Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
al.galauwiAvatar border
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#333
Maju Mundur Resepsi_Part 3
Gue memang pamit pergi ke Mama siang itu. Tapi tidak untuk ke kantor. Gue masih belum bisa fokus mengerjakan pekerjaan gue kalau keadaan gue dan Emi seperti ini. Pekerjaan gue masih 80% pengerjaan tapi masih jauh dari deadline. Jadi masih aman jika gue kerjakan nanti malam atau mungkin besok. Gampang, bisa gue atur ulang.

Hari ini gue harus menyelesaikan semua masalah gue dengan Emi.

Lalu dimana gue saat ini? Gue pergi untuk ziarah. Ziarah ke makam Papa. Gue mau menenangkan diri gue bersama Papa. Walopun gue bisa menenangkan diri dimanapun ketika gue sedang mengingat Papa, tetapi datang ke makamnya seakan memperpendek jarak gue dengan Papa.

Assalamualaikum, Pa…” Gue duduk di samping kanan makam Papa. “Ija jenguk Papa… Maaf Ija dateng sendiri, Pa. Ija lagi pengen berdua sama Papa…” kata gue sembari membersihkan makam Papa dari dedaunan kering.

Di makam Papa ini, Papa ‘beristirahat’ bersama dengan Kakek gue (dari keluarga Papa). Jenazahnya ditumpuk bersama di dalam liang yang sama. InsyaAllah mereka kini sudah ketemu bersama di sisi-Nya.

Gue datang ke sana bukan berniat untuk menyusul mereka. Gue memang kinda frustrated dengan keadaan gue saat itu. Hubungan gue kacau dengan Emi karena gue yang sangat tidak bisa mengatur emosi gue. Pernikahan gue bisa terancam tidak dilanjutkan karena ya hubungan gue yang kacau tersebut. Belum lagi ada permintaan (yang terasa seperti tuntutan) dari keluarga Emi yang meminta kami untuk mengadakan resepsi pernikahan yang gue jamin biayanya tidak sedikit. Semua terjadi ketika gue adalah seorang freelancer yang ketahuan selingkuh oleh calon istri dan belum menuntaskan S2-nya.

Kalau hubungan gue dengan Emi tidak kunjung membaik, tidak hanya kehilangan Emi dan pernikahan gue, gue pun akan kehilangan S2 gue mungkin. Gue sangat membutuhkan dia. Tapi dia sekarang terasa jauh… Sangat jauh. Iya, itu semua salah gue juga.

“Intinya ya ini semua salah Ija, Pa…” Gue mengusap dan mengecup batu nisan di atas makam Papa. “Terus Ija harus gimana sekarang, Pa? Ija kehabisan akal gimana biar Emi bisa kembali lagi sama Ija, percaya sama Ija, dukung Ija lagi. Ija nggak tau apa Ija bisa ngelunasin hutang Ija kalau Ija harus banget ngejaminin mobil Ija, Pa. Ija nggak punya apa-apa lagi untuk dijaminin selain motor sama mobil. Ija sekarang harus gimana? Pa… Ija bingung.”

Andai saja Papa masih ada, beliau pasti jadi teman diskusi terbaik gue. Beliau akan ada untuk jadi orang yang memberikan beberapa alternatif solusi untuk permasalahan-permasalahan gue. Ya urusan cewek-cewek itu lah. Ya urusan resepsi pernikahan ini lah. Ataupun urusan Mama yang selalu menjadikan Dania prioritas. Gue yakin, Papa bisa membantu gue. Papa adalah orang yang bijak dan selalu punya jawaban pada setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Karena dulu, hanya Papa yang selalu melihat gue ketika dunia sedang berpaling dari anaknya.

Sayangnya, Google-berjalan-keluarga-gue ini sudah lama pergi dan tak kan pernah kembali. Beliau orang baik. Saking baiknya, Tuhan mengambil beliau duluan pergi sangat cepat. Mungkin karena Tuhan tau, gue akan menjadi anak gagal yang mungkin bisa menambah beban Papa, jadi Tuhan mengajak beliau pergi lebih dulu agar beliau tidak pusing memikirkan nasib anak pertamanya ini.

Mungkin kalo Papa masih ada, gue tidak akan menjadi sosok yang salah langkah dan penuh kecerobohan seperti sekarang ini. Gue yakin, dia akan ada untuk mengingatkan gue (tanpa membandingkan gue dengan Dania) ketika gue akan membuat sebuah keputusan. Dia akan menegur gue ketika gue akan bertindak gegabah. Beliau akan selalu bersedia untuk berbagi dengan gue bagaimana beliau struggling ketika muda dulu.

Tetapi dia pergi terlalu cepat. Bahkan ketika gue dan Dania masih terlalu muda. Sama sekali belum merasakan ‘kehidupan yang sebenarnya’. Beliau pergi ketika gue masih kuliah dan Dania masih sekolah. Kami masih cukup muda saat itu. Kami tengah mencari jati diri kami.

Beliau belum sempat memberikan banyak nasehat atau cara pengambilan keputusan terbaik versi dirinya. Beliau yang jenius ini belum sempat berbagi dengan gue bagaimana cara dirinya hingga menjadi the best father ever untuk keluarga kami. Dan di sini lah gue, menjadi sosok gagal dari dirinya. Di umur gue ini, gue masih menjadi cowok yang tidak dianggap… Eh wait! Gue dianggap oleh keluarga gue sendiri. Hanya saja gue dianggap sebagai sosok yang gagal dibandingkan adik gue sendiri. Bukan Papa. Oleh Dania saja gue gagal, apalagi membandingkan gue dengan sosok Papa?

Renungan gue tak terasa membuat gue menitikkan air mata. Gue merindukan sosok Papa. Ketika gue bertumbuh menjadi seorang manusia dewasa yang harus bisa melewati quarter life crisis, tidak ada orang yang sebijak Papa dalam membimbing. Setidaknya menurut gue sendiri.

Mama bukannya tidak bisa, tetapi Mama setelah ditinggal oleh Papa lebih banyak mendengarkan omongan adik gue, yang mungkin sebenarnya pergaulan di pekerjaannya agak toxic sehingga banyak sekali mempengaruhi pikirannya. Dan pada akhirnya berpengaruh ke pemikiran Mama. Jadilah Mama selalu berpikir negatif tentang gue dan membandingkan hidup gue dengan Dania yang memiliki kehidupan penuh kesempurnaan. Bagi mereka.

“Andai Papa ada di sini… Ija lagi sangat amat butuh sosok Papa…”



----

“Pak, kalo alternatifnya kayak gitu kira-kira oke nggak ya?” tanya gue ke Pak Yudi.

“Sebenarnya masalah refinancingitu sesuatu yang umum kalo di dunia perbankan, Ja. Yang jadi masalah itu adalah si nasabah ini amanah apa nggak. Kalo nasabah amanah, ya bakalan aman aja aset yang di jaminin. Kalo nggak amanah ini baru bikin masalah. Rugi di bank, dan otomatis akan ada sita jaminan. Kamu udah yakin belum sama keputusan kamu ini?” Pak Yudi menjelaskan dan bertanya balik ke gue.

“Saya sih udah mikirin baik-baik Pak. Soalnya, apa lagi yang bisa saya andalkan? Rumah keluarga saya nggak mungkin saya jaminin Pak karena memang itu amanah dari bapak saya dulu.”

“Iya, emang bapak kamu itu konsisten banget sama yang namanya utang piutang. Beliau itu nggak mau banget kalo berhutang. Kalo nggak kepepet banget, nggak bakalan dia ngutang. Dulu waktu saya belajar di kantor bapak kamu bareng Sigit, beliau itu sering banget ngingetin ke staf kalo jangan suka berhutang karena bakal nyusahin kita kedepannya. Dulu beliau itu bangun kantor di akhir 80’an nggak ngutang banyak-banyak ke bank. Struktur modal sendirinya diperkuat dulu, baru sisanya ambil ke bank. Beda kalo sekarang kan kebanyakan struktur modal 30% dana sendiri, sisanya di bank. Tapi memang jadi ningkatin industri perbankan itu sendiri sih sebenarnya. Cuma ya sekarang jaman dan keadaannya udah berubah…” Pak Yudi nengok ke arah gue. “Kembali ke kamu sendiri, mau tetap konsisten kayak bapak kamu, atau ada pilihan lainnya lagi?”

“Nah itu dia, Pak. Saya itu seumur-seumur nggak pernah ngutang. Apalagi ngutang ke bank begini. Punya kartu kredit aja belum pernah. Apalagi ngejaminin aset pribadi ke bank? Selama ini, adanya malah saya diutangin mulu. Haha. Tapi sekarang keadaannya udah beda banget, Pak. Keadaan di rumah, keuangan pribadi saya, dan tuntutan masa depan. Hehe. Jadi kayaknya, itu jalan satu-satunya biar dapet dana cepet.”

Mungkin gue memang terlihat masih agak ragu dan belum 100% yakin. Siapa yang bisa percaya diri ketika lo harus menjaminkan aset lo (yang lo beli tunai) sebagai HUTANG ke bank. Istilahnya, ya lo beli ulang aset lo itu. Gue masih ragu. Mana nanti yang lo dapat itu nggak sampai senilai barang yang lo jaminkan. Namanya juga modern rentenir kan. Tapi kayaknya ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang dengan jumlah tidak sedikit dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Seharian ini, gue sudah mencoba datang langsung ke bank yang direkomendasikan oleh beberapa teman S2 gue mengenai urusan pinjaman KTA (Kredit Tanpa Agunan)-nya. Tetapi ternyata gue tidak lolos untuk beberapa persyaratan yang ada di sana. Tadinya gue berpikir, “Sebisa mungkin nggak perlu sampe ngejaminin aset.” Tetapi ternyata tidak semudah itu. Dan gue sangat menjauhi Pinjaman Online. Jadi, (mau tidak mau) gue harus melakukan pinjaman ke bank dengan menjaminkan aset paling berharga yang gue miliki, yaitu mobil gue.

Gue tidak mungkin menjaminkan rumah orang tua gue hanya untuk membiayai resepsi pernikahan gue. Kalau di masa depan nanti (amit-amit) terjadi sesuatu pada karir gue ataupun Emi, mau tinggal dimana keluarga gue? Mama dan Dania? Satu-satunya aset yang ditinggalkan oleh Papa hanya rumah itu. Jadi, lebih baik gue menjaminkan aset yang memang dimiliki oleh gue. Motor atau mobil. Tapi sepertinya motor tidak mungkin cukup ya, jadi ya mobil. Fix, tidak mungkin diganti lagi.

Kali ini… gue benar-benar gambling. Iya, gue gambling dengan menjaminkan mobil gue ini. Gue belum membicarakan hal ini pada Emi. Gimana bisa? Dia sama sekali tidak merespon gue semenjak perdebatan kami malam itu. Sepertinya dia sangat kecewa pada gue. Sekedar menjawab pertanyaan atau obrolan di grup band kami pun tidak. Dia memang butuh waktu sendiri untuk jauh dari gue.

“Tapi apa dia bakalan langsung setuju dengan ide gue ini? Gimana kalo dia malah makin marah? Gimana kalo dia malah ngebatalin pernikahan kami?” tanya gue dalam hati.

“Kamu udah pikirin baik-baik kan?” Pak Yudi membuyarkan lamunan gue. “Inget, posisi kamu disini masih freelance, belum ada kestabilan finansial. Bank juga pasti akan mikir kalo nggak ada kepastian finansial alias gaji tetap, biar kata kamu punya mobil bagus yang bisa dijaminin pun, nggak akan ada jaminan pasti diapprove loh.”

“Iya Pak. Saya paham posisi saya itu. Makanya saya diskusi nih sama bapak, baiknya gimana ya, Pak?”

Pak Yudi membenarkan posisi duduknya. “Maaf-maaf nih ya Ja kalo saya lancang… Ini cuma pendapat saya aja. Pengalaman saya sebagai orang yang udah belasan tahun nikah. Ya anggep aja, saya lagi nasehatin anak saya yang paling gede lah…”

“Iya, nggak apa-apa kok, Pak…”

“Kalo menurut saya sih, lebih baik nggak usah di rame-ramein aja lah, Ja. Cukup akad aja. Yang penting kan ijab kabulnya. Dulu saya pas nikah di kampung juga cuma akad doang. Di KUA pula. Saya itu orang dari pedalaman, Ja. Jauh banget dari pusat kotanya. Setengah jam lah dari pusat kota sampe ke dusun rumah saya. Bayangin aja, setengah jam nggak pake macet itu sejauh apa jalannya? Haha. Saya itu definisi orang kampung yang sesungguhnya, Ja. Haha.”

Andai ini bukan bos gue, udah gue timpalin pasti lawakan dia. “Bapak bisa aja… Haha.”

“Soalnya saya mikir… Saya dulu harus milih, abis nikah mau nabung demi cita-cita saya punya kantor sendiri, apa bikin hajatan di kampung saya sehari semalam? Di kampung itu Ja, nggak cuma ngundang orang-orang yang ada di kampung saya aja. Saya juga harus ngundang sodara atau kenalan yang ada di kampung sekitar saya. Saya kan orangnya gaul pisan, Ja. Haha. Coba dibayangin, berapa banyak biaya yang perlu saya keluarin alias harus saya pinjem dari bank? Jadi, saya mutusin untuk nikah sederhana aja dengan sekedar akad dan makan-makan keluarga inti kami. Lagian nikah itu yang penting akadnya kok, Ja.”

Gue hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala sembari sesekali tersenyum mendengar cerita-cerita dari Pak Yudi ini. Gue nggak nyangka ternyata si empunya kantor gue ini adalah orang dusun. I mean, orang yang sampai detik ini masih tinggal di rumah yang sama yaitu di salah satu dusun terpencil di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Bahkan bukan desa lagi.

Sekarang masa iya Bapaknya Emi yang sudah lama tinggal di kota tidak bisa berpikir realistis? Apalagi ketika beliau akhirnya membebankan semuanya ke gue dan Emi? Menurut gue ini sangatlah egois. Memang iya Emi adalah anak satu-satunya. Tapi bukan berarti ketika anak tunggal akan menikah harus pasti dirayakan bukan? Kalo semuanya serba terbatas masa iya harus memaksa?

“Dipikirin lagi, Ja… Tapi kalo nanti pada akhirnya kamu masih harus tetep ngejaminin mobil kamu, kamu yang ikhlas ya, Ja. Bismillah. Kamu ngejalaninnya demi istri dan anak-anak kamu di masa depan. Kamu ngutang demi ngebahagiain keluarga kamu…”

“Masalahnya, Pak, calon istri saya juga nggak setuju sebenernya ada resepsi tuh…”

“Loh? Terus ngapain masih ngadain resepsi kalo mantennya aja nggak setuju?”

“Hmm. Tuntutan calon mertua, Pak.” jawab gue dengan senyum canggung.

Pak Yudi yang tadinya berniat langsung merespon omongan gue, mendadak terdiam dan tersenyum. “Kalo kamu ikhlas tanpa ngerasa terpaksa, insyaAllah nanti jadi berkah di masa depan ya, Ja. Hati kamu baik, niat ngorbanin segalanya demi ngebahagiain mertua kamu. Semoga sebanding dengan apa yang kamu kerja dan dapetin nantinya ya, Ja…”

“InsyaAllah saya udah yakin ngejar jodoh saya ini, Pak. Jadi, ya saya usahain untuk ikhlas kalo misalnya saya harus ngejalaninnya.”

“Papa kamu pasti bangga sama kamu, Ja…” Penutup dari Pak Yudi sambil berdiri dari bangku dia. “Saya baru inget kalo saya ada meeting di Cawang. Saya pergi dulu ya, Ja.” Pak Yudi mengambil kunci mobil dia sembari tersenyum pada gue. “Jalanin apa yang menurut kamu jalan terbaik. Kamu calon kepala keluarga. Kedepannya, hal yang kayak begini bakalan lebih banyak dan lebih rumit lagi dihadapin sama kamu. Belajar dari sekarang, biar di masa depan kamu bisa jadi kepala keluarga yang lebih bijak ya, Ja…”

“Makasih doanya, Pak.” jawab gue sembari berdiri di samping beliau.

Gue jalan ke ruangan gue yang ada satu lantai di bawah ruangan beliau. Gue periksa kembali satu per satu lembaran pamflet mengenai refinancing kendaraan bermotor dari berbagai bank. Rencana resepsi ini jika terlaksana sama saja dengan gue yang menjilat ludah gue sendiri. Dari jaman dulu gue sudah kurang setuju dengan konsepsi resepsi dengan data terbatas tapi tetap memaksakan. Hal ini tentunya berdampak besar terhadap kelanggengan pasangan yang baru saja menikah.

Sekarang terbukti, hubungan gue dengan Emi yang baru saja akan melaksanakan pernikahan jadi sedikit renggang.

Seperti gue pernah bahas sebelumnya di IMPIAN (Part 3), untuk menikah yang dibutuhkan hanya : pasangan, restu, mahar, penghulu, dan wali. Seharusnya gue nggak perlu mikirin yang lain lagi kayak gedung mewah mana yang bisa menampung ratusan tamu undangan dari relasi kedua orangtua gue; makanan catering mana yang rasanya enak, harganya sesuai budget, dan porsinya pas untuk para tamu; berapa pasang baju resepsi yang bakalan gue dan pasangan gue pake di hari H resepsi nanti; souvenir apa yang bakalan bikin para tamu terkesan oleh resepsi pernikahan gue; undangan menarik yang gimana biar mereka pun jadi penasaran dan pasti menyempatkan hadir ke resepsi pernikahan gue; dan berujung BERAPA UANG YANG PERLU GUE SIAPKAN UNTUK RESEPSI PERNIKAHAN GUE ITU.

Sekarang apa yang terjadi? Gue sedang kebingungan untuk memikirkan darimana gue bisa mendapatkan uang tambahan untuk mewujudkan resepsi pernikahan yang diinginkan orang tua calon istri gue.


Sekali lagi gue membuktikan bahwa omongan gue benar bukan? Yang merancang itu semua siapa? Kedua orangtua. Dalam kasus gue, orang tua Emi. Yang nyari duit untuk merealisasikan rancangan mereka tentang resepsi pernikahannya siapa? Ya anaknyalah, SIAPA LAGI? Dalam kasus gue, SIAPA LAGI KALAU BUKAN EMI (dan tentunya akan gue bantu juga dia). Fakta miris lainnya yang harus gue hadapi adalah gue (pada akhirnya nanti akan) menanggung cicilan dari pinjaman untuk biaya resepsi pernikahan (yang tidak begitu diinginkan oleh gue dan Emi.

Entah nanti kedepannya apakah tebakan gue ada yang terealisasi lagi. Mungkin mengenai tamu undangan yang hadir bukan tamu undangan yang dikenal gue dan Emi? Mungkin nanti mengenai gunjingan tamu undangan yang tidak gue kenal tersebut mengenai makanan catering yang mereka makan secara GRATIS di resepsi pernikahan? Terus apa lagi? Gedungnya terlalu kecil? Dekorasinya kurang wah? Makanannya terlalu sedikit? Apa lagi? Gue seakan ngutang for nothing banget. Asli.

Jadi, secara opini gue tentang “Buat apa kita bersusah-susah payah dan berdarah-darah di kemudian hari untuk ngasih makan orang nggak dikenal?” akan gue telan mentah-mentah habis ini? Jadi impian gue yang nggak mau terseok-seok, habis tenaga, upaya, dan harta benda hanya untuk sebatas mengadakan resepsi pernikahan tidak akan terwujud bukan?

Saat ini, gue memiliki benturan langsung berupa finansial. Hal ini semakin menguatkan gue untuk menolak untuk mengadakan resepsi yang kurang penting bagi kehidupan gue dan Emi kedepannya. Buat apa membahagiakan orang lain kalo kita sendiri malah sengsara berkepanjangan? Bukannya itu malah akan membahayakan biduk rumah tangga yang sedang di bangun?

Isu sensitif soal uang ini seperti sudah lumrah menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Untuk pasangan muda yang sedang membangun rumah tangga, dengan segala pemikiran dan idealisme serta ketidakstabilan emosi, percikan kecil perkara uang ini bisa berdampak sangat besar. Itulah yang gue pertimbangkan.

Tetapi apa Emi, eh maksud gue orang tua Emi, masih mau menerima fakta kalo anak tunggalnya tidak bisa melaksanakan resepsi pernikahan impian mereka?

Gue harus membuat keputusan segera. Keadaan tidak memberikan gue pilihan. Sudah jelas terlihat apa yang harus gue pilih. “Bismillah, Mi. Aku ngelakuin ini demi keluarga kamu. Demi kamu…”
kaduruk
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.