. Obrolan kami berjalan mulus banget, untuk orang yang sudah cukup lama sama sekali tidak berinteraksi satu sama lainnya. Tapi mungkin karena Diani itu sendiri adalah anak yang supel sedari dulu, jadi obrolan kami tidak ada habisnya.

Di sini gue tidak mau membandingkan antara asyiknya ngobrol dengan Diani dan ngobrol dengan Emi ya. Nyaman dan asiknya dengan Emi itu berbeda. Jangan dulu berasumsi kalo gue berujung banting setir memilih Diani hanya karena Diani adalah orang yang asyik diajak ngobrol. Oke?

Kembali pada Diani.

Anak ini dulu sangat aktif di himpunan kampus kami. Jadi, siapa yang tidak mengenal dia? Sekilas tentang dia sudah pernah gue ceritakan dan sebut beberapa kali di MUARA SEBUAH PENCARIAN SEASON 1. If you don’t mind and want to refresh your memory, feel free to roll back.

Saat ini dia bekerja di sebuah bank pelat merah yang bergenre syariah. Dulunya memang dia sempat bekerja di salah satu bank pelat merah juga, bedanya ya si bank tempat ia bekerja tidak memakai embel-embel syariah alias masih konvensional. Tapi ya intinya tidak ada perubahan bidang pada karir dia, masih di bidang perbankan juga karena menurut gue, sistem kedua bank ini sama-sama saja. Embel-embel syariah dilekatkan, (mungkin) untuk menarik minat masyarakat penolak riba agar menggunakan jasa perbankan ini. Hampir tidak ada bedanya sebenarnya menurut gue.

Lanjut.

Gue sangat ingat, dan mungkin Emi pun tau, dimana angkatan Diani dan angkatan Dee mencetak sejarah dimana hampir 80% setelah lulus ternyata bekerja di bidang perbankan. Jauh dari unsur lingkungan sama sekali. Jadi, bukan gue yang sengaja hanya mendekati atau memilah cewek-cewek yang mendekati gue khusus mereka yang bekerja di bidang perbankan ya. Baik, Dee ataupun Diani. KEBETULAN saja, begitu pilihan hidup mereka.

Kabar masing-masing sudah, keluarga kami alhamdulillah sama-sama baik kabarnya, dan kebetulan ternyata pekerjaan kantor gue cukup berhubungan dengan pekerjaan dia di kantor. Jadi, ada beberapa bahasan kami mengenai pekerjaan kantor masing-masing.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk bertemu dengan dia suatu sore, sepulang dari kantor kami masing-masing. Jangan tanya pada gue, “Lo udah bilang sama Emi, Ja?” Soalnya Emi masih hilang tanpa kabar. Bertemu kawan lama (walopun dia lawan jenis) bukan sebuah kesalahan bukan? Emi punya Bimo, entah apa saja yang mereka lakukan selama ini di belakang gue tanpa ijin sama gue. It’s fair, isn’t it?

----

Gue adalah orang yang kurang pandai dalam urusan networking. Bertemu dengan orang baru (atau kawan lama) kemudian harus basa basi dulu sebelum mulai membahas the real business, it’s not my thing. Tapi Diani berbeda. Dia memang kawan lama yang sudah lama tidak kontak, tapi alhamdulillah kami tetap punya bahasan untuk dibicarakan.

Kalo pembelaan Emi sih… “Ah lo nya aja yang emang lebih tertarik ngobrol kalo lawan bicaranya lawan jenis. Iya kan?” Gue tidak mengiyakan pernyataan dia karena gue tidak merasa demikian.

Bla bla bla…

Sampailah kami pada pembahasan yang sering kali membuat permasalahan di hidup gue. Hubungan percintaan. Hmm. Lebih pastinya, bagaimana-gue-menceritakan-pada-cewek-lain-tentang-hubungan-percintaan-gue. “Eh iya, Kak. Baidewei… Gue sekarang udah nikah, Kak. Alhamdulillah udah jalan 2 tahun…

“Oh iya? Congrats yah.” Gue menyeruput es kopi susu yang gue pesan. Jujur, gue agak kaget ketika dia dengan percaya dirinya menjadi yang pertama memberi tahu gue tentang status dia. BIASANYA, gue harus menjadi orang yang pertama melakukan confession. “Lama juga udah 4 tahun aja. Kok gue bisa nggak tau ya? Nggak asik ah, nggak ngundang-ngundang. Haha.”

“Emang kalo gue ngundang lo, lo bisa nyempetin dateng? Gue perhatiin aja lo kayaknya sibuk sendiri di Facebook lo.

“Ya kalo ada waktu, insyaAllah bisa aja gue sempetin dateng, Di.” Gue bisa saja datang ke pernikahan dia mengajak Emi. Asal dia tidak mengundang Dee atau Keket juga. Bukan karena gue tidak mau memperkenalkan Emi pada mereka. Hanya saja, gue kasihan pada Emi.

“Lo mau tebak nggak gue nikahnya sama siapa?”

“Nebak? Emang gue kenal gitu sama suami lo?” tanya gue penasaran.

“Tebak aja dulu…” jawab dia sembari melemparkan senyum manis khas dia.

“Lah, gimana gue mau nebak. Clue-nya aja nggak ada sama sekali. Kan bisa aja sama temen SD lo, atau bahkan sama bos lo di kantor. Jadi bini ke 2. Haha.”

“Iiih. Nggak gitu lah, Kak. Haha. Ini orang deket lo juga kok. Orang jurusan kita juga.”

“Hah? Seriusan? Siapa?” Gue bertanya-tanya. Kira-kira siapa yang berhasil menaklukkan hati Diani yang manis ini. Bahkan gue sama sekali tidak mengetahui pergerakan orang-orang terdekat gue ketika di kampus.

Dulu, memang gue dekat dengan beberapa orang. Terutama dengan mereka yang masih satu jurusan dengan gue. Makanya gue juga bisa dekat dengan Diani dan Dee menjadi mantan gue yang notabenenya bukan di angkatan yang sama. Tetapi di antara teman-teman sejurusan, gue juga punya teman-teman dekat yang cukup akrab ketika gue kuliah. Ya kami jadi akrab karena kami tinggal di satu kostan yang sama. Ada Adi F, Adi S, dan juga Tanto. Masih ingat dengan mereka?

Tidak cuma dengan adik kelas, gue juga dekat dengan kakak kelas. Di sanalah gue bisa menaklukan hati Sofi dan Keket, para primadona di angkatan kakak kelas. Sama seperti di angkatan gue, hanya ada beberapa kakak kelas yang berasa dekat banget saat itu. Mereka adalah Amal, Yuar, Dani dan Benu. Masih ingat juga dengan mereka? Mungkin banyak yang kembali mengenal Benu karena Benu sempat diceritakan oleh Emi. Iya, Benu sahabat Emi juga ketika Emi menjabat sebagai asisten praktikum ketika dia kuliah dulu.

Berarti, ada peluang kalo di antara Adi F, Adi S, Tanto, Amal, Yuar, Dani, dan Benu nih yang sekarang mendampingi Diani menjadi seorang suami. Sementara yang gue tau, Adi F dan Tanto saat ini sudah menikah. Berarti ya kemungkinan teman-teman sekelas Keket-lah yang punya peluang, antara Amal, Yuar, Dani, dan Benu. Tapi siapa? Terus kok bisa? Haha. Gue tidak mau menduga-duga. Biar saja si Diani yang menjelaskan.

“Bener nggak mau nebak? Hehe.” Ucapnya sumringah dan penuh kemenangan.

“Iyee. Udah kasih tau aje. Haha. Ayo siapa.”

“Masih inget…Dani.” kata dia sembari menunjukkan wallpaper HP dia dimana terpasang foto dia sedang memeluk Dani.

“HAH? DANI? WAIT… WAIT… DIANI JADINYA NIKAH SAMA DANI? HAHAHA.” teriak gue di dalam pikiran gue. Ingin rasanya gue tertawa di hadapan Diani saat itu. Tetapi gue khawatir Diani merasa tersinggung karena gue menertawakan suami dia. Gue pun akan sangat tidak nyaman bahkan tidak terima kalo ada orang lain yang menertawakan Emi.

Jadi… Dani ternyata.

Hmm. Gue sangat kaget mendengar kabar ini. Bagaimana tidak? Seorang Dani yang dulu katanya tidak-pernah-ingin-punya-pacar-kalau-tidak-sama-Sofi-dan-Keket (walopun pada akhirnya dua-duanya menjadi mantan gue), sekarang malah berhasil menikahi salah satu cewek kece lain di jurusan gue. Bagaimana mereka bisa ketemu ya? Dan apa yang di lihat Diani ke Dani? Haha. Gila, gue rasanya udah pingin ngata-ngatain aja.

Dulu, ketika kami sama-sama masih menimba ilmu di kampus, Dani diketahui mati-matian cinta sama Sofi. Tapi malang sekali nasibnya, tidak pernah ada tanggapan berarti dari Sofi. Setelah memendam sakit hati yang begitu lama, dia malah menaikkan tantangan dengan mencoba mencintai Keket. Hasilnya? Ya Sofi aja nggak dapet, apalagi Keket. Haha.

Gue sangat mengetahui sepak terjang Dani selama mengejar kedua cewek tersebut. Bagaimana tidak? Kami mengejar dua cewek yang sama. Dia menjadi salah satu rival gue dalam mengejar cinta. Walaupun, Dani tidak pernah tahu kalau ternyata gue menjadi saingannya dalam mendekati kedua cewek tersebut. Awalnya, Dani mati-matian mengejar Sofi. Boleh dibilang, perjuangannya cukup oke untuk ukuran cowok. Dia benar-benar selalu ada buat Sofi bahkan sangat menjaga Sofi. Pernah suatu waktu (ketika gue pada akhirnya menjadi orang yang berhasil berpacaran dengan Sofi), Sofi pernah cerita kalau Dani itu sampai rela datengin rumah Sofi hanya untuk mengambil hati orang tuanya. Saat itu kondisinya, Sofi pun sedang tidak ada di tempat. Luar biasa sekali bukan perjuangannya?

Lalu, ketika gue mulai dekat dengan Keket pasca Keket putus dengan mantannya, gue jadi agak ragu untuk menyatakan perasaan gue pada Keket. Apalagi ketika itu gue juga masih ada hubungan spesial dengan Zalina. Di sisi lain, gue pun tahu kalo Keket juga sedang gencar didekati Dani. Gue putuskan untuk mengurungkan niat gue karena gue menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan dia tersebut. Memang, perjuangannya saat itu tidak segencar ketika mengejar Sofi. Tetapi dia juga melakukan hal-hal bucin ke Keket. Sementara Keket berujung malah selalu ngebucin ke gue.

Aduh! Gue dulu sempat tidak enak pada Dani. Apalagi ketika situasinya pelik dan melibatkan Rama, yang kala itu juga sempat mampir jadi pacarnya Keket. Rama adalah kakak kelas kami semua. Dani rela banget jadi serepnya Rama kalo Rama, yang notabene organisatoris dan anak pintar berprestasi, sedang tidak bisa bersama Keket.

Segencar dan segila apapun Dani menjaga Keket dan memberikan seluruh hidupnya mungkin, untuk Keket, hati Keket tetap tidak beranjak dari gue. Hehe.

Tapi coba lihat sekarang? Dia menikah dengan Diani? Sebuah prestasi ini namanya. Bagaimana tidak? Dia bisa mendapatkan salah satu bintang kelas di angkatannya Diani. Tidak usah dihitung berapa banyak cowok yang berusaha mendekati Diani ini. Apalagi dia juga aktif di himpunan, asyik, dan supel. Siapa yang tidak ingin mendapatkan cewek seperti dia.

Hanya saja, dulu gue sempat dengar desas desus kalau ternyata dia menyukai gue karena urusan himpunan. Tetapi ya gue tidak pernah benar-benar menanggapi dia, karena urusan percintaan dan akademis gue jauh lebih rumit dari pikiran cewek baperan. Haha. Kalau benar ternyata memang Diani itu sempat menyukai gue, ini Dani apes betul bukan selama ini? Haha.

Tapi itu cerita lama. Gue sudah tidak mempermasalahkan siapa yang dinikahi Dani atau siapa yang menikahi Diani. Toh gue sudah memiliki Emi dan akan menyusul Diani dan Dani sebagai pasangan suami istri. Sofi, Keket, dan Diani hanyalah masa lalu di hidup gue. Tidak akan (dan tentunya tidak boleh) menjadi halangan bagi gue di masa depan.

“Kak? Kok lo diem aja? Lo kaget, seneng, apa sedih nih hayooo?”

“Hah? Kok sedih? Gue seneng lah, temen-temen gue udah pada nikah. Gue doang nih yang belom…”

“Jangan bilang kalo lo belom nikah karena masih nyari cewek yang pas buat lo ya?” Tetap saja, pertanyaan cewek-cewek ini akan berujung keluarnya sebuah confession dari gue.

Kring. Kring. Kring.

HP gue mendadak bunyi.

Ana calling.

Khawatir telepon Ana ini untuk follow up pekerjaan gue, gue pun meminta ijin pada Diani untuk mengangkat telepon Ana tersebut.

Quote:
kaduruk
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.