- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.7K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#309
Kehilangan_Part 4
Sepanjang perjalanan menuju bandara, kami tidak hanya saling berdiam diri. Kami, gue dan Bapaknya, membicarakan banyak hal. Tidak melulu hanya membahas hal-hal yang berkaitan dengan gue dan Emi. Bapaknya Emi adalah lawan bicara yang asyik.
“Om. Tadi pagi saya udah ditelepon sama Mbah tentang hari baiknya…” kata gue di tengah perjalanan. Gue menjelaskan pada Bapak Ibunya tanggal Lamaran kami yang jatuh di akhir bulan pada Bulan Ketiga dan Akad nikah yang jatuh di dua bulan berikutnya. Hari pernikahan kami bahkan tidak sampai 6 bulan lagi! Dan gue baru sadar itu!
“Alhamdulillah. Walaupun beda tanggal, tapi ternyata masih di perhitungannya Om sih ini. Kalau Om kepikiran Akad-nya antara hari Minggu dan Senin. Soalnya beda lahir antara tanggal lahir kalian itu bikin. Ah pokoknya hitungan Om antara hari Minggu dan Senin.”
“Senin, Om?” Gue tidak keberatan jika pada akhirnya nanti pernikahan gue disepakati untuk dilaksanakan di hari Senin. Tetapi apa tidak lebih baik jika dilaksanakan di akhir Minggu agar semua orang bisa hadir tanpa harus meminta izin dari kantor masing-masing?
“Keluarga Om sih nggak ada yang keberatan, Ji. Maklum, di kampung mah nikah di hari kerja teh geus teu aneh. Hehehe. Tetapi terserah keluarga kamu juga.” Ingin rasanya gue bicarakan dulu hal ini dengan keluarga besar gue, tapi gue sangat amat yakin mereka agak keberatan dengan acara pernikahan yang diadakan di hari Senin. Apalagi kalo ternyata ada pilihan lain di hari Minggu.
Tadi pagi setelah Mbah Kakung menghubungi gue mengenai tanggal keputusan Lamaran dan Akad Nikah kami, gue langsung memberi kabar pada Mama dan keluarga Om Reza. Namun Om Reza belum memberi kabar ke keluarga besar Papa karena belum ada keputusan dari keluarga Emi. Om Reza tidak ingin melangkahi keputusan keluarga Emi. Jadi, memang belum ada keputusan pasti. Masih bisa diubah.
Tapi sekali lagi, pernikahan di hari Senin bagi gue sama Emi? Hmm. Sepertinya Emi pun akan menolaknya. Emi akan sependapat dengan gue. Pada dasarnya gue dan Emi selalu heran jika ada yang mengadakan resepsi di hari kerja. Masa iya sekarang gue dan Emi malah mengikuti hal yang kami herankan tersebut? Memang sih itu ada urusannya sama adat dan hitung-hitungan, tapi gue lebih memilih logika dan akomodir kepentingan lebih banyak orang.
“Kalo di hitungan Om bisa di hari Minggu sih. Lebih baik di hari Minggu-nya aja Om. Tapi nanti saya omongin juga sama Mbah dan keluarga besar. Untuk sementara, udah sama-sama setuju sama tanggal Lamaran dan Akad Nikah-nya ya jadinya, Om?” tanya gue pada Bapaknya Emi. Sekedar memastikan.
“Bismillah udah siap, Ji. Hmm. Tapi untuk....” Bapaknya Emi kelihatan belum mantap dengan keputusannya. Seperti masih ada hal yang ingin beliau bicarakan dengan gue.
Dret. Dret. Dret.
HP gue bunyi. Gue tidak suka bermain handphone ketika mengendarai kendaraan. Tetapi ketika gue melihat nama yang muncul adalah Emi, gue membaca chatnya sekilas.
(EMI CHAT)
“Pasti ini si Hana deh ngeresin si Emi. Elah!” kata gue dalam hati.
“Emi udah mau take-off, Ji.” kata Bapaknya mendadak.
Oh jadi dia menghubungi gue dan Bapaknya sebelum dia take-off. “Untung gue bareng dengan Bapak Ibunya, jadi gue tau kabar dia.”
“Alhamdulillah. Semoga lancar sampe Jakarta ya, Om.”
“Amiiin…” Tetapi karena chat Emi tersebut, obrolan Bapaknya Emi tersebut tidak kami lanjutkan kembali.
---
Pada momen perjalanan ini, gue banyak mendapatkan insightterkait dengan Emi. Insight di sini bukan berarti gue belum mengenal Emi dengan baik sebelumnya. Tetapi insight di sini maksudnya, sebagai pembuktian bahwa beberapa tanda tanya gue selama ini akhirnya mendapatkan jawaban. Terutama pertanyaan gue, mengapa Emi bisa tumbuh menjadi cewek yang tegar dan sabar seperti sekarang. Atau mungkin biasa disebut sama orang, mengapa Emi bisa menjadi cewek-yang-tolol-yang-mau-mau-aja-disakitin-sama-Ija.
Emi adalah anak tunggal. Menurut teorinya, Emi seharusnya tumbuh menjadi anak manja, egois, bossy, kesepian, dan sulit bersosialisasi (cenderung menjadi antisosial). Tetapi ketika pertama kali gue mengenal Emi, gue tidak berpikir demikian.
Emi adalah cewek hebat. Dia selalu berpikir jauh kedepan melampaui teman-teman seusianya. Itu yang gue tau dari diary yang pernah gue baca sebelumnya. Emi anak yang mandiri. Bahkan dia sangat amat peduli dengan teman-teman toxic-nya dan gue, cowok bodoh yang selama ini banyak menyia-nyiakan dia. Darimana datangnya dia termasuk anak manja, egois, dan bossy? Walaupun memang benar, dia memang terkadang terlihat sulit bersosialisasi, hanya di awal. Dia bukan termasuk anak yang antisosial.
Gue mencoba membahas Emi. Gue menceritakan ulang beberapa pencapaian Emi di pekerjaan dia seperti bagaimana beberapa laporan yang Emi buat menjadi standar di kantornya, bagaimana Emi di-notice oleh Owner kantornya, dan banyak hal lainnya. Termasuk bagaimana Emi yang telah membantu gue menyelesaikan tugas-tugas gue tanpa harus mengikuti perkuliahan di kampus.
Tahu bagaimana respon Bapaknya?
“Halah. Itu mah biasa dikerjaan, Ji. Semua orang juga bisa kayak begitu…” dan merespon begini “Anak tetangga ada yang masuk Universitas Terbuka, itu teh nggak pernah masuk ke kelas ketemu sama dosennya. Tapi bisa lulus dengan 'Dengan Pujian' (cumlaude). Emi mah biasa bisa begitu.”
Ingin rasanya gue jawab “BEDAAA! Coba gue diumur yang sama dengan Emi, dimana posisi gue dulu? Gue diumur yang sama dengan Emi emang udah bisa nanganin berapa pekerjaan dulu? Terus Universitas Terbuka itu emang nggak banyak tatap muka dengan dosen, tapi MEREKA BISA DISKUSI DENGAN DOSENNYA! Emi ini cuma modal diktat doang tanpa ketemu dosen tapi bisa ngerjain tugas gue! Bahkan setengah dari keseluruhan tesis gue adalah hasil pemikiran dia, dan brainstorming bareng dia! BEDAAA!” Sayang, gue hanya bisa menjelaskannya di alam pikiran gue saja.
Benar tebakan gue, dia harus lebih diapresiasi di keluarganya sendiri.
Selain urusan pekerjaan, gue mencoba beberapa kali memancing orang tuanya dengan membicarakan masalah kemampuan Emi yang gue rasa spesial, yaitu memasak. Mungkin zaman sekarang agak tabu jika membahas mengenai kemampuan memasak seorang cewek. Apalagi ketika online delivery sudah semakin mempermudah urusan perut ini. Cewek bisa memasak bukan lagi menjadi sebuah kewajiban apalagi menjadi sesuatu yang spesial.
Gue pun tidak memaksa Emi untuk wajib bisa memasak. Hanya saja, ternyata Emi diam-diam sudah memiliki kemampuan memasak yang tidak gue duga. Gue perhatikan, Emi tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tersebut di keluarga besar maupun keluarga intinya sendiri. Kata-kata ‘alah’, atau ‘ah....’ selalu mengawali apapun yang gue nyatakan ketika memuji kemampuan Emi tersebut.
“Ah biasa aja, Ji.” I’ve told you. “Nggak usah dibanggain banget itu mah. Keluarga kita mah semuanya teh bisa masak. Om juga bisa masak. Kakek sama paman-paman Emi teh semuanya ge biasa masak, Ji. Nggak cuma Emi doang. Hahaha. Om juga yakin, sepupu-sepupu Emi juga bisa masak kayak Emi. Bahkan mungkin lebih jago dari Emi. Kamunya aja nggak pernah tau.” Well, karena memang gue tidak pernah melihat mereka pernah ada di dapur juga selama kumpul keluarga mereka. “Dari jaman Om kecil teh, masak udah wajib bisa. Itu teh salah satu kemampuan wajib untuk hidup mandiri. Namanya juga hidup di kampung, kalau suatu saat merantau ke kota terus indekost, ya harus bisa masak biar hemat biaya hidup.”
Bapaknya Emi adalah seorang yang jago masak. Gue diberi tahu oleh Emi kalau kemampuan memasak Bapaknya jauh lebih baik ketimbang ibunya. Memang harus diakui, rasa masakan Bapaknya Emi lebih cocok di lidah gue ketimbang masakan Mama (gue). Tapi bukan berarti kemampuan Emi bisa disamaratakan dengan sepupunya, yang bahkan gue nggak pernah tau mereka bisa masak. Terutama sepupu-sepupunya yang cewek. Bapaknya seakan bilang kalo Emi tidak memiliki keistimewaan apapun. Ini adalah salah satu concern gue terhadap bapaknya Emi. Beliau ini sulit sekali memuji sedikit kemampuan istimewa anaknya sendiri, sementara untuk anak orang lain, termasuk gue, beliau selalu siap sedia memuji setinggi langit.
Berdasarkan banyak cerita Emi dan observasi gue selama tinggal di rumah Emi, sikap Bapaknya inilah yang pada akhirnya membuat Emi menjadi kehilangan rasa percaya dirinya. Tujuan Bapaknya memang baik, agar Emi selalu bersikap rendah hati dan selalu mawas diri, serta tidak jumawa. Emi diharuskan tidak mudah puas dengan segala pencapaiannya agar ia bisa terus improvisasi kemampuan dia. Alih-alih seperti itu, didikan Bapak Ibunya malah membentuk Emi menjadi seseorang yang rendah diri, tidak percaya diri dan berujung menjadi orang yang introvert (terutama di lingkungan rumahnya).
Banyak sekali bahasan untuk memuji Emi. Gue juga mencoba membahas tentang ‘karir’ akademis Emi yang sangat luar biasa sedari kecil. Setidaknya dibandingkan dengan gue atau dengan adik gue yang otaknya juga encer. Harus gue akui bahwa Emi jauh lebih baik daripada Dania atau bahkan dengan gue sendiri.
Emi yang selalu jadi juara kelas dari SD sampai SMA. Bahkan di SMA saja, bisa dia tempuh dalam waktu 1 tahun lebih sedikit (karena dia mengambil Kelas Akselerasi) dengan peringkat yang tidak pernah keluar dari 5 besar di kelas kumpulan anak-anak pintar tersebut. Ketika gue mengajak mereka untuk membahas prestasi Emi tersebut, kedua orang tua-nya tidak merespon sama sekali. Jawabannya “Ah biasa bukan kayak begitu? Tetangga juga ada yang begitu…” Padahal di luar sana, pasti banyak orang tua yang sangat mengharapkan anaknya menjadi seperti Emi.
Bukannya membuat Emi jauh dari jumawa, mereka malah terlihat seperti tidak bersyukur… Betul tidak?
Apa sih salahnya mengapresiasi anak sendiri? Padahal mengapresiasi anak dan meninggikan anak untuk kesenangan batin itu adalah dua hal yang sangat berbeda menurut gue. Anak tidak selalu ingin di apresiasi dengan materi atau hadiah kok. Bagi sebagian anak, sebuah pujian tulus dari kedua orang tua mereka itu sudah dirasa cukup. Gue rasa, itu yang sangat dibutuhkan Emi.
Emi nggak pernah mendapatkan itu semua dari kedua orang tuanya selama ini. Hanya reward berupa materi, atau hadiah-hadiah barang tertentu yang (menurut mereka) dibutuhkan Emi. Itupun tanpa mereka sempat menanyakan pada Emi sama sekali. Secara fisik mungkin terhibur. Tetapi secara mental? Itulah yang sebenarnya merusak Emi.
Dia tumbuh menjadi orang yang tidak enakan ketika mendapatkan apresiasi dari orang lain. Misalnya ketika dia mendapatkan apresiasi dipekerjaannya, dia akan menolak apresiasi mereka dengan jawaban “Ini bukan apa-apa kok. Masih banyak yang lebih hebat dari gue.” Kalau mereka mengenal Emi, mereka akan biasa saja. Tetapi bagaimana kalo mereka adalah orang yang baru saja mengenal Emi? Apa Emi tidak terdengar sombong atau terkesan merendah untuk meninggi?
“Emi dikasih makanan juga udah seneng banget kok. Dia mah anaknya nggak pernah minta macem-macem, Ji. Jadi nggak akan nyusahin kamu.” tambah Bapaknya.
Nyusahin? Sejak kapan Emi menyusahkan hidup gue? Yang ada malah gue berulang kali menyusahkan hidup dia. Mindset dari orang tua dia yang bilang ‘Hidup kamu jangan pernah nyusahin orang lain, kalo nggak nanti kamu dijauhin orang lain’ ini yang juga membuat Emi selalu memikirkan orang lain dan selalu menyakiti dirinya sendiri.
Buktinya? Dia selalu memaafkan gue ketika gue dan semua teman-teman toxic-nya walopun kami sudah berulang kali membuat kesalahan terhadapnya bahkan hingga menyakiti perasaannya. Emi memilih untuk selalu mengalah dan membiarkan dirinya yang tersakiti daripada dia melihat orang lain menderita karena dia tidak ingin ada orang lain sedih. “Lebih baik aku yang sakit atau sedih daripada mereka…” Itu kalimat dia setiap kali dia harus mengalah.
Terus bagi mereka semua hal yang gue sebutkan di atas adalah hal yang lumrah dimiliki setiap orang? Kalo begitu ceritanya, buat apa gue melakukan pencarian ketika ingin mendapatkan pasangan? Gue bisa saja menikahi setiap cewek yang gue temui saat itu juga. Tetapi tidak begitu kan? Gue masih harus memilah yang pada akhirnya pencarian gue berakhir pada Emi.
Harusnya, Bapak Ibunya Emi bisa mengenal dan memahami Emi lebih dalam. Mereka seharusnya bersyukur memiliki Emi. Terutama ketika Emi masih terus ingin berbakti pada mereka tanpa menjadi anak broken home karena haus akan kehangatan kedua orang tuanya.
Tidak terasa membicarakan hal-hal positif dari seorang Emi membuat perjalanan terasa lebih singkat. Tanpa terasa, kini gue sudah sampai di parkiran bandara. Terminal 2 yang menjadi tempat kedatangan pesawat yang membawa Emi dari Bali sudah ada di depan mata. Gue memarkirkan mobil dekat terminal kedatangannya.
“Saya turun dulu Om… Harusnya Emi landing 15 menit lagi.”
“Iya, Om tunggu di sini aja ya, Ji.”
Gue turun dengan meninggalkan kedua orang tua Emi di mobil yang tetap menyala AC-nya dan gue buka sedikit kaca depan sisi kanan kiri untuk sirkulasi. Gue berlari kecil menuju ke dekat pintu kedatangan yang mana harusnya jika sesuai jadwal, Emi akan keluar dari pintu tersebut sekitar 15 menit lagi.
Terminal Kedatangan saat ini cukup ramai, karena mungkin ini adalah hari minggu. Ketika gue datang ke tempat ini, biasanya selalu sepi karena gue naik pesawat di hari kerja dan tiba di ibukota lewat jam 8 malam sehingga kondisinya tidak seramai ini. Biasanya juga gue langsung keluar untuk menunggu bis menuju kota tempat tinggal gue.
Gue duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sana. Gue mengeluarkan HP gue untuk memeriksa apakah chat yang gue kirim pada Emi ketika Emi take-off tadi sudah terkirim atau belum. Iya, gue sempat mengirimkan chat pada dia ketika gue mengendarai mobil tadi.
Namun, ada satu notifikasi berupa SMS yang menarik perhatian gue.
“Kenapa aku diblokir sih? Aku salah apa sama kamu?”
“Hana? Atau Edna ini?” gumam gue perlahan sembari memeriksa cara penulisan keduanya. Memastikan gue tidak salah merespon SMS dari nomor yang tidak dikenal ini. Soalnya gue yakin ini bukan cewek yang lain lagi. Apalagi Ana.
Ketika gue sedang fokus dengan HP gue… “Kamu ngapain ada di sini?” sapa seseorang di hadapan gue.
“Om. Tadi pagi saya udah ditelepon sama Mbah tentang hari baiknya…” kata gue di tengah perjalanan. Gue menjelaskan pada Bapak Ibunya tanggal Lamaran kami yang jatuh di akhir bulan pada Bulan Ketiga dan Akad nikah yang jatuh di dua bulan berikutnya. Hari pernikahan kami bahkan tidak sampai 6 bulan lagi! Dan gue baru sadar itu!
“Alhamdulillah. Walaupun beda tanggal, tapi ternyata masih di perhitungannya Om sih ini. Kalau Om kepikiran Akad-nya antara hari Minggu dan Senin. Soalnya beda lahir antara tanggal lahir kalian itu bikin. Ah pokoknya hitungan Om antara hari Minggu dan Senin.”
“Senin, Om?” Gue tidak keberatan jika pada akhirnya nanti pernikahan gue disepakati untuk dilaksanakan di hari Senin. Tetapi apa tidak lebih baik jika dilaksanakan di akhir Minggu agar semua orang bisa hadir tanpa harus meminta izin dari kantor masing-masing?
“Keluarga Om sih nggak ada yang keberatan, Ji. Maklum, di kampung mah nikah di hari kerja teh geus teu aneh. Hehehe. Tetapi terserah keluarga kamu juga.” Ingin rasanya gue bicarakan dulu hal ini dengan keluarga besar gue, tapi gue sangat amat yakin mereka agak keberatan dengan acara pernikahan yang diadakan di hari Senin. Apalagi kalo ternyata ada pilihan lain di hari Minggu.
Tadi pagi setelah Mbah Kakung menghubungi gue mengenai tanggal keputusan Lamaran dan Akad Nikah kami, gue langsung memberi kabar pada Mama dan keluarga Om Reza. Namun Om Reza belum memberi kabar ke keluarga besar Papa karena belum ada keputusan dari keluarga Emi. Om Reza tidak ingin melangkahi keputusan keluarga Emi. Jadi, memang belum ada keputusan pasti. Masih bisa diubah.
Tapi sekali lagi, pernikahan di hari Senin bagi gue sama Emi? Hmm. Sepertinya Emi pun akan menolaknya. Emi akan sependapat dengan gue. Pada dasarnya gue dan Emi selalu heran jika ada yang mengadakan resepsi di hari kerja. Masa iya sekarang gue dan Emi malah mengikuti hal yang kami herankan tersebut? Memang sih itu ada urusannya sama adat dan hitung-hitungan, tapi gue lebih memilih logika dan akomodir kepentingan lebih banyak orang.
“Kalo di hitungan Om bisa di hari Minggu sih. Lebih baik di hari Minggu-nya aja Om. Tapi nanti saya omongin juga sama Mbah dan keluarga besar. Untuk sementara, udah sama-sama setuju sama tanggal Lamaran dan Akad Nikah-nya ya jadinya, Om?” tanya gue pada Bapaknya Emi. Sekedar memastikan.
“Bismillah udah siap, Ji. Hmm. Tapi untuk....” Bapaknya Emi kelihatan belum mantap dengan keputusannya. Seperti masih ada hal yang ingin beliau bicarakan dengan gue.
Dret. Dret. Dret.
HP gue bunyi. Gue tidak suka bermain handphone ketika mengendarai kendaraan. Tetapi ketika gue melihat nama yang muncul adalah Emi, gue membaca chatnya sekilas.
(EMI CHAT)
Quote:
“Pasti ini si Hana deh ngeresin si Emi. Elah!” kata gue dalam hati.
“Emi udah mau take-off, Ji.” kata Bapaknya mendadak.
Oh jadi dia menghubungi gue dan Bapaknya sebelum dia take-off. “Untung gue bareng dengan Bapak Ibunya, jadi gue tau kabar dia.”
“Alhamdulillah. Semoga lancar sampe Jakarta ya, Om.”
“Amiiin…” Tetapi karena chat Emi tersebut, obrolan Bapaknya Emi tersebut tidak kami lanjutkan kembali.
---
Pada momen perjalanan ini, gue banyak mendapatkan insightterkait dengan Emi. Insight di sini bukan berarti gue belum mengenal Emi dengan baik sebelumnya. Tetapi insight di sini maksudnya, sebagai pembuktian bahwa beberapa tanda tanya gue selama ini akhirnya mendapatkan jawaban. Terutama pertanyaan gue, mengapa Emi bisa tumbuh menjadi cewek yang tegar dan sabar seperti sekarang. Atau mungkin biasa disebut sama orang, mengapa Emi bisa menjadi cewek-yang-tolol-yang-mau-mau-aja-disakitin-sama-Ija.
Emi adalah anak tunggal. Menurut teorinya, Emi seharusnya tumbuh menjadi anak manja, egois, bossy, kesepian, dan sulit bersosialisasi (cenderung menjadi antisosial). Tetapi ketika pertama kali gue mengenal Emi, gue tidak berpikir demikian.
Emi adalah cewek hebat. Dia selalu berpikir jauh kedepan melampaui teman-teman seusianya. Itu yang gue tau dari diary yang pernah gue baca sebelumnya. Emi anak yang mandiri. Bahkan dia sangat amat peduli dengan teman-teman toxic-nya dan gue, cowok bodoh yang selama ini banyak menyia-nyiakan dia. Darimana datangnya dia termasuk anak manja, egois, dan bossy? Walaupun memang benar, dia memang terkadang terlihat sulit bersosialisasi, hanya di awal. Dia bukan termasuk anak yang antisosial.
Gue mencoba membahas Emi. Gue menceritakan ulang beberapa pencapaian Emi di pekerjaan dia seperti bagaimana beberapa laporan yang Emi buat menjadi standar di kantornya, bagaimana Emi di-notice oleh Owner kantornya, dan banyak hal lainnya. Termasuk bagaimana Emi yang telah membantu gue menyelesaikan tugas-tugas gue tanpa harus mengikuti perkuliahan di kampus.
Tahu bagaimana respon Bapaknya?
“Halah. Itu mah biasa dikerjaan, Ji. Semua orang juga bisa kayak begitu…” dan merespon begini “Anak tetangga ada yang masuk Universitas Terbuka, itu teh nggak pernah masuk ke kelas ketemu sama dosennya. Tapi bisa lulus dengan 'Dengan Pujian' (cumlaude). Emi mah biasa bisa begitu.”
Ingin rasanya gue jawab “BEDAAA! Coba gue diumur yang sama dengan Emi, dimana posisi gue dulu? Gue diumur yang sama dengan Emi emang udah bisa nanganin berapa pekerjaan dulu? Terus Universitas Terbuka itu emang nggak banyak tatap muka dengan dosen, tapi MEREKA BISA DISKUSI DENGAN DOSENNYA! Emi ini cuma modal diktat doang tanpa ketemu dosen tapi bisa ngerjain tugas gue! Bahkan setengah dari keseluruhan tesis gue adalah hasil pemikiran dia, dan brainstorming bareng dia! BEDAAA!” Sayang, gue hanya bisa menjelaskannya di alam pikiran gue saja.
Benar tebakan gue, dia harus lebih diapresiasi di keluarganya sendiri.
Selain urusan pekerjaan, gue mencoba beberapa kali memancing orang tuanya dengan membicarakan masalah kemampuan Emi yang gue rasa spesial, yaitu memasak. Mungkin zaman sekarang agak tabu jika membahas mengenai kemampuan memasak seorang cewek. Apalagi ketika online delivery sudah semakin mempermudah urusan perut ini. Cewek bisa memasak bukan lagi menjadi sebuah kewajiban apalagi menjadi sesuatu yang spesial.
Gue pun tidak memaksa Emi untuk wajib bisa memasak. Hanya saja, ternyata Emi diam-diam sudah memiliki kemampuan memasak yang tidak gue duga. Gue perhatikan, Emi tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya tersebut di keluarga besar maupun keluarga intinya sendiri. Kata-kata ‘alah’, atau ‘ah....’ selalu mengawali apapun yang gue nyatakan ketika memuji kemampuan Emi tersebut.
“Ah biasa aja, Ji.” I’ve told you. “Nggak usah dibanggain banget itu mah. Keluarga kita mah semuanya teh bisa masak. Om juga bisa masak. Kakek sama paman-paman Emi teh semuanya ge biasa masak, Ji. Nggak cuma Emi doang. Hahaha. Om juga yakin, sepupu-sepupu Emi juga bisa masak kayak Emi. Bahkan mungkin lebih jago dari Emi. Kamunya aja nggak pernah tau.” Well, karena memang gue tidak pernah melihat mereka pernah ada di dapur juga selama kumpul keluarga mereka. “Dari jaman Om kecil teh, masak udah wajib bisa. Itu teh salah satu kemampuan wajib untuk hidup mandiri. Namanya juga hidup di kampung, kalau suatu saat merantau ke kota terus indekost, ya harus bisa masak biar hemat biaya hidup.”
Bapaknya Emi adalah seorang yang jago masak. Gue diberi tahu oleh Emi kalau kemampuan memasak Bapaknya jauh lebih baik ketimbang ibunya. Memang harus diakui, rasa masakan Bapaknya Emi lebih cocok di lidah gue ketimbang masakan Mama (gue). Tapi bukan berarti kemampuan Emi bisa disamaratakan dengan sepupunya, yang bahkan gue nggak pernah tau mereka bisa masak. Terutama sepupu-sepupunya yang cewek. Bapaknya seakan bilang kalo Emi tidak memiliki keistimewaan apapun. Ini adalah salah satu concern gue terhadap bapaknya Emi. Beliau ini sulit sekali memuji sedikit kemampuan istimewa anaknya sendiri, sementara untuk anak orang lain, termasuk gue, beliau selalu siap sedia memuji setinggi langit.
Berdasarkan banyak cerita Emi dan observasi gue selama tinggal di rumah Emi, sikap Bapaknya inilah yang pada akhirnya membuat Emi menjadi kehilangan rasa percaya dirinya. Tujuan Bapaknya memang baik, agar Emi selalu bersikap rendah hati dan selalu mawas diri, serta tidak jumawa. Emi diharuskan tidak mudah puas dengan segala pencapaiannya agar ia bisa terus improvisasi kemampuan dia. Alih-alih seperti itu, didikan Bapak Ibunya malah membentuk Emi menjadi seseorang yang rendah diri, tidak percaya diri dan berujung menjadi orang yang introvert (terutama di lingkungan rumahnya).
Banyak sekali bahasan untuk memuji Emi. Gue juga mencoba membahas tentang ‘karir’ akademis Emi yang sangat luar biasa sedari kecil. Setidaknya dibandingkan dengan gue atau dengan adik gue yang otaknya juga encer. Harus gue akui bahwa Emi jauh lebih baik daripada Dania atau bahkan dengan gue sendiri.
Emi yang selalu jadi juara kelas dari SD sampai SMA. Bahkan di SMA saja, bisa dia tempuh dalam waktu 1 tahun lebih sedikit (karena dia mengambil Kelas Akselerasi) dengan peringkat yang tidak pernah keluar dari 5 besar di kelas kumpulan anak-anak pintar tersebut. Ketika gue mengajak mereka untuk membahas prestasi Emi tersebut, kedua orang tua-nya tidak merespon sama sekali. Jawabannya “Ah biasa bukan kayak begitu? Tetangga juga ada yang begitu…” Padahal di luar sana, pasti banyak orang tua yang sangat mengharapkan anaknya menjadi seperti Emi.
Bukannya membuat Emi jauh dari jumawa, mereka malah terlihat seperti tidak bersyukur… Betul tidak?
Apa sih salahnya mengapresiasi anak sendiri? Padahal mengapresiasi anak dan meninggikan anak untuk kesenangan batin itu adalah dua hal yang sangat berbeda menurut gue. Anak tidak selalu ingin di apresiasi dengan materi atau hadiah kok. Bagi sebagian anak, sebuah pujian tulus dari kedua orang tua mereka itu sudah dirasa cukup. Gue rasa, itu yang sangat dibutuhkan Emi.
Emi nggak pernah mendapatkan itu semua dari kedua orang tuanya selama ini. Hanya reward berupa materi, atau hadiah-hadiah barang tertentu yang (menurut mereka) dibutuhkan Emi. Itupun tanpa mereka sempat menanyakan pada Emi sama sekali. Secara fisik mungkin terhibur. Tetapi secara mental? Itulah yang sebenarnya merusak Emi.
Dia tumbuh menjadi orang yang tidak enakan ketika mendapatkan apresiasi dari orang lain. Misalnya ketika dia mendapatkan apresiasi dipekerjaannya, dia akan menolak apresiasi mereka dengan jawaban “Ini bukan apa-apa kok. Masih banyak yang lebih hebat dari gue.” Kalau mereka mengenal Emi, mereka akan biasa saja. Tetapi bagaimana kalo mereka adalah orang yang baru saja mengenal Emi? Apa Emi tidak terdengar sombong atau terkesan merendah untuk meninggi?
“Emi dikasih makanan juga udah seneng banget kok. Dia mah anaknya nggak pernah minta macem-macem, Ji. Jadi nggak akan nyusahin kamu.” tambah Bapaknya.
Nyusahin? Sejak kapan Emi menyusahkan hidup gue? Yang ada malah gue berulang kali menyusahkan hidup dia. Mindset dari orang tua dia yang bilang ‘Hidup kamu jangan pernah nyusahin orang lain, kalo nggak nanti kamu dijauhin orang lain’ ini yang juga membuat Emi selalu memikirkan orang lain dan selalu menyakiti dirinya sendiri.
Buktinya? Dia selalu memaafkan gue ketika gue dan semua teman-teman toxic-nya walopun kami sudah berulang kali membuat kesalahan terhadapnya bahkan hingga menyakiti perasaannya. Emi memilih untuk selalu mengalah dan membiarkan dirinya yang tersakiti daripada dia melihat orang lain menderita karena dia tidak ingin ada orang lain sedih. “Lebih baik aku yang sakit atau sedih daripada mereka…” Itu kalimat dia setiap kali dia harus mengalah.
Terus bagi mereka semua hal yang gue sebutkan di atas adalah hal yang lumrah dimiliki setiap orang? Kalo begitu ceritanya, buat apa gue melakukan pencarian ketika ingin mendapatkan pasangan? Gue bisa saja menikahi setiap cewek yang gue temui saat itu juga. Tetapi tidak begitu kan? Gue masih harus memilah yang pada akhirnya pencarian gue berakhir pada Emi.
Harusnya, Bapak Ibunya Emi bisa mengenal dan memahami Emi lebih dalam. Mereka seharusnya bersyukur memiliki Emi. Terutama ketika Emi masih terus ingin berbakti pada mereka tanpa menjadi anak broken home karena haus akan kehangatan kedua orang tuanya.
Tidak terasa membicarakan hal-hal positif dari seorang Emi membuat perjalanan terasa lebih singkat. Tanpa terasa, kini gue sudah sampai di parkiran bandara. Terminal 2 yang menjadi tempat kedatangan pesawat yang membawa Emi dari Bali sudah ada di depan mata. Gue memarkirkan mobil dekat terminal kedatangannya.
“Saya turun dulu Om… Harusnya Emi landing 15 menit lagi.”
“Iya, Om tunggu di sini aja ya, Ji.”
Gue turun dengan meninggalkan kedua orang tua Emi di mobil yang tetap menyala AC-nya dan gue buka sedikit kaca depan sisi kanan kiri untuk sirkulasi. Gue berlari kecil menuju ke dekat pintu kedatangan yang mana harusnya jika sesuai jadwal, Emi akan keluar dari pintu tersebut sekitar 15 menit lagi.
Terminal Kedatangan saat ini cukup ramai, karena mungkin ini adalah hari minggu. Ketika gue datang ke tempat ini, biasanya selalu sepi karena gue naik pesawat di hari kerja dan tiba di ibukota lewat jam 8 malam sehingga kondisinya tidak seramai ini. Biasanya juga gue langsung keluar untuk menunggu bis menuju kota tempat tinggal gue.
Gue duduk di salah satu bangku kosong yang ada di sana. Gue mengeluarkan HP gue untuk memeriksa apakah chat yang gue kirim pada Emi ketika Emi take-off tadi sudah terkirim atau belum. Iya, gue sempat mengirimkan chat pada dia ketika gue mengendarai mobil tadi.
Namun, ada satu notifikasi berupa SMS yang menarik perhatian gue.
“Kenapa aku diblokir sih? Aku salah apa sama kamu?”
“Hana? Atau Edna ini?” gumam gue perlahan sembari memeriksa cara penulisan keduanya. Memastikan gue tidak salah merespon SMS dari nomor yang tidak dikenal ini. Soalnya gue yakin ini bukan cewek yang lain lagi. Apalagi Ana.
Ketika gue sedang fokus dengan HP gue… “Kamu ngapain ada di sini?” sapa seseorang di hadapan gue.
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
dan bintang 5 
