Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#308
Kehilangan_Part 3
Gue masih mempertanyakan apa yang harus gue takutkan dari Emi? Sepertinya gue bukan takut. Tapi gue hanya…insecure. Itu pun masih MUNGKIN. Karena apa yang harus membuat gue merasa insecure ketika gue telah memiliki segala yang gue inginkan saat ini? Termasuk gue yang bisa memilih cewek manapun yang gue inginkan, kalau mau. Tapi untuk apa? Gue sudah memiliki Emi.

Gue sama sekali tidak takut kehilangan Hana, Arasti, Edna, maupun Ana. Gue hanya takut kehilangan Emi. Iya, gue takut kehilangan Emi. Gue bukan takut sama Emi. Gue hanya takut kehilangan Emi. Gue marah karena gue takut Emi kecewa. Gue harus terus memposisikan diri gue di atas Emi agar Emi tidak bisa membuat keputusannya sendiri, tanpa gue. Iya, sepertinya itu yang gue takutkan.

Tapi mengapa rasanya selalu sulit untuk langsung mengatakan sejujurnya pada Emi apa yang gue rasakan? Mengapa rasanya gue ragu kalau Emi tahu siapa saja yang mendekati gue saat ini? Mengapa rasanya berat untuk tidak menggubris cewek-cewek itu tetapi gue bisa dengan mudahnya bersikap kasar pada Emi? Mengapa?

Dret. Dret. Dret.

HP gue berbunyi. Gue sangat amat berharap ini Emi. Entah dia memberi kabar kalau dia mau take off atau sekedar dia memberikan dongeng panjang tentang bagaimana perasaan dia saat ini. Gue sedang butuh dia, ketika dia sedang tidak membutuhkan gue di sisinya. Miris.

(HANA CHAT)
Quote:


Hana mendadak kirim foto selfie dia ke gue. Dia emang mendadak nggak ada kabarnya hari ini, yang ternyata dia memang sedang sibuk memborbardir Instagram dan Facebook Emi dengan Likes. Kemudian dia memasang status sakit hati yang PASTINYA ditujukan untuk gue.

Gue sempat berharap dia tidak menghubungi gue lagi. Tetapi ternyata itu masih hanya harapan gue. Dia masih mau menghubungi gue, entah untuk tujuan yang sama atau berbeda kali ini.

(HANA CHAT)
Quote:


Quote:


Perjalanan Pulang_Part 2

Dia mengirimkan screenshot chat kami dulu, ketika kami baru awal banget kenal. Obrolan dia tentang keberadaan Manajer band gue dan inisiatif dia untuk menggantikan Emi sebagai Manajer.

Quote:


Gue menunggu dia menyelesaikan omongan dia di chat. Tetapi sepertinya chat yang akan dia kirim itu panjang banget sampai chat dia tidak kunjung dikirim pada gue. Gue juga cukup nggak enak hati karena harus begini cara gue memberi tahu dia tentang Emi. Namun, harus gimana lagi?

Gue juga nggak suka cara dia menilai Emi sedari awal dulu. Emi itu bukan nothing. Dia bukan tandingan Emi sama sekali. Sekarang gue hanya berharap, dia tidak pernah menghubungi Emi lagi dimanapun. Kalau dia mau menghujat atau memaki gue, silahkan. Tapi jangan Emi. Emi tidak ada urusannya di sini.

Quote:


Quote:


Ini keputusan gue. Gue blokir nomor Hana dan Edna dari HP gue. Gue hidden seluruh aktivitas gue di Facebook dari Edna Eka Larasati. Terakhir, biar Hana tidak berusaha menjadi FBI seperti Emi, gue mengunci seluruh akun gue. Begitu juga dengan akun Emi. Biar hidup gue dan Emi lebih tenang.

Mengapa Edna jadi ikut terkena dampaknya? Karena gue sangat amat yakin kalo nanti dia akan bertindak seperti Hana. Ingat beberapa kejadian dia dimana dia marah tidak jelas terhadap gue? Dimana dia meminta nomor HP gue? Dimana dia menyebarkan foto gue tanpa sepengetahuan gue? Apa itu tidak kelewat batas namanya? Jadi, lebih baik langsung gue hentikan semuanya sekarang juga. Sebelum semakin tidak terkendali.

Gue harus kehilangan mereka. Gue harus menghilangkan mereka dari hidup gue. Gue harus bisa membuktikan pada Emi kalo gue bukan Ija yang dulu. Gue adalah Ija yang baru yang siap berkomitmen dengannya.

Gue melihat jam di dinding kamar Emi. Gue harus bergegas berangkat dari rumah Emi, kalau tidak ya Emi keburu pulang sendiri dan silang jalan dengan gue. Gue nggak mau itu terjadi karena nanti itu hanya menambah rentetan kekecewaan Emi pada gue.

Memang, Emi tidak meminta gue untuk menjemput dia. Sepertinya dia memang tidak pernah sama sekali meminta gue untuk menjemput dia dimanapun. Tapi saat ini, gue hanya ingin memastikan kalau gue ini juga bagian dari safe zonedia. Gue nggak mau melakukan keg*blokan lainnya.

Gue turun ke lantai bawah menuju kamar Bapak Ibunya Emi berada. Gue belum memberi tahu mereka kalo pesawat Emi delay. Harusnya sih Emi sudah memberi kabar pada mereka. Harusnya juga… Emi sudah ada di pesawat sekarang.

“Om… Tante… Udah siap?” tanya gue sembari mengetuk pintu kamar mereka.

Sesuai dugaan gue, mereka sudah siap untuk masuk ke dalam mobil. Walaupun mereka tahu dari Emi kalo pesawat Emi delay, tidak membuat mereka jadi mengulur-ulur waktu. Mereka setia menunggu kedatangan anak tunggal mereka tersebut. Ini adalah salah satu kebiasaan baik di keluarga Emi. Mereka selalu siap sedia sebelum waktu keberangkatan yang ditentukan.

Ini bukan trip pertama gue dengan Bapak Ibunya. Sebelumnya, gue sudah beberapa kali trip ke rumah sodara mereka. Mereka tidak pernah berubah. Mereka tidak pernah terlambat. Mereka tidak pernah ribet sendiri di setiap persiapan perjalanan mereka. Berbeda dengan keluarga gue.

Gue membantu Bapaknya Emi untuk mengangkat Ibunya duduk di seat tengah mobil kami. Setelahnya, gue membantu mengangkat kursi roda milik Ibunya untuk dikembalikan lagi ke dalam rumah. Gue dan Bapaknya sepakat untuk tidak membawa kursi roda tersebut. Untuk apa? Toh kami hanya menjemput Emi lalu kembali pulang. Pasti sudah cukup malam nanti saat kami kembali ke rumah, sedangkan besok Emi sudah harus kembali kerja.

Gue sebenarnya sudah sangat nyaman dengan kondisi Bapak Ibunya Emi. Mereka sudah gue anggap sebagai orang tua ketiga gue, karena orang tua kedua gue adalah keluarganya Om Reza. Hanya saja, terkadang gue agak khawatir dengan kondisi Ibunya Emi.

Gue bukan merasa keberatan dengan kondisi Ibunya Emi yang sedang sakit stroke sehingga beliau tidak bisa melakukan apapun sendiri. Beliau harus dibopong kesana sini untuk melakukan apapun. Beliau harus disuapin ketika harus makan dan minum. Kami pun harus membawa kursi roda kemanapun kami pergi. Tetapi bukan di situ masalah utamanya.

Masalah utamanya adalah dari dalam hati Ibunya Emi itu sendiri. Beliau seakan tidak bisa menerima keadaan. Beliau selalu meracau tidak jelas yang gue yakini, beliau sedang mengeluh dengan keadaannya. Gue taksir, Bapak Ibunya Emi sudah menghabiskan puluhan juta untuk pengobatan Ibunya Emi. Tetapi sepertinya, tidak ada perkembangan positif pada Ibunya Emi. Beliau sangat jauh dari kata sembuh.

Gue bukan judge kalau Ibunya Emi tidak akan kembali seperti semula! Gue juga bukan mendoakan agar Ibunya Emi tidak akan pernah sembuh! Ibunya Emi juga Ibu gue! Beliau Ibu dari calon istri gue! Durhaka banget gue kalo gue mendoakan atau berpikir demikian. Tapi Ibunya Emi bukan orang stroke pertama yang pernah gue kenal.

Sudah ada beberapa orang lain yang juga pernah mengalami stroke selama hidupnya. Bukan hanya serangan stroke satu kali saja. Tetapi mungkin lebih dari itu. Gue melihat semangat sembuh dari Ibunya Emi ini masih jauh di bawah dari semangat sembuh mereka yang gue kenal. Kondisi ibunya yang terus meracau tiada henti ini yang membuat gue khawatir kalau beliau akan sulit untuk sembuh.

Dan kalau ternyata tebakan gue ini benar, kondisi ini akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi gue kedepannya. Hubungan pernikahan gue nantinya pasti akan terkena dampaknya. Semoga saja, tebakan gue kali ini salah.
Diubah oleh yanagi92055 25-03-2021 18:18
kaduruk
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.