- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#329
Maju Mundur Resepsi_Part 1
Gue tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaan gue. Gue juga tidak mau sampai hilang konsentrasi ketika mengerjakan pekerjaan dari salah satu perusahaan otomotif swasta terbesar di Indonesia. Sedikit saja kesalahan, gue bisa datang ke persidangan di Polda Metro Jaya! Jadi, gue putuskan untuk rehat sejenak sembari mengistirahatkan laptop gue yang (dengan tumbennya) bekerja sedari pagi.
Gue biasanya berangkat kerja sekitar pukul 10.00 atau 11.00 dari rumah dan sampai di kantor sekitar pukul 12.00 siang. Tapi karena kali ini gue sedang banyak pikiran dan ingin mencoba menghabiskan waktu gue dengan bekerja, gue berangkat lebih pagi lagi.
Here I am! Sudah di kantor sejak jam 10.00 dan tidak ada pekerjaan yang selesai! Setiap kali gue sudah mulai fokus dengan pekerjaan gue, pikiran gue tentang permintaan bapaknya Emi terus kembali seakan mengingatkan gue kalo urusan ini harus segera dibuat keputusannya.
Gue ambil HP gue yang berdiri di standing holder meja kerja gue. “Belum ada jawaban juga dari Emi. Ini dia yang sibuk apa dia yang malah menghindari gue sih?” gumam gue. Chat gue sejak pagi tadi belum kunjung ada balasan. Padahal gue sama sekali tidak mencoba menyulut perdebatan dengan dia. Gue hanya mencoba mengajak dia diskusi, bagaimana baiknya mengenai resepsi pernikahan kami ini.
Gue jujur sama dia tentang hasil percakapan keluarga kecil gue pagi tadi, Mama dan Dania kurang setuju dengan adanya resepsi pernikahan kami. Tetapi dia sama sekali tidak kunjung memberikan respon atas pernyataan yang gue kirimkan tersebut. Apakah dia sekarang ada di pihak Bapaknya dan kemudian kecewa pada gue? Atau dia juga berada di kondisi yang sama dengan gue yang kini tengah merasa kesal, bingung, marah, tidak bisa fokus, dan kalut?
Perkara resepsi pernikahan ini benar-benar membuat pusing kepala. Tidak hanya karena di luar rencana yang sudah kami rancang, tetapi utamanya karena kami pun tidak mempersiapkan budget sepeserpun untuk persiapan resepsi pernikahan itu sendiri. Kami sudah membicarakan hal ini sedari awal gue menyatakan komitmen gue pada Emi, “Pernikahan kami nanti cukup akad nikah saja, nggak perlu ada resepsi pernikahan.”
Budget yang ada saat ini hanya budget hingga akad nikah dan kumpul bersama pasca akad nikah sederhana kami. Tidak lebih. Karena sisanya, kami harus fokus dengan biaya membangun keluarga kami nanti.
Rusak! Keadaan yang sudah gue rancang sedemikian sederhana (tetapi tetap berkualitas) layaknya warteg-warteg yang menjamur di ibukota bersama Emi untuk perayaan sambung hati kami ini malah menemui batu kerikil, yang malah ditebar oleh orang tua Emi sendiri.
Gue berterima kasih pada Om Reza, sosok keluarga pengganti Almarhum Papa, yang bisa memberikan penjelasan dan pengertian dari keluarga besar gue mengenai lokasi akad nikah kami dan kondisi dari ibunya Emi. Beliau berharap keluarga besar gue tidak menuntut untuk tetap melaksanakan resepsi pernikahan seperti sepupu-sepupu gue. Jadi, gue akan jadi yang pertama (mungkin yang terakhir) tidak melaksanakan resepsi pernikahan dan tidak memiliki foto pelaminan bersama keluarga besar. Hebatnya, keluarga besar gue bisa menerima itu dan tidak berkeberatan. Mereka semua bisa memaklumi. Satu masalah sudah bisa teratasi sendiri.
Tetapi hadir masalah berikutnya, Mama dan Dania (selaku keluarga terdekat gue) langsung menembak gue secara terang-terangan bahwa mereka tidak bisa membantu apapun menyangkut pernikahan gue. Gue memang sudah membicarakan mengenai modal nikah gue yang sama sekali tidak bisa dibantu oleh mereka. Tapi… masa mereka juga tidak bisa membantu gue sekedar support atau mungkin ikut terlibat di setiap tahapan persiapannya gitu?
Entah Mama sadar atau tidak, makin lama makin jelas gue rasain kalo Mama lebih banyak memikirkan keluarga kecil Dania. Apa-apa yang ada di hidup gue sekarang selalu keluarga Dania yang dijadikan sebagai tolok ukurnya. Terutama ketika gue akan membuat sebuah keputusan, yang pertama Mama pertimbangkan adalah efek yang mungkin akan ditimbulkan ke keluarga Dania. Jika gue coba usulan A, Mama selalu memikiran nanti efeknya kepada Dian seperti apa atau efeknya ke Dania bagaimana. Namun Mama tidak pernah memikirkan sebaliknya. Mama hampir tidak pernah melihat dari sisi gue sendiri sebagai salah satu anak kandungnya juga.
Memang gue pernah bilang sebelumnya. “Ya sudahlah, gue nggak mau nambah beban pikiran gue dan juga bikin perkara di rumah. Gue nggak mau debat lagi sama Mama. Kalo Mama mau peduli dan bantu gue, gue sangat bersyukur. Kalo Mama mau melepas gue pun, gue bisa apa? Setidaknya beliau masih mau memberi restu untuk pernikahan gue ini. Satu yang gue pegang untuk saat ini, gue akan hidup berdua dengan Emi dan pergi jauh dari kedua keluarga kami KALAU keadaannya terus seperti ini.”
Tetapi… masa iya Mama sama sekali tidak menganggap keberadaan gue? Gue loh! Anak pertama beliau. Anak laki-laki pertama beliau. Gue wali pernikahan Dania karena Almarhum Papa udah nggak ada. Gue seakan tidak berarti lagi di hidup mereka. Apa karena mereka masih menganggap gue adalah orang yang gagal? Atau karena gue tidak menikah dengan orang yang menjadi ekspektasi mereka?
Gue pada akhirnya jadi memikirkan hal ini karena saat ini, di posisi gue saat ini, gue sangat membutuhkan sosok orang tua gue. Papa udah nggak ada. Jadi pada siapa lagi gue bisa sharing selain Mama? Om Reza? Walaupun Om Reza sudah gue anggap sebagai orang tua gue sendiri, tapi Om Reza tetap orang lain. Gue merasa canggung aja untuk membicarakan masalah yang tengah gue hadapi saat itu dengan Om Reza. Lagipula beliau pun nantinya jadi akan mempertanyakan “Emang emak lo kemana, Ja?”
Hanya Emi yang benar-benar menganggap keberadaan gue. Hanya dia saat ini yang menghargai diri gue dibandingkan keluarga gue sendiri. Selalu Emi. Bukan Emi yang meminta atau memaksa gue untuk membuat dia terlihat demikian. Tetapi memang hanya dia yang tak pernah lelah terus mendampingi gue. Dia terus percaya kalo gue bisa berubah menjadi lebih baik, menjadi sosok yang berarti. Yang entah kenapa, tidak lagi dilihat oleh ibu gue sendiri.
Gue membuka folder foto-foto lama gue. Folder dimana gue menyimpan foto-foto Almarhum Papa dan foto keluarga gue. “Pa… Ija kangen.”
(EMI CHAT)
Ya. Emi akan selalu menjadi tempat gue pulang.
---
Sudah hampir jam 18.00, tetapi Emi masih tidak kunjung membalas chat gue satupun. Ini sudah tidak benar. Ini sudah pertanda tidak baik. Emi sepertinya mulai bertingkah lagi. Bukan bertingkah untuk berbuat macam-macam, tetapi bertingkah untuk menghindari gue.
(EMI CHAT)
Dia online. Gue lihat dengan jelas kalo dia onlineketika chat gue baru saja gue kirim! Tapi… chat gue masih tidak kunjung dia respon. Gue tidak melepaskan pandangan gue dari layar HP gue.
Lalu mendadak dia kembali offline. “Ah t*i! Dia kan nggak make centang biru! Mana tau dia udah baca chat gue apa belum! Tapi gue yakin dia pasti udah baca chat gue!”
(EMI CHAT)
Dia onlinelagi. Yang kemudian kembali offline. Gue yakin, dia sudah membaca semua chat gue. Tidak salah lagi, dia sedang menghindar dari gue. “Kenapa sih dia malah nambah-nambah masalah aja? Elah!” Gue mengarahkan diri ke garasi dan mengambil kunci motor. Naik motor adalah solusi tercepat menuju ke rumah Emi yang perjalanannya terkenal melewati titik macet di beberapa tempat. “Gue harus langsung nyamperin dia. Kalo dia begini, sampe lebaran kuda juga nggak akan bales sama sekali dia!”
--
Sekitar 40 menit gue menempuh perjalanan menuju rumah Emi. Suasana kompleknya terlihat lengang dan sepi. Saat itu sudah cukup malam. Mungkin bagi mereka yang bekerja di Ibukota, mereka baru saja sampai di rumah. Termasuk kami. Kalo Emi tidak membuat drama menghindar seperti ini, kami mungkin sedang mempersiapkan makan malam.
TIN. TIN.
Gue membunyikan klakson motor gue tepat ketika gue sampai di depan rumah Emi. Gue memarkirkan motor di depan rumahnya. Kemudian gue memeriksa HP gue kembali. Masih tidak ada jawaban dari Emi. Tapi gue yakin, Emi sudah sampai di rumah. “Mobil ada. Motor bokapnya nggak ada. Apa mungkin dia pergi sama bokapnya? Tapi ngapain? Kemana? Masa ninggalin nyokapnya sendirian di rumah?” gumam gue perlahan.
TIN. TIN.
Gue kembali membunyikan klakson motor gue. Gue masih berpikir positif. Mungkin Emi sedang mandi jadi tidak mendengar suara klakson motor gue sebelumnya. 1 menit gue menunggu jawaban. Masih tidak juga ada jawaban.
Gue berusaha memeriksa jendela yang ada di rumahnya. Siapa tahu dia sedang mengintip dari balik tirai jendela rumah dia. Kebiasaan jelek dia ketika ada tamu. Entah kenapa gue yakin, dia tau kalo gue yang datang ke rumah dia.
Gue buka HP gue dan menghubungi dia. Terdengar suara ringtone HP dia. Gue bisa dengar dengan jelas suara lagu ‘Kala’ dari band DIVIDE terdengar dari dalam rumahnya. Suaranya terdengar cukup kencang yang artinya dia tidak ada di kamar mandi. Mungkin tebakan gue benar, dia sedang mengintip dibalik tirai jendela rumahnya.
DIVIDE - KALA
Gue tutup telepon gue dan segera mengirimkan chat pada dia.
(EMI CHAT)
Masih tidak ada jawaban. “Anj*ng emang ini anak!”
(EMI CHAT)
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNN.
Gue sudah tidak peduli dengan apa pendapat tetangga Emi ketika mereka mendengar suara klakson panjang di komplek rumah mereka. Biar malu sekalian dah kita berdua. Gue sebenarnya bisa langsung masuk ke rumahnya. Gue hanya tidak ingin terlalu menekan dia. Dia pasti punya alasan (yang gue tidak tahu apa) mengapa dia sampai menghindar seperti ini dengan gue. Gue memilih dia yang willinglymembukakan pintu untuk gue dan mengundang gue untuk masuk.
“Lo kenapa sih?” Dan ternyata ampuh. Pasti.
“Harusnya gue yang nanya, lo kenapa hah?” Gue sadar, tiap bentakan dia pasti menambah rentetan sakit hati dia pada gue. Entah kenapa, saat itu gue sedang emosi-emosinya. Gue seharian ini tidak bisa meluapkan emosi gue. Ketika gue ingin mencurahkan emosi gue pada dia dengan bercerita, gue malah berujung membentaknya.
“………” Dia sama sekali tidak menjawab omongan gue.
Biar gue yang memulai obrolan kami. “Gue chat lo dari pagi. Gue jujur sama lo tentang kondisi gue. Gue pikir bisa diomongin. Bantu gue mikir kek atau apaan kek! Ini malah diem aja!”
“Gue udah mau bales—”
Belum sempat gue dengar jawaban dia sampai selesai, gue lanjutin lagi omongan gue. “Sampe gue mau jemput lo pulang pun, lo tetep nggak mau bukan? Apa itu namanya kalo bukan ngehindar? Masih juga lo usaha buat bikin gue mundur? NGGAK AKAN NGARUH! NGERTI!?”
Gue sedang pingin didengarkan olehnya. Malam ini gue sedang pingin ada orang yang mendengarkan gue dan membiarkan emosi gue keluar.
“Bisa nggak sih lo nggak usah teriak begitu?”
“Kenapa? Suka-suka gue lah! Sekarang ada yang ngelarang gue ngomong? Segitunya gue ngomong biasa aja loh ini! Ga teriak-teriak kok!” Sengaja gue perbesar volume suara gue biar kalo ada orang yang menguping pembicaraan kami dari dalam rumah mereka, mereka enggan untuk nimbrung.
“Gue emang nggak secantik pacar-pacar lo! Tapi gue nggak bodoh juga, Zy! Gue bisa bedain yang namanya ngomong BIASA AJA! SAMA TERIAK! Budek lo sekarang gara-gara helm lo?”
“Apaan sih? Kok malah jadi lo yang nyolot?”
“Buruan ah mau ngapain sih? Udah malem. Besok gue mau kerja! Lagian emang nggak bisa apa diomongin dichat atau besok aja sekalian?”
Dia lagi becanda bukan? “Chat? Chat gue yang tadi siang aja nggak lo bales-bales, terus sekarang lo minta gue chat lo lagi???”
Dia nengok ke kanan dan kiri. Kayaknya memastikan tetangga dia tidak ada yang keluar untuk menyaksikan drama FTV kami yang sedang siaran langsung. “Plis ngomongnya biasa aja, nggak usah marah-marah melulu. Emang apa lagi yang mau diomongin?”
Gue perhatikan ulang raut wajahnya. Dia memang sudah terlihat kelelahan. Emi itu kalo sudah lelah, mukanya kayak orang bangun tidur. Rasanya gue pingin sekali memeluk dia dan mengajak dia masuk ke dalam rumah dia. Tapi sepertinya momennya tidak tepat. “Tentang resepsi! Gue punya solusi yang sebenernya—”
Dia memotong omongan gue. “Resepsi? Kok udah loncat aja ke urusan resepsi?” Dia menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya dengan apa yang gue bicarakan. Memang apa salahnya gue membahas tentang resepsi? Memang itu kan yang seharusnya sedang kami bahas.
“Ya urusan resepsi lah! Emang apa lagi yang mau diomongin? Semalem gue kesini itu kita lagi ngebahas urusan resepsi! Emang ada urusan apa lagi yang mau diomongin sih? Banyak bener perasaan nggak kelar-kelar. Elah!”
“Emang lo pikir gue bisa dengan gampangnya ngelupain urusan Kak Arasti, Kak Tifani, sama Hana, Zy? Kenapa nggak teriak lagi, Zy? Nggak punya backingan jawaban pas aku mau nanyain ini?”
Cewek-cewek itu lagi? Ya Tuhan. Gue kira udah beres gitu aja. Gue kayaknya udah jelasin deh siapa Tifani sama Arasti. Kenapa masih jadi perkara banget sih? Gue juga udah blokir Hana sama Edna. Emang cewek-cewek itu masih juga gangguin Emi? T*i amat sih. Elah! Nyusahin!
Gue biasanya berangkat kerja sekitar pukul 10.00 atau 11.00 dari rumah dan sampai di kantor sekitar pukul 12.00 siang. Tapi karena kali ini gue sedang banyak pikiran dan ingin mencoba menghabiskan waktu gue dengan bekerja, gue berangkat lebih pagi lagi.
Here I am! Sudah di kantor sejak jam 10.00 dan tidak ada pekerjaan yang selesai! Setiap kali gue sudah mulai fokus dengan pekerjaan gue, pikiran gue tentang permintaan bapaknya Emi terus kembali seakan mengingatkan gue kalo urusan ini harus segera dibuat keputusannya.
Gue ambil HP gue yang berdiri di standing holder meja kerja gue. “Belum ada jawaban juga dari Emi. Ini dia yang sibuk apa dia yang malah menghindari gue sih?” gumam gue. Chat gue sejak pagi tadi belum kunjung ada balasan. Padahal gue sama sekali tidak mencoba menyulut perdebatan dengan dia. Gue hanya mencoba mengajak dia diskusi, bagaimana baiknya mengenai resepsi pernikahan kami ini.
Gue jujur sama dia tentang hasil percakapan keluarga kecil gue pagi tadi, Mama dan Dania kurang setuju dengan adanya resepsi pernikahan kami. Tetapi dia sama sekali tidak kunjung memberikan respon atas pernyataan yang gue kirimkan tersebut. Apakah dia sekarang ada di pihak Bapaknya dan kemudian kecewa pada gue? Atau dia juga berada di kondisi yang sama dengan gue yang kini tengah merasa kesal, bingung, marah, tidak bisa fokus, dan kalut?
Perkara resepsi pernikahan ini benar-benar membuat pusing kepala. Tidak hanya karena di luar rencana yang sudah kami rancang, tetapi utamanya karena kami pun tidak mempersiapkan budget sepeserpun untuk persiapan resepsi pernikahan itu sendiri. Kami sudah membicarakan hal ini sedari awal gue menyatakan komitmen gue pada Emi, “Pernikahan kami nanti cukup akad nikah saja, nggak perlu ada resepsi pernikahan.”
Budget yang ada saat ini hanya budget hingga akad nikah dan kumpul bersama pasca akad nikah sederhana kami. Tidak lebih. Karena sisanya, kami harus fokus dengan biaya membangun keluarga kami nanti.
Rusak! Keadaan yang sudah gue rancang sedemikian sederhana (tetapi tetap berkualitas) layaknya warteg-warteg yang menjamur di ibukota bersama Emi untuk perayaan sambung hati kami ini malah menemui batu kerikil, yang malah ditebar oleh orang tua Emi sendiri.
Gue berterima kasih pada Om Reza, sosok keluarga pengganti Almarhum Papa, yang bisa memberikan penjelasan dan pengertian dari keluarga besar gue mengenai lokasi akad nikah kami dan kondisi dari ibunya Emi. Beliau berharap keluarga besar gue tidak menuntut untuk tetap melaksanakan resepsi pernikahan seperti sepupu-sepupu gue. Jadi, gue akan jadi yang pertama (mungkin yang terakhir) tidak melaksanakan resepsi pernikahan dan tidak memiliki foto pelaminan bersama keluarga besar. Hebatnya, keluarga besar gue bisa menerima itu dan tidak berkeberatan. Mereka semua bisa memaklumi. Satu masalah sudah bisa teratasi sendiri.
Tetapi hadir masalah berikutnya, Mama dan Dania (selaku keluarga terdekat gue) langsung menembak gue secara terang-terangan bahwa mereka tidak bisa membantu apapun menyangkut pernikahan gue. Gue memang sudah membicarakan mengenai modal nikah gue yang sama sekali tidak bisa dibantu oleh mereka. Tapi… masa mereka juga tidak bisa membantu gue sekedar support atau mungkin ikut terlibat di setiap tahapan persiapannya gitu?
Entah Mama sadar atau tidak, makin lama makin jelas gue rasain kalo Mama lebih banyak memikirkan keluarga kecil Dania. Apa-apa yang ada di hidup gue sekarang selalu keluarga Dania yang dijadikan sebagai tolok ukurnya. Terutama ketika gue akan membuat sebuah keputusan, yang pertama Mama pertimbangkan adalah efek yang mungkin akan ditimbulkan ke keluarga Dania. Jika gue coba usulan A, Mama selalu memikiran nanti efeknya kepada Dian seperti apa atau efeknya ke Dania bagaimana. Namun Mama tidak pernah memikirkan sebaliknya. Mama hampir tidak pernah melihat dari sisi gue sendiri sebagai salah satu anak kandungnya juga.
Memang gue pernah bilang sebelumnya. “Ya sudahlah, gue nggak mau nambah beban pikiran gue dan juga bikin perkara di rumah. Gue nggak mau debat lagi sama Mama. Kalo Mama mau peduli dan bantu gue, gue sangat bersyukur. Kalo Mama mau melepas gue pun, gue bisa apa? Setidaknya beliau masih mau memberi restu untuk pernikahan gue ini. Satu yang gue pegang untuk saat ini, gue akan hidup berdua dengan Emi dan pergi jauh dari kedua keluarga kami KALAU keadaannya terus seperti ini.”
Tetapi… masa iya Mama sama sekali tidak menganggap keberadaan gue? Gue loh! Anak pertama beliau. Anak laki-laki pertama beliau. Gue wali pernikahan Dania karena Almarhum Papa udah nggak ada. Gue seakan tidak berarti lagi di hidup mereka. Apa karena mereka masih menganggap gue adalah orang yang gagal? Atau karena gue tidak menikah dengan orang yang menjadi ekspektasi mereka?
Gue pada akhirnya jadi memikirkan hal ini karena saat ini, di posisi gue saat ini, gue sangat membutuhkan sosok orang tua gue. Papa udah nggak ada. Jadi pada siapa lagi gue bisa sharing selain Mama? Om Reza? Walaupun Om Reza sudah gue anggap sebagai orang tua gue sendiri, tapi Om Reza tetap orang lain. Gue merasa canggung aja untuk membicarakan masalah yang tengah gue hadapi saat itu dengan Om Reza. Lagipula beliau pun nantinya jadi akan mempertanyakan “Emang emak lo kemana, Ja?”
Hanya Emi yang benar-benar menganggap keberadaan gue. Hanya dia saat ini yang menghargai diri gue dibandingkan keluarga gue sendiri. Selalu Emi. Bukan Emi yang meminta atau memaksa gue untuk membuat dia terlihat demikian. Tetapi memang hanya dia yang tak pernah lelah terus mendampingi gue. Dia terus percaya kalo gue bisa berubah menjadi lebih baik, menjadi sosok yang berarti. Yang entah kenapa, tidak lagi dilihat oleh ibu gue sendiri.
Gue membuka folder foto-foto lama gue. Folder dimana gue menyimpan foto-foto Almarhum Papa dan foto keluarga gue. “Pa… Ija kangen.”
(EMI CHAT)
Quote:
Ya. Emi akan selalu menjadi tempat gue pulang.
---
Sudah hampir jam 18.00, tetapi Emi masih tidak kunjung membalas chat gue satupun. Ini sudah tidak benar. Ini sudah pertanda tidak baik. Emi sepertinya mulai bertingkah lagi. Bukan bertingkah untuk berbuat macam-macam, tetapi bertingkah untuk menghindari gue.
(EMI CHAT)
Quote:
Dia online. Gue lihat dengan jelas kalo dia onlineketika chat gue baru saja gue kirim! Tapi… chat gue masih tidak kunjung dia respon. Gue tidak melepaskan pandangan gue dari layar HP gue.
Lalu mendadak dia kembali offline. “Ah t*i! Dia kan nggak make centang biru! Mana tau dia udah baca chat gue apa belum! Tapi gue yakin dia pasti udah baca chat gue!”
(EMI CHAT)
Quote:
Dia onlinelagi. Yang kemudian kembali offline. Gue yakin, dia sudah membaca semua chat gue. Tidak salah lagi, dia sedang menghindar dari gue. “Kenapa sih dia malah nambah-nambah masalah aja? Elah!” Gue mengarahkan diri ke garasi dan mengambil kunci motor. Naik motor adalah solusi tercepat menuju ke rumah Emi yang perjalanannya terkenal melewati titik macet di beberapa tempat. “Gue harus langsung nyamperin dia. Kalo dia begini, sampe lebaran kuda juga nggak akan bales sama sekali dia!”
--
Sekitar 40 menit gue menempuh perjalanan menuju rumah Emi. Suasana kompleknya terlihat lengang dan sepi. Saat itu sudah cukup malam. Mungkin bagi mereka yang bekerja di Ibukota, mereka baru saja sampai di rumah. Termasuk kami. Kalo Emi tidak membuat drama menghindar seperti ini, kami mungkin sedang mempersiapkan makan malam.
TIN. TIN.
Gue membunyikan klakson motor gue tepat ketika gue sampai di depan rumah Emi. Gue memarkirkan motor di depan rumahnya. Kemudian gue memeriksa HP gue kembali. Masih tidak ada jawaban dari Emi. Tapi gue yakin, Emi sudah sampai di rumah. “Mobil ada. Motor bokapnya nggak ada. Apa mungkin dia pergi sama bokapnya? Tapi ngapain? Kemana? Masa ninggalin nyokapnya sendirian di rumah?” gumam gue perlahan.
TIN. TIN.
Gue kembali membunyikan klakson motor gue. Gue masih berpikir positif. Mungkin Emi sedang mandi jadi tidak mendengar suara klakson motor gue sebelumnya. 1 menit gue menunggu jawaban. Masih tidak juga ada jawaban.
Gue berusaha memeriksa jendela yang ada di rumahnya. Siapa tahu dia sedang mengintip dari balik tirai jendela rumah dia. Kebiasaan jelek dia ketika ada tamu. Entah kenapa gue yakin, dia tau kalo gue yang datang ke rumah dia.
Gue buka HP gue dan menghubungi dia. Terdengar suara ringtone HP dia. Gue bisa dengar dengan jelas suara lagu ‘Kala’ dari band DIVIDE terdengar dari dalam rumahnya. Suaranya terdengar cukup kencang yang artinya dia tidak ada di kamar mandi. Mungkin tebakan gue benar, dia sedang mengintip dibalik tirai jendela rumahnya.
DIVIDE - KALA
Gue tutup telepon gue dan segera mengirimkan chat pada dia.
(EMI CHAT)
Quote:
Masih tidak ada jawaban. “Anj*ng emang ini anak!”
(EMI CHAT)
Quote:
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNN.
Gue sudah tidak peduli dengan apa pendapat tetangga Emi ketika mereka mendengar suara klakson panjang di komplek rumah mereka. Biar malu sekalian dah kita berdua. Gue sebenarnya bisa langsung masuk ke rumahnya. Gue hanya tidak ingin terlalu menekan dia. Dia pasti punya alasan (yang gue tidak tahu apa) mengapa dia sampai menghindar seperti ini dengan gue. Gue memilih dia yang willinglymembukakan pintu untuk gue dan mengundang gue untuk masuk.
“Lo kenapa sih?” Dan ternyata ampuh. Pasti.
“Harusnya gue yang nanya, lo kenapa hah?” Gue sadar, tiap bentakan dia pasti menambah rentetan sakit hati dia pada gue. Entah kenapa, saat itu gue sedang emosi-emosinya. Gue seharian ini tidak bisa meluapkan emosi gue. Ketika gue ingin mencurahkan emosi gue pada dia dengan bercerita, gue malah berujung membentaknya.
“………” Dia sama sekali tidak menjawab omongan gue.
Biar gue yang memulai obrolan kami. “Gue chat lo dari pagi. Gue jujur sama lo tentang kondisi gue. Gue pikir bisa diomongin. Bantu gue mikir kek atau apaan kek! Ini malah diem aja!”
“Gue udah mau bales—”
Belum sempat gue dengar jawaban dia sampai selesai, gue lanjutin lagi omongan gue. “Sampe gue mau jemput lo pulang pun, lo tetep nggak mau bukan? Apa itu namanya kalo bukan ngehindar? Masih juga lo usaha buat bikin gue mundur? NGGAK AKAN NGARUH! NGERTI!?”
Gue sedang pingin didengarkan olehnya. Malam ini gue sedang pingin ada orang yang mendengarkan gue dan membiarkan emosi gue keluar.
“Bisa nggak sih lo nggak usah teriak begitu?”
“Kenapa? Suka-suka gue lah! Sekarang ada yang ngelarang gue ngomong? Segitunya gue ngomong biasa aja loh ini! Ga teriak-teriak kok!” Sengaja gue perbesar volume suara gue biar kalo ada orang yang menguping pembicaraan kami dari dalam rumah mereka, mereka enggan untuk nimbrung.
“Gue emang nggak secantik pacar-pacar lo! Tapi gue nggak bodoh juga, Zy! Gue bisa bedain yang namanya ngomong BIASA AJA! SAMA TERIAK! Budek lo sekarang gara-gara helm lo?”
“Apaan sih? Kok malah jadi lo yang nyolot?”
“Buruan ah mau ngapain sih? Udah malem. Besok gue mau kerja! Lagian emang nggak bisa apa diomongin dichat atau besok aja sekalian?”
Dia lagi becanda bukan? “Chat? Chat gue yang tadi siang aja nggak lo bales-bales, terus sekarang lo minta gue chat lo lagi???”
Dia nengok ke kanan dan kiri. Kayaknya memastikan tetangga dia tidak ada yang keluar untuk menyaksikan drama FTV kami yang sedang siaran langsung. “Plis ngomongnya biasa aja, nggak usah marah-marah melulu. Emang apa lagi yang mau diomongin?”
Gue perhatikan ulang raut wajahnya. Dia memang sudah terlihat kelelahan. Emi itu kalo sudah lelah, mukanya kayak orang bangun tidur. Rasanya gue pingin sekali memeluk dia dan mengajak dia masuk ke dalam rumah dia. Tapi sepertinya momennya tidak tepat. “Tentang resepsi! Gue punya solusi yang sebenernya—”
Dia memotong omongan gue. “Resepsi? Kok udah loncat aja ke urusan resepsi?” Dia menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya dengan apa yang gue bicarakan. Memang apa salahnya gue membahas tentang resepsi? Memang itu kan yang seharusnya sedang kami bahas.
“Ya urusan resepsi lah! Emang apa lagi yang mau diomongin? Semalem gue kesini itu kita lagi ngebahas urusan resepsi! Emang ada urusan apa lagi yang mau diomongin sih? Banyak bener perasaan nggak kelar-kelar. Elah!”
“Emang lo pikir gue bisa dengan gampangnya ngelupain urusan Kak Arasti, Kak Tifani, sama Hana, Zy? Kenapa nggak teriak lagi, Zy? Nggak punya backingan jawaban pas aku mau nanyain ini?”
Cewek-cewek itu lagi? Ya Tuhan. Gue kira udah beres gitu aja. Gue kayaknya udah jelasin deh siapa Tifani sama Arasti. Kenapa masih jadi perkara banget sih? Gue juga udah blokir Hana sama Edna. Emang cewek-cewek itu masih juga gangguin Emi? T*i amat sih. Elah! Nyusahin!
Diubah oleh yanagi92055 20-04-2021 19:03
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup
dan bintang 5 
