Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ


AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
sibli.lpuAvatar border
uang500ratusAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
188.2K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#255
Quality Time Tak Berkualitas_Part 5
“Udah ada kabar dari Pak Oscar nanti pesawatnya jam berapa hari Sabtu?” tanya gue sambil make semua pakaian tidur gue. Gue paling nggak bisa full naked sehabis tempur. Bisa masuk anj*ng. Hahaha.

“Belum ada kabar lagi sih ini.” jawab Emi sambil menggunakan bra dan celana dalamnya. “Tapi lagi diusahain ambil yang take-off jam 7. Biar sampe sana nggak siang-siang banget. Jadi di hari Sabtu, udah dapet lah survey di beberapa tempat.” Katanya, sambil memeriksa HP dan masih nggak ada niat menggunakan baju sama sekali. Dia memang suka menggoda gue dan rocky yang sedang beristirahat ini. Biarkan saja, resiko dia kalo misalnya nanti rocky mengajak kembali beraksi gara-gara melihat sang majikan menggeliat di kasur tanpa busana lengkap. Hahaha.

Gue menciumi perut dia yang rata yang kini sudah tidak berpeluh keringat lagi. “Kamu udah tau nanti surveynya apa aja dan kemana aja?” Dia menggeliat geli ketika ciuman gue menyasar ke titik-titik geli dia. Maaf, itu rahasia perusahaan. Gue nggak bisa bongkar dimana saja titik geli dia.

“Kalo dari pamfletnya sih lapangan golf, perumahan elit, sama perhotelan gitu. Tapi utamanya ya ke lapangan golfnya kayaknya. Soalnya pamflet yang dikasih sama Pak Edward cuma yang lapangan golf.”

“Buat ngecek apanya sih?”

Sprinkler-nya, Zy. Mekanisasi pengairan di sana. Ya urusannya masih air dan lingkungan lah kalo sama gue mah. Nggak jauh-jauh. Hehehe.”

Kemudian pembahasan kami berlanjut mengenai pekerjaan dia. Bagaimana perkembangan dia di kantor, bagaimana hubungan dia dengan teman-temannya dan atasan dia, bagaimana progres dia, dan banyak lainnya. Termasuk urusan dia dengan (MANTAN) kawan sejawatnya di Crocodile, Debby. Gue nggak paham, Emi sengaja menutupi atau memang sedang tidak mood membahas mengenai Debby. Biasanya dia paling semangat kalo sudah Debby sebagai topik utama. Tapi sepertinya dia memang sedang malas membahas si cewek muka dua (atau lebih) itu. Gue nggak mau memaksa dia. Gue nggak mau mood dia rusak karena itu.

Ternyata… Gue rindu seperti ini. Gue rindu nggak debat dengan Emi. Gue rindu nggak ngamuk-ngamuk dan marah satu sama lain. Gue rindu bercanda dengan Emi. Gue rindu mendengar celetukan nyeleneh dia tentang hal-hal yang dianggap tabu oleh orang banyak, tapi layak untuk di perbincangkan. Gue rindu diskusi segala hal sama dia. Gue rindu apapun tentang Emi.

Banyak hal yang tidak pernah bisa gue dapatkan ketika gue sama cewek-cewek itu. Pasti banyak yang akan mempertanyakan pada gue ‘Lalu apa yang lo cari dari mereka kalo lo udah ngerasa cukup sama Emi seorang?’ Ya gue juga nggak mau nyari-nyari lagi kok. Gue juga sudah berniat mengakhiri semuanya. Gue hanya mencari waktu yang tepat agar tidak ada yang tersakiti. Karena niat gue hanya satu, “… lebih baik gue nakal sekarang daripada gue nakal nanti saat kita sudah menikah.”

Semuanya butuh proses. Seperti apa yang Emi selalu bilang, butuh kesabaran dan disiplin untuk memperjuangkan sesuatu. Gue juga butuh proses menjadi Ija yang lebih baik untuk Emi.

“Laper, Zy… Jam berapa sih?”

Gue melihat jam yang ada di HP gue. “Udah hampir jam 6 nih. Buset. Berapa ronde kita tadi? Lama bener… Hahaha. Pantesan gue sampe bengek.” kata gue sembari menghirup inhaler untuk membantu pernapasan gue.

“Yailah, begini nih kalo tempur sama lakik berumur. Ganti lakik aja apa? Hahaha.”

“Enaaak aja lo sempak!” Gue menimpa badan dia.

Kring. Kring. Kring. HP Emi mendadak bunyi.

“Siapa nelepon jam segini?”

Gue ambil HP dia yang berada tepat di meja TV. “Bokap, Mi. Angkat dulu aja. Lo tadi bilangnya kita kemana?”

“Jalan-jalan aja…”

“Terus udah ijin nginep?”

“Belom. Gue mau dadakan, nginep di rumah temen.”

“Lah emang bisa?”

“Ya nggak tau. Kalo gue ijin nginep, terus dijemput sama lo. Gue nggak akan dapet ijin lah. Udah jelas nggak akan nginepnya sama lo. Yang ada doi curiga nanti.”

“Yaudah angkat dulu.”

“Halo, Pa…” Gue jalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan gue seadanya. Cuci muka, cuci rocky, dan apapun yang sekiranya membuat gue terlihat sehabis bertempur. Hahaha.

Gue mendengar dari dalam kamar mandi, sepertinya ada sedikit perdebatan antara Emi dan bapaknya. Entah apa yang mereka debatkan di telepon yang pasti membuat Emi tidak enak hati. Karena setelahnya gue mendengar suara HP dia yang dia banting ke lantai.

“Mi? Kenapa?” tanya gue setelah keluar dari kamar mandi.

“Gue disuruh balik, sekarang.”

“Lo disuruh balik ke rumah sekarang? Lah kenapa? Masih jam 6 loh.”

“Nggak ngerti, alesannya nggak jelas banget asli. Gue disuruh ngurusin nyokap lah. Disuruh beresin rumah dulu lah. Pokoknya kayak nyari alesan biar gue ada di rumah. Soalnya kan weekend gue nggak ada di rumah.” Emi jalan ke kamar mandi sepertinya untuk mandi. Dia membawa baju yang dia pakai sebelumnya hari itu.

“Ya kan bisa besok. Ini cuma perkara ngurus rumah doang? Lo nggak dikasih istirahat dikit di rumah lo emang?”

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Gue hanya bisa mendengar suara kucuran air dari keran dan guyuran air dari gayung. Emi sedang mandi. Tanpa menutup pintu kamar mandi. Gue pun menghampiri dia di kamar mandi.

“Mi…” Gue bisa melihat, Emi marah dan sedih di waktu bersamaan. “Kan gue udah sewa hotel buat 1 malem, Mi. Masa pulang sekarang sih?”

“Iya gue juga paham, Zy. Gue juga nggak enak sama lo. Kita udah susah-susah bawa baju begini, eh malah nggak jadi.” Emi mengeringkan badannya dengan handuk. “Dan untuk alesan yang nggak jelas banget. Asli dah…”

“Nggak jelas banget sih bokap lo.”

Emi sudah besar dan Emi masih under control dari bapaknya. Ini yang kadang membuat gue sedikit malas di keluarga kecil Emi ini. Emi HARUS DIPAKSA untuk menuruti seluruh aturan yang dibuat oleh kedua orang tua. Oke itu memang bagus, di satu sisi. Tapi mereka mengabaikan baik dan buruknya untuk Emi. Mereka hanya melihat ke posisi, itu baik BAGI MEREKA. Buktinya? Beberapa dari aturan mereka membuat Emi dijauhi teman-teman sepermainannya di komplek rumah waktu kecil dulu.

“Zy…” Emi kini sudah menggunakan bajunya kembali dan berdiri di hadapan gue. “Habis nikah, kita keluar dari rumah gue ya?”

---

((EMI CHAT))
Quote:


Gue tidak membalas chat dia lagi. Gue simpan HP gue di meja rias tadi. Wangi parfum Emi masih menyeruak di kamar hotel ini. Maklum, dia kalo pakai parfum emang dari ujung kepala hingga ujung kaki, termasuk selangkangan dia. Hahaha.

Gue bingung mau ngapain lagi. Sekarang gue sudah kembali ke kamar hotel aneh ini dan gue SENDIRIAN. Bener-bener sendirian. Gue akhirnya mengantar Emi pulang tadi. Tapi kali ini gue tidak mengantarkan ke rumahnya. Jadi yang orang tua Emi tahu, Emi itu pulang naik ojek online atau angkutan umum lain. Bukan diantar sama gue. Soalnya pada saat dia ditelepon sama bokapnya, dia bilang lagi di rumah temannya. Bukan lagi bareng sama gue. Yap, demi bisa menginap dan quality timesama gue.

Tapi lihat gue sekarang. Sendirian di kamar hotel sampe besok siang. Hmm. Ngapain lagi gue sekarang coba? “Apa gue pulang aja ke rumah ya? Toh udah jam 9 malam ini. Nggak rugi-rugi amat lah.”

Gue membuka aplikasi Line gue. Melihat ada banyak chat dari Arasti dan Hana di saat gue bosan, bingung, dan bete begini, mendadak gue punya ide nakal. “Gue ajak Arasti ketemuan aja malam ini? Hmm. Tapi emang lumayan jauh sih rumah dia dari hotel ini. Cuma kalo gue jemput, dia pasti mau. Ya nggak?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


Quality time?” gumam gue perlahan. Gue mendadak merasa bersalah. Masa iya gue yang tadinya berniat menyewa hotel ini untuk quality time dengan Emi malah berakhir mengajak cewek lain untuk quality time?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


“Sama-sama ada perasaan? Kapan gue bilang begitu?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


“Karena gue udah mau berkomitmen sama yang lain…”

((HANA CHAT))
Quote:


((ARASTI CHAT))
Quote:


“Buset, cewek sekarang pada demen banget sih video call? Hahaha. Jadi bingung ini 2 orang mendadak kepingin banget video call sama gue…”

Aslinya gue lagi males banget untuk video call sama mereka. Gue lagi pingin banget ngobrol langsung, sama Emi. Tapi karena Emi nggak bisa, gue pikir mungkin ngobrol langsung sama salah satu cewek-cewek itu nggak apa-apa. Namun apa daya? Niat nakal gue tetap tidak direstui ternyata.

Gue merebahkan badan gue ke kasur lagi. “Gue abisin aja dah sampe pagi. Nggak usah nunggu siang entar gue pulang aja. Lagian kan besok sore mesti janjian sama Emi di stasiun. Entar kalo tau gue nggak bisa ketemu sama dia padahal besoknya gue mau nganterin dia ke Bandara, bisa ngambek anak orang.” Emi memang tidak meminta gue untuk menemaninya ke bandara. Tetapi gue memaksa kalo gue akan mengantarkan dan menjemput dia.

Gue pribadi percaya, Emi pasti bisa berangkat sendiri. Tapi karena dia bisa berangkat sendiri, gue yang khawatir. Jadi, lebih baik gue sendiri yang memastikan keamanan dia daripada gue khawatir tidak jelas dan berujung emosi nggak jelas juga sama dia.

((ARASTI CHAT))
Quote:


((HANA CHAT))
Quote:




“Buset. Malem-malem seger bener gue dikirimin beginian? Hahaha. Tapi masalahnya gue lagi nggak mood ngobrol sama mereka. Walopun disuguhin kayak begini. Noh liat rocky nya nggak mau berdiri. Abis cape dia ngehajar majikan dia sendiri. Hahaha.” kata gue.

Gue kembali melanjutkan aktivitas gue. Gue sama sekali tidak membalas chat mereka. Maaf banget. Gue sedang tidak mood. Apalagi ketika mereka yang agresif ke gue begini. Bukan menolak rejeki, tapi gue pun lelah. Mungkin kalau mereka adalah Emi, gue masih mood meladeni mereka.

Drett. Drett. Drett.

((TIFANI VIDEO CALL))

Karena posisi gue sedang tidak siap menerima video call dadakan tersebut, gue pun memencet tombol yang salah.

Quote:

Mendadak Tifani menggeletakkan HP dia ke kasur. Kini yang gue liat hanya langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

Quote:

Kini di layar HP gue, gue pertama kali melihat Tifani hanya menggunakan bra di dalam kamarnya. Dulu gue hanya beruntung melihat bra yang berukuran cukup besar (yang sempat gue pikir itu bra punya ibunya). Hahaha. Tapi kini gue bisa melihat punya dia lebih jelas lagi. Tanpa dipinta.

kaskus-image


Tapi sayang, belom sempet gue ngomong apa-apa lagi. Dia langsung tertidur dengan HP dia yang jatuh tepat di tengah-tengah dadanya. Yang gue sempet liat saat itu? Hanya gelap. Gue pun menutup video calldia.

“Ini hotel emang nggak berkah. Ada aja godaannya. Mending gue check-out aja sekarang dah.” kata gue sembari packing semua barang gue dan pergi meninggalkan hotel maksiat tersebut.
panda2703
caporangtua259
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.