- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.2K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#268
Belum Rezeki_Part 2
(ARASTI CHAT)
“Nanti jadi jam 6 ya di Coffee Shop. Nggak sabar banget buat ketemu kamu…”
Chat Arasti masuk setelah gue menutup telepon Tifani. Karena entah alasan apaan, Tifani me-reschedule waktu pertemuan kami jadi lebih malam di coffee shop langganan gue dan Emi yang tutup hingga pukul 02.00. Akhirnya gue merubah waktu pertemuan gue dengan Arasti menjadi lebih cepat. Kami janji untuk bertemu sekitar pukul 18.00, setelah gue menunaikan ibadah Magrib itu juga.
Sengaja gue buat pertemuan kami di mall, biar gue punya bahasan kalo misalnya nanti gue kehabisan bahasan sama dia. Soalnya gue memang tidak begitu mengenal dia dan tidak begitu banyak bahasan juga tentang dia. Apakah dia suka membahas Sejarah? Horor? Politik? Bola? Musik? Film? Atau apa? Gue sama sekali nggak tau. Kalo dia murni hanya akan membahas gue, buat apa ketemu?
Gue kembali memeriksa segala media sosial Emi. Dia sama sekali masih belum ada kabar. Ini utamanya yang membuat gue berat bertemu dengan mereka. Ada rasa guilty di dalam hati gue untuk bertemu dengan mereka. Gue yang dulu khawatir akan kelewat batas dimana gue mengiyakan ketika mereka mulai ‘memanaskan suasana’. Gue yang sekarang pun khawatir, tapi lebih ke arah memikirkan siapa yang sekiranya akan gue sakiti malam ini.
Tifani pastinya tidak akan merasa sakit hati sama sekali. Tetapi malam ini adalah malam yang buruk buat Arasti dan Emi. Ketika gue berniat bertemu dengan kedua cewek itu, pada dasarnya gue sudah menyakiti Emi. Tetapi Arasti? Dia hanya akan sakit hati kalo gue berkata yang sejujurnya pada dia… Kalo gue saat ini adalah calon suami orang yang selama ini nggak pernah dia sangka. Emi, Manajer Band gue sendiri.
Terus apa yang bikin lo khawatir, Ja? Katanya nothing to lose. Harusnya lo nggak masalah kan kalo setelah ini lo ditinggalin Arasti?
Memang gue nggak masalah. Tapi gue mau berubah. Gue berjanji hanya akan fokus pada Emi. Tetapi bukan berarti gue biasa aja ketika gue (tanpa sengaja) menyakiti dia dengan memberikan harapan pada dia. Gue ragu, haruskah gue langsung jujur sekarang atau gue perlu menunda lagi? Lalu kalo gue menunda lagi, mau berapa lama lagi gue pelihara hubungan gue dengan Arasti ini?
“Toh pada akhirnya, gue harus jujur dengan semua cewek itu… Mereka harus tau yang sebenarnya.” Dengan berat hati, gue bersiap-siap. Akhirnya pertama kalinya semenjak gue berjanji pada Emi, gue memberikan kesempatan untuk bertemu dengan salah satu dari cewek-cewek itu. Semoga ini langkah yang terbaik. “Hari ini harus ada keputusan… Gue harus menyudahi hubungan gue dengan Arasti. Bagaimanapun hasilnya nanti.”
Ketika gue sedang memanaskan mobil, HP gue kembali bunyi.
(EDNA CHAT)
Hubungan ini? Hubungan yang mana, tuh, maksudnya? Gue nggak pernah merasa punya hubungan khusus dengan Edna selama ini. Gue hanya berniat membantu dia dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Tetapi tidak benar-benar menjadi pacarnya. Jadi, tidak ada hubungan apapun antara kami.
Gue memutuskan untuk chat lagi pada Emi. Gue memang paling anti yang namanya mengejar cewek. Tetapi Emi adalah pengecualian.
(EMI CHAT)
Semoga Emi segera membalas chat gue. Biar hati gue bisa lebih tenang. Biar hati gue lebih mantap. Biar gue semakin yakin dan tidak bimbang lagi. “Percayalah. Ini yang terbaik.”
---
Gue sengaja belum masuk ke dalam Coffee Shop. Gue nggak mau memesan minum lebih dulu daripada dia. Gue bukan orang yang suka nongkrong sendirian di caféatau coffee shop. Apalagi semenjak ada Emi, gue nggak pernah mau pergi hangout sendiri tanpa Emi. Jadi, gue habiskan waktu gue dengan berkeliling mall sembari mampir ke Gramedia, toko HP, peralatan komputer, atau gaming. Ya tempat-tempat yang biasa gue datangi dengan Emi.
Bedanya, ya gue ada teman diskusi kalo ada Emi.
Untuk membuka bahasan dengan dia, gue buka beberapa obrolan. Tentang apapun. Biasanya dia suka kepancing sendiri ketika membahas urusan teknologi atau buku. Mudah-mudahan dia baca chat gue dan berkenan membalas chat gue ini.
Gue cek jam di HP gue. “Udah hampir jam 7 loh ini. Masa masih belum dateng juga itu anak?” tanya gue dalam hati.
(ARASTI CHAT)
Gue sengaja chat dia begitu. Gue nggak mau nanti jadinya ada salah paham kalo pertemuan gue dengan Arasti ini bentrok dengan pertemuan gue dengan Tifani. Tifani bisa berpikir kalo Arasti adalah cewek gue yang akan gue nikahi. Kalo Tifani keceplosan begitu, Arasti akan kegeeran dan semakin di atas angin, membuat semakin sulit bagi gue untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya. TETAPI, kalo Tifani keceplosan tentang cewek gue dan terang-terangan bilang di depan Arasti. Gue akan dibenci keduanya. Arasti tau kalo selama ini dia dibohongi oleh gue, sedangkan Tifani akan berpikir gue sama brengseknya sama mantan (calon) suami dia.
Mikir urusan begini cukup membuat gue sakit kepala.
“Kalo 1 jam lagi dia nggak dateng, gue langsung janjian aja sama Tifani di sini. Biar ngobrol di mall ini aja sampe mall tutup. Toh kalo malming mah bisa sampe jam 11 malem tutupnya kan…” kata gue sembari masuk ke dalam salah satu restoran fast food untuk sekedar mengganjal perut kosong gue. Sudah jam makan malam soalnya.
15 menit.
30 menit.
45 menit.
Hingga 1 jam 15 menit kemudian, Arasti tidak kunjung membalas chat gue.
Terlalu lama, akhirnya gue memutuskan untuk membiarkannya saja. Gue yang tadinya biasa saja, jadinya penuh emosi. Sudah untung gue kasih kesempatan untuk bertemu malah dia sia-siakan. “Katanya nggak sabar ketemu sama gue. Ini malah telatnya udah 2 jam lebih begini. Elah. Ber*k amat. Awas aja kalo telat begini gara-gara dandan.”
Gue juga punya urusan lain yaitu bertemu dengan Tifani. Gue langsung memberi tahu Tifani kalo tempat pertemuan kami berubah ke mall, tidak jadi di coffee shop yang sudah dijanjikan sebelumnya. Tetapi kalo Tifani menolak, ya gue tinggal tancap gas pindah ke tempat janjian kami tersebut. Untungnya Tifani bersedia dan sudah dalam perjalanan dari rumahnya yang berjarak kurang lebih 3 km dari rumah gue.
Untuk menghabiskan waktu, gue sempatkan diri untuk membaca buku yang baru saja gue beli. Lumayan, hadiah untuk Emi ketika dia pulang nanti.
(TIFANI CHAT))
Tidak sampai 10 menit, Tifani sudah muncul di hadapan gue. Dia memakai baju off-shoulder topyang sangat ketat membentuk tubuhnya bahkan tidak bisa memenuhi bagian atas tubuhnya dengan sempurna. Alias hanya setengah badan. Sebagian perutnya terlihat. Kalo kata Emi mah, “Bajunya dinaekin jadi beha, kalo diturunin malah jadi pamer t*ket.” Hahaha. Tapi mungin karena bagian dada dia cukup besar, jadinya baju itu terlihat semakin sempit dan engap. Kalo ada emak-emak berani komen, pasti bilang “Baju adeknya kenapa masih dipake, Mbak?”
Bawahannya dia memakai celana high waist jeans warna biru yang ada aksen sobekan di sekitar paha kiri dan lutut kanan. Membuat banyak lagi bagian yang terbuka di bagian bawah badan dia. Gue penasaran seberapa sering dia masuk angin. Hahaha.
Sebagai cowok, tentunya ada cewek pakai pakaian seperti itu pasti langsung berfokus ke satu titik utama incaran lawan jenis. Ya, Tifani yang dari SMA sudah overdosis ukuran dada dia yang semakin berumur malah semakin membusung saja. Dan karena dia (sepertinya) memakai push up bra, itu membuat semuanya semakin penuh di tengah. IYKWIM. Badannya yang cukup tinggi dan padat merayap sana sini, membuat pakaiannya terasa kekecilan. Tetapi gue nggak melihat dia kampungan memakai pakaian seperti ini.
“T*te gue makin gede ya, Ja? Bagusan nggak? Mau pegang?” tanya dia sembari memegangi dadanya yang membusung itu. Gue yakin lagi, kalo dia lagi berdiri tegak nggak akan bisa melihat perut dia sendiri saking terhalang pandangannya oleh dadanya sendiri.
“Woy!” Gue pastikan gue tidak salah memegang tangan dia. “Jangan megangin t*ket begitu lah! Nggak enak diliat orang!”
“Makanya jangan diliatin doang. Enak tuh dipegangin terus dijilatin, Ja!” Hahaha.”
“Lo fisik doang yak yang sekolah, batin sama otak nggak ikutan sekolah. Makanya di tempat umum lo ngomong begini? Hahaha.” kata gue dengan gestur mengajak dia untuk duduk di bangku kosong yang ada di hadapan gue.
“Kalo gue nggak frontal begini, nggak akan mungkin gue ketemu sama si mantan calon suami gue itu dulu di coffee shop daerah Senopati sonoh.” kata dia dengan ekspresi penuh kepedihan. Gampang banget ekspresinya berubah dalam sekejap hanya karena membicarakan mantan calon suaminya tersebut.
“Hmm... Tif. Sapa gue dulu kali. Gimana kabar lo sekarang?” ujar gue seraya menjabat tangannya dan kemudian cipika cipiki. Berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Sial lo ah! Padahal momennya lagi bagus banget nih. Gue sendu penuh derita begini terus tadi ekspresi gue bagus kan? Mestinya lo fotoin gue! Hahaha.
“Dih apaan sih lo? Masih aja gokil ya lo. Cewek gue juga gokil sih, cuman nggak segokil lo juga! Hahaha.”
“Enak yah, Ja? Masih bisa ngebanggain pasangan kita. Di sosmed gue, semuanya lagi seneng-senengnya ngebanggain pasangan atau anak mereka. Sedangkan gue? Malah lagi sibuk ngapus-ngapusin memori gue sama si doi…” kata Tifani sembari menunjukan media sosial dia. “Tadinya hampir semua sosmed gue isinya kita berdua doang. Sekarang apa yang mau gue share? Hehehe.”
“Turut prihatin ya, Tif.”
“Ini…” Dia menunjukkan badan dia. “Ini juga…” Kali ini dia mengeluarkan kunci mobil berlogo seperti shuriken atau logo partai mantan penguasa yang sering bilang "saya prihatin" dan isi dompet dia yang cukup tebal. “Jadi nggak berarti lagi rasanya, Ja…”
“Jangan gitu lah. Masih banyak kok cowok yang mau sama cewek independent, cewek mandiri, dan di luar sana masih banyak cowok tajir yang mau menghidupi cewek tajir lainnya. Atau lo terima aja dengan cowok nggak setajir lo? Banyak juga, Tif. Cowok di dunia ini tuh nggak cuma cowok lo doang kok…”
“Ini bukan cuma urusan duit, Ja. Bukan tajir atau nggak yang gue pikirin. Kalo urusan itu mendingan gue kejar-kejar lo mati-matian aja dari dulu, sambil ngedepak Ara pelan-pelan. Haha. Soalnya mantan cowok gue juga bukan dari kalangan orang kaya. Dia hanya orang biasa yang baru mulai kerja. Jadi emang dalam hubungan ini, gue biasa menghidupi dia. Gue jatuh cinta sama dia bukan karena itu. Karena dia mau menerima segala kekurangan gue. Dia bahkan meminta gue untuk berenti bekerja nantinya biar dia yang kerja keras untuk menghidupi keluarga kami. Dia sayang gue dan keluarga gue apa adanya. Dia yang mengukuhkan keluarga gue yang broken home ini. Tapi entah kenapa…” Tifani terlihat tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“I’m sorry to hear that, Tif…” gue mengelus lembut punggung tangan kanannya yang pucat seperti mayat.
“Yeee, nggak usah ngasihanin gue, Ja. Gue strong kok! Hahaha.” kata dia sembari menghapus air matanya.
“Oh ya udah gue pulang ya. Kan lo strong. Lo udah nggak butuh gue lagi berarti.”
“Ya nggak gitu lah, Ja! Enak aja lo bikin gue dandan begini eh lo nggak mau dengerin cerita gue! Mahal nih mekap gue! Hahaha. Buru duduk lo! Kalo gue gue buka baju nih!”
“Sekali lagi lo frontal, gue bener-bener tinggalin lo! Ampun dah…” Masalahnya kita ada di tempat umum dimana semua orang bisa mendengar segala percakapan kita. Sakit emang si Tifani ini. Hahaha.
“Sori, Jaaa… Hehehe. Kita udah lama nggak ketemu malah mau langsung cabut aja lo. Nggak kangen gue lo emang?” tanya dia sembari menghirup vape yang dia bawa.
“Nggak lah. Gue aja nggak kepikiran bakalan kontak lagi sama lo, Tif. Hahaha. Kan gue kangennya sama cewek gue yang lagi cabut ke Bali.”
“Ih sakit bener ada yang nggak kangen gue. Pantes gue ditinggalin.”
“Dih kok bilang gitu lo?”
“Becanda, Ja. Hahaha. Kok bisa dah cewek lo ada kerjaannya weekend? Udah mana kerjaannya ke Bali pula. Kenapa lo nggak nyusulin, Ja?”
“Kebanyakan ngeluarin biaya kalo ke Bali pas weekend, Nyet. Gue kan lagi ngurusin nikahan. Butuh banyak biaya.”
“Mending biaya buat nikahan gue dipake aja kali ya sama lo?”
“Emang bisa? Ngawur lo! Hahaha.”
“Nggak bisa ya? Ya udahlah lo nabung lagi berarti. Hahaha. Intinya mah kita senasib, sama-sama ditinggalkan. Sama-sama kasian! Hahaha.”
“Eh gue mah nggak perlu dikasianinlah. Yang kasian itu lo doang. Jangan ngajak-ngajak gue. Hahaha. Gue ditinggal ke Bali tapi baik-baik aja hubungannya.” Gue harap begitu. “Sementara lo kan ditinggal laki lo, terus batal nikah. Hahaha.” Gue sangat berharap saat Emi kembali ke rumah, hubungan gue dan dia masih baik-baik saja. Dan akan selalu begitu.
“Reseee. Malah ngeledekin gue lo ya.” Katanya sambil menyubiti perut gue. Nggak sakit, mungkin karena badannya lebih tinggi ya. Karena biasanya yang cubitannya sakit itu orang-orang yang ukuran badannya mini. Entah kenapa. Hahaha. Emi adalah salah satu contohnya.
“Ya udah lo pesen makanan dulu. Udah jam makan malem nih. Jangan mesen bir lo ya. Gue nggak mau nganterin lo balik.”
“Mana jual bir di fast food begini, Ja. Buset! Gue masih bisa mikir buat hal begitu. Hahaha.”
Dia lalu memesan makanan yang entah menghabiskan berapa ratus ribu. Gue yakin dia masih rada mabuk karena dia asal nunjuk makanan yang ada di menu. Entah siapa yang bakalan ngabisin semua makanannya. Soalnya gue juga udah beres makan ini. Edan emang ini anak.
“Gue ke kamar mandi dulu ya. Kalo mau ngikut boleh. Hahaha.”
Gue hanya mengangguk. Gue lalu memperhatikan bagian belakang tubuh Tifani. Sintal banget ini anak. Gue pikir dia agak berisi malah terlihat sedikit gemuk, ternyata badannya berbentuk, seperti bodi gitar. Kulitnya juga sangat putih, pucat seperti mayat. Mengingatkan gue akan Keket kulitnya. Oh iya, dia juga memakai parfum yang sama dengan Keket. Jelas lah gue masih sangat hapal aroma parfum tersebut. Kayaknya banyak juga yang memakai parfum ini. Nggak Keket, nggak Ana, eh ternyata Tifani juga.
Sejenak gue berpikir, apa kabar dia sekarang? Gue sudah benar-benar lost contact dengan Keket. Sejak terakhir pertemuan kami, gue nggak pernah mendengar lagi kabarnya. Dia juga tidak aktif di media sosial manapun. Entah pakai username lain atau bagaimana, gue juga tidak peduli sebenarnya. Hanya kadang teringat masa lalu saja.
“Nanti jadi jam 6 ya di Coffee Shop. Nggak sabar banget buat ketemu kamu…”
Chat Arasti masuk setelah gue menutup telepon Tifani. Karena entah alasan apaan, Tifani me-reschedule waktu pertemuan kami jadi lebih malam di coffee shop langganan gue dan Emi yang tutup hingga pukul 02.00. Akhirnya gue merubah waktu pertemuan gue dengan Arasti menjadi lebih cepat. Kami janji untuk bertemu sekitar pukul 18.00, setelah gue menunaikan ibadah Magrib itu juga.
Sengaja gue buat pertemuan kami di mall, biar gue punya bahasan kalo misalnya nanti gue kehabisan bahasan sama dia. Soalnya gue memang tidak begitu mengenal dia dan tidak begitu banyak bahasan juga tentang dia. Apakah dia suka membahas Sejarah? Horor? Politik? Bola? Musik? Film? Atau apa? Gue sama sekali nggak tau. Kalo dia murni hanya akan membahas gue, buat apa ketemu?
Gue kembali memeriksa segala media sosial Emi. Dia sama sekali masih belum ada kabar. Ini utamanya yang membuat gue berat bertemu dengan mereka. Ada rasa guilty di dalam hati gue untuk bertemu dengan mereka. Gue yang dulu khawatir akan kelewat batas dimana gue mengiyakan ketika mereka mulai ‘memanaskan suasana’. Gue yang sekarang pun khawatir, tapi lebih ke arah memikirkan siapa yang sekiranya akan gue sakiti malam ini.
Tifani pastinya tidak akan merasa sakit hati sama sekali. Tetapi malam ini adalah malam yang buruk buat Arasti dan Emi. Ketika gue berniat bertemu dengan kedua cewek itu, pada dasarnya gue sudah menyakiti Emi. Tetapi Arasti? Dia hanya akan sakit hati kalo gue berkata yang sejujurnya pada dia… Kalo gue saat ini adalah calon suami orang yang selama ini nggak pernah dia sangka. Emi, Manajer Band gue sendiri.
Terus apa yang bikin lo khawatir, Ja? Katanya nothing to lose. Harusnya lo nggak masalah kan kalo setelah ini lo ditinggalin Arasti?
Memang gue nggak masalah. Tapi gue mau berubah. Gue berjanji hanya akan fokus pada Emi. Tetapi bukan berarti gue biasa aja ketika gue (tanpa sengaja) menyakiti dia dengan memberikan harapan pada dia. Gue ragu, haruskah gue langsung jujur sekarang atau gue perlu menunda lagi? Lalu kalo gue menunda lagi, mau berapa lama lagi gue pelihara hubungan gue dengan Arasti ini?
“Toh pada akhirnya, gue harus jujur dengan semua cewek itu… Mereka harus tau yang sebenarnya.” Dengan berat hati, gue bersiap-siap. Akhirnya pertama kalinya semenjak gue berjanji pada Emi, gue memberikan kesempatan untuk bertemu dengan salah satu dari cewek-cewek itu. Semoga ini langkah yang terbaik. “Hari ini harus ada keputusan… Gue harus menyudahi hubungan gue dengan Arasti. Bagaimanapun hasilnya nanti.”
Ketika gue sedang memanaskan mobil, HP gue kembali bunyi.
(EDNA CHAT)
Quote:
Hubungan ini? Hubungan yang mana, tuh, maksudnya? Gue nggak pernah merasa punya hubungan khusus dengan Edna selama ini. Gue hanya berniat membantu dia dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Tetapi tidak benar-benar menjadi pacarnya. Jadi, tidak ada hubungan apapun antara kami.
Gue memutuskan untuk chat lagi pada Emi. Gue memang paling anti yang namanya mengejar cewek. Tetapi Emi adalah pengecualian.
(EMI CHAT)
Quote:
Semoga Emi segera membalas chat gue. Biar hati gue bisa lebih tenang. Biar hati gue lebih mantap. Biar gue semakin yakin dan tidak bimbang lagi. “Percayalah. Ini yang terbaik.”
---
Gue sengaja belum masuk ke dalam Coffee Shop. Gue nggak mau memesan minum lebih dulu daripada dia. Gue bukan orang yang suka nongkrong sendirian di caféatau coffee shop. Apalagi semenjak ada Emi, gue nggak pernah mau pergi hangout sendiri tanpa Emi. Jadi, gue habiskan waktu gue dengan berkeliling mall sembari mampir ke Gramedia, toko HP, peralatan komputer, atau gaming. Ya tempat-tempat yang biasa gue datangi dengan Emi.
Bedanya, ya gue ada teman diskusi kalo ada Emi.
Untuk membuka bahasan dengan dia, gue buka beberapa obrolan. Tentang apapun. Biasanya dia suka kepancing sendiri ketika membahas urusan teknologi atau buku. Mudah-mudahan dia baca chat gue dan berkenan membalas chat gue ini.
Gue cek jam di HP gue. “Udah hampir jam 7 loh ini. Masa masih belum dateng juga itu anak?” tanya gue dalam hati.
(ARASTI CHAT)
Quote:
Gue sengaja chat dia begitu. Gue nggak mau nanti jadinya ada salah paham kalo pertemuan gue dengan Arasti ini bentrok dengan pertemuan gue dengan Tifani. Tifani bisa berpikir kalo Arasti adalah cewek gue yang akan gue nikahi. Kalo Tifani keceplosan begitu, Arasti akan kegeeran dan semakin di atas angin, membuat semakin sulit bagi gue untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya. TETAPI, kalo Tifani keceplosan tentang cewek gue dan terang-terangan bilang di depan Arasti. Gue akan dibenci keduanya. Arasti tau kalo selama ini dia dibohongi oleh gue, sedangkan Tifani akan berpikir gue sama brengseknya sama mantan (calon) suami dia.
Mikir urusan begini cukup membuat gue sakit kepala.
“Kalo 1 jam lagi dia nggak dateng, gue langsung janjian aja sama Tifani di sini. Biar ngobrol di mall ini aja sampe mall tutup. Toh kalo malming mah bisa sampe jam 11 malem tutupnya kan…” kata gue sembari masuk ke dalam salah satu restoran fast food untuk sekedar mengganjal perut kosong gue. Sudah jam makan malam soalnya.
15 menit.
30 menit.
45 menit.
Hingga 1 jam 15 menit kemudian, Arasti tidak kunjung membalas chat gue.
Terlalu lama, akhirnya gue memutuskan untuk membiarkannya saja. Gue yang tadinya biasa saja, jadinya penuh emosi. Sudah untung gue kasih kesempatan untuk bertemu malah dia sia-siakan. “Katanya nggak sabar ketemu sama gue. Ini malah telatnya udah 2 jam lebih begini. Elah. Ber*k amat. Awas aja kalo telat begini gara-gara dandan.”
Gue juga punya urusan lain yaitu bertemu dengan Tifani. Gue langsung memberi tahu Tifani kalo tempat pertemuan kami berubah ke mall, tidak jadi di coffee shop yang sudah dijanjikan sebelumnya. Tetapi kalo Tifani menolak, ya gue tinggal tancap gas pindah ke tempat janjian kami tersebut. Untungnya Tifani bersedia dan sudah dalam perjalanan dari rumahnya yang berjarak kurang lebih 3 km dari rumah gue.
Untuk menghabiskan waktu, gue sempatkan diri untuk membaca buku yang baru saja gue beli. Lumayan, hadiah untuk Emi ketika dia pulang nanti.
(TIFANI CHAT))
Quote:
Tidak sampai 10 menit, Tifani sudah muncul di hadapan gue. Dia memakai baju off-shoulder topyang sangat ketat membentuk tubuhnya bahkan tidak bisa memenuhi bagian atas tubuhnya dengan sempurna. Alias hanya setengah badan. Sebagian perutnya terlihat. Kalo kata Emi mah, “Bajunya dinaekin jadi beha, kalo diturunin malah jadi pamer t*ket.” Hahaha. Tapi mungin karena bagian dada dia cukup besar, jadinya baju itu terlihat semakin sempit dan engap. Kalo ada emak-emak berani komen, pasti bilang “Baju adeknya kenapa masih dipake, Mbak?”
Bawahannya dia memakai celana high waist jeans warna biru yang ada aksen sobekan di sekitar paha kiri dan lutut kanan. Membuat banyak lagi bagian yang terbuka di bagian bawah badan dia. Gue penasaran seberapa sering dia masuk angin. Hahaha.
Sebagai cowok, tentunya ada cewek pakai pakaian seperti itu pasti langsung berfokus ke satu titik utama incaran lawan jenis. Ya, Tifani yang dari SMA sudah overdosis ukuran dada dia yang semakin berumur malah semakin membusung saja. Dan karena dia (sepertinya) memakai push up bra, itu membuat semuanya semakin penuh di tengah. IYKWIM. Badannya yang cukup tinggi dan padat merayap sana sini, membuat pakaiannya terasa kekecilan. Tetapi gue nggak melihat dia kampungan memakai pakaian seperti ini.
“T*te gue makin gede ya, Ja? Bagusan nggak? Mau pegang?” tanya dia sembari memegangi dadanya yang membusung itu. Gue yakin lagi, kalo dia lagi berdiri tegak nggak akan bisa melihat perut dia sendiri saking terhalang pandangannya oleh dadanya sendiri.
“Woy!” Gue pastikan gue tidak salah memegang tangan dia. “Jangan megangin t*ket begitu lah! Nggak enak diliat orang!”
“Makanya jangan diliatin doang. Enak tuh dipegangin terus dijilatin, Ja!” Hahaha.”
“Lo fisik doang yak yang sekolah, batin sama otak nggak ikutan sekolah. Makanya di tempat umum lo ngomong begini? Hahaha.” kata gue dengan gestur mengajak dia untuk duduk di bangku kosong yang ada di hadapan gue.
“Kalo gue nggak frontal begini, nggak akan mungkin gue ketemu sama si mantan calon suami gue itu dulu di coffee shop daerah Senopati sonoh.” kata dia dengan ekspresi penuh kepedihan. Gampang banget ekspresinya berubah dalam sekejap hanya karena membicarakan mantan calon suaminya tersebut.
“Hmm... Tif. Sapa gue dulu kali. Gimana kabar lo sekarang?” ujar gue seraya menjabat tangannya dan kemudian cipika cipiki. Berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Sial lo ah! Padahal momennya lagi bagus banget nih. Gue sendu penuh derita begini terus tadi ekspresi gue bagus kan? Mestinya lo fotoin gue! Hahaha.
“Dih apaan sih lo? Masih aja gokil ya lo. Cewek gue juga gokil sih, cuman nggak segokil lo juga! Hahaha.”
“Enak yah, Ja? Masih bisa ngebanggain pasangan kita. Di sosmed gue, semuanya lagi seneng-senengnya ngebanggain pasangan atau anak mereka. Sedangkan gue? Malah lagi sibuk ngapus-ngapusin memori gue sama si doi…” kata Tifani sembari menunjukan media sosial dia. “Tadinya hampir semua sosmed gue isinya kita berdua doang. Sekarang apa yang mau gue share? Hehehe.”
“Turut prihatin ya, Tif.”
“Ini…” Dia menunjukkan badan dia. “Ini juga…” Kali ini dia mengeluarkan kunci mobil berlogo seperti shuriken atau logo partai mantan penguasa yang sering bilang "saya prihatin" dan isi dompet dia yang cukup tebal. “Jadi nggak berarti lagi rasanya, Ja…”
“Jangan gitu lah. Masih banyak kok cowok yang mau sama cewek independent, cewek mandiri, dan di luar sana masih banyak cowok tajir yang mau menghidupi cewek tajir lainnya. Atau lo terima aja dengan cowok nggak setajir lo? Banyak juga, Tif. Cowok di dunia ini tuh nggak cuma cowok lo doang kok…”
“Ini bukan cuma urusan duit, Ja. Bukan tajir atau nggak yang gue pikirin. Kalo urusan itu mendingan gue kejar-kejar lo mati-matian aja dari dulu, sambil ngedepak Ara pelan-pelan. Haha. Soalnya mantan cowok gue juga bukan dari kalangan orang kaya. Dia hanya orang biasa yang baru mulai kerja. Jadi emang dalam hubungan ini, gue biasa menghidupi dia. Gue jatuh cinta sama dia bukan karena itu. Karena dia mau menerima segala kekurangan gue. Dia bahkan meminta gue untuk berenti bekerja nantinya biar dia yang kerja keras untuk menghidupi keluarga kami. Dia sayang gue dan keluarga gue apa adanya. Dia yang mengukuhkan keluarga gue yang broken home ini. Tapi entah kenapa…” Tifani terlihat tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
“I’m sorry to hear that, Tif…” gue mengelus lembut punggung tangan kanannya yang pucat seperti mayat.
“Yeee, nggak usah ngasihanin gue, Ja. Gue strong kok! Hahaha.” kata dia sembari menghapus air matanya.
“Oh ya udah gue pulang ya. Kan lo strong. Lo udah nggak butuh gue lagi berarti.”
“Ya nggak gitu lah, Ja! Enak aja lo bikin gue dandan begini eh lo nggak mau dengerin cerita gue! Mahal nih mekap gue! Hahaha. Buru duduk lo! Kalo gue gue buka baju nih!”
“Sekali lagi lo frontal, gue bener-bener tinggalin lo! Ampun dah…” Masalahnya kita ada di tempat umum dimana semua orang bisa mendengar segala percakapan kita. Sakit emang si Tifani ini. Hahaha.
“Sori, Jaaa… Hehehe. Kita udah lama nggak ketemu malah mau langsung cabut aja lo. Nggak kangen gue lo emang?” tanya dia sembari menghirup vape yang dia bawa.
“Nggak lah. Gue aja nggak kepikiran bakalan kontak lagi sama lo, Tif. Hahaha. Kan gue kangennya sama cewek gue yang lagi cabut ke Bali.”
“Ih sakit bener ada yang nggak kangen gue. Pantes gue ditinggalin.”
“Dih kok bilang gitu lo?”
“Becanda, Ja. Hahaha. Kok bisa dah cewek lo ada kerjaannya weekend? Udah mana kerjaannya ke Bali pula. Kenapa lo nggak nyusulin, Ja?”
“Kebanyakan ngeluarin biaya kalo ke Bali pas weekend, Nyet. Gue kan lagi ngurusin nikahan. Butuh banyak biaya.”
“Mending biaya buat nikahan gue dipake aja kali ya sama lo?”
“Emang bisa? Ngawur lo! Hahaha.”
“Nggak bisa ya? Ya udahlah lo nabung lagi berarti. Hahaha. Intinya mah kita senasib, sama-sama ditinggalkan. Sama-sama kasian! Hahaha.”
“Eh gue mah nggak perlu dikasianinlah. Yang kasian itu lo doang. Jangan ngajak-ngajak gue. Hahaha. Gue ditinggal ke Bali tapi baik-baik aja hubungannya.” Gue harap begitu. “Sementara lo kan ditinggal laki lo, terus batal nikah. Hahaha.” Gue sangat berharap saat Emi kembali ke rumah, hubungan gue dan dia masih baik-baik saja. Dan akan selalu begitu.
“Reseee. Malah ngeledekin gue lo ya.” Katanya sambil menyubiti perut gue. Nggak sakit, mungkin karena badannya lebih tinggi ya. Karena biasanya yang cubitannya sakit itu orang-orang yang ukuran badannya mini. Entah kenapa. Hahaha. Emi adalah salah satu contohnya.
“Ya udah lo pesen makanan dulu. Udah jam makan malem nih. Jangan mesen bir lo ya. Gue nggak mau nganterin lo balik.”
“Mana jual bir di fast food begini, Ja. Buset! Gue masih bisa mikir buat hal begitu. Hahaha.”
Dia lalu memesan makanan yang entah menghabiskan berapa ratus ribu. Gue yakin dia masih rada mabuk karena dia asal nunjuk makanan yang ada di menu. Entah siapa yang bakalan ngabisin semua makanannya. Soalnya gue juga udah beres makan ini. Edan emang ini anak.
“Gue ke kamar mandi dulu ya. Kalo mau ngikut boleh. Hahaha.”
Gue hanya mengangguk. Gue lalu memperhatikan bagian belakang tubuh Tifani. Sintal banget ini anak. Gue pikir dia agak berisi malah terlihat sedikit gemuk, ternyata badannya berbentuk, seperti bodi gitar. Kulitnya juga sangat putih, pucat seperti mayat. Mengingatkan gue akan Keket kulitnya. Oh iya, dia juga memakai parfum yang sama dengan Keket. Jelas lah gue masih sangat hapal aroma parfum tersebut. Kayaknya banyak juga yang memakai parfum ini. Nggak Keket, nggak Ana, eh ternyata Tifani juga.
Sejenak gue berpikir, apa kabar dia sekarang? Gue sudah benar-benar lost contact dengan Keket. Sejak terakhir pertemuan kami, gue nggak pernah mendengar lagi kabarnya. Dia juga tidak aktif di media sosial manapun. Entah pakai username lain atau bagaimana, gue juga tidak peduli sebenarnya. Hanya kadang teringat masa lalu saja.
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
dan bintang 5 

