- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
teguhjepang9932 dan 93 lainnya memberi reputasi
84
189.3K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#249
Quality Time Tak Berkualitas_Part 3
((EMI CHAT))
Gue memeriksa HP gue. Gue sudah bilang ke Hana dan Arasti kalau gue sedang ada pekerjaan di luar kota. Mungkin gue nggak ada sinyal jadinya nggak bisa menghubungi mereka. Ana? Gue sudah bilang untuk tidak sering-sering menghubungi gue di luar jam kerja, kecuali gue yang menghubungi dia duluan. WALAUPUN, jarang gue akan menghubungi dia lebih dulu.
Khusus untuk Ana, nanti waktu akan menjawab. Mengapa demikian? Karena soon, dia yang notabene-nya satu kantor dengan gue pasti akan tahu kalau gue akan mengurus berkas-berkas pernikahan. Gue merasa tidak perlu ada lagi yang dijelaskan pada dia. Toh gue tidak mengaku jomblo pada dia. Dia hanya berasumsi sendiri dan gue biarkan dia berimajinasi dengan sendirinya. Hahaha.
Edna? Skip. Dia masih marah-marah nggak jelas dengan gue. Jadi gue abaikan dia. Gue paling tidak suka sama cewek yang betah marah berlama-lama demi mendapatkan kepuasan dengan mendengar ‘Maafin aku ya sayang, aku yang salah…’ Tapi mereka puas begitu saja? Oh tentu saja tidak. Mereka masih akan berkoar tentang bagaimana mereka tidak menyukai perlakuan kita pada mereka dan berujung kita yang mohon-mohon pada mereka.
Gue paling anti untuk hal yang seperti itu. Terbukti dari deretan mantan gue, tidak pernah gue melakukan hal-hala seperti itu ke mereka.
Lagipula, siapa Edna di hidup gue? Dia hanya cewek yang mendadak hadir di hidup gue dan minta gue untuk mendengarkan seluruh cerita dia. Gue di sini hanya memberi advice dan bantuan (dalam bentuk memperbolehkan dia menggunakan nama gue sebagai pacar palsu dia, nggak lebih). Berarti kalau gue tidak ada kabar atau punya kesibukan lain, harusnya Edna tidak punya hak untuk marah bukan? Kenapa dia malah ngambek berkepanjangan begini? Aneh kadang kalau cewek masih puber tuh.
Gue sudah menentukan di mana kami akan menginap nanti. Tadinya gue berpikir untuk pergi ke Sukabumi atau Puncak untuk kami menginap. Toh kalau pergi ke sana di hari kerja, pasti jalanan tidak akan ramai layaknya akhir pekan. Tapi mengingat Emi akan pergi ke Bali yang perjalanannya cukup jauh, gue nggak mau dia terlalu lelah. Jadi, gue putuskan untuk mencari salah satu hotel di pusat kota tempat Emi tinggal.
Sebenarnya gue bisa saja menginap di hotel di mana gue dan Emi pernah menginap saat Emi masih di kampus dulu. Tetapi gue sayang saja, bukan karena nominal uang yang akan gue keluarkan tetapi karena kami memang tidak akan berlama-lama di sana. Dan kebetulan, gue juga lagi penasaran dengan keberadaan hotel ini. Gue khawatir, hotel ini adalah hotel underrated yang aslinya mungkin berkualitas, hanya kurang promosi saja. Mungkin. Walaupun di dalam hati gue ada bisikan-bisikan ‘Itu hotel buat ngew*’. Hahaha.
Gue lihat di internet, tidak banyak review tentang hotel ini. Tetapi bagaimana bisa katanya hotel ini cukup terkenal dan legendaris? Kok bisa dibilang legendaris kalau tidak banyak yang memberikan testimoni? Ada sedikit kekhawatiran kalo nanti (mungkin) gue akan ditawarkan cewek lagi untuk gue ‘pake tidur’. Tapi kan gue sudah bawa Emi, masa iya gue masih ditawarkan lagi? Seru juga tapi kalo begitu. Hahaha.
Ketika motor gue sudah memasuki halaman parkir dekat lobi, gue melihat hotel ini seperti kurang terawat. Entah mengapa. Tidak seperti ekspektasi gue. Kami masuk ke dalam lobi hotel untuk berbicara dengan resepsionis hotel tersebut. Soalnya gue melihat ada beberapa mobil dan banyak motor di halaman parkir mereka. Gue khawatir, hotel ini malah penuh untuk digunakan sebagai one night stand atau bahkan hanya untuk beberapa jam eksekusi saja. Hahaha. Begitu masuk ke lobinya pun gue tidak merasakan kenyamanan seperti hotel kelas melati sekalipun. Untungnya, resepsionis menyambut kami dengan ramah. Gue masih berusaha untuk positive thinking pada hotel ini.
“Selamat datang di hotel kami! Ada yang bisa kami bantu?”
“Masih ada kamar kosong, Mbak?”
Tidak berapa lama, ada cewek lain keluar dari dalam ruangan di belakang meja resepsionis. Sepertinya beliau habis bangun tidur, atau kalo gue membiarkan pikiran gue berkreasi sebebas-bebasnya, gue akan bilang ‘Abis nyep*ng lo yak?’ Hahaha. “Coba kami cek terlebih dahulu ya ketersediaan kamarnya.”
Sembari menunggu mereka, gue dan Emi melihat sekeliling hotel tersebut. Hotelnya bersih namun bangunannya tidak terawat dengan baik. Kalo mereka sampe membuat kami menunggu untuk dicek ketersediaan kamar, berarti kemungkinan banyak kamar yang telah terisi atau di-booking oleh orang. Harusnya mereka punya biaya untuk operasional mereka. Tapi melihat cat tembok yang mulai menguning efek rembesan air hujan dan beberapa cat furnitur yang mulai terkelupas, masa iya hotel ini tidak bisa menutup biaya operasional mereka?
“Kami hampir ]full booked, Mas. Tersisa dua kamar lagi, tapi ukurannya kecil.” Heran, mereka tidak menyebutkan sama sekali jenis-jenis kamar yang mereka miliki seperti standar room, superior room, atau deluxe room. Mereka hanya menyebutkan ukuran kamarnya.
“Memang ukurannya beda-beda kamarnya?”
“Ada yang lebih besar lagi ukurannya… Harganya juga beda-beda, Mas.”
Jelas beda. Ya ukuran kamar kan mempengaruhi fasilitas dan kualitas kamar hotel tentunya. Tapi kalo gue pikir-pikir, hotel ini lebih cocok disebut wisma dibandingkan hotel. “Yaudah nggak apa-apa. Yang ada aja.”
“Baik, totalnya Rp150.000,-, Mas.”
Bener kan? Murah harganya, fasilitas minim, tapi full booked? Apa lagi kalo bukan hotel esek-esek? Hahaha. “Bisa bayar pake kartu?” Sebenarnya gue nggak suka transaksi di tempat seperti ini menggunakan kartu, tapi gue hanya mencoba untuk tes mereka saja.
“Maaf, cash only, Mas. Mesin EDC kami rusak.” Nah kan, rusak atau memang tidak ada untuk menghindari para esekers ini ketauan dimana mereka beraksi?
Gue pun mengeluarkan uang cash yang gue bawa. Gampang, nanti tinggal ambil cash lagi. Toh kami bakalan tetep keluar buat makan malam. “Rp150.000,- ya…” ucap gue sembari memberikan uang gue.
Kemudian, teman dia membisikkan sesuatu pada resepsionis yang melayani kami. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, resepsionis ini kemudian bilang ‘Oh iya gue lupa.’. Jangan bilang kalo mendadak sudah full booked.
“Hmm. Mau nginep atau nggak, Mas?” WUADUH! Seriusan yang begini ditanyain? Gue dan Emi kaget bukan main.
Gue yang ditanyakan seperti itu tentu saja bingung berat. Hotel yang memang seharusnya dijadikan tempat menginap seharusnya tidak ada pertanyaan seperti ini. Tetapi kemudian gue dan Emi tersadar kalau memang benar adanya hotel ini adalah hotel yang difungsikan untuk menyalurkan syahwat orang-orang yang memang tidak perlu waktu satu hari penuh sampai harus menginap. Gue semakin excited untuk tahu, bagaimana fasilitas yang mereka tawarkan.
“Kalau ke hotel biasanya sih saya nginep, Mbak. Hehehe.” Balas gue.
“Ya kali aja mau buru-buru jadinya bisa langsung pergi lagi, Mas. Hehehe.” Kata dia sembari memberikan kuitansi, yak gue nggak salah ngomong. Sebagai tanda transaksi kami, mereka memberikan kuitansi kertas yang ditulis tangan. Memang beda betul hotel ini.
“Emang kalo langsung pergi lagi, harganya beda jadinya, Mbak?”
“Ya nggak juga, Mas. Kan hitungannya booking satu kamar. Hahaha. Mas bisa aja…” Dia malah tersipu malu dengan pertanyaan gue tersebut. Suaranya gurih banget, kayaknya dia sudah biasa menggoda orang.
“Nanti diantarkan oleh teman saya ini ya, Mas. Selamat beristirahat!”
“Makasih, Mbak…” kata gue dan Emi berbarengan. Gue yakin, Emi memiliki pemikiran yang sama dengan gue tentang hotel ini. Terutama dengan si Mbak tadi.
Gue dan Emi diantarkan ke kamar oleh porter cewek, teman resepsionis tadi. Dia cukup memberitahukan gue dimana kamar kami. Sebenarnya dia tidak perlu mengantarkan kami begini, apalagi dia juga tidak perlu membawa barang-barang apapun. Dan kayaknya, dia memang tidak berniat untuk menawarkan jasa membawa barang karena dia hanya mengarahkan jalan menuju kamar kami sembari menenteng kunci pintu yang ada nomornya. Seharusnya tidak sulit bagi kami untuk mencari kamar sesuai nomor kunci pintu tersebut. Tapi apa daya, dia sudah lebih dulu diperintah untuk mengantarkan kami. Toh gue tidak dirugikan.
Kami berjalan di koridor lantai 3 setelah sebelumnya menaiki lift yang bisa di bilang sudah berumur dan tidak terawat. Ada beberapa goresan di handle lift tersebut yang tidak di perbaiki. Bagaimana dengan mesinnya? Mesin lift biasanya berada di bagian gedung paling atas. Tetapi gue bisa mendengar dengan cukup jelas bagaimana lift ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Jelas tidak dirawat dengan baik mesinnya.
Koridor lantai 3 tempat kamar kami berada pun layaknya lorong untuk uji nyali. Keadaannya benar-benar sunyi sepi dan seperti tidak berpenghuni sama sekali. Gue saja sempat berpikir jika akan keluar kamar pada malam hari akan mendapatkan pengalaman mistis yang begitu hebat, lebih hebat daripada ketika gue pertama kali menginjakkan kaki di dalam gedung hotel ini. Pengalaman mistis digrebek Satpop PP karena mengajak mesum cewek (yang dianggap) di bawah umur. Hahaha. Amit-amit. Hahaha. Tapi kalo beneran terjadi, sungguh pengalaman yang unik (dan memalukan pastinya).
“Zy, hotelnya gini amat ya?” tanya Emi setelah merapatkan jalannya ke dekat gue dan berbisik agar si porter cewek tidak mendengar percakapan kami.
“Nggak tau gue juga. Ini aja gue ngerasa serem. Hawanya nggak ngenakin.” kata gue bergidik.
“Ini beneran aman kan, Zy? Nggak akan ada hidden camera gitu nanti? Gue takut, Zy. Nanti malah diem-diem kita direkam lagi sama orang.”
Gue menengok ke arah kanan dan kiri, memastikan tidak ada hidden camera seperti yang Emi bilang tadi. “Harusnya sih ngeliat mereka tetep rame pengunjung walopun fasilitasnya ‘begini’…” Gue memberikan isyarat pada Emi yang menunjukkan kalo kondisi hotelnya memang jauh dari kata layak. “Mereka nggak simpen-simpen hidden camera begitu. Mudah-mudahan ya, Mi. Lagian dari tadi gue liat, CCTV cuman ada di deket resepsionis doangan, Mi. Nggak ada dimana-mana lagi. Nggak cukup kali mereka beli CCTV lebih banyak? Hehehe.”
Porter cewek yang mengantar pun tidak banyak bicara dan terkesan misterius. Seperti Rangga di AADC mungkin ya misteriusnya. Dia hanya menunjukkan jalan dengan isyarat tangan saja, tanpa berbicara. Raut mukanya juga tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar-datar saja dan terlihat dingin sepintas. Berbeda dengan temannya, resepsionis, yang lebih ekspresif dan ramah.
Sesampainya di depan kamar hotel, barulah si porter cewek ini mengeluarkan suara. “Sebelah sini kamarnya. Silakan masuk. Selamat istirahat.” ucapnya, tetap tanpa ekspresi. Benar-benar seperti film-film horor saja gayanya. Gue nggak memikirkan itu lagi dan langsung masuk ke dalam hotel bersama Emi.
“Eh nggak ada anduk sama sabun gitu-gitunya, Zy?” tanya Emi mendadak.
“Serius nggak ada?” Gue langsung keluar kamar dan mengejar porter tadi. “Mbak. Sebentar. Ini anduknya dianter nanti apa gimana?”
“Oh iya sebentar. Nanti saya antarkan.” ucapnya tanpa senyum sama sekali, walopun nada bicaranya ramah.
“Makasih, Mbak.” ucap gue.
Tiba-tiba ada pasangan muda mudi keluar dari salah satu kamar yang berada di seberang kamar kami. Si cewek membenarkan kerudung yang ia pakai. Sedangkan yang cowok memasukkan baju seragam SMA nya ke dalam celana mereka. Gue bisa melihat, mereka sama sekali tidak membawa tas sekolah mereka. Berarti antara tas yang mereka bawa masih di dalam kamar atau mereka memang sengaja tidak membawa tas sekolah mereka. Bodo amat juga gue. Mereka melewati gue dengan wajah sedikit ditutupi oleh rambut dan tangan mereka, mungkin malu karena khawatir gue berpikir macam-macam. Padahal gue pribadi pun tidak peduli.
“Cowoknya punya modal juga ternyata sampe nyewa hotel cuma untuk ngajak tidur ceweknya…” gumam gue perlahan sembari menutup pintu.
“Kenapa, Zy?” tanya Emi yang masih aja sibuk inspeksi kamar hotel kami.
“Nggak, itu tadi ada anak SMA baru keluar dari kamar. Hebat aja si cowoknya masih SMA punya modal buat bayar hotel…”
“Anak SMA ke hotel?”
“Iya, kenapa?”
“Anak SMA, Zy?”
“Eh iya yak! Buset kelakuan anak jaman sekarang! Udah ke hotel aja. Ah harusnya gue liat mukanya tuh! Mereka pasti ngerekam-rekam tuh! Entar kalo suatu saat ada yang share dan ternyata mereka, kan gue bisa komen ‘Ah gue kenal nih anaknya!’ Hahaha.”
“Iyak, terus ketauan deh kalo lo juga nginep ke hotel sama cewek. Nanti tinggal tunggu aja gimana gosipnya kesebar antara ‘Si Ija ke hotel sama Emi nggak tuh?’ atau ‘Si Ija udah pernah ke hotel sama Emi? Anjay! Dicek spare part dulu yak sebelom kimpoi?’ Mau yang mana lo?”
“Dih gitu… Hahaha. Kan gue becanda, Mi. Nggak asik ah lo. Hahaha.” Emi hanya memonyongkan bibirnya dan tiduran di kasur hotel tersebut.
Quote:
Gue memeriksa HP gue. Gue sudah bilang ke Hana dan Arasti kalau gue sedang ada pekerjaan di luar kota. Mungkin gue nggak ada sinyal jadinya nggak bisa menghubungi mereka. Ana? Gue sudah bilang untuk tidak sering-sering menghubungi gue di luar jam kerja, kecuali gue yang menghubungi dia duluan. WALAUPUN, jarang gue akan menghubungi dia lebih dulu.
Khusus untuk Ana, nanti waktu akan menjawab. Mengapa demikian? Karena soon, dia yang notabene-nya satu kantor dengan gue pasti akan tahu kalau gue akan mengurus berkas-berkas pernikahan. Gue merasa tidak perlu ada lagi yang dijelaskan pada dia. Toh gue tidak mengaku jomblo pada dia. Dia hanya berasumsi sendiri dan gue biarkan dia berimajinasi dengan sendirinya. Hahaha.
Edna? Skip. Dia masih marah-marah nggak jelas dengan gue. Jadi gue abaikan dia. Gue paling tidak suka sama cewek yang betah marah berlama-lama demi mendapatkan kepuasan dengan mendengar ‘Maafin aku ya sayang, aku yang salah…’ Tapi mereka puas begitu saja? Oh tentu saja tidak. Mereka masih akan berkoar tentang bagaimana mereka tidak menyukai perlakuan kita pada mereka dan berujung kita yang mohon-mohon pada mereka.
Gue paling anti untuk hal yang seperti itu. Terbukti dari deretan mantan gue, tidak pernah gue melakukan hal-hala seperti itu ke mereka.
Lagipula, siapa Edna di hidup gue? Dia hanya cewek yang mendadak hadir di hidup gue dan minta gue untuk mendengarkan seluruh cerita dia. Gue di sini hanya memberi advice dan bantuan (dalam bentuk memperbolehkan dia menggunakan nama gue sebagai pacar palsu dia, nggak lebih). Berarti kalau gue tidak ada kabar atau punya kesibukan lain, harusnya Edna tidak punya hak untuk marah bukan? Kenapa dia malah ngambek berkepanjangan begini? Aneh kadang kalau cewek masih puber tuh.
Gue sudah menentukan di mana kami akan menginap nanti. Tadinya gue berpikir untuk pergi ke Sukabumi atau Puncak untuk kami menginap. Toh kalau pergi ke sana di hari kerja, pasti jalanan tidak akan ramai layaknya akhir pekan. Tapi mengingat Emi akan pergi ke Bali yang perjalanannya cukup jauh, gue nggak mau dia terlalu lelah. Jadi, gue putuskan untuk mencari salah satu hotel di pusat kota tempat Emi tinggal.
Sebenarnya gue bisa saja menginap di hotel di mana gue dan Emi pernah menginap saat Emi masih di kampus dulu. Tetapi gue sayang saja, bukan karena nominal uang yang akan gue keluarkan tetapi karena kami memang tidak akan berlama-lama di sana. Dan kebetulan, gue juga lagi penasaran dengan keberadaan hotel ini. Gue khawatir, hotel ini adalah hotel underrated yang aslinya mungkin berkualitas, hanya kurang promosi saja. Mungkin. Walaupun di dalam hati gue ada bisikan-bisikan ‘Itu hotel buat ngew*’. Hahaha.
Gue lihat di internet, tidak banyak review tentang hotel ini. Tetapi bagaimana bisa katanya hotel ini cukup terkenal dan legendaris? Kok bisa dibilang legendaris kalau tidak banyak yang memberikan testimoni? Ada sedikit kekhawatiran kalo nanti (mungkin) gue akan ditawarkan cewek lagi untuk gue ‘pake tidur’. Tapi kan gue sudah bawa Emi, masa iya gue masih ditawarkan lagi? Seru juga tapi kalo begitu. Hahaha.
Ketika motor gue sudah memasuki halaman parkir dekat lobi, gue melihat hotel ini seperti kurang terawat. Entah mengapa. Tidak seperti ekspektasi gue. Kami masuk ke dalam lobi hotel untuk berbicara dengan resepsionis hotel tersebut. Soalnya gue melihat ada beberapa mobil dan banyak motor di halaman parkir mereka. Gue khawatir, hotel ini malah penuh untuk digunakan sebagai one night stand atau bahkan hanya untuk beberapa jam eksekusi saja. Hahaha. Begitu masuk ke lobinya pun gue tidak merasakan kenyamanan seperti hotel kelas melati sekalipun. Untungnya, resepsionis menyambut kami dengan ramah. Gue masih berusaha untuk positive thinking pada hotel ini.
“Selamat datang di hotel kami! Ada yang bisa kami bantu?”
“Masih ada kamar kosong, Mbak?”
Tidak berapa lama, ada cewek lain keluar dari dalam ruangan di belakang meja resepsionis. Sepertinya beliau habis bangun tidur, atau kalo gue membiarkan pikiran gue berkreasi sebebas-bebasnya, gue akan bilang ‘Abis nyep*ng lo yak?’ Hahaha. “Coba kami cek terlebih dahulu ya ketersediaan kamarnya.”
Sembari menunggu mereka, gue dan Emi melihat sekeliling hotel tersebut. Hotelnya bersih namun bangunannya tidak terawat dengan baik. Kalo mereka sampe membuat kami menunggu untuk dicek ketersediaan kamar, berarti kemungkinan banyak kamar yang telah terisi atau di-booking oleh orang. Harusnya mereka punya biaya untuk operasional mereka. Tapi melihat cat tembok yang mulai menguning efek rembesan air hujan dan beberapa cat furnitur yang mulai terkelupas, masa iya hotel ini tidak bisa menutup biaya operasional mereka?
“Kami hampir ]full booked, Mas. Tersisa dua kamar lagi, tapi ukurannya kecil.” Heran, mereka tidak menyebutkan sama sekali jenis-jenis kamar yang mereka miliki seperti standar room, superior room, atau deluxe room. Mereka hanya menyebutkan ukuran kamarnya.
“Memang ukurannya beda-beda kamarnya?”
“Ada yang lebih besar lagi ukurannya… Harganya juga beda-beda, Mas.”
Jelas beda. Ya ukuran kamar kan mempengaruhi fasilitas dan kualitas kamar hotel tentunya. Tapi kalo gue pikir-pikir, hotel ini lebih cocok disebut wisma dibandingkan hotel. “Yaudah nggak apa-apa. Yang ada aja.”
“Baik, totalnya Rp150.000,-, Mas.”
Bener kan? Murah harganya, fasilitas minim, tapi full booked? Apa lagi kalo bukan hotel esek-esek? Hahaha. “Bisa bayar pake kartu?” Sebenarnya gue nggak suka transaksi di tempat seperti ini menggunakan kartu, tapi gue hanya mencoba untuk tes mereka saja.
“Maaf, cash only, Mas. Mesin EDC kami rusak.” Nah kan, rusak atau memang tidak ada untuk menghindari para esekers ini ketauan dimana mereka beraksi?
Gue pun mengeluarkan uang cash yang gue bawa. Gampang, nanti tinggal ambil cash lagi. Toh kami bakalan tetep keluar buat makan malam. “Rp150.000,- ya…” ucap gue sembari memberikan uang gue.
Kemudian, teman dia membisikkan sesuatu pada resepsionis yang melayani kami. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, resepsionis ini kemudian bilang ‘Oh iya gue lupa.’. Jangan bilang kalo mendadak sudah full booked.
“Hmm. Mau nginep atau nggak, Mas?” WUADUH! Seriusan yang begini ditanyain? Gue dan Emi kaget bukan main.
Gue yang ditanyakan seperti itu tentu saja bingung berat. Hotel yang memang seharusnya dijadikan tempat menginap seharusnya tidak ada pertanyaan seperti ini. Tetapi kemudian gue dan Emi tersadar kalau memang benar adanya hotel ini adalah hotel yang difungsikan untuk menyalurkan syahwat orang-orang yang memang tidak perlu waktu satu hari penuh sampai harus menginap. Gue semakin excited untuk tahu, bagaimana fasilitas yang mereka tawarkan.
“Kalau ke hotel biasanya sih saya nginep, Mbak. Hehehe.” Balas gue.
“Ya kali aja mau buru-buru jadinya bisa langsung pergi lagi, Mas. Hehehe.” Kata dia sembari memberikan kuitansi, yak gue nggak salah ngomong. Sebagai tanda transaksi kami, mereka memberikan kuitansi kertas yang ditulis tangan. Memang beda betul hotel ini.
“Emang kalo langsung pergi lagi, harganya beda jadinya, Mbak?”
“Ya nggak juga, Mas. Kan hitungannya booking satu kamar. Hahaha. Mas bisa aja…” Dia malah tersipu malu dengan pertanyaan gue tersebut. Suaranya gurih banget, kayaknya dia sudah biasa menggoda orang.
“Nanti diantarkan oleh teman saya ini ya, Mas. Selamat beristirahat!”
“Makasih, Mbak…” kata gue dan Emi berbarengan. Gue yakin, Emi memiliki pemikiran yang sama dengan gue tentang hotel ini. Terutama dengan si Mbak tadi.
Gue dan Emi diantarkan ke kamar oleh porter cewek, teman resepsionis tadi. Dia cukup memberitahukan gue dimana kamar kami. Sebenarnya dia tidak perlu mengantarkan kami begini, apalagi dia juga tidak perlu membawa barang-barang apapun. Dan kayaknya, dia memang tidak berniat untuk menawarkan jasa membawa barang karena dia hanya mengarahkan jalan menuju kamar kami sembari menenteng kunci pintu yang ada nomornya. Seharusnya tidak sulit bagi kami untuk mencari kamar sesuai nomor kunci pintu tersebut. Tapi apa daya, dia sudah lebih dulu diperintah untuk mengantarkan kami. Toh gue tidak dirugikan.
Kami berjalan di koridor lantai 3 setelah sebelumnya menaiki lift yang bisa di bilang sudah berumur dan tidak terawat. Ada beberapa goresan di handle lift tersebut yang tidak di perbaiki. Bagaimana dengan mesinnya? Mesin lift biasanya berada di bagian gedung paling atas. Tetapi gue bisa mendengar dengan cukup jelas bagaimana lift ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Jelas tidak dirawat dengan baik mesinnya.
Koridor lantai 3 tempat kamar kami berada pun layaknya lorong untuk uji nyali. Keadaannya benar-benar sunyi sepi dan seperti tidak berpenghuni sama sekali. Gue saja sempat berpikir jika akan keluar kamar pada malam hari akan mendapatkan pengalaman mistis yang begitu hebat, lebih hebat daripada ketika gue pertama kali menginjakkan kaki di dalam gedung hotel ini. Pengalaman mistis digrebek Satpop PP karena mengajak mesum cewek (yang dianggap) di bawah umur. Hahaha. Amit-amit. Hahaha. Tapi kalo beneran terjadi, sungguh pengalaman yang unik (dan memalukan pastinya).
“Zy, hotelnya gini amat ya?” tanya Emi setelah merapatkan jalannya ke dekat gue dan berbisik agar si porter cewek tidak mendengar percakapan kami.
“Nggak tau gue juga. Ini aja gue ngerasa serem. Hawanya nggak ngenakin.” kata gue bergidik.
“Ini beneran aman kan, Zy? Nggak akan ada hidden camera gitu nanti? Gue takut, Zy. Nanti malah diem-diem kita direkam lagi sama orang.”
Gue menengok ke arah kanan dan kiri, memastikan tidak ada hidden camera seperti yang Emi bilang tadi. “Harusnya sih ngeliat mereka tetep rame pengunjung walopun fasilitasnya ‘begini’…” Gue memberikan isyarat pada Emi yang menunjukkan kalo kondisi hotelnya memang jauh dari kata layak. “Mereka nggak simpen-simpen hidden camera begitu. Mudah-mudahan ya, Mi. Lagian dari tadi gue liat, CCTV cuman ada di deket resepsionis doangan, Mi. Nggak ada dimana-mana lagi. Nggak cukup kali mereka beli CCTV lebih banyak? Hehehe.”
Porter cewek yang mengantar pun tidak banyak bicara dan terkesan misterius. Seperti Rangga di AADC mungkin ya misteriusnya. Dia hanya menunjukkan jalan dengan isyarat tangan saja, tanpa berbicara. Raut mukanya juga tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar-datar saja dan terlihat dingin sepintas. Berbeda dengan temannya, resepsionis, yang lebih ekspresif dan ramah.
Sesampainya di depan kamar hotel, barulah si porter cewek ini mengeluarkan suara. “Sebelah sini kamarnya. Silakan masuk. Selamat istirahat.” ucapnya, tetap tanpa ekspresi. Benar-benar seperti film-film horor saja gayanya. Gue nggak memikirkan itu lagi dan langsung masuk ke dalam hotel bersama Emi.
“Eh nggak ada anduk sama sabun gitu-gitunya, Zy?” tanya Emi mendadak.
“Serius nggak ada?” Gue langsung keluar kamar dan mengejar porter tadi. “Mbak. Sebentar. Ini anduknya dianter nanti apa gimana?”
“Oh iya sebentar. Nanti saya antarkan.” ucapnya tanpa senyum sama sekali, walopun nada bicaranya ramah.
“Makasih, Mbak.” ucap gue.
Tiba-tiba ada pasangan muda mudi keluar dari salah satu kamar yang berada di seberang kamar kami. Si cewek membenarkan kerudung yang ia pakai. Sedangkan yang cowok memasukkan baju seragam SMA nya ke dalam celana mereka. Gue bisa melihat, mereka sama sekali tidak membawa tas sekolah mereka. Berarti antara tas yang mereka bawa masih di dalam kamar atau mereka memang sengaja tidak membawa tas sekolah mereka. Bodo amat juga gue. Mereka melewati gue dengan wajah sedikit ditutupi oleh rambut dan tangan mereka, mungkin malu karena khawatir gue berpikir macam-macam. Padahal gue pribadi pun tidak peduli.
“Cowoknya punya modal juga ternyata sampe nyewa hotel cuma untuk ngajak tidur ceweknya…” gumam gue perlahan sembari menutup pintu.
“Kenapa, Zy?” tanya Emi yang masih aja sibuk inspeksi kamar hotel kami.
“Nggak, itu tadi ada anak SMA baru keluar dari kamar. Hebat aja si cowoknya masih SMA punya modal buat bayar hotel…”
“Anak SMA ke hotel?”
“Iya, kenapa?”
“Anak SMA, Zy?”
“Eh iya yak! Buset kelakuan anak jaman sekarang! Udah ke hotel aja. Ah harusnya gue liat mukanya tuh! Mereka pasti ngerekam-rekam tuh! Entar kalo suatu saat ada yang share dan ternyata mereka, kan gue bisa komen ‘Ah gue kenal nih anaknya!’ Hahaha.”
“Iyak, terus ketauan deh kalo lo juga nginep ke hotel sama cewek. Nanti tinggal tunggu aja gimana gosipnya kesebar antara ‘Si Ija ke hotel sama Emi nggak tuh?’ atau ‘Si Ija udah pernah ke hotel sama Emi? Anjay! Dicek spare part dulu yak sebelom kimpoi?’ Mau yang mana lo?”
“Dih gitu… Hahaha. Kan gue becanda, Mi. Nggak asik ah lo. Hahaha.” Emi hanya memonyongkan bibirnya dan tiduran di kasur hotel tersebut.
itkgid dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Tutup
dan bintang 5 
