- Beranda
- Stories from the Heart
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
...
TS
yanagi92055
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
Selamat Datang di Trit Kami
私のスレッドへようこそ
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!
Quote:
Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):
Spoiler for PERATURAN:
Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:
HAPPY READING! 

Quote:
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2024 12:56
uang500ratus dan 92 lainnya memberi reputasi
83
186.7K
3.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#230
Ana Yang Mengganjal_Part 1
((EMI CHAT))
Cowok, kalo sudah mendapatkan chat seperti itu dari pasangan mereka, hidupnya bisa mendadak berputar 360 derajat. Termasuk gue yang notabene masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Yup. Sekarang jam 17.00 dan gue baru saja mau beranjak pulang dari kota tempat tinggal Emi, ke rumah gue. Miris banget memang hidup gue. Acara gue yang jauh-jauh lebih penting, malah hanya menghabiskan waktu 1 jam lebih dikit. Tapi keluarga tercinta gue lebih banyak dan fokus menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan.
Hati gue makin yakin. “Gue bakalan ajak Emi pergi, menghilang dari kedua keluarga kami. Kami bakalan balik lagi kalo kami udah sukses nanti.” ucap gue dalam hati.
“Kenapa cemberut terus sih, Ja? Kan udah tau tanggal Lamarannya. Sekarang tinggal kamu kabarin Mbah, minta restu dan hitungan tanggal baik buat Akad Nikah kamu ya, Le.” Kata Tante Ida sembari merangkul gue dalam perjalanan kami ke mobil di parkiran salah satu restoran.
Gue memasang senyum ter-ikhlas gue (yang nggak ikhlas-ikhlas amat). Sorry, gue orang yang nggak bisa menutupi perasaan gue. “Iya, Tante. Nanti Ija cerita sama Mbah.”
“Loh, kenapa nggak kamu bantu juga nelepon Ibuk?” Om Dani nengok ke arah Mama yang masih aja terus mengurus Dian. Anjir, anak 1 doang yang ribet ngurusin sampai 3 orang banget. Mending bapak ibunya pensiun aja dah jadi orang tua. Heran gue. Seharian yang ngurusin anaknya malah Mama.
“Ija sendiri kan bisa bukan tadi? Kenapa harus ibunya mulu sih?” jawab Mama tanpa sedikitpun menoleh ke arah gue dan Om Dani, lawan bicara beliau.
“Ibunya mulu? Kapan Mama ngurusin urusan Ija? Hari ini aja emang Mama fokus apa yang dibahas hari ini?”
“Kakak! Apaan sih lo? Malah ngajak ribut Mama di tempat begini? Udah ayo pulang!”
“Gue biasa aja loh ini. Gue cuma mau nyampein fakta aja. Nikahan lo itu udah lewat dan hari ini mau ngurusin nikahan gue. Masa yang dibahas sepanjang hari malah pengalaman Mama ngurusin nikahan lo dan gimana progres perkembangan Dian?”
“Le… Udah.” ujar Om Dani dengan tenang dan merangkul gue, lalu mengajak masuk ke dalam mobil beliau. Sedangkan Mama dan Dania diajak masuk ke dalam mobil gue. “Kenapa toh, Le? Kok jadinya kamu kayak petasan begitu? Meledak-ledak begitu?”
“Ija tuh nggak apa-apa kalo Mama emang HARUS BANGET ngurusin Dian. Tapi Ija minta waktunya Mama sebentar aja buat fokus sama urusan Ija, Om. Ija malu banget di depan keluarganya Emi, Mama malah sibuk promosi Dian dan cerita tentang urusan Dania. Emang KELUARGA BESAR EMI ngerasa urusan Dania dan Dian itu penting buat mereka? Nggak ada. Sekarang 1 jam di sana, kita ngomongin apaan tadi? Cuma 1 doang kan? Lamaran Ija nanti di bulan Maret taun depan. Sisanya apaan coba? Dian sama Dania aja terus.” Andai gue di depan temen gue, pasti akan gue tambahan “… Anj*ng!” biar puas.
Om gue terdiam dengan apa yang tuturkan barusan. Mungkin beliau juga merasa kalo apa yang gue sampaikan itu benar. Dari raut wajahnya yang tadinya berusaha menenangkan gue, berubah menjadi raut wajah bersalah. “Om juga minta maaf ya, Ja. Om bukannya langsung ambil alih untuk fokus sama kamu lagi. Om malah ikut aja omongan ibu kamu.”
“Om nggak salah. Om kan—” Om Dani memotong omongan gue.
“Di sini, Om itu wali kamu, Ja. Om itu posisinya menggantikan Papa kamu. Jadi harusnya Om yang bisa mengarahkan dan negur Mama kamu saat semuanya kacau. Nggak sesuai rencana kayak begini. Maafin Om yah, Ja.”
Gue hanya menganggukkan kepala gue. Gue nggak mau Om Dani ikut terbawa urusan gue, Mama, dan Dania. Gue pun sadar, kalo dengan gue menegur Mama barusan, itu sangat salah. Gue seharusnya nggak begitu. Ini tempat umum. Tapi dengan gue membaca chat Emi barusan, Mama terlihat lebih menikmati jalan-jalan ini dibandingkan dengan acara hari ini, dan Mama fokusnya sama Dian terus, gue sudah tidak bisa membendung perasaan gue lagi.
Gue butuh obat penenang gue, Emi.
“Om ikut ke rumah ya. Om mau ngomong sama Mama kamu juga.” kata Om Dani. “Kamu tunggu di sini. Tante kamu ikut mobil ini. Om nyetirin mobil kamu. Kita langsung pulang ke rumah kamu bareng-bareng.” Om Dani keluar dari mobil dan bergantian dengan Tante Ida.
Gue menyempatkan untuk membalas chat ke Emi. Gue nggak mau diem-dieman sama dia lagi. Gue butuh banget ditenangin sama dia. Gue tau, gue seakan terlihat memanfaatkan Emi. Gue di belakang masih menyakiti dia. Tetapi ketika gue ada di kondisi terburuk gue, gue malah nyariin Emi. Iya. Gue the-worst-man-everbuat Emi.
((EMI CHAT))
---
Walaupun Om Dani dan Mama sudah membicarakan kejadian kemarin di rumah, hati gue tidak menjadi plong begitu saja. Tetap saja ada yang mengganjal di hati gue. Entah karena (mungkin) Mama tidak sepenuhnya menerima teguran dari Om Dani atau malah Emi sendiri yang hatinya mulai goyah. Satu yang pasti, semuanya sudah kacau tidak sesuai apa yang gue impikan.
Gue jadi nggak fokus untuk melakukan apapun. Gue nggak bisa tidur nyenyak. Bahkan gue jadinya terus countdownpertemuan gue dan Emi hari ini. Andai gue bisa skip waktu pagi dan siang hari, langsung saja ke waktu pertemuan gue dan Emi. Pasti semuanya lebih mudah. Mungkin.
Saat ini, segala kemungkinan terburuk terus menerus keluar masuk di dalam pikiran gue. Gue jadi teringat cerita Emi dimana keluarga Emi punya riwayat yang menurut gue agak kurang baik dalam urusan mencampuri hubungan orang. Kakak sepupu Emi batal menikah karena keluarga besarnya tidak memberikan restu pada kedua pasangan tersebut. Kenapa demikian? Karena Kakak sepupu Emi akan menikah dengan seorang cowok berdarah Sumatra. Memang terdengar agak rasis untuk keluarga mereka yang tidak pernah rasis.
Katanya sih, keluarga besar Emi memang agak enggan menikahkan dengan mereka yang berketurunan Sumatra sana karena alasan adat. Namun, bapaknya Emi membantahnya dan tidak menghiraukan kebiasaan yang dianut keluarga besarnya tersebut ketika gue memperkenalkan diri gue kalo gue adalah cowok keturunan Jawa-Sumatra. Nah dalam kasus kakak sepupu Emi, pihak orang tua kakak sepupunya tersebut berpegang teguh dengan kebiasaan keluarganya. Alhasil pernikahan mereka dibatalkan.
Tapi kalau dipikir ulang, dalam kasus kakak sepupu Emi, tidak ada kesalahan dari pihak cowok. Murni itu adalah keputusan dari pihak cewek alias kakak sepupu Emi. Sedangkan pada kasus gue, sebagai pihak cowok, kesalahan terletak pada kami. Kesalahan pada keluarga gue yang mengecewakan keluarga besar Emi. Apa kali ini akan tetap pada keputusan yang sama?
Belum lagi ketika dirunut kembali pada adat yang mereka percaya, gue juga seharusnya tidak bisa diterima oleh keluarga besar mereka karena gue adalah seorang Half Blood Prince, keturunan Jawa-Sumatra. Apa itu tidak membuat keadaan semakin kacau?
Gue jadinya mempertanyakan, apakah dibalik senyum ramah Papanya Emi dan keluarganya yang lain kemarin ini, tersimpan unek-unek yang harus disampaikan ke Emi? Apakah juga unek-unek ini nantinya akan berimbas kepada kelanjutan hubungan gue dengan Emi?
Gue harap, ini tidak terjadi pada hubungan gue dan Emi.
---
Pagi tadi, sebelum gue berangkat ke kantor, gue sempatkan diri untuk menghubungi kakek dan nenek gue. Gue ceritakan bagaimana hasil pertemuan kemarin. Pastinya gue tidak menceritakan bagaimana kecewanya gue atas sikap Mama. Gue nggak mau kakek dan nenek gue jadinya kepikiran dan jatuh sakit hanya karena mikir yang tidak-tidak. Biar saja mereka hanya tahu yang baik-baik saja.
"InsyaAllah minggu depan Mbah bisa kasih tanggalnya, Le. Kamu baik-baik sama Emi. Jaga kesehatan. Banyak istirahat ya, Le. Jagain ibukmu."
"Nggih, Mbah. Ija tutup dulu teleponnya, Mbah. Assalamualaikum..." Tutup gue.
Sembari gue menunggu penentuan hari baik yang sedang ditanyakan ke kakek nenek gue di kampung sana, gue mau mengalihkan perhatian gue untuk memperbaiki hidup gue yang lumayan ruwet ini. Gue merasa kok perjalanan menuju sesuatu hal yang baik seperti dipersulit dan ada saja hambatan. Entah Emi yang biasanya nggak emosian jadinya membuat gue nggak nyaman, keluarga gue yang gue pikir akan support niat baik gue malah membuat keadaan menjadi kacau, dan sekarang hubungan iseng-iseng gue mulai membuat gue agak risih.
Ya, agak risih. Sampai rasanya gue ingin mengakhiri mereka saat ini juga. Tapi, apa gue setega itu ya sama mereka?
((ONE MISSED CALL FROM ARASTI))
((ONE MESSAGE FROM HANA))
((EDNA CHAT))
“Mas, aku udah beli blazer baru. Mau liat nggak?” Ana tiba-tiba menyeruak dari balik pintu ruangan gue. Gue yang sedang fokus dengan HP pun hampir menjatuhkan HP gue saking kagetnya.
Dan Ana yang gue pikir nggak akan menambah masalah, malah semakin hari semakin aneh. Gue pikir dengan gue yang menolak ketika dia menawarkan memberi foto seluruh tubuh dia dan gue yang meminta untuk tidak menjadi kaku ketika kami berada di kantor, akan membuat hubungan kami jadi hubungan yang lebih santai lagi. Layaknya teman kantor biasa. Ternyata tidak. Ya contohnya seperti sekarang ini. Gue belum lama sampai di kantor, sudah digerebek olehnya di dalam ruangan.
Tanpa izin.
“Buset, lo nggak ketok-ketok dulu sih, Na. Kaget gue.”
“Kenapa, Mas? Mas lagi ngerjain kerjaan ya? Aku pikir tadi pas udah tutup telepon, aku udah bisa masuk ke ruangan, Mas.”
“Tutup telepon? Lo dengerin obrolan gue?” Ini pertanda baik bukan? Jadinya gue nggak perlu jelasin apapun ke dia status gue.
“Nggak denger percakapannya sih. Nggak sopan juga pingin tau obrolan orang. Kedengerannya cuman dengungan, Mas lagi ngobrol sama orang di telepon.”
Gue bingung antara lega dan pingin bilang ‘Ah ta*. Kenapa nggak denger sih?’. “Hmm. Ya udah. Sini masuk dulu, Na. Ada apaan tadi?”
“Iya mas, jadi aku udah beli blazer baru yang kemarin mas bilang. Warnanya biru dongker. Ini udah aku beli… Gimana menurut Mas?” katanya sambil menunjukkan blazer biru dongker di tangannya.
Di kantor gue ini, emang kering banget cewek. Tapi bukan berarti nggak ada satupun karyawan cewek di kantor. Masih ada Hapsari yang baru aja masuk ke kantor gue. Atau mungkin ke tim Marketing? Kebanyakan memang cewek di sana. Kenapa nggak ke mereka? Kenapa harus ke gue nanya urusan kayak begini?
“Hmm. Bagus kok ini. Tapi ya nggak tau juga gue kalo lo nggak pake dulu.” jawab gue sambil menyimpan HP gue. Gue nggak mau kalo nanti jadi salah kirim chat (lagi) atau malah obrolan gue dengan ini malah jadi voice noteke orang.
“Mau aku pake sekarang, Mas?” tanya Ana, dengan ekspresi tanpa berdosa.
“Kan tadi gue bilang. Kalo lo nggak pake, gue nggak akan bisa nilai. Ya lo ganti dulu lah kalo mau gue nilai. Haha.” kata gue sembari memeriksa pekerjaan gue yang ada di meja. Ada beberapa berkas yang harus gue review.
Tanpa basa basi, Ana langsung membuka kemeja berbahan tipis dan halus yang dia pakai hari itu dengan blazer barunya. “Numpang disini aja gimana? Nggak ada CCTV ini kan di sini, Mas?”
Gue kaget dong! Ini anak pikirannya kemana, sih? Ruangan gue memang tertutup. Tapi bukan berarti bisa mendadak buka-bukaan di depan gue begini, kan? Gue pikir pas gue suruh dia pake blazer, dia bakalan pergi ke toilet dulu. Lah ini? “Buset, nggak lah, Na. Gawat amat kalo ada orang lain kebetulan lewat di depan. Ruangan gue ini kan pasti dilewatin semua orang, Na! Apalagi kalo Om lo mendadak masuk, gimana?”
“Ya aku bakalan tenang-tenang aja, Mas. Nggak berisik. Lagian kan aku nggak ngapa-ngapain, jadi gimana urusannya jadi berisik.”
“Ya udah. Terserah lo aja ya. Tenang aja, Na. Gue nggak akan kena godaan lo. Nggak ngaruh. Haha.” Karena jauh di dalam hati gue, cuman Emi yang auto bikin gue kepingin ‘melahap’ dia kalo dia ngegodain gue kayak begini.
Ana hanya tersenyum simpul aja. Gue kembali menatap layar laptop gue dan menghiraukan Ana yang kemudian berdiri ke arah sudut kanan ruangan gue. Dia berada di sisi kanan gue. Menghadap ke arah tembok yang terdapat poster band Slipknot, band metal favorit gue.
Ruangan gue adalah ruangan kecil berukuran 3x3 meter. Jadi, setiap sudut ruangan bisa terlihat dalam sekali sapuan mata. Sudut mata gue tetap bisa melihat aktifitas di sudut sebrang ruangan gue, tempat Ana berdiri dan mulai membuka kemejanya. Ini sangat mengganggu gue. Gue nggak mau lihat, tapi sayang juga kalo tidak disaksikan ya kan? Pemandangan gratis dari keringnya cewek di kantor gue, kapan lagi bisa gue nikmati? Hehehe.
Fokus gue kembali ke laptop yang ada di hadapan gue. Hmm. Pandangan gue memang ke laptop. 80% fokus gue pada pekerjaan gue. Namun, 20% sisanya gue bisa sedikit mempelajari apa yang sedang terjadi di sebrang ruangan gue. Ekor mata gue seperti di anugerahi kemampuan untuk melihat sudut-sudut sulit sebuah penglihatan.
Seharusnya tidak perlu menghabiskan waktu selama itu hanya untuk membuka kemeja dia. Terus apa yang dilakukan Ana di sana kalo bukan dia sedang mencoba menggoda gue? Faktanya sih dengan dia bersikukuh untuk mengganti kemejanya di ruangan gue, itu sudah salah satu trik dia untuk menggoda gue atas penolakan gue beberapa hari yang lalu bukan?
Quote:
Cowok, kalo sudah mendapatkan chat seperti itu dari pasangan mereka, hidupnya bisa mendadak berputar 360 derajat. Termasuk gue yang notabene masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Yup. Sekarang jam 17.00 dan gue baru saja mau beranjak pulang dari kota tempat tinggal Emi, ke rumah gue. Miris banget memang hidup gue. Acara gue yang jauh-jauh lebih penting, malah hanya menghabiskan waktu 1 jam lebih dikit. Tapi keluarga tercinta gue lebih banyak dan fokus menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan.
Hati gue makin yakin. “Gue bakalan ajak Emi pergi, menghilang dari kedua keluarga kami. Kami bakalan balik lagi kalo kami udah sukses nanti.” ucap gue dalam hati.
“Kenapa cemberut terus sih, Ja? Kan udah tau tanggal Lamarannya. Sekarang tinggal kamu kabarin Mbah, minta restu dan hitungan tanggal baik buat Akad Nikah kamu ya, Le.” Kata Tante Ida sembari merangkul gue dalam perjalanan kami ke mobil di parkiran salah satu restoran.
Gue memasang senyum ter-ikhlas gue (yang nggak ikhlas-ikhlas amat). Sorry, gue orang yang nggak bisa menutupi perasaan gue. “Iya, Tante. Nanti Ija cerita sama Mbah.”
“Loh, kenapa nggak kamu bantu juga nelepon Ibuk?” Om Dani nengok ke arah Mama yang masih aja terus mengurus Dian. Anjir, anak 1 doang yang ribet ngurusin sampai 3 orang banget. Mending bapak ibunya pensiun aja dah jadi orang tua. Heran gue. Seharian yang ngurusin anaknya malah Mama.
“Ija sendiri kan bisa bukan tadi? Kenapa harus ibunya mulu sih?” jawab Mama tanpa sedikitpun menoleh ke arah gue dan Om Dani, lawan bicara beliau.
“Ibunya mulu? Kapan Mama ngurusin urusan Ija? Hari ini aja emang Mama fokus apa yang dibahas hari ini?”
“Kakak! Apaan sih lo? Malah ngajak ribut Mama di tempat begini? Udah ayo pulang!”
“Gue biasa aja loh ini. Gue cuma mau nyampein fakta aja. Nikahan lo itu udah lewat dan hari ini mau ngurusin nikahan gue. Masa yang dibahas sepanjang hari malah pengalaman Mama ngurusin nikahan lo dan gimana progres perkembangan Dian?”
“Le… Udah.” ujar Om Dani dengan tenang dan merangkul gue, lalu mengajak masuk ke dalam mobil beliau. Sedangkan Mama dan Dania diajak masuk ke dalam mobil gue. “Kenapa toh, Le? Kok jadinya kamu kayak petasan begitu? Meledak-ledak begitu?”
“Ija tuh nggak apa-apa kalo Mama emang HARUS BANGET ngurusin Dian. Tapi Ija minta waktunya Mama sebentar aja buat fokus sama urusan Ija, Om. Ija malu banget di depan keluarganya Emi, Mama malah sibuk promosi Dian dan cerita tentang urusan Dania. Emang KELUARGA BESAR EMI ngerasa urusan Dania dan Dian itu penting buat mereka? Nggak ada. Sekarang 1 jam di sana, kita ngomongin apaan tadi? Cuma 1 doang kan? Lamaran Ija nanti di bulan Maret taun depan. Sisanya apaan coba? Dian sama Dania aja terus.” Andai gue di depan temen gue, pasti akan gue tambahan “… Anj*ng!” biar puas.
Om gue terdiam dengan apa yang tuturkan barusan. Mungkin beliau juga merasa kalo apa yang gue sampaikan itu benar. Dari raut wajahnya yang tadinya berusaha menenangkan gue, berubah menjadi raut wajah bersalah. “Om juga minta maaf ya, Ja. Om bukannya langsung ambil alih untuk fokus sama kamu lagi. Om malah ikut aja omongan ibu kamu.”
“Om nggak salah. Om kan—” Om Dani memotong omongan gue.
“Di sini, Om itu wali kamu, Ja. Om itu posisinya menggantikan Papa kamu. Jadi harusnya Om yang bisa mengarahkan dan negur Mama kamu saat semuanya kacau. Nggak sesuai rencana kayak begini. Maafin Om yah, Ja.”
Gue hanya menganggukkan kepala gue. Gue nggak mau Om Dani ikut terbawa urusan gue, Mama, dan Dania. Gue pun sadar, kalo dengan gue menegur Mama barusan, itu sangat salah. Gue seharusnya nggak begitu. Ini tempat umum. Tapi dengan gue membaca chat Emi barusan, Mama terlihat lebih menikmati jalan-jalan ini dibandingkan dengan acara hari ini, dan Mama fokusnya sama Dian terus, gue sudah tidak bisa membendung perasaan gue lagi.
Gue butuh obat penenang gue, Emi.
“Om ikut ke rumah ya. Om mau ngomong sama Mama kamu juga.” kata Om Dani. “Kamu tunggu di sini. Tante kamu ikut mobil ini. Om nyetirin mobil kamu. Kita langsung pulang ke rumah kamu bareng-bareng.” Om Dani keluar dari mobil dan bergantian dengan Tante Ida.
Gue menyempatkan untuk membalas chat ke Emi. Gue nggak mau diem-dieman sama dia lagi. Gue butuh banget ditenangin sama dia. Gue tau, gue seakan terlihat memanfaatkan Emi. Gue di belakang masih menyakiti dia. Tetapi ketika gue ada di kondisi terburuk gue, gue malah nyariin Emi. Iya. Gue the-worst-man-everbuat Emi.
((EMI CHAT))
Quote:
---
Walaupun Om Dani dan Mama sudah membicarakan kejadian kemarin di rumah, hati gue tidak menjadi plong begitu saja. Tetap saja ada yang mengganjal di hati gue. Entah karena (mungkin) Mama tidak sepenuhnya menerima teguran dari Om Dani atau malah Emi sendiri yang hatinya mulai goyah. Satu yang pasti, semuanya sudah kacau tidak sesuai apa yang gue impikan.
Gue jadi nggak fokus untuk melakukan apapun. Gue nggak bisa tidur nyenyak. Bahkan gue jadinya terus countdownpertemuan gue dan Emi hari ini. Andai gue bisa skip waktu pagi dan siang hari, langsung saja ke waktu pertemuan gue dan Emi. Pasti semuanya lebih mudah. Mungkin.
Saat ini, segala kemungkinan terburuk terus menerus keluar masuk di dalam pikiran gue. Gue jadi teringat cerita Emi dimana keluarga Emi punya riwayat yang menurut gue agak kurang baik dalam urusan mencampuri hubungan orang. Kakak sepupu Emi batal menikah karena keluarga besarnya tidak memberikan restu pada kedua pasangan tersebut. Kenapa demikian? Karena Kakak sepupu Emi akan menikah dengan seorang cowok berdarah Sumatra. Memang terdengar agak rasis untuk keluarga mereka yang tidak pernah rasis.
Katanya sih, keluarga besar Emi memang agak enggan menikahkan dengan mereka yang berketurunan Sumatra sana karena alasan adat. Namun, bapaknya Emi membantahnya dan tidak menghiraukan kebiasaan yang dianut keluarga besarnya tersebut ketika gue memperkenalkan diri gue kalo gue adalah cowok keturunan Jawa-Sumatra. Nah dalam kasus kakak sepupu Emi, pihak orang tua kakak sepupunya tersebut berpegang teguh dengan kebiasaan keluarganya. Alhasil pernikahan mereka dibatalkan.
Tapi kalau dipikir ulang, dalam kasus kakak sepupu Emi, tidak ada kesalahan dari pihak cowok. Murni itu adalah keputusan dari pihak cewek alias kakak sepupu Emi. Sedangkan pada kasus gue, sebagai pihak cowok, kesalahan terletak pada kami. Kesalahan pada keluarga gue yang mengecewakan keluarga besar Emi. Apa kali ini akan tetap pada keputusan yang sama?
Belum lagi ketika dirunut kembali pada adat yang mereka percaya, gue juga seharusnya tidak bisa diterima oleh keluarga besar mereka karena gue adalah seorang Half Blood Prince, keturunan Jawa-Sumatra. Apa itu tidak membuat keadaan semakin kacau?
Gue jadinya mempertanyakan, apakah dibalik senyum ramah Papanya Emi dan keluarganya yang lain kemarin ini, tersimpan unek-unek yang harus disampaikan ke Emi? Apakah juga unek-unek ini nantinya akan berimbas kepada kelanjutan hubungan gue dengan Emi?
Gue harap, ini tidak terjadi pada hubungan gue dan Emi.
---
Pagi tadi, sebelum gue berangkat ke kantor, gue sempatkan diri untuk menghubungi kakek dan nenek gue. Gue ceritakan bagaimana hasil pertemuan kemarin. Pastinya gue tidak menceritakan bagaimana kecewanya gue atas sikap Mama. Gue nggak mau kakek dan nenek gue jadinya kepikiran dan jatuh sakit hanya karena mikir yang tidak-tidak. Biar saja mereka hanya tahu yang baik-baik saja.
"InsyaAllah minggu depan Mbah bisa kasih tanggalnya, Le. Kamu baik-baik sama Emi. Jaga kesehatan. Banyak istirahat ya, Le. Jagain ibukmu."
"Nggih, Mbah. Ija tutup dulu teleponnya, Mbah. Assalamualaikum..." Tutup gue.
Sembari gue menunggu penentuan hari baik yang sedang ditanyakan ke kakek nenek gue di kampung sana, gue mau mengalihkan perhatian gue untuk memperbaiki hidup gue yang lumayan ruwet ini. Gue merasa kok perjalanan menuju sesuatu hal yang baik seperti dipersulit dan ada saja hambatan. Entah Emi yang biasanya nggak emosian jadinya membuat gue nggak nyaman, keluarga gue yang gue pikir akan support niat baik gue malah membuat keadaan menjadi kacau, dan sekarang hubungan iseng-iseng gue mulai membuat gue agak risih.
Ya, agak risih. Sampai rasanya gue ingin mengakhiri mereka saat ini juga. Tapi, apa gue setega itu ya sama mereka?
((ONE MISSED CALL FROM ARASTI))
((ONE MESSAGE FROM HANA))
((EDNA CHAT))
Quote:
“Mas, aku udah beli blazer baru. Mau liat nggak?” Ana tiba-tiba menyeruak dari balik pintu ruangan gue. Gue yang sedang fokus dengan HP pun hampir menjatuhkan HP gue saking kagetnya.
Dan Ana yang gue pikir nggak akan menambah masalah, malah semakin hari semakin aneh. Gue pikir dengan gue yang menolak ketika dia menawarkan memberi foto seluruh tubuh dia dan gue yang meminta untuk tidak menjadi kaku ketika kami berada di kantor, akan membuat hubungan kami jadi hubungan yang lebih santai lagi. Layaknya teman kantor biasa. Ternyata tidak. Ya contohnya seperti sekarang ini. Gue belum lama sampai di kantor, sudah digerebek olehnya di dalam ruangan.
Tanpa izin.
“Buset, lo nggak ketok-ketok dulu sih, Na. Kaget gue.”
“Kenapa, Mas? Mas lagi ngerjain kerjaan ya? Aku pikir tadi pas udah tutup telepon, aku udah bisa masuk ke ruangan, Mas.”
“Tutup telepon? Lo dengerin obrolan gue?” Ini pertanda baik bukan? Jadinya gue nggak perlu jelasin apapun ke dia status gue.
“Nggak denger percakapannya sih. Nggak sopan juga pingin tau obrolan orang. Kedengerannya cuman dengungan, Mas lagi ngobrol sama orang di telepon.”
Gue bingung antara lega dan pingin bilang ‘Ah ta*. Kenapa nggak denger sih?’. “Hmm. Ya udah. Sini masuk dulu, Na. Ada apaan tadi?”
“Iya mas, jadi aku udah beli blazer baru yang kemarin mas bilang. Warnanya biru dongker. Ini udah aku beli… Gimana menurut Mas?” katanya sambil menunjukkan blazer biru dongker di tangannya.
Di kantor gue ini, emang kering banget cewek. Tapi bukan berarti nggak ada satupun karyawan cewek di kantor. Masih ada Hapsari yang baru aja masuk ke kantor gue. Atau mungkin ke tim Marketing? Kebanyakan memang cewek di sana. Kenapa nggak ke mereka? Kenapa harus ke gue nanya urusan kayak begini?
“Hmm. Bagus kok ini. Tapi ya nggak tau juga gue kalo lo nggak pake dulu.” jawab gue sambil menyimpan HP gue. Gue nggak mau kalo nanti jadi salah kirim chat (lagi) atau malah obrolan gue dengan ini malah jadi voice noteke orang.
“Mau aku pake sekarang, Mas?” tanya Ana, dengan ekspresi tanpa berdosa.
“Kan tadi gue bilang. Kalo lo nggak pake, gue nggak akan bisa nilai. Ya lo ganti dulu lah kalo mau gue nilai. Haha.” kata gue sembari memeriksa pekerjaan gue yang ada di meja. Ada beberapa berkas yang harus gue review.
Tanpa basa basi, Ana langsung membuka kemeja berbahan tipis dan halus yang dia pakai hari itu dengan blazer barunya. “Numpang disini aja gimana? Nggak ada CCTV ini kan di sini, Mas?”
Gue kaget dong! Ini anak pikirannya kemana, sih? Ruangan gue memang tertutup. Tapi bukan berarti bisa mendadak buka-bukaan di depan gue begini, kan? Gue pikir pas gue suruh dia pake blazer, dia bakalan pergi ke toilet dulu. Lah ini? “Buset, nggak lah, Na. Gawat amat kalo ada orang lain kebetulan lewat di depan. Ruangan gue ini kan pasti dilewatin semua orang, Na! Apalagi kalo Om lo mendadak masuk, gimana?”
“Ya aku bakalan tenang-tenang aja, Mas. Nggak berisik. Lagian kan aku nggak ngapa-ngapain, jadi gimana urusannya jadi berisik.”
“Ya udah. Terserah lo aja ya. Tenang aja, Na. Gue nggak akan kena godaan lo. Nggak ngaruh. Haha.” Karena jauh di dalam hati gue, cuman Emi yang auto bikin gue kepingin ‘melahap’ dia kalo dia ngegodain gue kayak begini.
Ana hanya tersenyum simpul aja. Gue kembali menatap layar laptop gue dan menghiraukan Ana yang kemudian berdiri ke arah sudut kanan ruangan gue. Dia berada di sisi kanan gue. Menghadap ke arah tembok yang terdapat poster band Slipknot, band metal favorit gue.
Ruangan gue adalah ruangan kecil berukuran 3x3 meter. Jadi, setiap sudut ruangan bisa terlihat dalam sekali sapuan mata. Sudut mata gue tetap bisa melihat aktifitas di sudut sebrang ruangan gue, tempat Ana berdiri dan mulai membuka kemejanya. Ini sangat mengganggu gue. Gue nggak mau lihat, tapi sayang juga kalo tidak disaksikan ya kan? Pemandangan gratis dari keringnya cewek di kantor gue, kapan lagi bisa gue nikmati? Hehehe.
Fokus gue kembali ke laptop yang ada di hadapan gue. Hmm. Pandangan gue memang ke laptop. 80% fokus gue pada pekerjaan gue. Namun, 20% sisanya gue bisa sedikit mempelajari apa yang sedang terjadi di sebrang ruangan gue. Ekor mata gue seperti di anugerahi kemampuan untuk melihat sudut-sudut sulit sebuah penglihatan.
Seharusnya tidak perlu menghabiskan waktu selama itu hanya untuk membuka kemeja dia. Terus apa yang dilakukan Ana di sana kalo bukan dia sedang mencoba menggoda gue? Faktanya sih dengan dia bersikukuh untuk mengganti kemejanya di ruangan gue, itu sudah salah satu trik dia untuk menggoda gue atas penolakan gue beberapa hari yang lalu bukan?
itkgid dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
dan bintang 5 
